From: Mira Asmirawirda
[mailto:asmir...@yahoo.com]
Sent: 30 January 2009 04:47
To: Heru Trisakti Hanuranto; Bambang A. Rukamdo; Ella Lestiana;
Wijaksono,Didik (didikaw); masory m ridwan; Sakti Parsaulian;
fae...@yahoo.com; anis....@yahoo.com.au; adi.w...@rhodia-manyar.com;
agung_re...@yahoo.com; am...@bobcpp.co.id; dhe...@gmail.com;
eko_...@yahoo.com; gust...@yahoo.com; har...@yahoo.co.uk;
send_to...@yahoo.com; m.fa...@unesco.org; kiswan...@yahoo.com;
setyo...@yahoo.co.id; arie....@gmail.com; Arwansyah Johan; Luigi
Pralangga; iskand...@gmail.com; Iman Guntur Rohendi; Helaw, Diparastra;
AnaMasbukhin; Lizz...@PetroChina.Co.Id; MeLaTi; annie...@yahoo.co.id;
namorah...@yahoo.com; coudle...@yahoo.com; edijant...@yahoo.com;
eka librianie; RatihLarassati; dmard...@yahoo.com
Subject: Fw: TRIPANCA, BURON!!!!
|
Pesan moral pertama sebenarnya bahwa yang halal itu jual beli dan yang haram itu riba.
Kalau gak dekat2 dengan riba ( baca : haram ) ya … gak akan rugi toh …
Perkara penipu itu telah memuali niat jahatnya dari sejak awal atau di tengah jalan, sebenarnya bukan urusan, karena urusan kita sendiri adalah hanya mengusahakan yang halal, iya toh, itu aja kok.
Cari aja yang halal, ojo neko2 … hareee gene masih percaya bunga gede lah, bagi hasil yang gak masuk akal lah, sharing point lah dlsb …
Pesan moral kedua, otak jahat itu gak memandang mata sipit, kulit hitam, rambut keriting, perut buncit, perawakan boncel dll, yang jelas emang mentalnya aja udah dirasuki syaitan.
Kan yang bantai Palestinian itu juga gak sipit toh matanya … tetap aja biadab, yang di Kongo juga gak kalah biadab padahal kulitnya hitam lho…
Pesan moral ketiga … Mari lawan korupsi, ingatkan saudara, tetangga, kawan, se-Rt, se-Rw, se-kantor, se-kamar, se-apartemen, se-Indonesia Raya … jauhi yang haram jika ingin selamat dunia wa akherat.
Pesan moral ke-empat … hhhmmm ngumpet dimana tuh keluarga yah???
Pesan moral kelima, Piss Men !!!
Salam,
ARIE
2009/1/30 Iskandar A <iskand...@gmail.com>
|
|
DISCLAIMER:
The information in this message is confidential and may be legally privileged. It is intended solely for the addressee. Access to this message by another person is not permitted. If you are not the intended recipient, any disclosure, copying, distribution or any action taken or omitted to be taken in reliance on it, is prohibited and may be unlawful. If you have received this e-mail by mistake, please e-mail the sender by replying to this message, and deleting the original and any printout thereof. Legal Department.
Disclaimer: The information in this message is confidential and may be legally privileged. It is intended solely for the addressee. Access to this message by another person is not permitted. If you are not the intended recipient, any disclosure, copying, distribution or any action taken or omitted to be taken in reliance on it, is prohibited and may be unlawful. If you have received this e-mail by mistake, please e-mail the sender by replying to this message, and deleting the original and any printout thereof.
Legal Department
Maaf mas kalo kurang berkenan
Tujuan posting saya ini Cuma membantu Negara kita untuk dpt mengembalikan uang kita yg dibawa kabur keluar
Cuma itu sementara ini yg bs saya bantukan untuk negara….
maaf kalo enggak berkenan…buat rekan2 yg lain yg sependapat dgn Mas Taufiq mohon untuk enggak memperpanjang lagi, langsung delete aja emailnya..
From:
tentan...@googlegroups.com [mailto:tentan...@googlegroups.com] On
Behalf Of Taufiq
Sent: 30 January 2009 23:52
To: tentan...@googlegroups.com
Subject: [tentangqatar] Re: FW: TRIPANCA, BURON!!!!
All,
| Jum'at, 30 Januari 2009 |
| BANDAR LAMPUNG |
| MESKI sudah diberikan jaminan keselamatan jika menyerahkan diri, Komisaris Utama PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripanca Setiadana (Bank Tripanca) Sugiarto Wiharjo alias Alay yang sedang terjerat masalah, masih khawatir. Eksportir kopi Lampung ini sadar dirinya sedang dicari banyak orang, terlebih yang sedang berbisnis dengannya. Bahkan diperoleh kabar, rekanan bisnis tersebut ada yang menggunakan jasa orang bayaran. Alay berulang-ulang menelepon Kompol Hengky Haryadi, anggota Polda Lampung yang selama ini kerap berkomunikasi dengannya. Alay memang sudah memberitahukan kalau dirinya kembali ke Indonesia dari Singapura pada Minggu, 28 Desember 2008. Namun, dia tidak menjelaskan jam berapa berangkat dari Singapura. Jarak tempuh Singapura--Jakarta dengan pesawat hanya sekitar 45 menit. Sejumlah tim dari kepolisian, termasuk dari Densus 88 Antiteror sudah siaga sejak pukul 07.00. Hampir setiap sudut di pintu kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dijaga polisi, baik berseragam maupun berpakaian preman. Sekitar pukul 10.00, Alay kembali menghubungi Hengky Haryadi kalau dirinya berangkat dari Singapura sore hari. Namun, saat itu belum dijelaskan pesawat apa yang akan ditumpangi Alay. Dan lagi-lagi Alay kembali menanyakan jaminan keamanan yang diberikan polisi kepadanya. Meski sudah beberapa kali dijelaskan, kembali ditegaskan polisi sudah siaga sejak pagi dan pengamanan dilakukan secara ketat. Ketika sore, baru diperoleh kepastian Alay dan istrinya Meriana terbang dari Singapura pukul 19.30 dengan menggunakan pesawat Garuada. Polisi kemudian berkoordinasi dengan bagian Imigrasi dan Garuda Indonesia. Polisi mencari tahu daftar penumpang pesawat Garuda yang terbang dari Singapura ke Jakarta. Kemudian diperoleh data, Alay bersama Meriana dengan menggunakan pesawat komersial Garuda nomor penerbangan GA 0835. Berdasarkan data tersebut, Alay bakal tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 22.05. Sebelum pesawat Garuda GA 0835 take off dari Bandara Canggi, Singapura, Alay menghubungi Hengky Karyadi. Alay kembali menanyakan kesiapan polisi melakukan pengamanan terhadap dirinya. Hengky memberikan jaminan keamanan terhadap Alay. Dan ketika pesawat Garuda itu mendarat di Soekarno-Hatta, dengan menggunakan kendaraan Imigrasi, Alay dan istrinya langsung dijemput di tangga pesawat. Alay dan istri langsung dibawa ke Kantor Imigrasi. Setelah beristirahat sebentar, Alay dan istrinya dibawa ke Lampung melalui jalan darat pukul 23.00. Di perjalanan, tim sempat berhenti di sebuah rumah makan. Alay dengan lahap menyatap masakan padang. Alay mengaku kangen dengan masakan padang. Senin, 29 Desember 2008, sekitar pukul 07.30, rombongan tiba di Kantor Polda Lampung. Dan Alay langsung dihadapkan ke Kapolda Lampung Brigjen Pol. Ferial Manaf. Dan hari itu Alay menjalani pemeriksaan tim penyidik Sat II/Krimsus Polda Lampung, terkait tindak pidana perbankan. Kemudian Selasa, 30 Desember 2008, Alay dibawa ke Mabes Polri untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. n JUNIARDI/K-1 |
Alhamdulillah kalo dia akhirnya menyerahkan diri dan Alhamdulillah juga ternyata berita ini bukan fitnah belaka karena didapat dari sumber yang terpercaya…
From: tentan...@googlegroups.com
[mailto:tentan...@googlegroups.com] On Behalf Of zulpadli muis
Sent: 31 January 2009 05:45
To: tentan...@googlegroups.com
Subject: [tentangqatar] Re: FW: TRIPANCA, BURON!!!!
Bukannya alay sudah nyerahkan diri tgl 29 Jan 2009, beritanya ada tuch di lampung post :
|
Jum'at, 30 Januari 2009 |
|
|
|
BANDAR LAMPUNG |
|
|
|
|
|
|
KASUS TRIPANCA (habis): Alay Dijemput di Tangga Pesawat
![]()
|
MESKI sudah diberikan jaminan keselamatan jika menyerahkan diri, Komisaris Utama PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripanca Setiadana (Bank Tripanca) Sugiarto Wiharjo alias Alay yang sedang terjerat masalah, masih khawatir. Eksportir kopi Lampung ini sadar dirinya sedang dicari banyak orang, terlebih yang sedang berbisnis dengannya. Bahkan diperoleh kabar, rekanan bisnis tersebut ada yang menggunakan jasa orang bayaran. Alay berulang-ulang menelepon Kompol Hengky Haryadi, anggota Polda Lampung yang selama ini kerap berkomunikasi dengannya. Alay memang sudah memberitahukan kalau dirinya kembali ke Indonesia dari Singapura pada Minggu, 28 Desember 2008. Namun, dia tidak menjelaskan jam berapa berangkat dari Singapura. Jarak tempuh Singapura--Jakarta dengan pesawat hanya sekitar 45 menit. Sejumlah tim dari kepolisian, termasuk dari Densus 88 Antiteror sudah siaga sejak pukul 07.00. Hampir setiap sudut di pintu kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dijaga polisi, baik berseragam maupun berpakaian preman. Sekitar pukul 10.00, Alay kembali menghubungi Hengky Haryadi kalau dirinya berangkat dari Singapura sore hari. Namun, saat itu belum dijelaskan pesawat apa yang akan ditumpangi Alay. Dan lagi-lagi Alay kembali menanyakan jaminan keamanan yang diberikan polisi kepadanya. Meski sudah beberapa kali dijelaskan, kembali ditegaskan polisi sudah siaga sejak pagi dan pengamanan dilakukan secara ketat. Ketika sore, baru diperoleh kepastian Alay dan istrinya Meriana terbang dari Singapura pukul 19.30 dengan menggunakan pesawat Garuada. Polisi kemudian berkoordinasi dengan bagian Imigrasi dan Garuda Indonesia. Polisi mencari tahu daftar penumpang pesawat Garuda yang terbang dari Singapura ke Jakarta. Kemudian diperoleh data, Alay bersama Meriana dengan menggunakan pesawat komersial Garuda nomor penerbangan GA 0835. Berdasarkan data tersebut, Alay bakal tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 22.05. Sebelum pesawat Garuda GA 0835 take off dari Bandara Canggi, Singapura, Alay menghubungi Hengky Karyadi. Alay kembali menanyakan kesiapan polisi melakukan pengamanan terhadap dirinya. Hengky memberikan jaminan keamanan terhadap Alay. Dan ketika pesawat Garuda itu mendarat di Soekarno-Hatta, dengan menggunakan kendaraan Imigrasi, Alay dan istrinya langsung dijemput di tangga pesawat. Alay dan istri langsung dibawa ke Kantor Imigrasi. Setelah beristirahat sebentar, Alay dan istrinya dibawa ke Lampung melalui jalan darat pukul 23.00. Di perjalanan, tim sempat berhenti di sebuah rumah makan. Alay dengan lahap menyatap masakan padang. Alay mengaku kangen dengan masakan padang. Senin, 29 Desember 2008, sekitar pukul 07.30, rombongan tiba di Kantor Polda Lampung. Dan Alay langsung dihadapkan ke Kapolda Lampung Brigjen Pol. Ferial Manaf. Dan hari itu Alay menjalani pemeriksaan tim penyidik Sat II/Krimsus Polda Lampung, terkait tindak pidana perbankan. Kemudian Selasa, 30 Desember 2008, Alay dibawa ke Mabes Polri untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. n JUNIARDI/K-1 |