[assunnah] >>Do’a Para Malaikat Bagi Orang Yang Berinfak<<

9 views
Skip to first unread message

past...@cbn.net.id

unread,
Jul 13, 2012, 3:43:14 AM7/13/12
to itt79, tex79


DO'A PARA MALAIKAT BAGI ORANG YANG BERINFAK AGAR MEREKA MENDAPATKAN
PENGGANTI ATAS APA YANG DIINFAKKANNYA

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi
http://almanhaj.or.id/content/3300/slash/0

Di antara orang-orang yang mendapatkan do’a dari para Malaikat adalah
orang-orang yang selalu berinfak di jalan kebaikan, dan di antara
dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:

1. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ
يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا
خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada
padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara
keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti [1] bagi orang yang
berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah [2]
(harta) orang yang kikir.’” [3]

Di antara hal yang bisa kita fahami dari hadits di atas bahwa
ash-Shaadiqul Mashduuq, yaitu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengabarkan bahwa sesungguhnya para Malaikat berdo’a agar Allah
Subhanahu wa Ta’ala menggantikan harta orang yang berinfak.

Al-‘Allamah al-‘Aini ketika menjelaskan hadits tersebut berkata:
“Makna khalaf adalah pengganti, sebagaimana dalam sebuah ungkapan:
‘Akhlafallaahu khalfan’ maknanya adalah semoga Allah menggantikannya.”
[4]

Al-Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits ini berkata: “Khalaf
maknanya adalah pengganti yang sangat besar, sebuah pengganti yang
baik di dunia dan berupa balasan di akhirat, dalam hal ini Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya
dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” [Saba’: 39] [5]

Al-‘Allamah al-‘Aini menjelaskan faidah-faidah yang dapat diambil dari
hadits tersebut dengan perkataan: “Dan di dalamnya ada do’a Malaikat,
sedangkan do’a Malaikat adalah sebuah do’a yang akan selalu dikabulkan
dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
‘Barangsiapa yang ucapan aminnya itu tepat dengan ucapan amin para
Malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” [6]

Dan yang dengan dimaksud dengan infak, sebagaimana yang diungkapkan
oleh para ulama, adalah infak dalam ketaatan, infak dalam akhlak yang
mulia, infak kepada keluarga, jamuan tamu, shadaqah dan lain-lain yang
tidak dicela dan tidak termasuk kategori pemborosan.[7]

2. Para Imam, yaitu Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan dari
Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ
يُنَادِيَانِ، يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: يَا
أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى
خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى. وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ
بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ
إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ
مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidaklah matahari terbit melainkan diutus di dua sisinya dua Malaikat
yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan
manusia, mereka berdua berkata: ‘Wahai manusia menghadaplah kalian
kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik
daripada yang banyak tetapi digunakan untuk foya-foya. Dan tidaklah
matahari terbenam melainkan diutus di antara dua sisinya dua Malaikat
yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan
manusia, mereka berdua berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang
yang berinfak, dan hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’”[8]

3. Dua Imam, yaitu Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ
يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا وَمَلَكًا بِبَابٍ آخَرَ يَقُوْلُ:
اَللَّهُمَّ أَعْطِ لِمُنْفِقٍ خَلَفًا وَعَجِّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

“Sesungguhnya satu Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu
langit berkata: ‘Barangsiapa meminjamkan pada satu hari ini, maka akan
dibalas pada esok hari, dan satu Malaikat lainnya yang ada di pintu
lain berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan
segera hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’” [9]

Imam Ibnu Hibban memberikan bab bagi hadits ini dengan judul: “Do’a
Malaikat bagi Orang yang Berinfak dengan Pengganti dan Bagi Orang yang
Kikir agar Hartanya Dihancurkan." [10]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang
selalu berinfak, yang dido’akan dengan pengganti oleh para Malaikat.

Aamiin, yaa Dzal Jalaali wal Ikraam.

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man
Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Penerbit
Idarah Turjuman al-Islami-Pakistan, Cetakan Pertama, 1420 H - 2000 M,
Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do'aka Malaikat,
Penerjemah Beni Sarbeni]
_______
Footnote
[1]. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Pengganti itu lebih baik
disamarkan agar mencakup pengganti dalam bentuk harta dan pahala,
karena berapa banyak orang yang berinfak, dia wafat sebelum
mendapatkan balasan berupa harta di dunia, maka penggantinya adalah
berupa pahala di akhirat, atau dia dihalangi dari kejelekan.” (Fat-hul
Baari III/305)
[2]. Redaksi dengan ungkapan pemberian hanya merupakan gaya bahasa
saja, karena jika harta itu dihancurkan, maka sesungguhnya hal tersbut
bukanlah sebuah pemberian. (Ibid)
[3]. Muttafaq ‘alaih. Shahiih al-Bukhari kitab az-Zakaah bab Qau-luhu
Ta’ala: Fa Amma Man A’thaa wat Taqaa wa Shaddaqa bil Husnaa (III/304
no. 1442) dan Shahiih Muslim kitab az-Zakaah bab Fil Munfiq wal Mumsik
(II/700 no: 1010 (57)).
[4]. ‘Umdatul Qaarii (VIII/307).
[5]. Mirqaatul Mafaatiih (IV/366).
[6]. ‘Umdatul Qaari’ (VIII/307).
[7]. Lihat Syarh an-Nawawi (VII/95).
[8]. Al-Musnad (V/197 cet. Al-Maktab al-Islami), al-Ihsaan fii
Taqriibi Shahiih Ibni Hibban kitab az-Zakaah bab Shadaqatut Tathawwu’,
Dzikrul Akhbaar ‘ammaa Yajibu ‘alal Mar-i min Tawaqqu’il Khilaaf
fiimaa Qaddama li Nafsihi, wa Tawaqqu’ Dhiddahu idzaa Amsaka
(VIII/121-122 no. 3329) dan al-Mus-tadrak ‘alash Shahiihain kitab
at-Tafsiir (II/445).
Al-Imam al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang sanad-nya shahih,
tetapi tidak diriwayatkan oleh keduanya (al-Bukhari dan Muslim).”
(Ibid) Ungkapan tersebut disepakati oleh adz-Dzahabi (lihat kitab
at-Takhliish II/445). Al-Hafizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya adalah perawi yang shahih.”
(Majma’uz Zawaa-id III/122). Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani.
(Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihhah no. 444 dan Shahiih
at-Targhiib wat Tarhiib I/456)
[9]. Al-Musnad (II/305-306 cet. Al-Maktab al-Islami) dan al-Ihsaan fii
Taqriibi Shahiih Ibni Hibban kitab az-Zakaah bab Shadaqatut Tathawwu’
(VIII/124 no. 3333), dengan lafazh darinya. Syaikh Ahmad Syakir
mengomentari sanad hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau
berkata: “Sa-nadnya shahih.” (Catatan pinggir kitab al-Musnad XV/196)
Syaikh Syu’aib al-Arna-uth mengomentari sanad hadits yang diriwayatkan
oleh Ibnu Hibban, beliau berkata: “Isnad-nya shahih berdasarkan syarat
perawi Muslim.” (Catatan pinggir kitab al-Ihsaan VIII/124)
[10]. Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban (VIII/124).


----- End forwarded message -----

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages