Natal, Intoleransi dan Budaya Konyol Di Indonesia

6 views
Skip to first unread message

past...@cbn.net.id

unread,
Dec 27, 2012, 1:31:22 AM12/27/12
to tex79, itt79


Oleh: Ardiannur Ar Roya, Penggiat Diskusi di CIIA (The Community Of
Ideological Islamic Analyst)



Kebenaran Natal     


Kata Christmas (Natal) yang diartikan sebagai Mass of Christ atau
disingkat dengan Christ-Mass adalah sebuah hari dimana dirayakan
kelahiran dari ?Yesus?. Biasanya rutin dilaksanakan setiap tanggal 25
Desember pada tiap
tahunnya. Berbagai aktivitas pun dilakukan untuk memperingati hari ini
seperti doa bersama, pesta, pohon natal, dan sejenisnya. Perayaan yang
dilakukan oleh orang-orang kristen bahkan orang-orang non-kristen ini
berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma.


Pada dasarnya perintah untuk menyelenggarakan Natal tidak pernah ada
dalam Bibel. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik
pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun sebenarnya merupakan hasil dari
proses Sinkretisme (Penggabungan dua agama) antara Kristen Katolik dan
juga budaya Paganis Politheisme Imperium Romawi pada saat itu. Ketika
Kaisar Konstantin menjadi penganut Kristen Katolik, ia tetap tidak
mampu meninggalkan adat atau kepercayaannya terhadap budaya pagannya,
apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari kelahiran Dewa
Matahari
pada tanggal 25 Desember.


Karena itulah agar agama Katolik bisa diterima dan masuk ke
tengah-tengah masyarakat Romawi maka dilakukanlah proses Sinkretisme
tadi yakni dengan cara menyatukan perayaan kelahiran dari Sun of God
(Dewa Matahari) dengan kelahirannya Son of God (Yesus). Kemudian pada
konsili tahun 325, Kaisar Konstantin memutuskan untuk menetapkan bahwa
tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dari Yesus. Sesudah Kaisar
Konstantin memeluk agama Katolik dan melakukan penyatuan kedua agama
melalui proses Sinkretisme tadi, maka rakyat pun beramai-ramai memeluk
agama Katolik. Bisa dikatakan ini adalah sebuah prestasi gemilang dari
hasil proses Sinkretisme oleh Kaisar Konstantin dengan agama Paganisme
Politheisme nenek moyang mereka. Pada akhirnya semenjak tahun 1100,
Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di banyak
negara-negara Eropa.


Budaya Latah dan Konyol ?
           


Sudah menjadi kebiasaan, kalau tidak
dikatakan, budaya yang mengakar dan menyebar di rakyat Indonesia bahwa
pesta atau perayaan terhadap satu momen itu sangatlah penting. Tidak
hanya sampai di situ, rakyat Indonesia juga sangat terbiasa bahkan
terbudayakan untuk memperingati berbagai hari-hari perayaan walau itu
berasal dari asing.


Misalkan saja ketika kita masuk di pertengahan bulan Desember yakni
minggu-minggu jelang 25 Desember, hari perayaan Natal. Kita bisa
merasakan atmosfir yang terbentuk di sekitar kita ditujukan untuk
memperingati dan menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan
penuh dengan iklan ucapan selamat Natal, pergi ke pusat perbelanjaan
maka kita disuguhi dengan suasana menyambut Natal mulai dari para
karyawannya yang berpakaian seperti Santa Klaus, lagu-lagu rohani
Kristen, dekorasi pohon Natal yang dihiasi dengan hiasan sedemikian
rupa, dan lainnya. Bahkan media pun tidak lupa untuk mem-blow up akan
perayaan Natal ini sedemikian rupa, disuguhi lah masyarakat Indonesia
dengan film-film bernuansa Kristen dan Paganisme  Politheisme.


Kemudian ketika di akhir tahun, jelang tanggal 1 Januari. Kita
mendengar bagaimana ramainya orang membicarakan apa yang ingin ia
lakukan ketika tahun baru nanti, berpesta-pora menyambut tahun baru.
Tahun baru memang dikatakan sebagai sebuah hari suci bagi umat Kristen
di seluruh penjuru dunia, setiap tahun baru banyak orang di seluruh
penjuru dunia keluar dari rumahnya kemudian meniupkan terompet,
menyalakan kembang api, berpesta pora, dan mengucapkan ?Happy New Year?.


Hakikatnya, budaya ini telah lama dirayakan oleh orang-orang Yahudi
jauh sebelum umat Kristiani merayakannya. Dan sekali lagi, di akhir
tahun Indonesia benar-benar menjadi sebuah negeri yang  mayoritas
muslim mendadak menjadi sangat kental ke-yahudi-annya.


Inilah fakta yang memprihatinkan dari sebuah bangsa yang ultra-latah.
Bangsa yang ultra-latah ini akan sangat mengagungkan
kebudayaan-kebudayaan dari asing di luar sana yang dianggapnya sebagai
negeri maju dan berjaya, maka kemudian begitu mudahnya larut dengan
budaya Natal, tahun baru, valentine, April mob, dan lainnya ke negeri
kita. Hingga negeri ini memang pantas dikatakan sebagai sebuah negeri
yang terjajah, mungkin tidak dijajah secara fisik namun tentu dijajah
secara pemikiran. Benarlah jika dikatakan bahwa negeri yang terjajah
akan mengikuti apapun yang dilakukan oleh negeri yang menjajahnya,
termasuk kebudayaannya.


Mari kita pikirkan, apa hubungannya dengan mencontoh perayaan natal
di bulan Desember, tahun baru di awal tahun pada bulan Januari, hari
kasih sayang atau dikenal dengan hari Valentine pada pertengahan bulan
Februari, april mob pada awal april, dan seterusnya dengan kemajuan
yang mungkin bisa diperoleh oleh negeri yang mencontoh perayaan
hari-hari
tersebut?


Tentu sama sekali tidak ada hubungannya. Lalu mengapa tetap
dilakukan oleh rakyat Indonesia? Ya, inilah budaya ultra-latah dari
masyarakat  Indonesia, sebuah budaya konyol.


Siapa Yang Intoleransi?


            Natal merupakan perayaan yang seharusnya dikhususkan hanya
untuk kaum-kaum Kristen namun berbeda dengan
Indonesia. Berkat budaya latah serta pemikiran-pemikiran ?nyeleneh?
dari segelintir orang maka Natal pun diopinikan sebagai sebuah ritual
bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang
beragama Kristen atau tidak. Termasuk walaupun ia adalah seorang muslim.


Di satu kesempatan Nafsiah Mboy, Ketua Panitia Perayaan Natal
Nasional sekaligus Menteri Kesehatan Indonesia usai bertemu dengan
Presiden SBY, ia menyatakan bahwa Presiden SBY dan Wapres Budiono akan
turut menghadiri perayaan puncak Natal Nasional yang akan
diselenggarakan pada tanggal 27 Desember nanti. Mboy juga menyatakan
bahwa presiden berharap penyelenggaraan puncak perayaan Natal 2012 ini
bersifat inklusif, dan dapat dirasakan semua pihak, tidak hanya umat
Kristiani. (antaranews.com, 7/12)


Pada kesempatan lain, mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang notabene
juga adalah seorang muslim menyampaikan dengan jelas ucapan selamat
Natalnya pada masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan ini
diucapkan bersamaan dengan kunjungannya ke NTT, yang mayoritas
penduduknya beragama Katolik. (voa-islam.com, 21/12)


Entah karena ketidak tahuan atau kesengajaan yang sengaja dilakukan
dengan berbagai tujuan politisnya. Yang pasti  bisa mengedukasi
pendangkalan aqidah umat muslim. Bagaimana tidak ? Melihat bagaimana
ritual natal ini dijadikan sebagai sebuah ritual bersama yang bahkan
dianjurkan sekali untuk juga dilakukan oleh umat muslim, minimal
sekedar mengucapkan selamat natal dengan dalih toleransi, pluralism
dan bahasa
manipulative lainnya.


Bagi pemeluk beragam Kristen sah-sah saja merayakan Hari Natal ini.
Tapi mempromosikan perayaan ini sedemikian rupa kemudian
memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua rakyat Indonesia
baik ia beragama Kristen atau bukan. Hakikatnya ini adalah tindakan
intoleransi terhadap umat muslim. Kita lihat saja fakta di super market
dan mall-mall serta pusat perbelanjaan lainnya yang tentu saja
mayoritas pengunjungnya adalah umat muslim kemudian disuguhkan dengan
lagu-lagu
rohani umat Kristen terus menerus. Bahkan karyawan-karyawan sampai
satpam tempat-tempat tadi yang mayoritas bahkan kita yakin ia beragama
Islam, mereka diharuskan untuk memakai atribut Natal seperti topi Santa
Claus, bajunya, dan lainnya.


Umat muslim pun diseru untuk mengucapkan selamat Natal bahkan bila
perlu juga ikut merayakan dan memfasilitasi perayaannya. Ya, semua itu
di bungkus dengan pujian menyesatkan bahwa umat muslim adalah umat yang
tingkat toleransinya tinggi serta benar-benar nyata ikut berperan
penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Konyolnya lagi
jika umat muslim tidak melakukannya maka cap anti non-muslim, dan
intoleran
pun dilekatkan dengan sangat kuat.


Islam Menjaga Aqidah Umat Islam dan Menghargai Non Muslim


Dalam sebuah dialog menarik yang tersebar di berbagai situs internet
serta jejaring sosial, ada pelajaran yang sangat baik pada dialog ini.
Berikut cuplikannya :

Muslim                : Bagaimana Natalmu?

David                   : Baik, kau tidak mengucapkan Selamat Natal padaku?
?..

Muslim                : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar
agama, termasuk agamamu,
tapi masalah ini, agama saya melarangnya.

David                   : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar
kata-kata? Teman muslimku yang lain
mengucapkannya padaku.

Muslim                : Mungkin mereka belum mengetahuinya. David, kau
bisa mengucapkan ?Dua
kalimat syahadat??

David                   : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya.
Itu akan mengganggu
kepercayaan saya.

Muslim                : Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo, ucapkanlah.

David                   : Sekarang, saya mengerti.


Dialog ini menggambarkan dengan sangat baik kepada kita tentang
hubungan antara muslim dan non-muslim, khususnya berkaitan dengan Hari
Natal ini. Logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan
kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda
keyakinan ini.

Sementara hari ini banyak orang yang dianggap ?tokoh?
masyarakat level Nasional/Lokal dari kalangan muslim karena sebab
kebodohannya tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan,
pemimpin hebat kemudian mengucapkan ?selamat natal? kepada umat
kristiani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan
umat Islam.

Tentu ini menabrak tuntunan Allah swt dan RasulNya.Sosok
muslim yang kehilangan jati diri, ?muslim KTP? yang eksis terlepas dari
pakem dan manhaj hidup yang digariskan Rasulullah SAW.

Setidaknya ada 4 (empat) alasan mengapa aturan Islam melarang umatnya
untuk mengucapkan selamat natal apalagi ikut merayakannya :

Pertama, Hari Natal bukanlah perayaan kaum Muslim. Rasulullah telah
menjelaskan dengan sangat tegas bahwasanya perayaan
bagi Kaum Muslim hanya ada 2, yakni ketika Idul Fitri dan juga Idul
Adha. Anas bin Malik RA berkata : ?Ketika Rasulullah datang ke Madinah,
penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan
bermain-main di masa Jahiliyah. Maka beliau berkata :Aku datang
kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang
kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan
yang lebih baik bagi kalian yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari
raya Idul Fitri. (HR. Ahmad)

Telah jelas disampaikan oleh Rasulullah bahwa bagi umat muslim yang
mengaku dirinya muslim dan beriman kepada Allah dan RasulNya maka
baginya hanya ada dua hari perayaan besar disepanjang tahun. Tentu
sebagai muslim yang taat, cukuplah petunjuk Nabi Muhammad Saw menjadi
sebaik-baiknya petunjuk dan hanya itu yang kita jadikan panutan, dan
cukuplah hanya yang berasal dari Allah dan RasulNya.

Kedua, mengucapkan Selamat Natal dan ikut merayakannya
bahkan memfasilitasinya saja sama dengan menyetujui kekufuran
orang-orang yang merayakan natal. Di dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, ?selamat? artinya terhindar dari bencana, aman
sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat
gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal.
Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan,
dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa,
beruntung, tercapai maksudnya, dsb.

Natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa
al-Masih as) yang dalam pandangan umat Kristen saat ini ia adalah anak
Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana
bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda
pemahamannya
mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang
mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka
sebagai orang kafir (QS. Al-Maidah : 72-75) yang tentu di akhirat kelak
akan dijatuhi hukuman neraka nan pedih.

Umat Islam meyakini bahwa Nabi Isa adalah utusan Allah ke dunia,
bukan anak apalagi Tuhan. Karena Demi Allah, Allah SWT tidaklah
diperanakkan dan tidak beranak, ia Maha Esa dan Maha Kuasa, tak ada
satupun yang mampu menandinginya bahkan tiada yang pantas untuk sekedar
disamakan denganNya. Mengucapkan selamat Natal dan bahkan ikut
merayakannya sama saja dengan mengakui apa yang dipahami oleh umat
Kristen, dan sudah tentu itu adalah sebuah tindak kekufuran yang nyata
yang bisa membuat pelakunya jatuh kepada kekafiran.

Ketiga, merupakan sikap loyal (wala) yang salah dan keliru. Loyal
tidaklah sama dengan berbuat baik. Wala memiliki arti loyal,
menolong, atau memuliakan orang yang kita cintai, sehingga apabila kita
wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut.
Oleh karena itulah, kekasih-kekasih Allah disebut pula sebagai
wali-wali Allah.

Ketika kita mengucapkan selamat Natal, hal itu tentu dapat
menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin
sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar lisan saja.
Namun, seorang muslim secara tegas diperintahkan untuk mengingkari
sesembahan-sesembahan orang kafir (QS. Al-Mumtahanah : 4). Bahkan
Rasulullah pun dengan jelas mencontohkan kepada kita bagaimana
Rasulullah dengan tegas mengingkari patung-patung sesembahan
orang-orang kafir jahiliyah dan menghina sesembahan mereka serta
menyampaikan bahwa yang patut disembah hanyalah Allah SWT dan Dia
tidak perlu suatu
perantara apapun.

Keempat, aktivitas mengucapkan Selamat Natal dan ikut
merayakannya atau sekedar memfasilitasinya adalah aktivitas menyerupai
orang kafir. Tentu bukan sesuatu yang aneh lagi jika pada
faktanya ada sebagian muslim yang ternyata turut berpartisipasi dalam
perayaan natal. Ketika di pasar-pasar, super market, mall-mall dan
pusat perbelanjaan lainnya ada sebagian kaum muslim yang berpakaian
dengan
pakaian khas perayaan natal. Padahal Rasulullah Saw dengan tegas telah
melarang kaum muslim untuk menyerupai kaum kafir. Sabda Rasulullah Saw
:? Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian
dari mereka.? (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Alasan terpaksa karena pekerjaan atau takut dipecat menjadi alasan
klasik yang kerap kali menjadi pembenaran untuk sebagian kaum muslim
demi melakukan aktivitas menyerupai kaum kafir tadi. Padahal pekerjaan
dan dipecat tidak ada hubungannya dengan rezeki yang Allah berikan, hal
tersebut adalah sesuatu yang berbeda. Justru apakah demi segepok uang
kita rela menggadaikan aqidah kita hingga kemudian kehilangan tempat di
surga dan masuk ke neraka Allah SWT yang siksanya luar biasa pedih.
Tidak adakah rasa takut terhadap hal tersebut hingga berani
menggadaikan aqidah kita? Sesungguhnya Allah pasti akan mempermudah
jalan hambaNya
yang berusaha sekuat tenaga untuk taat pada aturanNya, termasuk
mempermudah rezekinya.


Inilah alasan-alasan mengapa Natal tidak boleh ikut dirayakan oleh
Kaum Muslim atau sekedar mengucapkannya. Walau begitu, bukan berarti
Islam tidak toleran terhadap agama yang lain. Islam melakukan sebuah
tindakan penjagaan aqidah umatnya yang memang menjadi ruh dan pondasi
dari agama itu sendiri, dan kepada umat non-muslim yang lain, aturan
Islam adalah aturan yang paling toleran dan tentunya menghargai
perbedaan antar keyakinan beragama.


Islam tidak akan pernah memaksakan keyakinannya kepada pemeluk agama
lain, bahkan sekedar mengganggunya. Karena sesungguhnya tidak ada
paksaan untuk masuk pada Islam dan meyakininya. Bahkan dalam sistem
negara islam yakni Khilafah Islamiyah yang menerapkan aturan Islam
secara menyeluruh, mereka-mereka yang beragama selain Islam menerima
perlakuan yang baik dan penghargaan yang luar biasa. Diperbolehkan bagi
mereka melaksanakan keyakinan beragama mereka tanpa ada gangguan
sedikitpun  tentunya dengan aturan tertentu, dan sekali lagi tidak ada
paksaan bagi mereka untuk masuk pada Islam bahkan walau mereka berada
di tengah-tengah negeri yang menerapkan aturan  Islam, Islam tidak akan
pernah mengganggu mereka termasuk dalam perkara aqidah mereka.


Karena
itu Islam adalah agama yang toleran dan paling menghargai kepada agama
selain Islam, namun tentu menolak pemahaman Pluralisme dan Sinkretisme
yang merupakan satu pemahaman sesat dan tak layak diterima.


Wallahu a?lam bi ash shawab.


--------------------

Semoga Manfaat

 
Wass & Brgds,
Alifudin
http://aldin005.blogspot.com

[Non-text portions of this message have been removed]



----- End forwarded message -----

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages