Rano Karno dilahirkan pada 8 Oktober 1960 di Jakarta,[1] putra dari aktor Soekarno M. Noer dan Lily Istiarti, dan dibesarkan di Kemayoran, Jakarta Pusat.[1][2] Karena pendapatan ayahnya yang rendah, ia dibesarkan dalam kemiskinan; dia kemudian berkelakar bahwa keluarganya punya satu piring untuk memberi makan lima orang, seperti lagu dangdut populer.[2] Meskipun keuangan keluarga tidak akan cukup untuk membiayai sekolahnya, ia dapat menyelesaikan sekolahnya setelah biaya dikurangi setengahnya.[2] Sebagai pelarian dari kemiskinan keluarganya, Karno pergi ke perpustakaan yang dikelola Balai Pustaka dan membaca karya-karya klasik sastra Indonesia, termasuk novel-novel seperti Salah Asuhan karya Abdul Muis dan cerita rakyat tradisional Malin Kundang.[2]
Kebiasaannya membaca kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan akting pertamanya.[2] Pada usia sepuluh tahun, ia menghadiri audisi untuk produksi film Malin Kundang[2]. Sutradara, terkesan dengan pengetahuan Karno tentang cerita, memberikan dia peran.[2] Awalnya, ayahnya tidak mendukung pilihannya karena Noer yang lebih tua khawatir Karno akan terus miskin.[2]
Pada tahun 1990, Karno beralih ke penyutradaraan; melalui adaptasi serial Si Doel Anak Sekolahan, meskipun awalnya ditolak oleh studio karena terlalu "kedaerahan", sangat sukses dan berjalan selama enam musim.[2] Dari 1997 hingga 2002, ia menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan dari 2002 hingga 2007, Karno menjabat sebagai Duta Niat Baik UNICEF, mempromosikan literasi.[1][2]
Ketika industri film Indonesia 'pingsan', Rano beralih ke sinetron. Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron paling monumental yang digarapnya bersama saudara-saudaranya dalam Karnos Film. Dalam sinetron itu, di samping menjadi sutradara, penulis cerita dan skenario, Rano juga ikut main menjadi Kasdullah atau Si Doel. Selain serial Si Doel Anak Sekolahan dari musim pertama sampai musim keenam, PT Karnos Film juga menghasilkan sinetron Kembang Ilalang dan Usaha Gawat Darurat.
Rano juga pernah terjun ke dunia tarik suara, pada tahun 1982. Album perdananya, Yang Sangat Kusayang terhitung cukup laku di pasaran. Pada tahun 1984, kemudian merilis album mereka Puspita dengan single hit Puspita ini yang dipengaruhi oleh ABBA dari lagu "I've Been Waiting for You".[3]
Di awal tahun 2007, Rano pernah berpamitan kepada insan film nasional, untuk lebih berkonsentrasi dalam 'karier baru'-nya sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta.[5] Namun pertengahan 2007, muncul iklan keluarga Si Doel yang mendukung Fauzi Bowo. Hal ini sempat memunculkan rumor bahwa Rano mundur dari kancah Pilkada DKI setelah menerima uang miliaran rupiah dari Fauzi Bowo. Meski hal itu akhirnya ditepis oleh kedua pihak.[6]
Sejak 13 Mei 2014, Rano Karno ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjabat sebagai Plt. Gubernur Banten menggantikan Ratu Atut Chosiyah yang dinonaktifkan terkait kasus suap pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK).
Rano Karno pernah diangkat sebagai duta khusus Indonesia dalam bidang pendidikan oleh UNICEF, sebuah badan di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang bergerak dalam bidang pendidikan. Rano bisa menjadi duta UNICEF dari Indonesia, setelah direkomendasikan oleh Prof Dr Emil Salim, Mantan Menteri Kesehatan (alm.) Prof. Dr. Adhyatma, Ibu Prof. Singgih, Ibu Prof Murprawoto.[9]
Film "Si Doel The Movie" telah dirilis pada hari ini. Dikenal sebagai aktor ternama di Indonesia, tak sedikit film-film yang dibintangi oleh Rano Karno laris manis di bioskop. Mengawali karier sebagai artis cilik saat masih berusia 12 tahun, sudah puluhan film yang dibintanginya hingga tahun ini. Berikut film-film terkenal yang pernah melibatkan Rano Karno.
Dilansir dari Imdb.com, film "Roman Picisan" telah dirilis pada tahun 1980 yang membuat namanya makin terkenal di era 80an. Dibintangi oleh dua pemeran utama Rano Karno dan Lydia Kandou, film ini menceritakan dimana seorang pria bernama Roman datang dari Medan untuk bersekolah di Jakarta saat SMA. Dijuluki dengan sebutan "Roman Picisan" karena sangat pandai membuat surat cinta yang dipesan oleh teman-temannya.
Akan tetapi, suatu ketika tiba-tiba saja menyukai dengan seorang perempuan bernama Wulandari, yang tak lain adalah adik kelasnya sendiri. Sayangnya, rayuan yang dilakukan oleh Roman justru tak mempan, malah justru menjadi kebencian yang diterima. Hingga akhirnya setelah melewati berliku-liku, mereka berdua akhirnya bisa akur kembali.
Film "Aladin Dan Lampu Wasiat" menjadi film terkenal yang pernah dimainkan oleh Rano Karno. Dalam film ini menceritakan dimana seorang pria bernama Aladin, tinggal bersama ibunya dan ayahnya telah meninggal. Aladin bekerja sebagai kuli pasar. Suatu hari, Aladin menemukan sebuah harta melalui tukang sihir yang mengaku sebagai kakak dari ayahnya.
Tak lama ia menemukan lampu wasiat dan tukang sihir tersebut langsung menyatukan bumi yang terbelah, sehingga Aladin terperangkap. Beruntung, lampu wasiat yang dipegang oleh Aladin memunculkan Jin Raksasa.
Berkatnya, Aladin bisa keluar dan bertemu dengan Putri Permatasari. Berbagai lika-liku yang dialami oleh Aladin hingga bisa akhirnya bersatu dengan Permatasari. Para aktor dan aktris yang terlibat dalam film ini selain Rano Karno diantaranya Rano Karno, Lydia Kandou, Marlia Hardi, Sukarno M Noor, dan masih banyak lagi.
Bisa dibilang film yang satu ini dinilai salah satu film terlaris yang dibintangi oleh Rano Karno. Mengisahkan sepasang remaja yang bernama Galih dan Ratna masih sama-sama duduk di bangku SMA. Keduanya juga memiliki kesamaan, yakni sama-sama bintang kelas serta jago olahraga. Sayangnya, kisah hubungan keduanya justru dihalangi oleh ayah dari Ratna yang telah memberinya pasangan seorang calon insinyur.
Sejak saat itu, hubungan mereka justru putus di tengah jalan dan setelahnya mereka kembali bertemu dan berani berkencan diam-diam. Selain Rano Karno, beberapa aktor dan aktris ternama seperti Yessy Gusman, Shirley Malinton, Arie Kusmiran, Junaidi Salat, dan lain-lain.
Film yang satu ini dirilis pada tahun 1987. Mengisahkan dimana kedua anak laki-laki yang ternyata adalah anak kembar dari ibu yang sama bernama Paramitha (yang dibintangi oleh Sophia Latjuba) diadopsi oleh dua keluarga yang berbeda. Anak laki-laki bernama Ardi (yang dibintangi oleh Rano Karno) berada di keluarga sederhana, sedangkan kembarannya bernama Erik (yang dibintangi oleh Tio Pakusadewo) berada di keluarga yang kaya dan berantakan.
Setelahnya, seorang perempuan bernama Norma tiba-tiba saja menyukai Ardi. Norma merupakan anak dari ayah sebenarnya Ardi dan Erik. Suatu saat, Norma mengajak Erik untuk minum bir bersama dan berhubungan layaknya suami istri.
Apa yang dilakukan Norma ini sengaja memancing reaksi dari Ardi dan kembali terjadi permusuhan antara Ardi dan Erik. Kasus ternyata makin panjang ketika dibawa ke pengadilan untuk membuktikan apakah Ardi benar-benar telah memperkosa Norma. Paramitha juga turut datang ke pengadilan untuk memberikan kesaksian mengenai hal yang terjadi sebenarnya. Suatu ketika, Roy (yang dibintangi oleh Deddy Mizwar) memaksa Norma untuk menikah dengan Ardi.
Dokter yang sempat menangani proses kelahiran Paramitha sengaja dibunuh oleh Roy untuk menghindari proses penghadangan pernikahan Norma. Dan akhirnya, Roy masuk penjara dan semua kisah sebenarnya akhirnya diungkapkan oleh Paramitha.
Sebenarnya dalam film ini, Rano Karno bersama Yessy Gusman kembali terlibat dalam film ini dalam persembahan khusus yang kembali mempertemukan mereka berdua. Kisah cerita film ini mengingatkan pada film "Gita Cinta dari SMA" yang ditayangkan pada tahun 1979 lalu.
Kisah tersebut menceritakan dimana seorang pria bernama Galih saat masih SMA harus mengikuti pendidikan ketimbang passionnya, maklum saja Galih tinggal bersama ibunya dimana ayahnya telah meninggal dunia. Galih pun bertekad menembus jalur beasiswa universitas pilihan ibunya. Sedangkan seorang perempuan bernama Ratna datang sebagai siswa baru di sekolah Galih dan ingin sekali mengejar hal-hal yang instan.
Suatu saat keduanya bertemu dan saling menatap saat mendengarkan sebuah lagu yang sama. Sayangnya, karena perbedaan pandangan inilah yang justru memisahkan hubungan mereka. Film ini diperankan oleh Refal Hady, Sherly Sheinafia, Rano Karno, Yessy Gusman, Indra Bekti, Marissa Anita, Indra Birowo, dan masih banyak lagi.
Liputan6.com, Jakarta Film klasik Indonesia yang tayang di tahun 1970an, menampilkan cerita yang menyentuh nurani. Bukan menceritakan tentang sekelompok orang kaya atau gaya hidup sebagian anak muda yang hanya menghamburkan uang.
Film legendaris Ratapan Anak Tiri tayang 1973 silam sempat membuat imej ibu tiri terlihat sangat kejam. Film ini diperankan oleh sederet artis legendaris Indonesia, Soekarno M. Noor sebagai Pak Yuwono. Faradilla Sandy menjadi Sussy, Tanty Yosepha memerankan Ningsih. Selain itu, Dewi Rosaria Indah menjadi Netty, serta karakter antagonis yang dimainkan Bambang Irawan sebagai Harun.
Tak lama, Yuwono yang telah menjadi duda beranak dua ternyata menikah lagi dengan Ningsih, gadis cantik yang menjadi bawahannya. Rupanya Harun punya dendam terhadap Yuwono, sakit hati karena Ningsing lebih memilih duda.
Rano Karno, aktor yang kini menjadi pejabat itu telah eksis di industri hiburan sejak dini. Salah satu film Rano Karno yang diperankannya saat masih kecil: Dimana Kau Ibu. Film yang tayang 1973 silam ini menjadi salah satu karya legendaris yang menceritakan mengenai dampak buruknya seks bebas, teruatam bagi anak-anak. Film ini diperankan sederet artis mumpuni di bidangnya, Faradilla Sandy, Lenny Marlina, Rano Karno, Kusno Sudjarwadi dan Dicky Zulkarnaen.
Diceritakan Linda hamil dari hubungan di luar nikah. Namun sang kekasih yang harusnya bertanggung jawab justru mengalami kecelakaan. Untuk menutupi aib Linda, akhirnya wanita yang tengah berbadan dua ini dibawa ke sebuah wilayah sampai melahirkan.
Yatim rupanya diasuh oleh seorang pengasuh yangdibayar oleh kakeknya. Namun Yatim justru diperlakukan dengan semena-mena dan kerap kali disiksa. Akhirnya Yatim pun melarikan diri, pergi merantau ke jakarta.
b1e95dc632