Gulai Tunjang, Man!

3 views
Skip to first unread message

Darwin Bahar

unread,
Sep 18, 2007, 10:35:32 PM9/18/07
to rant...@googlegroups.com
Ketika menjadi tuan rumah pertemuan Bakti Sosial Apakabar (BSA) di RM
Natrabu dan RM Garuda di jalan Sabang beberapa bulan lalu, Pak Hasan
Zen Mahmud mungkin "tercengang" dan membatin, si uda ini kok masih
saja "berani" menyambar gulai tunjang dan gajeboh.

Saya mah, gula darah gak masalah, tensi terkendali, kolesterol? saya
berpolitik burung onta saja. Filosofinya, seperti kebanyakan orang
Minang generasi saya saya kira, makan gulai tunjang mati, gak makan
mati, ya makan saja :D.

Masakan Minang di RM Natrabu dan RM Garuda memang khas dan enak.
Tetapi perkara gulai tunjang, kedua RM itu masih kalah dari RM Sinar
Minang di Pasar Aceh, Banda Aceh. Tunjang sapi, yang diambil hanya
dari pergelangan kaki ke bawah, disangai dulu di atas api baru digulai
di atas kayu api, sehingga agak kehitam-hitaman, legit dan empuk. Saya
pikir begitu warung-warung nasi Kapau tempo dulu memasak gulai
tunjang. Warung Nasi Kapau Uni Lis di Pasar Ateh Bukit Tinggi pun
tidak seperti itu gulai tunjangnya.

Setiap hari libur sebelum Ramadan, saya hampir selalu makan siang di
sana, setelah shalat Zuhur dulu di Masjid Raya Baiturrakhman. Nasi
tambuah, gulai tunjang satu potong besar (sepiring hanya muat sepotong
karena tulangnya tidak dibuang), ekstra sepiring cabe dendeng dan
bumbu rendang campur kacang polong digabung jadi satu, teh manis
hangat, Alhamdulillah hanya 13 rebu. Kalau saya selesai makan dan
bangkit hendak pulang, pelayan perempuannya yang saya tahu dia bukan
orang Minang bilang sama saya dengan lembut: "Hati-hati ya kek" :D.
Ketika saya tanyakan kepada sang pemilik yang sudah mulai hapal wajah
saya, apakah Sinar Minang buka di malam hari selama Ramadan, dijawab iya.

Sejak hari pertama Ramadan sampai dengan Sabtu kemarin saya selalu
berbuka puasa di Kafe Masakan Aceh di samping kantor. Setelah shalat
Magrib dan adakalanya Isya dulu baru pulang ke tempat kos. Nah, hari
Minggu kemarin, saya ingin agak memanjakan seleralah. Rencana pun
disusun. shalat Magrib dulu di Baiturrakhman, setelah itu berbuka
puasa di Sinar Minang, dengan gulai tunjang tentu, dan sesudah itu
mencari jajanan khas Aceh.

Karena tenggat pekerjaan sangat ketat, saya tetap bekerja di kosan,
capek rebahan sebentar. Sebentar-sebentar melihat jam tangan. Ya Haji
Darwin hari itu berpuasa kayak cucu-cucunya di Depok :D. Gulai
tunjang, man!

Ketika rebah-rebahan sehabis shalat asar saya tertidur, dan ketika
ponsel saya memekik-mekik pas jam 6, saya segera bebersih dan
berwuduk, lalu berangkat ke Masjid Baiturrahman dengan mengantongi
aqua gelas dan beberapa buah biskuit di saku baju koko saya. Saya
sebenarnya lebih suka membatalkan puasa dengan kurma. Selain mengikuti
sunah Rasulullah, saya juga pernah membaca artikel bahwa selain manis,
kurma juga sangat kaya nutrisi. Tetapi kurma tanpa biji yang saya beli
di supermarket saya taruh di laci meja saya kantor.

Saya tiba di Masjid sekitar 15 menit menjelang magrib. Jemaah masih
sedikit. Mungkin orang-orang Aceh lebih suka berbuka puasa di rumah.
Di Jakarta, termasuk di Istiqlal jemaah shalat magrib selama Ramadan
biasanya penuh. Mungkin juga karena selama Ramadan pengurus masjid
menyediakan penganan dan air untuk berbuka puasa sumbangan para
dermawan. Tidak perduli Anda berpuasa hari itu atau tidak, sehari-hari
menjalankan shalat lima waktu atau tidak, berada di sana waktu magrib
pasti kebagian jatah.

Singkat cerita, selesai shalat dan membaca wirid singkat, dengan sigap
saya bangun dan berjalan dengan mantap keluar Masjid. Tetapi ketika
keluar dari puntu gerbang masjid yang kearah Pasar`Aceh, saya
"terkejut setengah mati", loh kok gelap dan sepi? Tidak kecuali di
sebuah jalan yang di hari-hari biasa berderet warung nasi masakan Aceh
juga gelap dan sepi. Firasat saya mulai kurang enak. Belum kehilangan
harapan, saya mendudu ke RM Sinar Minang. Ondeh mandee, memang terang
sih, tetapi etalasenya masih kosong blong! Masak sich si uda pemilik
RM yang sudah mulai hapal wajah saya itu bohong?

Dengan kuncun saya balik arah. Apa hendak dikata, tidak akar rotanpun
jadi. Sayapun masuk sebuah warung nasi Aceh, dengan harapan sehabis
makan dapat menikmati secangkir kopi Aceh campur susu kental yang
sangat saya sukai itu. Tetapi begitu saya temukan beberapa pengunjung
klepas-klepos dengan asap rokoknya, saya mundur teratur saja.
Akhirnya, Alhamdulillah, saya berbuka puasa di warung nasi gerobak di
emper toko.

Selesai makan dan beristirahat sebentar di sana, saya mendengar Azan
Isya dikumandangkan di Baiturrahman. Olala, baru saya sadar, Pasar
Aceh baru hidup setelah shalat taraweh di Baiturrahman selesai. Ini
Aceh bung! Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.

Kecewa?, seketika ya, tetapi semua itu akhirnya saya syukuri karena
semakin menyadarkan saya, bahwa saya, bahwa manusia, selalu memiliki
kekurangan-kekurangan, kekonyolan-kekonyolan, dan
keterbatasan-keterbatasan.

Tidak semua keinginan bisa terlaksana walaupun punya uang, bahkan
hanya untuk menyantap sepotong gulai tunjang.

Sebuah pelajaran berharga untuk saya Ramadan tahun ini..

Masih pengin gulai tunjang di RM Sinar Minang? Tentu saja.

Mungkin nanti setelah saya kembali dari cuti lebaran.

Kalau umur panjang, Insya Allah.

Wassalam, H. Darwin Bahar St Bandaro Kayo (64 tahun)


Ichwan Depok

unread,
Sep 18, 2007, 11:21:04 PM9/18/07
to Rant...@googlegroups.com

--- Darwin Bahar <dba...@indo.net.id> wrote:

>
> Nasi
> tambuah, gulai tunjang satu potong besar (sepiring
> hanya muat sepotong
> karena tulangnya tidak dibuang), ekstra sepiring
> cabe dendeng dan
> bumbu rendang campur kacang polong digabung jadi
> satu, teh manis
> hangat, Alhamdulillah hanya 13 rebu.

Kok di RM Garuda, makan jo menu saroman tu kiro-kiro
bara kanai ?


SOL



____________________________________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow

Nofend St. Mudo

unread,
Sep 19, 2007, 2:29:00 AM9/19/07
to Rant...@googlegroups.com
Yang pasti, makan dengan menu saroman, baik di RM Sinar Minang maupun
di RM Garuda, masih belum apa-apa dibandingkan dengan RM Istana, Banda
Aceh juga yang bisa mencapai 50rb + Ikan Bili kariang.

Kehidupan di banda aceh (saat ini) jauh lebih mahal dari hidup di Jkt,
dalam hal yang sama, namun sekarang, perlahan mulai turun. Tapi
entahlah.. seperti apa.
Yang pasti, inflasi masih tinggi disini.

untuk perbandingan :
- rumah, sebelum tsunami 3jtaan, setelah stunami bisa 100jtaan
- harga2, rata sekarang masih 100% diatas sebelum musibah.
- tapi walaupun begitu, masyarakat juga mulai semakin makmur, yang
dulu dalam suatu gampong gak dilewati motor (disamping takut dan tdk
aman), sekaran di setiap rumah, sudah parkir motor 2 rata2.

Apalagi dengan mobil2 yang berseliweran, mayoritas Innova dan double
kabin, apalagi sedan2 dari sabang yang wah wah..

begitulah sedikit tambahan cerita dari ujung sumatra ini.

Pada tanggal 19/09/07, Ichwan Depok <ichwa...@yahoo.com.sg> menulis:

Rehza

unread,
Sep 21, 2007, 2:46:36 AM9/21/07
to rant...@googlegroups.com
nofen yg bener aja dong. kalo biaya hdp di banda aceh lebih mahal dari
jakarta, maka kemungkinan besar setenagh dari penduduk badan aceh itu
udah mati kelaparan.

nulis kok ga dipikirin dulu. kalo cuma sekedar membanding harga ikan
tongkol di banda aceh dan di jkt, tentu belumlah bisa dijadikan
landasan utk menyatakan dimana hdp yg lebih mahal.

nofen.. nofen...

--- In Rant...@yahoogroups.com, "Nofend St. Mudo" <nofend@...> wrote:
>
>
> Yang pasti, makan dengan menu saroman, baik di RM Sinar Minang maupun
> di RM Garuda, masih belum apa-apa dibandingkan dengan RM Istana, Banda
> Aceh juga yang bisa mencapai 50rb + Ikan Bili kariang.
>
> Kehidupan di banda aceh (saat ini) jauh lebih mahal dari hidup di Jkt,
> dalam hal yang sama, namun sekarang, perlahan mulai turun. Tapi
> entahlah.. seperti apa.
> Yang pasti, inflasi masih tinggi disini.
>
> untuk perbandingan :
> - rumah, sebelum tsunami 3jtaan, setelah stunami bisa 100jtaan
> - harga2, rata sekarang masih 100% diatas sebelum musibah.
> - tapi walaupun begitu, masyarakat juga mulai semakin makmur, yang
> dulu dalam suatu gampong gak dilewati motor (disamping takut dan tdk
> aman), sekaran di setiap rumah, sudah parkir motor 2 rata2.
>
> Apalagi dengan mobil2 yang berseliweran, mayoritas Innova dan double
> kabin, apalagi sedan2 dari sabang yang wah wah..
>
> begitulah sedikit tambahan cerita dari ujung sumatra ini.
>

> Pada tanggal 19/09/07, Ichwan Depok <ichwandepok@...> menulis:


> >
> > --- Darwin Bahar <dbahar@...> wrote:
> >
> > > hangat, Alhamdulillah hanya 13 rebu.
> >
> > Kok di RM Garuda, makan jo menu saroman tu kiro-kiro
> > bara kanai ?
> >
> >
> > SOL
>

> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
> ===============================================================
> Website: http://www.rantaunet.org


Nurman Zahri

unread,
Sep 21, 2007, 4:07:22 AM9/21/07
to Rant...@googlegroups.com
Ma'af yo...
sato ambo saketek ...
Manuruik kawan - kawan ambo nan urang aceh..
kehidupan di Banda Aceh pasca Tsunami, memang sungguh sulit
harga sembako bisa dua atau tiga kali lipat dari harga biasa..
Tapi kabar nya sekarang sudah ber angsur baik..
 
sekian tambahan dari ambo
 
Wassalam
 
Nurman ( 52+7+20)
 
Batam


 

Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

RaNK MaRoLa

unread,
Sep 21, 2007, 5:15:47 AM9/21/07
to Rant...@googlegroups.com

Tapi kenyataanya tidak kan Oom, tidak ada yang mati kelaparan, dan memang sih, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin apalagi.

 

Caliak lah kasiko om, cubo manyewa rumah agak sataun, sebagai perbandingan bagi kami nan awam ko, yo dari harago tuak maisi paruiknyo.

 

Waahh... Om, mamanciang2 mah, brb wak, ndak sato lai.

 

Pada tanggal 21/09/07, Rehza <zene...@yahoo.com> menulis:

>

> nofen yg bener aja dong. kalo biaya hdp di banda aceh lebih mahal dari

> jakarta, maka kemungkinan besar setenagh dari penduduk badan aceh itu

> udah mati kelaparan.


 
----- Original Message ----
From: Rehza <zene...@yahoo.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Friday, September 21, 2007 1:46:36 PM
Subject: [R@ntau-Net] Gulai Tunjang, Man!

nofen yg bener aja dong. kalo biaya hdp di banda aceh lebih mahal dari
jakarta, maka kemungkinan besar setenagh dari penduduk badan aceh itu
udah mati kelaparan.


Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Try it now.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages