Fwd: [bencana] REMBUG BENCANA ALA KUNTORO : 13 Maret 2011

2 views
Skip to first unread message

yanti kerlip

unread,
Mar 13, 2011, 11:44:52 PM3/13/11
to IT...@yahoogroups.com, sekola...@yahoogroups.com, westjavae...@googlegroups.com

Pembelajaran dari Narasi inspiratif yang disusun Victor Rembeth_Pengawas HFI dan Dewan Pakar KerLIP

---------- Forwarded message ----------
From: J. Victor Rembeth <rem...@indo.net.id>
Date: 2011/3/13
Subject: [bencana] REMBUG BENCANA ALA KUNTORO : 13 Maret 2011
To: ben...@googlegroups.com



Kawan-kawan Penggiat Bencana,
Berikut laporan pandangan mata dan persepsi saya mengikutir
Pertemuan yang digagas oleh pak Kuntoro 13 Maret perihal
Bencana Jepang.

----------------------------------------------------------------


Rembug  Bencana Jepang Ala Kuntoro
Oleh:  Victor Rembeth untuk Indonesia dan Jepang

       Pada awalnya ada kekagetan tak terkira ketika ada email dan
       sms yang berseliweran berupa undangan kepada LSM dan
       jaringannya untuk hadir dalam pertemuan penanggulangan bencana
       pada tanggal 13 Maret 2011 di Jakarta dari seorang ketua UKP4
       yang bukan orang sembarangan di republik ini. Reaksi dini
       menanggapi aksi Kuntoro ini mulai dari yang netral seperti
       rasa tidak percaya sampai kepada yang ekstrim dan suudzon
       bertanya-tanya, untuk apa lagi “Unit Kerja Elit” ini mengajak
       masyarakat sipil bicara tentang bencana?
       Memasuki ruang pertemuan di kawasan terbatas di Jakarta ini
       menambah banyak pertanyaan yang memang sudah ditambah dengan
       berbagai macam bumbu kemungkinan yang menyertai undangan ini.
       Hadirnya berbagai tokoh penting pemerintahan, seperti Direktur
       Asia Timur dan Pasifik Kementrian Luar Negeri dan Direktur
       Kerjasama Fungsional ASEAN, serta Kepala perwakilan PBB untuk
       Indonesia, wakil resmi kedutaan besar Jepang, direktur AHA
       center, dan beberapa perwakilan lembaga Internasional seperti
       Bank Dunia, UNHCR dan lain menambah pompaan adrenalin perihal
       pentingnya agenda pertemuan ini.
       Setelah pembukaan awal oleh pengundang, pertemuan ini dimulai
       dengan paparan tentang kondisi kultural dan ekonomi Jepang
       yang sedikit banyak akan mempengaruhi respon tanggap darurat
       dari berbagai pihak luar yang datang ke Negara itu. Soni
       Harsono, sebagai ketua komite ekonomi Indonesia-Jepang yang
       menjelaskan hal ini juga menegaskan keberbahayaan dan
       tantangan yang akan dihadapi oleh relawan khususnya
       berhubungan dengan pendekatan kepada masyarakat Jepang dan
       bahaya sekunder reaktor nuklir.
       Penjelasan oleh Soni menjadi sangat menarik ketika berkenaan
       dengan reaktor nuklir Fukushima yang memiliki 6 unit
       pembangkit, dimana 2 unit , yaitu unit 1 dan 3 mengalami hydro
       explosion karena tingkat suhu yang meningkat pada pendingin
       air, namun belum sampai pada tahapan chain reaction yang dapat
       mengakibatkan bencana sekelas ledakan bom atom. Ada kelegaan
       ketika dijelaskan bahwa pada saat ini pihak pengelola telah
       mampu melakukan perbaikan pada kedua unit ini.
       Alur pertemuan kemudian mengalir lebih lancer dengan Kuntoro
       berperan sebagai moderator yang ditambah dengan berbagai
       penjelasan dari kedutaan besar Jepang , Kementrian Luar
       Negeri, Kepala Perwakilan PBB dan juga diimbuhi disana sini
       dengan berbagai pertanyaan perihal situasi kondisi terakhir
       bencana Jepang dan sekaligus penambahan informasi dari
       berbagai pihak yang hadir.
       Pertanyaan mengenai apa maksud pertemuan ini akhirnya
       terpecahkan, ketika Faisal Djalal dari MPBI bertanya apa peran
       masing-masing dan untuk apa bertemu. Kuntoro kemudian dengan
       kasual dan tanpa formalitas berlebihan menjelaskan bahwa
       pertemuan yang difasilitasnya ini bukanlah dalam posisi beliau
       sebagai ketua UKP4, tetapi lebih pada inisiatif yang
       mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai bangsa yang
       pernah dibantu banyak oleh Jepang dalam berbagai
       penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia, khususnya
       Tsunami 2004.
       Serta merta suhu pertemuan meningkat, bukan dalam suasana adu
       argumentasi ala pansus DPR, tetapi lebih kepada upaya
       “fastabiqul khoirot”  alias berlomba berbuat kebaikan dengan
       membuka lebar berbagai sumber daya yang dimiliki masing-masing
       peserta yang dapat digunakan untuk alat mengasihi sesamanya
       manusia yang sedang menderita di Jepang. Rembug ini menjadi
       sangat kental dengan suasana partisipatif dan jauh dari
       pemaksaan birokrat yang bertujuan mendikte model
       penanggulangan bencana .
       Masyarakat sipil yang hadir, seperti Humanitarian Forum
       Indonesia, MPBI, World Vision, Dompet Dhuafa, YEU,
       Muhammadiyah (MDMC), Rescue Jakarta, Hope International,
       Gerakan Kemanusiaan Indonesia, Obor Berkat dan berbagai
       organisasi alumni Jepang larut dalam sebuah model rembug penuh
       dengan  kesetaraan dan saling mengisi. Pewakil
       organisasi-organisasi PBB dan Aseanpun terbawa dalam sebuah
       semangat kebersamaan yang berangkat dari nilai-nilai
       kemanusiaan yang asali.
       Yang menarik juga adalah semua menghargai ketika wakil
       pemerintah Jepang mengatakan belum memerlukan bantuan, ketika
       semua peserta sudah “kebelet” untuk berbagi. Juga tidak ada
       protes ketika Pemerintah Jepang menyatakan tidak begitu mudah
       memberikan ijin bagi relawan untuk terlibat, karena bukan saja
       karena kapasitas yang mereka miliki sudah memadai, namun aspek
       hambatan kultural dan cuaca akan menjadi penghalang bagi
       relawan yang hadir. Sehingga pada saat ini pemerintah Jepang
       belum memberikan daftar kebutuhan bantuan, dan pada
       kenyataannya kendati sudah ada 50 negara yang menawarkan
       bantuan, baru 1 negara yaitu Amerika yang diterima oleh Negara
       ini.
       Kembali sang pengagas pertemuan mengkonfirmasi bahwa keputusan
       pemerintah Jepang ini haruslah dihargai. Karena berkaca pada
       pengalaman tsunami 2004, diperlukan kedaulatan sebuah Negara
       untuk mengatur manajemen tanggap darurat yang ada agar dapat
       efektif dan efisien. Hal ini juga  memperjelas modek
       koordinasi yang ada yaitu pada saat ini pemerintah Jepang
       lebih memilih untuk menyalurkan melalui lembaga-lembaga
       kemanusiaan yang sudah ada perwakilan di Jepang, seperti
       Palang Merah Internasional, dan berbagai lembaga lain yang
       sudah ada perwakilan disana.
       Namun berbagai usaha-usaha yang berlandaskan ketulusan
       kemanusiaan ini tidak serta merta diabaikan atau bahkan
       dilarang, tetapi justru inisiatif yang ada sangat dihargai
       dalam pertemuan ini. Apresiasi yang tinggi diberikan kepada
       berbagai pihak yang hadir yang langsung menunjukkan
       kebersediaan untuk berbagi dan kemauan untuk mendukung
       upaya-upaya penanggulangan bencana di Jepang.
       Sebelum pertemuan ini ditutup dengan mengheningkan cipta
       sebagai wujud berbagi rasa duka dengan masyarakat Jepang, para
       peserta sepakat mengusulkan perlunya upaya-upaya koordinasi
       dan konsolidasi ini diteruskan. Kuntoro memastikan bahwa forum
       ini akan berlanjut  dan dengan penuh keyakinan ia mengatakan
       bahwa nilai “from Indonesian people to Japanese People”
       haruslah menjadi bagian hakiki dari model koordinasi yang
       digagas ini.
       Sebuah orchestra koordinasi penanggulangan bencana telah
       dimainkan secara manis oleh pengundang yang membagi berbagai
       instrument pelaku manajemen bencana dalam sebuah komposisi
       awalnya dengan baik. Ada pengakuan terhadap peran, fungsi dan
       kedaulatan masing-masing peserta, namun sekaligus juga ada
       penghormatan terhadap kelebihan dan kekurangan setiap pelaku
       yang masuk dalam lagu kerjasama indah yang digubah oleh dari
       dan untuk kita.

SALAM DUKA UNTUK JEPANG


___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


--
THE TREKKERS http://www.thetrekkers.com : Sedia peralatan emergency/bencana/gawat darurat, rescue, temporary shelter/tenda, dan peralatan kebencanaan. Kontak: Ferri Iskandar (ferr...@yahoo.com, hp: +62-812-2765-434)
-----------------------------------------------
Hidup Bersama Risiko Bencana
Website: http://bencana.net; Milis: ben...@googlegroups.com
Arsip berita/artikel di Milis Bencana: http://groups.google.com/group/bencana/topics
Mendaftar anggota milis: http://googlegroups.com/group/bencana/subscribe
Keluar dari milis: bencana+u...@googlegroups.com
Kontak Moderator: bencan...@googlegroups.com



--
YantiKerLiP
081220555069
Ketua Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP)
Kordinator Pendidikan dan IPTEK
Dewan Eksekutif Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB)

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages