Kitab Nashoihul Ibad

0 views
Skip to first unread message

Graciano Goudreau

unread,
Aug 4, 2024, 6:41:53 PM8/4/24
to tingdisrachond
Liputan6com, Jakarta Nashoihul Ibad adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar dari Indonesia pada abad ke-19. Kitab ini terkenal sebagai salah satu karya penting dalam bidang tasawuf dan etika Islam.

Nashoihul Ibad berisi nasihat-nasihat dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam. Isi kitab ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, etika sosial, hingga perilaku dalam beribadah.


Salah satu fokus utama kitab ini adalah penekanan pada pentingnya berakhlak mulia dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan ajaran Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.


Nashoihul Ibad juga membahas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kitab ini memberikan panduan tentang bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.


Sebagai salah satu karya tasawuf klasik dari Indonesia, Nashoihul Ibad telah menjadi panduan dan inspirasi bagi banyak orang dalam meningkatkan kualitas kehidupan rohani dan moral. Buku ini masih dipelajari dan dijadikan referensi oleh para ulama, mahasiswa, dan masyarakat Muslim hingga saat ini. Karya ini telah memberikan kontribusi yang berharga dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan etika dalam masyarakat Muslim Indonesia.


Kitab Nashoihul Ibad berisi sejumlah nasihat yang bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam agar siap menghadapi hari kiamat. Nasihat-nasihat ini terbagi dalam 10 bab yang mengandung total 214 nasihat.


Sebanyak 45 nasihat di antaranya bersumber dari hadis, sementara sisanya berasal dari atsar atau ucapan para sahabat dan pengikut Nabi SAW. Setiap bab dalam kitab ini disertai dengan uraian dari Syekh Imam Nawawi yang menjelaskan jumlah nasihat yang diungkapkan serta jumlah poin dalam setiap nasihatnya, serta menyebutkan jumlah hadis dan atsar yang terkait.


Beberapa dari nasihat yang terdapat dalam kitab Nashoihul Ibad adalah tentang sabar dalam menghadapi musibah, tawadhu (rendah hati), adil dalam bersikap, taqwa sebagai bekal di akhirat, pentingnya beribadah dengan baik, mengamalkan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari, sikap lemah lembut, qana'ah (merasa cukup), taufik (bimbingan Allah), dan pemahaman tentang kematian.


Selain itu, dalam bab pertama kitab ini, terdapat 30 nasihat yang mencakup beberapa hal penting seperti pentingnya iman kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama muslim, memilih teman yang baik yaitu ulama, dan bagaimana menghadapi dua jenis kesedihan yaitu dalam urusan dunia dan akhirat.


Kitab Nashoihul Ibad ini ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu agama Islam hingga akhirnya tidak kembali ke Indonesia setelah menunaikan ibadah haji. Kitab ini berfungsi sebagai panduan bagi umat Islam dalam menghadapi kehidupan sehari-hari dan mempersiapkan bekal untuk akhirat, dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan akhlak yang terpuji.


Kitab ini diselesaikan oleh Syekh Nawawi pada Kamis, 21 Safar 1311 H (1893 M). Melalui kitab Nashoihul Ibad, beliau berupaya memberikan panduan yang bermanfaat dan berharga bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan dan menumbuhkan kesadaran akan akhirat.


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Kitab Nashoihul Ibad berisi sejumlah nasihat yang bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam agar siap menghadapi hari kiamat. Nasihat-nasihat ini terbagi dalam 10 bab yang mengandung total 214 nasihat.


Artinya: "Ilmu adalah sebaik-baik warisan, etika adalah sebaik-baik pekerjaan, taqwa itu adalah sebaik-baik bekal, ibadah adalah sebaik-baik perdagangan. Amal shaleh adalah sebaik-baik penuntun (menuju surga), akhlak yang terpuji adalah sebaik-baik teman (di dunia dan di akhirat). Sikap lemah lembut adalah sebaik-baik penolong, qana'ah adalah sebaik-baik kekayaan.


1. Ilmu adalah warisan yang paling baik. Hadis ini menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi. Memuliakan mereka berarti juga memuliakan Allah dan Rasul-Nya.


2. Etika adalah sebaik-baik pekerjaan. Artinya, dalam segala aspek kehidupan, kita harus berlaku dengan etika yang baik, dan semua pekerjaan yang kita lakukan haruslah dilakukan dengan etika yang benar.


3. Taqwa adalah bekal yang paling baik menuju akhirat. Taqwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta berhati-hati dengan segala hal yang samar-samar (syubhat).


10. Kematian adalah sebaik-baik pendidik menuju akhlakul karimah. Kematian mengingatkan kita tentang kehidupan yang sementara di dunia ini dan akan membawa kita menuju akhlak yang mulia jika kita berpegang teguh pada ajaran-Nya.


Syekh Nawawi al-Bantani lahir pada tahun 1815 di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten. Beliau adalah anak sulung dari tujuh saudara, termasuk Tamim, Ahmad Syihabudin, Said, Abdullah, Tsaqillah, dan Sarriyah. Syekh Nawawi merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, yang merupakan Raja Banten pertama dan Putra Sunan Gunung Jati.


Sejak usia 5 tahun, Syekh Nawawi telah diajarkan ilmu agama oleh ayahnya dan kakak kandungnya. Ia mempelajari bahasa Arab, tauhid, Al-Qur'an, fiqih, dan tafsir. Pada usia 8 tahun, beliau menimba ilmu di pesantren di daerah Jawa yang dipimpin oleh ulama bernama K.H Sahal. Selanjutnya, ia melanjutkan penuntutan ilmu ke Syekh Baing Yusuf di daerah Purwakarta.


Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi menunaikan ibadah haji dan belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah. Semangatnya dalam mendalami ilmu agama Islam begitu tinggi sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia dan terus menimba ilmu di sana.


Syekh Nawawi adalah seorang yang bertaqwa, zuhud, sederhana dan berwibawa. Ia sangat menghargai waktunya dan selalu mengisinya dengan ketaatan. Beliau sering melewatkan waktu tidurnya untuk beribadah atau menulis.


Karyanya yang produktif berupa kitab-kitab dalam Bahasa Arab menjadi kurikulum pendidikan agama di pesantren di seluruh Indonesia dan bahkan menyebar ke Filipina, Malaysia, Thailand, dan negara-negara Timur Tengah. Meskipun begitu produktif, Syekh Nawawi juga memiliki sikap rendah hati dan tidak terlalu memperdulikan hak cipta dan royalti penerbit dalam penyebarluasan hasil karyanya.


Kepala Madrasah Khoirul Anam secara langsung memimpin kegiatan tersebut dengan mengkaji kitab nashoihul Ibad. Selain Kota Pekalongan yang dijuluki Kota Santri, MAN IC Pekalongan juga menjadi role model di bidang keasramaan. Dengan rutinitas kegiatan keagamaan yang diselenggarakan bidang keasramaan, harapannya santri-santri MAN IC Pekalongan menjadi pribadi yang sholeh sholehah dan dapat mengamalkan isi kitab tersebut pada pribadi masing-masing.


Maqolah yang pertama (Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu Anhu) Namanya adalah Jundub bin Junadah (Wahai Abu Dzar perbaruilah olehmu perahu karena sesungguhnya lautan itu sangat dalam) Maksudnya baguskanlah olehmu niat dalam setiap perkara yang akan kamu kerjakan dan yang akan kamu tinggalkan supaya hasil kepadamu ganjaran dan selamat dari adzab Allah Ta'ala.


Telah menulis surat Imam Umar Al-Faruq kepada Abu Musa Al-Asy'ariy Radhiallahu Anhuma: Barang siapa yang bersih niatnya maka pasti akan mencukupi kepadanya perkara antara dirinya dan antara manusia. Dan telah menulis surat Salim Bin Abdillah bin Umar Al-Khottob kepada Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu Anhum: Ketahuilah olehmu wahai Umar sesungguhnya pertolongan Allah kepada hambanya itu dengan bergantung dari niatnya. Barang siapa yang murni niatnya maka sempurna pertolongan Allah padanya, dan barang siapa yang kurang niatnya maka pasti berkurang darinya pertolongan Allah sebab ukuran berkurangnya niat itu.


(Dan ambillah oleh mu bekal yang sempurna karena sesungguhnya perjalanan) Di akhirat (Itu jauh) Dalam tujuan yang sangat melelahkan (Dan ringankanlah olehmu beban) Lafadz الحِمْلَ dengan mengkasrohkan ح. Maksudnya yang dibawa olehmu dari dunia (Karena sesungguhnya tanjakan itu sangat sulit) Lafadz كَئُوْدٌ dengan memfathahkan ك dan mendhommahkan hamzah : Maksudnya sesungguhnya panjangnya tanjakan gunung itu sulit, karena sesungguhnya perkara perkara akhirat itu menyerupai lautan yang dalam dan menyerupai perjalanan yang jauh dan menyerupai tanjakan gunung yang sulit karena banyaknya hal yang menakutkan (Dan murnikanlah olehmu amal karena sesungguhnya dzat yang meneliti) Maksudnya orang yang menilai dan membedakan antara kebaikan dan keburukan yaitu Allah Ta'ala (Itu maha melihat]) Maksudnya yang mengawasi dan mengamati pada semua keadaan. Telah berkata Abu Sulaiman Ad-Daroni: Kebahagiaan bagi orang yang telah menjadi baik bagi dirinya satu langkah dalam umurnya yang ia tidak bermaksud dengan langkah itu kecuali kepada Allah Ta'ala. Dasar pengambilannya qoul itu adalah sabda Nabi ﷺ kepada Mu'adz Radhiallahu Anhu: [Murnikanlah oleh mu Amal maka akan mencukupimu dari amal yang sedikit].


Diriwayatkan dari Anas: Telah keluar ﷺ pada suatu hari dan beliau itu memegang pada tangan Abu Dzar kemudian Rasulullah berkata: [Wahai Abu Dzar apakah engkau tahu sesungguhnya didepan kita ada tanjakan yang sulit tidak akan bisa mendaki padanya kecuali orang-orang yang meringankan? berkata salah seorang lelaki: Wahai Rasulallah apakah dari sebagian golongan orang-orang yang diringankan termasuk saya ataukah saya termasuk dari golongan orang-orang yang diberatkan? Rasulullah berkata: apakah disisimu masih ada makanan untuk hari ini, ia berkata: iya, kemudian berkata Rasulullah ﷺ: Dan makanan untuk besok? ia berkata: iya, kemudian berkata Rasulullah ﷺ: Dan makanan untuk lusa? ia berkata: tidak, kemudian berkata Rasulullah ﷺ: Jika ada di sisimu makanan untuk tiga hari maka pasti jadilah kamu dari golongan orang-orang yang diberatkan].

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages