bahasa pemrograman Batak: apa kabarnya?

233 views
Skip to first unread message

Ryo Saeba

unread,
Jan 3, 2006, 4:26:31 AM1/3/06
to tekno...@googlegroups.com
http://www.master.web.id/mwmag/issue/02/content/pengembangan-batak/pengembangan-batak.html

saya ingat dulu sekitar tahun 1998, terjadi diskusi yang sangat ramai
(kalau tidak bisa dikatakan sebagai "perang kata-kata" alias
"flame-war") di "mailing list" (waduh, saya tidak tahu padanan yang
tepat untuk istilah ini) informatika ITB, antara pencipta bahasa
pemrograman Batak, bernaridho hutabarat, dengan "seluruh dunia" (saya
sendiri cuma jadi pemirsa). pada intinya semua yang berkomentar
terhadap Batak ini punya pandangan yang "miring".

memang dalam bahasa pemrograman Batak masih menggunakan bahasa
inggris, tapi sekurangnya ini adalah bahasa pemrograman buatan orang
indonesia, tidak seperti "java" yang walaupun dinamakan dengan nama
salah satu pulau di indonesia namun bukan buatan orang indonesia.

catatan tidak penting: ridho ini juga salah satu korban teknik "ad
hominem" dari roy suryo, ketika ridho menawarkan diskusi satu meja
dengan roy suryo.

--
I solemnly swear that I'm up to no good
http://data.startrek.or.id
http://kiozk.com

Monang Setyawan

unread,
Jan 3, 2006, 6:50:00 AM1/3/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/3/06, Ryo Saeba <ryos...@gmail.com> wrote:
>
> http://www.master.web.id/mwmag/issue/02/content/pengembangan-batak/pengembangan-batak.html
>
> saya ingat dulu sekitar tahun 1998, terjadi diskusi yang sangat ramai
> (kalau tidak bisa dikatakan sebagai "perang kata-kata" alias
> "flame-war") di "mailing list" (waduh, saya tidak tahu padanan yang
> tepat untuk istilah ini) informatika ITB, antara pencipta bahasa
> pemrograman Batak, bernaridho hutabarat, dengan "seluruh dunia" (saya
> sendiri cuma jadi pemirsa). pada intinya semua yang berkomentar
> terhadap Batak ini punya pandangan yang "miring".
>

Bapak yang satu ini memang sering terlibat perang
dia-lawan-seluruh-dunia (yang ikutan milis indo-oracle pasti udah tahu
sepak terjangnya). Beberapa di antaranya bermutu, tapi kebanyakan
perang emosional. Setahu saya perang terakhir dia di milis adalah
mengenai masalah perlunya pendidikan S1 Informatika di Indonesia
(dipicu dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0408/05/ipt02.html
dan http://www.sinarharapan.co.id/berita/0406/10/ipt02.html).

Btw, Batak ini belum ada implementasinya ya (konsep doang)? Saya
sebetulnya tertarik dengan memory modelnya.

> memang dalam bahasa pemrograman Batak masih menggunakan bahasa
> inggris, tapi sekurangnya ini adalah bahasa pemrograman buatan orang
> indonesia, tidak seperti "java" yang walaupun dinamakan dengan nama
> salah satu pulau di indonesia namun bukan buatan orang indonesia.
>
> catatan tidak penting: ridho ini juga salah satu korban teknik "ad
> hominem" dari roy suryo, ketika ridho menawarkan diskusi satu meja
> dengan roy suryo.

catatan yang tidak kalah tidak penting : salut euy, mereka dua orang
yang selalu melawan dunia (ada hubungan sodara beda ayah beda ibu kali
:)

>
> --
> I solemnly swear that I'm up to no good
> http://data.startrek.or.id
> http://kiozk.com
>


--
Demi masa..

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 3, 2006, 10:21:45 AM1/3/06
to teknologia
Setahu saya perang terakhir dia di milis adalah
> mengenai masalah perlunya pendidikan S1 Informatika di Indonesia
> (dipicu dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0408/05/ipt02.html

Kalau SKTI okeh sajalah.

> dan http://www.sinarharapan.co.id/berita/0406/10/ipt02.html).

Masalah S1,D3 penggajian dari contoh URL diatas sebenarnya hanya
terjadi di Indonesia *doang*.Saya banyak contoh lulusan SMA tapi jenius
yang living standardnya lebih tinggi dari pHD sekalipun.

Di masyrakat yang mengandalkan kompetensi dan pengalaman,latar belakang
pendidikan tidak terlalu penting.Yang penting apakah kompetensi dan
pengalamanya sesuai dengan kondisi market,alias supply and demand.

Contohnya,lulusan SMA yang expert di SONET jauh lebih dihargai
dibanding Master yang hanya expert pada T1 framing.Ini kejadian nyata
lho. Kedua,karena supply vs demand, EE engineer yang master Analog
lebih dihargai daripada digital.


Terus di contoh diatas ada kata2 'bantuan luar negeri" lagi yang hampir
haram hukumnya.


> Btw, Batak ini belum ada implementasinya ya (konsep doang)? Saya
> sebetulnya tertarik dengan memory modelnya.

He he he... gak heran kenapa belum ada implementasinya (mungkin karena
berasal dari tempat yang sama)

> > memang dalam bahasa pemrograman Batak masih menggunakan bahasa
> > inggris, tapi sekurangnya ini adalah bahasa pemrograman buatan orang
> > indonesia, tidak seperti "java" yang walaupun dinamakan dengan nama
> > salah satu pulau di indonesia namun bukan buatan orang indonesia.
> >
> > catatan tidak penting: ridho ini juga salah satu korban teknik "ad
> > hominem" dari roy suryo, ketika ridho menawarkan diskusi satu meja
> > dengan roy suryo.
>
> catatan yang tidak kalah tidak penting : salut euy, mereka dua orang
> yang selalu melawan dunia (ada hubungan sodara beda ayah beda ibu kali
> :)
>

Buat saya sich tidak,karena memang mereka maunya begitu sich,bakat alam
barang kali :-)

Anyway untuk memajukan IT (lagi-lagi harus ditulis begini) harus
diperbanyak
bisnis bisnis baru (dan bisnis lama) dalam sektor IT sehingga terlihat
bahwa dengan mengerjakan bisnis/hal IT, "living standard" bisa
meningkat.Di negara lain itu sudah terjadi.Jadi masyrakat di"sono noh"
berbondong-bondong belajar IT karena dengan belajar IT sudah terbukti
bisa hidup enak.

Cara pendekatannya di negeri lain gak ribet koq,pemerintahnya bikin
peraturan (bisnis/ekonomi/pendidikan) sedemikian rupa sehingga
investasi di bidang IT meningkat,termasuk meng-endorse(apa nih
indonesianya?) sektor baru yang tadinya tidak ada (seperti
outsourcing).

FYA, dari buku ekonomi statistik yang saya baca,ternyata Indonesia
masih diurutan bottom 50 dan dibawah Iraq dalam kemudahan berbisnis :-)

Carlos

James A

unread,
Jan 3, 2006, 1:02:55 PM1/3/06
to tekno...@googlegroups.com
--- Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
> Anyway untuk memajukan IT (lagi-lagi harus ditulis begini) harus
> diperbanyak
> bisnis bisnis baru (dan bisnis lama) dalam sektor IT sehingga terlihat
> bahwa dengan mengerjakan bisnis/hal IT, "living standard" bisa
> meningkat.Di negara lain itu sudah terjadi.Jadi masyrakat di"sono noh"
> berbondong-bondong belajar IT karena dengan belajar IT sudah terbukti
> bisa hidup enak.

Mungkin mesti dijelaskan di sini, negara mana yang dimaksudkan dalam "berbondong-bondong" ? Karena
kalau dari yang saya dengar, misalnya di (west) Eropa, minat untuk belajar IT sudah semakin
menurun karena terlalu banyak perusahaan IT bangkrut dan pemutusan hubungan kerja di sektor IT.




__________________________________
Yahoo! for Good - Make a difference this year.
http://brand.yahoo.com/cybergivingweek2005/

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 3, 2006, 9:23:59 PM1/3/06
to teknologia
James A wrote:
> --- Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
> > Anyway untuk memajukan IT (lagi-lagi harus ditulis begini) harus
> > diperbanyak
> > bisnis bisnis baru (dan bisnis lama) dalam sektor IT sehingga terlihat
> > bahwa dengan mengerjakan bisnis/hal IT, "living standard" bisa
> > meningkat.Di negara lain itu sudah terjadi.Jadi masyrakat di"sono noh"
> > berbondong-bondong belajar IT karena dengan belajar IT sudah terbukti
> > bisa hidup enak.
>
> Mungkin mesti dijelaskan di sini, negara mana yang dimaksudkan dalam "berbondong-bondong" ? Karena
> kalau dari yang saya dengar, misalnya di (west) Eropa, minat untuk belajar IT sudah semakin
> menurun karena terlalu banyak perusahaan IT bangkrut dan pemutusan hubungan kerja di sektor IT.
>
>

Wah senang saya ada yang seteliti ini :-)

Betul seperti yang Pak James temukan dan hal ini sudah pernah dibahas
sebelumnya (lihat thread pendidikan dan kreativisme).

Memang benar minat untuk belajar IT/Engineering sudah menurun drastis
di US (dan negara barat lainnya) karena sebagian dari mereka (generasi
mudanya) sudah merasa kalah dulu dengan engineers dari
India,China,Vietnam.Ini hanya satu alasan saja.

Sebaliknya saya lihat sendiri pembelajaran IT di India sangat
menggeliat (berbondong-bondong) karena begitu banyaknya peluang kerja
dari persh MNC yang pindah atau outsourcing kesana (istilah kasarnya
yang saya lihat,kalau kucing aja punya kemampuan C++,sudah pasti dihire
tuch).Hal yang sama juga terjadi di China (walau saya gak langsung
lihat) dan negara2 lain,ini berdasarkan semua informasi yang saya
dapatkan termasuk "The World Is Flat".

Anehnya di Indonesia (lagi-lagi) problemnya mirip-mirip dengan problem
di Jerman dan AS padahal situasi ekonominya beda jauh ;-)


Carlos

Ryo Saeba

unread,
Jan 3, 2006, 9:34:06 PM1/3/06
to tekno...@googlegroups.com
On 1/4/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:

> Anehnya di Indonesia (lagi-lagi) problemnya mirip-mirip dengan problem
> di Jerman dan AS padahal situasi ekonominya beda jauh ;-)

terlalu banyak lulusan "IT" di indonesia yang "buta" terhadap
teknologi informasi di dunia nyata / dunia bisnis. kalau mau melihat
situasinya secara langsung, gabung saja ke milis itcenter dan
it-center di yahoogroups.

yang belum berstatus lulusan pun sudah terlihat kualitasnya, dengan
meminta informasi mengenai sebuah topik yang "lengkap" dan
"step-by-step" ke milis, yang sudah bisa ditebak tidak ada yang
bersedia membantu.

Muhamad Carlos Patriawan

unread,
Jan 3, 2006, 10:24:39 PM1/3/06
to teknologia
Ryo Saeba wrote:
> On 1/4/06, Muhamad Carlos Patriawan <cpat...@gmail.com> wrote:
>
> > Anehnya di Indonesia (lagi-lagi) problemnya mirip-mirip dengan problem
> > di Jerman dan AS padahal situasi ekonominya beda jauh ;-)
>
> terlalu banyak lulusan "IT" di indonesia yang "buta" terhadap
> teknologi informasi di dunia nyata / dunia bisnis. kalau mau melihat
> situasinya secara langsung, gabung saja ke milis itcenter dan
> it-center di yahoogroups.

Saya sebenarnya sudah lama berpendapat demikian.Berdasarkan
analisa,pengalaman dan "deep thought" sekian lama saya ketemu beberapa
penyebabnya.Yang jelas ini bukan salah mereka(para lulusan tsb) tapi
salah langkah 5 dekade arah pembangunan.Para lulusan tersebut
sebenarnya hanya korban dari situasi yang ada.

Salah duanya adalah pemerintah negeri ini tidak pernah menjadikan
sektor IT sebagai salah satu sektor utama untuk pemasukan negara (alias
selalu mengejar SDA) atau bahkan punya political will untuk
memajukannya ; dan kedua,negeri yang 80% ekonominya dikuasai bisnis
konglomerat ini,para konglomeratnya hanya menggunakan IT/hitek sebagai
penunjang/pelengkap bisnisnya saja.

Terbukti jarang sekali ada persh IT lokal (pengembang,consulting atau
integrator) di Indonesia yg independen/bukan dari group konglomerat
dan/atau mempunyai kualitas top di wilayah Asia Tenggara..

Carlos

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages