ada yang melemparkan istilah seperti "language barrier", "barrier
bahasa", "clout", "vis-a-vis", yang mana hanya dua yang pertama yang
saya mengerti, dua yang belakangan saya tidak langsung mengerti,
mungkin harus buka-buka kamus terlebih dulu supaya mengerti.
saya sendiri bukan penganut EYD yang kaku, terlihat dari penggunaan
huruf kecil di awal kalimat. jadi saya sendiri pun terkena gelar
"bertolak-belakang" kalau memang setuju dengan ungkapan dari MDAMT
(sayang beliau sendiri tidak pernah ikut lagi dalam diskusi ini).
ikhlasul amal yang saya kenal sebagai pengguna bahasa indonesia yang
baik dan benar, malah tidak ikut dalam diskusi ini, padahal saya
mengharapkan masukan dari beliau.
saya mungkin sealiran dengan zaki, dalam memandang wacana ini. adakah
yang bisa memberikan padanan kata dalam bahasa indonesia, istilah
asing "reinventing the wheel?" itu yang saya rasakan pertama kali
membaca tulisan MDAMT. belum lagi istilah "lingua franca", apakah
memang sulit sekali mempergunakan padanan dalam bahasa indonesia (jika
memang ada)?
--
I solemnly swear that I'm up to no good
http://data.startrek.or.id
http://kiozk.com
Kalau saya dalam menerjemahkan cenderung melihat context secara
keseluruhan untuk memahami apa sebetulnya yang ingin disampaikan. Jadi
saya menghindari menerjemahkan frase per frase kalo jadinya agak
ganjil, terlebih lagi tidak kata per kata. Kalo bisa menerjemahkan
satu paragraph secara langsung lebih baik, tapi biasanya sulit, jadi
per kalimat mungkin lebih umum dilakukan dan masih bisa diterima.
Idiom dan frase itu kebanyakan berhubungan dengan budaya dan adat
istiadat lokal. Banyak peribahasa Indonesia kalo diterjemahkan ke
bahasa asing mungkin jadi gak nyambung. Mungkin bisa dicari padanannya
yang menyampaikan inti yg mirip/sama, tapi tidak perlu terjemahan kata
per kata. Contohnya peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing
berlari" lebih mudah dipahami kalau diterjemahkan sebagai "monkey see,
monkey do" dalam bahasa Inggris, walaupun tidak mencakup 100% semua
inti yg ingin disampaikan peribahasa aslinya.
Bahayanya kalo menerjemahkan seperti ini adalah ada kemungkinan ada
something yg lost in translation, kalo penerjemahnya kurang menangkap
apa saja inti2 yg ingin disampaikan dr tulisan aslinya. Contoh
peribahasa di atas, kalo monkey see monkey do mungkin cuma
menyampaikan "ikut2an" aja, tapi di samping itu aslinya juga
menyampaikan kalo yg mengikuti biasanya lebih parah.
Sorry kalo contohnya begitu, pas lagi kepikir yg itu aja. Hehe.
Ronny
saya sendiri bukan penganut EYD yang kaku, terlihat dari penggunaan
huruf kecil di awal kalimat. jadi saya sendiri pun terkena gelar
"bertolak-belakang" kalau memang setuju dengan ungkapan dari MDAMT
(sayang beliau sendiri tidak pernah ikut lagi dalam diskusi ini).
ikhlasul amal yang saya kenal sebagai pengguna bahasa indonesia yang
baik dan benar, malah tidak ikut dalam diskusi ini, padahal saya
mengharapkan masukan dari beliau.
> Sebelum doyan komputer, saya termasuk penganut aktif Bahasa Indonesia.
> Masih dengan mesin ketik, saya jadi redaksi majalah di SMA. Dunia komputer
> lah yang kemudian bikin saya menyerah.
>
> Nah, kenapa nggak kita coba sih, menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia bisa
> lincah? Dan maksud saya bukan kalimat seperti dalam mail ini. Saya lebih
> suka kita bisa lincah tanpa harus memakai ungkapan khas Betawi seperti
> "sih". Kalau "nah" atau "lah" sih masih boleh lah. Ah, tapi barangkali
> pakai
> "sih" juga boleh.
terus terang, membatasi diri untuk menulis hanya dalam bahasa
indonesia ternyata cukup sulit buat saya. biasanya dalam mengetik
sebuah tulisan cuma butuh waktu 2 - 3 menit, tadi saya menghabiskan
waktu hampir 10 menit. saya memang lebih terbiasa mengetik campur-aduk
dengan istilah asing. bukan berarti saya anti terhadap hal ini lho ya,
saya cuma mencoba untuk merasakan bagaimana rasanya menulis hanya
dalam bahasa indonesia dan menghindari sedapat mungkin istilah asing
ataupun serapan.
membicarakan istilah asing, ada satu istilah yang saya lihat
ditempelkan di dalam jendela "busway", yaitu "difable". tadinya saya
berpikir ini salah ketik (seperti yang dituliskan oleh jay di
http://yulian.firdaus.or.id/2004/06/07/saalh-keitk/, dan juga saya
sendiri di http://www.mail-archive.com/nusa...@yahoogroups.com/msg02644.html).
ternyata istilah "difable" itu adalah istilah yang sedang digalakkan
penggunaannya di indonesia, seperti yang terlihat pada
http://www.google.co.id/search?q=difable.
pertanyaannya, karena dalam konteks (kata konteks ini saya tidak tahu
padanan dalam bahasa indonesia yang bukan serapan) penggunaan kata
"difable" ini ditujukan untuk orang asing, bukankah hal ini sia-sia
saja? siapa orang asing / pengguna bahasa inggris yang langsung
mengerti maksud dari kata "difable" ini?
pertanyaan lanjutannya, apakah memang pemilihan kata "difable" ini
menunjukkan bahwa orang indonesia sendiri tidak bangga dengan
penggunaan bahasa indonesia, dan malah berusaha menciptakan kata baru
yang terdiri dari penggabungan kata-kata asing?
Hai Bang Ryo. Salam kenal ya. He..he.. kita sama dong, sealiran. Haduh
mau nge-bahas topik ini lagi nih? Aku gak ikutan dulu ya. Pendapat ku
soal topik ini tidak jauh dari topik yang pernah ku ajukan dulu:
Darimana Asal Lingua Franca? Mau UAS dulu nih.
HPG ( Harus Pergi Dulu), terjemahan bebas dari GTG.
Zaki Akhmad
http://www.zakiakhmad.info
Betul,kalau saya denger rekan2 yang bicara Hokkien atau Hindi mereka
langsung balik menggunakan bahasa Inggris begitu menyangkut bidang
komputer/IT.
> sekedar ikut bincang2 sesuai 'perintah' bos saya carlos patriawan (hallo
> pal, howdy your sillicon? :D ),
Ah jangan gitu dong,mungkin bagus jika Pak Fatih bisa cerita banyak
karena punya pengalaman sehari-hari di negara atau lingkungan dimana
masyrakatnya bisa maju melalui sektor teknologi tinggi.
Pertanyaanya bisa dimulai sbb:
Pola pendidikan disono bagaimana sih ?
Kenapa universitas seperti IIT bisa punya ribuan lulusan world-class ?
Faktor apa saja disana sehingga masyrakatnya berbondong2 belajar IT dan
hitek sektor lain (seperti bioengineering) ?
mungkin perlu bikin thread baru Pak.
Carlos
Kalau mau ngobrolin bahasa Indonesia, bisa join ke mailing-list BAHTERA, di sana banyak sekali
"pakar" bahasa Indonesia.
Salin taruh : <--- maksudnya "copy paste" hehehehe ...
Selamat Datang di BAHTERA.
BAHTERA adalah akronim dari BAhasa dan TERjemahan IndonesiA, sebuah
forum bagi diskusi mengenai bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa
Indonesia.
PEDOMAN UMUM:
1) Milis ini didirikan untuk tujuan yang khusus, yaitu membahas
topik-topik penerjemahan dan bahasa.
BILA DISALAHGUNAKAN, PIHAK PENGELOLA MILIS BERHAK UNTUK SEGERA
MEMECAT ANGGOTA YANG BERSANGKUTAN, TANPA MEMBERIKAN PERINGATAN ATAU ALASAN
APAPUN.
2) Setiap anggota bebas mengirim pesan mengenai berbagai topik, selama
berkaitan dengan bahasa dan terjemahan Indonesia. Sedapat mungkin,
gunakan
bahasa Indonesia dalam forum ini.
3) Untuk mengirim pesan dan berbicara dengan peserta lain, kirim email
ke:
Atau kunjungi ruang pesan di:
http://groups.yahoo.com/group/bahtera/messages
lalu klik [Post] di lajur kiri
(Catatan: Sebelumnya, Anda harus mendaftar di yahoogroups)
4) Pada saat mengirim pesan untuk pertama kali, mohon perkenalkan diri
anda. Partisipasi aktif dari Anda sangat kami harapkan demi berhasilnya
forum ini. Berbagai saran dan kritik pun kami tunggu dengan senang
hati.
5) Bila ingin mengundurkan diri, kirim email kosong ke:
Pastikan email ini dikirim dari alamat yang terdaftar di Bahtera dan
yang akan diundurkan.
6) Bila ingin menghubungi penanggung jawab list (karena membutuhkan
bantuan atau penjelasan) kirim email ke:
RINGKASAN ALAMAT:
a) <bahtera-...@yahoogroups.com>
Alamat untuk mendaftar (subscribe)
b) <bahtera-u...@yahoogroups.com>
Alamat untuk mengundurkan diri (unsubscribe)
Pastikan anda mengirim email dari alamat yang terdaftar di Bahtera dan
yang akan diundurkan.
c) <bah...@yahoogroups.com>
Alamat utama untuk mengirimkan pesan dan 'berbicara' dengan peserta
lainnya
d) <bahter...@yahoogroups.com>
Alamat untuk menghubungi penanggung jawab list
e) http://help.yahoo.com/help/us/groups/messages
Ruang bantuan umum yahoogroups
f) http://groups.yahoo.com/group/bahtera/messages
Ruang pesan-pesan Bahtera. Di sini Anda dapat mengirimkan pesan atau
menanggapi pesan.
g) http://www.geocities.com/Athens/Olympus/7484
Alamat Wisma Bahtera
Salam
__________________________________
Yahoo! for Good - Make a difference this year.
http://brand.yahoo.com/cybergivingweek2005/
Yang saya soroti dalam diskusi sebelumnya adalah penggunaan Bahasa
Indonesia dalam antarmuka weblogs.or.id. Dasar pemikirannya adalah
weblogs.or.id untuk orang Indonesia (kecuali bila saya salah tangkap),
maka seyogyanya juga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar.
Penggunaan Bahasa Indonesia di milis atau di tempat-tempat lain di
Internet juga dianjurkan agar kosa kata baru di bidang TI pada khususnya
dapat lebih diterima atau paling tidak diketahui oleh masyarakat luas.
Tentu beberapa ungkapan tidak dapat ditemukan padanannya secara
langsung. Ungkapan asing biasanya ditulis dalam huruf miring atau
ditulis apa adanya atau dalam tanda kutip bila tidak dimungkinkan
menulis dalam HTML di milis. Tidak dialihkan ke dalam Bahasa Indonesia
juga tidak apa-apa. Tapi penggunaan kosa kata yang sudah ada padanannya
dalam tentu akan berguna bagi pembaca dan generasi setelah kita (ooh
ternyata unduh = download ya). Walaupun kedengaran aneh, "wagu", konyol
atau tidak "cool", tentu patut kita hargai usaha Pusat Bahasa kita.
Kalau tidak setuju, ya silakan ajukan kata lain.
Menulis di Blog dalam Bahasa Indonesia juga dianjurkan dengan alasan
yang sama, namun sah-sah saja bila menggunakan bahasa lain jika memang
targetnya bukan untuk orang Indonesia semata.
Demikian.
Tiap negara mungkin beda kasusnya. Di Finlandia, semua istilah TI ada
padanannya, walaupun kadang dialihkan secara literal, misalnya
sähkoposti (sähko = listrik, posti = surat/pos) untuk email,
muistikortti (muisti = memori/ingatan, kortti = kartu) untuk "memory
card" dsb. Kalau ada dua orang Finlandia ngomongin komputer, pasti dia
ngomong pakai bahasa Finlandia, termasuk kosa kata komputer dalam bahasa
Finlandia. Kalaupun menggunakan kata Inggrisnya, pasti diucapkan dalam
lafal Finlandianya (misalnya 'button' diucapkan 'button' (but-ton),
bukan 'baten'). Kalau ada orang non Finlandia yang ga bisa ngomong
Finlandia ikut nimbrung baru deh dia tukar 100% ke Inggris termasuk
pelafalannya.
wagu atau tidak itu kan itu soal cita rasa dan kebiasaan :-) pertama
kali dengar google/yahoo pun saya enggan pakai service-nya karena
namanya di telinga saya kurang elit bin norak he..he.. tapi usulan saya,
sebelum 'kamus' istilah baru ini tersedia cukup (gampang dicari, mudah
didapat), usahakan kalau menggunakan istilah baru selalu menyertakan
kata aslinya (yang diterjemahkan) dalam kurung. setidaknya sampai bbrp
waktu. dulu, waktu masih suka baca buku-buku statistika, saya cenderung
menghindari buku-buku terbitan orang bandung (sorry, bukan sara bukan
sihir), bahkan menghindari sama sekali buku-buku yang ditulis dalam
bahasa Indonesia (bisa jadi karena faktor kedalaman materi). bayangkan
saja, dulu saya ketemu kata-kata terok, pemairan, sarang, elon, jalur,
dll. yang tidak ada 'kamusnya'. kalau ada kata asing (bahasa inggris)
yang ndak ngerti, gampang cari kamusnya, ironisnya, saat tidak memahami
bahasa sendiri, malah susah cari kamus. ini kan menyiksa orang namanya.
ditambah lagi, tidak jarang penterjemah kurang memahami konteks/lingkup
ilmu yang diterjemahkan (penguasaan materi), sehingga membaca buku tsb.
bisa 10x lebih sulit (ini seperti yang diungkapkan Ronny Haryanto).
selain itu, mengingat tidak sedikit sebenarnya kata-kata yang kita serap
ke dalam bahasa Indonesia, sebaiknya alternatif ini juga jangan
ditinggalkan, dibandingkan harus 'memaksakan' menggunakan kata-kata yang
asli (asli?) bahasa Indonesia yang jarang digunakan orang.
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
--
Aku pasang signature deh di tempatnya Mas Adi. "Zaki Akhmad" http://www.zakiakhmad.info
Tarifnya, minta Yahoo ID Mas Adi aja ya.
Menulis di Blog dalam Bahasa Indonesia juga dianjurkan dengan alasan
yang sama, namun sah-sah saja bila menggunakan bahasa lain jika memang targetnya bukan untuk orang Indonesia semata.
Yang saya soroti dalam diskusi sebelumnya adalah penggunaan Bahasa
Indonesia dalam antarmuka weblogs.or.id. Dasar pemikirannya adalah
weblogs.or.id untuk orang Indonesia (kecuali bila saya salah tangkap),
maka seyogyanya juga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar.
Pertama, kita membentuk sebuah kebiasaan, yang pada akhirnya kebiasaan
itu akan membentuk diri kita.
Jika tidak, maka kita hanya akan menjadi korban gegar budaya.
--
Steal the time, take a song and be glad. Be free as the birds, don't be sad.
Your time will come, I'll make you feel it.
Dari perspektif lain,mungkin bisa diteliti juga,apakah ada faktor siapa
mantan penjajahnya ?
Apakah masalah tersebut ada ditiap negara yang pernah terjajah ?
Bagaimana cara pandang negara ex-kolonial Inggris seperti India dan
Malaysia terhadap penggunaan bahasa aslinya untuk istilah teknologi ?
Carlos
Duh, Mas Adi kok jadinya beneran dipasang di signature sih? Lagian Mas
Adi kan memang menawarkan ruang untuk itu. Tapi jadi serius nih? Ah,
jadi kepengen malu.
Sori, OOT.
Zaki Akhmad
Apakah masalah tersebut ada ditiap negara yang pernah terjajah ?
Bagaimana cara pandang negara ex-kolonial Inggris seperti India dan
Malaysia terhadap penggunaan bahasa aslinya untuk istilah teknologi ?
Dalam skala lebih lokal :), ini pernah aku praktekkin juga. Beberapa
Minggu di Perancis, tiap hari Sabtu-Minggu ke Paris, aku menghindari
penggunaan Bahasa Perancis di tempat resmi (bandara dll), kecuali
di toko2 kecil. Kalau pakai Bahasa Inggris, kita kayak turis. Kalau pakai
Bahasa Perancis, kita kayak pengungsi dari Indochina.
Oh ya, mereka juga pakai kata "weekend" -- sama dengan orang Jakarta.
dalam meeting saya yang selalu mengkritisi dan memaksa mereka untuk
berbahasa inggris, walaupun kadang_kdang mereka selalu switch
automaticly ke dalam bahasa perancis. lebih fun lagi kalau kita bisa
berbahasa mereka mereka lebih welcome dan open...
regards
adeji
Kalau meeting persh hitek di valley,dari 25 engineers yang ikutan
cuman ada 2 orang amerika biasanya,9 dari india,3 dari pakistan,5
vietnam,4china,1 arab dan 1 indonesia. Sebelum meeting ya mungkin
sekali mereka ngomong bahasa asli (Hindi,urdu,tamil,vietnam,hokkian)
mereka apalagi kalau mereka lagi mau nge-gosip tapi begitu meeting
dimulai ya balik lagi ke bahasa pemersatu yaitu bahasa inggeris.
Untuk kehidupan diluar persh juga kita gak mengalami hal2 yang
aneh,maklum kalau kita ke bank atau ke toko saja
misalnya,resepsionis/atau yang jualan tetap saja orang India,China atau
Vietnam.
Ada trend baru sekarang ,di persh all-hands meeting (artinya meeting
untuk mengundang seluruh team dibawah engineering groups), kadang2
bosnya keceplosan "waktu kita muda dulu,kita datang ke amerika karena
inilah negeri LAND of OPPORTUNITY, tapi sekarang jaman sudah berubah
kawan-kawan, Land of OPPORTUNITY adalah negeri tempat kita lahir"
(India atau China maksudya).
Tentu saja didalam hati orang India tsb mereka bersorak-sorai sementara
se-group engineer American dan seorang Indonesia(maksudnya gue) hanya
bisa bergumam
"Sialan loe" :-)
Carlos
Soal kamu[*] memilih menggunakan huruf kecil di awal kalimat, bukan
hanya tidak mengikuti EYD, melainkan terhadap banyak ejaan bahasa lain
yang berbasis huruf Latin. Jadi menurut saya justru lebih condong
sebagai "pemberontakan terhadap kelaziman penulisan huruf Latin." Jadi
kemungkinan besar bukan hanya pemakai EYD yang komplain (jika mereka
peduli), melainkan penutur bahasa Inggris pun turut keberatan. Apalagi
jika blogmu yang didatangi, yang menurut saya kualitas pemakaian
bahasa Inggrisnya sangat baik.
*) "kamu": kata ganti yang akrab dan santai untuk orang kedua.
> saya mungkin sealiran dengan zaki, dalam memandang wacana ini. adakah
> yang bisa memberikan padanan kata dalam bahasa indonesia, istilah
> asing "reinventing the wheel?" itu yang saya rasakan pertama kali
> membaca tulisan MDAMT. belum lagi istilah "lingua franca", apakah
> memang sulit sekali mempergunakan padanan dalam bahasa indonesia (jika
> memang ada)?
Saya sendiri tidak selalu dengan mudah mendapatkan padanan yang
sesuai, terutama untuk istilah mutakhir. Salah satu rujukan saya
selama ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut saya, masalah
yang lebih penting dalam pemakaian bahasa Indonesia saat ini adalah
mengurangi kesenjangan pemakaiannya. Banyak ahli membicarakan padanan
istilah dan teori tata bahasa yang menurut saya memang sangat tinggi
tingkatannya, sedangkan di sisi lain pemakaian hasil-hasil ilmu yang
berkait dengan kebahasaan itu di masyarakat masih rendah kualitasnya.
Pada saat di satu sisi para ahli harus menyediakan solusi untuk
istilah-istilah asing yang menyerbu perbendaharaan kosa kata kita,
sebagian masyarakat masih rancu akan pemakaian awalan "di-" dan kata
hubung "di".
Hasilnya: seringkali diskusi tentang pemakaian bahasa Indonesia
seolah-olah "merisaukan" hadirin karena mereka akan terbelenggu dengan
pemakaian istilah aneh-aneh dan sekian puluh aturan yang terkesan
rewel. Seperti halnya bahasa lain di dunia ini yang memiliki tata
bahasa (pada sisi keilmuan disebut "aspek kecendekiaan" karena bisa
diformulasikan dan mengikuti kaidah), tentunya aturan-aturan dalam
bahasa Indonesia tidak dimaksudkan untuk mengekang penuturnya.
Inisiatif untuk lebih memasyarakatkan, dalam arti berusaha menggunakan
bahasa Indonesia pada ungkapan-ungkapan yang bersifat akrab, ini yang
saya rasa masih kurang. Bahkan di beberapa forum di Internet yang
membicarakan bahasa Indonesia pun saya amati hadirin di dalamnya
terkesan ogah mengikuti aturan kebahasaan.
Tentu saja ini bukan keluhan atau ofensif terhadap kondisi masyarakat
yang sedang menapaki proses. Saya lebih suka hal ini dianggap semacam
"kompetisi bebas" dan kesadaran bagi penutur untuk memilih yang lebih
baik. Toh, cara berbahasa mewakili alur berpikir penuturnya.
--
amal