KelahiranNabi Ismail menjadi tonggak sejarah peradaban umat Islam di Mekkah yang semula tidak berpenghuni menjadi tempat yang paling dirindukan. Sudah banyak yang membahas sejarah kurban dari sudut pandang Nabi Ibrahim. Lantas, bagaimana dari sudut pandang anaknya? Inilah rangkuman kisah Nabi Ismail yang lengkap supaya Sahabat jadi tahu asal mula ibadah haji dan kurban.
Ismail lahir di Kanaan. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar awalnya tinggal bersama di Palestina. Suatu hari Allah menguji Nabi Ibrahim untuk memboyong Ismail kecil dan Siti Hajar ke tempat tandus. Hajar yang penasaran bertanya kepada Nabi Ibrahim mereka akan pergi ke mana, sedangkan lembah tidak berpenghuni. Ia terus mengulang pertanyaan hingga akhirnya keluar perkataan pamungkas,
Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan perasaan kalut sambil berdoa agar Allah senantiasa melindungi mereka. Demikian Hajar yang terus meyakinkan dirinya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya sendiri. Ia bertahan hidup dari bekal air yang dibawa dari Syam (Palestina).
Lama kelamaan persediaan bekal habis. Hajar haus, begitupula Ismail kecil yang menangis untuk meminta minum. Hajar pun berusaha mencari sumber mata air dengan berlari dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Hasilnya nihil karena tempat tersebut tidak ada penghuni selain mereka berdua.
Tiba-tiba ada yang menyapa Hajar saat ia berada di puncak bukit Marwah. Ia dengarkan dengan seksama bahwa seseorang akan menolong Hajar dan anaknya. Ternyata, Allah menurunkan malaikat Jibril untuk membuat sumber mata air yang kelak menjadi buah tangan favorit para jamaah haji.
Pelan-pelan, Hajar dan Ismail menemukan kehidupan di Makkah berkat Air Zamzam. Suatu ketika, datang suku Jurhum yang sedang mencari air. Mereka melihat ada burung berputar-putar dan berharap itu tanda adanya sumber air. Mereka menebak-nebak sambil berharap.
Ismail belajar bahasa Arab dari suku Jurhum dan tumbuh menjadi anak yang cerdas, berperilaku baik, sopan, dan taat kepada Allah seperti yang ibunya ajarkan. Tahun demi tahun berlalu, Ismail tumbuh dewasa hingga akhirnya siap bertemu ayahnya, Nabi Ibrahim, untuk melepas rindu.
Nabi Ibrahim rutin berkunjung ke Mekkah untuk bertemu anak tercinta. Lalu, Allah menguji kembali keimanan Nabi Ibrahim dengan memberinya mimpi untuk menyembelih anaknya. Mimpi nabi merupakan pertanda wahyu atau perintah kurban akan turun. Ia meminta pendapat anaknya. Tak butuh waktu lama, Ismail meminta bapaknya untuk patuh pada perintah Allah.
Nabi Ibrahim membawa Ismail ke perbatasan Mina dan Muzdalifah. Menurut catatan sejarah, lokasi penyembelihan berada di Jabal Qurban. Masih dekat dari tempat peristiwa, iblis menggoda Nabi Ibrahim supaya penyembelihan batal. Tak tinggal diam, ia menyambitnya dengan batu yang kini dikenal dengan sebutan lempar jumroh saat prosesi haji.
Setelah sampai di Jabal Qurban, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan tutup matanya dengan kain putih. Saat pisaunya siap menyembelih anaknya, malaikat Jibril gantikan dengan seekor sembelihan yang besar. Kejadian tersebut Allah catat dalam surat As-Shafaat ayat 107.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Kibas adalah hewan persembahan dari Habil saat ia berkompetisi dengan Qabil. Tujuannya yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah menerima kurbannya, lalu kambing tersebut dipelihara di surga untuk menebus Ismail.
Kisah petualangan anak dan bapak yang Allah istimewakan ini masih berlanjut. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun kabah sebagai rumah ibadah pertama bagi manusia. Ia membangun kabah langsung di bawah bimbingan Allah melalui perantara awan.
Usai menentukan derajat posisi, Nabi Ibrahim membangun pondasi. Lalu, ia meminta tolong kepada Ismail untuk mencari batu paling bagus sebagai penanda manusia. Ismail bertemu Jibril dan memberikannya batu hitam yang dikenal sebagai Hajar Aswad. Ia berlari menemui ayahnya untuk memberikan batu cantik tersebut. Betapa senangnya Nabi Ibrahim hingga mencium batu tersebut berkali-kali.
Usai peletakan batu, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa kepada Allah agar banyak yang berkunjung ke Mekkah untuk melihat Kabah. Allah mengabulkan doanya hingga masuk ke dalam rukun Islam kelima, menunaikan haji jika mampu. Bekas pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Kabah diabadikan dengan sebutan Maqam Ibrahim.
Ismail diangkat menjadi nabi dan berdakwah di Mekkah untuk menyembah dan bertakwa kepada Allah. Nabi Ismail wafat di Mekkah dan dimakamkan di Hijr Ismail. Menurut catatan sejarah, lokasi makam Nabi Ismail sama seperti makam ibunya, Siti Hajar.
Nabi Ismail adalah anak shaleh yang percaya dengan kekuasaan Allah. Tanpanya, umat Islam tidak akan mengetahui esensi kurban agar manusia saling berbagi satu sama lain. Selain itu, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Selama manusia berusaha mencari solusi, maka Allah akan bantu hambaNya keluar dari krisis.
Sebagai langkah nyata untuk meneruskan perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kurban sebagai ibadah sosial memiliki implementasi untuk masalah kesenjangan makan daging sehat. Mengacu pada riset yang dilakukan oleh Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada 2021, kurban di Indonesia berpotensi tidak tersebar secara merata karena menumpuk di wilayah metropolitan di Pulau Jawa.
Intervensi dari lembaga filantropi Islam dibutuhkan sebanyak 40% kepada penduduk termiskin di Indonesia atau 99 juta jiwa agar mereka menikmati protein hewani dari daging kurban. Dengan begitu, diperkirakan butuh 3,25 kilogram per kapita/ tahun yang setara dengan 322 ribu ton daging per tahun untuk menurunkan kesenjangan daging.
Maka dari itu, Program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa menebar kebaikan kurban dari hulu ke hilir sejak tahun 1994. Implementasi kurban sebagai ibadah sosial digerakkan oleh Dompet Dhuafa untuk pemberdayaan para peternak lokal hingga upaya mengurangi kesenjangan makan daging yang terlalu menumpuk di kota metropolitan di Pulau Jawa.
Hewan ternak dari Dompet Dhuafa dijaga dengan cinta, dengan quality control yang sesuai. Pilih hewan kurbanmu online dari mana saja, manfaat dan berkahnya sampai ke pelosok Indonesia. Yuk kurban di Dompet Dhuafa terbukti mudah dan terpercaya sejak 1994. (
Zakat.or.id/Halimatussyadiyah)
Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternakannya dan harta miliknya yang telah diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a. berkata:
Untuk sesuatu hikmah yang belum diketahui dan disedari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan ditempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan.
Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.
Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang memenatkan, tibalah pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah kota suci dimana Kaabah didirikan dan menjadi kiblat manusia dari seluruh dunia. Di tempat di mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan di situlah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan hanya dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman sedangkan keadaan sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering. Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Ibrahim seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. Ia seraya merintih dan menangis, memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong itu, tiada seorang manusia, tiada seekor binatang, tiada pohon dan tidak terlihat pula air mengalir, sedangkan ia masih menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. Nabi Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tergamak meninggalkannya seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi akan tetapi ia sedar bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah kehendak Allah s.w.t. yang tentu mengandungi hikmat yang masih terselubung baginya dan ia sedar pula bahawa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dan segala kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar:
Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan genggamannya pada baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang untanya kembali ke Palestin dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi tubuh Ismail yang sedang menyusu. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya keetika ia turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestin di mana isterinya Sarah sedang menanti. Ia tidak henti-henti selama dalam perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan, rahmat dan barakah serta kurniaan rezeki bagi putera dan ibunya yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya:" Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu (Baitullahil Haram) di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lazat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu."
Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar dan puteranya di tempat yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan perlindungan-Nya. Bekalan makanan dan minuman yang dibawanya dalam perjalanan pada akhirnya habis dimakan selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka mulailah terasa oleh Hajar beratnya beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus menyusu anaknya, namun air susunya makin lama makin mengering disebabkan kekurangan makan. Anak yang tidak dapat minuman yang memuaskan dari susu ibunya mulai menjadi cerewet dan tidak henti-hentinya menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas mendengar tangisan anaknya yang sangat menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dapat meringankan kelaparannya dan meredakan tangisan anaknya, namun sia-sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah menuju Bukit Safa kalau-kalau ia boleh mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya tetapi hanya batu dan pasir yang didapatnya disitu, kemudian dari Bukit Safa ia melihat bayangan air yang mengalir di atas Bukit Marwah, dan larilah ia berharwahlah ke tempat itu, namun ternyata bahawa yang disangkanya air adalah fatamorgana bayangan belaka dan kembalilah ke Bukit Safa kerana mendengar seakan-akan ada suara yang memanggilnya tetapi gagal dan melesetlah dugaannya. Demikianlah maka kerana dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar mundar-mundir berlari sampai tujuh kali antara Bukit Safa dan Marwah yang pada akhirnya ia duduk termenung merasa penat dan hampir berputus asa.
3a8082e126