Ilmu Nahwu Shorof

0 views
Skip to first unread message

Magdalena Liendo

unread,
Jul 31, 2024, 6:21:44 AM7/31/24
to tistracountwax

Nahwu Shorof adalah suatu cabang ilmu yang pembahasannya fokus pada adanya perubahan yang terjadi pada harakat akhir suatu kalimat. Apabila seseorang salah atau keliru dalam menempatkan harakat pada tulisan bahasa Arab, bisa jadi mengakibatkan perubahan makna. Beberapa ahli bahkan menyatakan bahwa ilmu nahwu merupakan bapak dari semua ilmu dan shorof adalah ibunya.

The purpose of this research was to determine the effect of mastery of nahwu and sharaf on the ability to read the book of Fathul Qarib. The research method used in this study is a quantitative method. Data analysis was carried out with correlational data that had been collected. The data consists of the independent variable (X), namely the mastery of nahwu and sharaf. And the dependent variable (Y), namely the ability to read the book Fathul Qarib. Based on the results of data analysis conducted by researchers, it can be concluded that: mastery of nahwu shorof science has a very good value, ability to read the book of Fathul Qorib has a fairly good value, there is a close relationship between mastery of nahwu and shorof science with ability to read the book of Fathul Qorib, and there is a significant positive effect between mastery of nahwu and shorof science with the ability to read the book of Fathul Qorib by 22.73% and there are still 77.27% other things that affect the Y variable.

ilmu nahwu shorof


DOWNLOAD ✸✸✸ https://tritem0tite.blogspot.com/?px=2zUQcg



Pesantren education is very core and mandatory in relation to religious knowledge. For this reason, the Minister of Religion Regulation Number 31 of 2020 concerning Islamic Boarding Schools was issued which specifically regulates the course of education in an Islamic boarding school. Islamic boarding schools themselves use the yellow book curriculum and the Koran as their main educational foundation, but currently there are also Islamic boarding schools that have implemented general education in their pesantren. At the Subulus Salam Trenggalek Islamic Boarding School, it is mandatory to learn comprehensive nahwu shorof science from the lower middle class to the upper class. The Subulus Salam Trenggalek Islamic Boarding School itself has also implemented formal education to support student learning, such as PAUD, Raudlatul Athfal, Marosah Ibtida'iyah, Islamic Junior High School, Equality Package B and Package C, and also the Orphanage.

This research approach is descriptive qualitative. The data in this study consisted of primary data obtained from interviews and secondary data obtained from documentation, archives, literature, and books related to the research focus. Data collection techniques used in the form of interviews, observations, and documentation as well as several supporting tools such as interview guidelines and other supporting tools. Data analysis techniques are carried out through the process of collecting data, presenting data, and drawing conclusions.

This study was conducted to describe the implementation of the nahwu shorof science education policy in the subulus salam trenggalek Islamic boarding school. The results of this study indicate that the implementation of the Nahwu Shorof Science Learning Policy at the Subulus Salam Trenggalek Islamic Boarding School was carried out well but could not be optimal because there were still several obstacles. Therefore, maximum effort is needed in providing education with good cooperation and coordination between policy makers and policy implementers.

Jurnal Indonesia Sosial Sains invites the authors to submit their manuscripts for forthcoming issues. Before submitting, we encourage you to read and confirm your manuscript to the Author Guidelines and Manuscript Template. Articles are usually published in Indonesian and English. Submit your manuscript to Submission Menu. If you have any questions, please feel free to contact the Editor.

Penelitian ini dilakukan karena problema yang terjadi di kalangan pondok pesantren saat ini yakni banyaknya santri yang mengalami kesulitan dalam mempempelajari ilmu nahwu dan shorof. Hal demikian pun terjadi pada salah satu pondok pesantren As Salma yakni sebuah pondok pesantren yang berada dalam salah satu naungan Yayasan Pondok Pesanten Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Oleh karena itu pengasuh dan para staf pendidik pondok pesantren As Salma mencari berbagai metode pembelajaran yang cocok untuk dipraktekkan sebagai upaya agar para santri dapat memahami ilmu nahwu dan shorof. Pada akhirnya pengasuh memilih metode pembelajaran Al Miftah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2021. Subjek penelitian ini adalah santri As Salma yang sedang belajar metode Al Miftah jilid 1. Pengaruh metode Al Miftah untuk meningkatkan pemahaman ilmu nahwu dan shorof santri pondok pesantren As Salma Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dalam kategori baik dibuktikan dengan hasil penyebaran angket pada santri yang menunjukkan prosentase 89, 78. Jika dilihat dari nilai angket berarti setuju. Hal ini menunjukkan bahwa metode Al Miftah berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman ilmu nahwu dan shorof santri As Salma.

Pertama, pada umumnya buku-buku nahwu-shorof yang ada disjikan secara normatif dan teoritis, sehingga sulit dicerna para pelajar pemula. Sedangkan Fiqhul Lughah menyajikan nahwu-shorof secara praktis dan mudah, disertai contoh-contoh, latihan-latihan dan praktek. Teori hanya diberikan sekedar saja.

Kedua, Fiqhul Lughah menyajikan cukup banyak mufrodat sehari-hari (perbendaharaan kata sehari-hari) dan khas Indonesia (tidak dimiliki oleh budaya Arab) yang bahkan jarang ditemukan dalam kamus-kamus bahasa Arab-Indonesia hingga dewasa ini.

Menguasai keterampilan berkomunikasi, berdiplomasi, dan bernegoisasi dengan banyak dunia Arab merupakan tantangan terbesar bagi penggerak bahasa Arab di Indonesia perlu direkontruksi dan diorientasikan kepada pemantapan kemahiran berbahasa Arab secara produktif dan kompetitif di era global. Salah satu tantangan pelemahan minat motivasi dan spirit mempelajari bahasa arab melalui stigmatisasi sulitnya menghafal ataupun menerapkan penggunaan qaidah nahwu dan Shorof pada kehidupan sehari-hari karena minimnya media perkuliahan khususnya dikalangan pemula. Tujuan dari jurnal adalah menciptakan media perkuliahan bahasa Arab pada materi Nahwu dan Shorof yang simpel dan menyenangkan serta dapat diaplikasikan dengan mudah. Metode dan penelitian menggunakan analisa data teknik eksperimental yang menampilkan data dalam angka dan dianalisis dengan teknik statistik. Wasailul idhah atau media perkuliahan merupakan alat bantu proses belajar bertujuan untuk mengasah pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan sehingga proses belajar lebih kondusif. Metode tersebut merupakan inovasi baru dalam perkuliahan ilmu nahwu dan Shorof berisi dasar dan contoh penggunaan qaidah sehingga para pemula dapat menguasai qaidah secara mudah. Sasaran penerapan media adalah pemula yang dikhususkan untuk mahasiswi yang belum pernah mempelajari bahasa Arab sebelumnya sehingga mereka lebih mudah menghafal dan menerapkanya. Penggunaan metode ini dalam proses perkuliahan diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswi pemula terhadap ilmu nahwu dan Shorof.

R Zedana, Fakhrul Adabi Bin Abdul Kadira, Mouhammed Bin Yusofa Yusmini Binti Md Yusoffa Norrodzoh Binti Hj Sirena Roslan Bin Mohameda Sekou Toureb, 2013. The Role of Language in Education: Arabic as Case Study. Procedia Social and Behavioral Science, Volume 70, pp. 1002-1008.

Dipesantren ilmu nahwu adalah ilmu yang paling banyak ditakuti para santri. Sama halnya dengan matematika yang menurut kebanyakan aorang sungguh membosankan. Its difficult, mungkin itulah kata yang keluar saat kita membahas dua ilmu ini.

Ilmu nahwu adalah ayahnya ilmu, sedangkan ilmu shorof adalah ibunya. Keduanya tidak bisa dipisahkan, keduanya saling melengkapi dan saling berkaitan. Ketika keduanya dipadukan maka akan tumbuh ilmu-ilmu yang lainnya. Sebagaimana perpaduan ayah dan ibu yang menghasilkan anak.

Ilmu nahwu dan ilmu shorof pun demikian. Tanpa salah satunya tidak akan bisa menghasilkan sesuatu (ilmu yang lain) dengan sempurna. Kedua ilmu dikenal oleh para santri dengan sebutan ilmu alat. dengan alat kita bisa membikin sesuatu jadi sempurna.

Mungkin arti itu yang akan diungkapkan oleh seseorang yang hanya ahli ilmu nahwu saja. Pemahaman ini sangat keliru. Dalam ilmu fiwqih tidak ada keterangan bahwa sesorang yang berbicara dibawah pohon dapat membatalkan wudhu.

Ini pemahaman yang sangat keliru, sebab tidak ada keteranyan dalam fiqih bahwa air kencing anjing bisa digunakan untuk berwudhu. Air kencint itu najis apalagi air kencin anjing. Boro-boro byat wudhu, jelas tidak sah wudhunya.

Dari situlah sudah jelas, bahwa nahwu dan shorof tidak bisa dipisahkan, saling membutuhkan satu sama lain. Gunanya utnuk menghindari dari adanya kekeliruan dalam mengartikan atau memahami sebuah kalam arab.

Nahwu dan shorof merupakan disiplin ilmu dasar yang harus dimiliki oleh seorang santri, kedua ilmu itu disebut dengan ilmu alat, alat untuk memahami keilmuan yang lain. Kajian yang digunakan di Pesantren tentunya banyak menggunakan kedua ilmu tersebut, ilmu tersebut adalah ilmu gramatikal bahasa Arab.

Ilmu nahwu disebut dengan Ummul Ilmi (Ibu ilmu) dan shorof disebut Abul ilmi (Bapak ilmu) mengapa demikian? Karena banyak ilmu yang lahir dari kedua ilmu tersebut. Ciri khas seorang santri adalah identik dengan kutub at-turats (kitab kuning) sudah menjadi tradisi kalau seorang santri celekelan kitab kuning (memegang kitab kuning).

Metode pembelajaran kitab kuning di Pesantren sangat bervarian ragamnya, seperti sorogan, bandongan, bahtsul masail, diskusi, halaqoh dan lain sebagainya. Dengan banyaknya metode pembelajaran yang ada, diharapkan dapat mendorong semangat para santri untuk mempelajari kitab kuning dan bahasa arab. Tentunya seorang santri harus mbalah (Pintar) didalam gramatikal bahasa arab, karena hal tersebut menjadi identitas santri.

Bimbingan dan arahan dari para ustadz dipondok dapat mengantarkan pada kemahiran.
Mempelajari ilmu nahwu dan shorof menjadi mudah asalkan ada niat dan tekad, mulai dari membaca buku-buku nahwu, seperti terjemah kitab jurumiyyah, buku metode 33, buku pangeran nahwu, sampai membaca kitab aslinya seperti Alfiyyah ibnu malik, Imrithy, Khasiyah Khudlory, Ibnu Aqil dan lain sebagainya.

93ddb68554
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages