Assalamualaikum:
Daya dukung jalannya yg harus ditingkatkan, bukan membatasi truk2 berkapasitas 40 ton. Tekanan ban maksimal 100 kg/cm2. Kalau jalannya dikerjakan dgn baik, ngak bakalan jalannya rusak. Jalan non toll Jakarta- Bandung, dilalui truk2 dengan muatan lebih dari 40 ton, jalannya mulus saja, kecuali dekat ke Cikampek, tanah dasarnya tidak begitu bagus.
Kalau jalan2 lintas Sumatera dikerjakan dengan baik, sesuai dengan design dan spesifikasinya, truk muatan berapapun, jalannya tidak bakal rusak. Membatasi tonnage truk, menyuburkan korupsi, menyuburkan pungli.
PT Semen Padang menghasilkan semen 6 juta ton pertahun. Jalan Trans Sumatera, bisa pakai beton, batu banyak, semen berlimpah, murah meriah.
Jalan yg ada sekarang dilapisi beton saja 35 cm, bisa tahan paling tidak 20-40 tahun. Sekali lima tahun dilapisi aspal 5 cm.
Wassalam
Bakhtiar Muin
Topik: Tonase Truk di Sumbar
taufiq...@rantaunet.org Jul 12 01:44PM ^
Babarapo waktu yang lalu ambo pernah mangabakan kondisi jalur tengah jalan lintas Sumatra antaro Muaro Bungo - Solok-Padang
Jalan nan lumayan leba dan luruih didisain untuak kecepatan sekitar 100km/jam. Bahkan pado spot tertentu speedometer oto ambo bisa mancapai 160km/jam untuk beberapa menit
Sejak ratusan truk batubara serta CPO jo nan bermuatan semen mengangkut muatan sekitar 40 ton jalan itu mulai hancua
Bulan yang lewat ambo menempuh jalur tersebut lebih banyak menggunakan persnelling 2-3 sajo. Kecepatan sekitar 20-40 km sajo
Sejak beberapa bulan yang lewat alah diagiah tau dek Muspida supaya muatan kendaraan tsb tidak melebihi ketentuan yang berlaku
Terhitung 1 July diadakan lagi sosialisasi dilapangan supaya aturan tsb dipatuhi. Mulai kemaren dilakukan penilangan di jembatan timbang oleh Tim Terpadu dan STNK mobil yang bermasalah distempel
Kalau stempel pelanggaran telah sampai 3 buah. STNK mobil akan dicabut. Sehingga mobil tidak boleh dioperasikan lagi
Sayang niat baik pemerintah tsb memperoleh respon Negatif dari pengemudi dan pengusaha angkutan
Ada yang menaikkan biaya angkut. Bahkan terjadi pemogokan ribuan truk
Sebagai rakyat yang membayar pajak, kita sangat berharap ketentuan tonase kendaraan tsb dipatuhi pengemudi dan pengusaha angkutan
Hendaknya Pemerintah tetap memberlakukan hal ini supaya usia jalan dapat diperpanjang dan tidak menggerogoti APBN/APBD demi mengikuti sekelompok dunia angkutan ini
Kalau perlu tidak dikeluarkan lagi STNK untuk mobil berat ini. Sehingga jalanan bisa bebas dari mobil berat tsb
---TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
"Dasriel A Noeha" <dasrie...@yahoo.com> Jul 12 01:53PM ^
Fungsi jalan mengandung beberapa factor atau fungsi;
Ekonomis, truk termasuk disini. Sosial, bus dan kendaraan masuk disini, entertainment/private, oto mak Taufik masuk kategori ini. Official, kendaraan dinas pemerintah masuk disini, hukum, kendraraan tentara dan polisi masuk di fungsi ini.
Jadi Jalan mengandung aspect multi fungsi.
