Film Soekarno 2013

0 views
Skip to first unread message

Nicol Allphin

unread,
Aug 4, 2024, 11:56:12 PM8/4/24
to tingpetleuda
On13 December 2013, the Central Jakarta Business Management Court (PTUN) acceded to an injunction made by one of Sukarno's daughters, Rachmawati Soekarnoputri, to halt the film's release. Some film critics had criticised the film for being too commercialised and taking liberties in its depiction of historical events and characters.[1] Subsequently however, on 7 January 2014, the PTUN decided to overturn its earlier decision and allow the film to be shown.[2]

Soekarno is based on the life of Sukarno, and covers the period from his childhood until his historic Proclamation of Indonesian Independence in 1945. In 1931, the Dutch East Indies government in Java arrests Sukarno, an aspiring young nationalist who wants to free Indonesia from Dutch colonial rule. He is then placed in Banceuy Prison in Bandung. Sukarno finds a way to fight back by delivering his famous defense oration "Indonesia Accuses!" (Indonesia Menggugat) in his trial at Bandung Laandraad Courthouse.


In September 2013, Sukarno's daughter, Rachmawati Soekarnoputri, said that she had felt betrayed by the production studio MVP Pictures and resisted the release of the movie production in its current form. She wanted actor Anjasmara to play Sukarno in the film, but the director, Hanung Bramantyo, stuck to his choice of Ario Bayu.[5] However, Rachmawati felt that Ario did not meet her expectations in his portrayal of her father. She had also complained that she was not permitted to give directions or provide feedback on Ario's presentation and interpretation of the gestures and mannerisms of the lead character, something she felt was necessary for him to better portray her father. On 23 September 2013, the dispute came to a head with Rachmawati reporting Hanung Bramantyo to the police on allegations of defamation. At the same time, Hanung publicly stated that he believed Rachmawati's motive for the public dispute with him was purely to seek publicity and popularity for herself.[6] The movie's release went ahead despite the dispute. On his part, the director believed that the movie was historically accurate. "I will continue to screen Sokarno because there is nothing wrong with the movie," he said in September 2013.[7] He said that Rachmawati only had the right to give her advice but not to make any actual decisions concerning the film itself. He also said that matters concerning the making of a film were the sole prerogative of the director.[8]


Lahir dengan nama Kusno, dan karena sering sakit diganti oleh ayahnya dengan nama Soekarno. Besar harapan anak kurus itu menjelma menjadi ksatria dalam pewayangan layaknya tokoh Adipati Karno. Harapan bapaknya terpenuhi, umur 24 tahun Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara. Dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian Sukarno tidak pernah padam. Pledoinya yang sangat terkenal, Indonesia Menggugat, mengantarkannya ke pembuangan di Ende, lalu ke Bengkulu.


Di Bengkulu, Sukarno (Ario Bayu) istirahat sejenak dari politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati (Tika Bravani). Padahal Sukarno masih menjadi suami Inggit Garnasih (Maudy Koesnaedi), perempuan yang lebih tua 12 tahun dan selalu menjadi perisai baginya ketika di penjara maupun dalam pengasingan. Kini, Inggit harus rela melihat sang suami jatuh cinta. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Berahi politik Soekarno kembali bergelora.


Hatta (Lukman Sardi) dan Sjahrir (Tanta Ginting), rival politik Sukarno, mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Sukarno punya keyakinan, Jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan. Hatta terpengaruh, tetapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda progresif pengikut Sjahrir bahkan mencemooh Sukarno-Hatta sebagai kolaborator. Keyakinan Sukarno tak goyah.


Sekarang, kemerdekaan Indonesia terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945. Di atas kereta kuda, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto (Rukman Rosadi) berwejang kepada Sukarno muda: Manusia itu sama misteriusnya dengan alam, tetapi jika kau bisa menggenggam hatinya, mereka akan mengikutimu. Kalimat ini selalu dipegang Sukarno sampai dia mewujudkan mimpinya: Indonesia Merdeka![1]


Pada bulan September 2013, puteri dari Soekarno, Rachmawati mengkritik bahwa film ini tidak cocok dengan Ario Bayu yang berperan sebagai Soekarno. Ia merasa aktor Anjasmara yang layak memerankan tokoh tersebut.[2]


Kekurangan Film

Meski memiliki banyak keunggulan, film ini juga memiliki beberapa kelemahan:

1. Dramatisasi Berlebihan: Beberapa bagian dari film ini dianggap berlebihan dalam

dramatisasi, yang mungkin mengurangi keakuratan sejarah dan membuat cerita terasa kurang

realistis bagi sebagian penonton.

2. Subplot Romansa: Meski subplot romansa memberikan sentuhan manusiawi pada karakter

Soekarno, dominasi elemen ini terkadang mengurangi fokus dari aspek politik dan perjuangan

yang seharusnya menjadi inti cerita.

3. Pengembangan Karakter: Beberapa karakter penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia

tidak mendapat porsi pengembangan yang memadai, sehingga interaksi dan kontribusi mereka

dalam perjuangan kurang terasa signifikan.


Realistic and historically accurate, Soekarno (2013) beautifully conveyed the history of Indonesia's struggle toward independence and especially Soekarno's contribution in it. This movie showed how Soekarno really was, a terrific politician yet a terrible husband.


Hanung Bramantyo seperti biasa bikin biografi tokoh besar dan kali ini bikin film Soekarno yang rasanya kok...biasa banget yak? Apa karena film ini ngasih cerita yang terlalu umum yang semua orang udah pada tau kali ya?


Sayangnya sang karakter tak dibangun dengan pondasi yang kokoh, namun Bayu cukup berpotensi memerankan kharismanya. Dengan perjalanan yang panjang, narasinya jadi sulit merangkum. Dari segi skala produksi, memang Hanung tak diragukan lagi.

Nyatanya merdeka adalah kesatuan dari kerja kolektif yang tak sepenuhnya idealis.


Sebelum pandemi, hari Kemerdekaan negara kita ini dirayakan dengan cara yang meriah dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat kita. Ada lomba-lomba yang diadakan di dalam merayakan kemerdekaan ini seperti panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung dan sebagainya. Namun di masa pandemi Covid-19 dari tahun lalu kegiatan itu ditiadakan karena adanya larangan berkerumun.


Namun ada dua hal yang menjadi rutin sering didengarkan, dipertontonkan kepada masyarakat bahkan ketika masa pandemi sekalipun. Kedua hal itu adalah Lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan oleh Cokelat Band (saat itu vokaliskan Kikan Namara) seperti lagu Bendera, Kebyar-Kebyar dan lainnya.


Sedangkan satu hal lagi di saat merayakan hari kemerdekaan, stasiun televisi sering kali menayangkan film-film tentang perjuangan ataupun tentang sejarah di masa lalu. Dan salah satu film tentang sejarah yang sering di putar adalah Film Soekarno; Indonesia Merdeka.


Film Soekarno; Indonesia merdeka bercerita tentang Perjuangan Soekarno atau Kusno dari tahun 1934 sampai Soekarno dan Hatta berhasil membacakan Teks Proklamasi di tanggal 17 Agustus 1945 sekaligus memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia.


Meskipun film Soekarno; Indonesia Merdeka sempat menuai pro dan kontra terutama dari beberapa keluarga Proklamator Ir. Soekarno namun justru penonton Indonesia menyukai film ini dan ditonton oleh kurang lebih satu juta penonton.


TEMPO.CO, Jakarta - Figure of the first Indonesian President Soekarno inspires many people in various ways. It will not be surprising that many producers wish to make a movie based on his life story. The same thing happened with Hanung Bramantyo, one of Indonesian film directors, who recently just finishes a film about Soekarno.


According to Hanung, initially he wanted to make a trilogy. However, some reasons obstructed him from making it so. He finally opted to focus on the struggle of Bung Karno (Soekarno's popular name to locals) to free Indonesia from the clutches of colonialism. "It is very possible to make a film about Bung Karno's figure with many titles, but for now, we decided to make just one title," said Hanung at the shooting location in Bogor Botanical Garden, Bogor, West Java, on July 26.


Hanung's film about Soekarno mainly relive the Soekarno's struggle together with Hatta and Sutan Sjahrir for the freedom of Indonesia. Hanung also said that there will be small part about Soekarno love story in the rest of his film.


Despite of the critique from Soekarno's third daughter, Rachmawati Soekarno Putri, Hanung still casts Ario Bayu as Soekarno. "Everyone has the right to criticize, everyone has their own version of Soekarno's figure. For me, it's Ario Bayu," Hanung said.


TEMPO.CO, Jakarta - Hanung Bramantyo menyatakan, naskah film Soekarno: Indonesia Merdeka tidak berasal dari naskah opera garapan Rachmawati Soekarnoputri yang berjudul Mahaguru yang dipentaskan pada 2011. Hanung hanya diundang hadir dan diajak oleh Rachmawati membuat film Soekarno.



Hal ini diungkapkan Hanung Bramantyo di Citywalk Sudirman, 17 Desember 2013. "Di situlah Ibu Rachma ajak buat filmSoekarno," kata Hanung. "Sejujurnya, demi Allah saya tidak pernah menerima skenario Mahaguru. Saya hanya menonton, tapi tidak pernah menerima skenario."



Menurut Hanung, apabila ia sempat menerima skenarioMahaguru, seharusnya ada tanda bukti. Ia menegaskan bahwa skenario film yang digarapnya tersebut murni hasil focus group discussion (FGD) yang dia lakukan bersama bersama beberapa pihak.



Pernyataan itu disampaikan oleh Hanung untuk mengklarifikasi tudingan Rachmawati beberapa waktu lalu. Lewat Teguh Santosa, juru bicaranya, Rachmawati telah meminta perlindungan hukum pada Kepala Polri Jenderal Polisi Sutarman terkait dengan pelanggaran hak cipta dalam pembuatan film Soekarno yang digarap Hanung.



Hanung dan Multivision dianggap telah melanggar hak cipta ide film Soekarno yang berasal dari Rachmawati dalam naskahMahaguru. (Baca: Rachmawati: Hanung Hanya Jual NamaSoekarno)



Padahal, menurut Hanung, cerita yang diangkat untuk filmSoekarno dihasilkan dari FGD, yakni dengan mengolah hal menarik dari sosok Sukarno secara lebih mendalam. Kegiatan ini dilakukan di Bogor dengan melibatkan sejarawan, anggota keluarga, sutradara opera Mahaguru, dan pihak Multivision sebagai produser.



Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari 4 malam itu akhirnya menghasilkan tiga buah judul. Pertama, Soekarno: Indonesia Menggugat yang berlatar peristiwa lahirnya Sukarno. Kedua, Soekarno: Indonesia Merdeka yang memuat pengalaman Sukarno saat berada di penjara Sukamiskin--masa pengasingan Sukarno sampai pada peristiwa proklamasi. Ketiga, Soekarno: Hari-hari Terakhir yang berfokus pada peristiwa agresi militer hingga wafatnya Sukarno. Ketiga judul tersebut akhirnya dikerucutkan menjadi duajudul, yaitu Soekarno: Indonesia Merdeka danSoekarno: Hari-hari terakhir.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages