bilhas giovannie giovanah

0 views
Skip to first unread message

Maribeth Seagers

unread,
Aug 2, 2024, 7:42:28 PM8/2/24
to woodcceabsentdes

Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman budaya, salah satu dari budaya Indonesia adalah Wayang Kulit. Wayang kulit di Indonesia memiliki beragam gagrak, mulai dari Cirebon, Solo, Jawa-Timuran, Yogyakarta dan lain sebagainya. Keberagaman dari gagrak wayang kulit membuat generasi muda kesulitan untuk mengetahui gagrak dari wayang kulit. Dari permasalahan tersebut, peneliti akan mengembangkan sebuah machine learning dengan menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) untuk menentukan gagrak wayang kulit. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan machine learning yang bisa menentukan gagrak dari wayang kulit. Data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 280 gambar wayang kulit yang diunduh satu persatu di platform Facebook dan Google penelusuran gambar, warna latar belakang gambar tersebut diubah menjadi putih dan diubah ukuran menjadi 640*480 pixel. Data tersebut disebarkan melalui google form dan dilakukan validasi menggunakan Inter-annotator Agreement sehingga dapat digunakan pada proses pelatihan dengan metode CNN di Google Colab. Setelah itu dilakukan pengujian untuk menentukan gagrak wayang kulit menggunakan 3 arsitektur CNN yaang sudah dibuktikan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa arsitektur yang digunakan oleh Sudiatmika & Dewi merupakan model klasifikasi terbaik dari ketiga arsitektur, arsitektur tersebut mendapatkan akurasi sebesar 92,27%, presisi sebesar 92,22%, recall sebesar 96,85% dan f-measure sebesar 91,93%.

Menurut GAJ Hazeau, wayang purwa, khususnya pada wayang kulit, bukanlah berasal dari India melainkan asli Jawa. Menurutnya, istilah-istilah pokok pada segi-segi teknis pertunjukan tradisional ini sepenuhnya berasal dari bahasa Jawa dan sama sekali tidak ada yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Sejak dahulu kala, di antara beragam jenis wayang yang ada di Indonesia, bisa dikata wayang purwa merupakan wayang yang paling tersohor dan tersebar luas. Pandam Guritno (1988) dalam karyanya Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila menganalisis bahwa ketenaran ini tidak terlepas dari kegemaran dan dukungan masyarakat Jawa yang merupakan etnis terbesar di Indonesia pada jenis wayang ini.

Seperti telah disinggung dalam artikel sebelumnya, Indonesia sebenarnya memiliki banyak jenis wayang kulit. Sebutlah misalnya wayang beber, wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila, dan lain sebagainya. Namun demikian saking populernya jenis wayang ini, jika seseorang menyebutkan kata wayang maka orang akan menganggap yang dimaksudkan bukan lain ialah wayang kulit purwa.

Purwa berarti awal. Dengan demikian, bersama wayang beber yang nisbi lebih sederhana, wayang purwa diperkirakan termasuk wayang yang paling tua di antara wayang kulit lainnya. Guritno bahkan menggarisbawahi, wayang kulit purwa telah disebut dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga di abad ke-11.

Bentuk-bentuk rupa wayang yang dilukis pada rontal atau daun siwalan inilah, yang kini dikenal sebagai wayang beber. Gambar-gambar tokoh pewayangan sekedar dilukiskan pada selembar kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Nama wayang beber sendiri berasal dari teknik pertunjukan menggelar (membeber) gambar-gambar wayang pada kertas atau daun lontar.

Sebelum citra visual dari aneka bentuk wayang ini dirupa pada medium daun lontar (rontal) atau kertas, banyak peneliti menduga sejarah perkembangan awal seni wayang bermula dari medium batu. Tokoh-tokoh wayang ini diukir pada relief-relief candi.

Pada kasus wayang beber dan wayang purwa, perlu diberikan sedikit catatan. Sekalipun wayang purwa ialah produk perkembangan lebih lanjut dari tradisi kesenian wayang beber, bukan berarti sejalan dengan penemuan wayang purwa tradisi wayang beber kemudian mati. Sebaliknya, di sini menarik dicatat, wayang purwa dan wayang beber terlihat hidup berdampingan menyusuri sejarah kebudayaan Indonesia. Tidak seperti pementasan wayang kulit atau wayang wong (orang), musik pengiring wayang beber cukup sederhana: gong, kenong, gendang, dan rebab.

Artikel "Perkembangan Wayang Beber Kontemporer di Era Modernisasi" yang ditulis oleh Muhammad Nur Hariyadi, Narsen Afatara, dan Agus Purwantoro mencatat, setidaknya hingga tahun 1980-an wayang beber masih dipentaskan di Pacitan (Jawa Tengah) dan Wonosari (Yogyakarta). Upaya revitalisasi terhadap wayang beber pun hingga kini masih terlihat. Sebutlah munculnya Komunitas Wayang Beber Metropolitan, misalnya, yang sengaja dituturkan bukan dengan bahasa Jawa melainkan justru dengan bahasa Indonesia.

Meski demikian, kembali pada Guritno (1988) yang merujuk desertasi GAJ Hazeau, disimpulkan bahwa wayang purwa, khususnya pada wayang kulit, jelas bukanlah berasal dari India melainkan asli Jawa. Dasar asumsinya ialah, istilah-istilah pokok pada segi-segi teknis pertunjukan tradisional ini sepenuhnya berasal dari bahasa Jawa dan sama sekali tidak ada yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Bicara profesi dalang sendiri, yaitu seniman utama dalam pertunjukan wayang kulit, lazimnya dilakukan oleh laki-laki. Di zaman dahulu, ketrampilan dan pengetahuan profesi dalang diajarkan secara turun-temurun atau berasal dari keluarga. Barulah sejak 1923, berawal di Solo, muncullah kursus-kursus pedalangan di sekolah-sekolah karawitan di berbagai kota, bahkan kini juga terdapat jenjang strata 1 (S-1).

Alat musik dengan cara dipukul atau ditabuh, antara lain: kendang, gender, bonang dua setel, gambang beberapa saron, kempyang, kethuk, kenong, kempul, dan beberapa gong. Selain itu, juga terdapat alat musik berdawai seperti rebab dan siter. Tak kecuali juga diiringi alat musik tiup berupa suling. Di Yogyakarta, malah tak jarang juga digunakan terompet.

c01484d022
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages