'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh...
:) sip-sip..... terimakasih masukannya mba'
Cahya :) :) :) ...
akhirnya publikasi terakhir sperti itu yang di publish, berharap dari teman-teman
kabid tergerak untuk proaktif untuk mengajak staf2 di mabit ini.
perihal kata-kata itu, itu berasal dari Sahabat, Muadz bin Jabbal ..
اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً
“Duduklah bersama kami, mari kita beriman sejenak saja.”
pengistilahan "sejenak" dimaksudkan meluangkan waktu secara khusus untuk mengingat-Nya, me re-charge keimanan.
.......... ada sebuah artikel yang dari sana kukutip kata2 nya ..... berikut artikelnya,
mudah-mudahan bisa disimak.
______
Saudaraku, Mari Sejenak Kita Beriman
Saudaraku, melihat wajahmu saja, hati ini kembali bergemuruh…
Iman terasa memasuki rongga-rongga tak terlihat…
Bukankah kalian adalah cermin bagi diri…
Wahai saudaraku, mari sejenak kita beriman…
dakwatuna.com - Semoga ada wajah-wajah yang tak
pernah mengeluh. Mengeluh akan amanah. Mengeluh akan sebuah kesibukan.
Masih banyak kewajiban yang harus segera ditunaikan. Jatah waktu yang
terus berkurang. Amanah akan terasa sebagai beban. Bukankah dakwah tak
membutuhkan kita, kita lah yang membutuhkan dakwah.
Dakwah ibarat kereta
yang akan meninggalkan stasiun-stasiun. Kereta yang terdiri dari
berbagai gerbong. Kereta itu akan tetap melaju meski tanpa gerbong.
Kekuatan seorang muslim ada pada malam sebagai waktu terbaik
pengaduan. Air mata muhasabah membasahi seluruh permukaan wajah. Hanya
Allah tempat terbaik untuk mencurahkan. Apapun yang akan terjadi.
Ingatlah bahwa ketika kau tidak mempunyai siapa-siapa selain Allah.
Allah itu lebih dari cukup bagi seorang muslim.
Semoga persaudaraan kita tak dapat diukur oleh harta. Tak dapat
diukur oleh perhiasan ataupun kekayaan lainnya. Semua itu bersifat
sementara. Namun, keberadaan seorang saudara yang shalih jauh lebih
bernilai untuk terus meluruskan niat. Untuk terus menempa diri menjadi
lebih baik. Sungguh tak ada yang dapat menggantikan posisi ataupun
kedudukan seorang saudara di hati seorang muslim.
Semoga ada wajah-wajah yang tak pernah mengajak kita untuk
menggunjing, memfitnah, dan sibuk dengan aib orang lain, namun lalai
akan kekurangan dirinya sendiri. Semoga kebersamaan dengan saudara kita
bukan sebagi penambah dosa kita, namun sebagai pemberat amalan kita.
Semoga selalu ada saudara seperti Abu Bakar yang membenarkan dan
senantiasa menjaga kepercayaan saudaranya yang telah dibangun sejak
lama. Semoga selalu ada saudara seperti Umar Al-Faruq yang selalu
hati-hati mengingatkan kita, bersama menegakkan kebenaran dan melawan
kebathilan. Bukankah amalan jamaah lebih baik dan terasa ringan
dibanding amalan munfarid? Semoga selalu ada saudara seperti Utsman,
dengan kelembutannya banyak orang lain turut mencintainya, membangun
bersama citra positif Islam. Sebab saudara ibarat lem perekat dalam
perjuangan meniti jalan.
Kita rindu bersua dengan wajah-wajah ini dalam perjalanan. Keberadaan
saudara yang saling menguatkan, bukan malah melemahkan. Nasihat bijak
sebagai teguran. Bukan teguran di depan umum yang diharapkan namun
kelembutan hati nan ketulusan.
Inilah dia wajah-wajah keimanan. Yang digambarkan Rasulullah yang
satu menjadi cermin yang lain. Ada inspirasi saat memandangnya. Ada ide
cemerlang dan energi isi ulang melihat keteduhannya. Ada muhasabah diri
saat berada di dekatnya. Subhanallah, betapa kita merindukan wajah-wajah
seperti itu. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah saudara kita di jalan
Allah.
Kita rindu wajah Ash-Siddiq Abu Bakar yang membuat kita tak lagi
merasa ragu dan bimbang. Kita rindu wajah Al-Faruq untuk membuang segala
perasaan takut (pengecut) kita. Kita rindu wajah Utsman yang selalu
pemalu dalam bersikap. Kita rindu wajah Ali yang selalu bersahaja dalam
berbuat.
Wajah-wajah saudara kita di jalan Allah menjadi warna tersendiri
dalam menghiasi perjuangan kita. Kita tak sendiri, selalu ada mereka
yang menguatkan, selalu ada nasihat bijak yang disampaikan, selalu ada
salam yang menentramkan.
“Itulah yang diperbuat Keimanan…
Membuka mata dan hati…
Menumbuhkan kepekaan…
Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan…
Iman adalah persepsi baru terhadap alam…
Apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
Sepanjang malam dan siang…
(Sayyid Quthb)
Saudaraku, mari sejenak kita beriman…
Assalamu'alaikum..
Maaf Mbak...memang bagusnya sih pendaftaran lewat Kabid masing2 biar Kabid bisa memantau jg jumlah anggotanya yg ikut, tp mengingat waktu yg sudah mepet apa
masih sempat ya?
Terus di situ ada kata2 yg menurut saya agak kurang sreg "mari kita
sejenak beriman", masak berimannya cuma sejenak.. begitu sj sih, Mbak..secara keseluruhan desainnya sdh manis

. Terima kasih Mbak Chai & teman2 lain..
Wassalamu'alaikum...
Cahyani