Trematoda Darah

0 views
Skip to first unread message

Denisha Padley

unread,
Aug 5, 2024, 10:42:14 AM8/5/24
to tualdsaltboli
Trematodaatau disebut juga cacing isap adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Platyhelminthes. Jenis cacing Trematoda hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Tubuhnya dilapisi dengan kutikula untuk menjaga agar tubuhnya tidak tercerna oleh inangnya dan mempunyai alat pengisap dan alat kait untuk melekatkan diri pada inangnya. Contoh anggota Trematoda adalah Fasciola hepatica (cacing hati). Cacing ini hidup di hati ternak kambing, biri-biri, sapi, dan kerbau.[1]

Trematoda mencakup 18.000[2] hingga 24.000[3] spesies, terbagi menjadi dua subkelas. Hampir semua trematoda adalah parasit pada moluska dan vertebrata. Subkelas kecil Aspidogastrea, mencakup sekitar 100 spesies, adalah parasit obligat pada moluska dan dapat juga menginfeksi kura-kura dan ikan, termasuk ikan bertulang rawan. Digenea, subkelas dari mayoritas trematoda, adalah parasit obligat moluska dan vertebrata, tetapi jarang menginfeksi ikan bertulang rawan.


Trematoda darah adalah salah satu trematoda yang habitanya di dalam darah, trematoda darah merupakan trematoda yang termasuk golongan anhermaprodit (organ genital terpisah). Spesies-spesies penting dan dapat menimbulkan penyakit pada manusia adalah Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium. Ketiga spesies tersebut mempunyai kemiripan pada lingkaran hidup dan perubahan-perubahan patologis pada hospes, tetapi berbeda dalam morfologi cacing dewasa, telur, larva, jenis keong sebagai hospes perantara dan tempat hidupnya di dalam hospes definitif. Disamping ketiga spesies diatas, terdapat pula spesies-spesies lain yang kebanyakan adalah parasit pada burung dan tikus sawah antara lain : Schistosoma intercalatum, Schistosoma muttheri, dan Schistosoma bovis yang dapat menimbulkan penyakit disebut cercarial dematitis atau swimmer itch atau penyakit air bebek atau sawah itch. Pada penyakit ini cercaria Schistosoma berbagai hewan dapat menembus kulit manusia, tetapi tidak menjadi dewasa dan akan mati. Kelainan dengan gejala gatal-gatal hanya terbatas pada kulit.


Founder Indonesian Medical Laboratory dan seorang Analis Kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di Jakarta. Saya bukan seorang yang ahli, tapi saya mau berbagi. Jika ada pertanyaan, saran, kritik atau ada artikel yang menurut anda salah silahkan tulis dikomentar biar saya perbaiki.


HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP TINDAKAN PENCEGAHAN SCHISTOSOMIASIS DI DESA WUASA, KECAMATAN LORE UTARA, KABUPATEN POSO,

SULAWESI TENGAH

Akmanto Kombong Sulu*, Vera Diana Towidjojo**

***Ketut Suarayasa****Nur Indang



* Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako

**Dosen Bagian Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako

***Dosen Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako

****Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako



ABSTRAK



Pendahuluan: Schistosomiasis merupakan penyakit parasitik yang bersifat zoonosis dengan siklus penularan yang sangat kompleks, penyakit ini diakibatkan oleh cacing genus Schistosoma dimana cacing ini merupakan jenis cacing trematoda darah. Menurut dinas kesehatan Sulawesi tengah angka kejadian Schistosomiasis tertinggi di dapatkan pada dataran tinggi Napu.



Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap Masyarakat terhadap tindakan pencegahan Schistosomiasis di Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.



Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif. Adapun desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Teknik pengambila sampel dalam penelitian ini menggunakan Accidental sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 72 responden. Analisis bivariat menggunakan uji statistic Chi-Square.



Hasil: Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan 97 sampel yang memiliki pengetahuan baik tentang schistosomiasis sebanyak 62 responden (63,9%), Sikap baik tentang schistosomiasis sebanyak 86 responden (88,7%), Tindakan baik tentang schistosomiasis sebanyak 66 responden (68%). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square hubungan pengetahuan dan tindakan pencegahan schistosomiasis P value = 0,092. Sedangkan hubungan sikap dan tindakan pencegahan schistosomiasis P value = 0,000.

Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan Schistosomiasis dan terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan Schistosomiasis.



Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Tindakan Pencegahan, Schistosomiasis




Pemateri utama, Prof drh Fadjar Satrija M Sc Ph D mengatakan Schistosoma lebih terkenal dengan nama cacing darah atau blood flukes dari Genus Trematoda yang hidup dalam saluran tubuh yang memiliki aliran darah. Beberapa jenis spesies schistosoma dapat menyebabkan Schistosomiasis zoonosis yang dapat menyerang manusia maupun sesama hewan. Namun sebagian lainnya hanya menginfeksi hewan seperti Schistosoma nasale dan Schistosoma Bovis.


Dosen SKHB IPB University tersebut menuturkan upaya pengendalian Schistosomiasis pada ternak dapat melalui dua upaya, yaitu pencegahan penularan dan pengobatan. Pencegahan dapat menggunakan pengandangan, penyediaan lahan gembala yang bebas dari inang antara lewat upaya pemagaran, hingga melakukan mekanisasi pertanian. Sedangkan upaya pengobatannya adalah Praziquantel.


Indonesia masih memiliki satu daerah endemik Schistosomiasis yaitu di kawasan Indonesia bagian tengah. Infeksi tersebut menjadi masalah kesehatan masyarakat yang bermula pada pengendalian sejak tahun 1975. Untuk saat ini, prevalensi pada manusia relatif menurun namun dengan angka yang masih fluktuatif.


Penyebaran hewan reservoir Schistosoma Japonicum di Sulawesi Tengah terdapat pada Kerbau, kuda, sapi, babi, anjing, rodensia liar, celedu, hingga rusa. Hewan tersebut merupakan agen yang membawa infeksi. Prof Fadjar menyebut sangat perlu menghindari inang perantara yang dapat menyebabkan infeksi langsung ke manusia maupun hewan yaitu siput.


Latar Belakang: Schistosomiasis atau demam keong merupakan penyakit infeksi cacing trematoda darah spesies Schistosoma sp. Schistosomiasis menginfeksi lebih dari 230- 250 juta manusia setiap tahunnnya dan menyebabkan kematian sebanyak 280.000 setiap tahun. Di Indonesia kasus schistosomiasis hanya ditemukan di dataran tinggi Lindu, Napu dan Bada, Sulawesi Tengah. Prevalensi schistosomiasis di Lembah Napu sejak tahun 2008 hingga tahun 2018 masih diatas 1 %. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain status sosial ekonomi, budaya dan prilaku masyarakat.


Metode: Menggunakan desain cross sectional study selanjutnya penentuan sampel menggunakan teknik Proportional Sampling sehingga didapatkan total subjek sebanyak 80 orang. Faktor-faktor yang diteliti yaitu tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, status pekerjaan (petani/ bukan petani) dan kebiasaan mandi cuci. Pengukuran faktor-faktor tersebut menggunakan kuisioner.


Kesimpulan: faktor risiko yang berhubungan dengan prilaku pencegahan Schistosomiasis yaitu tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan dan kebiasaan mandi cuci sedangkan jenis pekerjaan (petani/bukan petani) tidak memiliki hubungan dengan prilaku pencegahan Schistosomiasis.


Etiologi schistosomiasis adalah trematoda darah dari genus Schistosoma. Terdapat tiga spesies yang mampu menginfeksi manusia, yaitu Schistosoma haematobium, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma japonicum. Trematoda lain biasanya bereproduksi secara hermafrodit, sedangkan Schistosomiasis bersifat dioecious.[5]


Telur Schistosoma dieliminasi melalui feses dan urin. Telur yang mendapatkan lingkungan yang sesuai dapat menetas dan melepaskan miracidia. Miracidia mampu berenang dan melakukan penetrasi ke jaringan siput sebagai pejamu antara. Selama dalam jaringan siput, mirasidium menjadi sporokista dan membentuk serkaria.[5]


Serkaria adalah bentuk infektif yang mampu menembus kulit manusia sebagai pejamu utama. Serkaria yang telah menembus kulit manusia melepaskan ekornya dan menjadi schistosomula yang mampu bermigrasi melalui sirkulasi darah dan berkembang di hepar.


Jika sudah menjadi dewasa, cacing akan keluar melalui vena porta menuju vena mesenterika dan melepaskan telur yang akan dikeluarkan melalui feses yang dapat diidentifikasi pada pemeriksaan feses. Cacing dewasa juga mampu menuju vena buli dan bertelur yang dikeluarkan melalui urin.[5]


Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah


Pada spesies F. hepatica, cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu hewan ruminansia dan manusia. Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).


Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu). Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis. Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.


Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica. Apabila rumput tersebut termakan oleh hewan ruminansia dan manusia, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa disana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages