[assunnah] >>Mudik Lebaran, Dan Tradisi Yang Keliru<<

3 views
Skip to first unread message

past...@cbn.net.id

unread,
Aug 15, 2012, 12:16:08 AM8/15/12
to tex79, itt79


MUDIK LEBARAN, DAN TRADISI YANG KELIRU

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin
http://almanhaj.or.id/content/2830/slash/0/mudik-lebaran-dan-tradisi-yang-keliru/

Wahai, manusia. Hiasilah hubungan dengan kerabatmu untuk mencari ridha
Allah. Dengan bersilaturahmi, keberkahan umur dan rizki akan diraih
dan derajat mulia akan tercapai di sisi Allah. Ketauhilah, silaturahmi
dengan sanak kerabat dan famili merupakan salah satu bentuk ibadah
kepada Allah.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي
أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka
hendaklah melakukan silaturrahmi".[1]

Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap
orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita. Namun, silaturrahmi
yang sebenarnya ialah menyambung hubungan dengan orang-orang yang
telah memutuskan tali silaturahmi dengan kita.

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلَ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا
قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturahmi adalah orang
yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung silaturahmi adalah
orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan
silaturahmi". [2]

TRADISI MUDIK LEBARAN DALAM TINJUAN ISLAM
Sebagian besar kaum Muslimin di negeri kita mengira, bahwa mudik
lebaran ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena terkait dengan
ibadah bulan Ramadhan. Sehingga banyak yang lebih antusias menyambut
mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan lailatul qadr. Dengan
berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian
dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer,
mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek
secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang. Pada hari lebaran,
lembaga pegadaian menjadi sebuah tempat yang paling ramai dipadati
pengunjung yang ingin berhutang.

Padahal yang benar mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam
karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al Qur’an maupun As
Sunnah, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara
silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi
bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Apabila yang dimaksud mudik lebaran sebagai bentuk kegiatan untuk
memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh
dan hubungan yang retak sementara tidak ada kesempatan yang baik
kecuali hanya waktu lebaran maka demikian itu boleh-boleh saja namun
bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan serta diyakini
sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam atau
disebut dengan istilah tradisi Islami maka demikian itu bisa menjadi
bidah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam. Sebab
seluruh macam tradisi dan kebiasaan yang tidak bersandar pada petunjuk
syareat merupakan perkara bidah dan tertolak sebagaimana sabda Nabi:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا
حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى
اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan
taat walaupun dipimpin budak habasyi, karena siapa yang masih hidup
dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang
teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang
memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan
gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah)
karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah
adalah sesat". [Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

SILATURAHMI YANG SESUAI DENGAN SUNNAH
Makna silaturahmi secara bahasa adalah dari lafadz rahmah yang berarti
lembut dan kasih sayang.

Abu Ishak berkata: "Dikatakan paling dekat rahimnya adalah orang yang
paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan
kekerabatannya". [3

Imam Al Allamah Ar Raghib Al Asfahani berkata bahwa Ar Rahim berasal
dari rahmah yang berarti lembut yang memberi konsekwensi berbuat baik
kepada orang yang disayangi.[4]

Oleh sebab itu salaturrahmi merupakan bentuk hubungan dekat antara
bapak dan anaknya atau seseorang dengan kerabatnya dengan kasih saying
yang dekat, sebagaimana firman Allah: "Dan bertakwalah kepada Allah,
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain dan peliharalah hubungan silaturahim". [an Nisa’:1]

Silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua dan sanak kerabat
merupakan urusan yang sangat penting, kewajiban yang sangat agung, dan
amal salih yang memiliki kedudukan mulia dalam agama Islam serta
merupakan aktifitas ibadah yang sangat mulia dan berpahala besar
sehingga banyak sekali nash baik dari Al-Qur’an dan Sunnah yang
memberi motivasi untuk silaturahmi dan mengancam bagi siapa saja yang
memutuskannya dengan ancaman berat.

Allah berfirman : "(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah
sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan
Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di
muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi". [al Baqarah : 27]

Ayat di atas terdapat anjuran agar setiap muslim melakukan
silaturrahmi dengan kerabat dan sanak famili.

Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabary berkata: "Pada ayat di atas Allah
menganjurkan agar menyambung hubungan dengan sanak kerabat dan orang
yang mempunyai hubungan rahim dan tidak memutuskannya".[5]

Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim hendaknya melakukan
silaturrahmi dengan sanak kerabat baik dengan saudara laki-laki dan
saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau
seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menyayangi,
menghormati dan menyambung hubungan hubungan kerabat baik pada saat
berdekatan maupun berjauhan.

Dari Aisyah bahwa Nabi bersabda:

الرَّحِمُ شَجْنَةٌ مِنَ اللهِ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ
قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

"Rahim adalah syajnah (bagian dari limpahan rahmat) [6] dari Allah,
barangsiapa yang menyambungnya maka Allah akan menyambungnya dan
barangsiapa yang memutuskannya maka Allah akan memutuskannya". [7]

Hubungan persaudaraan khususnya antara saudara laki-laki dan saudara
perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang
sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari
semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ
الرَّحِمُ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ
قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ
مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَذَاكِ لَكِ

"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dan setelah usai darinya maka
rahim berdiri lalu berkata: Ini adalah tempat orang berlindung dari
pemutusan silaturramhi. Maka Allah berfirman: Ya. Bukankah kamu merasa
senang Aku akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan
memutuskan hubungan dengan orang memutuskan denganmu? Ia menjawab: Ya.
Allah berfirman: Demikian itu menjadi hakmu".[8]

Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturrahmi tanpa alasan syar’i
maka berhak mendapatkan sanksi berat dan kutukan dari Allah serta
diancam tidak masuk surga.

Allah berfirman: "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah
diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan
supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang
itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang
buruk (Jahannam)". [ar-Ra’d : 25].

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Muhammad bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.".[9]

KESALAHAN-KESALAHAN PADA SAAT LEBARAN
Hari raya adalah salah satu syiar kemuliaan kaum muslimin. Pada hari
itu mereka berkumpul jiwa-jiwa menjadi bersih dan persatuan terbentuk
serta pengaruh kejelekan dan kesengsaraan hilang, sehingga tidak
tampak pada waktu itu kecuali kebahagiaan. Namun hal ini sering
terjadi kekeliruan-kekeliruan dalam merayakannya. Diantaranya.

1. Meniru orang kafir dalam berpakaian. Kita mulai melihat sebagai
fenomena aneh pada masyarakat kita khususnya pada hari raya. Mereka
mengenakan pakaian yang aneh-aneh ala orang kafir. Seorang muslim dan
muslimah seharusnya memiliki semangat untuk menjaga agama, kehormatan
dan fitrahnya. Jangan tergoda untuk ikut-ikutan mereka meniru-niru
kebiasaan orang-orang yang tidak menjaga kehormatan.

2. Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai syiar melaksanakan
kemaksiatan, sehingga secara terang-terangan ia melakukan perbuatan
yang diharamkan. Misalnya dengan mendengarkan musik dan memakan
makanan yang diharamkan Allah.

3. Dalam berziarah (kunjungan) tidak memperhatikan etika islami.
Contohnya bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram,
saling berjabat tangan antara laki-laki yang bukan mahram

4. Berlebih-lebihan dalam membuat makanan dan minuman yang tidak
berfaedah, sehingga banyak yang terbuang, padahal kaum muslimin yang
membutuhkan.

5. Hari Raya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyatukan
hati kaum muslimin, baik yang ada hubungan kerabat atau tidak. Juga
kesempatan untuk mensucikan jiwa dan menyatukan hati, namun pada
kenyataannya, penyakit hati masih tetap saja bercokol.

6. Menganggap bahwa silaturahmi hanya dikerjakan pada saat hari raya saja.

7. Menganggap bahwa pada hari raya sebagai saat yang tepat untuk ziarah kubur.

8. Saling berkunjung untuk saling maaf-memaafkan diantara para kerabat
dan sanak famili dengan keyakinan saat itulah yang paling afdhal.[10]

SILATURAHMI YANG PALING UTAMA ADALAH BIRRUL WALIDAIN
Allah mewajibkan seorang anak untuk taat, berbuat baik dan berbakti
kepada kedua orang tuannya. Bahkan Allah menghubungkan perintah
beribadah kepadaNya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua,
sebagaimana firman Allah:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ
كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل
لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا {23}

"Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”,
dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia". [al Isra` : 23]

Birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik
berupa bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan
menjaga nama baik pada saat hidup atau setelah wafat. Orang tua
merupakan kerabat terdekat, yang banyak mempunyai jasa dan kasih
sayang yang besar sepanjang masa, sehingga tidak aneh kalau hak-haknya
juga besar. Allah berfirman :

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا
عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي
وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah
kembalimu". [Luqman : 14 ].

KEUTAMAAN BIRUL WALIDAIN
Di dalam Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
banyak disebutkan secara berulang-ulang, agar seorang anak berbuat
baik kepada kedua orang tuanya. Kebaikan dan pengorbanan orang tua
tidak terhitung jumlahnya, baik berupa jiwa raga dan kekuatan, tidak
berkeluh kesah dan tidak meminta balasan dari anaknya.

Adapun anak, ia harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar
senantiasa mengingat terhadap jasa orang tua, yang selama ini telah
mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya untuk membesarkan dan
mendidiknya.

Seorang ibu, selama mengandung mengalami banyak beban berat. Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan, ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya.
Penderitaan ketika hamil, tidak ada yang bisa merasakan payahnya,
kecuali kaum ibu juga.

Imam Bukhari di dalam Adabul Mufrad, dari Abu Burdah, bahwa ia
menyaksikan Ibnu Umar dan ada seorang laki-laki dari Yaman sedang
melakukan thawaf -sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya-,
ia berkata: ‘Sesungguhnya saya menjadi tunggangannya yang tunduk,
jikalau tunggangan lain terkadang susah dikendalikan, aku tidaklah
demikian’. Lalu ia bertanya kepada Ibnu ‘Umar: 'Wahai Ibnu Umar,
apakah dengan ini saya sudah membayar jasanya?. Beliau menjawab:"Sama
sekali belum, walaupun satu kali sengalan nafasnya (saat
melahirkanmu)" [11]

Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, bahwasanya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثم يُوْصِيْكُمْ
بِأُمَّهَاتِكُمْ ثم يُوْصِيْكُمْ بِآبَائِكُمْ ثُمَّ يُوْصِيْكُمْ
بِاْلأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ

"Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada
ibu-ibumu, lalu Allah berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu,
kemudian Allah berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian Allah
berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu".[12]

Begitulah, anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua. Kasih
sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya. Seorang anak selalu
merepotkan dan menyita perhatian kedua orang tuanya. Tatkala kedua
orang tua tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi
betapa cepatnya seorang anak melalaikan semua jasa orang tuanya, dan
hanya sibuk mengurus isteri dan ana-anaknya. Padahal berbuat baik
kepada kedua orang tua merupakan keputusan mutlak dari Allah, dan
merupakan ibadah yang menempati urutan ke dua setelah ibadah kepada
Allah.

Mari kita segera mulai dengan berbuat baik, menghormati dan memuliakan
mereka berdua. Karena birrul walidain memiliki keutamaan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Lihat sahih Abu Daud (1486), sahih Adabul Mufrad (56) Sahih
Muslim bab Al Birru Wassilah hadits ke 20.
[2]. Lihat SahihAdabul Mufrad (68) bab laisal wasil bil mukafi’
[3]. Lihat Lisanul Arab (5/174) bab Dzal wa Ra’.
[4]. Lihat Mufradatul Qur;an Hal (346)
[5]. Lihat Tafsir Ath Thabary juz 1/144. dan tafsir Ibnu Katsir Juz 1/ 83
[6]. Lihat Syarah Adabul Mufrad karya Husain Ibnu Uwadah Al Awayasyah.
Juz 1/72.
[7]. Lihat Silsilah hadits sahihah no (925) , Adabul Mufrad no (55)
dan sahih Musdlim bab Al Birru wa Silah hadits ke 17.
[8]. HR Imam Bukhari dalam sahihnya dalam kitabut tafsir (4830) dan
Imam Muslim dalam kitabul Birri (6465).
[9]. HR Imam Bukhari dalam sahihnya dalam kitabul Adad bab Istmul
Qathi’ (5984), Muslim dalam sahihnya kitabul birry bab Silaturrahim
(6467) dan Abu Daud Dalam sunannya (1696).
[10]. Lihat Ahkamul Idain wa Asyr Dzulhijjah karya DR. Abdullah bin
Muhammad Ath Thayyar
[11]. Adabul Mufrad, hadits no. 11, Bab Jazaul Walidain. Dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani.
[12]. Shahih Adabul Mufrad, 60; Sunan Ibnu Majah, 23, Kitabul Adab dan
Shilisilah Hadits Shahihah, 1666.

----- End forwarded message -----

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages