Kutubus Sittah Pdf

0 views
Skip to first unread message

Staci Mauger

unread,
Aug 5, 2024, 9:31:39 AM8/5/24
to wamanmorack
Kutubussittahmerupakan kitab-kitab yang memuat tentang hadits-hadits Nabi SAW.yang telah diakui oleh para alim ulama bahkan sudah terkenal dalam dunia Islam sebagai rujukan menggali hukum-hukum Islam.

Kontroversi semacam itu terjadi sampai sekarang, hal ini memang wajar dan tidak boleh menyalahkan antara yang satu dengan lainnya, karena pada dasarnya Nabi Muhammad SAW.sendiri juga pernah memperbolehkan pada shahabat kemudian Nabi Muhammad SAW. Melarangnya.


Mantan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI (2014-2016) ini menuturkan bahwa telah lama mengenal LDII. Suatu saat pernah mendampingi Presiden RI, Ir. Joko Widodo menerima pengurus harian DPP LDII di istana negara Jakarta. Menurutnya, belajar kitab secara mendalam itu harus tekun dan waktunya tidak sedikit. Santri biasa pasti memerlukan waktu yang lama untuk belajar. Sedangkan program belajar secara akselerasi diperuntukan tidak untuk seluruh santri. Program akselerasi bagi santri/santriwati yang memiliki kecerdasan luar biasa.


Mantan Kepala Pusat Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI ini juga berharap para santri LDII belajar tidak hanya melalui buku, namun melihat pula kehidupan sebagai media pembelajaran. Saat berdakwah turut mengalir bersama masyarakat tetapi tidak terbawa arus.


Turut hadir menyimak tausiyah Ketua umum MUI DIY, antara lain: Ketua Dewan Pimpinan Wilayah LDII DIY Atus Syahbudin, S. Hut., M.Agr., Ph.D., Ketua DPD LDII Sleman Suwarjo, S.IP., M.Si. bersama pengurus harian DPW/DPD, serta beberapa dewan penasehat dan dewan guru ponpes.


Melalui kajian yang dibuka oleh Ketum MUI DIY ini, Ketua Ponpes Kutubus Sittah Mulya Abadi, H. Jiwantoro, S.Pd. berharap para santri senantiasa berkarakter alim-fakih, berakhlakul kharimah, dan mandiri. H. Jiwantoro menyampaikan pula bahwa santri-santri berasal dari DIY dan luar DIY. Bahkan hingga Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera.


Alkhamdulillah, tata cara mengaji di LDII sangat mudah dan sederhana, Guru dan Murid sama sama mengbuka Kitab, Guru mengkajikan secara makna dan keterangan, perkata, sementara Murid menulis di Kitabnya, cara mengaji ini sudah dipraktekan sejak awal. Praktek seperti ini mampu dipraktekan LDII sampai Majelis Taklimnya sampai Pelosok Negeri, bahkan sampai Luar Negeri. Kalau LDII dituduh tdk baik, LDII harus membuktikan kebaikanya, apabila dituduh sesat LDII harus menunjukan kalau tdk sesat, namun bagaimana orang percaya LDII tdk sesat, sementara Ponpes yg mengkajikan Kutubusittah tdk dinamakan dgn Ponpes LDII


tirto.id - Perkembangan ilmu hadis tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kutubus sittah. Lantas, apa itu kutubus sittah? Siapa para ulama penyusun kutubus sittah? Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian kutubus sittah.


Kutubus sittah adalah kitab-kitab hadis yang menjadi standar rujukan para ulama dan kaum muslim untuk menjadi hujah berkaitan dengan hukum, syariat, maupun akhlak. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (2005) terjemahan Ahmad Sabiq menjelaskan, sebagian ulama berkata sebagai berikut:


Kutubusitah disusun para ulama yang ahli dalam ilmu hadis. Oleh sebab itu, eksistensi kitab tersebut hingga kini masih terjaga, digunakan secara luas di seluruh dunia sebagai referensi hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an. Berikut ini para ulama penyusun kutubus sittah:


1. Imam BukhariImam Bukhari adalah penulis kitab al-Jami' as-Sahih, salah satu kutubus sittah. Ulama yang bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ju'fi al-Ju'fi al-Bukhari tersebut, lahir pada Jumat, 13 Syawal 194 H di Bukhara.


Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari belajar hadis kepada Ad-Dakhili. Setahun setelahnya, diceritakan dalam suatu riwayat Waraqah Muhammad ibn Abi Hatim al-Warraq, Imam Bukhari berani menyanggah kesalahan hadis dari gurunya tersebut di depan umum.


Menginjak usia 16 tahun, Imam Bukhari telah mampu menghafal matan hadis kitab Abdullah ibn al-Mubarak dan Waki' ibn al-Jarrah lengkap dengan sanadnya. Pada usia ini juga, Imam Bukhari pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menetap di sana guna mengkaji hadis.


Setelah 6 tahun di Makkah, Imam Bukhari menjalankan rihlah ilmiyyah li talab al-hadis ke berbagai daerah lain seperti Mesir, Baghdad, Kufah, Himsa, Basrah, Madinah, Syam, hingga Asqalan. Imam Bukhari menghembuskan nafas terakhir di usia ke-62 tahun, sewaktu mengunjungi daerah dekat Samarkand pada 30 Ramadan 256 H.


2. Imam MuslimImam Muslim adalah seorang ulama kelahiran Naisabur, kota kecil di Iran bagian timur pada 204 H/820 M dengan nama lengkap Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim ibn Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi.


Semenjak kecil, Imam Muslim telah tekun mengkaji hadis. Menginjak usia 12 tahun, Imam Muslim melakukan perjalanan mempelajari hadis dengan destinasi pertama, Makkah pada 220 H. Setelah genap 10 tahun di Makkah, Imam Bukhari melanjutkan perjalanannya ke Irak, Syam, Mesir, Hijaz, hingga Khurasan.


Beberapa guru yang pernah mengajari Imam Bukhari perihal hadis di antaranya Yahya ibn Yahya dan Ishaq ibn Rahawaih di Khurasan, Muhammad ibn Mahram dan Abu Ghassan di Ray, Sa'id ibn Mansur dan Abu Mus'ab di Hijaz, Abdullah ibn Maslamah dan Ahmad ibn Hanbal di Irak, hingga Harmalah ibn Yahya dan Amir ibn Sawwad di Mesir. Imam Muslim juga pernah berguru pada Imam Bukhari sewaktu di Baghdad.


3. Imam Abu DawudAbu Dawud Sulaiman ibn al-Asy'as ibn Ishaq ibn Basyir ibn Syidad ibn Imran al-Azdi as-Sijistani atau lebih populer dikenal sebagai Imam Abu Dawud merupakan ulama kelahiran Basrah pada 202 H/817 M. Berasal dari keluarga yang agamis, membuat Abu Dawud mampu mengkaji Al-Qur'an, hadis, dan bahasa Arab semenjak kecil.


Mencapai usia kira-kira 20 tahun, Abu Dawud melakukan rihlah ilmiyyah ke berbagai tempat mulai Baghdad, Hijaz, Mesir, Irak, Syam, Khurasan, Basrah, hingga Naisabur. Beberapa guru yang pernah mengajari Abu Dawuh seperti Ahmad Ibn Hanbal, Musaddad ibn Musarhad al-Asadi, Ishaq ibn Rahawaih, Amr ibn Aun an-Najili, Quraibah ibn Sa'd as-Saqafi, Yahya ibn Ma'in, Abdullah ibn Maslamah al-Qa'nabi, dan Abu al-Walid at-Tayalisi.


Basrah menjadi tempat mukim terakhir sekaligus menebas ilmu bagi Abu Dawud sebelum wafat di usia ke-73 tahun pada 16 Syawal 275 H. Beberapa karya Abu Dawud semasa hidup di antaranya Sunan Abu Dawuh, Dalail an-Nubuwwah, al-Marasil, As'ilah Ahmad ibn Hanbal, az-Zuhd, Risalah fi Wasf Kitab as-Sunan, hingga at-Tafarrud fi as-Sunan.


4. Imam At-TirmidziImam At-Tirmidzi memiliki nama lengkap Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn ad-Dahhak as-Sulami al-Bughi at-Tirmidzi. Imam At-Tirmidzi dilahirkan pada 209 H di Termes, Tajikistan dengan kondisi normal tanpa cacat mata berdasarkan pendapat Umar ibn 'Allak.


Imam At-Tirmidzi meningkatkan pengetahuannya tentang hadis melalui pengembaraan ilmiah ke beberapa wilayah seperti Hijaz, Khurasan, dan Irak. Beberapa guru yang pernah mengajari Imam At-Tirmidzi di antaranya Qutaibah ibn-Sa'id, Ishaq ibn Rahawaih, Abu Mus'ab az-Zuhri, Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Muhammad ibn Amr as-Sawwaq, hingga Ismail ibn Musa al-Fazari.


5. Imam An-Nasa'iImam An-Nasa'i merupakan ulama yang lahir pada 215 H/830 M di Nasa, Khurasan. Ulama dengan nama lengkap Ahmad ibn Syu'aib ibn Ali ibn Sinan ibn Bahr ibn Dinar al-Khurasani an-Nasa'i tersebut, sejak kecil telah menghafal Al-Qur'an dan mengkaji ilmu-ilmu keislaman kepada sejumlah guru, salah satunya Qutaibah ibn Sa'id al-Baglani al-Balkhi.


Imam An-Nasa'i memulai rihlah ilmiyyahnya pada usia ke-15 tahun ke Syam, Mesir, Irak, dan Hijaz. Beberapa guru An-Nasa'i seperti Ishaq ibn Rahawaih, Hisyam ibn 'Ammar, Ziyad ibn Yahya al-Hasani, Tamim ibn al-Munasir, Abu Qudamah Ubaidillah ibn Sa'id, dan Yusuf ibn Isa az-Zuhri.


Pada 302 H, Imam An-Nasa'i hijrah ke Damaskus dan menyusun kitab Khasais Ali ibn Abi Thalib. Setahun semenjak kepindahannya tersebut, Imam An-Nasa'i menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin, 13 Safar 303 H/915 M di usia ke-85 tahun.


6. Imam Ibnu MajahIbnu Majah sebenarnya bukanlah nama asli dari pengarang Sunan Ibnu Majah. Nama asli pengarang salah satu kitab kutubus sittah tersebut adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah ar-Ruba'i al-Qazwaini. Di sisi lain, Ibnu Majah merupakan gelar sang ayah dari Abu Abdillah Muhammad. Meskipun begitu, beliau tetap menggunakan gelar ayahnya tersebut untuk melabeli karya-karyanya.


Ibnu Majah lahir di Qazwain pada 209 H/824 H. Semejak kecil, Ibnu Majah rajin mempelajari ilmu-ilmu Islam, terlebih hadis. Hingga menginjak usia 15 tahun, kecintaan Ibnu Majah kepada hadis semakin meningkat di bawah bimbingan sang guru, Ali ibn Muhammad at-Tanafasi.


Dalam meningkatkan pengetahuannya tentang hadis, Ibnu Majah mulai usia 21 tahun melakukan rihlah ilmiyyah ke sejumlah daerah seperti Kufah, Madinah, Makkah, Basrah, Mesir, dan Syiria. Dari rihlah itu, Ibnu Majah belajar beberapa guru di antaranya Mu'ab ibn Abdillah az-Zubairi, Muhammad ibn Abdillah ibn Namir, Jubarah ibn al-Muglis, Abu Bakr ibn Abi Syaiban, hingga Hisyam ibn Ammar.


Sebelumnya telah dibahas mengenai para imam yang telah menyusun kutubus sittah. Berikut ini akan dijelaskan mengenai 6 kutubus sittah mulai nama lengkap hingga jumlah hadis yang termuat di dalamnya:


Umma Farida dalam Al-Kutub As-Sittah: Karakteristik, Metode dan Sistematika Penulisannya (2011) menjelaskan, penyusunan Shahih Bukhari merupakan implementasi wasiat dari salah satu guru Imam Bukhari, yakni Ishaq ibn Rahawaih. Sang guru berpesan supaya Imam Bukhari menyusun sebuah kitab yang khusus berisi hadis-hadis sahih Nabi Muhammad SAW.


Shahih Bukhari disusun Imam Bukhari dari hasil seleksi 600.00 hadis selama 16 tahun di Masjidil Haram. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan, para ulama setelah mengkaji Sahih Bukhari menyimpulkan, kitab disusun dengan selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan yang paling tinggi. Penyusunan tidak keluar dari tingkat itu, kecuali beberapa hadis yang bukan materi pokok dari sebuah bab.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages