Fwd: [keadilaniklim] REDD+ Partnership -Kabar dari Tianjin Climate Talk (3)-

0 views
Skip to first unread message

Torry Kuswardono

unread,
Oct 11, 2010, 5:42:09 AM10/11/10
to walhic...@googlegroups.com, cuma...@yahoogroups.com


---------- Forwarded message ----------
From: giorgio giorgio <giorg...@yahoo.com>
Date: 2010/10/11
Subject: [keadilaniklim] REDD+ Partnership -Kabar dari Tianjin Climate Talk (3)-
To: keadil...@yahoogroups.com, climate...@yahoogroups.com


 

Maaf baru bisa kelihatan lagi, 

Beberapa hari yang lalu ada pertanyaan dari kawan steni mengenai REDD+ Partnership dan Hubungannya dengan jalannya perundingan UNFCCC. Saya janji untuk menuliskannya secara lengkap laporan pandangan mata saya terhadap jalannya semua perundingan REDD+ di Tianjin. Ini pemenuhan janji saya, semoga bisa berguna.


Selamat Menikmati

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

REDD+ Partnership, inisiatif Ditengah Kemandekan Negosiasi

Bagi sebagian orang, membicarakan perubahan iklim tidak akan lengkap tanpa membicarakan isu hutan terutama REDD+. Itu juga yang terjadi di dalam meja perundingan UNFCCC. REDD+ menjadi suatu perbincangan yang sangat populer, hingga pada saat pembukaan saja dinyatakan berkali-kali di dalam pernyataan para petinggi negara. Sehingga seakan-akan, hal-hal yang pernah dibicarakan sebelumnya di dalam meja perundingan seperti adaptasi yang penting untuk negara berkembang seperti Indonesia, menjadi agenda tambahan yang “kurang” menarik untuk dibicarakan.


Seperti kita ketahui bahwa REDD+ semenjak pertemuan COP 15 di Copenhagen pembicaraannya mandek dan tidak menemui kemajuan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya menuju COP 16 di Cancun. Namun bukan berarti REDD+ menjadi kurang menarik bagi para negara-negara pemilik hutan ataupun negara-negara Donor. Terdapat suatu inisiatif diluar skema UNFCCC yang menjadi semacam jalan keluar untuk membicarakan REDD+ ditengah mandeknya negosiasi UNFCCC. Inisiatif tersebut yang dikenal dengan REDD+ Partnership (silahkan baca tentang ini di dalam up-date sebelumnya -2 Oktober 2010-).

Setiap harinya para mitra dalam inisiatif ini bertemu di sela-sela pertemuan UNFCCC. Mereka semua memanfaatkan momentum UNFCCC untuk bertemu, karena memang inisiatif yang mereka lakukan sama sekali diluar dari kerangka UNFCCC. Setiap rapat dipimpin oleh 2 orang co-chair yaitu dari Papua New Guinea dan  Jepang. Co-chair tersebut dipilih semenjak awal inisiasi ini dibentuk di Oslo pada May 2010, dengan mekanisme yang telah ditentukan.

Karena inisiatif ini diluar kerangka UNFCCCC, maka ketika menentukan waktu rapat selalu muncul kalimat dari pemimpin rapat yang mengatakan “..baiklah, kita akan rapat lagi esok hari dan undangan akan disebarkan kemudian, karena harus menyesuaikan dengan waktu meeting UN agar tidak bertabrakan..”. Sehingga memang terlihat ini semacam “gank” negara-negara berkembang dan kaya yang ingin bertukan karbon dari hutan. Walaupun sebetulnya jadwal untuk pertemuan rutin inisiatif ini telah ditentukan dari tanggal 2-8 Oktober.

Pertemuan rutin yang direncanakan tersebut paling tidak memiliki 3 agenda utama yang akan dibicarakan. 1) Agenda pembicaraan pertemuan tingkat menteri untuk REDD+ di Nagoya tahun ini, 2) Program kerja untuk inisiatif ini, dan 3) partisipasi para pihak. Ketiga agenda tersebut merupakan agenda utama yang harus dicapai kemajuannya pada rangkaian pertemuan satu minggu ini.

Pertemuan REDD+ Partnership

Pertemuan pertama diselenggarakan pada tanggal 2 Oktober 2010. Pertemuan tersebut bukan merupakan pertemuan para mitra, namun lebih seperti workshop lengkap dengan presentasi dari beberapa pembicara. (laporan pertemuan ini dapat dilihat dari laporan sebelumnya). Pada dasarnya pertemuan ini adalah pertemuan awal sebelum climate talk belum dimulai. Sehingga beberapa pendapat dari para mitra juga disampaikan pada pertemuan ini, sehingga sifatnya brainstorming. Pada pertemuan ini juga di tentukan agenda untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan diselenggarakan pada tanggal 4, 5, 7, dan 8.

Pertemuan kedua dari REDD+ partnership ini sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan diselenggarakan pada hari Senin tanggal 4 Oktober 2010. Agenda dari pertemuan ini masih sama dengan agenda umum yang memang harus dibahas pada rangkaian pertemuan minggu ini, yaitu membahas mengenai pertemuan tingkat menteri di Nagoya, Program kerja untuk REDD+ partnership dan Partisipasi para pihak. Dalam pertemuan kedua ini tidak banyak perbedaan yang didapatkan, para mitra banyak melakukan intervensi yang akhirnya melebar kepada hal-hal diluar agenda yang harusnya di bicarakan. Misalnya Guyan mengeluhkan bagaimana pembicaraan dalam inisiasi ini yang berjalan sangat lambat dan mengingatkan kita bahwa “as the time we speak, the forest are in danger..”. Diamini oleh Perancis yang juga mendukung pendapat dari Guyana tersebut. Indonesia tidak kalah juga menyatakan pendapatnya bahwa perlu dijaga keseimbangan antara proses dan hasil. Sehingga ketika terlalu bertele-tele dalam berproses maka hasil akan lama untuk bisa dicapai.

Waktu terus bergulir dan banyak mitra yang sudah terlihat sedikit gelisah dengan sikap co-chair yang tidak tegas. Terlihat jelas memang sikap co-chair sangat tidak fasilitatif dan tidak tegas dalam arti yang positif. Dari gaya co-chair menampung masukan-masukan dari para pihak, dan memutuskan sesuatu mencerminkan ketidak samaan visi antara co-chair dan peserta inisiatif REDD+ ini. Co-chair banyak menyalahartikan berbagai pendapat yang disampaikan di dalam pertemuan. Banyak pihak (negara maupun stakeholder lainnya) merasa bingung dengan sikap yang ditunjukan oleh co-chair.

Sehingga sampai dengan akhir pertemuan tidak didapatkan suatu hasil yang signifikan dari beberapa agenda yang harusnya dibicarakan, dan diputuskan untuk dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya. Lagi-lagi permasalahan mengenai mekanisme partisipasi publik tidak dibicarakan dan kembali diundur.

Pertemuan ketiga dari REDD+ partnership secara garis besar masih sama dengan pertemuan sebelumnya. Namun terdapat hal menarik dalam pertemuan kali ini. Yaitu dimana pembicaraan mengenai proses partisipasi akan dibahas. Lagi-lagi co-chair bersikap “aneh”, dia menyarankan agar mekanisme partisipasi para pihak dibahas tanpa kehadiran dari stakeholder diluar mitra REDD+ partnership. Sehingga dengan kata lain dia menginginkan bahwa pembicaraan mengenai partisipasi diselesaikan di dalam ruang tertutup tanpa partisipasi. Spontan banyak negara (mitra) yang keberatan dengan hal ini, termasuk Indonesia.  Karena mereka mengharapkan ada keterlibatan pihak lain diluar mitra REDD+ partnership dalam membicarakan prosedur partisipasi.

Pada akhirnya dikeluarkanlah sebuah non-paper (sejenis usulan) dari co-chair mengenai keterlibatan para pihak yang dapat mengikuti forum-forum REDD+. Pada dasarnya non-paper ini menyatakan bahwa forum adalah terbuka, namun keterlibatan didasarkan pada keterwakilan. Namun demikian, ada kekhawatiran yang mengkritisi bahwa usulan tersebut masih memungkinkan dicapainya kesepakatan di dalam kelompok-kelompok kecil yang besar kemungkinannya tertutup. Sehingga keputusan masih sangat bisa disusun dalam ruangan tertutup.

Dalam pertemuan selanjutnya yang dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 7 Oktober 2010, di undur sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Kondisi ini agak terlihat aneh, karena banyak pihak yang sudah berharap dan menunggu tentang kepastian tersebut. Bahkan sempat dikomunikasikan ke Ibu Nur Masripatin, perwakilan dari Indonesia, dan beliau mengatakan masih belum ditentukan. Ini artinya manajmen jadwal pertemuan sangat tidak tersistematisasi dengan baik. Walaupun demikian, ada pertemuan yang sangat tidak formal yang terjadi di dalam koridor gedung pertemuan.

Pada jam yang sama dimana seharusnya pertemuan REDD+ partnership dilaksanakan, Co-chair bersama dengan beberapa mitra dari negara-negara donor mendiskusikan beberapa hal mengenai inisiasi REDD+ partnership tersebut. Terdengar sayu-sayu beberapa kalimat mengenai agenda rapat REDD+ partnership. Namun ditunggu hingga pukul 9 malam waktu Tianjin, tidak ada juga pemberitahuan mengenai tempat pertemuan resminya. Akhirnya banyak stakeholder yang pergi untuk kembali ke tempatnya masing-masing dengan penuh kekecewaan.

REDD+ Partnership dan AWG LCA

Seperti kita ketahui, pada pertemuan bali 2007 yang lalu, salah satu keputusan yang cukup menjadi landmark adalah perlu diselesaikannya Ad hoc Working Group on Long Term Cooperative Action (AWG LCA) pada pertemuan COP 15 di Copenhagen. Dimana dalam AWG LCA tersebut salah satu pembahasannya adalah mengenai REDD yang juga menjadi salah satu kesepakatan di Bali. Namun karena Copenhagen telah menemui sebuah kegagalan total, maka diskusi di dalam AWG LCA terus bergulir hingga saat ini. Kemandekan juga dirasakan oleh praktisi REDD (Donor maupun negara-negara berkembang) dan hal tersebut membuat mereka semua kecewa. Oleh karena itu banyak bermunculan inisiasi untuk REDD diluar kerangka kerja UNFCCC dengan embel-embel akan "complimentary" terhadap semua keputusan UNFCCC. Kita bisa lihat ada Forest Carbon Partnership Facilities (FCPF), ada United Nations REDD (UN-REDD), ada Forest Investment Program (FIP), dan yang terakhir ada REDD+ Partnership. Belum lagi dengan beberapa kegiatan demonstration activities yang digagas oleh banyak organisasi konservasi internasional. 

Berbagai langkah ini merupakan alternatif dari kemandekan negosiasi di dalam UNFCCC. Sehingga banyak jalan yang diambil oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk REDD, walaupun jalan tersebut diluar kerangka UNFCCC. Kerangka bilateral dianggap lebih efektif dan efisien untuk melaksanakan REDD. Tapi pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana nasib AWG LCA sebagai jalur "resmi" pembicaraan terkait dengan REDD..?

Pada dasarnya tidak ada banyak yang berubah dari AWG LCA, kelompok kerja tersebut terus berjalan dengan perdebatannya. Namun inisiatif yang lain juga tetap berjalan dengan semua tantangan yang dihadapinya. Kalau boleh dianalogikan secara sederhana, AWG LCA adalah tempat berkumpul semua jenis pikiran, ada yang baik, oportunis, nakal, dan semua sikap lainnya. Jadi untuk mengambil keputusan di dalam arena yang beragam seperti itu tentunya banyak tantangannya. Sedangkan REDD+ partnership dan inisiatif-insiatif lain yang sejenis adalah tempat berkumpulnya "like minded" group. Semuanya adalah negara-negara dan donor-donor yang meyakini bahwa REDD dan perdagangan karbonnya merupakan obat mujarab untuk menyelesaikan perubahan iklim. Keputusan didalam forum yang like minded tersebut relatif lebih mudah, tidak banyak perdebatan diantara para peserta, yang ada malah pertanyaan "kapan kita bisa mulai REDD nya..". Oleh karena itu transparansi dan keterlibatan para pemangku kepentingan menjadi sangat penting. Karena kalau tidak, walaupun UNFCCC tidak dicapai kesepakatan, REDD tetap bisa berjalan tanpa ada pengawasan dari pihak manapun. 

Untuk menjawab pertanyaan Steni mengenai bagaimana kedudukan AWG LCA dan perdebatan REDD-nya dalam konteks inisiatif REDD+ partnership, bisa dilihat bahwa AWG LCA dan REDD+ partnership akan berjalan pararel. Dan pada akhirnya, hampir pasti naskah AWG LCA yang nota bene adalah naskah resmi UNFCCC banyak dipengaruhi oleh REDD+ partnership tersebut. 

Salam


 
Giorgio Budi Indrarto

Jakarta, Indonesia
Phone:
081385770196
021-93618536



__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___



--
Torry Kuswardono
Blogs:
http://lessersunda.wordpress.com
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages