| GL ers... trimakasih info ttg minyak jelantah.
salam dhita-deRantang --- On Mon, 11/7/11, greenli...@googlegroups.com <greenli...@googlegroups.com> wrote: From: greenli...@googlegroups.com <greenli...@googlegroups.com> Subject: [greenlifestyle] Intisari untuk greenli...@googlegroups.com - 10 Pesan pada 5 Topik To: "Penerima Intisari" <greenli...@googlegroups.com> Date: Monday, November 7, 2011, 7:27 PM
Grup: http://groups.google.com/group/greenlifestyle/topics
armely meiviana <amei...@gmail.com> Nov 06 08:34PM +0700
Di bawah ini ada kiriman berita menarik dari Mba Moudy. Jadi alasan bhw utk
nerima kurban pun, sebaiknya pakai rantang atau kotak dari rumah.Maaf,
terlambat menyebarluaskan info ini :(
Selamat Idul Adha bagi yang merayakan,
melly
http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2011/11/03/brk,20111103-364794,id.html
Daging Kurban Jangan Dibungkus Plastik Hitam
Kamis, 03 November 2011 | 20:39 WIB
*
*
*
TEMPO Interaktif*, *Bogor* - Panitia pemotongan hewan kurban pada hari raya
Idul Adha nanti hendaknya tidak mengemas daging dalam kantong plastik
hitam. Daging dengan kemasan itu rentan terkontaminasi zat kimia penyebab
kanker.
Daging yang akan dibagikan kepada masyarakat sebaiknya dikemas dalam
plastik warna putih supaya daging tetap higienis. "Karena hasil penelitian
menunjukkan bahwa daging dalam plastik hitam berisiko terkena kanker,” kata
Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian Kota Bogor, Robert Hasibuan, di
Balaikota Bogor, Kamis 3 November 2011.
Robert juga meminta masyarakat untuk waspada saat mengkonsumsi daging
kurban yang dikhawatirkan terinfeksi virus antraks. Infeksi biasanya
memiliki ciri antara lain limpa terlihat bengkak dengan warna merah ke
hitam-hitaman.
“Jika menemukan hewan kurban memiliki ciri seperti itu, walau sudah
disembelih, sebaiknya dikubur saja," katanya. Alat pemotongnya seperti
pisau ataupun golok dan alat kontak lainnya juga diminta segera dibersihkan
atau tidak digunakan lagi.
Menurut Robert, daging yang sehat dikonsumsi tidak lebih dari 4 jam setelah
hewan disembelih. Karena itu, dia menyarankan, daging jangan disimpan
terlalu lama, apalagi tanpa mesin pendingin. “Langsung dimasak itu lebih
baik.”
ARIHTA U SURBAKTI
endy sulistiawan <endysul...@gmail.com> Nov 07 11:32AM +0700
Salam
sudah 3 tahun ini kami di mengunakan besek dari bambu, bagai mana kalu
tahun depan pada beralih ke besek dari bambu, setealah untuk wadah daging
besek masih bisa di gunakan untuk meyimpan yang lain.
salam
--
Endy Sulistiawan
| GSM 08156015472 |
endy sulistiawan <endysul...@gmail.com> Nov 07 12:19PM +0700
memang aga malah di banding pelastik tapi fungsi setelahnya banyak dan
awet kita beli perpasang tahun ini rp. 1000 ,-
--
Endy Sulistiawan
| GSM 08156015472 |
armely meiviana <amei...@gmail.com> Nov 07 08:27AM +0700
Selamat pagi semua....:-)Bagi yang berdomisili di Yogya, ada yang tau info
tentang kampanye di bawah ini? Penasaran ingin tahu target yang dicapai apa
ya....apakah sekedar membersihkan Jogja dengan memunguti sampah yang
berceceran?
Setahu saya kampanye World Clean Up ini sebuah kampanye yg sudah
berlangsung lama, sejak tahun 1990an (?). Barangkali ada yang pernah
ikutan? Pengen tau apa yang sudah berhasil dicapai dari kampanye ini.
salam,
melly
*************************************
Aktivis Lingkungan Petakan Sampah Yogya
Monday, 07 November 2011
*YOGYAKARTA* -- Sekitar 50 relawan memetakan sampah di Yogyakarta melalui
program Let's Do It Yogya. Pemetaan sampah selama dua hari, Sabtu dan
Minggu lalu, ini dilakukan dengan menandai sampah-sampah yang tak terurus
di Yogyakarta untuk disampaikan ke situs *www.letsdoitworld.org* atau
melalui pesan pendek.
Pemetaan sampah ini merupakan langkah awal gerakan turun ke jalan untuk
menyingkirkan sampah global bernama World Clean Up 2012. Ini merupakan
inisiatif menyingkirkan sampah yang digagas di Estonia, pada 3 Mei 2008.
Kini kegiatan tersebut hendak dijadikan kampanye global setiap Mei. "Nah,
untuk Indonesia, pada Mei tahun depan, dipilih Kota Yogyakarta," kata
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta Suparlan kemarin. Let's Do It
Yogyakarta merupakan kerja sama Walhi, Forum Keluarga dan Anak Cinta
Lingkungan Yogyakarta, serta Lembaga Indonesia-Prancis.
Pada hari H-nya nanti, diharapkan relawan turun ke jalan dan puluhan ribu
warga Yogyakarta, baik penggerak lingkungan, professional, anak sekolah,
karyawan, maupun mahasiswa, turun ke jalan untuk memunguti sampah yang
telah ditandai itu.
Koordinator Volunteer Lets Do It Yogyakarta, Edwin Daru Anggara, mengatakan
hingga kemarin mereka baru selesai menandai sampah di satu lokasi, yakni *ring
road*. "Sisanya sedang dalam proses," ujarnya.
Masyarakat bisa menginformasikan letak sampah melalui telepon seluler atau
koneksi Internet. "Dengan telepon seluler, fasilitas kamera, serta memiliki
kendaraan, saat kamu melihat sampah, kamu dapat menandai titik yang ada
pada peta di halaman web kami," kata Xenia Tomasouw, staf Divisi Komunikasi
dan Media Let's Do It Yogya.
Marie Le Ferrand, Direktur Lembaga Indonesia-Prancis, menambahkan, pesan
pendek bisa dikirim ke nomor telepon 081936077415, dengan format: Letsdoit
nama pekerjaan. Peta sampahnya ada di situs *www.letsdoitworld.org/mapping*.
*BERNADA RURIT*
*YOGYAKARTA* -- Sekitar 50 relawan memetakan sampah di Yogyakarta melalui
program Let's Do It Yogya. Pemetaan sampah selama dua hari, Sabtu dan
Minggu lalu, ini dilakukan dengan menandai sampah-sampah yang tak terurus
di Yogyakarta untuk disampaikan ke situs *www.letsdoitworld.org* atau
melalui pesan pendek.
Pemetaan sampah ini merupakan langkah awal gerakan turun ke jalan untuk
menyingkirkan sampah global bernama World Clean Up 2012. Ini merupakan
inisiatif menyingkirkan sampah yang digagas di Estonia, pada 3 Mei 2008.
Kini kegiatan tersebut hendak dijadikan kampanye global setiap Mei. "Nah,
untuk Indonesia, pada Mei tahun depan, dipilih Kota Yogyakarta," kata
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta Suparlan kemarin. Let's Do It
Yogyakarta merupakan kerja sama Walhi, Forum Keluarga dan Anak Cinta
Lingkungan Yogyakarta, serta Lembaga Indonesia-Prancis.
Pada hari H-nya nanti, diharapkan relawan turun ke jalan dan puluhan ribu
warga Yogyakarta, baik penggerak lingkungan, professional, anak sekolah,
karyawan, maupun mahasiswa, turun ke jalan untuk memunguti sampah yang
telah ditandai itu.
Koordinator Volunteer Lets Do It Yogyakarta, Edwin Daru Anggara, mengatakan
hingga kemarin mereka baru selesai menandai sampah di satu lokasi, yakni *ring
road*. "Sisanya sedang dalam proses," ujarnya.
Masyarakat bisa menginformasikan letak sampah melalui telepon seluler atau
koneksi Internet. "Dengan telepon seluler, fasilitas kamera, serta memiliki
kendaraan, saat kamu melihat sampah, kamu dapat menandai titik yang ada
pada peta di halaman web kami," kata Xenia Tomasouw, staf Divisi Komunikasi
dan Media Let's Do It Yogya.
Marie Le Ferrand, Direktur Lembaga Indonesia-Prancis, menambahkan, pesan
pendek bisa dikirim ke nomor telepon 081936077415, dengan format: Letsdoit
nama pekerjaan. Peta sampahnya ada di situs *www.letsdoitworld.org/mapping*.
*BERNADA RURIT*
|