(assunnah] Apakah Anda Terjangkiti Penyakit Riyaa'? (Segera Deteksi Diri Anda Sendiri!!!)

1 view
Skip to first unread message

past...@cbn.net.id

unread,
Jul 21, 2012, 8:36:23 PM7/21/12
to itt79, tex79


Apakah Anda Terjangkiti Penyakit Riyaa'? (Segera Deteksi Diri Anda Sendiri!!!)
Category: Aqidah
Published on 10 January 2011
Hits: 5391

Penyakit  yang sangat berbahaya ini… mengakibatkan hancurnya amalan
dan menjadikannya seperti debu yang berterbangan tidak bernilai.
Betapa banyak amalan yang telah dikumpulkan oleh seseorang selama
bertahun-tahun –dan bisa jadi puluhan tahun- dan bisa jadi sudah
bertumpuk amalan tersebut setinggi gunung yang menjulang ke langit…
akan tetapi ternyata semuanya hancur lebur tidak bernilai sama sekali
di sisi Allah.

Allah berfirman :

كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ
فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ
مِمَّا كَسَبُوا

Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan
Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan
orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu
itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak
bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan (QS Al-Baqoroh : 264)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, "Yaitu hujan yang deras tersebut
menjadikan batu yang licin tersebut bersih, yaitu tanpa tersisa
sedikitpun tanah sama sekali, bahkan seluruh tanah telah sirna. Maka
demikianlah amalan-amalannya orang-orang yang riyaa' akan hancur dan
sirna di sisi Allah, meskipun yang nampak pada orang-orang, mereka
memiliki amal sebagaimana tanah (yang nampak di atas batu licin tadi
-pen). Oleh karenanya Allah berfirman ((mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan))" (Tafsir Ibnu Katsiir 1/319)
Sungguh ini merupakan permisalan yang sangat menghinakan orang-orang
yang beramal karena riyaa'. Mereka menyangka bahwasanya mereka telah
mengumpulkan amal yang banyak. Bahkan bukan hanya mereka yang
menyangka demikian, tetapi orang-orang lain yang melihat mereka juga
menyangka demikian, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang sholeh
yang memiliki banyak amalan. Akan tetapi ternyata amalan mereka
dimusnahkan oleh Allah dengan sekejap bahkan tidak tersisa sama sekali
seperti tanah yang nampak bertumpuk di atas batu yang licin lantas
tersiram dengan hujan yang sangat deras sekali, sehingga hilanglah
tanah tersebut dan tidak tersisa sama sekali. Na'uudzu billaahi min
dzaalik, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan ini.

Inilah hal yang sangat menyedihkan dan sangat menyakitkan serta sangat
menghinakan, tatkala orang yang beramal dengan riyaa' menyangka
bahwasanya ia telah mengumpulkan amal dengan sebanyak-banyaknya, dan
ia telah berbangga dengan hal itu, bahkan masyarakat menyangka dirinya
sebagai orang sholeh dan memujinya, namun ternyata pada hakekatnya
amalannya tidak bernilai sama sekali di sisi Allah. Oleh karenanya
disebutkan dalam hadits tentang tiga orang yang riyaa' yang pertama
kali didzab di neraka (yaitu orang yang mati syahid, orang yang
berilmu, dan orang yang dermawan), maka Allah mengatakan kepada mereka
bertiga, "Apa yang kalian lakukan dengan kenikmatan yang telah Aku
berikan kepada kalian?", maka mereka bertiga menjawab, "Kami beramal
ikhlas karena Engkau yaa Allah". Maka Allah membantah mereka dengan
berkata, "Kalian dusta, akan tetapi kalian beramal supaya dikatakan
(oleh masyarakat) sebagai pemberani…, supaya dikatakan sebagai orang
alim…,
supaya dikatakan sebagai dermawan, dan sungguh telah dikatakan
demikian…" (lihat HR Muslim no 1905)

Sungguh masyarakat benar-benar menyangka mereka bertiga adalah
orang-orang sholeh yang banyak beramal, dan masyarakat menyebut-nyebut
mereka, akan tetapi semua itu hanyalah semu, karena pada hakekatnya
amalan mereka tidak bernilai sama sekali.

Bahkan…bukan hanya tidak bernilai akan tetapi malah menyebabkan mereka
menjadi orang-orang yang pertama diadzab di neraka jahanam.

Yang menjadi permasalahan besar adalah penyakit ini sangat sulit untuk
dideteksi, sungguh betapa banyak orang yang merasa diri mereka ikhlas
namun pada kenyataannya ia telah terjangkiti penyakit berbahaya ini.
Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat
mengkhawatirkan penyakit ini. Beliau bersabda :

إِنَّ أَخْوَفَ ما أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قالوا وما
الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يا رَسُولَ اللَّهِ قال الرِّيَاءُ يقول الله عز
وجل لهم يوم الْقِيَامَةِ إذا جُزِىَ الناس بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا
إلى الَّذِينَ كُنْتُمْ تراؤون في الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هل تَجِدُونَ
عِنْدَهُمْ جَزَاءً

"Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian
adalah syirik kecil", mereka (para sahabat) berkata, "Wahai
Rasulullah, apa itu syirik kecil?", beliau berkata, "Riyaa', pada hari
kiamat tatkala manusia dibalas amal perbuatan mereka maka Allah
berkata kepada orang-orang yang riyaa', "Pergilah kaliah kepada
orang-orang yang dahulu kalian riyaa' kepada mereka (mencari pujian
mereka -pen) semasa di dunia, maka lihatlah apakah kalian akan
mendapatkan ganjaran kalian dari mereka?" (HR Ahmad dalam musnadnya
5/428 no 23680 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam As-Shahihah no
951)

Rasulullah juga bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هو أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي من الْمَسِيحِ
الدَّجَّالِ قال قُلْنَا بَلَى فقال الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ
الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى من نَظَرِ رَجُلٍ

"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang perkara yang lebih aku
takutkan menimpa kalian daripada Dajjal?", kami (para sahabat)
berkata, "Tentu wahai Rasulullah", beliau berkata, "Syirik yang samar,
yaitu seseorang berdiri melakukan sholat lalu ia perindah sholatnya
karena dia tahu ada orang lain yang sedang melihatnya sholat" (HR
Ahmad 3/30 no 11270 dan Ibnu Majah no 4204 dan dihasankan oleh Syaikh
Albani)

Finahnya riyaa' lebih ditakuti Nabi menimpa sahabat lebih daripada
fitnahnya Dajjal karena dua perkara:

-         Karena sulitnya seseorang untuk menyelamatkan hatinya dari
riyaa. Syaikh Utsaimin berkata, "Fitnah yang paling besar di dunia ini
adalah fitnahnya Dajjaal, akan tetapi ketakutan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam terhadap fitnahnya syirik yang samar ini
(riyaa'-pen) lebih besar daripada ketakutan beliau terhadap fitnahnya
Dajjaal. Hal ini dikarenakan sangat sulitnya menghindarkan diri dari
riyaa'" (Majmuu' Fataawaa wa Rosaail syaikh Al-'Utsaimiin 10/712)

-         Karena fitnah Dajjal hanya muncul di akhir zaman menjelang
hari kiamat, adapun fitnah riyaa' senantiasa dan selalu mengancam.
(lihat Mirqootul Mafaatiih 15/262)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menamakan riyaa' dengan syirik yang
samar, yang tidak nampak oleh orang lain, dan juga menimpa seseorang
terkadang tanpa ia sadari.

Sahl bin Abdillah At-Tusturi pernah berkata,

لاَ يَعْرِفُ الرِّيَاءَ إِلاَّ مُخْلِصٌ، وَلاَ النِّفَاقَ إِلاَّ
مُؤْمِنٌ، وَلاَ الْجَهْلَ إِلاَّ عَالِمٌ، وَلاَ الْمَعْصِيَةَ إِلاَّ
مُطِيْعٌ

"Tidaklah mengetahui riyaa' kecuali orang yang ikhlash, tidak
mengetahui kemunafikan kecuali orang mukmin, tidak mengetahui
kejahilan kecuali orang yang 'alim, dan tidak mengetahui kemaksiatan
kecuali orang yang ta'at" (Syu'ab Al-Iiman karya Al-Baihaqi 1/188 no
6480)

Sungguh benar… memang hanya orang yang berusaha meraih keikhlasan yang
senantiasa memperhatikan gerak-gerik hatinya, senantiasa mengecek
kondisi hatinya, apakah hatinya berpenyakit riyaa? Apakah berpenyakit
ujub?.



Kecintaan Manusia terhadap Pujian

Merupakan perkara yang semakin menjadikan seseorang mudah terjangkiti
penyakit riyaa' yaitu karena sifat dasar manusia adalah ingin dipuji
dan ingin dihargai. Sungguh kenikmatan yang dirasakan seseorang
tatkala dipuji dan dihormati sangatlah besar…sangatlah lezaat…, jauh
lebih besar dari kenikmatan-kenikmatan yang lain... bahkan jauh lebih
nikmat dari nikmatnya seseorang yang memiliki harta berlimpah.

Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika didapati seseorang yang
mengorbankan hartanya yang begitu banyak untuk disedekahkan –bahkan
mungkin hingga ratusan juta, atau bahkan sampai miliayaran- hanya demi
untuk dihormati dan dipuji dan dikatakan sebagai dermawan.

Demikian juga tidaklah mengherankan jika didapati seseorang yang
menghabiskan waktunya siang dan malam tidak kenal lelah selama
bertahun-tahun untuk mempelajari ilmu dan mendakwahkannya, atau untuk
mempelajari Al-Quran, menghafalkannya dan mengajarkannya, hanya demi
untuk dikenal oleh masyarakat bahwasanya ia adalah seorang yang 'alim
atau seorang qoori' yang ahli baca Al-Qur'an.

Bahkan yang lebih dari ini semua adalah tidak mengherankan jika
didapati seseorang yang telah mengorbankan sesuatu yang paling
berharga yang ia miliki di dunia ini, yaitu ruhnya dan nyawanya hanya
agar dipuji oleh masyarakat dan dikenal sebagai pahlawan pemberani.
Bukankah tidak semua orang yang meninggal di medan pertempuran adalah
seorang yang mati syahiid?

Ada seseorang bertanya kepada Nabi :

الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ
رِيَاءً فَأَيُّ ذلك في سَبِيلِ اللَّهِ؟

"Seseorang berperang karena membela sukunya, ada yang berperang karena
menampakan keberaniannya, dan ada yang berperang karena riyaa', maka
manakah diantara mereka yang fi sabiilillah?"

(Dalam riwayat yang lain فإن أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا "Sesungguhnya
salah seorang di antara kami ada yang berperang karena marah? (HR
Al-Bukhari no 123), dalam riwayat yang lain الرَّجُلُ يُقَاتِلُ
لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُذْكَرَ وَيُقَاتِلُ لِيُرَى
مَكَانُهُ من في سَبِيلِ اللَّهِ "Seseorang berperang untuk mencari
gonimah (harta rampasan perang), seseorang berperang agar dikenang,
dan seseorang berperang agar nampak kedudukannya (dalam hal keberanian
dan kepahlawanannya -pen), maka manakah di antara mereka yang fi
sabiilillah?" (HR Al-Bukhari 2958)

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

من قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ في
سَبِيلِ اللَّهِ

"Barangsiapa yang berperang agar perkataannya Allah-lah yang tertinggi
maka itulah yang fi sabiilillah" (HR Al-Bukhari no 7020)

Memang ketenaran dan popularitas adalah suatu kenikmatan yang sangat
ledzat, yang senantiasa dikejar-kejar oleh banyak orang dengan melalui
banyak pengorbanan… bahkan mengorbankan jiwa raga…

Mereka menyangka bahwasanya dengan tersohornya mereka dan dikenalnya
mereka sebagai seorang yang alim -atau seorang yang rajin ibadah, atau
seorang pemberani, atau seorang dermawan- merupakan puncak kemuliaan
dan kebahagiaan. Apakah mereka tidak tahu bahwasanya mencari ketenaran
merupukan puncak dari kehinaan dan keterpurukan..???



Ikhlas atau Riyaa? (Uji diri sendiri!!!)

Keikhlasan merupakan amalan hati tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Allah, bahkan terkadang seseorang merasa dirinya telah ikhlas namun
ternyata ia tidak ikhlas, bahkan ternyata ia telah terjangkiti
penyakit riyaa' tanpa ia sadari. Oleh karenanya seorang muslim
hendaknya senantiasa mengecek kondisi relung-relung hatinya pada lubuk
hatinya yang paling dalam.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang membantu kita –baik para pembaca
sekalian maupun si penulis sendiri- untuk mengetahui jauh dekatnya
diri kita dari keikhlasan, demikian untuk mengetahui juga parah
tidaknya penyakit riyaa' yang telah menjangkiti kita. Dan diharapkan
pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab dengan jujur dan teliti.

Pertama : Apakah engkau senantiasa berhenti sejenak sebelum beramal
apapun (baik sebelum sholat, sebelum berdakwah, sebelum menulis sebuah
tulisan ilmiyah, sebelum menulis status maupun catatan, atau memberi
komentar di facebook, dll) untuk mengecek apakah niatku sudah benar
ikhlas karena Allah atau tidak?? (Selalu – sering – terkadang –jarang
– hampir tidak pernah)

Untuk menjawab pertanyaan ini ada sebaiknya kita merenungkan atsar
berikut ini :

Ada orang yang berkata kepada Naafi' bin Jubair rahimahullah, أَلاَ
تَشْهَدُ جَنَازَةً؟, "Apakah engkau tidak menghadiri janazah?" maka
beliaupun berkata, كَمَا أَنْتَ حَتَّى أنْوِيَ "Tetaplah di tempatmu
hingga aku berniat". Beliaupun berfikir sejenak lantas beliau berkata,
"Mari kita jalan" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 29).

Kedua : Apakah engkau senantiasa berusaha menjadikan kecintaan dan
kebencian pada seseorang adalah karena Allah bukan karena perkara
dunia apapun? (Selalu –sering –terkadang –jarang –hampir tidak pernah)

Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita renungkan yang berikut ini :

Kita semua mengetahui akan keutamaan cinta dan benci karena Allah.
Betapa indahnya tatkala kita mengucapkan kepada saudara kita Uhibbuka
fillah (Aku mencintaimu karena Allah), lantas saudara kita menjawab
Ahabbakallahu aldzii ahbatnii fiih (Semoga Allah –yang engkau
mencintaiku karenaNya- juga mencintaimu). Kita semua sudah mengetahui
sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي
اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وِالْبُغْضُ فِي اللهِ

"Tali keimanan yang paling kuat adalah berwalaa' karena Allah dan
memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena
Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 998)

Bukankah kita tahu bahwasanya yang hanya boleh dibenci secara mutlak
seratus persen hanyalah orang kafir, sedangkan seorang muslim yang
bercampur pada dirinya maksiat dan ketaatan maka tidak boleh kita
membencinya secara total. Demikian juga seorang muslim yang tercampur
pada dirinya sunnah dan bid'ah maka tidak boleh kita membencinya
secara total. Akan tetapi kita mencintainya sesuai dengan kadar
ketaatan dan sunnah yang dilakukannya dan kita membencinya sesuai
dengan kadar maksiat dan bid'ah yang dilakukannya. (lihat penjelasan
Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu' Al-Fataawaa) Inilah penerapan yang benar
dari kaidah Al-Walaa wal Baroo'.

Namun sering kita dapati :

-         Ternyata terkadang kita sangat membenci saudara kita yang
menyelisihi kita dalam beberapa perkara, padahal perkara-perkara
tersebut merupakan perkara khilafiah ijtihadiah

-         Terkadang kita membenci saudara kita secara total padahal
saudara kita tersebut hanya terjerumus dalam sebuah bid'ah dan kita
telah mengetahui semangatnya dalam melaksanakan sunnah dan ketaatan
kepada Allah.

-         Terkadang kita ikut-ikutan mentahdziir dan menghajr saudara
kita sesama ahlus sunnah bukan karena Allah, akan tetapi lantaran kita
takut kalau kita tidak ikut mentahdzir maka kitalah yang kena tahdzir
dan dihajr, padahal batin kita menolak hal tersebut???!!!. Ini berarti
kita beramal karena selain Allah, mentahdzir bukan karena takut kepada
Allah akan tetapi karena takut kepada manusia. 

Ketiga : Apakah engkau senantiasa bergembira tatkala ada orang lain
(dari manapun juga dia, dan dari pondok atau yayasan atau lulusan
manapun) yang ikut menyebarkan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah?
(selalu – sering – terkadang – jarang – hampir tidak pernah).

Suatu penyakit yang sering menimpa seorang da'i tatkala datang seorang
da'i yang lain yang lebih berilmu atau lebih pandai berceramah bahkan
lebih disukai oleh para pendengar atau pemirsa. Terkadang seseorang
berdakwah selama bertahun-tahun dan berhasil mengumpulkan banyak
pengikut, dan selama itu ia merasa bahwa dirinya telah ikhlas dalam
berdakwah. Namun kebenaran keikhlasannya teruji tatkala datang seorang
da'i yang lebih piawai daripada dirinya. Di sinilah akan nampak apakah
ia ikhlas ataukah tidak. Jika dia ikhlas tentunya ia akan sangat
bergembira karena ada dai yang lain yang membantunya dalam menyebarkan
dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, terlebih lagi akan bertambah
kegembiraannya tatkala ia tahu bahwasanya dai tersebut sangat pandai
dalam berdakwah.

Akan tetapi jika ternyata selama ini dakwah yang ia bangun bukan di
atas keikhlasan maka yang timbul adalah rasa hasad dan dengki yang
amat sangat terhadap dai tersebut.

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata, "Orang yang berdakwah kepada
selain Allah terkadang berdakwah kepada dirinya sendiri, ia berdakwah
kepada al-haq (kebenaran) agar ia diagungkan di hadapan masyarakat dan
dihormati" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/126) Beliau juga berkata, "Banyak
orang yang kalau berdakwah kepada kebenaran mereka berdakwah kepada
diri mereka sendiri" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/136)

Cukuplah bagi kita kisah berharga yang pernah di alami oleh Al-Imam
Al-Bukhari, dimana beliau ditahdzir dan dihajr oleh gurunya sendiri
karena hasad (sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dalam
As-Sowaa'iq Al-Mursalah dan juga Ibnu Hajr dalam Hadyu As-Saari).
Padahal sebelum kedatangan Imam Al-Bukhari maka gurunya tersebut
banyak memuji beliau dan menganjurkan murid-muridnya untuk menghadiri
majelis Imam Al-Bukhari. Namun tatkala majelis Imam Al-Bukhari
ternyata dihadiri banyak orang maka timbullah hasad dalam diri sang
guru tersebut.

Keempat : Apakah engkau senantiasa mengecek niatmu di tengah amalmu?
(selalu – sering –terkadang – jarang – hampir tidak pernah)

Kita harus menyadari bahwasanya meraih keikhlasan adalah perkara yang
sulit, akan tetapi lebih sulit lagi adalah menjaga keikhlasan
tersebut. Ada dua bentuk menjaga kelanggengan keikhlasan

-         Menjaga keikhlasan agar tetap langgeng pada amalan-amalan
berikutnya.

-         Menjaga keikhlasan tatkala sedang beramal. Yaitu sebagaimana
kita ikhlas tatkala memulai amalan (di awal amalan) demikian juga kita
berusaha menjaga keikhlasan tersebut tatkala melakukan amalan.

Sufyan At-Tsauri pernah berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي لأَنَّهَا
تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

"Tidak pernah aku meluruskan sesuatu lebih berat dari meluruskan
niatku, karena niatku selalu berbolak-balik padaku" (jaami'ul 'Uluum
wal Hikam 29)

Sungguh benar perkataan Sufyan, niat selalu berbolak-balik dan
berubah-ubah. Sulaiman bin Dawud Al-Haasyimi berkata,

رُبَّمَا أُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ وَلِيَ فِيهِ نِيَّةٌ، فَإِذَا أَتَيْتُ
عَلَى بَعْضِهِ تَغَيَّرَتْ نِيَّتِي، فَإِذَا الْحَدِيْثُ الْوَاحِدُ
يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّاتٍ

"Terkadang aku menyampaikan sebuah hadits dan aku memiliki niat yang
benar dalam menyampaikan hadits tersebut. Maka tatkala aku
menyampaikan sepenggal dari hadits tersebut berubahlah niatku.
Ternyata untuk menyampaikan satu hadits membutuhkan banyak niat"
(Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 41)

Kelima : Apakah engkau selalu berusaha menyembunyikan segala amalan
sholehmu? (selalu – sering – terkadang – jarang – hampir tidak pernah)

Menyembunyikan amalan merupakan perkara yang sulit sekali, karena
memang hati kita berusaha dan gembira tatkala ada orang yang
mengetahui amalan sholeh kita, sehingga orang tersebut akan tahu
kedudukan kita. Akan tetapi barangsiapa yang berusaha untuk
menyembunyikan amalan sholehnya serta membiasakan dirinya dengan hal
itu maka akan dimudahkan oleh Allah. Para salaf dahulu berusaha untuk
menyembunyikan amalan mereka (silahkan
lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/1-ikhlas-dan-bahaya-riya?start=2)

Keenam : Apakah engkau selalu tidak terpengaruh dengan pujian dan
celaan masyarakat, karena yang engkau perhatikan hanyalah penilaian
Allah dan bukan penilaian manusia? (Selalu – sering –terkadang –
jarang – hampir tidak pernah)

Inilah hakekat inti dari keikhlasan, yaitu seseorang hanya menyibukan
hatinya untuk mengetahui bagaimana penilaian Allah terhadap amal
sholeh yang ia kerjakan, dan tidak peduli dengan penilaian masyarakat.
Sungguh ini merupakan perkara yang sulit dan butuh perjuangan yang
sangat berat untuk bisa mencapai hal ini. Oleh karenanya di antara
definisi ikhlas adalah :

نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظْرِ إِلَى الْخَالِقِ

"Melupakan pandangan makhluq (manusia) dengan selalu memandang kepada
Maha Pencipta" (Tazkiyatun Nafs 13)

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah sebagai renungan bagi kita
semua, yang mungkin selama ini di antara kita ada yang telah merasa
ikhlas dan terlepas dari riyaa' maka hendaknya kita bermuhasabah
dengan pertanyaan-pertanyaan di atas.


 
Madinah Munawwarah, 05 Safar 1432  / 09 Januari 2011
Firanda Andirja
www.firanda.com

----- End forwarded message -----

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages