Papuk
unread,Jan 30, 2009, 1:08:24 PM1/30/09Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to Blogger Yayasan Lembak
FORT MARLBOROUGH :quo vadis
Benteng peninggalan Inggris yang mulai dibangun tahun 1714 dan selesai
tahun 1719 (Marsden, 1966:452), kini telah berusia 289 tahun (hampir
tiga abad). Secara fisik, kondisi benteng yang pernah direnovasi tahun
1979-1984), kini masih cukup kuat dan kokoh, bahkan mungkin tahan
banting untuk beberapa generasi ke depan.
Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana memanfaatkan warisan budaya
yang beraset internasional ini, tidak sekedar sebagai sumber daya
tarik wisata, tetapi juga menjadi sumber pengkajian ilmu pengetahuan
tentang masa lampau, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan
keberadaan Benteng Marlborough. Bahkan kontribusi yang kedua ini
lebih penting dan strategis bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Dengan kata lain, pengkajian dari berbagai cabang ilmu pengetahuan
maupun teknologi dapat memanfaatkan eksistensi Benteng Marlborough
sesuai dengan obyek kajiannya. Misal saja, bentuk, tata letak, serta
komponen-komponen dari bangunan benteng ini dapat dijadikan sebagai
comparative study bagi kajian ilmu dan konstruktur tentang berbagai
macam bentuk bangungan. Atau bisa juga, dipakai sebagai studi banding
dalam kajian ilmu ekonomi dan manajemen – setidaknya dalam aspek
kesejarahan (sejarah perkembangan ekonomi), maupun kajian ilmu
politik. Sebab, bagaimanapun juga secara historis, benteng Marlborough
punya multifungsi, baik sebagai pusat pertahanan, pusat pemerintahan,
maupun pusat kegiatan ekonomi, dan sekaligus sebagai pusat sosio-
kultural – tempatnya berinteraksinya suku-suku/bangsa.
Oleh sebab itu, sebaiknya Fort Marlborough tidak saja dijadikan
sebagai obyek wisata an-sich, tetapi juga obyek studi sejarah - obyek
studi wisata sejarah. Sebagai obyek kajian sejarah, Fort Marlborough
berpotensi sebagai sentralnya berbagai bidang kajian sejarah seperti
sejarah Politik, eknomi, sosial, maupun budaya). Bahkan cukup menarik
dalam studi sejarah kota Bengkulu, sebab berdirinya sebuah benteng
merupakan salah satu ciri dari sebuah kota lama (Max Weber, dalam
Sartono, 1977: 11-39).
Alternatif pemanfaat dan pelestarian Fort Marlborough sebagai obyek
wisata sejarah tentu saja memerlukan sebuah “empowerment
strategy” (strategi pemberdayaan) yang tidak sekedar berorientasi pada
nilai excursie-zaken (bisnis wisata), tetapi juga wetenchappen-zaken
(bisnis ilmu pengetahuan).
Secara teoretis, strategi pemberdayaan merupakan konsep-konsep dasar
(basic concepts) yang berhubungan dengan sistem perencanaan (planning
system), sistem pelaksanaan (action system), sistem penilaian
(evaluation system), sistem perawatan dan pengawasan (monitoring and
maintenance system), dan juga sistem ramal (prediction system).
Sebagai obyek studi wisata sejarah, Benteng Marlborough harus tampil
beda dengan obyek-obyek wisata biasa lainnya. Konsekuensi logisnya,
benteng ini mesti didukung oleh berbagai sumber sejarah, baik yang
primer, sekunder, maupun tersier. Yang primer bisa berupa arsip
(dokumen, catatan harian), ataupun yang artefak (epigrafik,
numismatik, sfralgistik, sigilografik) yang berhubungan secara
langsung dengan zamannya. Sedangkan sumber-sumber yang sekunder,
meskipun tidak berhubungan secara langsung, tapi periodisasinya masih
terjangkau. Sumber-sumber sekunder ini biasanya berupa tulisan-tulisan
atau laporan-laporan yang sezaman. Sementara sumber tersiernya bisa
berupa buku-buku, majalah, maupun literatur-literatur ilmiah
(Garraghan, 1957:103-123).
Aplikasinya, perlu ruang khusus untuk penyimpanan barang-barang
bersejarah (semacam museum), dan juga ruang perpustakaan khusus.
Dengan kata lain, Benteng Marlborough berfungsi sebagai museum dan
perpustakaan khusus. Karenanya, diperlukan kerjasama dengan beberapa
instansi/lembaga terkait seperti pihak Museum Pusat maupun Wilayah,
Perpustakaan Nasional / Daerah, Arsip Nasional/ Daerah. Bahkan bisa
jadi bernegosiasi dengan pihak perpustakaan luar negeri (Leiden maupun
London).
Pengoperasionalisasian Fort Marlborough sebagai “museum dan
perpustakaan istimewa” ini, diharapkan tidak hanya sekedar sebagai
alternatif penyelamatan dan pelestarian, tetapi juga punya added
value. Bisa jadi sebagai central kajian sejarah budaya Bengkulu. Dan
jika dijadikan sebagai tempat studi wisata sejarah dan budaya lokal,
maka strategi pemberdayaannya perlu juga melibatkan peran serta dan
proaktif kaum pendidik (guru/dosen) melalui penerapan ajaran yang
bermuatan lokal di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Dan tidak
menutup kemungkinan, bisa saja ada kunjungan wisata dari luar daerah
yang memanfaatkan sebagai obyek kajian wisata sejarah.
wassalam,
(Agus Setiyanto)