Pesawat Kepresidenan Korea itu buatan Indonesia (PTDI)

130 views
Skip to first unread message

anto sugiharto

unread,
Oct 12, 2010, 12:01:12 PM10/12/10
to tentan...@googlegroups.com
Berita mencerahkan dari satu BUMN kita.
Copas dari milis yg lain.....sorry kalo kepanjangan.
Salam,
Anto Sugiharto

----- Forwarded Message ----
From: Satrio Arismunandar <satrioari...@yahoo.com>
Subject: [AngkasaReaders] Pesawat Kepresidenan Korea itu buatan Indonesia (PTDI)

http://bataviase. co.id/node/ 385779
Produk Teknologi Itu Jual Kepercayaan

Budi Santoso
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia:

Sempat divonis pailit oleh Pengadilan Tata Usaha Negara pada September 2007,
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) harus merumahkan belasan ribu karyawannya.
Pada masa sulit itu, untuk bertahan hidup, pabrik pesawat terbang itu
terpaksa membuat alat pencetak panci yang menjadi bulan-bulanan banyak
kalangan. Kini, perlahan tapi pasti, PT DI menapak bangkit.

Awal Januari lalu, perusahaan plat merah yang berdiri 34 tahun lalu ini
memenangi tender pengadaan empat pesawat penjaga pantai untuk Korea Selatan
senilai US$ 94,5 juta. Pada bulan yang sama, Eurocopter Group (anak
perusahaan dari aliansi strategis industri kedirgantaraan Eropa, EADS)
mempercayakan PT DI membuat komponen *fuselage* (badan utama) dan tailboom
(bagian ekor) helikopter seri EC-225 Super Puma dan EC-725 Cougar. Total
order 125 unit hingga 2020.

Pertengahan Juli lalu, PT DI menandatangani *memorandum of
understanding* dengan Korea Selatan untuk memproduksi pesawat tempur
KF-X. Jet tempur
generasi baru yang diklaim lebih andal ketimbang F-16, tapi masih di bawah
F-35 buatan Lockheed Martin.

Anggaran untuk proyek strategis tersebut mencapai US$ 8 miliar dengan jangka
waktu kerja sama hingga 2020. PT DI akan menanggung 20 persen pembiayaan dan
Indonesia menyanggupi membeli 50 dan 200 unit pesawat tersebut.

Sosok di balik semua pencapaian itu adalah Budi Santoso. Karena dianggap
berhasil membenahi PT Pindad, B.J. Habibie merekomendasikan kepada Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono agar menugasi ahli robot lulusan Belgia itu
memimpin PT DI sejak 6 Juli 2007.

Untuk mengetahui lebih jauh seputar kinerja PT DI, Isitqomatul Hayati,
Sudrajat, Dody Hidayat, serta juru foto Arnold Simanjuntak menyambangi Budi
di kantornya, di Bandung, 1 September lalu. Didampingi Direktur
Aerostructure Andi Alisjahbana dan Direktur Operasional Aircraft Integration
Budiman Saleh, Budi menjawab tim *Tempo*. Berikut ini petikannya.

*Pencapaian apa saja yang sudah diraih dalam 34 tahun ini?*

(Sambil memperlihatkan poster *road map* IPTN yang dibuat oleh Habibie).
Kalau dari programnya Pak Habibie yang empat fase strategis itu, kita
sebenarnya sudah sampai ke tahap ketiga. Pak Habibie kan punya filosofi
transformasi teknologi: berawal di akhir, berakhir di awal. Bahwa dalam
membuat pesawat terbang tidak harus dari komponen dulu, tapi langsung
belajar dari akhir suatu proses, yaitu pesawat jadi. Pada tahap pertama itu
kami merakit pesawat NC 212, helikopter NBO 105, dan helikopter NBell 412.

Tahap kedua adalah *joint design production*. CN-235 adalah *joint
design*IPTN dengan CASA (Construcciones Aeronauticas SA) Spanyol.
Tahap berikutnya,
ketiga, adalah mendesain pesawat sendiri (own design). Pada 1990-an, kami
mendesain N-250 dan terbang pertama kali pada 10 Agustus 1995. Dimulai
produksi pada 1998. Tapi sayangnya pada 1998 itu kita menghadapi krisis
moneter, IMF (International Monetary Fund) meminta agar proyek ini tidak
diteruskan. Waktu itu program pembuatan pesawat sudah menghabiskan hampir
US$ 1 miliar. Kami hanya butuh sekitar US$ 150-200 juta, sekitar 15-20
persen lagi untuk mendapatkan sertifikasi. Kami sudah menghabiskan hampir 85
persen, tinggal 15 persen lagi untuk mempertahankan semua.

*Apa dampak dari penghentian program N-250?*

Jadi dengan berhentinya pesawat N-250, maka sebetulnya kita kolaps. Karena
program pembuatan pesawat N-250 ini menyerap 12 ribu lebih tenaga kerja.
Akhirnya semua *jobless*, jadi pengangguran. Padahal banyak yang sudah
disekolahkan ke luar negeri dan lain-lain pada awal 1990-an. Mereka siap
kerja.

*Benarkah sejak itu IPTN sampai terpaksa membuat panci?*

Prinsipnya, apa saja dikerjakan untuk bertahan. Tapi bukan panci, melainkan
cetakan membuat panci. Tapi yang paling mahal dari keputusan IMF ini adalah
masalah sumber daya manusia (SDM). Anggaran hampir US$ 1 miliar yang
dihabiskan itu bukan sepenuhnya buat pesawat, melainkan untuk menyiapkan SDM
dan lain-lain. Kami pernah waktu *peak*-nya itu memberikan beasiswa untuk
300 orang. Jadi untuk mendidik sarjana strata 3 itu dalam berapa tahun
dikalikan 300 orang dikalikan berapa uang yang dikeluarkan. Belum yang S-2
dan lain-lain. Waktu puncaknya dulu kami punya 15 ribu karyawan, 3.500 di
antaranya adalah engineer. Sekarang total karyawan kami sekitar 4.000.

*Ke mana yang selebihnya?*

Dirasionalisasi dan sebagian besar ke luar negeri. Mereka itu berpendidikan
tinggi dengan keahlian yang diakui. Jadi kalau Anda pergi ke mana pun pabrik
pesawat terbang di dunia, selalu akan menemukan orang bekas pegawai PT DI.
Sifat dari pekerjaan *engineering* untuk mendesain pesawat itu seperti orang
Gypsi, nomaden, jadi berpindah-pindah ke mana perusahaan yang punya proyek
pembuatan pesawat.

*Sekarang di mana posisi PT DI merujuk pada empat fase strategis itu?*

Kita sudah tidak bisa mengikuti itu lagi. Sekarang, PT DI ini kalau
diperhatikan, *back* lebih dari 10 tahun. Indonesia sudah rugi besar.
Investasi yang sangat besar belum sampai menikmati sudah dibubarkan. Kita
investasi sudah US$ 1 miliar untuk pendidikan, (tapi) dapat pinjaman lunak
dari IMF (cuma) US$ 3 miliar. Itu utang lho, ya, buka diberi cuma-cuma.
Untuk N-250 sudah berhenti, kalaupun dilanjutkan sudah kalah bersaing dengan
buatan Prancis (ATR).

*Apa saja yang Anda lakukan agar perusahaan bertahan?*

Target utama kami adalah jangan sampai ilmu ini hilang. Harus ada orang baru
untuk menggantikan yang tua. Ini kesempatan untuk menurunkan ilmu dari yang
tua ke yang muda. Dengan kondisi pas-pasan ini, (kami) tidak membuang yang
namanya *engineer*. Sekarang ini ada sekitar 800 orang engineer di bidang
produksi dan lain-lain.

*Perlu berapa insinyur untuk meraih kejayaan masa lalu?*

Itu tergantung dari kita punya program bikin pesawat dan berapa besar biaya
dan penjualannya.

[Andi Alisjahbana, Direktur Aeronautika menambahkan] : Kapasitas PT DI untuk
industri pesawat terbang masih terlalu kecil. Jadi kalau dulu kita besar
karena kemampuan untuk itu besar. Sekarang dengan kondisi yang terbatas,
kami harus memilih mitra di dunia (industri) penerbangan. Ada dua besar yang
menguasai industri penerbangan dunia, yakni Boeing Amerika Serikat dan
Airbus Group atau EADS (European Aeronautics Defense and Space). Kami
sekarang lebih banyak kerja sama dengan Airbus. Kami membuat komponen untuk
Airbus, yaitu untuk ujungnya sayap (A320 dan A380). PT DI ini satu-satunya *
sources* bagi Airbus untuk komponen itu.

[Budi Santoso]: Lalu NC-212, komponen-komponenny a sudah enggak di-*stock* di
Spanyol lagi, jadi semua dialihkan ke sini. Kami harapkan akhir tahun ini
sudah selesai perakitan *airframe* (struktur pesawat) helikopter (versi
mutakhir dari keluarga Super Puma) untuk Eurocopter Group. Kami inginkan
sebetulnya bukan kerja sama pembuatan komponen, melainkan mendapatkan
pekerjaan *engineering* agar engineer kita di luar negeri bisa pulang.
Mereka punya keahlian itu. Ini yang kami targetkan ke depan.

Di negara lain, industri-industri kunci yang mendukung negara itu
direncanakan oleh pemerintah, "disubsidi" oleh pemerintah karena akan
meningkatkan ekonomi negara. Cina, misalnya. Sewaktu mereka punya program
pesawat MA60, pemerintahnya mendukung dengan memberikan kredit puluhan
tahun.

*Artinya dukungan pemerintah terhadap PT DI sangat kurang?*

*Political will* sudah ada. Problemnya, aturan-aturan enggak mudah. Dalam
sebuah diskusi, Februari 2005, Departemen Pertahanan mengungkapkan enggak
bisa beli barang dari dalam negeri karena anggaran yang diberikan pemerintah
itu kredit ekspor. Jadi harus beli utangan.

Padahal Presiden SBY sudah mengusulkan agar perbankan dalam negeri saja yang
memberi fasilitas (kredit). Bank Mandiri sudah menyatakan sanggup, tinggal
dibuat aturannya. Alhamdulillah, setelah tiga tahun baru peraturan
pemerintah yang jadi (tersenyum kecut).

*Kapan persisnya?*

Agustus 2008. Dan alhamdulillah sampai sekarang enggak pernah keluar
peraturan menterinya. Padahal setiap peraturan pemerintah kan harus ada
peraturan pelaksanaan. Jadi satu peraturan presiden keluar itu memerlukan
satu periode masa jabatan presiden.

*Hambatan lain?*

PT DI enggak boleh ikut tender karena dirut-nya pegawai negeri. Saya ini
pegawai BPPT yang ditugaskan di sini. Karena dalam aturan pelaksanaan,
pegawai negeri dilarang menyediakan jasa untuk negara. Kalau untuk pribadi
memang enggak boleh. Tapi ini kan untuk institusi negara. Saya yakin BUMN
lainnya juga ada direksinya yang masih dari pegawai pemerintah. Aturan
seperti itu kalau dibaca "leterlek" enggak boleh.

*Kalau Kementerian Pertahanan?*

Kemhan sudah solid. Mereka mendukung industri pertahanan. Jadi ada politik
kebijakan industri pertahanan. Ini yang diharapkan untuk menghidupkan lagi
industri-industri itu. Sudah ada Komite Kebijakan Industri Pertahanan,
ketuanya Menteri Pertahanan, anggotanya Panglima TNI, Kepala Polri, dan
Menteri Perindustrian. Alhamdulillah sudah jadi badan hukum. Dengan adanya
ini, instruksinya jadi satu.

*Ke depan, pasar apa yang disasar?*

Kita cari *niche market*, yakni pasar untuk produk yang kita kuasai.
Sekarang ini lagi ada banyak permintaan untuk *maritim surveillance, marine
patrol*, atau dalam bahasa kami pesawat untuk misi khusus. Jadi yang kami
jual ke Korea Selatan nanti itu Korean Coast Guard, untuk patroli wilayah
menghadapi penyelundupan, pembajakan laut. Mereka kan banyak pulaunya. Jadi
produknya berupa CN-235 yang kami lengkapi radar dan kamera pengintai.

*Kontrak apa saja yang sudah diperoleh sampai sekarang ini?*

Kalau kontrak yang cukup signifikan itu pada 2008, totalnya sekitar Rp 1,8
triliun. Tahun 2009 juga sekitar *segitu. Itu jauh lebih besar dari 2007
yang cuma Rp 300-400 miliar. Saat itu masih dipailit. Sebenarnya, PT DI ini
hanya survive* jika bisa menjual di atas Rp 1 triliun. Mungkin problem utama
PT DI ini adalah pinjaman-pinjaman pemerintah yang dulu, sehingga orang yang
mau meminjamkan uang kepada PT DI akan bertanya-tanya, "Kok pinjaman pemilik
kamu tidak dikonversi menjadi modal?"

*Kenapa tak kunjung dilakukan?*

Enggak ada yang berani mengambil keputusan. Takut nanti digugat, dinyatakan
salah.

*Bagaimana PT DI bisa mendapatkan kontrak-kontrak tersebut?*

Di Korea kami ikut tender. Kami dapatkan pekerjaan dari Airbus juga karena
usaha sendiri. Kami masih mengharapkan apa salahnya kalau pemerintah membeli
sesuatu dari luar negeri, negara itu juga membeli barang dari kita.

*Maksudnya ini imbal pembelian?*

Ya. Sebenarnya, pesawat terbang kita dibarter dengan CPO (*crude palm oil*),
yang untung itu kita. Bikin pesawat terbang itu kan yang agak susah
menjualnya. Kalau punya CPO, kirim saja ke Rotterdam sudah bisa dilelang
kapan saja. Tapi kalau pesawat terbang bisa butuh berapa tahun untuk bisa
laku dijual. Kita ini suka salah pengertian. Kalau dalam ekonomi itu ada
istilahnya *liquid*. Produk teknologi itu tidak *liquid*, kalau bisa dijual
dan mendapatkan yang liquid, kan untung.

*Secara profesi apakah tidak terusik ketika dikatakan kok pesawat ditukar
dengan beras ketan?*

[Dijawab Andi]: Bagi saya sih tidak masalah. Teknologi itu baru bernilai
kalau dia bisa menghasilkan sesuatu. Kalau dia tidak menghasilkan sesuatu,
ya, enggak ada gunanya.

[Budi]: Jadi kalau kita ingat waktu Thailand membeli CN-235 yang ditukar
beras ketan lalu banyak orang mempertanyakan, wah ini barang teknologi
tinggi kok ditukar dengan komoditas? Padahal itu yang benar. Jepang itu
teknologinya tinggi, dia tetap butuh komoditas karena enggak punya
komoditas. Jualan orang Jepang jauh lebih agresif, tapi dia jual sesuatu
yang bukan komoditas.

Yang ingin saya tekankan, jual produk teknologi itu sebenarnya jual
kepercayaan. Karena secara ekonomi enggak bisa dijual. Bukan karena
kualitasnya jelek.

*Apa yang Anda lakukan sehingga Airbus percaya?*

Reputasi. Kepercayaan harus dibangun sedikit demi sedikit. Salah satu yang
menarik dari Airbus, yakni pada waktu PT DI dipailitkan kami enggak pernah
telat kirim pesanan mereka. Pada 2008, kami dapat penghargaan sebagai *
supplier* terbaik (Best Performance Supplier 2007) karena tepat waktu dan
kualitasnya bagus. Pada 2009 juga demikian. Dulu, staf Airbus banyak ke sini
mengawasi cara kerja kami. Sekarang sudah enggak ada. Artinya sudah percaya.
Secara bisnis, ya, kami harus cari kepercayaan karena modal kami kepercayaan
itu.

*Apakah karena harga PT DI lebih murah?*

Kami justru lebih mahal daripada Cina. Mereka (Airbus) *ngasih* (order) ke
kami karena kualitas lebih baik daripada Cina. Kemarin dapat kontrak dari
Airbus itu Rp 500 miliar.

*Bagaimana dengan pesanan dari Korea?*

Harga kami bukan yang termurah. Karena dibandingkan dengan pesawat yang
lebih kecil, performa bikinan kami lebih bagus. Pesawat kepresidenan Korea
itu menggunakan CN-235, lo.

*Perjanjian pembuatan pesawat KF-X dengan Korea itu seperti apa?*

KF-X (Korean Fighter-X) itu adalah program pengembangan industri penerbangan
Korea. Pesawat tempur ini adalah generasi 4,5. Jadi lebih baik dari F-16
(generasi keempat), tapi masih di bawah F-32 (generasi kelima). Korea merasa
sudah mandiri lalu mengajak Indonesia. Kalau sendirian, negara seperti Korea
pun enggak mampu. Kerja sama ini adalah *share* pekerjaan. Kerja sama dalam
pembuatan pesawat terbang, itu saling berbagai mulai dari desainnya.

*Pertimbangan pembiayaan kita 20 persen?*

Kalau 80 persen enggak kuat. Untuk pengembangan, itu yang dinilai adalah
nilai akhir, bukan *cost* kita. Kenapa 20 persen, kami yakin mungkin kita
cuma bayar 10-15 persen. Kalau enggak mampu mungkin 10 persen. Dengan 20
persen, kita nanti membeli 50 unit, Korea 200 unit.

Bagi kami, kerja sama ini penting karena alih teknologi. Kalau kita sudah
menguasai pembuatan pesawat tempur, ke depannya kita akan mudah. Pesawat
tempur itu yang paling berperan adalah *software* (peranti lunaknya). Kalau
komputer pesawat F-16 itu mati, enggak bisa apa-apa itu, pilotnya lebih baik
loncat saja. Nah, kalau musuh mengetahui inti dari *software* itu, dia bisa
memasukkan semacam virus atau worm, sehingga istilahnya tidak usah ditembak,
pesawat itu bisa jatuh sendiri.

Kerja sama dengan Korea itu kita terlibat dalam mendesain otaknya pesawat
tempur itu. Pengetahuan itu berguna untuk strategi jangka panjang, bagi TNI
AU kita juga. Yang pasti, prospek ke depan kerja sama ini baik karena sudah
ada komitmen pembelian sebanyak 200 unit. Kita harapkan pembeli juga ada
dari negara lain.

[Andi menambahkan] : Memang masih lama, tahap produksi itu rencananya baru
mulai 2021.

*Kalau memproduksi pesawat sendiri apa masih ada keinginan?*

Ya. Kita mengambil pasar pesawat kecil yang akan menggantikan pesawat jenis
*twin otter*. Pesawat *twin otter* itu didesain pada 1960, sekarang tidak
ada pesawat sejenis ini yang lainnya. Kita punya desain pesawat N-219,
pesawat dua mesin berpenumpang 19 orang. Kebetulan Pak Andi ini yang tahu
banyak sebagai kepala program, silakan tanyakan ke beliau.

Selain itu, kita juga ingin mengembangkan pesawat amfibi. Faktor kondisi
geografis Indonesia yang berupa kepulauan ini membutuhkan pesawat yang bisa
mendarat dan lepas landas dari air maupun darat. Sebenarnya, pada zaman
Hindia Belanda dulu, perusahaan angkutan penumpang sipilnya menggunakan
pesawat amfibi seperti ini (tipe Albatross dan Catalina).

Kami sudah menjalin kerja sama *under license* dengan perusahaan Jerman,
yang spesialis membuat pesawat amfibi (*dornier seawings*).

*BIODATA*

*NAMA:*Dr Ir Budi Santoso

*LAHIR:*Jember, 18 Juni 1955

*ISTRI:*Ir Churiah Agustini, MSIE (dengan dua anak)

*PEKERJAAN:* Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia

*PENDIDIKAN: *

- Sarjana S-1 Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (1980)

- Doktor Robotika Katholieke Universiteit Leuven, Belgia (1987)

*KARIER:*

- Asisten dosen pada Fakultas Teknik Mesin ITB (1980-1982)

- Staf ahli untuk Direktorat Produksi PT IPTN (1987-1990)

- Staf ahli untuk Direktorat Produksi PT PINDAD (1989-1995)

- Direktur Utama PT Fanuc GE Automation Bandung (1993-1998)

- Direktur Teknologi dan Koordinator Korporat PT Pindad (1995-1998)

- Presiden Komisaris PT Fanuc GE Automation Bandung (1998-2005)

- Direktur Utama PT Pindad (1998-2007)

- Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (2007-sekarang)

*PENGHARGAAN: *

- Satyalancana Pembangunan 1997 dari Presiden Soeharto

- Satyalancana Pembangunan 2006 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

http://bataviase. co.id/node/ 385776
*Jadi Montir dan Sup Ikan Ainun *

Sederhana dalam penampilan, lembut dalam bertutur kata. Begitulah Budi
Santoso. Pembawaannya yang rendah hati antara lain ditunjukkan dari
disertasi doktoralnya tentang robot tiga jari yang tak mencapai 30 halaman
kertas A5. "Saya lebih suka menjadi montir ketimbang ilmuwan," ujarnya.
Sebagai montir, ia merasa tak perlu bertele-tele dalam memaparkan teori.
Budi ingin yang serba simpel, *to the point*.

Ketika menjadi staf ahli B.J. Habibie di Industri Pesawat Terbang Nusantara
pada pertengahan 1980-an, Budi diketahui lebih banyak mengutak-atik berbagai
mesin pembuat pesawat daripada duduk di belakang meja. Ketika sembilan tahun
memimpin PT Pindad, Budi menjadi legenda. Sebagai pemimpin baru di Pindad,
ia mendemonstrasikan kemahirannya membongkar dan merangkai kembali senjata
serbu SS-1 dalam tempo 2 jam. Dia kemudian meng-*upgrade* senjata itu
menjadi SS-2 yang biasa digunakan Marinir.

"Karena untuk Marinir, kami desain lebih tahan lumpur," ujar arek Jember
yang gemar *off-road* dan fotografi itu.

Pada 2006, senjata yang didesainnya itu mengundang decak kagum para petinggi
militer Asia Tenggara. Dalam lomba menembak antartentara di Hanoi, Vietnam,
kontingen Indonesia menjadi juara umum dengan meraih 24 medali emas, 10
perak, dan 9 perunggu, serta 9 trofi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
kemudian menganugerahi Budi medali Satyalancana.

Ketika rencana pembelian panser dari Belgia menuai kontroversi, Pindad
menyodorkan panser Anoa 6 x 6 dengan harga jauh lebih murah. "Produksi
pertama digunakan saat darurat operasi militer Aceh (2003)," kata Budi.

Meski berhasil menuai sederet prestasi, ia tak pernah lupa kepada Habibie
dan istrinya, Hasri Ainun. Budi menyebut Habibie, yang dianggap sebagai guru
dan orang tuanya, sebagai ilmuwan dan pemimpin visioner. Dalam setahun,
minimal empat kali Budi menyambangi rumah gurunya itu di Patra Kuningan,
Jakarta Selatan.

Ada kalanya ia sengaja datang tiba-tiba agar tak merepotkan sang nyonya
rumah. Maklum, jika terlebih dulu tahu Budi akan bertandang, Ainun pasti
repot memasakkan sup ikan kesukaan Budi. "Tante Ainun biasa menasihati
macam-macam, " tutur Budi.

Seperti pada pertemuan terakhir mereka Februari lalu, sebulan sebelum Ainun
berobat ke Jerman hingga mangkat pada 22 Mei. "Saya sempat *dimarah-marahin* .
Dibilangin enggak boleh makan ini makan itu dan harus cukup tidur," ujar
Budi mengenang nasihat Ainun.


.

__,_._,___

Sudarmanto Muadji

unread,
Oct 12, 2010, 12:19:23 PM10/12/10
to tentan...@googlegroups.com
habibie memang bukan ilmuwan biasa, tapi juga ilmuwan yang care terhadap bangsanya walaupun doi produk orba. Bravo buat Habibie dan IPTN


Dari: anto sugiharto <anto...@yahoo.com>
Kepada: tentan...@googlegroups.com
Terkirim: Rab, 13 Oktober, 2010 00:01:12
Judul: [tentangqatar] Pesawat Kepresidenan Korea itu buatan Indonesia (PTDI)
--
==============================================
Website : http://www.tentangqatar.com
Kirim email : tentan...@googlegroups.com
Unsubscribe : tentangqatar...@googlegroups.com

bambang agus suparno

unread,
Oct 12, 2010, 12:47:58 PM10/12/10
to tentan...@googlegroups.com
Habibie sosok yang penuh dengan ide2 cemerlang buat kemajuan bangsanya dalam memajukan bangsa tapi segala jerih payahnya hancur dengan era politik pembusukan sehingga segala jerih payah rintisannya hampir hancur...semoga kedepan ada Habibie ---Habibie yang lain ..saya salut dengan beliau  semoga segala jerih payahnya menjadi panutan buat bangsa ini..saya terkenang ke[ada beliau sewaktu masih menjadi karyawan PT IPTN  sekarang PT DI    salam sejahtera Pak Habibie  walau saya hanya sebentar menjadi karyawan rendahan di IPTN dulu tapi saya merasakan apa yang menjadi visi beliau sangat strategis buat kemajuan teknologi bangsa ini ke depan.......semoga anak saya bisa merasakan kejayaan PT IPTN atau PT DI kedepan.....bravo PT IPTN/PT DI  jaya selalu

nur arif kurniawan

unread,
Oct 12, 2010, 1:30:45 PM10/12/10
to tentan...@googlegroups.com
Zaman sekarang banyak
'habibie" yang terpaksa meninggalkan tanah air yang di sebabkan tidak adanya perhatian dari pemerintah. Hendaknya pemerintah lebih memenuhi "keidealis-an" para "habibie muda" tuk kemajuan bangsa ini. TERIMA KASIH DAN SALAM HORMAT ku terhadap beliau dan partners, karena jasa beliau dan partners dibidang teknologi negara kita disegani.

2010/10/12 bambang agus suparno <basu...@gmail.com>

Yuniarto

unread,
Oct 13, 2010, 3:15:20 AM10/13/10
to tentan...@googlegroups.com
kemarin saya sempat mampir ke acara bandung airshow
semoga itu menjadi pertanda menggeliatnya Indonesia di kancah dirgantara...
buat yg ingin lihat foto2nya silahkan ditengok disini http://simplecapture.zenfolio.com/p884441407
 
saya yakin para "habibie baru", mungkin juga saya, anda atau rekan-rekan lain-lain dengan bangga dan rela hati untuk kembali ke ibu pertiwi jika memang diperlukan demi kemajuan bangsa
maju terus PTDI
 
salam,
yuniarto

Aliadin Ali

unread,
Oct 13, 2010, 7:53:42 AM10/13/10
to tentan...@googlegroups.com
Saya juga bingung,,,pemerintah itu siapa, dan dia di sana oleh siapa, dan untuk siapa itulah dia di sana, jadi kalo pak Habibie bukan dari mereka yang siapa, ya, mohon maaf pak Habibie digantikan oleh teman2 siapa tadi,,,pemenang peta politik yang sangat menentukan pemerintahan kita...Dan harapan bagi mereka yang ada di BUMN, mereka banyak yang ditrainingkan dengan bayaran yang sangat mahal, apalagi keluar negeri, tidak sedikit dari mereka hanya ngakak2, wah bs tour gratis, dan yang di atas2nya cuman yang penting jalan program, berapa banyak kasus yang studi banding misalnya masalah TEKNOLOGI, ech tapi yang diberangkatkan dari LATAR BELAKANG HUKUM, wow dengan bangga tanpa beban go juga...Akhir tahun buru2 training, full booking HOTEL, alasannya wah sayang nggak dimafaatin, anggaran tiap tahunnya kan ada...kesempatan untuk jalan-jalan...nggak dimanfaatin nanti dipangakas yang di atas nanti....

Mudah2an jauhlah dari prasangka seperti itu....

Bekerja, berjuang, untuk keluarga, lebih besar lagi masyarakat,,,,dsttt

Salam hangat buat semua...

anto sugiharto

unread,
Oct 13, 2010, 1:27:24 PM10/13/10
to tentan...@googlegroups.com
Temen TQ-ers, 
Kalo boleh urun pendapat pribadi, ada sejumlah "bullet" points dari artikel tsb :
1. Biarpun PTDI pernah collapsed (namun tidak really bangkrut) krn harus jadi korban politisasi lewat LoI IMF (entahlah apakah saat itu direktur eksekutif asia-pasificnya Sri Mulyani yg org2 banggakan atau si Camdessus), tapi yg jelas ada phk - lalu ex karyawannya yg well trained dan disekolahkan ke LN akhirnya menyebar menjadi kontributor front end engineering pada industri dirgantara di seluruh dunia. Ini jelas membanggakan, industri minyak saja yg pengalaman 120-an thn existence nya di indonesia, sy br dengar ada satu dua org kita saja khususnya di bidang subsurface (GGRE) yg di hired dgn level konsultan profesional di overseas companies (IOC's or NOC's)..tul gak ? cmiiw. 
 
2. Seandainya PTDI kembali berjaya lewat divisi produksi pesawat terbangnya melebihi prestasi penjualan sblm krisis, sehingga revenue perusahaan pun surplus dan membuat neraca positif (dividen buat negara), maka sistem penggajian karyawan pun otomatis semakin baik dan tentunya para ex-karyawan bertitel master dan PhD yg berada di LN tentunya akan tertarik" utk pulang..ada gula ada semut - setinggi2 org "lompat" akan balik..apalagi inget siomay bandung, bakso karapitan dan FO setiabudi....sekitaran area PTDI lah...:)
 
3. Mungkin salah satu daya tariknya bs dikenalkan dgn sistem reward dan remunerasi ala "karyawan pajak" utk ngejar target deliverability atas order pesawat, selain penalty yg lazim utk corporate punishment....btw, koq PNS dibeda2in ya, kenapa org pajak musti istimewa sih :)
 
4. Industri pesawat terbang adalah investasi jangka panjang yang padat modal di awal (overhead cost + capex), teknologi yg sophisticated dan mahal, dan perlu spesialties, namun hasilnya penuh dgn ketidakpastian dan belum tentu menguntungkan atau profitable secara komersial.
 
5. Yg terakhir dan menentukan adalah industri ini sarat kompetisi di pasar bebas dan issue politik/kepentingan, sangat rentan untuk collapsed di tengah jalan, ingat fokker, northop/grumman, BAE, dll yg pernah besar tapi akhirnya collapsed dan hilang, atau diakuisi perusahaan yg lbh besar...
 
6. perlu political will dari pemerintah untuk memelihara industri ini agar tetap hidup demi ketahanan nasional dgn tetap memberi subsidi finansial dan discretion dari peraturan2 birokrasi yg kaku, gak rasional dan "take ages" .
 
7. Musti mencermati pangsa pasar "through the times" buat yg berminat jd wirausahawan industri pesawat terbang seperti yg dirintis EU di qatar...hehe.. 
 
8. Dalam kondisi sulit, Kalo PT PAL bisa sukses "survived" walau rugi terus, maka BUMN strategis sejenis yg lain, semisal PT PINDAD dan PTDI harus bisa "sukses" untuk survived juga.
 
9. Lalu.......Perlu tokoh dgn "kekuasaan" yg kuat dan yg betul2 faham secara mendetil, committed dan konsisten yang menjadi figur pelindung dan penasehat kebijakan atas strategi perusahaan seperti skillset yg dimiliki bpk Habibie, namun jangan pula menjadi target politisasi org2 teknokrat dan kaum oportunis.
 
Demikian, maaf kalo ada salah...koq serius dan panjang amat yo...
 
Salam
Anto S

Hari Suprayitno

unread,
Oct 14, 2010, 12:54:11 AM10/14/10
to tentan...@googlegroups.com
Setelah saya forward artikel ini ke teman saya yang hampir 20 tahun bekerja di PTDI, di bawah adalah tanggapannya, campur bahasa Jawa (saya terjemahkan atau edit di dalam kurung). Mari kita doakan bersama semoga ini hanya sementara dan selanjutnya bisa berdampak positif:
 
Walaikum salam.
 
Wah mestine yo kudu (seharusnya) berdampak terhadap kesejahteraan karyawan tapi kenyataan tambah parah. aku nek moco (membaca) artikel sing mbok (yang kamu) kirim wah ketoane (kelihatannya) seneng banget.
Kenepa demikian ? aku ng(g)ak wani (berani) nulis didisi (disini?) takut di glandang nang (ke) kantor polisi. har. Yo dongane ae sing akeh yoo (Ya doanya aja yang banyak ya).
 
salam (namanya saya hapus)
 
--
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages