Kopi Susu Seduhan Ibu
Oleh: Clesia Margaretha
http://pembelajar.com/writingschool/?p=706
Hari ini teman-temanku berkumpul di kantin sekolah membawa termos berisi
air panas. Di sisi termos, satu kantung plastik tergeletak. Kulirik
isinya. Ternyata bungkusan kopi instan. Di sekelilingku, anak-anak
berkerumun dan mengobrol ramai. Sepintas mirip dengungan lebah.
Tiba-tiba seseorang berteriak: awas, anak-anak, air panas! Di tangannya
tergenggam kong* stainless dengan awan putih di atasnya.
Zat panas yang mengepul dengan aroma kopi itu tiba-tiba membesar,
mengurung dan membawaku kembali ke masa lalu. Kira-kira seperempat abad
silam…
Kala itu aku masih kanak-kanak. Aku selalu terbangun setiap sore. Tidur
siang yang lelap hanya bisa diusir dengan wangi kopi susu bercampur
dengan aroma magrib. Itu tandanya sebentar lagi aku bisa harus mandi
sore, makan, dan yihhaa aku bisa minum kopi susu buatan ibu.
Buatku kopi susu ibu paling enak sedunia. Aku sudah pernah minum kopi di
kedai-kedai Itali, Perancis, dan kota-kota lain di Eropa. Tapi tidak
ada kopi susu seenak buatan ibuku. Aku juga pernah membeli kopi kemasan
dengan merek seperti yang dipakai ibuku dulu (Ibuku tidak pernah
menggiling atau membuat kopi sendiri. Ia hanya membeli kopi kemasan,
menyeduhnya, membuat dua kali putaran dengan melingkarkan kaleng susu
kental manis yang telah dibolongi salah satu ujungnya di atas kong
kopi).
Dan aku melakukan persis seperti yang dilakukan ibu. Tapi rasanya tidak
pernah sama. Pada saat itu aku berpikir, bahwa ibuku harusnya membuka
kedai kopi. Tapi kemudian pikiran itu aku tepis jauh-jauh. Karena sudah
pasti pelanggannya hanya aku saja dan kakak-kakakku, berhubung setiap
orang punya ibu dan pasti mereka juga hanya menyukai kopi buatan ibu
mereka masing-masing.
Ritual tiap sore itu berlangsung sama. Aroma kopi, aku bangun tidur,
berkumpul bersama kakakku mengelilingi meja makan, saling beradu supaya
bisa paling dekat untuk mencium aroma kopi wangi seduhan ibu. Dan
biasanya ibu selalu berteriak: awas, anak-anak, air panas!
Dan di tengah kepulan asap itu pula, aku bisa dengan mudah menceritakan
teman yang sering membully aku di kelas dengan tenang, tanpa emosi.
Rasanya aroma kopi susu itu menghapus dengan sukses semua kekesalanku
tanpa bekas.
Begitu setiap sore selama bertahun-tahun. Dengan kopi susu buatan ibu,
aku berhasil melalui kekesalan ketika aku tersiram satu botol tinta
temanku, kesedihan saat teman baikku pindah ke luar kota, kekecewaan
karena tidak dapat membeli buku akibat uangku hilang.
Dengan kopi susu ibu pula, aku melatih kesabaran saat harus belajar
ditemani sebatang lilin saat mati lampu, kerelaan menyalin kembali satu
buku catatan tebal yang hilang entah ke mana, keuletan ketika harus
menghafal banyaknya pelajaran menjelang ujian.
Ibuku telah lama tiada. Namun ketika mencium wangi kopi, aku akan selalu
mengenangnya. Dan…kopi susu seduhan ibu adalah yang terbaik. Awas,
anak-anak, air panas!
*Kong: Cangkir yang terbuat dari bahan alumunium atau stainless steel, biasanya digunakan untuk wadah minuman panas.
*) Clesia Margaretha, alumni Menulis Buku Best-Seller Writing School ini dapat dihubungi di:
layc...@gmail.com