Teras Utama, Harian Padang Ekspres, Sabtu, 30 Maret 2013
Meluruskan Tafsir Nama-nama “Aneh”
Oleh Andrinof A Chaniago
Akademisi dari Universitas Indonesia
Untuk perkara menafsir nama-nama khas orang Minang saja, orang Minang ternyata bisa tersesat jauh. Seorang kawan di jaringan facebook yang berasal dari Jawa menulis status begini, “Orang padang setelah kekalahan Permesta tahun 1958 memang krisis identitas, jadi nama orang Minang aneh-aneh kedengarannya, macam Don Vitto, Geovanni, Muhammad Rika, padahal nama umum orang Minang kan Sutan Azwar, Nazrul Asril, Amrullah Karim atau Marah Rusli.” Saya tidak terlalu kaget dengan prasangka seperti itu, meski yang seperti ini selalu mengganjal hati saya. Tetapi, yang membuat saya kaget dan prihatin, status kawan facebooker tadi diamini oleh seorang kolega dan senior asal Minang di bawah status yang ditulis oleh kolega yang berasal dari Jawa tadi. (Ini terjadi pada 19 April 2010)
Di kesempatan yang lain, saya menemukan lagi pikiran yang “mengejutkan” dan membuat saya makin prihatin dengan pengetahuan dan sikap sejumlah orang Minang sendiri terhadap nama-nama aneh orang-orang Minang. Sebuah tim yang ingin mengambil inisiatif menjadi perumus usulan syarat-syarat untuk menyebut seseorang Di sebagai orang Minang, tim itu mencantumkan rumusan usulan bahwa untuk disebut sebagai orang Minang, orang harus memiliki nama khas orang Minang atau nama yang islami. Saya agak terperanjat sekaligus makin prihatin, membaca ide dan usulan kriteria tersebut.
Orang yang paling sering melontarkan “tesis” bahwa nama-nama aneh orang Minang itu adalah dampak dari Peristiwaa PRRI, adalah pengamat politik dan analis sejarah, yakni Fachry Ali. Fachry Ali yang secara pribadi dengan saya berada dalam jalinan hubungan sebagai senior dekat saya, sudah sering mendapat bantahan dengan bukti empiris dari saya. Sebagai pengamat, ia memang sering terlalu mengandalkan metode interpretatif, walau dengan data yang terbatas. Belakangan, saya melihat Fachry Ali sudah tidak lagi menggunakannya. Tetapi, celakanya, klaim bahwa nama-nama khas orang Minang berhubungan dengan Peristiwa PRRI sudah terlanjur diyakini oleh sejumlah kalangan. Walaupun sebagian dari kita sudah pernah juga mendengar versi lain tentang asal-usul nama “aneh” sebagian orang Minang tersebut, namun nyatanya, klaim yang keliru itu tetap masih dipercaya oleh sebagian orang Minang.
Saya ingin tunjukkan beberapa nama “aneh” orang Minang yang jelas lahir sebelum Peristiwa PRRI sehingga nama itu diberikan orang tua mereka tidak ada hubungan dengan Peristiwa PRRI. Ada Masmimar Mangiang, seorang ahli bahasa media yang cukup dikenal di kalangan aktifis dan wartawan senior, termasuk salah satu dari banyak orang yang memiliki nama yang berasal dari singkatan yang punya nilai “historis”. Nama Mangiang di belakang namanya adalah nama orang tua laki-lakinya. Namun nama Masmimar itu adalah singkatan dari masa (singkatannya dijadikan Mas) mempertahankan (M) Indonesia (i) mardeka (mar) yang diambil dari suasana dua setengah bulan sebelum KMB.
Berikutnya, ada nama Wisber Loeis, mantan diplomat terkemuka asal Minang, yang pernah menjadi Duta Besar RI di PBB. Saya sudah lama meyakinin namanya juga berasal dari singkatan tertentu. Keyakinan ini baru saja terbukti pertengahan Maret 2013 lalu ketika saya bertemu beliau di sebuah resepsi. Rupanya orang tua Pak Wisber Loeis ini selain selalu melekatkan nama Loeis pada nama belakang anak-anaknya, penggalan namanya dilekatkan lagi pada nama depan Wisber Loeis. Pak Wisber Loeis menjelaskan bahwa nama Wisber itu singkat dari Luwis dan Oktober, yang merupakan bulan kelahiran Pak Wisber Loeis,
Masih ada beberapa nama lain yang orangnya lahir sebelum Peristiwa PRRI. Setahu saya, Sotion Arjanggi almarhum, mantan Ketua Umum DPP KADIN di tahun 1980-an, namanya juga berasal dari singkatan. Saya belum dapat informasi untuk nama depan Sotion. Tetapi, Arjanggi berasal dari Aur Tajungkang Bukittinggi. Pemilik nama ”aneh” lainnya adalah Revrisond Baswir yang untuk nama Revrisond itu berasal dari revolusionary sound (suara revolusioner).
Beberapa contoh orang Minang yang memakai nama ”aneh” di atas kranya cukup untuk mementahkan tesis Fachry Ali yang mengatakan nama-nama aneh orang Minang itu akibat peristiwa PRRI. Penjelasan yang bisa diterima atas munculnya nama-nama ”aneh” pada sejumlah orang Minang adalah, kebiasaan sebagian keluarga membuat nama-nama yang berasal dari singkatan tertentu dan memiliki kaitan dengan peristiwa sejarah tertentu. Hal ini, menurut hemar saya, berkaitan dengan ciri orang Minang yang selalu berupaya kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang khas di mata orang lain. Hal ini juga bisa dilihat dari sejarah jenis-jenis makanan dan minuman di Sumatera Barat sekarang.
Secara personal, saya sudah melakukan pelurusan tesis Fachry Ali tersebut kepada yang bersangkutan. Nama saya memang aneh dan berbau Barat. Tetapi, walaupun saya lahir setelah Peristiwa PRRI, nama Andrinof itu tidak ada hubungannya dengan PRRI. Andrinof adalah ciri sebagian orang tua Minangkabau dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Andrinof diambil dari tiga suku kata: an (mungkin maksud orang tua saya untuk nama panggilan), dri yang berasal dari drei atau dri (dekat ke Bahasa Jerman atau Belanda) yang artinya tiga, dan nof yang berasal dari Nof(v)ember. Artinya, mama ini berasal dari tanggal dan bulan kelahiran saya, yakni 3 November.
Kalau mau objektif membuat kategorisasi, nama-nama orang Minang berasal dari dua budaya besar, yakni Arab dan Barat. Kebetulan Arab itu diidentikkan dengan Islam, walau dalam kenyataannya, jumlah Arab Kristen juga signifikan di Mesir, Libanon dan Irak. Nama-nama berpengaruh Arab sebetulnya lebih banyak melekat pada perempuan Minang, seperti Siti Fatimah, Kamila, Jamillah, Habibah, dan sebagai. Sementara nama-nama bernada Barat lebih banyak diberikan kepada laki-laki, seperti John, Edward, Don, Meizon, Wisber, dan sebagainya.
Diantara nama-nama yang bernada Barat itu bahkan ada yang sangat identik dengan nama laki-laki Kristen. Samuel Koto, mantan fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi fungsionaris partai Hanura, jelas orang Minang. Begitu juga kawan saya Oktavianus Rizwa yang bermukim di Padang sebagai pengacara, pastilah orang Minang. Tentu aneh sekali kalau saya dan orang-orang yang bernama Barat tadi mau dijadikan orang Minang kelas dua. Seberapa islami kita, hanya Allah SWT yang tahu. Nama tidak akan menjamin seseorang pasti sangat islami. Toh, beberapa nama politisi yang islami dan berasal dari partai Islam juga menjadi narapidana karena melakukan korupsi.
Maka, mari kita luruskan saja cara berpikir kita dalam melihat sesuatu. Lihatlah sesuatu itu dengan jernih, obyektif dan dengan sedikit usaha untuk menyelidiki sebab-akibatnya.Kalau tidak mau dan tidak bisa, janganlah latah lalu timbang setiap gagasan seberapa besar manfaat dan kerugian yang akan timbul bila kita mengusulkan sesuatu.mengamini pernyataan spekulatif orang lain.
| Memang baitu banyak namo-namo anak-anak Minangkabau nan kecek urang agak saketek aneh kalau dibaco. Tapi Kalau namo ambo Ramadhanil...berhubungan dengan bulan kelahiran ambo di bulan Suci Ramadhan alias bulan puaso, TETAPI uda-uda ambo namonyo ado IRIANISMAN , lahia ketika perebutan Irian Barat thn 1962..ado juo Motrizal (lahia kutiko Mortir malatuih dibalakang rumah kutiko PRRI.. Tapi kalau namo latin tumbuhan bisa di revisi kalau ndak sasuai jo kedudukan taksonominya. Misalnya sajo Cengkeh alah bara kali baganti namo.. Dulu partamo namonyo : Eugenia aromatica (L.) Baill....baganti jo Eugenia caryophyllata Thunb. kudian Eugenia caryophyllus (Spreng.) Bull. & Harr. Lalu Caryophyllus aromaticus L. Terakhir menjadi Syzigium aromatica L (famili Myrtaceae). Dek Urang jawa namomo bisa diganti keceke kalau namo talalu barek ndak suai jo kenyataan urangnyo do..tapi ado upacaranyo... Wassala, Ramadhanil Palu --- Pada Ming, 31/3/13, Reflusmen Ramli <reflus...@yahoo.com> menulis: |
Pak Sotion itu dekan kami di Teknik Mesin ITS tahun 1969 sewaktu beliau jadi dirut Gresik semen.
Darwin Chalidi
Mokasih banyak juo Pak Adrinof,
Generasi kami ko tantu balulua sajonyoh, mah awak indak jaleh do mah.
Adonyo informasi pak Adrinof ko, mambuek ambo tambah bangga jo para pejuang PRRI.
Kok ambo iduik di jaman tu dan ambo laki-laki, ambo akan ikuik PRRI tu tanpa ragu.
Wassalam
Rina, 35, Batam
Tape deh da An ko,
Maaf ambo salah sabuik namo Pak Andrinof
Ambo siap manarimo hukuman ateh kesalahan tun
Senek lo
Ko lai sabana nyo ko pak zul…tagalak gadang wak mambaco nyo…he.he.h.e.he..
Soal namo ko mamak wak di batam ko namo nyo yo lai loado arti nyo pak..
Namo nyo Munasri arti nyo musyawarah nasional republic Indonesia tahun 1957(mamak aslim nurhasan st sati tahu mah samo munasri ko)
Tapi barusan fajri tanyo apo yang di musyawarahkan tahun 1957 tu mamak ko ndak lo tahu doh..
Ado yang tahu ndak mamak2 uni2 di palantako apo yang di musyawarahkan di tahun 1957 tu
Ciek lai anak dari mamak ko di agiah lo namo yang agak lain dan ado arti nyo lo.
Namo anak nyo Dara Uteri arti nyo DAlam RAngka Ulang Tahun Emas Republik Indonesia
Fajri
L32 Thn
batam
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of ZulTan
Sent: Monday, April 01, 2013 5:03 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Tulisan menangkal tesis spekulatif ttg nama2 aneh orang Minang
Untuang ndak tatuka A jo E, kabaa jadinyo, Jepe?
Ado kawan dari wilayah Timur namo anaknyo DAKIANUS.
Kadiimbau satangah kamuko tasingguangnyo beko karano walaupun agak itam tapi bukan daki.
Dipanggia satangah ka balakang kan kumuah kasannyo.
Diimbau namo langkok abih lo ari dek nyo.
Kadipangaan...
Salam,
Sent via BlackBerry from SingTel!
.
--
Tarimokasih banyak pak penjelasan nyo.
Kini lah tahu wak apo makasuik dari Munasri ko
Jadi peristiwa ko yang saketek banyak nyo mamicu terjadi nyo PRRI/permesta .
Salam,
Fajri
L 32 thn
Batam
Teras Utama, Harian Padang Ekspres, Sabtu, 30 Maret 2013
Meluruskan Tafsir Nama-nama “Aneh”
Oleh Andrinof A Chaniago
Akademisi dari Universitas Indonesia
Untuk perkara menafsir nama-nama khas orang Minang saja, orang Minang ternyata bisa tersesat jauh. Seorang kawan di jaringan facebook yang berasal dari Jawa menulis status begini, “Orang padang setelah kekalahan Permesta tahun 1958 memang krisis identitas, jadi nama orang Minang aneh-aneh kedengarannya, macam Don Vitto, Geovanni, Muhammad Rika, padahal nama umum orang Minang kan Sutan Azwar, Nazrul Asril, Amrullah Karim atau Marah Rusli.” Saya tidak terlalu kaget dengan prasangka seperti itu, meski yang seperti ini selalu mengganjal hati saya. Tetapi, yang membuat saya kaget dan prihatin, status kawan facebooker tadi diamini oleh seorang kolega dan senior asal Minang di bawah status yang ditulis oleh kolega yang berasal dari Jawa tadi. (Ini terjadi pada 19 April 2010)
Di kesempatan yang lain, saya menemukan lagi pikiran yang “mengejutkan” dan membuat saya makin prihatin dengan pengetahuan dan sikap sejumlah orang Minang sendiri terhadap nama-nama aneh orang-orang Minang. Sebuah tim yang ingin mengambil inisiatif menjadi perumus usulan syarat-syarat untuk menyebut seseorang Di sebagai orang Minang, tim itu mencantumkan rumusan usulan bahwa untuk disebut sebagai orang Minang, orang harus memiliki nama khas orang Minang atau nama yang islami. Saya agak terperanjat sekaligus makin prihatin, membaca ide dan usulan kriteria tersebut.
Orang yang paling sering melontarkan “tesis” bahwa nama-nama aneh orang Minang itu adalah dampak dari Peristiwaa PRRI, adalah pengamat politik dan analis sejarah, yakni Fachry Ali. Fachry Ali yang secara pribadi dengan saya berada dalam jalinan hubungan sebagai senior dekat saya, sudah sering mendapat bantahan dengan bukti empiris dari saya. Sebagai pengamat, ia memang sering terlalu mengandalkan metode interpretatif, walau dengan data yang terbatas. Belakangan, saya melihat Fachry Ali sudah tidak lagi menggunakannya. Tetapi, celakanya, klaim bahwa nama-nama khas orang Minang berhubungan dengan Peristiwa PRRI sudah terlanjur diyakini oleh sejumlah kalangan. Walaupun sebagian dari kita sudah pernah juga mendengar versi lain tentang asal-usul nama “aneh” sebagian orang Minang tersebut, namun nyatanya, klaim yang keliru itu tetap masih dipercaya oleh sebagian orang Minang.
Saya ingin tunjukkan beberapa nama “aneh” orang Minang yang jelas lahir sebelum Peristiwa PRRI sehingga nama itu diberikan orang tua mereka tidak ada hubungan dengan Peristiwa PRRI. Ada Masmimar Mangiang, seorang ahli bahasa media yang cukup dikenal di kalangan aktifis dan wartawan senior, termasuk salah satu dari banyak orang yang memiliki nama yang berasal dari singkatan yang punya nilai “historis”. Nama Mangiang di belakang namanya adalah nama orang tua laki-lakinya. Namun nama Masmimar itu adalah singkatan dari masa (singkatannya dijadikan Mas) mempertahankan (M) Indonesia (i) mardeka (mar) yang diambil dari suasana dua setengah bulan sebelum KMB.
Berikutnya, ada nama Wisber Loeis, mantan diplomat terkemuka asal Minang, yang pernah menjadi Duta Besar RI di PBB. Saya sudah lama meyakinin namanya juga berasal dari singkatan tertentu. Keyakinan ini baru saja terbukti pertengahan Maret 2013 lalu ketika saya bertemu beliau di sebuah resepsi. Rupanya orang tua Pak Wisber Loeis ini selain selalu melekatkan nama Loeis pada nama belakang anak-anaknya, penggalan namanya dilekatkan lagi pada nama depan Wisber Loeis. Pak Wisber Loeis menjelaskan bahwa nama Wisber itu singkat dari Luwis dan Oktober, yang merupakan bulan kelahiran Pak Wisber Loeis,
Masih ada beberapa nama lain yang orangnya lahir sebelum Peristiwa PRRI. Setahu saya, Sotion Arjanggi almarhum, mantan Ketua Umum DPP KADIN di tahun 1980-an, namanya juga berasal dari singkatan. Saya belum dapat informasi untuk nama depan Sotion. Tetapi, Arjanggi berasal dari Aur Tajungkang Bukittinggi. Pemilik nama ”aneh” lainnya adalah Revrisond Baswir yang untuk nama Revrisond itu berasal dari revolusionary sound (suara revolusioner).
Beberapa contoh orang Minang yang memakai nama ”aneh” di atas kranya cukup untuk mementahkan tesis Fachry Ali yang mengatakan nama-nama aneh orang Minang itu akibat peristiwa PRRI. Penjelasan yang bisa diterima atas munculnya nama-nama ”aneh” pada sejumlah orang Minang adalah, kebiasaan sebagian keluarga membuat nama-nama yang berasal dari singkatan tertentu dan memiliki kaitan dengan peristiwa sejarah tertentu. Hal ini, menurut hemar saya, berkaitan dengan ciri orang Minang yang selalu berupaya kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang khas di mata orang lain. Hal ini juga bisa dilihat dari sejarah jenis-jenis makanan dan minuman di Sumatera Barat sekarang.
Secara personal, saya sudah melakukan pelurusan tesis Fachry Ali tersebut kepada yang bersangkutan. Nama saya memang aneh dan berbau Barat. Tetapi, walaupun saya lahir setelah Peristiwa PRRI, nama Andrinof itu tidak ada hubungannya dengan PRRI. Andrinof adalah ciri sebagian orang tua Minangkabau dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Andrinof diambil dari tiga suku kata: an (mungkin maksud orang tua saya untuk nama panggilan), dri yang berasal dari drei atau dri (dekat ke Bahasa Jerman atau Belanda) yang artinya tiga, dan nof yang berasal dari Nof(v)ember. Artinya, mama ini berasal dari tanggal dan bulan kelahiran saya, yakni 3 November.
Kalau mau objektif membuat kategorisasi, nama-nama orang Minang berasal dari dua budaya besar, yakni Arab dan Barat. Kebetulan Arab itu diidentikkan dengan Islam, walau dalam kenyataannya, jumlah Arab Kristen juga signifikan di Mesir, Libanon dan Irak. Nama-nama berpengaruh Arab sebetulnya lebih banyak melekat pada perempuan Minang, seperti Siti Fatimah, Kamila, Jamillah, Habibah, dan sebagai. Sementara nama-nama bernada Barat lebih banyak diberikan kepada laki-laki, seperti John, Edward, Don, Meizon, Wisber, dan sebagainya.
Diantara nama-nama yang bernada Barat itu bahkan ada yang sangat identik dengan nama laki-laki Kristen. Samuel Koto, mantan fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi fungsionaris partai Hanura, jelas orang Minang. Begitu juga kawan saya Oktavianus Rizwa yang bermukim di Padang sebagai pengacara, pastilah orang Minang. Tentu aneh sekali kalau saya dan orang-orang yang bernama Barat tadi mau dijadikan orang Minang kelas dua. Seberapa islami kita, hanya Allah SWT yang tahu. Nama tidak akan menjamin seseorang pasti sangat islami. Toh, beberapa nama politisi yang islami dan berasal dari partai Islam juga menjadi narapidana karena melakukan korupsi.
Maka, mari kita luruskan saja cara berpikir kita dalam melihat sesuatu. Lihatlah sesuatu itu dengan jernih, obyektif dan dengan sedikit usaha untuk menyelidiki sebab-akibatnya.Kalau tidak mau dan tidak bisa, janganlah latah lalu timbang setiap gagasan seberapa besar manfaat dan kerugian yang akan timbul bila kita mengusulkan sesuatu.mengamini pernyataan spekulatif orang lain.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
Kekal Sehingga Akhirat.
Islam menganjurkan pemilihan nama yang baik, kerana ia lambang identiti seseorang dan nama itulah ia akan dikenali sepanjang hayat dan menjadi sebutan sampai ke hari akhirat. Apabila orang memanggilnya dengan nama tersebut, maka pada sepanjang hayatnya, mereka seolah-olah berdoa untuk anak tersebut.
Seorang Muslim wajib percaya kepada hari kebangkitan dan perlu mengakui bahawa nama yang diberikan kepada anak di dunia akan kekal digunakan di akhirat.
Abu Darda ada meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
“Sesungguhnya kamu akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat nanti dengan nama-nama kamu dan juga nama bapa-bapa kamu, maka perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
Darwin Chalidi
Ado nan talupo manulih kan nyo pak Nurzal Rajo Panduko...umua, nak sanang lo mamanggia nyo..sanak, uda, mamak...kok inyiak gai..he..he.. Salam perkenalan juo dari kami di Semenanjuang.. Ryan, 45 Ipoh Sent from Yahoo! Mail on Android |
Ado nan talupo manulih kan nyo pak Nurzal Rajo Panduko...umua, nak sanang lo mamanggia nyo..sanak, uda, mamak...kok inyiak gai..he..he..
Salam perkenalan juo dari kami di Semenanjuang..
Ryan, 45 Ipoh
Sent from Yahoo! Mail on Android
|
| Waalaikum salam-pak Nurzal di RantauNet. Semoga kehadiran pak Nurzal di RN ikuik -------------------------------------------------- . > Untuk > * Posting yg |
Assalamualaikum wr.wb Pak Perry Burhan nan di hormati, sarato adidunsanak nan di muliakan... Nan paralu ditagakkan dulu persetujuan awak sarato dukungan awak ka hadis nan di rujukkan pak Ibnu tu...adolah sesuatu nan sangaik Mulia...bukan hanyo sekadar pelengkap argumen, tapi sesuatu petunjuk nan menghuraikan Kitabullah. Cieklai nan alun dapek ambo memahami , apo bana nan manjadi ukuran tentang namo nan menunjukkan ciri keminangan seperti nan pak Perry nyatokan dalam paragraf selanjuiknyo? Mungkin ado contoh2 namo nan meMpunyai ciri keminangan tu ndak? kok ado nan memberikan makna nan elok, sarato unsur doa nan baiak mungkin bisa dijadikan panduan untuak ma agiah namo anak,kamanakan, cucu ataupun cicit... Sataruih nyo nan agak kurang pas di ambo sacaro pribadi dalam mambandiangkan antaro Arab dan Islam. Walaupun ndak saratuih persen identik, tapi jan pulo sampai menganggap under arab dalam islam itu hanyo satu kebetulan..Allah sendiri nan memuliakan bangsa arab, dan bahaso arab, tanah arab. Terlepas kini ado sebahagian individual arab nan indak islami. Namo ayahanda Rasulullah adolah namo nan Islami, sebab berarti 'Hamba Allah'... Wallahu a'lam..maaf kalau ado nan ndak berkenan.. Ryanfirdaus. 45 Ipoh |
|
Sent from Yahoo! Mail on Android |
From: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
To: Penerima Intisari <rant...@googlegroups.com>
Sent: Tuesday, April 2, 2013 2:05 AM
Subject: [R@ntau-Net] Intisari untuk rant...@googlegroups.com - 25 Pesan pada 6 Topik
- http://us-mg61.mail.yahoo.com/neo/#group_thread_0 [10 Pembaruan]
- OOT Diaspora di Brunei [2 Pembaruan]
- Tulisan menangkal tesis spekulatif ttg nama2 aneh orang Minang [9 Pembaruan]
- Mamaliharo semangat persaudaraan dalam milis/ group FB urang awak. [2 Pembaruan]
- "MU Kalah, Anas Berkicau" [1 Pembaruan]