|
||||
| Penguasaan lahan dan eksplorasi SDA tinggi |
| Warta |
|
HENDRO KOTO Koresponden Aceh WASPADA ONLINE Link:http://www.waspada.co.id/indearx.php?option=com_content&view=article&id=191379%3Apenguasaan-lahan-dan-eksplorasi-sda-tinggi&catid=13%3Aaceh&Itemid=26 BANDA ACEH – Pasca perdamaian antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), persoalan konflik di Aceh telah berubah bentuk menjadi konflik yang bersifat horizontal. Berbagai persoalan konflik yang saat ini makin luas terjadi di Aceh salah satunya adalah konflik mengenai persoalan atas penguasaan lahan dan proses eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA). Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh TM. Zulfikar kepada Waspada Online malam ini. Dijelaskannya, jika konflik ini tidak diselesaikan akar persoalannya, bukan tidak mungkin konflik ini akan semakin meluas dan melibatkan berbagai komponen masyarakat, yang akhirnya berdampak pada proses pembangunan perdamaian di Aceh itu sendiri. Dicontohkannya, berbagai persoalan konflik atas penguasaan lahan antara lain terjadi pada penguasaan lahan pada Ekosistem Ulu Masen, dan selain itu konflik atas eksplorasi SDA yakni bentrokan atar masyarakat dan pengusaha tambang yang terjadi di Kecamatan Leupung, Aceh Besar dalam pengelolaan tambang biji besi oleh PT. Lhoong Setia Minning (LSM), dan juga bentrok masyarakat yang terjadi di Desa Koto, Kecamatan Kluet, Aceh Selatan dalam pengelolaan tambang biji besi yang dilakukan oleh PT. Pinang Sejati Utama (PSU). Menurutnya, berbagai persoalan bentrokan antar masyarakat atas penguasaan lahan dan SDA, jika dibiarkan terus terjadi, akan sangat berpotensi melahirkan konflik social yang akan meluas menjadi konflik horizontal dan secara keseluruhan persoalan-persoalan itu akan mengganggu proses pembangunan perdamaian di Aceh. Tidak hanya itu, tambah TM Zulfikar, penguasaan atas lahan dan eksplorasi SDA telah membuat tingkat kerusakan hutan semakin tinggi, hal ini disebabkan, fungsi hutan telah berubah menjadi areal pertambangan serta pertanian kebun kelapa sawit, dan tentu saja hal ini akan berdampak terhadap persoalan kerusakan hutan yang terjadi di Aceh semakin tinggi. Editor: PRAWIRA SETIABUDI(dat05/wol) |