Betul, memang pertanyaan yang wajar, apalagi jika pemilik proyek
memang berencana menggunakan jasa layanan TI dari luar. Tidak mungkin
bagi mereka memelototi forum diskusi, "mailing list", dsb. untuk
mengelola sebuah distro. Perlu ada penjamin di belakangnya. Kalau
ingin dilihat sisi positifnya ya barangkali ini peluang juga,
menyediakan layanan berbasis distro.
(Walaupun saya belum ingin terjebak euforia, karena pada kenyataannya
tidak mudah begitu saja untuk menjadi penjamin di belakang tsb.)
Alhasil Debian dipakai di tempat-tempat yang memang sunyi dari
hiruk-pikuk: di instalfest tak muncul provokatornya, di kantor-kantor
biasanya bawaan staf internal yang dapat menggolkan pengadaan server +
Debian tanpa lewat proyek. Disebut sebagai "nasib" boleh, dicarikan
"keuntungan" dari kondisi itu juga ada... ;-)
> Mirip dengan kasus SUSE, meyakinkan orang pakai Linux karena nama Novell
> lebih muda daripada masih pakai nama SUSE :-) Siapa sih yang tak kenal
> Novell hehehe.
Sekalian bantingan: Microsoft Linux. Siapa sih yang tak kenal MS? :-)
--
amal
dulu sempat ngobrol dengan bbrp orang. ya omong-omong kosong
saja lah. sementara ini (menurut saya) orang lagi rame-ramenya
advokasi opensource/freesoftware (linux misalnya). hal yang
yang terpenting yang justru banyak dilupakan ya soal support
ini.
padahal, kalau ada yang mau bikin support center di Indonesia,
siapa sih yang tidak tertarik. bukannya lebih enak, kalau ada
apa-apa mau nge-sue jadi lebih gampang .. hi..hi..
ada banyak nama yang cukup menjual sebenarnya kalau dipakai,
misalnya, jadi komisaris atau bahkan direktur :D
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
Beberapa orang @debian.org (dan jugs mantan @ubuntu) ada di Nokia. Dan
secara konsisten beberapa perubahan yang dilakukan di sini juga
dikirimkan kembali ke Debian (dan proyek2 lain). Jadi secara tidak
langsung ini dapat dikatakan sebagai perusahaan di belakang Debian. Baik
dukungan dilihat dari patch dan juga dukungan finansial bagi orang2
Debian yang secara profesional cari makan di sini.
dulu sempat ngobrol dengan bbrp orang. ya omong-omong kosong
saja lah. sementara ini (menurut saya) orang lagi rame-ramenya
advokasi opensource/freesoftware (linux misalnya). hal yang
yang terpenting yang justru banyak dilupakan ya soal support
ini.
padahal, kalau ada yang mau bikin support center di Indonesia,
siapa sih yang tidak tertarik. bukannya lebih enak, kalau ada
apa-apa mau nge-sue jadi lebih gampang .. hi..hi..
lah debian bisa sukses di munich :-))
> Jaminan merek :-) Milih nama besar ndak takut dipecat, milih nama kecil
> siapa yang jamin (ntar dijawab, yang besar aja gagal dan ndak sukses,
> apalagi kecil).
masalahnya. support center (linux) di Indonesia itu nyaris
thak-ther-dhengar .. bukannya saya bilang saya ngerti bisnis
support. mbuh ra weruh he..he.. tapi, kalau itu sampai tidak
ada, ya otomatis orang jadi enggan migrasi. mau pakai nama
ubuntu/suse/novel/redhat boleh lah ..
justru karena minus support ini jadi timbul komentar-komentar
miring: softwarenya sih gratis .. tapi supportnya mahal - jadi
ya sama saja. mahalnya biaya support ini kan sudah merupakan
konsekuensi logis dari miskinnya support akan linux. contohnya
(misalnya) saya kalau dimintai bantuan support secara profesional
ya mestinya mahal. karena (bagi saya) jadi terlalu banyak yang
dipertaruhkan dan ini banyak karena memang saya tidak dedicated
untuk kerjaan itu. kalau berat. mending tak bantuin saja,
gratis :-) tapi jangan minta tanggung jawab macem-macem dari
saya hi..hi..
bbrp kalangan menduga, kurang suksesnya 'propaganda' migrasi
ke linux disebabkan karena penegakan HAKI yang hangat-hangat
tahi ayam, pilih kasih, dan sengaja dimanfaatkan oleh oknum
dst..dst.. sebenarnya (menurut saya) kurang sukses ya karena
memang: pertama, tidak/belum ada pusat layanan migrasi yang
dedicated, kedua karena tidak ada support (kalau pemain sedikit
rata-rata orang enggan migrasi dan milih tetap ke yang sudah
mapan seperti sekarang).
ini kan Indonesia, kalau apa-apa harus dari luar jadi repot.
mau beli soekris jadi soetris sendiri.
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
Lah, Pak Adi ditanyai tentang cara menggunakan perintah "ls", tentu
jadi terlihat mahal dan sayang sumber daya. ;-)
*sambil memancing salah satu anggota "mailing list" ini yang beberapa
hari lalu mencari rujukan tentang "helpdesk", hehehe... bagaimana
dengan layanan "helpdesk" di lingkungan Linux?
--
amal
On Tue, Oct 31, 2006 at 07:19:07PM +0100, Made Wiryana wrote:
> ada nama distro besar, bayangannya kalau ada distro besar, artinya aman
> tentram kerta raharja, (padahal belum tentu, bsia aja yg lokal lebih gampang
> dipegang).
lah debian bisa sukses di munich :-))
> Jaminan merek :-) Milih nama besar ndak takut dipecat, milih nama kecil
> siapa yang jamin (ntar dijawab, yang besar aja gagal dan ndak sukses,
> apalagi kecil).
masalahnya. support center (linux) di Indonesia itu nyaris
thak-ther-dhengar .. bukannya saya bilang saya ngerti bisnis
support. mbuh ra weruh he..he.. tapi, kalau itu sampai tidak
ada, ya otomatis orang jadi enggan migrasi. mau pakai nama
ubuntu/suse/novel/redhat boleh lah ..
bbrp kalangan menduga, kurang suksesnya 'propaganda' migrasi
ke linux disebabkan karena penegakan HAKI yang hangat-hangat
tahi ayam, pilih kasih, dan sengaja dimanfaatkan oleh oknum
dst..dst.. sebenarnya (menurut saya) kurang sukses ya karena
memang: pertama, tidak/belum ada pusat layanan migrasi yang
dedicated, kedua karena tidak ada support (kalau pemain sedikit
rata-rata orang enggan migrasi dan milih tetap ke yang sudah
mapan seperti sekarang).
> dipertaruhkan dan ini banyak karena memang saya tidak dedicated
> untuk kerjaan itu. kalau berat. mending tak bantuin saja,
> gratis :-) tapi jangan minta tanggung jawab macem-macem dari
> saya hi..hi..
>
Lah, Pak Adi ditanyai tentang cara menggunakan perintah "ls", tentu
jadi terlihat mahal dan sayang sumber daya. ;-)
> Soal biaya support memang agak heran :-) ada badan pemerintah rela beli
> lisensi hingga 1 M utk 100 komputer padahal relatif tanpa support (dg asumsi
> pengguna di badan tersebut bisa mensupport sendiri), sedangkan ndak rela
> keluar 500 juta utk layanan support tapi pakai Linux.
kebetulan kenal satu institusi yang bermaksud melegalkan OS mereka
dengan membeli paket. saya bilang pakai ubuntu saja :-) tapi pertanyaan
valid mereka: nanti kalau ada apa-apa siapa yang mau/bisa membantu?
selama ini mereka mengandalkan pihak ketiga dalam hal update program,
memperbaiki program yang 'crash', pasang antivirus dan bersihkan
virus dll. nah, tipe kerjaan seperti ini, bahkan dalam wacana pun,
belum terlalu sering disinggung ..
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
padahal kerjaan saya selama ini tinggal ketik 'ls' itu saja lho
hi..hi.. menurut saya sih bukan soal overqualified atau tidak.
kerjaan teknis itu ya kerjaan yang tidak jauh-jauh dari situ.
cuman saya belum siap untuk tipe kerjaan seperti itu
kurang tahu ini berhubungan atau tidak, tapi dulu ada rekan yang
bergerak di bidang pengembangan software. u/ client mereka, mereka
mengusulkan menggunakan mysql. tetapi divisi legal client mereka
menanyakan legalitas penggunaan mysql. menurut divisi legal itu,
kalau tidak ada 'sertifikat', mereka jadi tidak bisa punya bukti
atas so called legalitas yang dimaksud :-) teman saya bingung,
tanya ke saya, saya juga bingung, iya ya .. LBH untuk kasus-kasus
begini memang belum ada.
barangkali sudah saatnya advokasi freesoftware/opensource ini
bersifat lebih terstruktur. saya lihat advokasi-advokasi yang
ada masih bersifat sporadis dan, maaf, cenderung militan. dan
ada lagi yang, maaf, waton njeplak (yang menyedihkan ini sering
dilakukan orang-orang yang terlanjur dilabel sebagai pakar dan
dekat dengan pengambil kebijakan), sehingga malah menimbulkan
kebingungan di sana-sini.
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
Sayangnya usaha untuk menjadi payung atau upaya untuk menyatukan gerakan
agar lebih terstruktur, menjadi salah satu bagian gerakan sporadis itu.
Ada YPLI. Ada KPLI. Ada LUG. Ada KSL. Semua berjalan (atau diam?) sendiri.
Mungkin ini ada hubungannya dengan sifat 'bebas' pada semangat
pengembangan softwarenya, sehingga maunya 'bebas' jalan atau diam
sendiri-sendiri.
--
fade2blac
sebenarnya, kalau dilihat lebih jauh (subyektif yang saya lihat),
mereka tidak begitu pusing dengan trademark. tapi memang trademark
linux ini sedikit sekali pemainnya. sedikit sekali pemain, karena
kalau bermain-main di situ, bisa ndak sustain karena demand tidak
ada. gitu saja terus, seperti lingkaran setan :-)
kebetulan kenal satu institusi yang bermaksud melegalkan OS mereka
dengan membeli paket. saya bilang pakai ubuntu saja :-) tapi pertanyaan
valid mereka: nanti kalau ada apa-apa siapa yang mau/bisa membantu?
selama ini mereka mengandalkan pihak ketiga dalam hal update program,
memperbaiki program yang 'crash', pasang antivirus dan bersihkan
virus dll. nah, tipe kerjaan seperti ini, bahkan dalam wacana pun,
belum terlalu sering disinggung ..
Sayangnya usaha untuk menjadi payung atau upaya untuk menyatukan gerakan
agar lebih terstruktur, menjadi salah satu bagian gerakan sporadis itu.
Ada YPLI. Ada KPLI. Ada LUG. Ada KSL. Semua berjalan (atau diam?) sendiri.
Mungkin ini ada hubungannya dengan sifat 'bebas' pada semangat
pengembangan softwarenya, sehingga maunya 'bebas' jalan atau diam
sendiri-sendiri.
Kalo di jakarta, perusahaan besar yang megang vendor besar juga agak
sulit ngasih support linux. Saya pernah kontak salah satu perusahaan
yang terkenal megang Novell, dan waktu saya tanya SuSE di support gak
? gak bisa jawab.. waaah.. back to square 1.. :))
--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id
Ini toh, feature yang mereka bayar :)
ini salah satu cara saya menjelaskan gunanya subscription fee di linux,
kasarnya untuk punya kambing hitam, dan orang yang di tunjuk dan
dimarah2hi (atau sampai dituntut) ketika things goes wrong.
term halusnya: punya insurance atas produk opensource
> IMW
>
>
> >
-
ak
Kesimpulannya, perusahaan konsultan Linux harus juga bergerak di
bidang peternakan dan pembiakan kambing :-)
BTW, jangan hanya masalah kambing hitam. Bagaimana juga urusan
"komisi"-nya. Karena produk non-proprietary ini nampaknya (hanya
nampaknya) ongkosnya tidak akan besar, maka tentunya ini segera
berkorelasi dengan komisi yang lebih kecil juga.
Kalo di jakarta, perusahaan besar yang megang vendor besar juga agak
sulit ngasih support linux. Saya pernah kontak salah satu perusahaan
yang terkenal megang Novell, dan waktu saya tanya SuSE di support gak
? gak bisa jawab.. waaah.. back to square 1.. :))
> Ya itu penyakitnya walau kenyataannya tetep aja support dari vendor
> besar tersebut tak diperoleh. Cuma paling ndak bikin si boss tenang,
> dan bisa tidur soalnya kalau ada apa-apa ada kambing hitam
Ini toh, feature yang mereka bayar :)
ini salah satu cara saya menjelaskan gunanya subscription fee di linux,
kasarnya untuk punya kambing hitam, dan orang yang di tunjuk dan
dimarah2hi (atau sampai dituntut) ketika things goes wrong.
term halusnya: punya insurance atas produk opensource
BTW, jangan hanya masalah kambing hitam. Bagaimana juga urusan
"komisi"-nya. Karena produk non-proprietary ini nampaknya (hanya
nampaknya) ongkosnya tidak akan besar, maka tentunya ini segera
berkorelasi dengan komisi yang lebih kecil juga.