Resolusi parlemen eropa utk cancun

2 views
Skip to first unread message

t.kusw...@gmail.com

unread,
Nov 27, 2010, 9:26:16 AM11/27/10
to hs, Siti Maemunah, Pesona PagiKu, Luluk Uliyah, Arief Wicaksono, Hendrik Siregar, fin...@jatam.org, von...@gmail.com, Chalid Muhammad, naem...@yahoo.com, prada...@gmail.com, merahjo...@gmail.com, Kahar Al Bahri, ade fadli, Climate Justice, walhic...@googlegroups.com
Coba baca ini, menarik, gw belum tahu apa arahnya. Ada komentar?
Http://www.europarl.europa.eu/
sides/getDoc.do?pubRef=-%2F%2FEP%2F%2FTEXT+TA+P7-TA-2010-0442+0+DOC+XML+V0%2F%2FEN

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Date: Sat, 27 Nov 2010 20:55:44 +0700
Cc: Siti Maemunah<m...@jatam.org>; Pesona PagiKu<emb...@gmail.com>; Luluk Uliyah<lu...@jatam.org>; Arief Wicaksono<awi...@gmail.com>; Hendrik Siregar<be...@jatam.org>; <fin...@jatam.org>; <von...@gmail.com>; Chalid Muhammad<chalid....@gmail.com>; <naem...@yahoo.com>; <prada...@gmail.com>; <merahjo...@gmail.com>; Kahar Al Bahri<timura...@yahoo.co.id>; ade fadli<adef...@gmail.com>
Subject: Re: Exploiting natural resources: Growth, Instability, and Conflict in the Middle East and Asia

Iya Mai, selow saza... inilah yang disebut suara arus-utama ekonomika autistik. Ngga begitu penting siapa yang mengutarakan.. kitab-kitabnya akan meminta kita membaca semua perubahan sesuai dengan apa yang baik bagi pembesaran nilai uang dari produksi-konsumsi. Budi ini waktu COP di Bali 2007 waktu itu yang berdiri duluan di audience selesai aku sama ES ngomong (moderator Torry kan?), dan membawa pikiran yang serupa. Orangnya baik dan ngga korup, dan rajin juga riset. Itulah... :-) 

On 27 November 2010 13:48, <t.kusw...@gmail.com> wrote:
Penulisnya satu kampus sama mas hendro :)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: m...@jatam.org
Date: Sat, 27 Nov 2010 05:35:59
To: <emb...@gmail.com>; <lu...@jatam.org>; <awi...@gmail.com>; <t.kusw...@gmail.com>; <be...@jatam.org>; <emb...@gmail.com>; <lu...@jatam.org>; <fin...@jatam.org>; <von...@gmail.com>; <hendro....@gmail.com>; <chalid....@gmail.com>
Cc: <naem...@yahoo.com>; <prada...@gmail.com>; <merahjo...@gmail.com>; <timura...@yahoo.co.id>; <adef...@gmail.com>
Subject: Exploiting natural resources: Growth, Instability,
     and Conflict in the Middle East and Asia

Dear all,

Saya membaca ini, saat mengumpulkan data tentang PT KEM dan IMK. masih
cukup baru, tahun kemaren. Ada bagian khusus mengulas Indonesia.

Socioeconomic Conflicts in Indonesia’s Mining Industry (33)
oleh Budy P. Resosudarmo, Ida Aju

Mereka masih memandang "tambang sektor penting, khususnya mineral", gak
boleh diganggu gugat intinya. meskipin mereka mulai mnerima bahwa tambang
bikin banyak masalah. Tapi simpulan jawabannya masih sama.

Primary sources of conflict are policy and regulatory uncertainties over
land use, property rights, and authority over mining licenses.

Secondary sources of conflict are illegal mining activities.

The third and fourth major sources of conflict are environmental
destruction caused by mining operations and the “leftover” condition after
mining closure. In general, mining operators have historically been
irresponsible in mitigating the environmental impact of their activities
and in handling the socioeconomic and environmental conditions after a
mine closure.

dan jawabannya ini:

First, the government must create consistent standards and regulations,
and insist on consistent implementation and monitoring.

Second, government and mining operators should be more transparent and
accountable in providing all socioeconomic and environmental information
about mining operations.

Third, all stakeholders, particularly mining operators, should take shared
responsibility for the socioeconomic and environmental repercussions of
mining activities.

Fourth, distribution of revenues from mining operations among various
stakeholders should seriously take into account equity and justice
considerations from the perspectives of these stakeholders. In a
democracy, it is important that mining operators obtain a “social license”
from the locals

Saya membaca sekilas tulisan diatas, jadi ingin mengingat - kilas balik
kampanye-kampanye JATAM.

Orang Indonesia, dari berbagai kalangan sudah mengakui tambang menyebabkan
masalah - konflik dan lingkungan hancur, tapi belum kepada term daya rusak
yang dipahami JATAM, sehingga jawaban mereka diujung selalu normatif :
standar regulasi, good governance, transparansi etc. Asli jawabannya sama
saat saya berdua Ocha kampanye di Eropa.

Gimana caranya, membawa orang sampai kepada kesadaran religius yang sama
tentang daya rusak tambang ya. Mengajak mereka bersama menuju : make
mining history.

salam,
mai








Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages