Surah Al Baqarah Ayat 246-252

0 views
Skip to first unread message

Latanya Hariri

unread,
Aug 4, 2024, 6:43:33 PM8/4/24
to telwildsichtsig
أَلَمْتَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْۢ بَنِيْٓ إِسْرَآءِيْلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوسٰٓى إِذْ قَالُوْا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيْلِ اللهِۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوْاۖ قَالُوْا وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَاۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۚ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظّٰلِمِيْنَ ٢٤٦ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًاۚ قَالُوْآ أَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِۚ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۖ وَاللهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَشَآءُۚ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٤٧ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ أٰيَةَ مُلْكِهٖٓ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ سَكِيْنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ أٰلُ مُوسٰى وَأٰلُ هٰرُوْنَ تَحْمِلُهُ الْمَلٰٓئِكَةُۚ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَأٰيَةً لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٢٤٨

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman (248)


Ayat 246 ini merupakan kelanjutan dari penjelasan Allah mengenai kewajiban berjihad di jalan Allah, baik jihad yang terkecil yakni salamatus sudur (tidak menjadikan siapa pun orang di hadapan kita sebagai beban, dan begitu sebaliknya kehadiran kita bukan merupakan beban bagi orang lain), ataupun jihad yang terbesar yakni al-qital (berperang di jalan Allah dengan harta dan jiwa). Ayat-ayat tersebut memang bercerita dalam konteks kehidupan Bani Israil sepeninggal Musa, namun secara maknawi merupakan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sesuai dengan perkembangan zaman termasuk untuk konteks kehidupan kini. Jihad pada masa Bani Israil tersebut merupakan perang (al-qital). Dalam ayat ini perang telah diwajibkan kepada Bani Israil. Namun, kewajiban berperang ini justru mereka tolak meskipun telah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat dalam bidang ilmu pengetahuan dan fisik.


Berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, yaitu agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.


Allah memberi gambaran bahwa Bani Israil yang sebelumnya meminta untuk sebuah kewajiban berjihad, setelah benar-benar diwajibkan, sebagian besar dari mereka berkilah dan enggan untuk melaksanakannya, kecuali hanya sedikit di antara mereka yang mau berjuang di jalan Allah. Sikap ini merupakan gambaran ketidakikhlasan Bani Israil dalam menghadapi kewajiban berjihad. Sikap ini jelas sangat bertentangan dengan firman Allah dalam surah al-Hajj ayat 78 di atas yang memberikan penjelasan bahwa berjihad merupakan sebuah tradisi kenabian yang telah sejak lama diwajibkan.


فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ إِنَّ اللهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهٗ مِنِّيْٓ إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهٖۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ إِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۚ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ أٰمَنُوْا مَعَهٗ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖۚ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللهِ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةًۢ بِإِذْنِ اللهِۗ وَاللهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ٢٤٩ وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ٢٥٠ فَهَزَمُوْهُمْ بِإِذْنِ اللهِ وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَأٰتٰىهُ اللهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلٰكِنَّ اللهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٢٥١ تِلْكَ أٰيٰتُ اللهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ٢٥٢


Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) kekuasaan dan hikmah, dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (251)


Pada rangkaian ayat berikutnya, yakni ayat 249-251, Allah menjelaskan bahwa keikhlasan dalam berjihad merupakan sebuah keharusan yang biasanya disertai dengan ujian-ujian. Pada ayat-ayat tersebut Allah mengisahkan bahwa ujian yang datang kepada Bani Israil pada saat mereka berperang adalah sungai yang airnya sangat menyegarkan. Ujian itu berupa anjuran untuk tidak meminum air sungai yang menyegarkan itu kecuali hanya seceduk tangan saja. Sebagian besar Bani Israil melanggar ujian itu dengan meminum lebih dari seceduk tangan. Ini adalah bukti dari ketidakikhlasan sebagian besar Bani Israil dalam menyikapi jihad dan perjuangan di jalan Allah.


Dalam bahasa Inggris, keikhlasan diterjemahkan dengan sincerity. Kata sincerity merupakan turunan dari kata Latin sincerus yang arti asalnya adalah bersih, apa adanya. Ini dapat dimaknai bahwa keikhlasan merupakan sebuah kesadaran manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya berharap pada hasil perbuatannya, namun mengharapkan sebuah capaian ideal, dan tidak terjebak pada harapan akan mendapat imbalan berupa materi semata atas perbuatannya tersebut. Dengan demikian, perilaku yang didasarkan pada keikhlasan adalah perilaku yang diorientasikan pada keutuhan dan kesatuan antara suara hati dengan perasaan dan harapan hanya dari Allah, tanpa berharap imbalan atau keuntungan yang sifatnya sesaat dan material saja (Lionel Trilling, Sincerity and Authenticity. Cambridge Massachusetts: Harvard University Press, 1971, hlm.12.).


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.


Dengan demikian, perjuangan dan jihad di jalan Allah harus didasarkan pada ketauhidan sebagai landasan keikhlasan dengan hanya mengharap keridaan Allah. Di samping itu, dalam berjuang juga harus didasarkan pada sebuah manajemen yang baik. Salah satu prinsip manajemen yang baik adalah tampilnya pemimpin dan kader-kader yang kuat. Para kader itu harus bersedia berjuang seirama dengan visi dan misi pimpinan yang menjadi top management dalam perjuangan.


Di dalam surah al-Baqarah ayat 246-252 mengisahkan secara lengkap dan ringkas gambaran tentang pasukan Bani Israil pimpinan Raja Thalut yang disertai oleh Nabi Daud a.s menentang Raja Jalut.


Tanah Palestin suatu ketika dahulu pernah diperintah oleh Nabi Yusha bin Nun dan baginda bertanggungjawab memimpin Bani Israil setelah mendapat amanah dari Nabi Musa a.s. Kepimpinan Nabi Yusha a.s membawa kekuasan Bani Israil stabil sehinggalah menjelang kewafatan baginda. Setelah kewafatan Nabi Yusha a.s, Bani Israil berpecah belah dan kandungan isi kitab Taurat diubah-ubah bahkan ditambah isinya oleh pendeta mereka.


Akibat dari perpecahan, ketidakstabilan dalam pemerintahan dan mengabaikan perintah Allah swt, maka datanglah seorang raja dari luar datang menyerang tanah Palestin dan merebutnya dari Bani Israil. Sejak itu, Bani Israil terus jatuh dan menghadapi zaman-zaman kegelapan dan kehinaan.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages