Di Halaman PMC Kami Menanam Matoa - TANAMAN KEHIUDPAN

10 views
Skip to first unread message

Jupardi

unread,
Jan 10, 2010, 11:23:27 PM1/10/10
to Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum Wr Wb

Dunsanak Palanta RN yang Budiman

 

Memenuhi permintaan pak Emi saya reposting lagi tulisan “menanam matoa” dari akun email kantor saya, semoga bisa dibaca lagi tanpa kesulitan, sedikit tentang

 

“Tanaman Kehidupan”

 

Sebenarnya istilah “Tanaman Kehidupan” ini sudah tidak asing lagi di ranah minang, ini adalah sebuah bentuk ke arifan local dan tradisi (mungkin) dari Orang tua dan Ninik2 kita di Ranah Minang, terkadang kita saja yang tidak Arif dan Bijaksana dijaman sekarang bisa jadi karena hidup yang bergerak cepat dengan segala kemajuan teknologinya, berharap semua serba instant  ingin mendapatkan sesuatu (materi) tanpa bekerja keras dan memerlukan waktu yang panjang. Betapa Ninik2 kita telah mengajarkan pada anak2 cucunya arti dan philosopi sebuah tanaman yang ditanamnya kelak memberikan kehidupan bagi keturunannya baik tanaman tersebut dilihat dari berbagai fungsi  dan nilai (ekologis, social dan ekonomi). Seperti yang diceritakan oleh dunsanak di Palanta RN contok Uda Zul pernah bercerita orang tuanya menanam 2 batang ? cengkeh di tepian danau maninjau, beliaulah pertama kali memanjat hasil buah cengkeh yang ditanam orang tuanya yang memberikan kehidupan secara ekonomi.

 

Jamaknya di kampung2 orang tua kita yang hidup agraris, ditanah2 kaum (saparuik) maupun tanah ulayat yang dimanfaatkan secara kolektif para orang tua dan ninik kita dengan kearifan lokalnya menanam tanaman kehidupan ini tanaman yang berumur panjang yang bisa dimanfaatkan mulai  dari akar, batang (kayu), dahan dan ranting, daun dan buah.Sebut saja orang tua dan ninik kita di kampung jaman2 dulu menanam seperti Durian, petai,  jengkol, Surian, kelapa, manggis, rambutan, jambu bol (jambak) pinang dan lain sebagainya.

 

 “main set” dari tanaman kehidupan ini “janganlah berpikir jika saya menanam satu batang pohon kehidupan ini,,ahhh buat apa toh saya tidak akan mencicipinya sekira berbuah umurnya 10, 20 tahun bahkan lebih saya sudah tidak ada lagi di dunia ini”

 

Uni Yulmatri Rais berkomentar sangat pas sekali di facebook saya tentang tulisan yang saya posting ini

 

“ Tanamlah satu pohon apa saja yang berguna buat hidup dan kehidupan kita walaupun besok pagi akan kiamat” (saya pikir maknanya cukup dalam)

 

 

Ninik kita telah mengajarkan kearifan ini untuk menanam pohon kehidupan, faktanya betapa banyak anak, cucu dan kemenakannya memetik hasil dari pohon kehidupan ini dengan segala fungsi dan nilainya walau belum tentu orang tua atau ninik2 kita ini menikmatinya karena telah dipanggil yang Kuasa sebelum dia melihat dan menikmati hasilnya

 

Betapa banyak anak2 dari kampung di ranah minang yang kehidupan orang tuanya agraris bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi dengan biaya yang diperoleh hasil penjualan pohon kehidupan yang bernilai ekonomis sebut saja cengkeh, kelapa, durian dan pinang. Jika saya coba tarik kebelakang jarum jam, betapa saya sangat menikmati masa kecil dikampung dengan uang jajan yang cukup besar kala itu bersama bocah2 sebaya dikampung berbelanja di pekan setiap minggu dengan jajanan kue2 dan makanan tradisional  karena orang tua (nenek) kami menanam cengkeh

 

Saat musim panen cengkeh diakhir akhir tahun 70 -an, kami yang anak-anak menjelang remaja berebut dibawah pohon cengkeh untuk  mencari-cari buah cengkeh dibawah pohon yang jatuh  atau menyisir tanah dan rerumputan tempat cengkeh tumbuh jika ada buah2 cengkeh yang jatuh ketika dipanen oleh orang tua dan sanak keluarga kami se ibu (sesuku), buah yang luput dipungut orang tua kami kumpulkan bersama-sama lalu kami jual ke pengumpul pada hari pekan (bisa dalam bentuk basah/segar atau telah kering) saat itu dibeli oleh pedagang pengumpul dengan ukuran per kaleng susu (saya sudah lupa berapa harganya) tapi yang pasti ketika harga cengkeh sangat mahal saat itu maka setekong dua tekong cengkeh kering yang kami jual sudah bisa kami “berfoya-foya” didunia anak2 kami di kampung sebut saja untuk pembeli makanan kesukaan, mata pancing dan nilon, kertas minyak layang2 dll

 

Banyak lagi fakta dan cerita tentang tanaman kehidupan yang ditanam oleh orang tua dan ninik2 kita di ranah minang yang telah memberikan kehidupan secara materi dan nilai2 sosial dan ekologi (lingkungan) bagi kehidupan manusia terutama dalam satu kaum yang mempunyai parak2  dimiliki secara pribadi atau kolektif atau tanah-tanah ulayat.

 

Wass-Jepe

 

 

 

 

 

 

Di Halaman PMC Kami Menanam Matoa

By : Jepe

 

Minggu, 10 Januari  Jam 11.30 dari rumah saya bawa 3 bibit Matoa ke RS PMC perlahan tapi pasti setelah kuantar 3 dara kecil ku ke Gramedia, kuarahkan perjalanan menemui seorang sahabat yang tidak asing lagi bagi aku Prof K Suheimi atau akrab ku panggil Pak Emi. Aku telah berada dengan “my little Zidane” di halaman belakang PMC yang cukup luas persis disamping kiri halaman mesji d Al Fath yang bergaya minimalis dengan  dinding setiap sisinya (kecuali bagian depan menghadap Kiblat) terbuka begitu saja sehingga udara segar berlalu lalang sekehendak hati di dalam Mesjid  dan tentunya diudara Pekanbaru yang siang menjelang shalat dzuhur cukup panas terik  berada dalam mesjid Al Fath PMC terasa sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi  apalagi disekeliling mesjidnya terdapat kolam sederhana dengan pengaturan air selalu mengalir keluar masuk dengan teratur tentunya membuat ikan-ikan emas dan nila seukuran tiga jari merasa betah berkeliran dan bermain karena kandungan oksigen terlarutnya tentu lebih banyak dari pada air tergenang begitu saja tanpa sirkulasi keluar masuk air yang baik.

 

Sejenak ku telpon sang pemilik PMC

 

“Assalamualaikum, Pak Emi, saya dihalaman PMC menunggu, bibit Matoanya sudahku bawa” sapa ku pada Pak Emi

“Waalaikumsallam Ndi, tunggu sebentar ya , saya lagi di lantai 6, wah terima kasih akhirnya dibawain juga bibit matoanya”

 

Dari nada bicara Prof ini terlihat sekali rasa kegembiraannya karena selama ini memang saya telah berjanji akan membawakan bibit matoa dalam polybag  dan beliau sangat menginkan sekali beberapa pohon matoa  untuk ditanam dihalaman belakang PMC bahkan beberapa hari belakang ketika saya shalat Jum’at di Mesjid Al Fath PMC, Pak Emi menginstruksikan pada Pak Amar untuk membuat lobang tanam Matoa yang akan saya bawa. Pak Amar adalah karyawan Prof  yang setia dan rajin untuk mengurusi kolam ikan ,  kebersihan halaman dan merawat aneka binatang yang dipelihara dalam kandang.

 

Dari pintu belakang PMC yang tembus ke halaman belakang sosok  Prof yang murah senyum  dengan penampilan yang cukup “keren” (biasanya hari-hari agak slebor sih) baju batik halus dengan celana pentalon licin mengkilat dengan  “sandiang” yang tajam dipadu dengan sepatu kulit bergaya anak muda. Aha..rupanya  beliau hari ini akan menghadiri sebuah acara akekah seorang bayi pertama yang lahir dalam air di PMC yang lansung ditangani oleh Prof Emi (pantesan keren dan rapi begini penampilannya). Pak Emi menghampiri saya kami bersalaman dan bertegur sapa.

 

“Kita shalat dzuhur berjamaah dulu di mesjid, nanti saya panggil Pak Amar kita sama-sama menanam sebatang pohon matoa di lobang yang telah disiapkan disamping halaman mesjid” Pak Emi mengajak saya ke Mesjid

 

Kami lalu mengambil wuduk di pelataran mesjid yang dikelilingi kolam memanjang, selepas mengambil wuduk kami langkahkan kaki ke lobang tanam yang telah disiapkan Pak Amar, lalu bibit Motoa itu “ecek-eceknya” kami tanam secara resmi berdua dengan mengucapkan Bismillahhirahmanirrahim disaksikan oleh Pak Amar dan Zidane kecil saya tentunya tidak lupa “berkodak” satu dua jepretan.Selesai kami menanaman sebatang bibit Matoa kami langkahkan kaki masuk mesjid Al Fath, Azan berkumandang ditengah cuaca panas yang cukup sejuk dan segar dalam mesjid, selesai azan para jamaah melakukan shalat sunnah  2 rakaat dan dilanjutkan Qomat untuk memulai shalat fardhu Dzuhur yang lansung menjadi Imam Pak Emi.

 

Selesai shalat, berdoa dan kembali shalat sunah 2 rakaat, Pak Emi “memaksa” saya untuk ikut acara undangan akekah walau penampilan saya “jauh” dari pakaian layaknya orang pergi kondangan atau acara resmi tapi Pak Emi sangat antusias mengajak saya bahkan beliau “bela-belain” menjemput tiga dara kecil saya yang lagi ke Gramedia dan lansung dibawa pergi kondangan, tapi apaboleh buat ajakan Pak Emi yang baik hati ini terpaksa saya tolak karena saya juga ada acara keluarga dan istri telah menunggu di rumah. Kami bersalaman  dengan penuh harapan nantinya pohon Matoa yang akan kami tanam tumbuh subur dan berbuah. Sebuah “pohon kehidupan”  yang kelak akan memberi manfaat bagi orang banyak seperti tempat berteduh dari kehujanan dan kepanasan terutama bagi para pengunjung dan pasien RS PMC tentunya jika berbuah bisa juga pengunjungnya menikmati rasa buah Matoa yang eksotis campuran rasa rambutan dan lengkeng dengan sentuhan ringan aroma durian ketika daging buahnya di keluarkan dari cangkangnya.

 

Begitulah sebuah “Pohon Kehidupan” ibaratnya seperti Penghulu sebagai pimpinan suatu kaum dalam adat Minangkabau yang diibaratkan juga seperi Kayu gadang ditangah padang, ureknyo tampek baselo, dahannya tampek bagantuang,daunnyo tampek balinduang, batangnyo tampek basanda (kayu besar ditengah padang, uratnya tempat bersila, dahannya tempat bergantung, daunnya tempat berlindung , batangnya tempat bersandar), begitu juga kira-kira  manfaat dan kegunaan  sebuah “phon kehidupan” yang tumbuh subur tidak saja akar, batang (kayu) dan daunnya memberi manfaat bagi kehidupan tapi juga buahnya. Semoga begitu adanya kelak salah satu pohon kehidupan Motoa (Pemetia pinnata) yang kami tanam dihalaman RS PMC ini, apakah nanti kami akan bisa menikmati buahnya, untuk yang satu ini biarlah menjadi rahasia Illahi.

 

Pekanbaru, 10 Januari 2009

 

 

 

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.

suheimi ksuheimi

unread,
Jan 11, 2010, 12:02:53 AM1/11/10
to rant...@googlegroups.com
Luar biasa Matoa itupun menghiasi halaman PMC 
3 batang Matoa sekaligus menyemaraki Rumah Sakit ini 
Daunnya yang rindang batangnya yang besar dan tinggi serta buahnya yang aduhai lezat cita rasanya 

Terima kasih jepe "Pohon kehidupan" sudah ditanam, dia akan tumbuh bermanfaat untuk semua 
Menjadi amal dan ibadah bagi yang menanam, agar andai kelak kita telah tiada, pohon ini akan tumbuh berdaun dan berbuah terus 
Mudah2an itulah kelak yang mengalir pada kita 
"Falahum ajrun gairummamnun" 
Mereka dapat pahala yang tak putus2nya 
Salam teriring do'a 
K Suheimi

http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

masrursiddik masrursiddik

unread,
Jan 11, 2010, 12:05:23 AM1/11/10
to rant...@googlegroups.com
Bung Jepa, Prof Emi dan Sanak Suryadi nan bijak bestari,
Sato pulo ciek dih.
Sanang mandanga lah tatanam Matoa di PMC .  Semoga berkah dan capek babuah.
Jadilah " Tanaman Kehidupan" sasuai jo niat Je[e dan Pak Emi

Nampak2 dan tabayang dek Ambo baralah gadangnyo senyum Pak Emi nan ramah tu.
Tabayang pulo dek ambo baralah capek kaki ringan tangan nyo Jepe, tangkas dan bapaluah di kaniang yo

Salamat Pak Emi dan Jepe.
Mungkin Kulik Manih  rancak juo di tanam di halaman PMC,
Daun kulih manih  dan kemerah-merahan dikala mudo sangat mempreindah dan kontras jo hijaunyo daun lainnyo
Dulu ( 1993-an) banyak anakan/ bibit kayu manis di jua urang didakek janjang "ACC", sebelah timur Jam Gadang di pasa ateh.

Oyo, tanyo ciek Jepe, baa tulisan Jepe ttg Mato ko 'melebar di Lap Top Ambo.
Semoa mafhum, gaptek yo sangat gaptek  malah

Terimakasih dan Wassalam

Masrur Siddik, 68th
di Bandung

2010/1/11 Jupardi <jup...@anugrah-mgt.biz>
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


ksuh...@yahoo.com

unread,
Jan 11, 2010, 3:32:07 AM1/11/10
to Rantau
Tarimo kasih Pak masrur
Kini kami sadang mancari kulik manih nan Daunnyo sajo lah bak bungo merah kasumbo enak di pandang dan perlu
Kuliknyopun harum semerbak manambah nafsu makan si Jepe he he
Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

taufiq...@gmail.com

unread,
Jan 11, 2010, 4:27:24 AM1/11/10
to rant...@googlegroups.com
Mudah2an pak Suhaimi berhasil mananam kulik manih itu nanti.. Ambo pernah mancubo mananam jo kopi, surian dll tanaman dataran tinggi di Danau Buatan Rumbai tahun 1993, antah dima salahnyo abih mati kasadonyo.

Padahal ditanam diareal yang masih asli hutannyo dengan topografi yang berbukit. Sangajo ambo sisokan sekitar sahektar ditangah lahan itu nan indak diusik hutannyo ditumbuhi berbagai pohon meranti,kulim, rengas rotan dll.

Bialah nanti areal yg berbukit itu. Kalau bisa nanti jd tampek outbond karano jarang j
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages