Assalamualaikum Wr Wb
Dunsanak Palanta RN yang Budiman
Memenuhi permintaan pak Emi saya reposting lagi tulisan “menanam matoa” dari akun email kantor saya, semoga bisa dibaca lagi tanpa kesulitan, sedikit tentang
“Tanaman Kehidupan”
Sebenarnya istilah “Tanaman Kehidupan” ini sudah tidak asing lagi di ranah minang, ini adalah sebuah bentuk ke arifan local dan tradisi (mungkin) dari Orang tua dan Ninik2 kita di Ranah Minang, terkadang kita saja yang tidak Arif dan Bijaksana dijaman sekarang bisa jadi karena hidup yang bergerak cepat dengan segala kemajuan teknologinya, berharap semua serba instant ingin mendapatkan sesuatu (materi) tanpa bekerja keras dan memerlukan waktu yang panjang. Betapa Ninik2 kita telah mengajarkan pada anak2 cucunya arti dan philosopi sebuah tanaman yang ditanamnya kelak memberikan kehidupan bagi keturunannya baik tanaman tersebut dilihat dari berbagai fungsi dan nilai (ekologis, social dan ekonomi). Seperti yang diceritakan oleh dunsanak di Palanta RN contok Uda Zul pernah bercerita orang tuanya menanam 2 batang ? cengkeh di tepian danau maninjau, beliaulah pertama kali memanjat hasil buah cengkeh yang ditanam orang tuanya yang memberikan kehidupan secara ekonomi.
Jamaknya di kampung2 orang tua kita yang hidup agraris, ditanah2 kaum (saparuik) maupun tanah ulayat yang dimanfaatkan secara kolektif para orang tua dan ninik kita dengan kearifan lokalnya menanam tanaman kehidupan ini tanaman yang berumur panjang yang bisa dimanfaatkan mulai dari akar, batang (kayu), dahan dan ranting, daun dan buah.Sebut saja orang tua dan ninik kita di kampung jaman2 dulu menanam seperti Durian, petai, jengkol, Surian, kelapa, manggis, rambutan, jambu bol (jambak) pinang dan lain sebagainya.
“main set” dari tanaman kehidupan ini “janganlah berpikir jika saya menanam satu batang pohon kehidupan ini,,ahhh buat apa toh saya tidak akan mencicipinya sekira berbuah umurnya 10, 20 tahun bahkan lebih saya sudah tidak ada lagi di dunia ini”
Uni Yulmatri Rais berkomentar sangat pas sekali di facebook saya tentang tulisan yang saya posting ini
“ Tanamlah satu pohon apa saja yang berguna buat hidup dan kehidupan kita walaupun besok pagi akan kiamat” (saya pikir maknanya cukup dalam)
Ninik kita telah mengajarkan kearifan ini untuk menanam pohon kehidupan, faktanya betapa banyak anak, cucu dan kemenakannya memetik hasil dari pohon kehidupan ini dengan segala fungsi dan nilainya walau belum tentu orang tua atau ninik2 kita ini menikmatinya karena telah dipanggil yang Kuasa sebelum dia melihat dan menikmati hasilnya
Betapa banyak anak2 dari kampung di ranah minang yang kehidupan orang tuanya agraris bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi dengan biaya yang diperoleh hasil penjualan pohon kehidupan yang bernilai ekonomis sebut saja cengkeh, kelapa, durian dan pinang. Jika saya coba tarik kebelakang jarum jam, betapa saya sangat menikmati masa kecil dikampung dengan uang jajan yang cukup besar kala itu bersama bocah2 sebaya dikampung berbelanja di pekan setiap minggu dengan jajanan kue2 dan makanan tradisional karena orang tua (nenek) kami menanam cengkeh
Saat musim panen cengkeh diakhir akhir tahun 70 -an, kami yang anak-anak menjelang remaja berebut dibawah pohon cengkeh untuk mencari-cari buah cengkeh dibawah pohon yang jatuh atau menyisir tanah dan rerumputan tempat cengkeh tumbuh jika ada buah2 cengkeh yang jatuh ketika dipanen oleh orang tua dan sanak keluarga kami se ibu (sesuku), buah yang luput dipungut orang tua kami kumpulkan bersama-sama lalu kami jual ke pengumpul pada hari pekan (bisa dalam bentuk basah/segar atau telah kering) saat itu dibeli oleh pedagang pengumpul dengan ukuran per kaleng susu (saya sudah lupa berapa harganya) tapi yang pasti ketika harga cengkeh sangat mahal saat itu maka setekong dua tekong cengkeh kering yang kami jual sudah bisa kami “berfoya-foya” didunia anak2 kami di kampung sebut saja untuk pembeli makanan kesukaan, mata pancing dan nilon, kertas minyak layang2 dll
Banyak lagi fakta dan cerita tentang tanaman kehidupan yang ditanam oleh orang tua dan ninik2 kita di ranah minang yang telah memberikan kehidupan secara materi dan nilai2 sosial dan ekologi (lingkungan) bagi kehidupan manusia terutama dalam satu kaum yang mempunyai parak2 dimiliki secara pribadi atau kolektif atau tanah-tanah ulayat.
Wass-Jepe
|
|
|
| Luar biasa Matoa itupun menghiasi halaman PMC 3 batang Matoa sekaligus menyemaraki Rumah Sakit ini Daunnya yang rindang batangnya yang besar dan tinggi serta buahnya yang aduhai lezat cita rasanya Terima kasih jepe "Pohon kehidupan" sudah ditanam, dia akan tumbuh bermanfaat untuk semua Menjadi amal dan ibadah bagi yang menanam, agar andai kelak kita telah tiada, pohon ini akan tumbuh berdaun dan berbuah terus Mudah2an itulah kelak yang mengalir pada kita "Falahum ajrun gairummamnun" Mereka dapat pahala yang tak putus2nya Salam teriring do'a K Suheimi http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe |
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe