Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando Pdf To Jpg

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Towanda Tuning

unread,
Jul 11, 2024, 4:22:52 PM7/11/24
to thanklambsonwell

Muhammad Maruf adalah Initiator FORUM INDONESIA SATU dan Chief Executive Officer dari SocialCapitalIndonesia.com. Menyelami jurnalistik sejak 1999 di media digital-cetak nasional dan internasional, dan mulai penelitian makroekonomi dan pasar sejak 2020, dan aktif bicara tentang uang, psikologi dan kehidupan di IG @muhammad.maruf66 dan Twitter @muhruf.

Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando Pdf To Jpg


Download ->->->-> https://tweeat.com/2yK6JH



"Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan padanya, Pak Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?"kata Gus Dur. Itu adalah cuplikan dialog antara almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Presiden ke-4 RI, sebelum Reformasi 1998 dengan seseorang yang mengaku diutus Danjen Kopassus, Letjen Prabowo Subianto untuk menyampaikan pesan; "Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 sniper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur."

Kutipan dialog itu dicuplik dari buku berjudul Gus Dur Presiden Republik Akhirat, karya Muhammad Zakki. Dari semua catatan miring tentang Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra dan calon presiden dari Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang diusung bersama Partai Kebangkitan Bangsa untuk kontestasi Pilpres 2024, saya percaya kebenaran dari buku Zakki ini. Sederhana saja alasannya, buku ini dipublikasikan tahun 2010 jauh dari hiruk pikuk Pemilu, saat bertanding dengan Presiden Joko Widodo pada 2014, apalagi 2019. Jadi, nir muatan politis, atau sengaja dibuat untuk menjatuhkan nama baik Prabowo.

Narasi sejarah kedua yang bisa menggambarkan seperti apa sifat temperamen Prabowo adalah saat dia marah besar kepada almarhum Presiden BJ Habibie ketika terjadi krisis politik dan ekonomi pada 1998. Saat itu Habibie mencopot jabatan Prabowo sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) pada 23 Mei 1998. Pencopotan itu persis satu hari setelah Habibie dilantik menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Ketegangan yang dikisahkan oleh Letjen (Purnawirawan) Sintong Hamonangan Panjaitan, dalam bukunya, 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', yang terbit pada 2009-lagi-lagi tidak ada kaitannya untuk menjegal Prabowo. Prabowo dicopot karena Habibie menerima laporan adanya pergerakan pasukan Kostrad dari daerah menuju Jakarta tanpa sepengetahuan Panglima ABRI (TNI) waktu itu, Jenderal Wiranto pada 22 Mei 1998.

Kisah ketegangan keduanya bisa dibaca di buku itu, bagaimana seorang prajurit, yang tentu saja karena menantu bekas presiden sebelumnya, merasa berhak marah dan tak terima dicopot oleh panglima tertinggi TNI. Narasi sejarah ketiga, tentu saja skandal Tim Mawar, sebuah kelompok dalam Grup IV Sandi Yudha di tubuh Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat ia pimpin, yang bertanggung jawab atas penculikan 23 aktivis demokrasi sepanjang 1997-1998. Prabowo pada akhirnya memang dipecat dari kedinasan TNI secara tidak terhormat, tapi di persidangan ia tidak terbukti terlibat atau memerintahkan penculikan secara langsung-sebuah keganjilan yang dipaksakan untuk dipercaya publik. Belakangan, dalam Arsip Keamanan Nasional (NSA), dokumen rahasia Amerika Serikat tertanggal 7 Mei 1998 yang dirilis 2018, mengungkap catatan staf Kedutaan Besar AS di Jakarta mengenai nasib para aktivis yang menghilang, disebutkan; "Penghilangan itu diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto."

Selebihnya, narasi-narasi pencitraan seperti pernyataan Gus Dur bahwa Prabowo adalah orang paling ikhlas, dan juga diramal Gus Dur akan menjadi Presiden di usia senja cukup meragukan. Narasi-narasi itu diulang-ulang media oleh tim komunikasi menjelang Pemilu untuk menambal bopeng citra Prabowo.

Sebagian generasi millennial (lahir 1980-1995), apalagi Gen Z (1995-2012) can't relate dengan catatan hitam sosok Prabowo. Saya pribadi, dan saya kira sebagian besar teman-teman elemen aktivis mahasiswa 1998 yang tak berprofesi sebagai politisi masih tetap menganggap Prabowo tak layak menjadi Presiden Indonesia. Salah satu alasan paling mendasar adalah tetap rekam jejak hitam selama berkarir di militer, dan level emosionalnya yang tidak stabil sehingga tak layak untuk memimpin 278 juta rakyat Indonesia dengan pelbagai problem peliknya.

Prabowo tidak berubah, tetap saja emosional dan temperamental, meskipun usianya telah bertambah tua. Kadarnya saja yang berkurang. Bagi yang terlewat dengan catatan sejarahnya, bisa dengan mudah googling, misalnya "Prabowo gebrak meja podium" atau makian Prabowo kepada juru media dengan kata kunci "Prabowo pimpinan Jakarta Post brengsek". Banyak sekali jejak digital arogansi yang merujuk pada periode kampanye Pilpres 2014 dan 2019 yang secara telanjang menunjukkan betapa tempramentalnya anak begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini.

Sebuah survei lawas, menjelang Pilpres 2014 yang diselenggarakan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, menyimpulkan Prabowo memiliki kecenderungan gaya kepemimpinan otoriter. Penelitian ini dilakukan terhadap 204 psikolog di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi yang berpengalaman dalam menilai kepribadian. Riset diadakan pada 18-27 Juni 2014, dimana sebanyak 76 persen psikolog, menyatakan Prabowo bakal menjalankan gaya otoriter jika terpilih menjadi presiden.

Saya tetap tidak bisa membayangkan orang yang pernah bertanggung jawab menghilangkan nyawa sejumlah orang, menjadi presiden kita. Walaupun belakangan Prabowo sangat baik kepada para korban, dan bahkan merangkul sejumlah aktivis yang diculik dalam, dan juga merekrut bekas anak buahnya di Tim Mawar, tetap saja tidak bisa menawarkan catatan kelam masa lalu.

Seperti Anda, saya juga bertanya-tanya, mengapa sikap dan tindak tanduk Prabowo di publik, khususnya dalam sorotan media sekarang terkesan sangat berbeda dari masa-masa menjelang Pemilu 2014 dan 2019. Saya yakin, sikap arogansi Prabowo tidak akan pernah akan dijumpai lagi sekarang, bukan karena dia sudah berubah, melainkan bagian dari siasat branding politik untuk memikat pemilih, khususnya pemilih muda, sebagian Gen millennial dan Gen Z yang tak merasakan dan tak tahu tentang sejarah kelam Prabowo. Ini strategi ciamik, sebab data Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat sebanyak 55% pemilih pada Pilpres 2024 nanti berusia 15 hingga 40 tahun.

Saya pernah bertanya kepada salah satu petinggi partai yang hendak mengusung Prabowo sebagai capres 2014, mengapa sikap Prabowo sekarang berbeda, menjadi kalem. "Sudah saya suntik," katanya. Jawabannya itu memang terkesan bercanda, tetapi saya kira apa yang ia katakan betul. Diksi suntik ini adalah sebuah masukan kepada Prabowo untuk mengubah gaya komunikasi publiknya, untuk meraih simpati publik. Gaya ini sukses dipakai oleh Jokowi untuk memenangkan dua kali pertarungan di Pilpres melawan Prabowo. Juga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungguli Megawati yang cenderung jumawa pada Pilpres 2004.

Pertanyaanya siapakah pihak yang bisa "menyuntik" atau menasehati Prabowo untuk berubah, atau paling tidak berpura-pura untuk berubah agar bisa menjadi presiden? Tentu saja ada konsultan politik yang senantiasa mengarahkan gerak gerik Prabowo di publik, tetapi saya anggap bukanlah mereka yang bisa mengubahnya. Amatilah pelan-pelan, perubahan sikap Prabowo bukanlah hasil kerja sehari, tetapi beberapa tahun belakangan dan orang paling berpengaruh dalam perubahan sikapnya adalah Jokowi.

Kalau ada yang percaya, bahwa motif dibalik antiklimaks persaingan sengit Pilpres 2019 yang bahkan melahirkan polarisasi hebat di masyarakat via Cebong vs Kampret, dengan kesediaan Prabowo menjadi pembantu Jokowi adalah murni hanya demi persatuan bangsa, maaf, saya anggap naif. Politisi tetaplah politisi, bagi mereka kekuasaanlah yang utama, dan Prabowo masih pada level politisi bukan negarawan. Kalaupun kemudian terbukti benar, polarisasi itu berkurang-bukan hilang-itu hanyalah efek dari apa yang menurut saya sebagai dampak lain dari hubungan simbiosis mutualismeantara Prabowo dan Jokowi yang disemai sejenak setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 2019.

Jokowi adalah orang yang sangat visioner, berpikir ke depan. Ia adalah paket komplit sosok politisi dan pengusaha, dan meski sering terkesan grasa-grusudalam mengambil kebijakan, ia adalah sosok langka dengan kalkulasi cermat dan matang, di atas rata-rata politisi Indonesia. Misalnya, ia tidak peduli dengan kritik pedas mega proyek infrastruktur, mulai dari jalan tol hingga ibukota nusantara, yang dibiayai dengan utang jumbo. Benar, pilihan Jokowi berdampak buruk dalam jangka pendek pada kinerja perekonomian yang jauh di bawah pendahulunya SBY, tetapi dari sudut pandang teoritis apa yang ia bangun memang baru akan berdampak positif bagi Indonesia setelah ia lengser. Indonesia memang butuh infrastruktur yang layak untuk menjadi negara maju.

Ia tidak bergeming dengan kebijakan hilirisasi produk tambang dan juga regulasi payung kontroversial Cipta Kerja, meskipun di kritik kanan kiri. Ia tahu, dalam visinya, suatu saat nanti ia akan dikenang sebagai peletak fondasi ekonomi Indonesia maju nan modern. Boleh dibilang, hampir semua kebijakan ekonominya itu memiliki dampak positif jangka panjang, sehingga yang ia pun menyiapkan skenario politik jangka panjang untuk memastikan semua kepentingan dan visi nya tetap dijalankan oleh penggantinya. Jokowi hanya tinggal memastikan, penerusnya adalah orang yang direstuinya. Untuk hal ini saya sudah menulisnya dalam seri analisis sebelumnya, bahwa Prabowo adalah pilihan kedua Jokowi untuk melawan Capres PDIP Ganjar Pranowo, sehingga siapapun pemenangnya, kecuali Anies Baswedan, adalah orang yang dapat ia percaya meneruskan kebijakan-kebijakannya. (baca: All Jokowi's Men dan Upaya Sistematis Menjegal Anies)

Itulah makna dibalik istilah 'cawe-cawe' yang baru ia akui belakangan ini dan meski ditentang banyak politisi, ia tak peduli. Bahwa, atas nama peluang terakhir Indonesia keluar dari middle income trap, atau jebakan negara berkembang untuk menjadi negara maju tinggal 13 tahun lagi karena keterbatasan demografi, maka ia nekat menerobos fatsun politik sebagai presiden yang seharusnya bertindak sebagai wasit, tidak ikut-ikutan mempengaruhi hasil Pilpres. Saya yakin, cawe-cawe yang diakui Jokowi sekarang sudah ia persiapkan sejak didapuk menjadi presiden pada 2019, dan nama Prabowo masuk dalam skenarionya. Terlepas dari emosinya yang labil, semua tahu Prabowo adalah pribadi yang teguh memegang komitmen, sementara Jokowi sendiri belakangan meminta pemakluman publik bahwa posisinya adalah politisi sebagaimana politisi lainnya, tetapi menggenggam jabatan publik.

7fc3f7cf58
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages