TINJAUAN PUSTAKA
Nusantara dalam Lintasan Sejarah
Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya.
Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu
zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan
zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman
kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang
jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah
ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman
sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab
ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar
kerajaan. Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus
antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Peradaban Nusantara
kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari
abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan
Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan
Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan
besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan
tersebut.
Kerajaan Melayu Tua di Jambi
Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo,
dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat
oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya
negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi
T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh
Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa
di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di
timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah
selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau
bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya
telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam
kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya
kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun
Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan
Sumatera (Wikipedia, 2009).
Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M
juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung
telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan
oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga.
Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2
M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.
Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah
hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan
oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying
tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po,
Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka
ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa,
Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che
sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu,
Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno
pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan
Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama
Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam
perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan
Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar
Alam Kerinci.
Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5
M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan
kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara
perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai
salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara
sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak
dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa
itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama. Namun yang jelas, di
wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah
terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh
negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.
Kerajaan Kepaksian Sekala Brak
Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung
tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis
Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak
yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah
selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten
Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar
ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu
Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan
Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran
Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam
bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah
sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan
Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri
Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan
mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan
antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan
dengan India dan Negeri Cina.
Kerajaan Salakanegara
Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan
Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta.
Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk
Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu
Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji
Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.
Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh
tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota
ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama
Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran
yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan
kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir
Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang,
Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa
api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga
dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun
150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari
dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman)
dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun
132 M.
Mitologi Minangkabau
Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja
Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup
354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia.
Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur
dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan
kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.
Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak,
yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo
Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi
raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau
Emas (Sumatera).
Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan
sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan
surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo
Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka
pulau ameh nan ko…”.
--
Sent from my mobile device