Kerajaan kandis. ( Bagian 3 ).

13 views
Skip to first unread message

iwan sribudi

unread,
Feb 29, 2012, 4:22:45 AM2/29/12
to iwan sribudi, WAYUNGYANG Net
(pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan,
seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang
seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi
bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).

Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum)
mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain
menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga
orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja
Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga
putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah
itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada
Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina,
Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).

Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah
yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang
bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama
“jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris
sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi
dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah
pedang yang bernama sabilullah.

Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur,
menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga
saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja
Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan
pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri
atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang).
Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur
itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung
itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.

Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya
dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk
kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali,
sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak
sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau
menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di
kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar,
tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam
hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun
selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.

Mitologi Lubuk Jambi[2]

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera
sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan
perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu
benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena
perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam
ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca
ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi
oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain
sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah
melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian
nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan
terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang
dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah
barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan
dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama
kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah
dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul
merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang
paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang
berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit
Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang
berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal,
Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau),
sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.

Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah
Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang
bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar
mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke
Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika
berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan
sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi
di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan
subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.

Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana
yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja
bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra
Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal
(lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran
yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih
dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo (sampai saat
ini keris tersebut masih ada, dan disimpan dengan baik oleh empunya/
Saya sendiri (http://www.riaudailyphoto.com memiliki gambar keris
tersebut). Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita
yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda
Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu.
Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di
kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro
Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna
merah dan putih.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti
damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi
seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas,
sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki
Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas
yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan
tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu
oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau
kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan
kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara
Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri
perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka
membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang
pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan
meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak
istrinya di Semenanjung Melayu
.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak
kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang
ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang
merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar
ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah
kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang
timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa
Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran
penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari
permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang
Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian
juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo
di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi
perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar
kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah
itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh
Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga
Raj

--
Sent from my mobile device

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages