Kp 01-07 Irigasi Pdf

1 view
Skip to first unread message

Theodora Andy

unread,
Aug 4, 2024, 10:02:11 PM8/4/24
to venhitewi
Kegiatanpeninjauan Daerah Irigasi Kolondom dilakukan berdasarkan salah satu misi Gubernur Sulawesi Tengah terkait infrastruktur irigasi, yaitu misi nomor 3 (tiga): mewujudkan peningkatan pembangunan infrastruktur daerah. Adapun program prioritasnya adalah penyediaan infrastruktur untuk mendorong Sulawesi Tengah sebagai daerah penyangga pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan mendorong peningkatan produktivitas tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan komoditi pertanian lainnya. Sementara itu, Daerah irigasi Kolondom merupakan salah satu infrastruktur irigasi yang dibangun pada tahun 1978 dan mengairi pertanian sawah di 6 desa di Kabupaten Toli-Toli yaitu: Desa Kalangkangan, Desa Sandana, Desa Lantapan, Desa Ogomoli, desa kinapasan dan Desa Lakatan dengan luas potensial 1.300 Ha, dan menghasilkan produksi beras sebesar 8.100 Ton per-tahun.

Keruntuhan bendung irigasi di samping disebabkan oleh survei dan investigasi yang tidak akurat, perencanaan yang tidak seksama, pelaksanaan implementasi yang kurang baik, operasi dan pemeliharaan yang tidak memadai, tetapi juga disebabkan kesalahan pemilihan lokasi bendung. Faktor awal yang mempengaruhi kinerja bendung adalah ketepatan lokasinya. Bendung akan kuat menahan gaya yang bekerja, hantaman banjir, gerusan lokal, degradasi sungai sejauh lokasinya tepat. Tulisan ini menyajikan sebelas syarat dalam pemilihan lokasi bendung untuk mendapatkan kinerja yang baik, yaitu: kondisi topografi, geoteknik, hidraulik, rejim sungai, saluran induk, ruang lokasi bendung, luas layanan, daerah aliran sungai, pencapaian, justifikasi ekonomi, tingkat penerimaan pemangku kepentingan. Analisa korelasi antara pemilihan lokasi bendung saat perencanaan dan kinerjanya, dikombinasikan dengan pengamatan lapangan dengan melakukan peninjauan langsung dan dialog dengan penjaga operasi bendung untuk menjustifikasi 11 syarat tersebut. Umumnya penyebab kesalahan pemilihan lokasi bendung antara lain: kurangnya kemampuan tenaga ahli irigasi, dana yang terbatas, waktu dan sumber daya yang tidak memadai, rendahnya profesionalisme tenaga ahli irigasi.


Usaha peningkatan dalam pengairan adalah eksploitasi dan pemeliharaan. Sebagian besar saluran di Daerah Irigasi Sumenep terutama pada saluran primer mempunyai tingkat kehilangan yang tinggi akibat penguapan dari rembesan air ke dalam tanah,terjadi pendangkala saluran akibat erosi yang disebabkan kikisan aliran air Kinerja saluran Primer dan Bangunan Bagi Sadap, serta mengetahui pekerjaan pemeliharaan yang harus dilakukan dan diprioritaskan untuk mempertahankan kondisi jaringan irigasi Tambak Agung. Metode penelitian dilakukan dengan observasi langsung ke lapangan Pengumpulan data sekunder berupa dimensi dan debit rencana saluran, skema jaringan irigasi, data curah hujan, dan klimatologi. Data curah hujan dan klimatologi digunakan untuk menghitung kebutuhan air irigasi. Berdasarkan analisa dan perbandingan di lapangan Demensi saluran Primer dan Bangunan Bagi Sadap tidak perlu di rencanakan ulang atau di perbesar karena kondisi di lapangan sudah mencukupi yaitu untuk Primer Tambak Agung Aries b : 2.40 m dan h :2.10m dan untuk Tambak Agung Tengan b: 2.30 m dan h : 2.45m Untuk pemeliharaan saluran Primer dan Bangunan Bagi Sadap berdasarkan skala prioritas yang di bagi menjadi 3 bagian yaitu:Rutin,Berkala dan darurat pergantian pintu air pada bangunan Bagi Sadap yang rusak total di 8 titik yaitu di BTA 2 Ka 2 pintu, BTA 6, BTA 6 Ki,BTA 8Ka 3 pintu dan BTA 3 Ki 1 pint


akibat penurunan kemampuan alam dalam menyimpan dan menyediakansumber air. Untuk menyikapi kondisi terakhir tersebut maka perlu dilakukan usaha peningkatan. efisiensi irigasi tetes (drip) mampu mencapai 87% - 95%. Masyarakat Parsanga Umumnya merupakan Petani dengan sebagian besar lahan pertanianya merupakan lahan kering Cara pemberian air yang diterapkan oleh masyarakat tidak efektif, efisien dan hasilnya kurang merata. Sistem irigasi tetes adalah salah satu alternatif dalam menyelesaikan masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mencari kebutuhan air tanaman danUntuk desain sistem irigasi tetes yang optimal.Metode pengumpulan data dengan Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah diskripsi analisis untuk memberikan gambaran terhadap data dan informasi yang telah diperoleh.Kebutuhan air irigasi di lahan kering desa Parsanga adalah


5.450.336,64 liter/hari sedangkan ketersediaan air yang keluar dari mesin pompa adalah 3.386.880 liter/hari. berdasarkan masa pertumbuhan di bagi menjadi 8 periode periode I 20.56jam/hari.PeriodeII 26.73jam/hari periode III,IV dan V 23 jam/hari dan periode VI,VII dan VIII 31jam /hari dalam perencanaan Irigasi Tetesnya dan Hasil rancangan jaringan perpipaan sebagai berikut: Dimensi pipa utam 4 inci panjang total 400 m Dimensi pipa pembagi 2 inci panjang total 200 m Dimensi pipa lateral inci panjang 100 m Kehilangan energi total (Head total pompa) sebesar 15,16 m


ACEH UTARA. Untuk membantu kelancaran dalam pengolahan lahan pertanian serta mendukung kebutuhan air bagi para petani, Babinsa Koramil 07/Mrm Kodim 0103/Aceh Utara Serda Rahmat Syahran bersama warga membersihkan saluran irigasi pengairan menuju arah kesawah di Desa Pulo Bluek, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (06/01/2024)


Kegiatan ini dilakukan Babinsa Serda Rahmat Syahran bersama warga kelompok tani dikarenakan saluran irigasi yang kurang lancar akibat banyaknya sampah maupun tumbuhan liar di musim penghujan, sehingga terjadi penyumbatan disepanjang saluran irigasi tersebut.


Babinsa mengatakan Kerja bakti ini merupakan salah satu upaya untuk menyukseskan program Hanpangan bersama Kelompok Tani (Poktan) membersihkan Gulma/Rumput serta saluran Irigasi, maka harus dilakukan pembersihan saluran air, supaya tidak tersumbat yang dapat menyebabkan saluran air macet.


Babinsa Serda Rahmat juga berharap untuk kedepannya kepada kelompok tani khususnya dan warga masyarakat selalu peduli terhadap sarana irigasi, kegiatan ini secara rutin harus kita laksanakan, karena mayoritas penduduk disini bermata pencaharian sebagai petani.


(jumat5/1/23) Pagi ini sejumlah Warga di RT 03 RW 01 Desa Margorejo melaksanakan kegiatan kerja bakti menghadapi musim hujan, kegiatan yang rutin di laksanakan oleh warga RT 01 RW 03 setiap tahun di musim hujan tentang kepedulian warga terhadap lingkungan di sekitar terutama di saluran irigasi got dan rumput yang terlihat panjang, Bapak Sodikin selaku Ketua RT 03 RW 01 memberitahukan kepada warga tentang perlunya menjaga lingkungan supaya terbebas dengan berbagai macam penyakit, ada sekitar 30 warga yang sigap dan ikut dalam membersihkan lingkungan sebagian ada yang membawa cangkul dan membawa clurit/aret,

''tidak hanya di musim hujan tapi kegiatan rutin ini akan selalu kami laksanakan bersama warga tentang perlunya menjaga kebersihan lingkungan '' kata bapak sodikin selaku ketua RT 01 RW 03


Dalam rangka pengembangan Kawasan Timur Indonesia serta upaya peningkatan produksi pertanian khususnya padi dalam mendukung Kedaulatan Pangan Nasional melalui kegiatan kegiatan Peningkatan Luas Layanan Jaringan Irigasi melalui Program Pembangunan Jaringan Irigasi Baru 1 Juta Hektar, maka pemerintah antara lain melakukan perluasan lahan produksi pertanian dengan jalan melaksanakan program pembangunan/peningkatan jaringan irigasi untuk meningkatkan produksi pertanian terutama padi dan palawija dengan sistem irigasi teknis serta penyebaran penduduk dibidang ketransmigrasian.


Penelitian ini dilaksanakan di saluran sekunder Akelamo Kiri, Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara mulai bulan Agustus 2021 sampai dengan September 2021. Metode yang digunakan adalah metode survei berupa survei lapangan dan pustaka, pengumpulan data-data dan wawancara langsung dari instansi terkait serta petugas lapangan. Data dianalisa dengan metode deskriptif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.


Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan irigasi dengan pola tanam padi-padi-palawija. Perhitungan kebutuhan air untuk padi digunakan varietas unggul dengan metode FAO dan untuk jenis palawija yang digunakan merupakan jenis tanaman jagung. Dari hasil analisis ini didapatkan nilai evapotranspirasi (Eto) nilai maksimum berada pada bulan Oktober yaitu 15,55 mm/hari. Untuk kebutuhan air irigasi pada tanaman padi nilai maksimum pada bulan Januari ke-1 yaitu 7,24 mm/hari sedangkan tanaman palawija nilai maksimal pada bulan Januari ke-1 yaitu 5,17 mm/hari.


Dokumen tersebut membahas tentang kriteria perencanaan irigasi di Indonesia. Secara garis besar, dokumen ini menjelaskan tiga tingkatan jaringan irigasi yaitu irigasi sederhana, semiteknis, dan teknis beserta unsur-unsurnya. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan proses perencanaan irigasi mulai dari tahap studi, perencanaan awal hingga akhir, serta data dan pengukuran yang dibutuhkan dalamRead less


Hal mengkuatirkan lainnya terkait kondisi irigasi yang dapat mengancam ketahnan pangan nasional adalah alih fungsi lahan, dari pertanian padi beririgasi beralih ke pertanian non padi, seperti perkebunan, bahkan hingga beralih ke industri atau perumahan. Langkah yang bisa diambil menanggulangi hal ini yaitu Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota) secara sinergis melakukan peningkatan pembangunan tampungan air, melaksanakan upaya konservasi di daerah resapan untuk menanggulangi kelangkaan air. Untuk daerah yang irigasi nya rusak harus dilakukan upaya pemeliharaan rutin dan rehabilitasi.


Pemerintah melalui program besar Nawacita, salah satunya memprioritaskan kebijakan dalam hal iriagsi untuk mendukung ketahanan pangan, dengan melakukan pembangunan berkelanjutan, meningkatakan distribusi yang dapat dilakukan dalam bentuk meningkatkan keandalan prasarana jaringan irigasi.


Dalam kegiatan ini dijelaskan bahwa untuk pelaksanaan jaringan baru, perlu dilaksanakan MoU Pemerintah baik di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota secara bersama. MoU ini meliputi tugas dan tanggung jawab dalam pembangunan jaringan irigasi.


DAK bersumber dari APBN untuk mendanaai kebutuhan prasarana dan sarana masyarakat dalam mempercepat pembangunan daerah demi mencapai sasaran stretegis Nasional. DAK ke depan terbagi dalam tiga hal yaitu DAK regular, yaitu untuk peningkatan irigasi yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages