HariKemerdekaan Malaysia, juga dikenali sebagai Hari Kebangsaan atau Hari Merdeka, disambut di seluruh Malaysia pada setiap 31 Ogos setiap tahun bagi menandakan negara bebas daripada belenggu penjajahan sejak 1782 sehingga tahun 1957. Hari kebangsaan merupakan peristiwa utama dan disambut secara besar-besaran dengan mengadakan perarakan warna warni, nyanyian, pertunjukan pentas, pertandingan dan pelbagai lagi pertunjukan yang diadakan di tempat-tempat yang ditetapkan setiap tahun.
Kemeriahan Hari Kebangsaan dapat dirasakan bermula menjelangnya pukul 12.00 malam di mana bunga api yang berwarna-warni bergemerlapan di udara. Begitu juga acara perbarisan yang diwakili oleh pelbagai agensi turut diadakan bagi memeriahkan lagi suasana hari tersebut. Hari kebangsaan disambut paling meriah di Kuala Lumpur terutama di Dataran Merdeka.
Sambutan hari kebangsaan secara besar-besaran juga dibuat di Putrajaya. Bangunan- bangunan perniagaan, rumah kediaman dan kereta-kereta akan memasang dan mengibarkan bendera Malaysia, Jalur Gemilang, dan ini menyemarakkan lagi suasana perayaan. Hari kebangsaan merupakan hari cuti umum di Malaysia.
Penubuhan Malaysia terdiri daripada Persekutuan Tanah Melayu, Borneo Utara/Sabah, Sarawak dan Singapura dijadualkan diisytiharkan secara rasmi pada 31 Ogos 1963, bersamaan ulang tahun ke-6 kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu. Beberapa isu berkaitan dengan bantahan Indonesia dan Filipina memperlambatkan pengisytiharan hingga ke 16 September tahun yang sama. Penangguhan itu juga dibuat bagi membolehkan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu membuat tinjauan umum di Borneo Utara dan Sarawak.[1] Bagaimanapun, Borneo Utara dan Singapura masih lagi mendapat kemerdekaan daripada British pada 16 September 1963. Sarawak telah merdeka sebulan lebih awal pada 22 Julai 1963.
Pembentukan Malaysia kemudian diisytiharkan pada 16 September 1963, dan disambut sebagai Hari Malaysia. Sambutan kemerdekaan besar-besaran tetap diadakan pada 31 Ogos, tarikh asal kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu, manakala Hari Malaysia cuma menjadi cuti umum di Sabah. Bagaimanapun, mulai 2000-an terdapat sedikit ketidakpuasan hati di Malaysia Timur yang mendakwa sambutan hari kebangsaan pada 31 Ogos terlalu bertumpuan Semenanjung Malaysia.[2][3] Pada 2009, kerajaan memutuskan bahawa bermula 2010, Hari Malaysia 16 September disambut sebagai cuti umum persekutuan bersama-sama dengan Hari Merdeka pada 31 Ogos.[4] Manakala bermula 2015, Menteri Ahmad Shabery Cheek menyatakan sambutan hari kemerdekaan mungkin disambut tanpa menyebut bilangan tahun agar tidak meminggirkan penduduk Sabah dan Sarawak.[5]
Harapan itu hanya bisa dicapai dengan kerja. Hanya melalui kerja sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Kerja disini haruslah dengan keinsyafan akan kekuatan dari Persatuan Indonesia. Kerja yang dilakukan dengan gotong royong. Ini bukan semata urusan rakyat, tapi para pemimpin-pun harus memberi contoh bergotong royong dalam kerja.
Gotong-royong dalam kerja menjadi jiwa gerakan perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka, yang dicanangkantepat di Nol Kilometer Indonesia di Kota Sabang ini, Presiden Joko Widodo bertekadmenjadikannya sebagai titik tolak mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesiadengan gotong royong.
Presiden Joko Widodo ingin menggunakan momentumperayaan 70 tahun Indonesia merdeka untuk memperbarui tekad dalammewujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan dari segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Ayo kerja bukanlah slogan semata melainkan sebuah pergerakan. Presiden Joko Widodo memiliki keyakinan pergerakan yang ingin dibangun adalah menjebol mentalitas bangsa yang berada dalam keterjajahan, ketertindasan, ketidakadilan, ketidak merdekaan serta membangun mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka 100 persen. Itulah makna mendasar dari revolusi mental.
Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki kurang lebih 16.000 pulau dan terkenal akan kekayaan keanekaragaman hayati laut (8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang).
Publikasi PDB Maritim Indonesia 2010-2016 yang dikeluarkan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa kontribusi sektor kelautan di Indonesia terhadap ekonomi bangsa masih jauh dari harapan, yaitu hanya sekitar 6% dari Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2018.
Namun secara perlahan, hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki rencana pengelolaan kawasan laut mereka (tata ruang laut) atau nama resminya, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3) sejak tahun 2014.
Awalnya, proses penetapan kawasan konservasi laut di Indonesia dianggap hanya mengeluarkan biaya tanpa ada pemasukan. Namun, pengelolaan kawasan konservasi laut ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Sayangnya, potensi ini sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan, karena belum adanya kemauan politik yang kuat, baik pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya, terkait pengembangan sumber daya energi ini.
Pariwisata bahari merupakan kegiatan yang melibatkan pengetahuan interdisiplin seperti pariwisata, ilmu kelautan, geografi, ilmu sosial, psikologi, ilmu lingkungan, ekonomi, pemasaran dengan berbagai isu manajemen laut.
Contohnya, wisata menyelam di desa Tulamben, kabupaten Karangasem, Bali, untuk melihat kerangka kapal USAT Liberty, sebuah kapal kargo milik Amerika Serikat yang tenggelam saat Perang Dunia II, tahun 1942.
Untuk mengoptimalkan potensi dan kesempatan sektor kelautan di atas, pemerintah perlu membangun infastruktur laut dan mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dengan tanpa lupa menjamin perlindungan terhadap keanekaragaman hayati kelautan.
Pengelolaan kawasan laut Indonesia pada dasarnya dapat dioptimalkan dengan menggunakan kerangka ekonomi biru (blue economy), sebuah konsep tata kelola laut secara berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.
Berbagai praktik pengelolaan ekonomi biru, seperti ekowisata, pembayaran jasa lingkungan, penghijauan pesisir dengan menanam mangrove, inovasi produk-produk kelautan skala kecil yang ramah lingkungan, sudah dilakukan di perairan Indonesia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menginisiasi pelaksanaan program ekonomi biru, seperti program pembangunan pedesaan di Nusa Tenggara Timur dengan mengembangkan 3 komoditas yaitu jagung, ternak dan rumput laut. Selain itu, ada program lahan gambut di Kalimantan yang merupakan kerja sama dengan Norwegian REDD+ dan memasukkan program budidaya perikanan.
Dari segi investasi, sektor kelautan perlu menerapkan sistem yang menguntungkan tanpa merusak lingkungan dengan memadukan modal swasta (filantropi atau hibah), publik, dan pemerintah (subsidi) untuk mendanai proyek pemulihan ekosistem pesisir laut secara berkelanjutan
Daerah timur Indonesia juga membutuhkan perhatian lebih karena menyumbang hampir 40% dari total hasil ikan laut di Indonesia, meskipun aktivitas ekonomi di sana hanya bernilai kurang dari 9% dari total aktivitas ekonomi nasional.
Menurut Muhadjir, masih banyak pekerjaan rumah di 76 tahun usia kemerdekaan Republik Indonesia. Kata dia, selaim masalah pandemi Covid-19, masih banyak Rakyat Indonesia yang belum merdeka secara substansi, khususnya dalam segi penghasilannya dan kesejahteraannya.
Dalam peringatan HUT RI ke-76, pakaian adat Indonesia menjadi seragam upacara. Jajaran pejabat pemerintahan yang mengikuti upacara dari kantor maupun kediaman masing-masing mengenakan pakaian adat dengan ragam variasi.
Termasuk Menko PMK Muhadjir Effendy, dia mengenakan pakaian adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Diakui Muhadjir, baju berwarna biru itu merupakan pemberian dari pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan saat melakukan kunjungan ke sana.
Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo mengenakan pakaian adat Lampung didampingi Ibu Negara Iriana. Begitu pula Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Ketua MPR Bambang Soesatyo, dan Ketua DPR RI Puan Maharani yang juga mengenakan pakaian adat saat mengikuti upacara dari Istana Negara Kepresidenan, Jakarta.
ABSTRAK
Pada tahun 2007, Malaysia meraikan ulangtahun 50 tahun kemerdekaan. Sepanjang 50 tahun, banyak perubahan yang telah berlaku dalam sistem politik, ekonomi dan sosial negara. Barisan kepimpinan negara memastikan bahawa negara akan terus membangun sejajar dengan perubahan di peringkat global dan keupayaan untuk mentadbir dengan sendiri tanpa bergantung kepada pihak penjajah menunjukkan bahawa pentadbiran negara mengutamakan kebajikan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Oleh yang demikian, artikel ini cuba mengupas pencapaian pembangunan sosial yang telah dinikmati sepanjang 50 tahun yang lalu. Ini termasuklah dalam sektor pendidikan, wanita, pekerjaan, kesihatan dan kemiskinan. Kesemua sektor ini merupakan antara agenda sosial yang mendominasi pembangunan sosial yang turut mempengaruhi persekitaran dan kualiti kehidupan masyarakat negara ini. Proses pembangunan sosial dianggap penting supaya aktiviti pembangunan ekonomi dan proses modenisasi tidak memberi kesan sampingan ke atas kesejahteraan masyarakat. Artikel ini juga memberi tumpuan ke atas faktor yang menyumbang kepada pencapaian pembangunan sosial di negara ini dan memberi cadangan bagaimana penambahbaikan boleh dilakukan untuk pencapaian yang lebih baik pada masa yang akan datang.
Hari kemerdekaan nasional merupakan sebuah peristiwa tahunan yang dirayakan guna memperingati kemerdekaan suatu bangsa menjadi sebuah negara berdaulat, biasanya setelah pecah dari suatu bangsa atau negara; atau juga selesainya pendudukan militer. Sebagian besar negara-negara menjadikan hari kemerdekaan mereka sebagai hari raya nasional, dan dalam beberapa kasus terdapat pula kontroversi atau keberatan mengenai penetapan tanggal tersebut.
Hal tersebut dikatakan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto dalam sambutannya, yang disampaikan Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (Irjen Kemhan) Letjen TNI Budi Prijono saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan Rl kepada para Pati dan seluruh pegawai Kemhan, Kamis (17/8), di Lapangan Bela Negara Kemhan, Jakarta.
3a8082e126