Keramat merupakan film horor Dokumenter Indonesia yang dirilis pada 3 September 2009, disutradarai oleh Monty Tiwa dan Co-Sutradara Ivander Tedjasukmana dan diproduksi oleh Starvision Plus. Film ini dibintangi Poppy Sovia, Migi Parahita, Sadha Triyudha, Miea Kusuma, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, dan Brama Sutasara. Film ini syuting tanpa menggunakan skenario.
Sebuah tim produksi film berjudul "Menari di Atas Angin" berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul dalam rangka melakukan pra-shooting. Yang berangkat adalah sang sutradara wanita bernama Miea (Miea Kusuma), asisten sutradara Sadha (Sadha Triyudha), manajer produksi Dimas (Dimas Projosujadi), kedua pemain utama Diaz (Diaz Ardiawan) dan Migi (Migi Parahita). Bersama mereka ditemani tim behind-the-scene yakni Poppy (Poppy Sovia) dan kameramennya Cungkring (Monty Tiwa). Selama perjalanan menggunakan kereta, Poppy sebagai pewawancara merekam aktivitas tim produksi. Di Bantul, mereka dipandu oleh talent lokal bernama Brama (Brama Sutasara), ketika itu kondisi Migi kurang baik, terlebih setelah di dalam mobil, mereka diganggu oleh seseorang yang menyuruh mereka untuk pulang. Sesampai di desa terpencil untuk pra-shooting, banyak keanehan yang direkam oleh kamera seperti bunyi gamelan, suara orang menangis, dan penampakan wanita berbaju jawa.
Keesokan harinya, terjadi konflik karena hasil dari proses reading di Jakarta yang dianggap kurang maksimal oleh Miea, Mieapun sering menjadi naik darah. Setelah observasi tempat di Candi Borobudur, mobil yang ditumpangi Diaz, Migi, Poppy, Cungkring, dan Pak Lukman (sang driver) melihat kobaran api yang besar melintasi mobil mereka. Setelah bertanya kepada penduduk lokal yang aneh, mereka berhasil kembali ke penginapan. Di penginapan, kesasaran itu dikira sebagai argumen Diaz yang dikira pergi ke diskotek. Keesokannya, Migi terlihat lemah dan saat diperiksa oleh Poppy di tempat tidurnya, ia menemukan uban. Ketika Migi dibopong untuk dibawa ke dokter, tubuh Migi tidak sanggup diangkat walaupun sudah enam orang yang mengangkatnya. Pada malamnya, para tim menemukan Migi menyinden dengan bahasa jawa, kemudian mereka menyimpulkan bahwa Migi kerasukan roh halus bernama Nyi Pramodawerdani yang menempati daerah ini. Saat siang keesokan harinya, Miea memarahi Dimas karena proses pra-shooting yang menjadi molor dan tidak kondusif dengan jadwal shooting yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Miea juga memaksa Poppy dan talent lain untuk memulangkan Migi kendati kondisinya masih buruk karena Miea mempunyai banyak aktris cadangan casting untuk menggantikannya.
Setelah beragam argumen, diputuskanlah untuk memanggil paranormal. Ketika berkonsultasi, Migi yang seharusnya di kamar pergi ke paranormal dan berbicara. Alasan Nyi Pramodawerdani untuk merasuki Migi karena Migi masih keturunan darinya. Kemudian, paranormal itu meramu bahan ramuan untuk Migi dan hanya memperbolehkan masuk Sadha, Brama, dan Dimas untuk membantu si paranormal. Setelah dimuncratkan ramuan dan dipegangi Sadha, Brama, dan Dimas, Migipun tenang dan tertidur. Setelah mereka berkumpul lagi di tengah penginapan, mereka mendapat fakta mengejutkan bahwa Migi menghilang padahal Sadha menjaga pintu kamar dan tidak melihat seseorang masuk maupun keluar, sang paranormal mengatakan Migi dibawa ke dunia roh halus. Kemudian, esok paginya, paranormal itu mengatakan bahwa mereka akan diantarnya ke Pantai Parangtritis, karena paranormal itu bilang pintu alam dunia manusia dengan dunia roh halus berada disana. Sadha, Brama, Dimas, Miea, Migi, dan Cungkring menunggu di tepian pasir sementara sang paranormal membaca mantera di pinggir laut. Kemudian seorang wanita penjual jamu datang dan menjajakan dagangannya. Setelah itu, ia pergi ke paranormal dan menghilang. Lalu, paranormal itu menyuruh keenam orang untuk mengikutinya, perlahan, seorang demi seorang menghilang.
Mereka saling bertemu di depan sebuah candi. Paranormal itu berpesan kepada Brama untuk mengikuti jalur melati untuk menemukan Migi. Mereka berenam mendengar suara di hutan dan pergi ke hutan tersebut. Di hutan, mereka menemukan banyak kejadian aneh yang berakibat pada menghilangnya tim produksi seperti Brama dan Diaz. Pada puncaknya, ratu penguasa dunia roh itu meminta agar manusia berhenti merusak alam dan berpesan mereka hanya bisa pergi sebelum matahari muncul dan apabila mereka tidak berhasil, mereka akan terperangkap di dunia roh selamanya. Setelah mereka berhasil membebaskan Migi, Dimas, Miea, dan Cungkring harus kehilangan nyawa saat ingin melarikan diri. Sadha menggendong Migi sementara kini Poppy yang memegang kamera, sampai di pinggir hutan dan tiba di lereng Gunung Merapi. Kemudian terjadi gempa, Poppy, Migi, dan Sadha berhasil melarikan diri kendati tanpa membawa kamera. Lalu, setelah rekaman berakhir, layar memunculkan kliping koran yang mengatakan gempa di Bantul bukan gejala alam biasa, serta memberitakan bahwa setelah 4 kru film hilang, kamera berhasil ditemukan sebagai referensi penyelidikan.[1]
Thirteen years later, director Monty Tiwa has returned with a generationally relevant sequel in Keramat 2: Caruban Larang, as well as a newfound fascination for the cheap thrills of the past by bringing on board budding writer and B-movie enthusiast Azzam Fi Rullah. Nevertheless, the sequel seems headed for a different aesthetic.
At one point, Lutesha appears wearing a goofy pair of white contact lenses, or it could be visual effects, and then starts speaking in barely comprehensible Javanese into the camera. She then appears to leave the trio. It turns out that the supposedly possessed Lutesha was apparently uttering a prophecy, the relevance of which becomes apparent almost halfway through the film.
Post-breakup, Keanu and Ajil take on a new, almost obscenely named mantle, with Keanu seen to be quite hung-up about the name. The duo then starts out on their new venture, cruising around in an old van and hunting for mysteries like Scooby-Doo. The duo then finds a certain kinship with Umay Shahab, who joins them and in turn drags a trio into the fray: dance students Arla Ailani, Josephine Firmstone and Maura Gabrielle, all playing themselves, just like the cast of the first film.
Unlike the first installment, Keramat 2 delivers more intense, albeit a bit more traditional, scenes with visible apparitions that slip quietly into the frame. In the abandoned hospital where Keanu and Ajil play jelangkung (a traditional spirit game), the scene in which Ajil silently tries to warn Keanu of the specter slowly crawling toward him is obnoxiously disturbing.
The chemistry of the ensemble cast is generally impeccable. Each actor delivers their lines naturally in an everyday manner, mostly due to the nonexistent script that left them ad-libbing throughout the shoot. The director is said to have used this technique for the first film as well, and it sometimes came off as too natural, so that it blurred the lines between the reality and the play for the actors.
It is also a bit disheartening how the director and writers decided to weave continuity between Keramat and its sequel, only to have Poppy Sovia, Migi Parahita and Sadha Triyudha running around for their lives and eventually failing to return to the world of the living.
Hairul Azreen, the youngest child of Idris Ali and Habsah Desa, was an active child growing up. At the age of 16, he had already received a black belt in Taekwondo. In 2004, he even represented Selangor in the SUKMA Games. The Sukma Games is a biennial national multi-sport event involving young athletes in Malaysia.He was a stuntman and a martial artist in his early 20's before he began dabbling in acting, scoring a leading role in Mahabah De Laila, a drama series on TV9 back in 2009. He continued to star in several telemovies and drama series such as Teknofobia, Pontianak Remaja, and 5 Bujang before his film debut in 2011 for the movie Keramat. In 2013, Hairul Azreen, along with teammate, Dazrin Kamaruddin won first place against 15 other celebrity teams in Fear Factor Celebrity Malaysia, a stunt/dare game show adapted from the American Fear Factor TV show.Within the next few years, he hit it off with being the lead of several highest-ranking grossing films in Malaysia. Movies such as Polis EVO 2 which has a grossing of 20M and PASKAL The Movie which has an amazing grossing of 30M, the highest gross collection for an action movie in Malaysia to this day. Other notable films that Hairul Azreen has a leading role in would be Wira (2019) and Pasal Kau! (2021), the first Malaysian produced original Netflix film. He also starred in The Assistant, the first Malaysian film distributed by Sony which will premiere in March 2022 amongst his other line-ups which includes Abang Long Fadil 3 and Bakara.In 2021, he made his directorial debut for Ada Hantu, the first Malaysian-made film for Disney Hotstar. Due to a very positive feedback from the audience, he returned to the director's chair and served as an executive producer for the sequel, Ada Hantu 2.Hairul Azreen is married to actress, TV host and blogger, Hanis Zalikha and is a father of two children, Yusuf Iskandar and Alisa Aisyah.
The name Migi Parahita became famous after starring in the horror film KERAMAT in 2009. After more than a decade, Migi has rarely appeared on television or the big screen. Now, in the moment of the second film's release, Migi is in the spotlight again, even though she doesn't appear in the film.
No longer acting in movies, Migi apparently still maintains a good relationship with her colleagues in the movie KERAMAT. It can be seen on her Instagram that she still interacts quite frequently with Poppy Shofia.
Fakta menyeramkan pertama dari film KERAMAT adalah para tokohnya yang menggunakan nama asli di dalam film. Yup, penggunaan nama asli ini bakal bikin atmosfer kengerian yang ada di dalam film semakin real. Ditambah lagi, alur cerita film KERAMAT yang nggak bisa ketebak. Siap-siap tutup mata kamu, ya.
Hah?! Film KERAMAT dibikin tanpa memakai skenario? Yes, beda dari film-film lainnya, film KERAMAT memang dibuat tanpa menggunakan skenario. Skenario memang penting banget nih, buat sebuah film, tapi tanpa skenario ini justru jadi hal unik buat film KERAMAT. Ditambah lagi, film ini dibuat dengan gaya dokumenter sehingga penonton pun semakin menduga kalau ini merupakan kisah asli, bukan film. Di sepanjang film, kamu akan dibawa seolah-olah sedang menonton vlog pemburu hantu. Pokoknya, mantul abis, deh!
c80f0f1006