Yang tidak jalan adalah border limit masing2 fungsi. Shg truch overloaded, mobil polisi ngbut, mobil pejabat pakai sirene, mobil pribadi minggir, motor masuk jalan tol, dlsb
Celakanya itu terjadi di RI
Wass
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Truk Kembali Mogok, Solok-Padang Macet Lagi
Antrian truk yang mogok di sekitar Jembatan Timbangan Oto (JTO) Lubuksilasih, Kabupaten Solok. (Foto: padang-today.com)
SOLOK (RP)- Aksi mogok ratusan sopir truk kembali terjadi di ruas jalan Solok-Padang dikawasan Jembatan Timbangan Oto (JTO) Lubuksilasih, Kabupaten Solok, tadi Selasa (12/7) . Bahkan deretan truk yang sengaja diparkir di pinggir jalan tersebut sudah terlihat semenjak Senin (11/7) malam sekitar pukul 23.00 wib.
Dapat dipastikan akibat aksi awak truk yang sengaja memarkir kendaraan mereka disepanjang jalan lintas sumatra Solok-Padang tepatnya dikawasan JTO Lubuksilasih praktis membuat arus lalulintas dikawasan tersebut tersendat padat.
Meski petugas terlihat berupaya mengantisipasi agar lalu lintas tetap lancar, namun antrian truk yang terus bertambah jumlahnya dari dua arah membuat petugas kewalahan sehingga jalur lalulintas Solok-Padang sempat lumpuh beberapa jam.
Diperkirakan panjang antrian truk yang memarkir kendaraannya disepanjang sisi jalan lintas sumatra Solok-Padang mencapai sepuluh kilometer lebih dari dua arah. Kendaraan lain yang melintas diruas jalan tersebut juga dipaksa terjebak kemacetan panjang meski perlahan kendaraan umum dan pribadi dapat berangsur-angsur bergerak.
Dari keterangan Ismail (45) salah seorang sopir truk, dirinya bersama rekan-rekan satu provesi lainya sengaja memarkir kendaranya di pingir jalan semenjak Senin (11/7) malam sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintahan provinsi sumatra barat yang memberlakukan pembatasan muatan angkutan barang (tonase).
Sama seperti alasan waktu pertama kali aksi mogok awak truk atas kebijakan pemerintahan provinsi sumatra barat beberapa waktu lau, para awak truk mengaku dengan diterapkanya aturan pembatasan tonase bagi truk membuat penghasilan mereka berkurang.
Bahkan mereka mengaku dengan pembatasan tonase upah yang mereka terima tidak sebanding dengan kost yang mereka keluarkan sehingga dengan kelebihan tonase mereka dapat terbantu mentupi kost tersebut.
Aksi para awak truk yang menolak diberlakukannya pembatasan tonase, membuat aparat kepolisian Polres Solok dan PJR Polda Sumbar sibuk mengatasi kemacetan panjang. Dibawah guyuran hujan aparat kepolisian mencoba mengatur lalu lintas agar tetap bisa dilewati kendaraan lain, namun kemacetan tidak dapat dihindari.
Arus lalu lintas baru dapat bergerak sekitar pukul 10.00 pagi tadi Selasa (12/7) karena antrian truk tidak dapat terbendung lagi karena semakin bertambah banyak. Kendaraan bermuatan berat tersebut terus memaksa lewat menuju Padang dan Solok sehingga kemacetan lalulintas dikawasan tersebut perlahan mulai lancar. (vko/rpg)
| Aww. Forum Palanta nan berbahagia tarutamo kaum cadiak pandai nan professionals. aaa) Pembangunan Nasional qq. Regional Development adolah suatu nuansa nan sangat baik dalam rangka otonomi daerah dan kito seyogyanya dapeik bapikie integrated komprehensif basinergie sahinggo "membangun" adolah untuk kesra baik rahayat Ranah ataupun Rantau. bbb) Mailah kito baraja dari pengalaman maso lalu tamasuek sistem nan alah pulo dibuekkan oleh Pemerintah Kolonial Ulando dengan mentrapkan tingkat2 jalan mulai dari kelas I, II, III dan saturuihnyo nan saingeik kami sampai tahun 1950-an hal itu masih balanjuik pentrapan di lapangannyo.artinyo perkembangan pemeliharaan jalan raya dan dibandingkan dengan jumlah kenderaan masih dirasakan saimbang, bukan? ccc) Apo nan alah dilakukan dek BK dengan membangun Jalan lintas Sumatera, Kalimnatan, SUlawesi, Irian adolah suatu pemikiran yang cemerlang dari seorang Insinyur yang nasionalis dengan membangun kesatuan bangsa. Dalam kaitan pemikiran persatuan dan kesatuan bangsa kiniko apokah kito indak dapeik bapikie ulang dalam pembangunan regional tarutamo di SB kiniko? Apokah jalan raya nan ado kiniko laie pulo sasuai jo kepentingan ekonomi Nagari nan menghasilkan batubara, emas, kelapa sawit, dllnya dimano truk gandeng dan kenderaan gadang lainnyo lalu lalang dijalan raya kelas III, misalnya? Dapeikkah kito mulai bapikie atau mamikiekan suatu konsep pembangunan jalan raya reginal untuk kepentingan ekonomi rakyat tasabuik? ddd) Kami ingin mangatakan bahwasanyo tarutamo para pembuat kebijakan (Legislator/DPRD/DPD), pelaksana kebijakan (Eksekutif/PemdaProv/PemdaKab/Kota) dan pengawasan pelaksanaan pembangunan Judikatif (Pengadilan Jalan Raya, dsbnya) untuk "back to basic" mangarajokan hal2 essensial bagi "Kesra" Minangkabau/Sumbar?. Satu kali kito bapikie komprehensif dan integrated, Insya Allah pemecahan masalah demi masalah pembangunan regional SB dapeik menghasilkan "optimal" untuk kesra. Sekedar memberikan masukan dan pencerahan agar supayo kito indak saseik dijalan pembangunan regional SB.Mohon maaf pabilo kurang tapeik duduk pakaronyo. Wass., Asmun (LK/66/Depok) --- Pada Rab, 13/7/11, Bakhtiar Muin PhD <bms...@gmail.com> menulis: |
|
13 Juli 2011 - 05.31 WIB
DHARMASRAYA (RP) - Jalan negara makin parah. Kendati ada perbaikan, tapi dinilai belum maksimal. Truk bermuatan melampaui tonase disebut-sebut salah satu penyebab laju kerusakan infrastruktur transportasi darat di Sumbar. Kondisi itu menimbulkan ekonomi biaya tinggi karena akses jalan terhambat.
Di jalan lintas Sumatera (Jalinsum) wilayah Kabupaten Dharmasraya, misalnya. Sepanjang tahun warga setempat belum menikmati jalan mulus. Perbaikan jalan yang dilakukan Pemprov Sumbar, tak mampu membendung laju kerusakan.
Potret buruk Jalinsum itu membuat pengguna jalan kesal, terlebih warga setempat. Mobilitas kendaraan terhambat. Para pengendara roda empat dan roda dua harus berjalan bak siput melintasi Jalinsum di kawasan perbatasan Sumbar Jambi itu. Buruknya kondisi jalan juga mengancam jiwa pengendara.
Jika musim kemarau, warga “kenyang” oleh debu jalan rusak dan dampak pengerjaan jalan yang saat ini baru sebatas timbunan pasir, batu dan kerikil (sirtukil). Sedangkan bila musim hujan, dipastikan jalan lanyah bak kubangan. Kalau sudah begitu, jalan-jalan kampung dan daerah makin kumuh.
Piko Ramadhan, 35, warga Gunungmedan, Kecamatan Sitiung, menyebutkan, debu jalan tidak hanya membuat permukiman warga kumuh, lebih dari itu menggangu pernapasan warga. “Debunya sudah seperti kabut sehingga menghambat jarak pandang dan sesak napas. Kalau malam, debu-debu makin “menggila” karena intensitas kendaraan yang lewat makin tinggi.
Kami berharap pemda segera menuntaskan perbaikan jalan tersebut, sehingga masyarakat tidak disusahkan begini,” harapnya.
Hal senada dikeluhkan Andi Bustari, sopir truk. Kerusakan jalan negara di Dharmasraya, membuat jarak tempuh makin lama. Jika dalam kondisi normal waktu tempuh dari Kecamatan Seirumbai ke Pulaupunjung yang berjarak 62 km satu setengah jam, kondisi jalan rusak bisa dua lebih. “Ini jelas merugikan kami, baik dari sisi waktu maupun biaya,” ucapnya.
Jalan Alternatif
Ketua DPRD Dharmasraya Rudi Hartono, mengatakan, kerusakan jalan disebabkan tingginya intensitas kendaraan bermuatan besar melampaui daya tahan jalan.
“Jadi, sebaiknya dana perbaikan dibuat jalur alternatif untuk truk. Jalur kita alihkan masuk dari Sitiung IV dan ke luar di Silago atau samping Polsek Sungaidareh. Jika itu bisa direalisasikan, mungkin ini akan lebih efektif. Artinya, truk besar tidak lagi melewati Jalinsum Dharmasraya, sehingga kerusakan bisa diminimalisir. Hal tersebut sudah dilakukan di Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Banjar-Kutai,” jelasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dharmasraya, Maisul menjelaskan, karena jalan negara, pemeliharaan dan perbaikan merupakan kewenangan Pemprov. “Pengerjaan jalan tersebut sudah selesai ditenderkan sebanyak tiga paket dengan masa atau lama pekerjaan lima bulan. Jika tidak ada halangan, Insya Allah pertengahan Lebaran jalan tersebut sudah tuntas,” jelasnya.
Di Pasbar 263 Km
Pemandangan serupa juga terlihat di daerah perbatasan Pasaman Barat dan Sumatera Utara. Kerusakan jalan di Pasbar cukup tinggi. Selain akibat gempa 30 September 2009 lalu, juga dipicu truk-truk pengangkut CPO bertonase berat yang tidak sebanding dengan kekuatan jalan.
Dari total panjang jalan 1244,01 km, 263 km rusak berat, 561, 72 km rusak, 118,40 km rusak sedang dan 300,89 km dalam kondisi baik. Kerusakan jalan tersebut hampir terjadi di 11 kecamatan di Pasbar. “Jalan rusak itu sudah mulai diperbaki dan kita akan benahi sesegera mungkin tahun ini. Kita juga akan memperbaiki jembatan,” kata Plh Kabid Bina Marga Dinas PU Pasbar, Febrianto.
Pemkab Pasbar menyiapkan anggaran sekitar Rp 19 miliar untuk perbaikan infrastruktur jalan tahun ini. Rinciannya, untuk peningkatan jalan Rp 9 miliar dan untuk pemeliharaan jalan periodik Rp 10 miliar. Tidak seluruh jalan rusak diperbaki. Sebab, di Pasbar terdapat jalan negara sepanjang 131 km, kemudian jalan provinsi 76,10 km. Dari panjang jalan negara 131 km itu, hanya 2,5 km yang rusak. Sedangkan jalan provinsi, rusak sepanjang 4 km.
Sebelumnya, Kepala Dinas Prasrana Jalan (Prasjal) dan Tata Ruang dan Permukiman (Tarkim) Sumbar, Suprapto mengungkapkan, seluruh pengaspalan jalan dihentikan selama Ramadhan dan akan dimulai kembali setelah Lebaran. Kebijakan itu diambil untuk mengantisipasi kemacetan dan memberikan kenyamanan para pemudik dan pengguna jalan lain selama liburan Lebaran. (ita/eri)
| Aww. Forum Palanta RN nan berbahagia. aaa) Kami usulkan kironyo topik "Jalan Raya" ataupun sektor perhubungan iko dapeik dimoderator oleh seorang yang ahli dibidangnyo dan babarapo pembahas ahli diberbagai bidang takaiek tamasuek masalah sosial, budaya, ekonomi rakyat/koperasi, LH, dlsbnya.dalam rangka memberikan suatu masukan positif baik kepada Legislatif, Eksekutif, Judikatif sebagai tiga kekuasaan dalam sistem pemerintah RI yang bertanggung jawab bagi pembangunan regional SB kiniko dan kedepan. bbb) Kembali kami ingin menyampaikan bahwasanyo kito harus mulai dari "Zero Sum Approach" dalam manyalasaikan permasalahan nan alah bakareik sajak lamo dan harus dibongkar habis supayo sasuai jo kepentingan ekonomi rakyat demi kesejahteraan rakayat di SB, bukan? Kalau manuruik pelajaran Angku Guru MCB disamping pendekatan habis2an dimuko juo harus holistik integrated komprehensif pulo, baa tu agak ati? ccc) Kalau kito indak mamulai bapikie "revolusioner" seperti itu maka kito akan baliek terjebak pada karajo tambal sulam dstnya., baa pulo urang manggali tambang batu bara mambuek jalan inyo sendiri, artinyo investasi akan besar dan skala ekonomi tidak akan didapat, bukan. kalaulahmasing2 "Big Company" apalaie asing masuek ka SB dan melakukan hal nan indak baguno dek rahayat Nagari iyolah bapikie ulang kito untuk manutuik rapeik2 ranah iko dari "hantu2" globalisasi nan nampak jaleih dari babarapo wilayah Republik hancur luluh lantak, samantaro rahayat nyo tetap miskin? Contoh : Kalimantan? Papua/Irian? NTT? dlsbnya. makasuik kami adolah marilah kito baraja dari pengalaman nan ado. ddd) Malasah investasi kito dapeik memanfaatkan TITI (Trade Industri Tourism Investment) sebagai alat untuk meningkatkan pembangunan regional SB dengan suatu pendekatan yang lebih atraktif bagi investor dan bermanfaat bagi rahayat Nagari! Pemikiran2 nan paralu kito kaja adolah baa caronyo membangun kembali SB sebagai Centre of Excellence! Banyak investor Dalam dan luar Nagari nan tertarik untuk membangun SB sabananyo, tapi kan kito masih banyak masalah2 internal SB sendiri nan paralu diluruih-luruihkan supayo dalam mancancang indak rusak landasan yaitu sendi2 kehidupan ABS SBK, bukan? Salamaik berdiskusi dan marikito kaluakan pandapeik jo pemikiran sarao "konsepsi" brilian dari anak Nagari Rantau jo Ranah. Salam hormat dan mohon maaf, Semoga bermanfaat. Asmun ((LK/66/Depok) Catatan : Moderator : Pembahas Teknis : Pembahas Sosial Budaya (ABS SBK) : Pembahas Ekonomi rakyat: Pembahas Ahli BIdang Konstruksi Pembahas Ahli BIdang Demografi Pembahas Ahli Bidang Lainnya dst. --- Pada Rab, 13/7/11, asmun sjueib <kinn...@yahoo.co.id> menulis: |
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
| Aww. Palanta nan kami hormati, aaa) Kalau masalah strategis indak kito salasaikan sacara komprehensif struktural akan tajadi karajo tambal sulam nan akhirnya kalua dana, biaya jo pikiran ilang percuma. bbb) Jalan kalua seperti mampaketek tonase kenderaan untuk menyesuaikan jo kondisi nan ado, barangkali kurang tapeik. Mungkin tapeik juo untuk samantaro wakatu untuk kepentingan sesaat semato. ccc) Nan kami makasuik labieh ka caro bapikie saketek jangka panjang dan bamanfaat untuk rahayat Ranah jo Rantau tantunyo indak untuk kesra rahayat Minangkabau. samato, akan tetapi untuk rahayat Indonesia lainnyo nan akan lalu lalang pulo disinen. Wassalam, Asmun (Lk/66/Depok) --- Pada Rab, 13/7/11, taufiq...@rantaunet.org <taufiq...@rantaunet.org> menulis: |
| Semakin banyak truk lalu lalang, itu berarti perekonomian di daerah itu tumbuh..!! Jangan sampai kesalahan atas kerusakan jalan ditimpakan pada pengemudi atau pemilik truk yang ewat di jalan itu. Kita pantas bersyukur, masih ada truk bermuatan CPO atau batubara, minyak atau hasil bumi lainnya yang melewati jalan itu. Bagi saya, semakin banyak truk yang lalu lalang di Sumbar, itu berarti ekonomi di daerah itu bergerak bukan sebaliknya. Jika ekonomi bergerak, maka akan banyak peluang usaha yang berdampak pada pengurangan pengangguran di daerah itu. Jika tak percaya, silahkan cek kenaikan pendapatan daerah Dhamasraya dan juga Solok Selatan itu, secara ekonomi terjadi pertumbuhan seiring dengan meningkatnya traffic truk di sana. Solusi kerusakan jalan itu bukan pada menangkap pengendara truk, menghentikan operasional truk. Jika ini dilakukan, maka aktivitas ekonomi bakal terganggu sebab ada kemacetan arus barang. Apalagi jika pemda setempat atau menarik retribusi legal dan illegal yang berlebihan, yang bisa membuat ekonomi biaya tinggi di daerah itu. Sebaiknya, kualitas jalanlah yang diperbaiki agar truk seberat apapun bisa melaju di jalan menuju Solok itu. Semakin tinggi arus barang, maka itu pertanda ada pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Soal pajak, pengusaha sawit itu lebih banyak membayar pajak. Mulai dari pajak ekspor CPO yang mencapai 20%, belum termasuk PPH, retribusi daerah dan pajak lainnya. Begitu juga dengan batubara, pengusaha tambang itu juga bayar royalti kepada negara termasuk juga pada daerah dengan aneka pungutan berlabel retribusi. Jika jalan itu rusak, maka itu tanggungjawab dari pemerintah yang memperbaiki. Janganlah timpakan kesalahan itu pada supir truk atau pemilik kendaraan. Semoga kita lebih arif melihat masalah ini. Salam AB. --- Pada Sel, 12/7/11, Dasriel A Noeha <dasrie...@yahoo.com> menulis: |
Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone
Muatan truk begitu berat, remnya tidak baik, terjadilah Kisah Sedih Kecelakaan Maut mengerikan di jalan bahaya Silaiang Bawah, Bukit Berbuknga, Padangpanjang:
Lihat gambar dan britanya di:
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6705:truk-terguling-sopir-tewas&catid=2:sumatera-barat&Itemid=71
Innalillahi waina ilaihi rajiun ...
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, "asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang" <asfarinal2000@...> wrote:
>
> Ha......ha......hari ginie (kato2 anak mudo di Jakarta) ndak do koropsi
> (mudah2an setelah membaco tulisan bapak kito sadonyo dijauhkan dari korupsi
> terutamo nan bahubungan jo jalan raya). Menenai tulisan paka Baktiar Muin memang
> batua, kalo utk spesefikasi sekian utk ukuran tonase sekian, yg menjadi masalah
> adolah daya dukuang tanah. Kondisi nagari awak nan lereng jo lambah itu nan
> kurang memungkinkan tonase gadang nan lewat. Kasus Sitinjau Lauik, longsor
> merupakan momok yg sangat menakuikkan. Jan kan nagari awak, sepanjang jalur
> pulau jawa sajo baratuih2 meter malah baratuik kilo meter jalan rusak parah, itu
> nan daya dukuang tanahnyo kareh dan merupokan urek nadi pertumbuahan nasional.
> Memang pembatasan tonase merupakan solusi dan jua manjadi sumber penghematan utk
> negara dari sisi pemborosan perawatan jalan nan menyedot anggaran negara yg ndak
> tanguang2. Dijawa sajo jalan lah takah tu parahnyo apolagi di ranah nan
> anggarannyo tabatas.
> Ide yg terbaik utk kargo diranah adolah transpor kereta api. Dipisahkan antaro
> umum jo barang merupakan sebuah kecerdasan dari pado tiok tahun banyaknyo
> angaran terserap utk perbaikan jalan raya di Sum Bar. Potensi ATM nyo sangaik
> gadang disiko.
>
> Nanang, Jkt
> ________________________________
> Dari: "ryanfirdaus67@..." <ryanfirdaus67@...>
> Kepada: rant...@googlegroups.com
> Terkirim: Rab, 13 Juli, 2011 10:27:20
> Judul: Re: [R@ntau-Net] RE: Tonase Truk di Sumbar
>
> Assalamualaikum.
>
> Bahaso Aluih pak Bakhtiar Muin..barangkali, jauhkan penyelewengan/korupsi ketika
> membangun jalan raya!!tapi bisa kah?? Agak mustahil pembangunan projek apapun di
> Indonesia bebas dari korupsi..
>
> Ramalan Pak BM memang hampir tapek bana : akan melahirkan pungli/korupsi nan
> baru pulo..ka ba'a juo lai..susah bana membenteras budaya korupsi nan alah
> mendarah dagiang..terutama bagi para 'tukang teken'...
>
> Maaf kalau indak berkenan..
>
> Wassalam
>
> Ryan 44 Ipoh
> Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone
> ________________________________
>
> From: "Bakhtiar Muin PhD" <bmsaidi@...>
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Wed, 13 Jul 2011 07:21:39 +0700
> To: <rant...@googlegroups.com>
> ReplyTo: rant...@googlegroups.com
> Cc: <bmsaidi@...>
> Subject: [R@ntau-Net] RE: Tonase Truk di Sumbar
>
> Assalamualaikum:
>
> Daya dukung jalannya yg harus ditingkatkan, bukan membatasi truk2 berkapasitas
> 40 ton. Tekanan ban maksimal 100 kg/cm2. Kalau jalannya dikerjakan dgn baik,
> ngak bakalan jalannya rusak. Jalan non toll Jakarta- Bandung, dilalui truk2
> dengan muatan lebih dari 40 ton, jalannya mulus saja, kecuali dekat ke Cikampek,
> tanah dasarnya tidak begitu bagus.
>
> Kalau jalan2 lintas Sumatera dikerjakan dengan baik, sesuai dengan design dan
> spesifikasinya, truk muatan berapapun, jalannya tidak bakal rusak. Membatasi
> tonnage truk, menyuburkan korupsi, menyuburkan pungli.
>
> PT Semen Padang menghasilkan semen 6 juta ton pertahun. Jalan Trans Sumatera,
> bisa pakai beton, batu banyak, semen berlimpah, murah meriah.
> Jalan yg ada sekarang dilapisi beton saja 35 cm, bisa tahan paling tidak 20-40
> tahun. Sekali lima tahun dilapisi aspal 5 cm.
>
> Wassalam
> Bakhtiar Muin
>
> Topik: Tonase Truk di Sumbar
> taufiqrasjid@... Jul 12 01:44PM ^
> "Dasriel A Noeha" <dasrielnoeha@...> Jul 12 01:53PM ^
2. Disiko Pemerintah kan berperanan sebagai katalis gerak pembangunan dan ekonomi daerah, jadi tantu baa nan ka rancak utk semua pihak/lapisan nan ado.
3. Nan jalehnyo kalau ado jalan nan rusak iyo harus dipelokan capek, ijan lamolo jalantu rusak dek proses mampeloki daripado eloknyo. Atau lah lamo rusak baru dipeloki, kalau bisa PU standby 24 jam.
4. Semakin lancar perhubungan darat tentu semakin meningkat pertumbuhan ekonomi daerah tsb. Dan menghemat banyak hal seperti waktu perjalanan, onderdil kendaraan, stress/kesehatan pemandu/pengemudi itu sendiri dan bahan bakar/bbm.
5. Apolai kiniko hari ka Rayo, antisipasi arus Mudik nan samakin maningkek satiok taun. Dan urang rantau nan pulang tu lah pasti mambaok pulang devisa ka daerahnyo masiang2.
6. Statistik pertumbuhan kendaraan baik dari segi jumlah dan peningkatan tonase bagi truk (dimana skrg banyak truk baru keluar dgn tonase yg tinggi) juga Bus (bertingkat dsbnya), maka harus seimbang dgn pertambahan jalan raya begitu juga dengan kualitas dan lebar serta jumlah jalurnya. Kalau tidak seimbang tentu saja akan terjadi kemacetan dan kerusakan jalan yg luar biasa.
7. Sabananyo awak bisa mancontoh ka negara lua, nan dakek seperti Malaysia, nan tiok taun mambuek jalan bahkan berstandar highway/bebas hambatan dgn 3 dan 4 jalur searah (6-8 jalur), sambia jalan lamo pun dinaiak tarafkan jadi jalan bebas hambatan/highway tadi. Dan sasuai jo piawaian/standard Dunia internasional. Jadi kalau Malaysia bisa manga awak indak bisa sdgkan mrk baraja ka awak sisuak.
8. Tapi salagi niaik Katua/Pemimpin nan naiak hanyo utk diri dan kelompok sajo atau samato-mato mancari pitih, yo ibaraik anjiang manyalak bukik se awak nan ramiko.
Jauah bana kesejahteraan Rakyaik badarai nan dapek kadicapai.
9. Akhianyo samo badoa sajo awak lai ka Tuhan nan Maha Kuaso. Mudah2 an dapek Pemimpin nan bisa manyanangkan umaiknyo, Amiin
Angan2 ciek lai
Wassalam, dari "alhaqirwalfaqir" AnwarDjambak43-Pyk-KualalumpurHp +6017 66 313 77-Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone
-----Original Message-----
From: taufiq...@rantaunet.org
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Wed, 13 Jul 2011 06:07:49
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Harga di Jakarta makin mencekik, karena truk hanya boleh berkiprah di
jalanan 7 jam ditengah malam saja. Lainnya jalan adalah punya penguasa, yang
bermobil mewah hasil mengkoropsi uang rakyat.
Kini pasti harga kebutuhan harian di Ranah akan meningkat, karena satuan
biaya angkut akan meningkat, mungkin berlipat. Apakah salah jika:
Kebijaksanaan ini perlu dipertanyakan.
Anehnya, galeh ambo, nan indak perlu perbaikan jalan, kecuali pelabuhan
tempat sandar, kok kurang diminati oleh pelaku ekonomi. Lebih senang
mengirim barang dari Sumbar ke Jawa pakai truk, yang pasti merusak jalan,
paling tidak mengurangi umur pakai jalan.
Salam
Patiah nan sadang binguang
Betul Om Darwin, tapi kebijakan yang kelihatan mendadak ini akan mengagetkan dan mengacaukan sistim penopang ekonomi. Baa indak dari dulu, atau sosialisasikan dulu kebijakan nantun agak 3-6 bulan baru diberlakukan.
Salam
Patiah
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Darwin Chalidi
Sent: Wednesday, July 13, 2011 7:35 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] RE: Tonase Truk di Sumbar