Saya sudah bercerita soal Al Balad city, kota tua yg kini berada di tengah kota modern Jeddah. Sekarang giliran cuap-cuap soal Al Baik, Al Baik Chicken lebih tepatnya.
Kalau Al Balad itu sebuah kawasan kota sementara Al Baik itu adalah sejenis makanan, lalu di mana hubungan keduanya? Jujur saja, keduanya tidak ada hubungannya. Jika mau dihubung-hubungkan pun paling Al Baik bisa ditemukan di Al Balad, cuman itu. Tapi napa judul artikel dibuat seperti itu? Jujur lagi, itu hanya suka-suka saya. Kalau pun boleh jujur lanjutan nih .. menurut saya dari segi penyebutan, suara menyebut "al baik" dengan saat bibir mengatakan "al balad" - vise versa, suara yg terdengar kedengaran unik! Walaah ..! Tentu saja ada yg bakal menuding, demikian itu alasan saya saja! ;-)
Jujur lagi, terserah deh mau bilang apa. Saya terima saja! Hehehehe ...
**
Suatu ketika isteri saya pernah katakan, seorang temannya di Jakarta bercerita - sebut saja namanya Fatima - kalau dia sering dibawakan oleh2 khas ayam goreng arab oleh abangnya yg bekerja sebagai pilot penerbang Saudi Airlines. Konon, menurut cerita Fatima dia suka sekali ayam goreng tersebut karena kelezatannya. Rupanya belakangan nama ayam goreng ini ternyata Al Baik Chicken. Entah bagaimana ceritanya nama ayam goreng ini pelan-pelan menjadi populer di tanah air bagi yg sudah pernah mencicipinya ketika berhaji atau berumroh, atau dapat titipan paket dari Saudi mungkin.
Seingat saya beberapa kali ke Saudi tahun-tahun sebelumnya saya tidak melihat restoran cepat saji ABC (Al Baik Chicken) ada. Tetapi kali ini kami sempat melihat resto ABC sewaktu masuk kota Makkah di suatu ruas jalan, kalau di Madinah (sesudah kami sampai di sana sehabis selesai trip di Jeddah) belum ketemu entah di mana sebab kali ini kami tidak ke mana-mana di Madinah. Sewaktu di Mekkah hari2 ke marin memang ada entah 2 kali ketemu sewaktu melakukan tour kota Makkah. Bagaimana di Jeddah? Sudah pasti makin banyak berjalan makin sering ketemu resto ABC karena luas dan populasi Jeddah jelas lebih besar dari Makkah.
Baik isteri dan saya sendiri ketika mendengar cerita orang soal kelezatan ayam goreng ABC sebtulnya tidak begitu ambil perhatian soalnya yg namanya makanan dari resto cepat saji selalu memberi kesan serupa, semuanya memiliki cita rasa secara kurang lebih memiliki kemiripan. KFC dengan CFC di mana bedanya? Macdee dan Hardees emang apa beda-beda amat? Demikian seterusnya. Tapi selama di Jeddah karena keseringan menemukan resto ABC lama kelamaan kepikiran juga untuk mengetahui seperti apa rasanya, isteri saya sering kali mengingatkan begini "Tuh pa! ABC lagi!" pas melintas di depan resto ABC. Digedor-gedor terus begitu akhirnya saya pun terusik dan sepakat untuk mencicipi ayam ABC tersebut!
Keberadaan resto ABC tidak masuk ke itinerary saya karena memang belum tahu soal populernya resto ini di kalangan yg sdh pernah nyicip. Meski sudah beberapa kali ketemu restonya namun ketika memutuskan untuk mendatangi salah satunya jelas membuat bingung. Di jalan mana yah resto ABC yg tadi sempat jumpa? Nyetir dengan tujuan secara acak agar bisa ketemu resto ABC adalah keputusan berani ambil resiko bakal muter2 tak tentu arah dan menghabiskan waktu, bisa-bisa semalaman hanya muter2 saja! Soalnya kalau nyetir pas ke jalan yg selalu salah, bukannya bisa sepanjang malam hanya nyetir doang? Lalu gimana bisa tahu secepatnya di mana lokasi salah satu resto ABC ini? GPS! Lewat GPS tentu saja. Begitupun sempat saya ragu juga apa betul Garmin GPS punya data lokasi resto ABC? Setelah search di address GPS akhirnya ketemu address kordinat resto ABC. Lega hati ini. Selanjutnya mobil saya setir ke arah alamat kordinat yg ada.
Beberapa menit sebelum sampai ke lokasi resto ABC azan waktu sholat isya berkumandang. Saat sudah sampai di lokasi dan memarkirkan mobil di pelataran resto, restonya saya jumpai sudah tutup. Tutup karena menghoramti waktu sholat isya. Ada dua orang yg lagi bercakap-cakap di depan pintu masuk resto, menurut dugaan saya mereka bukan karyawan resto ABC melihat dari penampilan pakaiannya. Saya datangi mereka dan menanyakan apakah mereka tahu resto ABC-nya tutup karena waktu sholat tiba atau memang pada hari itu resto benar2 tidak buka? Saya bertanya sekedar meyakinkan diri sendiri saja. Siapa tahu memang tutup bukan karena waktu sholat tiba? Jawaban dari salah seorang tadi membenarkan bahwa resto tutup karena waktu sholat. Bagus, dalam hati saya. Sekarang cuman menunggu waktu sholat berakhir dan resto akan dibuka. Awalnya kami ada bertiga di depan resto itu, ketiganya bermaksud sama menunggu resto ABC dibuka. Selang beberapa menit satu demi satu ada lagi orang yg datang. Tua muda. Makin dekat waktu pintu resto dibuka makin banyak orang bermunculan entah dari mana saja di sekitar situ. Kalau awal-awalnya orang tidak menunggu di depan pintu masuk, kini makin banyaknya orang datang menunggu resto dibuka secara refleks orang membentuk posisi mengantri di depan pintu masuk! Termasuk saya. Pertimbangan saya mengapa mencoba dapat tempat antrian di baris pertama di depan pintu masuk ialah, merasa tidak lucu aja kok sudah antri sejak awal sebagai salah satu orang pertama nunggu nantinya malah jadi orang yg berada di urutan kesekian dapat giliran, itu akan buang-buang waktu makin lama saya pikir, belum lagi jelas anak dan isteri sudah gelisah di dalam mobil?!
Tadi waktu masih sepi-sepi aja, saya sempatkan mengintip isi restoran melihat2 menu yg dipajang tergantung diterangi lampu neon, seperti yg lazim bisa di lihat pada counter pemesanan resto2 semacam MacDonald. Di sna tidak begitu kelihatan ragam menu di yg ditawarkan lewat foto2 itu. Bahkan dari penampakannya sekilas yg namanya Al Baik Chicken ini biasa-biasa saja, tidak eksotik dan tidak betul2 mengundang selera. Karena seperti itu penampian gambarnya justru menambah penasaran, gimana sih rasanya sehingga orang2 antrian seperti antriannya org di loket tiket pertunjukan aktor panggung dunia saja? Sungguh baru kali ini saya melihat seperti itu, berdesak-desakan mencari posisi paling depan di depan pintu masuk sebuah restoran yg sebentar lagi pintunya dibuka. Pernah sih melihat situasi yg serupa persis begitu dulu di tahun 1997 di kota Beijing waktu secara solo saya travel ke sana, berdesakan di depan pintu masuk resto KFC. Saat itu saya maklum mengapa terjadi antrian panjang sebab China baru saja memulai kehidupan "open door"nya dengan dunia luar sehingga menu seperti KFC jelas jadi barang baru yg diserbu! Masih ingat 'kan, Hong Kong balik ke pangkuan Chna di tahun itu juga? Di Indonesia pun terjadi seperti itu dulunya ketika gerai KFC baru muncul. Tapi di sini, di Jeddah dengan banyaknya menu pilihan yg serupa, mengapa bisa terjadi seperti itu? Rahasia pertanyaan ini nanti terjawab sendiri begitu saya sudah di dalam restoran dan mencicipinya.
Akhirnya pintu resto dibuka dari dalam, segera pengantri berdesakan masuk, tapi tidak sempat membuat kekacauan, meski berdesakan tetap orang masuk tanpa perlu bersikut-sikutan. Saya ada di urutan ke-5 dari pengantre pertama. Begitu masuk ke dalam pengantre yg sdh lolos bisa langsung ke meja kasir memesan pilihan menu apa yg disukai, ada tiga kasir siap melayani pembeli. Walau sudah di dalam tapi kondisi berempetan dan antrian rapat tetap tidak terhindari, dalam hati saya mungkin setiap hari kejadiannya akan seperti itu. Di depan kasir setiap orang langsung menyebut apa pilhannya, si kasir -- luar biasanya -- sudah hafal belasan menu yg ada tentu saja dengan gesit menekan tombol mesin hitung, begitu selesai menerima duit dan segera si kasir menyerahkan kupon pesanan ke pelanggan. Di sebelah kasir adalah counter tempat mengambil pesanan. Di sinilah uniknya restoran ini. Di konter pengambilan pesanan rak sudah penuh puluhan paket menu yg tentu terdiri dari beberapa jenis menu. Pesanan sudah terbungkus dan siap segera diberikan ke pelanggan sesuai jumlah dan jenisnya, jadi tidak sebagaimana yg selama ini kita lihat petugas konter memasukkan ke kotak makanan begitu kita menyerahkan kupon pembelian. Di resto ABC ini si pelayan konter begitu melihat daftar pesanan di kupon, dia hanya mengambil langsung pesanan tanpa perlu lewat prosesi mengambil kotak kosong dan mengisi kotak itu dengan potongan2 ayam (seperti yg terjadi bisa kita selalu lihat di konter2 semisal KFC). Singkat kata proses pengambilan makanan pesanan oleh pembeli dan dilayani oleh petugas konter mirip dengan suasana pembagian jatah ransum! Semua makanan sudah terbungkus rapi berdasar jenis dan jumlahnya. Semua itu saya sadari di-manage demikian oleh pihak resto karena berjubelnya orang yg datang dan antri membeli pada waktu begitu waktu sholat isya selesai. Saya tidak tahu apakah pada waktu2 normal penyajian makanan akan tetap seperti itu. Bisa jadi tidak, sebab kalau pelanggan tidak bejibun maka petugas resto tidak ada alasan untuk terdesak melayani pelanggan yg sepi.
Saya memesan empat jenis menu dengan menu utama paket ayam goreng Al Baik Chicken yg sengaja saya order lebih buat antisipasi kalau ternyata terasa kurang nanti. Setelah giliran saya usai saya langsung ke mobil dan menyerahkan makanan pada anak2 dan bergerak melepaskan diri dari parkiran yg ternyata sudah banyak mobil2 antri dan mutar2 cari parkir kosong. Masuk ke resto rebutan, dan markir mobil juga rebutan kalau datang agak terlambat sedikit. Di sini berlaku istilah masuk susah dan keluar juga susah kalau datang pas lagi restoran baru dibuka sesudah waktu sholat isya.
Jadi seperti apa rasa ayam goreng khas Saudi ini?
"Wah! Betul, pa. Rasanya enuaak!" demikian kata isteri saya begitu selesai melahap sepotong ayam ABC. Anak2 pun semua pada buruan makannya di dalam mobil yg sedang saya setirin. Setelah berada di jalan besar saya pun minta sepotong ayam itu ... Rasanya?
Mudah2an pihak resto ABC tidak ada yg tahu tulisan saya ini, ntar hidung mereka kembang kempis pulak karena merasa bangga! Wakakak ... Sungguh kalau dibanding dengan KFC, ayam bakar Wong Solo, ayam MacDee atau bahkan ayam bakar Al Tajaj dan ayam2 jenis lainnya yg sempat saya rasakan sebelumnya, semua ayam2 itu kalah dibanding ayam ABC ini! Paling tidak ini pendapat subjektiv saya. Saya langsung teringat si Fatima teman isteri, dia benar dengan apa katanya kalau ayam ABC ini sangat unik dan enak makanya dia selalu minta dibawakan oleh kakaknya paket ayam ABC kalau si kakak singgah di Jakarta. Daging ayam ini gurih, empuk, lembut dan ... sukar mengatakannya dengan kata-kata karena cita rasa yg unik tadi tidak ada padanannya dengan bahasa bumbu yang saya tahu! Hehehe .. Kebayang deh kalau ini diketahui si pemilik resto dia bakal bangga setengah mati. ;-)
Apa lagi keunikan ayam ABC made in Saudi ini?
Isinya yg satu porsi dengan harga cukup murah! Dengan harga 9 rial dapat satu porsi ayam beberapa potong berikut kentang french fries yg membuat orang dewasa sekalipun akan merasa kenyang!
Sekarang saya baru mengerti mengapa di saat jam makan malam orang antrian berdesakan menunggu pintu resto dibuka, sebabnya karena fakta2 yg sudah disebut di atas. Menu porsi yg MURMERGUSNANYAK! Murah Meriah Bagus Enuak dan Banyak! ;-)
oOo
Next bersambung ke artikel "DAY 6-5: Jeddah Fountain"