| http://bataviase. co.id/node/ 385779 Produk Teknologi Itu Jual Kepercayaan Budi Santoso Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia: Sempat divonis pailit oleh Pengadilan Tata Usaha Negara pada September 2007, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) harus merumahkan belasan ribu karyawannya. Pada masa sulit itu, untuk bertahan hidup, pabrik pesawat terbang itu terpaksa membuat alat pencetak panci yang menjadi bulan-bulanan banyak kalangan. Kini, perlahan tapi pasti, PT DI menapak bangkit. Awal Januari lalu, perusahaan plat merah yang berdiri 34 tahun lalu ini memenangi tender pengadaan empat pesawat penjaga pantai untuk Korea Selatan senilai US$ 94,5 juta. Pada bulan yang sama, Eurocopter Group (anak perusahaan dari aliansi strategis industri kedirgantaraan Eropa, EADS) mempercayakan PT DI membuat komponen *fuselage* (badan utama) dan tailboom (bagian ekor) helikopter seri EC-225 Super Puma dan EC-725 Cougar. Total order 125 unit hingga 2020. Pertengahan Juli lalu, PT DI menandatangani *memorandum of understanding* dengan Korea Selatan untuk memproduksi pesawat tempur KF-X. Jet tempur generasi baru yang diklaim lebih andal ketimbang F-16, tapi masih di bawah F-35 buatan Lockheed Martin. Anggaran untuk proyek strategis tersebut mencapai US$ 8 miliar dengan jangka waktu kerja sama hingga 2020. PT DI akan menanggung 20 persen pembiayaan dan Indonesia menyanggupi membeli 50 dan 200 unit pesawat tersebut. Sosok di balik semua pencapaian itu adalah Budi Santoso. Karena dianggap berhasil membenahi PT Pindad, B.J. Habibie merekomendasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar menugasi ahli robot lulusan Belgia itu memimpin PT DI sejak 6 Juli 2007. Untuk mengetahui lebih jauh seputar kinerja PT DI, Isitqomatul Hayati, Sudrajat, Dody Hidayat, serta juru foto Arnold Simanjuntak menyambangi Budi di kantornya, di Bandung, 1 September lalu. Didampingi Direktur Aerostructure Andi Alisjahbana dan Direktur Operasional Aircraft Integration Budiman Saleh, Budi menjawab tim *Tempo*. Berikut ini petikannya. *Pencapaian apa saja yang sudah diraih dalam 34 tahun ini?* (Sambil memperlihatkan poster *road map* IPTN yang dibuat oleh Habibie). Kalau dari programnya Pak Habibie yang empat fase strategis itu, kita sebenarnya sudah sampai ke tahap ketiga. Pak Habibie kan punya filosofi transformasi teknologi: berawal di akhir, berakhir di awal. Bahwa dalam membuat pesawat terbang tidak harus dari komponen dulu, tapi langsung belajar dari akhir suatu proses, yaitu pesawat jadi. Pada tahap pertama itu kami merakit pesawat NC 212, helikopter NBO 105, dan helikopter NBell 412. Tahap kedua adalah *joint design production*. CN-235 adalah *joint design*IPTN dengan CASA (Construcciones Aeronauticas SA) Spanyol. Tahap berikutnya, ketiga, adalah mendesain pesawat sendiri (own design). Pada 1990-an, kami mendesain N-250 dan terbang pertama kali pada 10 Agustus 1995. Dimulai produksi pada 1998. Tapi sayangnya pada 1998 itu kita menghadapi krisis moneter, IMF (International Monetary Fund) meminta agar proyek ini tidak diteruskan. Waktu itu program pembuatan pesawat sudah menghabiskan hampir US$ 1 miliar. Kami hanya butuh sekitar US$ 150-200 juta, sekitar 15-20 persen lagi untuk mendapatkan sertifikasi. Kami sudah menghabiskan hampir 85 persen, tinggal 15 persen lagi untuk mempertahankan semua. *Apa dampak dari penghentian program N-250?* Jadi dengan berhentinya pesawat N-250, maka sebetulnya kita kolaps. Karena program pembuatan pesawat N-250 ini menyerap 12 ribu lebih tenaga kerja. Akhirnya semua *jobless*, jadi pengangguran. Padahal banyak yang sudah disekolahkan ke luar negeri dan lain-lain pada awal 1990-an. Mereka siap kerja. *Benarkah sejak itu IPTN sampai terpaksa membuat panci?* Prinsipnya, apa saja dikerjakan untuk bertahan. Tapi bukan panci, melainkan cetakan membuat panci. Tapi yang paling mahal dari keputusan IMF ini adalah masalah sumber daya manusia (SDM). Anggaran hampir US$ 1 miliar yang dihabiskan itu bukan sepenuhnya buat pesawat, melainkan untuk menyiapkan SDM dan lain-lain. Kami pernah waktu *peak*-nya itu memberikan beasiswa untuk 300 orang. Jadi untuk mendidik sarjana strata 3 itu dalam berapa tahun dikalikan 300 orang dikalikan berapa uang yang dikeluarkan. Belum yang S-2 dan lain-lain. Waktu puncaknya dulu kami punya 15 ribu karyawan, 3.500 di antaranya adalah engineer. Sekarang total karyawan kami sekitar 4.000. *Ke mana yang selebihnya?* Dirasionalisasi dan sebagian besar ke luar negeri. Mereka itu berpendidikan tinggi dengan keahlian yang diakui. Jadi kalau Anda pergi ke mana pun pabrik pesawat terbang di dunia, selalu akan menemukan orang bekas pegawai PT DI. Sifat dari pekerjaan *engineering* untuk mendesain pesawat itu seperti orang Gypsi, nomaden, jadi berpindah-pindah ke mana perusahaan yang punya proyek pembuatan pesawat. *Sekarang di mana posisi PT DI merujuk pada empat fase strategis itu?* Kita sudah tidak bisa mengikuti itu lagi. Sekarang, PT DI ini kalau diperhatikan, *back* lebih dari 10 tahun. Indonesia sudah rugi besar. Investasi yang sangat besar belum sampai menikmati sudah dibubarkan. Kita investasi sudah US$ 1 miliar untuk pendidikan, (tapi) dapat pinjaman lunak dari IMF (cuma) US$ 3 miliar. Itu utang lho, ya, buka diberi cuma-cuma. Untuk N-250 sudah berhenti, kalaupun dilanjutkan sudah kalah bersaing dengan buatan Prancis (ATR). *Apa saja yang Anda lakukan agar perusahaan bertahan?* Target utama kami adalah jangan sampai ilmu ini hilang. Harus ada orang baru untuk menggantikan yang tua. Ini kesempatan untuk menurunkan ilmu dari yang tua ke yang muda. Dengan kondisi pas-pasan ini, (kami) tidak membuang yang namanya *engineer*. Sekarang ini ada sekitar 800 orang engineer di bidang produksi dan lain-lain. *Perlu berapa insinyur untuk meraih kejayaan masa lalu?* Itu tergantung dari kita punya program bikin pesawat dan berapa besar biaya dan penjualannya. [Andi Alisjahbana, Direktur Aeronautika menambahkan] : Kapasitas PT DI untuk industri pesawat terbang masih terlalu kecil. Jadi kalau dulu kita besar karena kemampuan untuk itu besar. Sekarang dengan kondisi yang terbatas, kami harus memilih mitra di dunia (industri) penerbangan. Ada dua besar yang menguasai industri penerbangan dunia, yakni Boeing Amerika Serikat dan Airbus Group atau EADS (European Aeronautics Defense and Space). Kami sekarang lebih banyak kerja sama dengan Airbus. Kami membuat komponen untuk Airbus, yaitu untuk ujungnya sayap (A320 dan A380). PT DI ini satu-satunya * sources* bagi Airbus untuk komponen itu. [Budi Santoso]: Lalu NC-212, komponen-komponenny a sudah enggak di-*stock* di Spanyol lagi, jadi semua dialihkan ke sini. Kami harapkan akhir tahun ini sudah selesai perakitan *airframe* (struktur pesawat) helikopter (versi mutakhir dari keluarga Super Puma) untuk Eurocopter Group. Kami inginkan sebetulnya bukan kerja sama pembuatan komponen, melainkan mendapatkan pekerjaan *engineering* agar engineer kita di luar negeri bisa pulang. Mereka punya keahlian itu. Ini yang kami targetkan ke depan. Di negara lain, industri-industri kunci yang mendukung negara itu direncanakan oleh pemerintah, "disubsidi" oleh pemerintah karena akan meningkatkan ekonomi negara. Cina, misalnya. Sewaktu mereka punya program pesawat MA60, pemerintahnya mendukung dengan memberikan kredit puluhan tahun. *Artinya dukungan pemerintah terhadap PT DI sangat kurang?* *Political will* sudah ada. Problemnya, aturan-aturan enggak mudah. Dalam sebuah diskusi, Februari 2005, Departemen Pertahanan mengungkapkan enggak bisa beli barang dari dalam negeri karena anggaran yang diberikan pemerintah itu kredit ekspor. Jadi harus beli utangan. Padahal Presiden SBY sudah mengusulkan agar perbankan dalam negeri saja yang memberi fasilitas (kredit). Bank Mandiri sudah menyatakan sanggup, tinggal dibuat aturannya. Alhamdulillah, setelah tiga tahun baru peraturan pemerintah yang jadi (tersenyum kecut). *Kapan persisnya?* Agustus 2008. Dan alhamdulillah sampai sekarang enggak pernah keluar peraturan menterinya. Padahal setiap peraturan pemerintah kan harus ada peraturan pelaksanaan. Jadi satu peraturan presiden keluar itu memerlukan satu periode masa jabatan presiden. *Hambatan lain?* PT DI enggak boleh ikut tender karena dirut-nya pegawai negeri. Saya ini pegawai BPPT yang ditugaskan di sini. Karena dalam aturan pelaksanaan, pegawai negeri dilarang menyediakan jasa untuk negara. Kalau untuk pribadi memang enggak boleh. Tapi ini kan untuk institusi negara. Saya yakin BUMN lainnya juga ada direksinya yang masih dari pegawai pemerintah. Aturan seperti itu kalau dibaca "leterlek" enggak boleh. *Kalau Kementerian Pertahanan?* Kemhan sudah solid. Mereka mendukung industri pertahanan. Jadi ada politik kebijakan industri pertahanan. Ini yang diharapkan untuk menghidupkan lagi industri-industri itu. Sudah ada Komite Kebijakan Industri Pertahanan, ketuanya Menteri Pertahanan, anggotanya Panglima TNI, Kepala Polri, dan Menteri Perindustrian. Alhamdulillah sudah jadi badan hukum. Dengan adanya ini, instruksinya jadi satu. *Ke depan, pasar apa yang disasar?* Kita cari *niche market*, yakni pasar untuk produk yang kita kuasai. Sekarang ini lagi ada banyak permintaan untuk *maritim surveillance, marine patrol*, atau dalam bahasa kami pesawat untuk misi khusus. Jadi yang kami jual ke Korea Selatan nanti itu Korean Coast Guard, untuk patroli wilayah menghadapi penyelundupan, pembajakan laut. Mereka kan banyak pulaunya. Jadi produknya berupa CN-235 yang kami lengkapi radar dan kamera pengintai. *Kontrak apa saja yang sudah diperoleh sampai sekarang ini?* Kalau kontrak yang cukup signifikan itu pada 2008, totalnya sekitar Rp 1,8 triliun. Tahun 2009 juga sekitar *segitu. Itu jauh lebih besar dari 2007 yang cuma Rp 300-400 miliar. Saat itu masih dipailit. Sebenarnya, PT DI ini hanya survive* jika bisa menjual di atas Rp 1 triliun. Mungkin problem utama PT DI ini adalah pinjaman-pinjaman pemerintah yang dulu, sehingga orang yang mau meminjamkan uang kepada PT DI akan bertanya-tanya, "Kok pinjaman pemilik kamu tidak dikonversi menjadi modal?" *Kenapa tak kunjung dilakukan?* Enggak ada yang berani mengambil keputusan. Takut nanti digugat, dinyatakan salah. *Bagaimana PT DI bisa mendapatkan kontrak-kontrak tersebut?* Di Korea kami ikut tender. Kami dapatkan pekerjaan dari Airbus juga karena usaha sendiri. Kami masih mengharapkan apa salahnya kalau pemerintah membeli sesuatu dari luar negeri, negara itu juga membeli barang dari kita. *Maksudnya ini imbal pembelian?* Ya. Sebenarnya, pesawat terbang kita dibarter dengan CPO (*crude palm oil*), yang untung itu kita. Bikin pesawat terbang itu kan yang agak susah menjualnya. Kalau punya CPO, kirim saja ke Rotterdam sudah bisa dilelang kapan saja. Tapi kalau pesawat terbang bisa butuh berapa tahun untuk bisa laku dijual. Kita ini suka salah pengertian. Kalau dalam ekonomi itu ada istilahnya *liquid*. Produk teknologi itu tidak *liquid*, kalau bisa dijual dan mendapatkan yang liquid, kan untung. *Secara profesi apakah tidak terusik ketika dikatakan kok pesawat ditukar dengan beras ketan?* [Dijawab Andi]: Bagi saya sih tidak masalah. Teknologi itu baru bernilai kalau dia bisa menghasilkan sesuatu. Kalau dia tidak menghasilkan sesuatu, ya, enggak ada gunanya. [Budi]: Jadi kalau kita ingat waktu Thailand membeli CN-235 yang ditukar beras ketan lalu banyak orang mempertanyakan, wah ini barang teknologi tinggi kok ditukar dengan komoditas? Padahal itu yang benar. Jepang itu teknologinya tinggi, dia tetap butuh komoditas karena enggak punya komoditas. Jualan orang Jepang jauh lebih agresif, tapi dia jual sesuatu yang bukan komoditas. Yang ingin saya tekankan, jual produk teknologi itu sebenarnya jual kepercayaan. Karena secara ekonomi enggak bisa dijual. Bukan karena kualitasnya jelek. *Apa yang Anda lakukan sehingga Airbus percaya?* Reputasi. Kepercayaan harus dibangun sedikit demi sedikit. Salah satu yang menarik dari Airbus, yakni pada waktu PT DI dipailitkan kami enggak pernah telat kirim pesanan mereka. Pada 2008, kami dapat penghargaan sebagai * supplier* terbaik (Best Performance Supplier 2007) karena tepat waktu dan kualitasnya bagus. Pada 2009 juga demikian. Dulu, staf Airbus banyak ke sini mengawasi cara kerja kami. Sekarang sudah enggak ada. Artinya sudah percaya. Secara bisnis, ya, kami harus cari kepercayaan karena modal kami kepercayaan itu. *Apakah karena harga PT DI lebih murah?* Kami justru lebih mahal daripada Cina. Mereka (Airbus) *ngasih* (order) ke kami karena kualitas lebih baik daripada Cina. Kemarin dapat kontrak dari Airbus itu Rp 500 miliar. *Bagaimana dengan pesanan dari Korea?* Harga kami bukan yang termurah. Karena dibandingkan dengan pesawat yang lebih kecil, performa bikinan kami lebih bagus. Pesawat kepresidenan Korea itu menggunakan CN-235, lo. *Perjanjian pembuatan pesawat KF-X dengan Korea itu seperti apa?* KF-X (Korean Fighter-X) itu adalah program pengembangan industri penerbangan Korea. Pesawat tempur ini adalah generasi 4,5. Jadi lebih baik dari F-16 (generasi keempat), tapi masih di bawah F-32 (generasi kelima). Korea merasa sudah mandiri lalu mengajak Indonesia. Kalau sendirian, negara seperti Korea pun enggak mampu. Kerja sama ini adalah *share* pekerjaan. Kerja sama dalam pembuatan pesawat terbang, itu saling berbagai mulai dari desainnya. *Pertimbangan pembiayaan kita 20 persen?* Kalau 80 persen enggak kuat. Untuk pengembangan, itu yang dinilai adalah nilai akhir, bukan *cost* kita. Kenapa 20 persen, kami yakin mungkin kita cuma bayar 10-15 persen. Kalau enggak mampu mungkin 10 persen. Dengan 20 persen, kita nanti membeli 50 unit, Korea 200 unit. Bagi kami, kerja sama ini penting karena alih teknologi. Kalau kita sudah menguasai pembuatan pesawat tempur, ke depannya kita akan mudah. Pesawat tempur itu yang paling berperan adalah *software* (peranti lunaknya). Kalau komputer pesawat F-16 itu mati, enggak bisa apa-apa itu, pilotnya lebih baik loncat saja. Nah, kalau musuh mengetahui inti dari *software* itu, dia bisa memasukkan semacam virus atau worm, sehingga istilahnya tidak usah ditembak, pesawat itu bisa jatuh sendiri. Kerja sama dengan Korea itu kita terlibat dalam mendesain otaknya pesawat tempur itu. Pengetahuan itu berguna untuk strategi jangka panjang, bagi TNI AU kita juga. Yang pasti, prospek ke depan kerja sama ini baik karena sudah ada komitmen pembelian sebanyak 200 unit. Kita harapkan pembeli juga ada dari negara lain. [Andi menambahkan] : Memang masih lama, tahap produksi itu rencananya baru mulai 2021. *Kalau memproduksi pesawat sendiri apa masih ada keinginan?* Ya. Kita mengambil pasar pesawat kecil yang akan menggantikan pesawat jenis *twin otter*. Pesawat *twin otter* itu didesain pada 1960, sekarang tidak ada pesawat sejenis ini yang lainnya. Kita punya desain pesawat N-219, pesawat dua mesin berpenumpang 19 orang. Kebetulan Pak Andi ini yang tahu banyak sebagai kepala program, silakan tanyakan ke beliau. Selain itu, kita juga ingin mengembangkan pesawat amfibi. Faktor kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan ini membutuhkan pesawat yang bisa mendarat dan lepas landas dari air maupun darat. Sebenarnya, pada zaman Hindia Belanda dulu, perusahaan angkutan penumpang sipilnya menggunakan pesawat amfibi seperti ini (tipe Albatross dan Catalina). Kami sudah menjalin kerja sama *under license* dengan perusahaan Jerman, yang spesialis membuat pesawat amfibi (*dornier seawings*). *BIODATA* *NAMA:*Dr Ir Budi Santoso *LAHIR:*Jember, 18 Juni 1955 *ISTRI:*Ir Churiah Agustini, MSIE (dengan dua anak) *PEKERJAAN:* Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia *PENDIDIKAN: * - Sarjana S-1 Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (1980) - Doktor Robotika Katholieke Universiteit Leuven, Belgia (1987) *KARIER:* - Asisten dosen pada Fakultas Teknik Mesin ITB (1980-1982) - Staf ahli untuk Direktorat Produksi PT IPTN (1987-1990) - Staf ahli untuk Direktorat Produksi PT PINDAD (1989-1995) - Direktur Utama PT Fanuc GE Automation Bandung (1993-1998) - Direktur Teknologi dan Koordinator Korporat PT Pindad (1995-1998) - Presiden Komisaris PT Fanuc GE Automation Bandung (1998-2005) - Direktur Utama PT Pindad (1998-2007) - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (2007-sekarang) *PENGHARGAAN: * - Satyalancana Pembangunan 1997 dari Presiden Soeharto - Satyalancana Pembangunan 2006 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono http://bataviase. co.id/node/ 385776 *Jadi Montir dan Sup Ikan Ainun * Sederhana dalam penampilan, lembut dalam bertutur kata. Begitulah Budi Santoso. Pembawaannya yang rendah hati antara lain ditunjukkan dari disertasi doktoralnya tentang robot tiga jari yang tak mencapai 30 halaman kertas A5. "Saya lebih suka menjadi montir ketimbang ilmuwan," ujarnya. Sebagai montir, ia merasa tak perlu bertele-tele dalam memaparkan teori. Budi ingin yang serba simpel, *to the point*. Ketika menjadi staf ahli B.J. Habibie di Industri Pesawat Terbang Nusantara pada pertengahan 1980-an, Budi diketahui lebih banyak mengutak-atik berbagai mesin pembuat pesawat daripada duduk di belakang meja. Ketika sembilan tahun memimpin PT Pindad, Budi menjadi legenda. Sebagai pemimpin baru di Pindad, ia mendemonstrasikan kemahirannya membongkar dan merangkai kembali senjata serbu SS-1 dalam tempo 2 jam. Dia kemudian meng-*upgrade* senjata itu menjadi SS-2 yang biasa digunakan Marinir. "Karena untuk Marinir, kami desain lebih tahan lumpur," ujar arek Jember yang gemar *off-road* dan fotografi itu. Pada 2006, senjata yang didesainnya itu mengundang decak kagum para petinggi militer Asia Tenggara. Dalam lomba menembak antartentara di Hanoi, Vietnam, kontingen Indonesia menjadi juara umum dengan meraih 24 medali emas, 10 perak, dan 9 perunggu, serta 9 trofi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menganugerahi Budi medali Satyalancana. Ketika rencana pembelian panser dari Belgia menuai kontroversi, Pindad menyodorkan panser Anoa 6 x 6 dengan harga jauh lebih murah. "Produksi pertama digunakan saat darurat operasi militer Aceh (2003)," kata Budi. Meski berhasil menuai sederet prestasi, ia tak pernah lupa kepada Habibie dan istrinya, Hasri Ainun. Budi menyebut Habibie, yang dianggap sebagai guru dan orang tuanya, sebagai ilmuwan dan pemimpin visioner. Dalam setahun, minimal empat kali Budi menyambangi rumah gurunya itu di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Ada kalanya ia sengaja datang tiba-tiba agar tak merepotkan sang nyonya rumah. Maklum, jika terlebih dulu tahu Budi akan bertandang, Ainun pasti repot memasakkan sup ikan kesukaan Budi. "Tante Ainun biasa menasihati macam-macam, " tutur Budi. Seperti pada pertemuan terakhir mereka Februari lalu, sebulan sebelum Ainun berobat ke Jerman hingga mangkat pada 22 Mei. "Saya sempat *dimarah-marahin* . Dibilangin enggak boleh makan ini makan itu dan harus cukup tidur," ujar Budi mengenang nasihat Ainun. |
--