Israel Besar, Amerika Kecil
Jumat, 30 November 2007
Dua professor terkemuka membongkar praktek "Lobi Israel". Ternyata
rakyat Amerika amat dirugikan. Baca edisi khusus bagian pertama dari 3
tulisan
Oleh: Amran Nasution *
Hidayatullah.com--Penampilan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di
Auditorium Roone Arledge, Columbia University, New York, 24 September
2007, jelas memancing kemarahan kelompok Yahudi fanatik atau garis
keras. Ini bisa disebut sebuah kebobolan bagi Lobi Yahudi di Amerika
yang selama ini begitu perkasa.
Berbagai kelompok Lobi sudah mencoba menggagalkan forum di salah satu
kampus tertua di Amerika itu. The Jewish Defence Organization, salah
satu di antaranya, mengecam rencana itu, sembari menjuluki Ahmadinejad
sebagai Hitler dari Iran. Dewan Kota New York turut mengimbau
pembatalan acara. Juru Bicara Dewan Kota Christine Quinn berkata,
''Kedatangan Ahmadinejad ke kota ini hanya untuk satu keperluan:
menyebarkan kebencian di panggung dunia.''
Nyatanya, Ahmadinejad mendapat sambutan meriah. Itu luar biasa, bila
diingat New York adalah ''kota Yahudi'', sebab di kota inilah orang
Yahudi Amerika paling banyak tinggal. Ruang Auditorium penuh sesak 600-
an undangan. Di luar, di sebuah taman disediakan pesawat TV monitor
yang disesaki ratusan mahasiswa. Jawaban Ahmadinejad yang cerdas dan
tangkas dalam forum diskusi itu menyebabkan ia berkali-kali mendapat
tepukan dan applaus hadirin. Demonstrasi menentang acara itu oleh
ratusan mahasiswa yang mengusung bendera Israel ''Bintang David'' di
lingkungan kampus, seakan kehilangan makna.
Agaknya kini mulai banyak orang Amerika yang sadar bahwa mereka tak
bisa terus-menerus hanya mengurusi kepentingan orang Yahudi Amerika
yang hanya 3% dari populasi negeri itu. Tak sedikit orang Amerika
mulai bertanya secara terbuka, kenapa selama ini mereka terus-menerus
seperti orang kena tenung, mengikuti saja semua kemauan Israel.
Apalagi ternyata itu semua bukan karena alasan obyektif. Itu bukan
karena besarnya pengaruh Israel. Bukan pula karena strategisnya posisi
negeri itu di Timur Tengah. Semua berkat hasil kerja dari apa yang
dinamakan Lobi Israel di Amerika.
Awal September lalu, terbit sebuah buku yang membongkar seluk-beluk
Lobi Israel, ditulis dua akedemisi terkemuka, Profesor John
Mearsheimer dan Profesor Stephen Walt. Buku itu berjudul: The Israel
Lobby and U.S. Foreign Policy (Lobi Israel dan Kebijakan Luar Negeri
Amerika Serikat), 484 halaman, diterbitkan Farrar, Straus & Giroux.
Lobi Yahudi - atau disingkat Lobi -- memang sudah lama menjadi isu.
Tapi tampaknya baru kali ini soal yang amat peka itu ditulis dalam
sebuah buku yang utuh oleh dua profesor terkemuka pula. Maka
kontroversi yang seru tak terhindarkan.
Serangan terhadap buku dan penulisnya meledak: mulai dari tuduhan anti-
semit, ilmuwan gampangan, sampai bermacam boikot. Acara peluncuran
buku yang sudah direncanakan di enam tempat di berbagai kota Amerika,
awal September lalu, tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas.
Tapi semakin kuat tekanan kepada kedua penulis, semakin meyakinkan
pula kebenaran yang mereka tulis. Apalagi sejauh ini tak ada satu pun
bantahan yang kuat, yang menyangkut substantif.
Meski pun koran arus utama seperti the Washington Post dan the New
York Times tampak memberi kesempatan luas kepada para penyerang. Yang
muncul lebih banyak caci-maki dan sumpah-serapah. Itu terutama datang
dari orang-orang Yahudi fanatik, kelompok Neocon, dan para
pendukungnya.
Contohnya, serangan kasar dari Alan Morton Dershowitz dari Harvard Law
School. Keturunan Yahudi yang menjadi Profesor termuda dalam sejarah
Harvard ini bilang, buku itu banyak mengutip referensi dari situs
teroris di internet. Jelas tuduhan itu ngawur dan emosional. Sebab
semua referensi tercantum di dalam buku, bisa dicek oleh siapa saja.
''Tak ada satu pun dari situs teroris. Semua jelas,'' kata Stephen
Walt.
Memata-matai Amerika
Penulis buku ini bukan ilmuwan kacangan. Profesor John Mearsheimer,
adalah ahli ilmu politik internasional dari University of Chicago, dan
temannya, Profesor Stephen Walt, ahli hubungan internasional dari
Kennedy School of Government, Harvard University. Keduanya sudah
menulis banyak buku, dan mengantongi sejumlah penghargaan ilmiah.
Mearsheimer, 60 tahun, meraih Ph D dari Cornell University, dikenal
luas karena teori relasi internasional yang dikembangkannya, antara
lain, melalui bukunya, The Tragedy of Great Power Politics. Stephen
Walt, 52 tahun, memperoleh Ph D dari University of California,
Berkeley, mengembangkan teori keseimbangan ancaman (balance of threat
theory).
Sebetulnya, buku ini adalah pengembangan -- elaborasi dan up-dating --
dari esei berjudul The Israel Lobby, yang ditulis keduanya dan
dipublikasikan London Review of Books, Maret 2006. Angle esei dan buku
masih sama, mempertanyakan kenapa Amerika Serikat begitu menganak-
emaskan Israel, dengan risiko merugikan kepentingan 300 juta rakyatnya
sendiri.
Duit habis, nama rusak, wibawa jatuh, pengaruh menurun, malah tak
sedikit pemuda Amerika yang tewas di medan perang Iraq, semata-mata
demi kepentingan Israel, bukan Amerika. Presiden Bush menjadi manusia
paling dibenci di muka bumi. Kemana saja ia pergi selalu disambut
ribuan demonstran, termasuk ke Inggris, sekutu terdekatnya.
Israel sebagai klien tak pula loyal pada sang patron. Sejumlah bukti
yang diajukan kedua Profesor itu menunjukkan Israel sering bertindak
semau gue, berlawanan dengan kemauan Pemerintah Amerika. Malah ia
berani mematai-matai kekuatan militer atau kecanggihan teknologi
negeri super power itu. Amerika tak bisa berbuat apa-apa. Ajaib.
Dimulai dari bantuan luar negeri. Sejak Perang Oktober 1973,
Washington sudah memberi bantuan langsung ekonomi dan militer kepada
Israel sebesar 140 milyar dollar. Ini bukan jumlah uang sedikit. Tak
satu pun negara lain yang pernah menerima bantuan sebesar itu, tidak
juga sekutu Eropanya. Sejak 1976 sampai sekarang, setiap tahun Amerika
memberi Israel bantuan langsung 3 milyar dollar, seperenam dari budjet
bantuan luar negerinya. Bantuan terus diberikan walau Israel sudah
menjadi negara industri dengan income per capita lebih-kurang sama
dengan Spanyol atau Korea Selatan.
Untuk mengembangkan sistem persenjataan Israel, Amerika membantu lagi
3 milyar dollar. Israel diberi akses informasi ke sejumlah peralatan
canggih seperti heli tempur Blackhawk dan jet F-16. Begitu pula akses
intelijen, yang justru ditutup Amerika kepada sekutu NATO-nya di
Eropa. Amerika pura-pura tak tahu Israel membuat ratusan senjata
nuklir di dekat Dimona, Gurun Negev, tak jauh dari perbatasan
Jordania.
Washington menjadi pelindung konsisten dalam urusan diplomatik. Sejak
1982, negeri itu sudah memveto 32 resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB
yang menyerang Israel. Jumlah itu lebih banyak dari veto yang
dikeluarkan empat anggota DK-PBB lainnya. Amerika, misalnya, menyetop
upaya negara-negara Arab untuk memasukkan sistem persenjataan nuklir
Israel ke dalam agenda badan atom dunia, IAEA (International Atomic
Energy Agency). Amerika betul-betul munafik, bila kasus nuklir Dimona
dibandingkan dengan proyek nuklir Iran yang diributkannya sekarang.
Berkat veto-veto itulah sampai sekarang Palestina tetap menjadi negeri
jajahan Israel. Terakhir, Pemerintahan Bush merencanakan peta baru
Timur Tengah, utamanya demi kepentingan strategis Israel. Untuk itu
Iraq dihancurkan, Libanon dikacaukan, kini Suriah dan Iran menunggu
giliran.
Bagi kedua Profesor, tindakan Amerika Serikat dapat dipahami bila
Israel memang merupakan aset strategis yang vital bagi Amerika, atau
ada alasan moral yang memaksa.''Tak satu pun alasan itu yang bisa
ditunjukkan dengan meyakinkan,'' tulis mereka. Padahal menjadi beking
Israel tak murah harganya. Hubungan Amerika dengan negara Arab
penghasil minyak jadi bermasalah. Arab Saudi, konco Amerika terdekat
di Timur Tengah, dan dari sinilah Amerika menggantungkan impor minyak
mentahnya, belakangan mulai sewot. Negeri itu bergerak mendekat ke
China.
Bantuan militer darurat senilai 2,2 milyar dollar yang diberikan
Washington guna menyelamatkan Israel ketika negeri itu terdesak dalam
Perang Arab - Israel, Oktober 1973, menyebabkan OPEC melakukan embargo
minyak. Akibatnya ekonomi negara Barat rusak parah. Sudah begitu,
militer Israel tak bisa diharap untuk melindungi kepentingan Amerika
di kawasan. Lihat saja ketika pecah revolusi Iran, 1979. Militer
Israel tak bisa dimanfaatkan, sehingga Amerika harus mengerahkan
pasukan dengan gerak cepat untuk mengamankan suplai minyak dari Teluk
Parsi.
Pada Perang Teluk I, Israel tak bisa dijadikan basis pasukan karena
akan menyebabkan koalisi pimpinan Amerika dimusuhi negara Arab. Malah
Amerika justru direpotkan, harus menyediakan rudal Patriot guna
menyelamatkan kota-kota Israel dari terkaman peluru kendali Scud
Saddam Hussein. Hal serupa terjadi dalam Perang Teluk II. [bagian
pertama dari tiga tulisan/
www.hidayatullah.com]
* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung
dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta