Re: Novel Belenggu Karya Armijn Pane Pdf 536

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Christal Rasband

unread,
Jul 10, 2024, 6:45:27 AM7/10/24
to xidenone

Belenggu sering menggunakan tanda elipsis dan monolog untuk mencerminkan konflik batin tokoh masing-masing, sehingga kritikus sastra Indonesia berasal Belanda A. Teeuw menyatakan bahwa novel ini adalah "monolog interior bercabang tiga".[11] Berbeda dari karya-karya yang diterbitkan Balai Pustaka, yang merupakan penerbit milik negara Hindia Belanda, Belenggu tidak menjelaskan semua aspek cerita; hanya aspek kunci dikemukakan, dengan aspek lain diisi sendiri oelh pembaca. Ini membuat pembacaan menjadi lebih aktif.[12]

Menurut Yapi, judul Belenggu mencerminkan konflik batin yang dihadapi semua tokoh utama, sehingga mereka terbatas dalam perilaku mereka. Yapi menunjuk pada klimaks novel sebagai contoh baik akan keterbatasan itu.[14] Menurut Siregar, hal ini didukung oleh dialog antara Siregar antara Hartono dan Sukartono, di mana mereka beranggapan bahwa manusia selalu dibelenggu oleh kenangannya akan masa lalu.[15]

Novel Belenggu Karya Armijn Pane Pdf 536


DOWNLOAD https://gohhs.com/2yW9Ps



Ketika Belenggu diterbitkan, ada dua jenis reaksi utama. Orang-orang yang suka novel ini menyatakan bahwa Belenggu sangat berani, sebab dia mampu membahas tema yang berdasarkan kenyataan sosial.[22] Misalkan, jurnalis S. K. Trimurti menulis bahwa buku ini benar-benar mencerminkan permasalahan yang dihadapi orang Indonesia berpendidikan tinggi saat menghadapi kebudayaan tradisional.[23] Sementara, orang-orang yang tidak suka Belenggu meremehkannya sebagai novel yang "porno", sebab ada tekanan pada perilaku tabu seperti perselingkuhan dan prostitusi.[22] Menurut Teeuw, resepsi ini dipengaruhi oleh sifat pembaca Indonesia, yang terbiasa membaca karya sastra yang diidealkan, menjadi syok atas kenyataan yang dicerminkan dalam Belenggu.[24]

Kritik-kritik yang lebih mutakhir cendurung lebih positif. H.B. Jassin menulis pada tahun 1967 bahwa, biarpun tokoh-tokoh bertindak sebagai karikatur, Belenggu mampu membuat pembaca termenung atas kenyataan sosial modern.[25] Pada tahun 1969 novel ini diberi penghargaan dari pemerintah Indonesia;[26] pada tahun yang sama, penulis dan kritikus sastra Ajip Rosidi menulis bahwa buku ini lebih menarik daripada karya-karya sebelumnya karena penyelesaiannya bersifat multi-tafsir.[25]

Belenggu merupakan novel karya Armijn Pane yang dikenal sebagai karya pembaharu dari kalangan Angkatan Pujangga Baru. Novel ini mula pertama ditawarkan penulisnya kepada Balai Pustaka untuk diterbitkan. Namun, pihak redaktur penerbit tersebut menolak naskah novel itu karena dianggap tidak memenuhi kriteria buku yang "baik" menurut ukuran Balai Pustaka saat itu. Atas usaha Sutan Takdir Alisyahbana, novel itu diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam Pudjangga Baroe, Tahun VII, Nomor 10, 11, dan 12 (April, Mei, dan Juni 1940). Pada tahun itu juga novel itu diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Jakarta. Pada tahun 2000 diterbitkan cetakan ke-18 dan cetakan ke-21 terbit tahun 2009 oleh Penerbit Dian Rakyat. Pada bagian pengantar cetakan keempat, tahun 1954, pengarang novel ini menyatakan bahwa ketika dikirim ke Penerbit Pujangga Baru, novel ini diberi judul Pintu Kemana? Akan tetapi, setelah novel itu dicetak, judulnya diubah menjadi Belenggu. Armijn Pane menyatakan bahwa setelah novel ini terbit, ia lebih banyak dicacimaki daripada dipuji, baik secara langsung maupun melalui surat kabar.

Dalam majalah Indonesia, 24 Desember 1955 (tanpa penulis), dinyatakan bahwa salah satu novel sebelum perang yang menarik adalah novel Belenggu karya Armijn Pane. Novel tersebut banyak memunculkan permasalahan baru, seperti permasalahan marxisme dan pemikiran eksistensialisme. Kedua masalah itu menyebabkan tidak tampaknya suasana Indonesia di dalam novel tersebut. Lukisan alam dan watak seseorang tidak bersangkut-paut dengan dunia Indonesia. Namun, perlu diakui bahwa komposisi novel ini tergolong baru dalam kesusastraan Indonesia, sesuai dengan masyarakat modern yang dinamis, termasuk dalam bahasanya.

A. Teeuw (1967) menyatakan bahwa dengan novelnya itu Armijn Pane dapat dikatakan sebagai penghubung antara periode sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Bahasa yang digunakan dan tema yang dipilih menunjukkan adanya perbedaan dengan karya pengarang sezamannya, seperti karya Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah.

Novel ini menimbulkan pertentangan, khususnya isu sosial di kalangan pembaca karena isinya menceritakan pengalaman perkawinan seorang intelektual, yaitu dokter Sukartono. Gaya penuturannya lebih menyajikan monolog interior atau cakapan dalaman daripada perbuatan-perbuatan konkret para pelakunya. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1988, dinyatakan bahwa novel ini merupakan karya avant garde, yakni karya bercirikan metode yang menyimpang dari kelaziman pada zamannya dan menggunakan prinsip novel arus kesadaran yang berkembang di Indonesia setelah tahun 1970-an.

Penerbit novel ini mengulas bahwa semula novel ini ditolak oleh Balai Pustaka kemudian dicela dan dipuji. Akhirnya, novel ini dipandang sebagai salah satu karya sastra Indonesia modern yang perlu dibaca karena isinya mengandung impian, perasaan, dan kritik sosial yang tajam tentang situasi manusia Indonesia pada saat zaman pancaroba.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perwatakan tokoh Sukartono dalam novel Belenggu karya Armijn Pane. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan perwatakan tokoh Sukartono yang berhubungan dengan tiga aspek psikologi yaitu: (1) aspek id, (2) aspek ego, (3) aspek super ego. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat dan wacana yang berhubungan dengan perwatakan tokoh Sukartono. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Belenggu Karya Armijn Pane. Data penelitian ini dikumpulkan dengan empat tahap. Pertama, membaca dan memahami novel Belenggu. Kedua, menandai dan mencatat data yang berhubungan dengan perwatakan tokoh Sukartono dalam novel Belenggu. Ketiga, mengiventarisasikan data sesuai dengan format inventarisasi data sesuai dengan pengelompokan. Keempat, mengklasifikasikan data. Dilihat dari aspek id, ego, dan super ego sebagai berikut, pertama, aspek id yaiti terdapat ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Kedua, aspek ego terdapat perselingkuhan dengan sorayah. Ketiga. Aspek super ego yaitu perpisahan dengan istrinya

Alur yang digunakandalam novel BelenggukaryaArmijn Pane adalahalurmaju.Hal initergambardariawalceritayaitupernikahanantaraSukartonodanSumartini.Namunpernikahanmerekasangatlahjauhdarihal yang romantisdansalingmemiliki.Dalampernikahanmereka, TonodanTinimasihmerasaasingantarasatusama lain. Merekajugamerasakankejenuhandalambidukrumahtanggamereka.Pekerjaanjugamerupakansalahsatupendukungrenggangnyahubunganmerekaberdua.ApalagipekerjaanTono yang menjadidokterselalumengharuskannyaberada di luarrumahdalamwaktu yang tidakbisaditentukan.

Novel Belengguinibanyakmenggunakanbahasaserapan, berbedadengan novel-novel karyapujanggabarulainnya yang lebihmenonjolkanbahasaBelandaataukolonial.Novel inijugamenggunakanmajas simile ataupertautandenganmembandingkanduahalyang secarahakikiberbeda, tetapidianggapmengandungpandangan yang serupa, dinyatakansecaraeksplisitdengan kata sepertidanbagai.Serta, banyakmenggunakantandabacaelipsisatautitik-titikdanselalumenampilkan monolog sebagaikonflikantartokohdanbatintokohitusendiri.

Prof. Dr. Teeuw menyatakan bahwa Armin Pane adalah pelopor angkatan '45. Dr. H.B. Jassin menilai bahwa bentuk prosa dan puisi Armijn Pane memperlihatkan gaya Impresionist. Sedangkan sastra angkatan '45 banyak menunjukkan gaya Ekspresionist. Gaya Impresionist banyak ditemukan terutama dalam sajak-sajaknya seperti novel Belenggu yang menurut H. B. Yassin merupakan karya sastra modern Indonesia yang pertama menggambarkan kehidupan kaum intelektual sebelum zaman perang kemerdekaan.

Pada novelnya yang bertajuk Belenggu memperlihatkan gaya romantisme, membangkitkan suasana dan perasaan yang mengalun dan bergantian dalam ritme yang terpola dengan suasana lain yang sendu bahkan cenderung sedih. Karya-karya Armin Pane memperlihatkan banyak pengaruh Noto Soeroto, Rabindranath Tagore, Dan Krisnamurti. Warna dan ritme kesusastraan Belanda pada abad ke-19 juga banyak mempengaruhi karya-karyanya.

buat mas musthov makasih banget, ulasan anda tentang belenggu karya Amrijn Pane sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas yang berkaitan dengan Armijn Pane, selain itu ulasan anda menambah kekaguman saya pada dunia sastra indonesia,,,

aa06259810
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages