KUBURAN DI MUSIM JELANG RAMADHAN
http://almanhaj.or.id/content/3303/slash/0
Kuburan-kuburan yang dikeramatkan dari orang-orang yang disebut wali,
pada hari-hari atau bulan-bulan tertentu, akan menjadi ramai
dikunjungi orang dari berbagai daerah, termasuk pada saat menjelang
Ramadhan. Masjid-masjid Allâh akan kalah ramai jika musim itu datang.
Suasana di dalam lingkungan tanah pekuburan terasa lain, baik siang
atau malam, berbau mistik. Ada yang tadarrus al-Qur'ân, ada yang
mengusap-usap nisan, ada yang melantunkan doa-doa dan ada yang
menangis. Semuanya sedang merendahkan diri untuk bertabarruk
(ngalapberkah) mencari syafâ'at dan mencari kesejahteraan hidup.
Sebagian ada yang mungkin meminta-minta kepada orang yang telah
dikubur ratusan tahun lamanya. Tetapi jika mereka disebut telah
beribadah kepada selain Allâh, mereka menolaknya. Mereka menganggap
bahwa orang-orang mati itu merupakan wasilah (perantara) menuju Allâh
Azza wa Jalla. Seperti alasan orang-orang musyrikin arab dahulu yang
disebutkan dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Orang-orang yang menjadikan selain Allâh sebagai wali (berkata), "Kami
tidak menyembah mereka, kecuali hanya untuk mendekatkan diri kami
kepada Allâh dengan sedekat-dektanya.[az-Zumar/39:3]
Sementara sebagian lain mungkin ada yang ingin mencari kekhusyu'an
dalam beribadah kepada Allâh di kuburan karena dianggapnya sebagai
tempat yang dekat dengan kematian. Maka kuburan berubah menjadi
masjid. Apalagi bangunannya juga tidak kalah megah dengan Masjid.
Suasana di kuburan-kubaran semacam itu tentu dianggap sebagai suasana
yang sakral, penuh khidmat dan khusyu'. Apabila di Masjid-masjid
Allâh, orang masih bisa bercanda, tertawa terbahak-bahak, mengobrol
panjang lebar tiada guna sambil merokok dan bahkan mungkin bertengkar,
maka di tanah-tanah pekuburan yang dikeramatkan ini, orang tidak
berani berbuat macam-macam, sebab menurut mereka, bisa kualat.
Lingkungan di sekitarnyapun bisa berubah menjadi seperti pasar tiban.
Orang yang berjualan apa saja bagi kebutuhan para peziarah, akan laku.
Bahkan andaikata orang mau berjualan air mentah biasa, atau batu
biasa, atau sobekan kain usang biasa, mungkin akan laku dengan nilai
jual yang tinggi. Asal dikemas khusus dan dijajakan dengan bumbu-bumbu
bahasa meyakinkan meskipun dusta, misalnya bahwa barang-barang itu
adalah benda-benda keramat, bisa menyembuhkan penyakit dan bisa
memudahkan mendapat jodoh dan seterusnya.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan mendulang pahala. Mungkin
dalam rangka menyambut kehadiran bulan Ramadhan yang suci ini, banyak
kaum muslimin yang menganggap perlu berziarah kubur terlebih dahulu,
supaya afdhal. Dan agar lebih sempurna lagi, maka kuburan yang
diziarahi adalah kuburan orang-orang yang dianggap wali, meskipun
harus ditempuh dengan menguras biaya, tenaga dan fikiran, karena jarak
tempuhnya yang kadang mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan
kilometer. Meski miskin, tetapi karena saking inginnya berburu berkah
kendatipun hanya fatamorgana, mereka tetap memaksakan diri. Apalagi
semangatnya telah dikompori oleh orang-orang pintar di kampungnya. .
Sehingga memerlukan syaddu rihal (menyengaja dan bersungguh-sungguh
melakukan perjalanan) ketempat-tempat jauh yang dianggap memiliki
fadhilah-fadhilah besar, seperti ke kuburan-kuburan para wali.
Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, junjungan seluruh
kaum Muslimin sedunia, telah bersabda dengan jelas :
لاَتُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ : مَسْجِد
الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِد الْأَقْصَى. رواه أبو داود
Tidak diboleh disangatkan untuk menyengaja bepergian kecuali pada tiga
Masjid: Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) ini dan Masjidil
Aqsha. [HR. Abu Dâwud] [1]
Akan tetapi karena ketidaktahuan dan sikap ghuluw (berlebihan)
terhadap orang-orang yang dianggap wali, apalagi orang-orang mati ini
dianggap hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya di dunia, akhirnya
mereka menjadikan penghuni kuburan itu sebagai wasilah (perantara)
yang menghubungkan mereka dengan Allâh k . Di manapun mereka dikubur
akan dikejarnya, bahkan meskipun tidak ada bukti kecuali hanya katanya
dan katanya, bahwa itu adalah kuburan wali fulan.
Sikap ghuluw semacam inilah yang menyebabkan orang terjerumus ke dalam
peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla. Karenanya Allâh Azza wa
Jalla berfirman :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ
وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ
وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu bersikap
berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah
kamu menuruti hawa nafsu (keinginan) orang-orang yang telah tersesat
sejak dahulu dan telah menyesatkan banyak (manusia), dan mereka
sendiri tersesat dari jalan yang lurus. [al-Mâidah/5:77]
Demikianlah, pada bulan-bulan tertentu kuburan-kuburan orang besar
berubah menjadi tempat beribadah, bahkan dibangun laksana masjid. Nah
bagaimana sebenarnya persoalan-persoalan itu menurut kaca mata Islam ?
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Shahih Sunan Abi Dâwud, karya Syaikh al-Albâni
rahimahullah, Kitab al-Manasik, Bab 98, I/568, no. 2033
----- End forwarded message -----