[assunnah] >>Al-Qur'ân Bukan Untuk Orang Mati<<

2 views
Skip to first unread message

past...@cbn.net.id

unread,
Mar 14, 2013, 8:37:48 PM3/14/13
to tex79, itt79, ITT_STTT



AL-QUR'AN BUKAN UNTUK ORANG MATI

Oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari
http://almanhaj.or.id/content/3548/slash/0/al-qurn-bukan-untuk-orang-mati/

Adalah kebiasaan di beberapa daerah, orang membaca kitab suci
al-Qur'ân ?atau membaca surat Yâsin- kemudian pahalanya dihadiahkan
untuk orang yang telah mati. Bahkan sebagian orang, ada menyewa atau
membayar seseorang atau sekelompok orang untuk membaca al-Qur'ân dan
menghadiahkan pahalanya kepada keluarganya yang telah meninggal dunia.
Pembacaan al-Qur'ân ini terkadang dilakukan di rumah duka, di kuburan
atau lainnya. Benarkah perbuatan mereka itu menurut syari'at Islam?

Membaca al-Qur'ân untuk orang mati tidak dibenarkan dalam agama Islam
dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1. Membaca al-Qur'ân lalu menghadiahkan pahalanya untuk orang yang
telah mati tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu
?alaihi wa sallam , para sahabat dan para tabi'in. Sementara kewajiban
kita dalam beragama adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat perkara
baru. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

???? ???? ???????? ?????????? ??????? ?????????????? ????????????
??????? ?????????? ?????? ???????????

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku,
niscaya Allâh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." [Ali 'Imrân/3:31]

?????? ????? ?????? ??? ??????? ??????? ???????? ???????? ?????? ?????
??????? ??????? ??????????? ???????? ???????? ??????? ????????

Sesungguhnya pada (diri) Rasûlullâh itu telah ada suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh.
[Al-Ahzâb/33:21]

2. Orang yang membolehkan membaca al-Qur'ân lalu menghadiahkan
pahalanya untuk orang yang telah mati, dia harus mendatangkan dalil
dari al-Qur'ân atau as-Sunnah. Jika dia tidak bisa mendatangkan dalil,
berarti dia telah berbicara tentang agama tanpa dasar ilmu.

Allâh Subhanahu wa Ta?ala berfirman :

???? ???????? ??????? ??????? ???????????? ??? ?????? ??????? ?????
?????? ??????????? ??????????? ???????? ???????? ?????? ??????????
????????? ??? ???? ????????? ???? ?????????? ?????? ????????? ?????
??????? ??? ??? ???????????

Katakanlah, "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, yang
nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allâh
dengan sesuatu yang Allâh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan
(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allâh apa saja yang tidak kamu
ketahui (berbicara tentang Allâh tanpa ilmu)" [al-A?râf/7:33]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullah mengatakan,
?Berbicara tentang Allâh tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang
diharamkan Allâh. Bahkan itu lebih tinggi dari perbuatan syirik.
Karena dalam ayat tersebut Allah Azza wa Jalla mengurutkan
perkara-perkara yang diharamkan mulai dari yang paling rendah ke yang
paling tinggi. Berbicara tentang Allâh tanpa ilmu, meliputi berbicara
(tanpa ilmu) tentang hukum-hukum Allah, syari?at-Nya dan agamaNya.
Termasuk berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa
Jalla . Ini lebih besar dosanya daripada berbicara (tanpa ilmu)
tentang syari?at dan agama Allah Azza wa Jalla .?[1]

3. Barangsiapa membolehkan membaca al-Qur'ân untuk dihadiahkan
pahalanya buat orang yang telah mati, berarti dia telah membuat
syari'at yang tidak diidzinkan oleh Allâh Azza wa Jalla. Allah Azza wa
Jalla berfirman mengingkari orang-orang musyrik yang mengikuti syariat
agama yang tidak diidzinkan oleh Allah:

???? ?????? ????????? ???????? ?????? ???? ???????? ??? ???? ????????
???? ??????? ? ????????? ???????? ????????? ???????? ?????????? ?
??????? ????????????? ?????? ??????? ???????

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allâh yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh? Sekiranya
tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allâh) tentulah mereka telah
dibinasakan. [asy-Syûrâ/42: 21]

4. Perbuatan tersebut bertentangan dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

?????? ?????? ????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????????????
?????? ??? ??????

Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan seorang
manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
[an-Najm/53: 38-39]

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, "Maksudnya adalah seorang
manusia hanya mendapatkan pahala dari usaha dan balasan perbuatannya
sendiri. Amalan seseorang tidak bisa mendatangkan manfaat bagi orang
lain. Keumuman makna dalam ayat ini dikecualikan dengan semisal firman
Allâh Azza wa Jalla :

??????????? ?????? ??????????????

Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. [ath-Thûr/52:21]

Dan semisal riwayat tentang syafa'at para Nabi dan Malaikat untuk para
hamba, doa orang hidup untuk orang-orang yang telah mati dan
semacamnya. Orang yang mengatakan bahwa ayat ini mansûkh (hukumnya
dihapus) dengan perkara-perkara tadi adalah perkataan yang tidak
benar. Karena dalil yang khusus tidak menghapus dalil yang umum, namun
hanya mengkhususkannya (mempersempit keumuman maknanya). Sehingga
semua dalil yang menunjukkan bahwa manusia bisa mendapatkan manfaat
dari selain usahanya sendiri itu adalah dalil yang mengkhususkan
keumuman ayat di atas." (Fathul Qadir, tafsir surat an-Najm ayat 39)

Adapun membaca al-Qur'ân lalu pahalanya dihadiahkan buat orang yang
telah mati, tidak ada dalil yang menuntunkannya.

5. Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur'ân sebagai hidayah (petunjuk)
bagi manusia. Sehingga orang hidup bisa memanfaatkannya, mengikuti
petunjuknya di dunia ini dan mengamalkannya. Di akhirat, orang-orang
yang seperti ini akan dituntun oleh al-Qur'ân menuju surga.

Sedangkan orang yang telah mati, maka amalannya telah terputus, dia
tidak mampu menambahi atau mengurangi amalannya.

Perbuatan sebagian orang di zaman ini berlawanan dengan kondisi di
atas. Ketika masih hidup, mereka meninggalkan al-Qur?ân, enggan
membaca atau mendengarkannya. Mereka lebih suka menyanyi, mendengar
musik, menonton film dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat di
akhirat. Jika ada orang mati, mereka membacakan al-Qur'ân buat jenazah
tersebut pada acara pemakamannya atau di kuburnya.

Mereka ini ibarat orang mogok makan sampai mati kelaparan. Setelah dia
mati, orang-orang mendatanginya membawakan makanan agar dia
memakannya. Al-Qur'ân hanya bermanfaat bagi orang yang hidup selama
masih berada di dunia, ladang beramal. Adapun setelah mati, maka dia
telah pindah dari fase beramal menuju fase pembalasan amal. Pada waktu
itu al-Qur'ân tidak bermanfaat baginya, karena ketika hidup dia
meninggalkan al-Qur'ân, padahal dia mampu mengambil manfaat darinya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

???? ???? ?????? ?????? ????????? ??????? ?????????? ???? ????? ??????
????????? ????????? ????? ?????????????

Al-Qur'ân itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi
penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada
orang-orang yang hidup dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap
orang-orang kafir. [Yâsîn/36:69-70]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

????????? ??????? ???????? ???? ????????? ??? ???? ?????? ? ??????
?????????? ???? ???????? ??????? ???? ???????? ?????? ?????????
???????? ?????? ???????????? ??????? ?????????? ????? ? ??????? ??????
?????? ???????????? ???????

"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat
yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari
sisi Kami suatu peringatan (al-Qur'ân). Barangsiapa berpaling dari
al-Qur'ân, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari
kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu dan amat buruklah dosa itu
sebagai beban bagi mereka di hari kiamat." [Thâha/20:99-101]

6. Membaca al-Qur'ân adalah ibadah dan ibadah itu tauqifiyyah, artinya
harus mengikuti tuntunan. Jika seseorang beribadah tanpa tuntunan,
berarti dia beribadah kepada Allâh semaunya sendiri, padahal Allâh
Azza wa Jalla berfirman :

?????????? ???? ???????? ????????? ??????? ?????????? ??????? ????????
???????? ???? ???????? ????? ???????????? ??????????? ???? ???????????
? ???? ???? ?????? ?????????????? ? ???? ???? ??????? ????????

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya ! Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya
?,Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
[al-Furqân/25:43-44]

7. Pahala suatu amal belum tentu diraih oleh orang yang
mengamalkannya. Bagaimana mungkin ia menghadiahkan sesuatu yang belum
pasti kepada orang lain. Karena amalan akan diterima dengan beberapa
syarat :

1. Iman
2. Ikhlas
3. Sesuai tuntunan syari?at
4. Bersih dari hal-hal yang membatalkan amal, seperti riyâ?, ?ujub dan
lainnya.
Seseorang tidak tahu, apakah amalnya diterima atau tertolak.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma
pernah berkata, ?Jika aku tahu shalatku diterima (oleh Allâh), maka
aku benar-benar mengharapkan kematian, karena Allâh Azza wa Jalla
berfirman :

???????? ??????????? ??????? ???? ?????????????

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla hanya menerima (amalan) dari
orang-orang yang bertakwa. [al-Mâidah/5:27]

8. Membaca al-Qur'ân pada acara kematian atau di depan jenazah atau di
kuburan merupakan perkara baru dalam agama, sedangkan semua perkara
baru dalam agama adalah bid?ah dan semua bid?ah adalah sesat.
Rasûlullâh Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda:

?????????? ????????? ??????? ??????????? ???????????? ?????? ???????
?????????? ????????? ???? ?????? ???????? ??????? ?????????
??????????? ???????? ???????????? ????????? ????????? ????????????
??????????????? ????????????? ??????????? ????? ????????? ?????????
?????????????? ???????????? ????????????? ?????????? ??????? ?????
?????????? ???????? ??????? ???????? ?????????

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allâh; mendengar dan
taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi.
Karena sesungguhnya barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat
perselishan yang banyak. Maka wajib kamu berpegang kepada Sunnahku dan
Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah
dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam
agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid?ah, dan
semua bid?ah adalah sesat. [HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676;
Ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-?Irbâdh bin Sâriyah]

Perbuatan tersebut tidak ada tuntunan dari Nabi, dari Khulafaur
rasyidin, dari para sahabat, dari tabi?in dan dari tabi?ut tabi?in,
sehingga hukumnya bid?ah dan sesat.

9. Kalau kita tahu bahwa hal itu bid?ah, maka pasti tidak ada
pahalanya, sebaliknya yang ada adalah dosa. Jika demikian keadaannya,
maka menghadiahkan pahala merupakan perkataan dan perbuatan sia-sia.
Ini ibarat orang yang menggenggam tangannya yang kosong, lalu dia
berkata kepada orang lain yang membutuhkan bantuan, ?Ambillah!?,
padahal tangannya kosong.

10. Sesungguhnya semua orang sangat butuh kepada amalannya. Pada hari
kiamat nanti, semua orang akan sangat mengkhawatirkan dirinya, akankah
amalannya bisa menyelamatkannya ?! Masing-masing akan lebih
mementingkan dirinya daripada saudaranya atau ibunya atau bapaknya.
Jika demikian, berarti orang yang menghadiahkan amalannya seakan dia
sudah memastikan bahwa dirinya dijamin aman, tidak rugi dan seakan
tidak butuh karunia Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla
berfirman :

??????? ??????? ??????????? ?????? ??????? ????????? ???? ???????
????????? ????????? ????????????? ????????? ??????? ??????? ????????
?????????? ?????? ?????????

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang
kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan
bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada
hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. [?Abasa/80:33-37]

Demikianlah uraian singkat tentang beberapa poin penting berkaitan
dengan bacaan al-Qur'ân yang dihadiahkan pahalanya buat orang yang
sudah meninggal. Ada sebagian orang yang berkilah bahwa apa yang dia
lakukan itu adalah tradisi atau adat. Namun itu hanya alasan saja,
karena yang menjadi tujuannya adalah pahala, sementara yang namanya
tradisi atau adat, pelaksanaannya bukan untuk mencari pahala. Kalau
tujuannya mencari pahala, berarti itu adalah ibadah. Dan ibadah harus
sesuai dengan tuntunan syari'at.

Semoga uraian singkat ini bisa bermanfaat dan menggugah kesadaran kita
untuk lebih semangat dan waspada dalam melaksanakan ibadah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIV/1431/2010M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Catatan kaki kitab at-Tanbihatul Lathîfah ?Ala Ma Ihtawat ?alaihi
al-?aqidatul Wasithiyah, hlm. 34, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan,
penerbit Dar Ibnil Qayyim


----- End forwarded message -----

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages