You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to trainer...@googlegroups.com
Menulis itu menyehatkan. Menulis bisa mengalirkan
endapan kepiluan, kemirisan, kedukaan akibat goncangan pengalaman hidup yang
bertubi-tubi. Menulis adalah ungkapan paling jujur bagaimana endapan itu
dialirkan. Ajaib, menulis itu menyembuhkan.
Inilah
pengalaman seorang mahasiswi, anak sahabat saya, yang saya tahu sangat berliku
menjalani hidup. Sejak kecil ia kurang memperoleh kasih sayang orang tuanya.
Ibunya mengalami tekanan mental yang sangat kuat sehingga tidak bisa
mengasuhnya. Ayahnya merupakan tipe yang sangat kaku. Jarang berkomunikasi
dengan anaknya. Kalau pun melakukannya, kekakuan komunikasi menjadikannya sulit
mengakomudir kepiluan anaknya.
Beruntung ia memiliki embah
yang sejak kecil mengasuhnya dengan kasih sayang yang berlimpah. Bahkan
cenderung berlebihan, karena begitu memanjakannya. Seringkali pola asuhnya jauh
berbeda dengan ayahnya yang keras dan kaku. Tetapi, kasih sayang embahnya tak
bisa mencukupi kasih sayang orang tuanya, terutama ibu. Ada ruang kosong di
bathinnya yang tidak terisi.
Akibatnya gadis ini tampil
dengan “keperibadian ganda”. Kadang tampil dengan lembutnya, tetapi tiba-tiba
hadir sebagai pemberontak. Terutama ketika ia didera masalah, pertahanan
psikologisnya rapuh. Emosinya meledak-ledak. Cara pikirnya pendek. Sering kabur
dari rumah tanpa pernah memberi tahu kemana. Terkadang berteriak sambil
menyalahkan orang yang menenangkannya. Semua keinginannya harus dituruti. Meski
kemudian pilihannya salah, ia tetap tidak pernah kapok. Ia begitu sulit menerima
pendapat siapapun. Mulai
Menulis Suatu hari, gadis yang baru semester awal ini, main
ke rumah. Atas dasar ingin mengenalkannya pada “sahabat yang paling aman”
sebagai tempat curhat, saya bilang sama dia, “menulis itu sahabat yang paling
jujur.” Ketika punya masalah, kita bisa menuliskannya. Bersama kata,
kalimat, dan paragraph yang kita bangun kebahagiaan hati ikut menjulang. Endapan
marah, benci, kesal, trauma, semuanya lebur dalam bangunan kata, kalimat, dan
paragraph itu. Ya semuanya luruh.
Saya pun memperlihatkan
tips menulis yangfilenya saya dapatkan dari blogshop kompasiana,
tips “menulis cepat, menarik, dan bermanfaat” ala mas
Iskandarjet. Rupanya ia tertarik. Kemudian saya usul untuk membuatkannya akun di
kompasiana (maaf saya rahasiakan), ia pun mau.
Sejak itu,
ia mulai belajar menulis. Pengalaman kesehariannya sering dijadikan thema
menulis. Kadang ada kisah sedih, senang, kesumpekan, dan kebahagiaan. Semuanya
ia tampilkan dengan jujur. Meski ia relative baru menulis, ia termasuk
produktif. Setiap hari ia paling tidak mem-publish satu tulisan di
Kompasiana. Meski belakangan ini intensitasnya sudah mulai
menurun. Hidup Lebih Berwarna Perkenalannya dengan dunia menulis, menjadikan hidupnya lebih
berwarna. Wajahnya tidak lagi ditekuk kemurungan. Saya melihat dengan jelas ada
keceriaan di wajahnya. Ketika ia mengirim SMS ia selalu bilang baik-baik saja,
meski saya tahu masalahnya belum selesai semua. Tetapi ini sudah kemajuan,
mengingat hal itu jarang diucapkan sebelumnya.
Saya juga
melihatnya ia tambah dewasa. Terutama dalam merespon masalah ia lebih bisa
menerima pendapat orang lain. Meski awalnya tetap meledak-ledak, tetapi perlahan
ia bisa berpikir lebih seimbang, mendayung di antara emosi dan
rasioanalitas.pada hal sebelumnya sulit saya temukan dalam cara pikirnya,
kecuali satu, sangat emosional.
Saya tidak hendak mengatakan
bahwa dengan menulis permasalahan hidup akan selesai semua, termasuk masalah
yang mendera mahasiswi ini. Tetapi perkenalannya dengan dunia menulis, ternyata
menjadikannya lebih nyaman menjalani hidup. Lebih optimis dan lebih dewasa.
Inilah yang meyakinkan saya bahwa menulis itu bisa menyembuhkan. Jika dilakukan
dengan sepenuh hati dan kejujuran, menulis juga membahagaiakan.