Contoh Rpp Kelas Rangkap Sd Iii Dan Iv

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Anastacia Iacono

unread,
Jul 9, 2024, 4:39:28 AM7/9/24
to wetthabliotik

RPP ini merencanakan pembelajaran kelas rangkap IPA dan IPS untuk siswa kelas III dan IV tentang benda padat, cair, dan gas serta kerja sama. Pembelajaran akan dilaksanakan selama 2x35 menit dengan kegiatan mengamati media, mengerjakan LKS, diskusi kelompok, dan presentasi hasil diskusi. Penilaian dilakukan dengan tes tertulis dan lembar pengamatan proses diskusi kelompok.Read less

contoh rpp kelas rangkap sd iii dan iv


Download Zip https://lomogd.com/2yMziI



Pembelajaran kelas rangkap merupakan suatu kajian strategi pembelajaran, yang menjadi pilihan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran kelas rangkap yang disingkat (PKR) relatif baru di dalam dunia pendidikan dan tidak banyak sekolah yang melaksanakan PKR ini. Pengertian pembelajaran kelas rangkap sesungguhnya di mana seorang guru atau sekelompok guru mengelola kelas, yang terdapat berbagai siswa dari tingkatan kelas yang berbeda atau usia yang bervariasi dengan kemampuan yang bervariasi pula dalam satu ruangan untuk tujuan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

Alasan dilakukannya Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) tidak hanya karena faktor kekurangan guru. PKR juga sering diterapkan karena alasan letak geografis yang sulit dijangkau, ruangan kelas terbatas, kekurangan tenaga guru, jumlah siswa yang relatif sedikit, guru berhalangan hadir, atau mungkin faktor keamanan seperti di daerah pengungsi.

Nyatanya di Era Digital ini, masih ada beberapa sekolah yang masih menggunakan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) terutama di daerah daerah terpencil. Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan pulau. Dalam sistem pendidikan, hal yang tidak dapat dihindari adalah penyebaran dan distribusi guru secara merata, yang masih menjadi suatu tantangan yang harus diatasi.

Di banyak Sekolah Dasar berukuran kecil di Indonesia, mengelompokkan anak-anak dari beberapa jenjang kelas ke dalam satu kelas bisa menjadi salah satu cara agar pendidikan dapat tetap berjalan. Misalnya, menggabungkan kelas tiga dan empat dalam satu kelas. Ini yang disebut dengan model pembelajaran kelas rangkap, yaitu situasi ketika seorang guru harus mengajar lebih dari satu kelas di waktu dan tempat yang bersamaan. Dalam hal ini, kemampuan guru dituntut mampu mengelola kelas dengan baik dan menjadikan siswa aktif sehingga kondisi kelas tidak gaduh atau ada siswa tidak belajar karena guru mengajar bergantian kelas.

"Pembelajaran kelas rangkap atau multigrade dilakukan karena lembaga kekurangan guru. Selain itu, jumlah siswa yang ada di lembaga tersebut kurang dari 60 siswa," kata Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, melalui Kepala Bidang Pembinaan SD Sri Agus Indariyati, Senin (14/6/2021).

Untuk mendukung sistem pembelajaran kelas rangkap ini jelas Sri Agus Indariyati, guru-guru yang ada di lembaga tersebut perlu mendapatkan literasi maupun numerasi agar tahu bagaimana mengajar di kelas rangkap.

"Dengan kelas rangkap maka rasa sosial anak akan tinggi dan menjadi tutor sebaya. Dimana kelas yang lebih tinggi bisa mengajari adik kelasnya. Itulah Inovas kami menerapkan multigrade untuk mengatasi keurangan tanaga guru di Kabupaten Probolinggo," ucapnya. (*)

Forum diskusi pendidikan ini menghadirkan narasumber guru dan tenaga kependidikan di Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Probolingo), Bupati Probolinggo, Wakil Bupati Sumba Timur, Direktur Pembinaan Guru Dikdas, Ditjen GTK Kemendikbud, serta perwakilan dari program kemitraan pemeritnah Indonesia dan Australia yaitu program TASS dan juga INOVASI.

Di banyak sekolah dasar dan madrasah berukuran kecil di Indonesia, mengelompokkan anak-anak dari beberapa jenjang kelas ke dalam satu kelas bisa menjadi salah satu cara agar pendidikan dapat tetap berjalan.

Misalnya, menggabungkan kelas tiga dan empat dalam satu kelas. Ini yang disebut dengan model pembelajaran kelas rangkap, yaitu situasi ketika seorang guru harus mengajar lebih dari satu kelas di waktu dan tempat yang bersamaan.

Jumlah murid tersebut dipengaruhi kondisi geografis dimana sekolah-sekolah berada pada lokasi sulit dicapai sehingga hanya menampung murid dari wilayah setempat. Selain itu, ada kecenderungan bagi masyarakat memiliki anak dalam jumlah sedikit.

Hal ini karena tuntutan biaya adat besar, serta kondisi ekonomi lemah. Inilah yang membuat jumlah murid di sekolah semakin berkurang. Kecukupan jumlah guru, serta kehadiran dan kemampuan guru untuk mencapai sekolah juga menjadi penentu dilaksanakannya pembelajaran kelas rangkap di beberapa sekolah.

Dalam hal ini, kemampuan guru dituntut mampu mengelola kelas dengan baik dan menjadikan siswa aktif sehingga kondisi kelas tidak gaduh atau ada siswa tidak belajar karena guru mengajar bergantian kelas.

Model pembelajaran tradisional berpusat pada guru diubah menjadi pembelajaran berpusat pada anak. Namun, guru masih belum dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan cukup untuk mengajar dengan pola kelas rangkap.

Tujuan program rintisan ini untuk memperbaharui materi pelatihan kelas rangkap, dengan berbekal pengalaman dari program sebelumnya dan untuk meningkatkan peran pengawas, guru dan kepala sekolah dalam mendukung kegiatan kelas rangkap.

Mata kuliah ini memfasilitasi mahasiswa S1 Prodi PGSD untuk menguasai kemampuan mengaplikasikan pembelajaran kelas rangkap di Sekolah Dasar. Untuk mencapai kemampuan tersebut, mahasiswa akan mengkaji pembelajaran kelas rangkap, berlatih mengerjakan soal latihan formatif, melakukan diskusi, mengembangkan perangkat pembelajaran kelas rangkap, dan mempraktekkan PKR di Sekolah Dasar. Mata kuliah ini berisi pokok bahasan menjelaskan hakikat Pembelajaran Kelas Rangkap; menjelaskan beberapa contoh penerapan Pembelajaran Kelas Rangkap; menjelaskan beberapa keterampilan dasar mengajar serta strategi yang sesuai untuk Pembelajaran Kelas Rangkap; menyusun Rancangan Pembelajaran Kelas Rangkap; serta dapat mempraktikkan Pembelajaran Kelas Rangkap dalam situasi nyata. Penguasaan mahasiswa terhadap mata kuliah ini dinilai melalui penugasan, project, tes tertulis (objektif), dan praktek.

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Salah satu upaya untuk atasi tantangan pendidikan yang terus digali oleh INOVASI adalah model pengajaran dan pembelajaran kelas rangkap atau multi-grade teaching.

Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan pulau. Dalam sistem pendidikan, hal yang tidak dapat dihindari adalah penyebaran dan distribusi guru secara merata, yang masih menjadi suatu tantangan yang harus diatasi.

Di banyak sekolah dasar dan madrasah berukuran kecil di Indonesia, mengelompokkan anak-anak dari beberapa jenjang kelas ke dalam satu kelas bisa menjadi salah satu cara agar pendidikan dapat tetap berjalan. Misalnya, menggabungkan kelas tiga dan empat dalam satu kelas. Ini yang disebut dengan model pembelajaran kelas rangkap, yaitu situasi ketika seorang guru harus mengajar lebih dari satu kelas di waktu dan tempat yang bersamaan.

Di Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, misalnya, ditemukan bahwa jumlah murid yang sedikit umumnya menjadi hal yang melatarbelakangi pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap. Jumlah murid tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis dimana sekolah-sekolah berada pada lokasi yang sulit dicapai sehingga hanya menampung murid dari wilayah setempat. Selain itu, ada kecenderungan bagi masyarakat untuk memiliki anak dalam jumlah sedikit. Hal ini karena tuntutan biaya adat yang besar, serta kondisi ekonomi lemah. Inilah yang membuat jumlah murid di sekolah semakin berkurang. Kecukupan jumlah guru, serta kehadiran dan kemampuan guru untuk mencapai sekolah juga menjadi penentu dilaksanakannya pembelajaran kelas rangkap di beberapa sekolah.

Di Sumba Tengah, ditemukan guru di SD Narita yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap karena keterbatasan ruang kelas. Pada praktiknya, guru menggabungkan dua kelas yang berbeda (kelas 1 dan 2; kelas 4 dan 5) pada saat yang bersamaan dan dalam satu kelas pembelajaran dengan materi yang berbeda. Dalam hal ini, kemampuan guru dituntut untuk mampu mengelola kelas dengan baik dan menjadikan siswa aktif sehingga kondisi kelas tidak gaduh atau ada siswa yang tidak belajar karena guru mengajar bergantian kelas. Model pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru diubah menjadi pembelajaran berpusat pada anak. Namun, guru masih belum dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan cukup untuk mengajar dengan pola kelas rangkap.

Efisiensi tentu dibutuhkan di seluruh wilayah di Indonesia dalam hal penempatan guru serta rasio guru terhadap siswa. Model pembelajaran kelas rangkap dapat menjadi salah satu solusinya. Namun, guru perlu terlebih dulu memiliki pengalaman melakukan pendekatan pembelajaran aktif, sebelum diperkenalkan dengan model pembelajaran kelas rangkap.

INOVASI dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, sebagai contoh, saat ini melaksanakan program rintisan pembelajaran kelas rangkap di 8 sekolah-sekolah kecil yang berada di Kecamatan Sukapura. Model pembelajaran kelas rangkap adalah ketika guru mengajar lebih dari satu tingkatan kelas pada saat yang sama di kelas yang sama. Model pendekatan seperti ini sangat penting, terutama di daerah-daerah terpencil dengan populasi penduduk yang sedikit, dan di sekolah-sekolah yang kekurangan guru atau ruang kelas. Model seperti ini juga berguna bagi guru yang ingin melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk siswa dengan kompetensi beragam.

Tujuan program rintisan ini adalah untuk memperbaharui materi pelatihan kelas rangkap, dengan berbekal pengalaman dari program sebelumnya; untuk meningkatkan kinerja KKG dalam memberikan pelatihan dan dukungan; untuk meningkatkan peran pengawas, guru dan kepala sekolah dalam mendukung kegiatan kelas rangkap; untuk mempromosikan pembelajaran yang mengadopsi pendekatan kesetaraan gender dan pendidikan inklusif; serta untuk memulai pelaksanaan kelas rangkap di sekolah-sekolah mitra.

Tidak mustahil bahwa praktik pembelajaran kelas rangkap ini dapat pula diterapkan di daerah lain, tentu dengan pembekalan yang baik agar tujuan peningkatan mutu pembelajaran bisa tercapai. Tentunya, agar praktik baik ini dapat terus berlanjut, sangatlah penting memastikan bahwa model pendekatan kelas rangkap juga didukung dengan kebijakan yang tepat.

b1e95dc632
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages