Teknologi dan perspektif (Re: Why I should work for Google)

16 views
Skip to first unread message

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 16, 2006, 1:40:52 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
>
> Sedangkan untuk anda yang pinter2 ini,mau ngerjain manual work bikin
> tukang panci ?
> pada kenyataanya saat ini memang intelektual di negeri ini cuman bisa
> bikin industri tukang panci saja,tapi bagaimana mendayagunakan
> anda,orang muda yang penuh semangat dan ber-intelek.Lulus ITB dan UI
> lagi :)

[...]

> Lihat sajalah di malaysia,encik mahatirnya dari 90an juga kalo melihat
> kondisi masyrakatnya saat itu,paling cuman bisa bikin panci dan termos
> :) tapi lihat sekarang,dimana smart people dan industri hiteknya
> ternyata menghasilkan devisi yang besar.

Pertama, "panci" dalam gambaran di atas hanya simbol, jadi jangan
sampai ilustrasi tersebut menutup kemungkinan perspektif lainnya. :)

Zaman Orba dulu Nurcholis Madjid pernah berujar, kira-kira begini:
perbedaan industri sepatu di Indonesia dan di RRC adalah: mereka
membuat sepatu yang terjangkau oleh buruh pabrik sepatu itu. (Saat itu
industri sepatu kita ramai dengan Nike, Adidas, dan Eagle yang umumnya
untuk kalangan menengah.)

Untuk Malaysia di atas: yang terjadi sekarang ini produk dari
"strategi yang [dianggap] benar" 10-an tahun lalu (tahun 1990-an) atau
produk dari kesungguhan dan kerja keras? *bukan saya tidak percaya
analisis lho, melainkan karena penjelasan kita kan muncul hari-hari
ini, bukan 10 tahun lalu.

Misalnya saya yakin bahwa olah rasa seni dan budaya kita saat ini
adalah komoditi prestisius, sedangkan pertanian yang menyerap banyak
orang dapat diandalkan untuk makan, hmm... kelihatannya menarik juga.
Perlu teknologi tinggi atau tidak? Nah!

Atau, hehehe... diskusi seperti ini selalu bermuara pada dua mazhab
besar di atas?

* subjek ulir diskusi ini diperbaiki, nanti dikira saya yang melamar
ke Google. ;)

--
amal

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 2:05:19 AM1/16/06
to teknologia
Ikhlasul Amal wrote:
> On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
> >
> > Sedangkan untuk anda yang pinter2 ini,mau ngerjain manual work bikin
> > tukang panci ?
> > pada kenyataanya saat ini memang intelektual di negeri ini cuman bisa
> > bikin industri tukang panci saja,tapi bagaimana mendayagunakan
> > anda,orang muda yang penuh semangat dan ber-intelek.Lulus ITB dan UI
> > lagi :)
>
> [...]
>
> > Lihat sajalah di malaysia,encik mahatirnya dari 90an juga kalo melihat
> > kondisi masyrakatnya saat itu,paling cuman bisa bikin panci dan termos
> > :) tapi lihat sekarang,dimana smart people dan industri hiteknya
> > ternyata menghasilkan devisi yang besar.
>
> Pertama, "panci" dalam gambaran di atas hanya simbol, jadi jangan
> sampai ilustrasi tersebut menutup kemungkinan perspektif lainnya. :)
>
> Zaman Orba dulu Nurcholis Madjid pernah berujar, kira-kira begini:
> perbedaan industri sepatu di Indonesia dan di RRC adalah: mereka
> membuat sepatu yang terjangkau oleh buruh pabrik sepatu itu. (Saat itu
> industri sepatu kita ramai dengan Nike, Adidas, dan Eagle yang umumnya
> untuk kalangan menengah.)

Ada perbedaan lagi Pak. Di China "harga" untuk sebuah living standard
yang sama lebih murah dibanding Indonesia.

Disana buruh bisa hidup nyaman dengan gaji Rp. 400,000 perbulan (ini
setelah dikonversi dengan Yuan).


> Untuk Malaysia di atas: yang terjadi sekarang ini produk dari
> "strategi yang [dianggap] benar" 10-an tahun lalu (tahun 1990-an) atau
> produk dari kesungguhan dan kerja keras? *bukan saya tidak percaya

jawabanya: dua duanya yang dimotori amat sangat oleh strategi yang
dikatakan Mahathir persis di pertengahan 1990,dimana malaysia ingin
membangun negaranya berbasis iptek

> analisis lho, melainkan karena penjelasan kita kan muncul hari-hari
> ini, bukan 10 tahun lalu.

yang jelas waktu itu kebanyakan petinggi indonesia mentertawakan,nah
sekarang lihat siapa yang ditertawakan karena sejak krismon gak pernah
bangun :-)

kalau masalah "penjelasan kita' , jangan dibelokan seolah-olah nanti
kita cari-cari alasan/pembenaran atau aji mumpung, ya gimana ya, tidak
koq.


>
> Misalnya saya yakin bahwa olah rasa seni dan budaya kita saat ini
> adalah komoditi prestisius, sedangkan pertanian yang menyerap banyak
> orang dapat diandalkan untuk makan, hmm... kelihatannya menarik juga.
> Perlu teknologi tinggi atau tidak? Nah!
> Atau, hehehe... diskusi seperti ini selalu bermuara pada dua mazhab
> besar di atas?

Di India,China,Malaysia, industri yang padat karya berbasis SDA dan
industri strategis berbasis SDM/hitek berjalan beriringan.

Masalah sebenarnya:

Indonesia 10 tahun lagi mau terus bikin panci dan melihat rupiah
melorot ke 20,000 ? berapa sich nilai export panci ? :-)

Di lain sisi coba faktorkan bahwa Indonesia sejak 2004 sudah tidak
mampu lagi menghidupi kebutuhan SDA dalam negerinya sendiri (terutama
minyak) dan ini KRITIS.

Untuk itu,harus pikirkan sektor strategis dimana (mungkin) kita punya
nilai saing melaui pendayagunaan SDM/intelek.


Carlos

Mohammad DAMT

unread,
Jan 16, 2006, 3:13:51 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 16/01/2006 pukul 13:40 +0700, Ikhlasul Amal
menulis:

> Pertama, "panci" dalam gambaran di atas hanya simbol, jadi jangan
> sampai ilustrasi tersebut menutup kemungkinan perspektif lainnya. :)

Saya mikirnya malah, ga usah jauh-jauh jadi produsen perangkat lunak.
Mau bikin panci kek, mau bikin tutup botol kek, ga apa-apa. Tapi jadilah
pembuat panci yang benar2 diperhitungkan dunia. Bikinlah panci
sedemikian sehingga dunia bergantung pada kita. Kalau kita ngambek,
biarin eropa atau amerika kelimpungan karena ga bisa masak pakai panci.
Silakan ganti kata 'panci' di atas dengan benda favorit Anda.

(Membayangkan jawaban2: kalau kita ngambek, nanti Sino dan Indihé akan
masuk jualan panci juga dengan harga 1/3-nya.)

Tapi saya agak sedikit senang karena produk-produk buatan Indonesia
sudah mulai dijual di IKEA dan beberapa toko baju internasional di sini.
Sebelumnya kesal sekali lihat "Made in Sino" bertebaran di sini. Tapi
punya kita masih kurang banyak (saat ini saya tidak begitu peduli berapa
orang kita yang ada di lembah atau di lereng jadi insinyur komputer,
tapi lebih peduli berapa baju atau boneka atau panci yang bisa kita jual
ke negeri seberang lautan, karena saat ini lebih yang banyak narik urat
betot otot di bidang itu daripada jadi insinyur).

Tapi patut kita hargai upaya bung Carlos (dengar nama Carlos jadi ingat
Carlos Arozamena di komik Mimin) karena menjadi kompor cap Butterfly
untuk mengajak bertebaran di bumi Amerika menjadi insinyur nomor satu
karena ga semua orang berminat jadi pembuat panci. Siapa tahu nanti
kalau sudah pulang dari Amerika selain bikin produk-produk haitek juga
bikin pabrik panci haitek dengan merek "HAITEK" (jadi ingat di sini ada
kursi santai model bola kasti buatan Cina dengan tulisan gede-gede "GONG
XI FACAI" di kanan kiri sisi kursinya, tapi kok bisa laku ya?). Pasti
akan berguna bagi kita semua di kemudian hari (mungkin ini yang beliau
sebut dengan pandangan secara long-term).

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 3:21:59 AM1/16/06
to teknologia
Mohammad DAMT wrote:

> Tapi patut kita hargai upaya bung Carlos (dengar nama Carlos jadi ingat
> Carlos Arozamena di komik Mimin) karena menjadi kompor cap Butterfly

wah orang finlan ini lupa dulu pernah ke cempaka putih ya :)

> untuk mengajak bertebaran di bumi Amerika menjadi insinyur nomor satu
> karena ga semua orang berminat jadi pembuat panci. Siapa tahu nanti
> kalau sudah pulang dari Amerika selain bikin produk-produk haitek juga
> bikin pabrik panci haitek dengan merek "HAITEK" (jadi ingat di sini ada
> kursi santai model bola kasti buatan Cina dengan tulisan gede-gede "GONG
> XI FACAI" di kanan kiri sisi kursinya, tapi kok bisa laku ya?). Pasti
> akan berguna bagi kita semua di kemudian hari (mungkin ini yang beliau
> sebut dengan pandangan secara long-term).

ini orang finlan bin bogor nyosor belakangan.

kurang lebih begitu mengenai "long term".

koreksi: "amerika"nya gak penting sebenarnya,yang penting "research
center"nya mengikuti gaya bahasa om budi rahardjo.

maklum tugas berat menanti kita,"menangani panci google yang jumlahnya
100,000 itu". HE HE HE :)

Carlos

Mohammad DAMT

unread,
Jan 16, 2006, 3:28:38 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 16/01/2006 pukul 08:21 +0000, Muhamad Carlos
Patriawan menulis:

> Mohammad DAMT wrote:
>
> > Tapi patut kita hargai upaya bung Carlos (dengar nama Carlos jadi ingat
> > Carlos Arozamena di komik Mimin) karena menjadi kompor cap Butterfly
>
> wah orang finlan ini lupa dulu pernah ke cempaka putih ya :)

Ingat. Bersama seorang petinggi dari ABRI.mil.id di sana. Tapi cuma 9
hari karena ada hasutan yang datang lebih kuat. *-P

> kurang lebih begitu mengenai "long term".
>
> koreksi: "amerika"nya gak penting sebenarnya,yang penting "research
> center"nya mengikuti gaya bahasa om budi rahardjo.
>
> maklum tugas berat menanti kita,"menangani panci google yang jumlahnya
> 100,000 itu". HE HE HE :)

Kalau yang diajakin susah untuk dikomporin saat ini, ya sudah. Tapi
nanti kembali lagi beberapa bulan/tahun lagi dan tulis di blog
besar-besar: "Tuh kan gué bilang juga apé! Dulu diajakin ga maú!"

> Carlos

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 3:33:53 AM1/16/06
to teknologia
Mohammad DAMT wrote:
> Pada hari Senin, tanggal 16/01/2006 pukul 08:21 +0000, Muhamad Carlos
> Patriawan menulis:
> > Mohammad DAMT wrote:
> >
> > > Tapi patut kita hargai upaya bung Carlos (dengar nama Carlos jadi ingat
> > > Carlos Arozamena di komik Mimin) karena menjadi kompor cap Butterfly
> >
> > wah orang finlan ini lupa dulu pernah ke cempaka putih ya :)
>
> Ingat. Bersama seorang petinggi dari ABRI.mil.id di sana. Tapi cuma 9
> hari karena ada hasutan yang datang lebih kuat. *-P

percaya atau tidak: sang petinggi abri.mil.id tersebut sempet main2
dengan petinggi fbi.gov (yang ini agen rahasia beneran) gara2
kerjaanya selalu berkutat di "dinding api" dan "keamanan jaringan"...

gua denger ceritanya ngakak aja...

buat yang lain: petinggi abri.mil.id ini mantan anak didiknya pak
samik.

>
> > kurang lebih begitu mengenai "long term".
> >
> > koreksi: "amerika"nya gak penting sebenarnya,yang penting "research
> > center"nya mengikuti gaya bahasa om budi rahardjo.
> >
> > maklum tugas berat menanti kita,"menangani panci google yang jumlahnya
> > 100,000 itu". HE HE HE :)
>
> Kalau yang diajakin susah untuk dikomporin saat ini, ya sudah. Tapi
> nanti kembali lagi beberapa bulan/tahun lagi dan tulis di blog
> besar-besar: "Tuh kan gué bilang juga apé! Dulu diajakin ga maú!"

hahaha... sebenarnya sich gua dah sampai pada phase "Tuh kan gué
bilang juga apé! Dulu diajakin ga maú!" tersebut ....... :-)

Carlos

Arie Reynaldi Z

unread,
Jan 16, 2006, 3:39:58 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
> > maklum tugas berat menanti kita,"menangani panci google yang jumlahnya
> > 100,000 itu". HE HE HE :)
>
> Kalau yang diajakin susah untuk dikomporin saat ini, ya sudah. Tapi
> nanti kembali lagi beberapa bulan/tahun lagi dan tulis di blog
> besar-besar: "Tuh kan gué bilang juga apé! Dulu diajakin ga maú!"

Kesannya saya jadi apatis, gak mau dibilangin, gak mau denger petuah
orang2 pinter... :P
Ya, mungkin karena kalian para dewa berjalan diatas angin (finlan, US,
etc) dan jarang kontak dengan kita makluk bumi. Boleh lah.. sekali2
ajak adik2 yang dibawah untuk jalan diatas angin, dan benar2
menghasilkan hal yang berguna. Sama seperti kata MDAMT, buat panci
yang berguna, kalau emang otak gak mampu buat pengganti macOS atau
microsoft. Export ke US - europe. Kok bisa kopi aja harus minum di
starbuck, padahal kopi doan gitu loh..

Tau gak kalau keluar rumah, semua yang kita lihat 99.99% pasti import.
Dari mobil sampai sandal. Apabila produk dalam negeri, pasti bahan
baku nya import. Sedih ? pasti !! Apa IT bisa ngebantu menghadapi
keadaan ini ? Bisa .. caranya, wah.. saya 'script kiddies'.. gak bisa
ngapai2n.. :D Tapi yang jelas kalau saya bisa bikin panci.. saya akan
bikin panci ajaib dan isi pakai ramuan biar nambah banyak asterix2
yang lain untuk bertempur. :)

--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id

Budi Rahardjo

unread,
Jan 16, 2006, 3:43:16 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/06, Mohammad DAMT <md...@gnome.org> wrote:

> Saya mikirnya malah, ga usah jauh-jauh jadi produsen perangkat lunak.
> Mau bikin panci kek, mau bikin tutup botol kek, ga apa-apa. Tapi jadilah
> pembuat panci yang benar2 diperhitungkan dunia.

Exactly!
Hear, hear...

Jadi inget cerita tentang petinju Moh Ali ketika ditanya
kalau dia tidak jadi petinju, mau jadi apa.
Setelah berpikir sejenak, dia bilang bahwa dia dibesarkan
di daerah kumuh. Jadi ada kemungkinan kalau tidak jadi
petinju, dia akan jadi janitor (tukang bersih2 di gedung).
Tapi ... saya akan menjadi janitor #1 di dunia, lanjutnya.
Itu dia!

> Tapi saya agak sedikit senang karena produk-produk buatan Indonesia
> sudah mulai dijual di IKEA dan beberapa toko baju internasional di sini.

Kalau ini, saya juga punya cerita.
Dulu waktu mau sidang di kampus saya cari baju putih.
Saya ke toko dan minta baju putih yang terbaik.
Ternyata, buatan Indonesia. Langsung saya beli!
Hidup Indonesia!


> (saat ini saya tidak begitu peduli berapa
> orang kita yang ada di lembah atau di lereng jadi insinyur komputer,
> tapi lebih peduli berapa baju atau boneka atau panci yang bisa kita jual
> ke negeri seberang lautan, karena saat ini lebih yang banyak narik urat
> betot otot di bidang itu daripada jadi insinyur).

nah ... sebetulnya pandangan ini yang dianut oleh bhtv.
saya tekankan kata-kata "yang bisa kita jual ke negeri seberang lautan".
itulah dia tolok ukurnya.
karena saya ngertinya IT, ya saya maunya IT yang dijual.
tetapi yang lebih penting, seperti kata MDAMT, adalah


"yang bisa kita jual ke negeri seberang lautan"


pasalnya, waktu saya lihat2 ranking jualan indonesia ke luar,
urutannya:
1. minyak
2. kayu
3. tekstil
4. elektronik
5. lupa lagi (soalnya begitu lihat elektronik, tertegun!)

yang nomor (3), tekstil, sekarang melorot berat. pindah ke cina.
(itulah sebabnya saya aktif membantu cimahi, karena mereka
dulu termasuk rajanya di no 3! sekarang masa susah! krisis.)

(1) dan (2) saya tidak suka karena ini menghancurkan alam indonesia.
saya ingin 100 tahun lagi anak-anak indonesia masih punya alam yang
indah dan nyaman untuk hunian. bodoh betul kita mau ditipu negara2
lain untuk jualan minyak dan kayu.

tinggal (4) ... ah. itulah dia mengapa saya ngotot IT (dalam
hal ini menjadi subset dari elektronik) sangat penting diperhatikan
karena suatu saat, kita *terpaksa* mengandalkan itu.
yaitu setelah kita tidak punya minyak, kayu, dan tekstil.
tidak lama lagi. mungkin kurang dari 40 tahun lagi??!@!

kalau tidak kita rencanakan, maka kita terpaksa bergantung kepada
yang lain lagi. entah apa? jual pulau?

-- budi

Budi Rahardjo

unread,
Jan 16, 2006, 3:55:11 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/06, Arie Reynaldi Z <rey...@gmail.com> wrote:

> Kesannya saya jadi apatis, gak mau dibilangin, gak mau denger petuah
> orang2 pinter... :P
> Ya, mungkin karena kalian para dewa berjalan diatas angin (finlan, US,
> etc) dan jarang kontak dengan kita makluk bumi. Boleh lah.. sekali2
> ajak adik2 yang dibawah untuk jalan diatas angin, dan benar2
> menghasilkan hal yang berguna.

jangan ngambeg dong.
arie ... orang-orang ini (carlos, mdamt, dll.) itu manusia biasa.
mereka bukan dewa. setengah dewa pun bukan.
mereka telah melalui jalan yang sekarang sedang dilalui oleh
arie dan kawan-kawan yang muda-muda lainnya.
nah, mereka juga dulu pernah terjerumus, nyasar, ...

makanya sekarang mereka kasih cerita itu bukan karena mereka
sok jago atau apa. hanya sayang saja kalau yang muda-muda
harus melalui jalan-jalan yang bersemak-semak ... dan
tersesat pula! mudah-mudahan dengan adanya cerita mereka
itu (insight, wisdom, pengalaman) kita bisa petik tips-tipsa
supaya ketika kita berjalan di "hutan IT" ini bisa lebih
sukses. begitu lho.


> kalau emang otak gak mampu buat pengganti macOS atau
> microsoft.

...

jangan mengecilkan kemampuan diri.
percaya deh sama ceritanya om carlos itu, bahwa lebih banyak
lagi orang yang secara kemampuan lebih rendah dari arie
tapi bisa berkarya (karena lingkungan mendukung).
nah ... kita di sini bisa berkarya!

om mdamt sering tanpa basa-basi melemparkan tawaran ngoprek
gnome-nya. padahal kata linus, gnome untuk orang bodo!
bagusan pakai kde, katanya.
(ngelirik mdamt, sambil siap-siap nunduk karena bakalan
dilempar bakiak dan finlan.)

-- budi

Mohammad DAMT

unread,
Jan 16, 2006, 3:57:58 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 16/01/2006 pukul 15:39 +0700, Arie Reynaldi Z
menulis:

> Kesannya saya jadi apatis, gak mau dibilangin, gak mau denger petuah
> orang2 pinter... :P
> Ya, mungkin karena kalian para dewa berjalan diatas angin (finlan, US,
> etc) dan jarang kontak dengan kita makluk bumi. Boleh lah.. sekali2

Kesannya saya jadi sombong, maunya diturutin. Padahal sebenarnya tidak,
saya ingin merangkul dua kubu di sini. Kalau sekarang ga mau sepaham
dengan Carlos cs, ya tidak apa-apa. Ketika dunia nanti kelaparan
kemudian insinyur2 komputer tsb pulang kampung dengan tujuan kembali
merangkul cangkul, para cangkulers yang dulu dikomporin tapi tetap
bertahan dengan cangkulnya juga boleh bilang: "Tuh kan gué bilang juga
apé, lu bolé gegares tu router!"

Intinya: tiap orang punya jalan masing-masing. Tapi tiap orang juga
boleh mempromosikan jalan yang sudah ditempuh yang ternyata enak kepada
rekan lainnya.

> Tau gak kalau keluar rumah, semua yang kita lihat 99.99% pasti import.
> Dari mobil sampai sandal. Apabila produk dalam negeri, pasti bahan
> baku nya import. Sedih ? pasti !! Apa IT bisa ngebantu menghadapi

Setiap pulang jumatan liat di kaki lima pasti yang dijual produk-produk
Cina. Mulai dari pemotong kaca, gembok, sampai ke laser. Apa negara kita
terlalu rendah penguasaan teknologinya hingga produk-produk tersebut
tidak bisa diproduksi? (Teknologi mungkin bisa, tapi jual dgn harga
miring ga bisa)

> keadaan ini ? Bisa .. caranya, wah.. saya 'script kiddies'.. gak bisa

Ah pasti sama sebalnya dengan saya kalau sering2 membaca alasan 'skript
kiddies' ini.

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 4:32:12 AM1/16/06
to teknologia
> Kesannya saya jadi sombong, maunya diturutin. Padahal sebenarnya tidak,
> saya ingin merangkul dua kubu di sini. Kalau sekarang ga mau sepaham
> dengan Carlos cs, ya tidak apa-apa. Ketika dunia nanti kelaparan
> kemudian insinyur2 komputer tsb pulang kampung dengan tujuan kembali

yang lucu itu kalo ada istilah "paham", karena paham saya cuman
"MajuISME" :)
Saya ketularan "stanford-ISME nya" pak budi barang kali eh salah ....
ketularan 10% otak india, sino dan yahudi terbaik.

Jujur saja,selama saya disini,saya banyak sekali belajar **behavior**
dan **attitude** kawan2 dari negeri lain yang sudah berhasil (dari
india ampe china).Ternyata mereka punya banyak sekali kesamaan. Jadi
ini bukan 'Carlos's story' tapi "indian's dan sino's story'
sebenarnya.Yang menarik: kehidupan mereka rata2 JAUUUUH Lebih susah
dibanding kehidupan kita di Indonesia ini waktu mereka masih di
kampungnya.

sekarang nanya: ada gak sich orang di jalanan ngasih tahu cara: "kalo
mau hidup tentram,enak caranya begini,gak perlu modal asing,gak perlu
ngutang,gak perlu jadi pengemis" ..... artinya ngajarin ke arah yang
lebih baik agar bisa memproduksi 'something', bukan konsumtif kayak
iklan yang ada di pinggir jalan.

kalau tidak mau tidak apa-apa,namanya juga 'jalan'...cuman..... #1
jangan pernah komplen kalo harga minyak 4500 seliter dan kemungkinan
bakal naik terus.....#2 jangan pernah komplen kalo 1 dolar ceban


> Intinya: tiap orang punya jalan masing-masing. Tapi tiap orang juga
> boleh mempromosikan jalan yang sudah ditempuh yang ternyata enak kepada
> rekan lainnya.

namanya jalan,ada yang jalan dah pake jalan version 1.0 ada yang 2.0,
sebagian ada yang 20.0 ... yah kita berbagi info dan saling membantu
sajalah baik buruk masing2 jalan apa,yang penting motonya satu: mau
maju dan gak mau lihat anak anak kita jadi tukang bikin panci.

> > keadaan ini ? Bisa .. caranya, wah.. saya 'script kiddies'.. gak bisa
>
> Ah pasti sama sebalnya dengan saya kalau sering2 membaca alasan 'skript
> kiddies' ini.

si zaki harus bertanggung jawab.


carlos

Arie Reynaldi Z

unread,
Jan 16, 2006, 5:00:52 AM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
> namanya jalan,ada yang jalan dah pake jalan version 1.0 ada yang 2.0,
> sebagian ada yang 20.0 ... yah kita berbagi info dan saling membantu
> sajalah baik buruk masing2 jalan apa,yang penting motonya satu: mau
> maju dan gak mau lihat anak anak kita jadi tukang bikin panci.

Halah.. diskusinya jadi tambah aneh. :-) Sampai perlu 'dirangkul'
segala.. mm.. seneng rangkul2an ya.. *wink-wink* :)

Saya setuju.. jalan kita beda2... Ada yang jadi soft devel,
outsourcing, tech support, saya sendiri pedagang non-IT. Dan saya
setuju kata2 'bikin panci nomor 1'.

> > > keadaan ini ? Bisa .. caranya, wah.. saya 'script kiddies'.. gak bisa
> >
> > Ah pasti sama sebalnya dengan saya kalau sering2 membaca alasan 'skript
> > kiddies' ini.

Ah, saya kira cuma saya yang sebal.. :) "no offense Zak".

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 9:36:51 AM1/16/06
to teknologia
Arie Reynaldi Z wrote:
> > namanya jalan,ada yang jalan dah pake jalan version 1.0 ada yang 2.0,
> > sebagian ada yang 20.0 ... yah kita berbagi info dan saling membantu
> > sajalah baik buruk masing2 jalan apa,yang penting motonya satu: mau
> > maju dan gak mau lihat anak anak kita jadi tukang bikin panci.
>
> Halah.. diskusinya jadi tambah aneh. :-) Sampai perlu 'dirangkul'
> segala.. mm.. seneng rangkul2an ya.. *wink-wink* :)

yang namanya "membantu" itu bukan bantu seperti saling rangkul di
mailing-list .. hehehe... debat nya sich sama sekali tidak penting.

tapi saling membantu dimanapun kalau diminta opini atau bantuan
lainnya.

Lihat ada informasi baru yang diungkap pak BR, kalau VC-nya ternyata
mendekati2 BR. itu saja kalau bisa digali serius, mungkin bisa jadi
peluang baru ( buat yang berminat dan punya kompetensi tentunya ).

>
> Saya setuju.. jalan kita beda2... Ada yang jadi soft devel,
> outsourcing, tech support, saya sendiri pedagang non-IT. Dan saya
> setuju kata2 'bikin panci nomor 1'.

saya sudah tahap,gak usah ngeyel jadi mau jadi panci #1, bikin panci
#5,asalkan menghasilkan devisa :) selama ini panci #99 pun tidak.

panci itu misalnya outsourcing dan IT service.

Carlos

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 2:05:30 PM1/16/06
to teknologia
>
> tinggal (4) ... ah. itulah dia mengapa saya ngotot IT (dalam
> hal ini menjadi subset dari elektronik) sangat penting diperhatikan
> karena suatu saat, kita *terpaksa* mengandalkan itu.
> yaitu setelah kita tidak punya minyak, kayu, dan tekstil.
> tidak lama lagi. mungkin kurang dari 40 tahun lagi??!@!
>
> kalau tidak kita rencanakan, maka kita terpaksa bergantung kepada
> yang lain lagi. entah apa? jual pulau?
>
> -- budi

ada banyak hal lagi mengapa IT:

1. karena kita orang IT , dan IT kata kuncinya adalah inovasi

2. jualan barang tangible, nilai daya kompetisinya rendah,memang bisa
sich kita produksi,tapi boleh dipastikan negara lain terutama china
pasti bisa bikin harga yang lebih murah

( masalah pengkomoditian apa saja oleh China sekarang ini adalah
masalah besar di dunia,pemimpin negara maju seperti US dan Eropa sudah
menekan China agar currencynya dirubah sehingga bisnis exim
menguntungkan untuk semua.
Sebenarnya yang paling merasakan dampak dari kebijakan ekonomi china
bukan amerika,bukan jepang,bukan eropa tapi negara besar yang gak bisa
menghidupi kebutuhanya sendiri yaitu Indonesia sendiri.......sadar gak
sadar kemajuan China sebenarnya sangat menghambat kemajuan kita untuk
bangkit).

3. bisnis tangible punya market yang fixed,susah ada inovasi dibidang
ini.

4. bisnis export IT yang intangible sebenarnya adalah "what people
wants".
Korporate2 di negara maju gak bisa hidup tanpa IT,marketnya besar.

Saya sendiri beberapa kali dikirim email oleh rekan2 dan terkejut
begitu mengetahui nilai export software dan kebutuhan IT di luar yang
disupply India,China,Vietnam,ini bukan skala kecil tapi skala massive
yang bisa merubah semua negara.

5. kata kunci IT saat ini adalah: SERVICE dan EFISIENSI.
Lihat bacaan dari economist yang om adjie forward kalau service sektor
di IT yang nomor satu,artinya bukan kemampuan bikin produk yang jadi
pemenang,tapi industri
service/consulting/outsourcing/integration/customization.

Mengenai efisiensi,ini ada hubunganya dengan the world is flat,tapi
karena perubahan struktur ekonomi dan IT di dunia,kalau persh IT mau
survice,mereka HARUS(BACA: HARUS) investasi SDM jangka panjang di Asia.

Bayangin,orang sono yang tergopoh2 datang ke Asia supaya companynya
survive.

Carlos

Made Wiryana

unread,
Jan 16, 2006, 5:33:35 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

>
> tinggal (4) ... ah. itulah dia mengapa saya ngotot IT (dalam
> hal ini menjadi subset dari elektronik) sangat penting diperhatikan
> karena suatu saat, kita *terpaksa* mengandalkan itu.

ada banyak hal lagi mengapa IT:

1. karena kita orang IT , dan IT kata kuncinya adalah inovasi

2. jualan barang tangible, nilai daya kompetisinya rendah,memang bisa
sich kita produksi,tapi boleh dipastikan negara lain terutama china

3. bisnis tangible punya market yang fixed,susah ada inovasi dibidang
ini.

4. bisnis export IT yang intangible sebenarnya adalah "what people
wants".
Korporate2 di negara maju gak bisa hidup tanpa IT,marketnya besar.

Maaf jangan-jangan kita terlalu "yakin' padahal sebetulnya secara nasional tidak memiliki modal utk itu. Seperti kata pepatah, besar pasak daripada tiang (saran saya jangan lihat ujung-ujung tombak keberhasilan, dg melihat segelintir orang yang telah sukses di bidang TI di negeri orang). Jangan bandingkan China dan India, modal mereka (knowledge) udah duluan besar.  Kita ? Lha pada belajar ilmu dasar aja ogah, mo nekat nyamain mereka.

Betul kata Ari, mending kita jualan panci, tapi jangan tanggung-tanggung. Kalau bisa ngalahin panci merk SILIT  yang harganya mahal di Jerman (1 panci 250 EU).  Toh pabrik panci juga ntar butuh TI, jadi bisa juga ngidupin mereka yg bisnis TI.  

IMW

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 5:42:12 PM1/16/06
to teknologia

Ya gini saja sebaiknya. Kita definisikan siapa "kita".

Kalau kita,saya maksudnya, saya ogah jualan panci dengan alasan diatas.
Sebab dari dulu sudah biasa jualan minyak.

Kalau "kita"-nya you dan kawan...silahkan ... monggo, no problemo
Sir,not big issue ..tapi beneran dong, jualan panci ...jangan hanya di
milis saja.

Yang penting sesama "kita" ndak perlu saling manyun nonton pembuatan
panci ini.
Kalau ada rekan lain yang mau "maju" juga jangan dimanyunkan,karena
definisi "kita"nya mungkin beda. Sebab saya melihat buaanyak sekali
kawan2 yang bersemangat belajar-bekerja di sektor IT khususnya
networking dan ini modal besar (buat yang bisa melihat tentunya).

Juga, jangan komplen kalo cabe 30,000 dan harga minyak 4500.

gitu aja deh om made :)


Carlos

Pakcik

unread,
Jan 16, 2006, 6:38:38 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com



hahaha ..  udah berlebihan diskusi ini sepertinya? muter2 trus kayak angkot. Ada yang ngambeklah, manyunlah (gak biasa diskusi). Dulu saya bilang jengkol versus hitek. sekarang panci versus IT.  Seperti kata pak Budi, "kerja, kerja, kerja". Udah cukup diskusinya kayanya, cari topik lain aja. Tinggal eksekusi.  Bikin milis baru untuk eksekusi, bhtv group, infosys indonesia group, whatever. Atau minta izin ke pak moderator, ini jadi milis eksekusinya.

Show me Bro, don't just tell me. 

btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly. eh 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG (termasuk gue). 

Kalau dianalogikan startup, semua pada sibuk bawa presentasi powerpoint (OMONG DOANG), cuman 4 yang demo.

--
Pakcik
Under Construction

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 6:45:32 PM1/16/06
to teknologia

>
> hahaha .. udah berlebihan diskusi ini sepertinya? muter2 trus kayak angkot.
> Ada yang ngambeklah, manyunlah (gak biasa diskusi). Dulu saya bilang jengkol
> versus hitek. sekarang panci versus IT. Seperti kata pak Budi, "kerja,
> kerja, kerja". Udah cukup diskusinya kayanya, cari topik lain aja. Tinggal
> eksekusi. Bikin milis baru untuk eksekusi, bhtv group, infosys indonesia
> group, whatever. Atau minta izin ke pak moderator, ini jadi milis
> eksekusinya.

Pakcik paling senang kalau sudah di topik ini :-)

saya koq yakin anda akan tiba2 masuk di tengah2 yah.

>
> Show me Bro, don't just tell me.
>
> btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly. eh
> 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG
> (termasuk gue).
>
> Kalau dianalogikan startup, semua pada sibuk bawa presentasi powerpoint
> (OMONG DOANG), cuman 4 yang demo.

SALAH TOTAL :-)

Router yang anda pakai untuk forward traffic internet di persh dan
negara anda itu buatan sebagian dari kami :-)

Carlos

Pakcik

unread,
Jan 16, 2006, 6:52:56 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:


>
> hahaha ..  udah berlebihan diskusi ini sepertinya? muter2 trus kayak angkot.
> Ada yang ngambeklah, manyunlah (gak biasa diskusi). Dulu saya bilang jengkol
> versus hitek. sekarang panci versus IT.  Seperti kata pak Budi, "kerja,
> kerja, kerja". Udah cukup diskusinya kayanya, cari topik lain aja. Tinggal
> eksekusi.  Bikin milis baru untuk eksekusi, bhtv group, infosys indonesia
> group, whatever. Atau minta izin ke pak moderator, ini jadi milis
> eksekusinya.

Pakcik paling senang kalau sudah di topik ini :-)

saya koq yakin anda akan tiba2 masuk di tengah2 yah.

saya gak masuk, saya bilang diskusinya tentang ini udah kepanjangan, stop it.
 

>
> Show me Bro, don't just tell me.
>
> btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly. eh
> 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG
> (termasuk gue).
>
> Kalau dianalogikan startup, semua pada sibuk bawa presentasi powerpoint
> (OMONG DOANG), cuman 4 yang demo.

SALAH TOTAL :-)

Router yang anda pakai untuk forward traffic internet di persh dan
negara anda itu buatan sebagian dari kami :-)

ok, kalau begitu 5 orang yang 'show'?. btw, kami itu siapa?


--
Pakcik
Under Construction

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 6:57:41 PM1/16/06
to teknologia
>
> saya gak masuk, saya bilang diskusinya tentang ini udah kepanjangan, stop
> it.
>

trims,saya setuju..

tapi saya minta juga *please* ... kita (yg di milis ini) ini orang
*tech ; paling tidak, tidak usahlah berkomentar kalau "kita" ini cuman
bisa bikin panci saja.

>
> >
> > > Show me Bro, don't just tell me.
> > >
> > > btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly.
> > eh
> > > 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG
> > > (termasuk gue).
> > >
> > > Kalau dianalogikan startup, semua pada sibuk bawa presentasi powerpoint
> > > (OMONG DOANG), cuman 4 yang demo.
> >
> > SALAH TOTAL :-)
> >
> > Router yang anda pakai untuk forward traffic internet di persh dan
> > negara anda itu buatan sebagian dari kami :-)
> >
>
> ok, kalau begitu 5 orang yang 'show'?. btw, kami itu siapa?

me dong dan ... mas adjie ...
terus ada lagi kawan2 dari industri outsourcing india yang sudah
geleng2 kali dari kemaren2 :)

Carlos

Pakcik

unread,
Jan 16, 2006, 7:03:54 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

good. berarti anda gak termasuk yang OMONG DOANG seperti saya. boleh saya tau udah berapa jauh outsourcing businessnya sekarang? berapa duit yang anda tambahkan ke devisa Indonesia? udah berapa kali outsource ke Indonesia?

--
Pakcik
Under Construction

Made Wiryana

unread,
Jan 16, 2006, 7:17:03 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

>
> Betul kata Ari, mending kita jualan panci, tapi jangan tanggung-tanggung.
> Kalau bisa ngalahin panci merk SILIT  yang harganya mahal di Jerman (1 panci
> 250 EU).  Toh pabrik panci juga ntar butuh TI, jadi bisa juga ngidupin
> mereka yg bisnis TI.

Ya gini saja sebaiknya. Kita definisikan siapa "kita".

Kita ya saya dan Anda (termasuk member lainnya), jelas kita ini bukan "situ ama sapi" kalo kata lenong betawi :-)) he he he he . Maksud saya jualan panci, jelas bukan sekedar jual panci jadi, tapi termasuk jadi produsennya.

Kalau "kita"-nya you dan kawan...silahkan ... monggo, no problemo
Sir,not big issue ..tapi beneran dong, jualan panci ...jangan hanya di
milis saja.

Panci --> produk lainnya yg sepertinya "remeh-temeh", atau sesuatu hal yang sepertinya tidak ada kaitannya dengan TI, tapi nyata dibutuhkan orang banyak.
 
Kalau ada rekan lain yang mau "maju" juga jangan dimanyunkan,karena
definisi "kita"nya mungkin beda. Sebab saya melihat buaanyak sekali
kawan2 yang bersemangat belajar-bekerja di sektor IT khususnya
networking dan ini modal besar (buat yang bisa melihat tentunya).

Juga, jangan komplen kalo cabe 30,000 dan harga minyak 4500.

gitu aja deh om made :)

Sektor TI akan melaju, kalau ada yang pakai.  Pabrik panci, pedagang cabe gede-gedean, dlsb-nya inilah yang akan mendorong sektor industri TI melaju.   Abis itu bisa lah mau jualan router dan teman-temannya. 

Oh ya, produsen cabe gede-gedean sekarang khan juga invest  untuk riset bioteknologi yang peralatan server dan jaringannya tidak main-main. Itu yang saya maksud, bukan TI utk TI, tapi TI utk apa gitu. 

Soal panci, saya masih bercita-cita beli panci merk SILIT, untuk oleh-oleh mertua, sayang takut ndak diterima beliau, udah beli mahal-mahal, tapi merknya koq malu-maluin.


IMW



 


Made Wiryana

unread,
Jan 16, 2006, 7:19:39 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Pakcik <pak...@gmail.com> wrote:


me dong dan ... mas adjie ...
terus ada lagi kawan2 dari industri outsourcing india yang sudah
geleng2 kali dari kemaren2 :)

good. berarti anda gak termasuk yang OMONG DOANG seperti saya. boleh saya tau udah berapa jauh outsourcing businessnya sekarang? berapa duit yang anda tambahkan ke devisa Indonesia? udah berapa kali outsource ke Indonesia?

Waktu bulan lalu saya ke Indonesia (pendek sekali cuma 10 hari, jadi ndak sempet kongkow-kongkow), saya sempet beli buku.  'Ironi Pahlawan Devisa" yang bercerita ttg para TKI.  Bagus buat dibaca bagi yang semangat ber-outsource. 

Biar ndak besar pasak daripada tiang. 

IMW


Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 8:07:13 PM1/16/06
to teknologia
Made Wiryana wrote:
> On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
> >
> >
> > >
> > > Betul kata Ari, mending kita jualan panci, tapi jangan
> > tanggung-tanggung.
> > > Kalau bisa ngalahin panci merk SILIT yang harganya mahal di Jerman (1
> > panci
> > > 250 EU). Toh pabrik panci juga ntar butuh TI, jadi bisa juga ngidupin
> > > mereka yg bisnis TI.
> >
> > Ya gini saja sebaiknya. Kita definisikan siapa "kita".
>
>
> Kita ya saya dan Anda (termasuk member lainnya), jelas kita ini bukan "situ
> ama sapi" kalo kata lenong betawi :-)) he he he he . Maksud saya jualan
> panci, jelas bukan sekedar jual panci jadi, tapi termasuk jadi produsennya.

ha ha ha lucu juga....ya silahkan monggo kalau mau jualan panci Pak :)


>
> Kalau "kita"-nya you dan kawan...silahkan ... monggo, no problemo
> > Sir,not big issue ..tapi beneran dong, jualan panci ...jangan hanya di
> > milis saja.
>
>
> Panci --> produk lainnya yg sepertinya "remeh-temeh", atau sesuatu hal yang
> sepertinya tidak ada kaitannya dengan TI, tapi nyata dibutuhkan orang
> banyak.

tergantung dari mana melihatnya :-) saya teh gak beli panci sebulan
sekali,tapi kalau langganan software yang monthly-based iya.. artinya
orang mungkin lebih butuh software dibanding panci :)

masalah panci pancian ini sebenarnya begini, mau melihat secara
"statistik" atau tidak,tapi nanti begitu angkanya dikasih lihatpun, kan
nanti komentarnya: "ah itu di china, di india , di malaysia di vietnam
di pilipinah di singapura" :-))

eh sudah semua negara asean termasuk yach.

tapi sekali lagi, GO ON with the panci's :)

>
>
> > Kalau ada rekan lain yang mau "maju" juga jangan dimanyunkan,karena
> > definisi "kita"nya mungkin beda. Sebab saya melihat buaanyak sekali
> > kawan2 yang bersemangat belajar-bekerja di sektor IT khususnya
> > networking dan ini modal besar (buat yang bisa melihat tentunya).
> >
> > Juga, jangan komplen kalo cabe 30,000 dan harga minyak 4500.
> >
> > gitu aja deh om made :)
>
>
> Sektor TI akan melaju, kalau ada yang pakai. Pabrik panci, pedagang cabe
> gede-gedean, dlsb-nya inilah yang akan mendorong sektor industri TI
> melaju. Abis itu bisa lah mau jualan router dan teman-temannya.

SALAH DRASTIS kalau dikira kita harus bikin produk canggih seperti
router.

Tidak Pak, melainkan industri service yang sebaiknya
dibangun,pelan-pelan, dari yang lowtech sampai yg benar2 hitech,yang
penting menyerap SDM dan tidak lebih besar pasak daripada tiang...Ingat
ini bisa dilakukan melalui investasi asing ,aduh Pak Budi sudah berapa
kali ya mengatakan ini.


Kedua, produk ini (tangible/intangible) harus berapa DEVISA dan EXPORT
KE LN
(jadi sektor di DN tidak usah menyumbang ke sektor IT ini), ujarnya mas
Budi itu begitu.


> Oh ya, produsen cabe gede-gedean sekarang khan juga invest untuk riset
> bioteknologi yang peralatan server dan jaringannya tidak main-main. Itu yang
> saya maksud, bukan TI utk TI, tapi TI utk apa gitu.

Nah ini salah satunya mungkin ... ha ha ha :-)

> Soal panci, saya masih bercita-cita beli panci merk SILIT, untuk oleh-oleh
> mertua, sayang takut ndak diterima beliau, udah beli mahal-mahal, tapi
> merknya koq malu-maluin.

saya mungkin kalo kasih hadiah,saya bakal kasih GPS buatan Indonesia
bernama NUSAMAP, biar mereka bergumam "oh orang indonesia sudah bisa
bikin GPS yach" :)


Carlos

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 8:11:45 PM1/16/06
to teknologia

salah persamaan.

Outsourcing =! TKI (yang ke Arab itu).

Btw, mestinya banyak dosen dan engineer yang ke bangalore nich , biar
bisa melihat sendiri bagaimana TKA bekerja disana (Tenaga Kerja
ex-Amerika)... :)

Carlos

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 8:14:34 PM1/16/06
to teknologia
> > >
> > > ok, kalau begitu 5 orang yang 'show'?. btw, kami itu siapa?
> >
> > me dong dan ... mas adjie ...
> > terus ada lagi kawan2 dari industri outsourcing india yang sudah
> > geleng2 kali dari kemaren2 :)
> >
>
> good. berarti anda gak termasuk yang OMONG DOANG seperti saya. boleh saya
> tau udah berapa jauh outsourcing businessnya sekarang? berapa duit yang anda
> tambahkan ke devisa Indonesia? udah berapa kali outsource ke Indonesia?
>

dua hal:

1. yang mengerjakan proyek outsourcing di Indonesia sudah ada ...cuman
ya ngasih tahu saja kepada anda,tapi jelas ada beberapa :-)), kan dulu
pernah diulas bahwa kita punya SDM.

2. Yang saya maksud diatas, engineer Indonesia yang belajar-bekerja di
persh outsourcing India yang sebenarnya bisa banget memberi gambaran,
peluang-peluang apa dan apa (sebagai orang Indonesia) agar sebagian
persh Indonesia mendapatkan proyek outsourcing.


Carlos

baskara

unread,
Jan 16, 2006, 8:57:18 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
>
> Outsourcing =! TKI (yang ke Arab itu).
>
> Btw, mestinya banyak dosen dan engineer yang ke bangalore nich , biar
> bisa melihat sendiri bagaimana TKA bekerja disana (Tenaga Kerja
> ex-Amerika)... :)

Atau tanya ke Naren Shankar, bagaimana caranya dari seorang engineer
bisa menjadi produser CSI. :-)

Pakcik

unread,
Jan 16, 2006, 9:05:07 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

> > >
> > > ok, kalau begitu 5 orang yang 'show'?. btw, kami itu siapa?
> >
> > me dong dan ... mas adjie ...
> > terus ada lagi kawan2 dari industri outsourcing india yang sudah
> > geleng2 kali dari kemaren2 :)
> >
>
> good. berarti anda gak termasuk yang OMONG DOANG seperti saya. boleh saya
> tau udah berapa jauh outsourcing businessnya sekarang? berapa duit yang anda
> tambahkan ke devisa Indonesia? udah berapa kali outsource ke Indonesia?
>

dua hal:

1. yang mengerjakan proyek outsourcing di Indonesia sudah ada ...cuman
ya ngasih tahu saja kepada anda,tapi jelas ada beberapa :-)), kan dulu
pernah diulas bahwa kita punya SDM.

maksudnya industry outsourcing (yang selama ini di bicarakan) yang anda bangun itu udah jalan, udah dieksekusi? dan karna sedikit rahasiat, jadi gak anda publish?
 

2. Yang saya maksud diatas, engineer Indonesia yang belajar-bekerja di
persh outsourcing India  yang sebenarnya bisa banget memberi gambaran,
peluang-peluang apa dan apa (sebagai orang Indonesia) agar sebagian
persh Indonesia mendapatkan proyek outsourcing.


udah cukuplah gambaran. cukup lecture tentang multi billion dollar business. saran saya, coba outsource beberapa project. show us, stop telling us.  Sekalipun anda steve jobs yang punya kemampuan reality distortion, anda tetap perlu tunjukkan ke kita. jadi nanti kita ngikut.


--
Pakcik
Under Construction

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 9:28:18 PM1/16/06
to teknologia
> 2. Yang saya maksud diatas, engineer Indonesia yang belajar-bekerja di
> > persh outsourcing India yang sebenarnya bisa banget memberi gambaran,
> > peluang-peluang apa dan apa (sebagai orang Indonesia) agar sebagian
> > persh Indonesia mendapatkan proyek outsourcing.
>
>
>
> udah cukuplah gambaran. cukup lecture tentang multi billion dollar business.
> saran saya, coba outsource beberapa project. show us, stop telling us.
> Sekalipun anda steve jobs yang punya kemampuan reality distortion, anda
> tetap perlu tunjukkan ke kita. jadi nanti kita ngikut.
>

ya ente juga "biasa" saja lah...saya juga masih muda seperti ente,cuman
karena melihat kenyataan,ada keinginan berubah,setelah
berubah,melihat,merasa dan menganalisa sekian lama memberitahu yang
lain.untung masih ada orang seperti pak budi yang punya know-how dan
ingin sharing.

outsource sudah BANYAK SEKALI dilakukan,tapi ya itu, ke india :)

dan dalam masalah itulah,saya beritahu...apa yang sebaiknya dilakukan
jika kita kudu
dapat outsource proyek dari luar (refer ke soal software company dengan
CMM Level 2).

kalau mau main2 salah-salahan,harusnya gampang saja....harusnya ada
generasi lebih tua dari saya yang sudah bikin infosys.

jadi pakcik: Relaks aja ente ..
kita sama sama bangun , kita kontribusi dan gak usah grogi dengan multi
billion dollar business :)

Carlos

Pakcik

unread,
Jan 16, 2006, 9:46:25 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

> 2. Yang saya maksud diatas, engineer Indonesia yang belajar-bekerja di
> > persh outsourcing India  yang sebenarnya bisa banget memberi gambaran,
> > peluang-peluang apa dan apa (sebagai orang Indonesia) agar sebagian
> > persh Indonesia mendapatkan proyek outsourcing.
>
>
>
> udah cukuplah gambaran. cukup lecture tentang multi billion dollar business.
> saran saya, coba outsource beberapa project. show us, stop telling us.
> Sekalipun anda steve jobs yang punya kemampuan reality distortion, anda
> tetap perlu tunjukkan ke kita. jadi nanti kita ngikut.
>

ya ente juga "biasa" saja lah...saya juga masih muda seperti ente,cuman
karena melihat kenyataan,ada keinginan berubah,setelah
berubah,melihat,merasa dan menganalisa sekian lama memberitahu yang
lain.untung masih ada orang seperti pak budi yang punya know-how dan
ingin sharing.

outsource sudah BANYAK SEKALI dilakukan,tapi ya itu, ke india :)


hahaha .. ini analoginya seperti suami yang bilang istri orang lain cantik. show us your wife. udah cukup know how. kalau mau know how, kasih link ini aja http://www.google.com/

saya itu suka diskusi, tapi kalau udah bolak balik ke sini lagi, annoying. jadinya di judge OMONG DOANG, karna terlalu banyak. silahkan eksekusi, masalah dilapangan bisa di diskusi kan di sini.


--
Pakcik
Under Construction

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 9:51:28 PM1/16/06
to teknologia
>
> hahaha .. ini analoginya seperti suami yang bilang istri orang lain cantik.
> show us your wife. udah cukup know how. kalau mau know how, kasih link ini
> aja http://www.google.com/
>
> saya itu suka diskusi, tapi kalau udah bolak balik ke sini lagi, annoying.
> jadinya di judge OMONG DOANG, karna terlalu banyak. silahkan eksekusi,
> masalah dilapangan bisa di diskusi kan di sini.
>

mau start topik baru jadi anda bisa juga kontribusi positif ?

- bagaimana meningkatkan kualitas software company (customized) rating
dari CMM Level 2 menuju level 5 ?
- apa saja yang harus dilakukan ?
- kalau tidak,alternatifnya harus bagaimana ?

lebih baik diskusi ini daripada saling menghujat 'omong doang' --
kecuali kalau bisanya cuman itu saja :-)) :-))

Carlos

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 16, 2006, 9:55:03 PM1/16/06
to teknologia

atau keluarga "Patel" yang menguasai sebagian besar jaringan hotel dan
motel di AS :-))

Carlos

Budi Rahardjo

unread,
Jan 16, 2006, 10:05:57 PM1/16/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Made Wiryana <mwir...@gmail.com> wrote:


> Maaf jangan-jangan kita terlalu "yakin' padahal sebetulnya secara nasional
> tidak memiliki modal utk itu.

Paling gampang, lihat saja data dari Dep. Perindustrian dan Dep.
Perdagangan. Lihat saja data ekspor kita. Kemudian kita urutkan.
Elektronik (dimana IT termasuk di dalamnya) ada di sana ;-)
Jadi ini bukan sesuatu yang baru. Ini sudah ada.

Hanya ... yang ada itu sesuatu yang membutuhkan "tangan kotor",
yaitu IT yang dipabrik-pabrik. Seperti misalnya membuat toner,
hardisk, dsb. Orang boleh mentertawakan mereka, tapi merekalah
yang bisa dibilang pahlawan.

Sayangnya banyak pendapat IT == software :(
Kalau di sisi software saja, memang kita masih sangat jauh.
Nah ini yang ingin saya push.
Kalau memang gagal, kita bisa kembali fokus ke pabrik toner,
harddisk, packaging IC, dsb. It's ok.
Tapi ... no panci. Bukan karena pancinya, tapi karena kita
belum punya pengalaman membuat panci.

...


> Betul kata Ari, mending kita jualan panci,

...

Masalahnya, justru belum ada track record jualan panci di LN.
Coba dicek.
(Jangan-jangan malah panci yang ada di dalam negeri sudah buatan
China semua???)

> Kalau bisa ngalahin panci merk SILIT yang harganya mahal di Jerman
> (1 panci 250 EU).

Saya tidak yakin bisa!


-- budi

Made Wiryana

unread,
Jan 17, 2006, 10:26:03 AM1/17/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:


> Waktu bulan lalu saya ke Indonesia (pendek sekali cuma 10 hari, jadi ndak
> sempet kongkow-kongkow), saya sempet beli buku.  'Ironi Pahlawan Devisa"
> yang bercerita ttg para TKI.  Bagus buat dibaca bagi yang semangat
> ber-outsource.
>
> Biar ndak besar pasak daripada tiang.

salah persamaan.

Outsourcing =! TKI  (yang ke Arab itu).

Memang tidak sama, tapi sama sama ngedatengin devisa :-), hayo  jangan-jangan kalah devisa yg didatengin-nya.
 
Btw, mestinya banyak dosen dan engineer yang ke bangalore nich , biar
bisa melihat sendiri bagaimana TKA bekerja disana (Tenaga Kerja
ex-Amerika)... :)

BTW, kalau kita ntar selalu mikir produk TI yg memenuhi pasar asing, terus pasar dalam negeri siapa yg ngurisin :-), jangan-jangan malah import lagi

IMW


Made Wiryana

unread,
Jan 17, 2006, 10:32:56 AM1/17/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/06, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:

>  Maaf jangan-jangan kita terlalu "yakin' padahal sebetulnya secara nasional
> tidak memiliki modal utk itu.


Sayangnya banyak pendapat IT == software :(
Kalau di sisi software saja, memang kita masih sangat jauh.
Nah ini yang ingin saya push.
Kalau memang gagal, kita bisa kembali fokus ke pabrik toner,
harddisk, packaging IC, dsb. It's ok.

Atau mending jadi petani aja, tapi petani/nelayan kelas dunia ?.   Laut besar jangan dianggurin, manfaatkan TI utk explorasi laut.

Tapi ... no panci. Bukan karena pancinya, tapi karena kita
belum punya pengalaman membuat panci.

Sebagai nelayan kita sudah punya pengalaman.  Kenapa ini tidak lebih diexplorasi lagi, Sebetulnya inti yg ingin saya katakan adalah, jangan industri TI utk TI itu sendiri, tapi industri TI utk apa. ? Dan apanya ini yang dikembangkan sesuai dengan apa yang kita telah kuasai.

Di Gatra pernah saya baca, ibu-ibu yang sukses jadi pengexport ikan ke manca negara, dan punya pabrik pengolahan ikan besar.
 

>  Betul kata Ari, mending kita jualan panci,
...

Masalahnya, justru belum ada track record jualan panci di LN.
Coba dicek.
(Jangan-jangan malah panci yang ada di dalam negeri sudah buatan
China semua???)

Ntar ada yang bilang "Bikin panci aja ndak bisa mo bikin komputer" he he he he
 
IMW

muhamad carlos patriawan

unread,
Jan 17, 2006, 11:12:41 AM1/17/06
to teknologia
Made Wiryana wrote:
> On 1/17/06, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
> >
> >
> > > Maaf jangan-jangan kita terlalu "yakin' padahal sebetulnya secara
> > nasional
> > > tidak memiliki modal utk itu.
> >
> >
> > Sayangnya banyak pendapat IT == software :(
> > Kalau di sisi software saja, memang kita masih sangat jauh.
> > Nah ini yang ingin saya push.
> > Kalau memang gagal, kita bisa kembali fokus ke pabrik toner,
> > harddisk, packaging IC, dsb. It's ok.
>
>
> Atau mending jadi petani aja, tapi petani/nelayan kelas dunia ?. Laut
> besar jangan dianggurin, manfaatkan TI utk explorasi laut.
>
> Tapi ... no panci. Bukan karena pancinya, tapi karena kita
> > belum punya pengalaman membuat panci.
>
>
> Sebagai nelayan kita sudah punya pengalaman. Kenapa ini tidak lebih
> diexplorasi lagi, Sebetulnya inti yg ingin saya katakan adalah, jangan
> industri TI utk TI itu sendiri, tapi industri TI utk apa. ? Dan apanya ini
> yang dikembangkan sesuai dengan apa yang kita telah kuasai.


Maaf Pak Made, tapi sebaiknya ndak "asal" berikan alasan saja.

Half of My family masih jadi nelayan miskin di pedalaman sumatra yang
pendapatanya hanya 1000 perak sehari.

Jumlah ikan juga makin menipis tiap hari.
Belum lagi polusi dst.

Solusi buat mereka: harus BERHENTI jadi nelayan , jangan dikira enak
jadi nelayan !
dan ini sudah dilakukan dan sukses.

Kalau kita orang IT,seperti katanya Pak Budi,lakukan apa yang
sebenarnya kita bisa lakukan lah, jangan "ngeles" seperti wah nanam
cabe saja.

>
> Di Gatra pernah saya baca, ibu-ibu yang sukses jadi pengexport ikan ke manca
> negara, dan punya pabrik pengolahan ikan besar.
>
>
> > Betul kata Ari, mending kita jualan panci,
> > ...
> >
> > Masalahnya, justru belum ada track record jualan panci di LN.
> > Coba dicek.
> > (Jangan-jangan malah panci yang ada di dalam negeri sudah buatan
> > China semua???)
>
>
> Ntar ada yang bilang "Bikin panci aja ndak bisa mo bikin komputer" he he he
> he


Makanya, waktu kita bikin sesuatu , kita hitung untung ruginya dulu.

Kalo kasus iptn dulu memang salah dan bikin sebagian orang 'takut'
dengan industri hitek.


Carlos

Zaki Akhmad

unread,
Jan 17, 2006, 11:19:52 AM1/17/06
to teknologia
Muhamad Carlos Patriawan wrote:

> > Ah pasti sama sebalnya dengan saya kalau sering2 membaca alasan 'skript
> > kiddies' ini.
>

> si zaki harus bertanggung jawab.
>
>
> carlos

Ha..ha...ha.....
Iye...iye gw tanggung jawab dah ah. Duh, dah keseringan berdalih jadi
bumerang juga nih ke gw. Nilai kuliah gw semester ini hampir keluar
semua. Tinggal 2 mata kuliah lagi yang belum. Alhamdulillah mata kuliah
yang menyeramkan dan gw gak suka, dah lulus semua. Jadi semester depan
gw bisa mengambil kuliah nol SKS dan ambil SKS tak hingga untuk "mata
kuliah yang gw suka".

Jadi tunggu tanggal mainnya aja yak.

Zaki Akhmad
http://www.zakiakhmad.info

muhamad carlos patriawan

unread,
Jan 17, 2006, 11:20:30 AM1/17/06
to teknologia
Made Wiryana wrote:
> On 1/17/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
> >
> >
> >
> > Waktu bulan lalu saya ke Indonesia (pendek sekali cuma 10 hari, jadi ndak
> > > sempet kongkow-kongkow), saya sempet beli buku. 'Ironi Pahlawan Devisa"
> > > yang bercerita ttg para TKI. Bagus buat dibaca bagi yang semangat
> > > ber-outsource.
> > >
> > > Biar ndak besar pasak daripada tiang.
> >
> > salah persamaan.
> >
> > Outsourcing =! TKI (yang ke Arab itu).
>
>
> Memang tidak sama, tapi sama sama ngedatengin devisa :-), hayo
> jangan-jangan kalah devisa yg didatengin-nya.

hahaha...kalau masalah tenaga kerja ini kan ada dua, yang berbasis
"labour work" seperti tenaga kerja dan "expatriate" yang berbasis
skill.

Dua duanya menghasilkan devisa,saya tahu persis berapa nilai export
tenaga kerja pilipina,indonesia dan outsourcing juga.

Kalau dari sektor global, yang paling tinggi ya masih outsourcing
sektor IT jelas.

Note: TK Indonesia(Labour work) kalah bersaing dengan TK pilipina
karena skillset,TK pilipina bisa lebih maju karena penguasaan bahasa
inggris dan keterampelan medical school (nursing) yang diajari di
pilipin.


>
>
> > Btw, mestinya banyak dosen dan engineer yang ke bangalore nich , biar
> > bisa melihat sendiri bagaimana TKA bekerja disana (Tenaga Kerja
> > ex-Amerika)... :)
>
>
> BTW, kalau kita ntar selalu mikir produk TI yg memenuhi pasar asing, terus
> pasar dalam negeri siapa yg ngurisin :-), jangan-jangan malah import lagi

Pak Made , 'cut it short' saja ya ...

kalau Pak Made mau mengatakan supaya di Indonesia pakai open source
software , ya silahkan saja.Tapi beda masalah dengan *technya Pak Budi.

Carlos

Zaki Akhmad

unread,
Jan 17, 2006, 12:09:23 PM1/17/06
to teknologia
Oke, sori baru ngasih tanggepan sekarang. Jadi dah rada telat.

Cerita dari awal: kenapa awalnya saya lebih suka belajar ilmu sosial
dibanding kuliah di Elektro? Karena bagi saya ilmu itu harus bisa
diaplikasikan. Ilmu tanpa amal tidak berguna sama sekali. Dulu, saya
tidak melihat guna dari kuliah Medan I dengan 4 persamaan Maxwell. Saya
tidak melihat kegunaan saya belajar kuliah kendali dengan Matematika
yang bikin saya sakit perut. Halaah itu gunanya apa Matematika
se-dahsyat itu? Toh kemiskinan akan selalu ada. Toh orang-orang
minta-minta di pinggir jalan tetap ada. Toh pejabat korupsi akan selalu
ada.

Saya termasuk orang yang berpikir dari makro ke mikro. Asal saya tahu
tujuan akhirnya saya akan all-out untuk itu.

Saya dulu aktif di unit jurnalistik ITB. Saya benar-benar menikmati
ke-aktif-an saya disana. Begadang sampai malam, menulis, cari nara
sumber, cari fakta, rapat redaksi, berdebat, berdiskusi, nemenin
anak-anak desain melayout, ke tukang percetakan, mengasong jualan,
dengan satu tujuan: supaya tulisan saya dibaca orang. Terbitan kami
cuma dijual 1000 rupiah! 16 halaman dengan informasi yang kami gali
susah-susah. Bahkan uang hasil penjualan juga paling buat balikin modal
ongkos naik cetak. Kami tidak dibayar! Bahkan zaman dulu, kami sempat
patungan dulu dengan uang sendiri supaya bisa naik cetak. But we have
a great time! We enjoy every second of it.

Akhir cerita, kuliah saya sampai berantakan. Dan kemudian tiba-tiba
saya tersadar biar bagaimanpun saya harus lulus kuliah. Lalu dimulailah
perjalanan kembali ke "jalan yang benar' sesuai kuliah saya. Dimulai
dengan membeli buku sains populer, ngobrol sama Pak Samaun, diskusi
dengan Pak Budi, datang presentasi BHTV, masuk teknologia, kenal sama
Carlos.

Waktu kenal sama Carlos, terus terang, saya ragu! Ini benar orang
Indonesia? Saya cek foto di friendster-nya. Gila, benar juga! Lah dia
kok bisa kenapa saya gak bisa. Semangat saya mulai terbakar. Dan
pengakuan saya dengan status script-kiddies itu memang benar-benar saya
belum terbukti apa-apa di dunia IT ini. Jadi saya juga tidak mau dicap
sebagai orang yang ngomong doang. Saya berusaha fair, jujur apa adanya.
Dan saya tahu saya tidak bisa berlindung di balik pangkat ini terus.

Namun saya ingin semuanya berjalan alami. Saya tidak ingin matang
secara karbitan. Masih terlalu pagi bagi saya untuk memutuskan all-out
profesi apa yang akan saya geluti. Legenda pribadi saya masih banyak
dan tentu menjadi kebebasan pribadi saya untuk menentukan legenda
pribadi yang mana yang ingin saya wujudkan. Titik ekstrimnya, orang tua
saya pun tidak berhak mengintervensi keputusan masa depan profesi apa
yang akan saya pilih.

Lanjut lagi dengan debat Panci lah, IT lah, dll lah.
Will we stop it this debate?

Ilmu yang berguna itu ilmu yang diamalkan! Saya suka ilmu sosial,
karena saya tahu cara mengamalkannya di Indonesia. Saya suka sekali
ngobrol dengan orang-orang sederhana: tukang ojek, supir angkot, dan
tukang gorengan di depan kampus. Saya menemukan kedamaian disana. Saya
merasa hidup saya masih lebih enak. Biarpun kiriman dari orang tua
pas-pasan, saya punya teman-teman baik yang begitu banyak.

Nah kurikulum kuliah di Elektro ITB itu ternyata IDEALnya tidak kerja
untuk hal-hal yang sifatnya manajerial dan juga solder-menyolder. Ini
Pak Samaun yang bilang lho. Teman-teman saya yang dari subjur
mikroelektronika harusnya begitu lulus kerja jadi IC-Designer!
Sayangnya lapangan kerja untuk itu di Indonesia tidak ada. Dan sudah
pada tahu kan, membuat pabrik IC-Designer tidak sesederhana membuat
pabrik pembuat panci atau membuka restoran makan.

Soal nasionalisme. Saya pribadi tidak suka terkotak-kotak. <u>Manusia
yang paling berarti adalah manusia yang paling bermanfaat bagi yang
lain</u>. Saya cuma seorang Zaki Akhmad yang kebetulan lahir di
Jakarta, kuliah di Elektro ITB, lebih suka dunia sosial dan baru mau
kembali ke "jalan yang benar", dan berkewarganegaraan Indonesia. Jika
memang ilmu saya lebih berguna di Silicon Valley ya saya berarti harus
berusaha untuk sampai kesana. Jika memang ilmu saya lebih berguna di
depan anak-anak SMA, ya saya akan menjadi guru saja. Jika memang ilmu
saya lebih berguna di dunia jurnalistik, ya saya akan menjadi wartawan
saja. Toh ini kan pilihan saya pribadi.

Sampai saat ini bagi saya yang prinsip adalah agama. Jadi yang lain
boleh ganti-ganti, tapi tidak untuk agama. Ganti kewarganegaraan? Ah
itu tidak prinsip bagi saya. Teman saya bilang, secara ikatan emosional
Indonesia pasti tidak akan hilang. There's no place like home!

Analoginya kalau saya dari kecil dibesarkan di rumah A dan ketika sudah
beranjak besar pindah ke rumah B, secara emosional saya akan lebih
dekat dengan rumah A saya. Atau dilihat dari sisi lain. Setelah saya
menghabiskan waktu 10 tahun di LN saya memutuskan kembali ke Indonesia
dengan alasan, banyak sekali masalah di Indonesia yang harus dibenahi.
Dimulai dari membuang sampah pada tempatnya, menyebrang di jembatan
penyebrangan, dan bisa jadi juga memulai BHTV ini.

Kalau saya mau ganti nama juga tidak masalah. Yang jelas bisa jadi saya
repot sendiri. Harus ngasih tahu ke banyak orang, kecuali kalau saya
operasi plastik. Ah kok saya jadi serius gini yak................

Zaki Akhmad
http://www.zakiakhmad.info

wongcilik

unread,
Jan 17, 2006, 8:39:10 PM1/17/06
to tekno...@googlegroups.com

----- Original Message -----
From: "muhamad carlos patriawan" <cpat...@gmail.com>
To: "teknologia" <tekno...@googlegroups.com>
Sent: Tuesday, January 17, 2006 11:12 PM
Subject: [teknologia] Re: Teknologi dan perspektif (Re: Why I should work
for Google)


> Maaf Pak Made, tapi sebaiknya ndak "asal" berikan alasan saja.
>
> Half of My family masih jadi nelayan miskin di pedalaman sumatra yang
> pendapatanya hanya 1000 perak sehari.
>
> Jumlah ikan juga makin menipis tiap hari.
> Belum lagi polusi dst.

==> dan juga isu formalin yah telah merugikan omset milyaran para nelayan
(http://radartegal.com/index.php?option=content&task=view&id=8817)

> Solusi buat mereka: harus BERHENTI jadi nelayan , jangan dikira enak
> jadi nelayan !
> dan ini sudah dilakukan dan sukses.

==> berhenti, mungkin iya mungkin juga tidak.
tapi saya kira ini akan sulit sekali kecuali mereka yang punya modal.


> Kalau kita orang IT,seperti katanya Pak Budi,lakukan apa yang
> sebenarnya kita bisa lakukan lah, jangan "ngeles" seperti wah nanam
> cabe saja.

> >
> > Di Gatra pernah saya baca, ibu-ibu yang sukses jadi pengexport ikan ke
manca
> > negara, dan punya pabrik pengolahan ikan besar.
> >
> >
> > > Betul kata Ari, mending kita jualan panci,
> > > ...

==> tetangga kampung saya banyak yang jualan panci, kompor sumbu, pompa air
manual (dragon), sepeda ontel, spare part mesin diesel (kubota)..etc tapi
iya sayang belum bisa export, pangsa pasarnya masih di indonesia tercinta
saja...dan mereka sukses...secara materiil.

saya pribadi sebagai wongcilik malah berandai-andai bukan cuma BHTV saja
tetapi THTB (Tegal High Tech Bangalore)..hehehehe.
jadi bukan hanya menyandang jepangnya indonesia saja..tetapi bangalorenya
indonesia...smoga.

> > >
> > > Masalahnya, justru belum ada track record jualan panci di LN.
> > > Coba dicek.
> > > (Jangan-jangan malah panci yang ada di dalam negeri sudah buatan
> > > China semua???)
> >
> >
> > Ntar ada yang bilang "Bikin panci aja ndak bisa mo bikin komputer" he he
he
> > he
>
>
> Makanya, waktu kita bikin sesuatu , kita hitung untung ruginya dulu.

=> Kalau yang ini saya kira semua akur, mungkin sebelum bikin suatu product
baca-baca dulu buku IT Blue Book and Blue Ocean (kim&maugorgne).

>
> Kalo kasus iptn dulu memang salah dan bikin sebagian orang 'takut'
> dengan industri hitek.
>
>
> Carlos
>

salam,
wongcilik

muhamad carlos patriawan

unread,
Jan 17, 2006, 8:50:18 PM1/17/06
to teknologia
> saya pribadi sebagai wongcilik malah berandai-andai bukan cuma BHTV saja
> tetapi THTB (Tegal High Tech Bangalore)..hehehehe.
> jadi bukan hanya menyandang jepangnya indonesia saja..tetapi bangalorenya
> indonesia...smoga.

saya sepakat 100 persen... yg penting "bangalore"nya memang ...

jadi si paimin sang penjual kain sari di hosur road bangalore, bisa
punya anak yang namanya paidjo dan bekerja di Intel Bangalore
mendevelop next-gen chips.

Dua duanya saling mendukung. Gak perlu dipertentangkan.Wong dua duanya
menghasilkan devisa koq.

PS: dulu di BHTV, ada bapak yang sudah membuat medical divais di daerah
tegal kalo gak salah.

> => Kalau yang ini saya kira semua akur, mungkin sebelum bikin suatu product
> baca-baca dulu buku IT Blue Book and Blue Ocean (kim&maugorgne).

selain penguasaan iptek ; juga penguasaan projek management ; dan ilmu
pasar.

Sepakat Pak.

Carlos

Harry Sufehmi

unread,
Jan 18, 2006, 5:26:02 AM1/18/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/2006 at 8:38 AM Pakcik wrote:
btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly. eh 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG (termasuk gue). 
Jadi ingat sama teman yang bikin ERP selama 2 tahun. Kemarin ini lihat, potensinya bagus. Juga sudah dipakai di sebuah perusahaan di Jakarta selama berbulan-bulan.
Tapi, dia enggak punya waktu untuk marketingnya. Nah lho, sayang banget.
 
Dan ybs itu saya yakin enggak kalah kualitasnya sama developer luar. Cuma ya itu, bagaimana caranya untuk mengkonekkan dia dengan orang2 di luar yang bisa memanfatkan jasa dia ?
note: spesialisasinya adalah development linux & web.
 
 
Salam,
Harry

Ariya Hidayat

unread,
Jan 18, 2006, 5:41:37 AM1/18/06
to tekno...@googlegroups.com
> btw, yang "show" disini cuman 3, game, kamus offline, kamus on the fly. eh
> 4, ada Sam dengan salesforce? lainnya cuman "tell" atau OMONG DOANG
> (termasuk gue).

Yang kadang saya "show"-kan di signature:
http://www.google.com/search?q=usable+calculator&btnI

Yang di Win32 dan Mac OS X, sabar saja:
http://ariya.blogspot.com/2006/01/speedcrunch-madness-continues.html


--
http://www.google.com/search?q=ariya+hidayat&btnI

Harry Sufehmi

unread,
Jan 18, 2006, 5:46:45 AM1/18/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/16/2006 at 11:57 PM Muhamad Carlos Patriawan wrote:
>> saya gak masuk, saya bilang diskusinya tentang ini udah kepanjangan, stop it
>trims,saya setuju..
>tapi saya minta juga *please* ... kita (yg di milis ini) ini orang
>*tech ; paling tidak, tidak usahlah berkomentar kalau "kita" ini cuman
>bisa bikin panci saja.

Ya, saya pikir, kalaupun tidak tahu bagaimana merealisasikannya, jangan langsung jadi pesimis :-)
Positive thinking aja, sambil kita mengusahakan apa yang bisa kita lakukan sendiri.

Syukur-syukur kalau bisa beramai-ramai toh.

Contoh; ini proyek saya pribadi: kemarin ini saya ketemu dengan seorang developer. Dia sudah punya 2 produk, tapi penjualannya seret banget di Jakarta. Saya sampai sedih ngeliatnya, dulu dia punya mobil, sekarang tinggal motor. Untuk biaya hidup sehari-hari kadang dia juga terpaksa nombok.
Nah, jadi saya kasih tahu, produk kamu itu saya rasa punya kans bagus untuk laku di luar negeri.

Dia langsung tertarik. Saya beberkan, strateginya begini dan begitu. Terjemahkan produknya, marketing via adsense dg strategi yang jitu, lalu pricing juga harus tepat, dst.
Dia makin tertarik. Tapi, ada satu masalah - selagi dia mengerjakan ini semua, keluarganya mau makan apa? karena selama ini cara marketing dia adalah datang langsung ke tempat2 yang mungkin bisa memanfaatkan produk dia. Kalau mengerjakan ini sebulan (estimasi kita), selama sebulan itu dia tidak mendapat pemasukan.

Jadi rencananya, setelah proyek saya yang saat ini selesai, saya akan membayar dia development fee untuk sebulan. Selama sebulan dia bisa berkonsentrasi penuh untuk menterjemahkan produknya itu. Setelah itu, marketingnya diserahkan kepada saya. Kalau profit, maka dibagi 50-50.
Mudah-mudahan ide ini mau dia terima, karena tidak ada resiko di sisi dia. Lagipula karena saya yang bilang yakin profitable, ya, walk the talk lah, he he.

Moral #1 :
Untuk kasus ini, saya lihat "finding the niche" itu cukup penting. Kalau ketemu niche yang tepat, kadang dengan modal minim pun kita bisa potensi mendapatkan return yang cukup besar. Di kasus ini, modalnya cukup development fee sebulan. Kalau gagal pun saya tidak terlalu banyak merugi.

Nah, disini salah satu gunanya forum seperti ini - kita bisa brainstorming mengenai apa kira2 niche yang bisa / feasible untuk kita garap.

Lalu, kalau sudah banyak yang ngerjain niche-niche seperti begini, tinggal tarik semuanya ke BHTV deh ;-)

So, ya, saya kira si Aa Gym memang benar - 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan yang ketiganya saya lupa :P he he

Moral #2 :
Perlu ada pemodal yang mau investasi di proyek2 high risk namun potensi return besar seperti ini (apa tuh istilahnya, angel investor ?). Saya lihat, investor2 yang saya temukan selama ini cenderung terlalu konservatif. Apalagi kalau bidang IT, pada enggak ngeh tuh.
Kalau saja ada beberapa investor yang ngerti (atau mau berusaha mengerti) bidang IT ini, maka Indonesia bisa berharap untuk bisa menjadi raksasa IT berikutnya.
Untuk kasus ini, kebetulan modalnya enggak terlalu besar, jadi saya pun bisa jadi "angel", he he

Udah, itu dulu deh.


Salam,
Harry


Harry Sufehmi

unread,
Jan 18, 2006, 6:01:37 AM1/18/06
to tekno...@googlegroups.com

>> BTW, kalau kita ntar selalu mikir produk TI yg memenuhi pasar asing, terus
>> pasar dalam negeri siapa yg ngurisin :-), jangan-jangan malah import lagi

Pasar dalam negeri relatif lebih kecil, dan sudah keenakan dimanja software bajakan. Kalau UU HAKI betul ditegakkan, mungkin baru akan agak mendingan.

Nyatanya, UU HAKI cuma dipakai oknum polisi untuk ngobyek, dengan merazia warnet :-) hek hek

Salam,
Harry

Harry Sufehmi

unread,
Jan 18, 2006, 6:09:52 AM1/18/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/17/2006 at 11:46 AM Pakcik wrote:
saya itu suka diskusi, tapi kalau udah bolak balik ke sini lagi, annoying. jadinya di judge OMONG DOANG, karna terlalu banyak. silahkan eksekusi, masalah dilapangan bisa di diskusi kan di sini.
Yaa Pak Cik.. kalau memang enggak ada yang capable untuk ngerjain proyek2nya dia di Indonesia, mosok mau dipaksakan juga lempar ke Indonesia  :-)
Nantinya cuma malu-maluin Indonesia dong.
 
Biar saja yang punya wawasan bagi-bagi wawasannya. Nah, kita ambil yang bisa kita lakukan, lalu kita eksekusi sendiri, untuk keuntungan kita sendiri  :-)
(tapi saya rasa bang Carlos enggak akan keberatan kalau Anda mau profit sharing sama dia)
 
Kembali ke ide pameran itu... jadi, gimana bagusnya ? Saya terus terang tidak punya resources yang bisa tampil di forum pameran internasional (belum begitu mudeng jargon2 outsource / bisnis / formal software development), tapi saya punya link-link ke software house / programer lokal yang bisa ngerjain limpahan proyek2.
Jadi, kalau ada yang bisa pergi ke pameran dan dapat proyek tapi bingung mau dilempar kemana, saya bisa bantu-bantu.
 
 
Salam,
Harry
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages