---------- Forwarded message ----------
From: Satrio Arismunandar <
satrioari...@yahoo.com>
Date: Thu, 20 Jan 2005 00:45:08 -0800 (PST)
Subject: Re: [technomedia] Mengapa Mas KRMT Roy Suryo Disebut Pakar
Multimedia?(Ini serius!)
To:
techn...@yahoogroups.com
Bukan salah masyarakat (awam), kalau menjuluki
seseorang sebagai pakar. Karena di mata publik, orang
ini memang tampil sebagai pakar: selalu bicara tentang
pengetahuan tertentu secara meyakinkan, dan mudah
dipahami masyarakat. Masyarakat awam tak punya
kemampuan (ilmu) untuk mengkritisi, jika si "pakar"
ini salah ucap.
Kalau memang si A (tak usah menyebut nama) sebenarnya
bukan pakar, dan penjelasannya sering salah, adalah
tugas pakar yang sebenarnya atau lembaga asosiasi
dalam bidang ilmu/pengetahuan terkait, untuk
menunjukkan letak kesalahan itu pada masyarakat.
Selama kritik atau sanggahan tidak dilakukan, ya tentu
saja "kepakaran" si A itu tetap bertahan. Masyarakat
tak melihat ada yang salah kok!
Seharusnya pula, komunitas ilmiah atau asosiasi ini
memberi alternatif, menunjukkan siapa-siapa saja yang
sebetulnya pakar dan pantas jadi narasumber wartawan.
Jangan cuma menyalahkan masyarakat dan wartawan.
Sehingga media massa dan masyarakat bisa beralih ke
sumber-sumber informasi yang lebih kompeten, lebih
bertanggungjawab.
Ini baru soal multimedia. Coba, bagaimana jika bicara
tentang mikrobiologi, kimia, nuklir, astronomi, fisika
kuantum, dsb. Kewajiban mereka yang tahu untuk bicara,
dan mempermudah akses bagi masyarakat dan media massa
untuk bertanya dan berkonsultasi. Jangan asyik dengan
diri sendiri. Kita tak bisa menghakimi orang yang
memang tak punya bekal ilmu, dalam menilai mana yang
"pakar" dan mana yang "pakar sebenarnya."
Rio
--- arif pitoyo <
arifp...@yahoo.com> wrote:
> Sebaiknya tidak langsung menyebut nama orang.
> karena kepakaran seseorang bisa dilihat dari
> berbagai sisi, sama juga dengan tujuan di balik
> pernyataan2nya bisa dilihat dari segala sisi.
> Ada sisi dimana seseorang dijuluki pakar karena dia
> merupakan public figure.
> Public figure justru lebih mengena dibandingkan
> kemampuannya secara spesifik.
> Seperti juga saat pemilihan Presiden, SBY sangat
> mengandalkan publiknya, Megawati mengandalkan figur
> bokapnya. Sedangkan capres yg memiliki kemampuan
> menejerial lebih baik tidak dipilih.
> Itulah mengapa seseorang layak menyandang pakar bila
> dia lebih dikenal publik dan ilmunya dipandang
> sangat memasyarakat dan sangat mudah dicerna,
> menarik dan update, apalagi dengan cara penyampaian
> yang simpatik dan menarik.
> Figur seperti itu tak bisa disalahkan bila publik
> menyebutnya pakar.
> Mungkin orang-orang yang banyak mengkritik figur
> seperti itu perlu mengikuti jejaknya agar sama
> seperti publik figur tersebut, menjadi terkenal.
> karena kritikan datang umumnya karena ada perasaan
> kecemburuan dan menjatuhkan bukannya kritik
> membangun
>
> netralterhadapsemuapakar
> -api-
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the
> Yahoo! Terms of Service.
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
http://promotions.yahoo.com/new_mail