OOT: Gimana nasib FOSS di Indonesia setelah SBY ketemu BG ?

54 views
Skip to first unread message

Arie Reynaldi Z

unread,
May 26, 2005, 3:15:33 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
Kira-kira apa ya yang disodorin bill gates ke SBY ? Kalau sampe
windows dikasih diskon gede2an, lalu nasib opensource bagaimana ? IGOS
akan berbuat apa ?

*yang hanya pengguna, bukan developer *
--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id

Ikhlasul Amal

unread,
May 26, 2005, 3:36:54 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/26/05, Arie Reynaldi Z <rey...@gmail.com> wrote:
>
> Kira-kira apa ya yang disodorin bill gates ke SBY ? Kalau sampe
> windows dikasih diskon gede2an, lalu nasib opensource bagaimana ? IGOS
> akan berbuat apa ?
>

Jawaban sorak-sorai ala Slashdot saja deh:
bahkan di negara yang Windows bisa diperoleh dengan harga murah
(dibajak, waktu itu topiknya tentang kunjungan BG ke Cina), orang
masih memilih Linux.

Kalau dikaitkan dengan IGOS, ya tentu lain ceritanya, karena itu badan
bentukan pemerintah. Yang terus jalan kan pemakai FLOSS secara umum.

--
amal

Ronny Haryanto

unread,
May 26, 2005, 3:45:51 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Thu, May 26, 2005 at 02:15:33PM +0700, Arie Reynaldi Z wrote:
> Kalau sampe windows dikasih diskon gede2an, lalu nasib opensource
> bagaimana ?

Strengthnya opensource bukan cuma di harga saja, tapi freedom. Ini yg
mestinya ditonjolkan, soalnya hampir "gak bisa dilawan", hehe.

Ronny

sn00born

unread,
May 25, 2005, 10:51:21 PM5/25/05
to tekno...@googlegroups.com
Ikut nambah bang...
Kalau buat pemula seperti saya, yang juga "gak bisa dilawan" adalah
*kesetiakawanan* (kawanan ?) para penggunanya. Yang jago bantu yang
belum bisa, gak selalu soal profit. Mungkin masih ada sisa thrill-nya
waktu dulu belajar, dan juga mungkin sama belajar dari komunitas.

Nah kalo ini sampe hilang, kalo jawabnya-nya RT*M, kalo...
wah pasti bakal redup tuh gnu/linux.

Saya baca di beberapa review (sorry linknya lupa) beberapa distro linux
sudah mulai ditohok oleh 600+ more in SUN SOLARIS.

We certainly need a much more soldiers as we need more generals.
Wah nulisnya bener gak yah.... sekian dari anak bawang

Ikhlasul Amal

unread,
May 26, 2005, 5:11:26 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/26/05, sn00born <sn00...@telkom.net> wrote:
>
> Ikut nambah bang...
> Kalau buat pemula seperti saya, yang juga "gak bisa dilawan" adalah
> *kesetiakawanan* (kawanan ?) para penggunanya. Yang jago bantu yang
> belum bisa, gak selalu soal profit. Mungkin masih ada sisa thrill-nya
> waktu dulu belajar, dan juga mungkin sama belajar dari komunitas.
>
> Nah kalo ini sampe hilang, kalo jawabnya-nya RT*M, kalo...
> wah pasti bakal redup tuh gnu/linux.

1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat. Banyak pertanyaan
yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.

2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
kernel?

3) bagaimana jika para penanya tersebut setelah tahu siap menjadi
penjawab berikutnya? Dengan bekal yang kelihatannya sedikit tersebut
tulislah menjadi informasi baru, sehingga siap menjadi jawaban untuk
penanya berikutnya.

--
amal

Ronny Haryanto

unread,
May 26, 2005, 5:22:54 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Thu, May 26, 2005 at 03:51:21PM +1300, sn00born wrote:
> Kalau buat pemula seperti saya, yang juga "gak bisa dilawan" adalah
> *kesetiakawanan* (kawanan ?) para penggunanya. Yang jago bantu yang
> belum bisa, gak selalu soal profit. Mungkin masih ada sisa thrill-nya
> waktu dulu belajar, dan juga mungkin sama belajar dari komunitas.

Saya masih menemukan ini di komunitas pengguna Mac dan Oracle sih
(dari pengalaman pribadi). Jadi ya.. tau deh.

Ronny

risiyanto budi

unread,
May 26, 2005, 5:25:09 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Thu, 26 May 2005 11:11:26 +0200
Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:

>
>
> 1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat. Banyak pertanyaan
> yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
>
> 2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
> Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
> kernel?
>
> 3) bagaimana jika para penanya tersebut setelah tahu siap menjadi
> penjawab berikutnya? Dengan bekal yang kelihatannya sedikit tersebut
> tulislah menjadi informasi baru, sehingga siap menjadi jawaban untuk
> penanya berikutnya.
>

Hehe,
seringkali suatu saat ketemu murid, bukan pas sesi mengajar,
dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab:

1. bagaimana cara menginstall aplikasi di linux?
2. saya sudah nulis sekrip persis contoh, tapi kok tidak jalan?
3. saya install linux, tapi komputernya jadi hang?
(ada banyak lagi)

ini salah saya, mustinya saya menulis panduan bertanya:
1. lihat situasi.
2. siapkan data yang cukup.
3. buat pertanyaan yang sesempit mungkin lingkupnya.

Salam
Risiyanto

oh ya,
jawaban saya kalau ada pertanyaan sulit seperti diatas:
"coba lagi, nanti pesan errornya sampaikan pada waktu pertemuan"

Arie Reynaldi Z

unread,
May 26, 2005, 5:42:42 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
> 1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat. Banyak pertanyaan
> yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
Tapi ini dilema, di windows, harus diakui semuanya lebih
self-explaintory. Semangat RTFM masih susah diterapin ke pengguna
windows.

> 2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
> Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
> kernel?
Memang harapannya demikian, tapi gak semua orang tau milis linux,
apabila tau, gak semua orang tau tata-cara ngimil ke milis. Dan gak
tau juga mau tanya apa, karena memang dasarnya semua bisa dipelajari
sendiri dengan GUI yang familiar.

sn00born

unread,
May 25, 2005, 11:54:33 PM5/25/05
to tekno...@googlegroups.com
Ikut nulis lagi yah...
permission to speak freely sir...

Ikhlasul Amal wrote:
> On 5/26/05, sn00born <sn00...@telkom.net> wrote:
>
>>Ikut nambah bang...
>>Kalau buat pemula seperti saya, yang juga "gak bisa dilawan" adalah
>>*kesetiakawanan* (kawanan ?) para penggunanya. Yang jago bantu yang
>>belum bisa, gak selalu soal profit. Mungkin masih ada sisa thrill-nya
>>waktu dulu belajar, dan juga mungkin sama belajar dari komunitas.
>>
>>Nah kalo ini sampe hilang, kalo jawabnya-nya RT*M, kalo...
>>wah pasti bakal redup tuh gnu/linux.
>
>
> 1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat.

Benar itu pak. Kalo saya sih gak patah semangat, sebab malah beberapa
pertanyaan lugu saya mendapat respon yang baik, seperti di
http://lists.ubuntu.com/mailman/listinfo/ubuntu-users. Dan tentunya di
milis ini.

> Banyak pertanyaan
> yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
>

Lain padang, lain belalang. Hm..gak nyambung ya...
Maksudnya ada dua nih;
Pertama memang ada (mungkin) orang yang mau enaknya aja. Gak mau query
dulu di google, langsung nanya. No matter how fast his/her i-connection was.
Kedua ada orang yang koneksinya 'broadband' tapi ada juga yang
koneksinya 'blueband' (tm?), Ada yang gratis ada yang ngemis, akhirnya
terpaksa nyoba^2 nanya dengan resiko 'di-ban' :-) .

Saya gak ngerti teknologi 'dial-on-demand' tapi dari namanya sepertinya
itulah yang secara manual saya lakukan (curhat nih). Ikut relatif banyak
milis tetap aja pop3 nya relatif gak terlalu lama. Apakah saya termasuk
golongan yang mau enaknya saja ?

> 2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
> Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
> kernel?
>

Setuju. Mohon saya ditegur kalau saya melakukannya di milis ini. ;-)

> 3) bagaimana jika para penanya tersebut setelah tahu siap menjadi
> penjawab berikutnya? Dengan bekal yang kelihatannya sedikit tersebut
> tulislah menjadi informasi baru, sehingga siap menjadi jawaban untuk
> penanya berikutnya.
>
Itulah yang *sudah saya coba lakukan* ,walau dengan sangat hati^2:
-sedikit pengalaman mengajarkan saya bahwa memang orang tidak sama dalam
menyikapi sesuatu. Jangan sampe terulang lagi adanya 'ketidak-stabilan
politik' akibat saya menjawab (in another name, in another place).
-Jangan sampe saya 'sesat menyesatkan' dan membuat fleme,ntar judulnya
" Don't follow me, I am lost too ! "

Tapi apapun saya setuju namanya tamu harus menghormati dan ikut aturan
admin-nya. Saya jangan di kick ya... PEACE dahh

sn00born

unread,
May 26, 2005, 12:27:12 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
Arie Reynaldi Z wrote:
>>1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat. Banyak pertanyaan
>>yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
>
> Tapi ini dilema, di windows, harus diakui semuanya lebih
> self-explaintory. Semangat RTFM masih susah diterapin ke pengguna
> windows.
>
>
Ikut nambah ya...
Kadang kala masalahnya walau sederhana tetapi spesifik. Buat saya
'HOWTO' sering membatu walau tidak selalu. Kalau beruntung, sekali
googling saya dapet jawaban di halaman pertama. Kalau tidak beruntung ya
tau sendirilah gimana google. Makanya saya coba siasati ikut 'lurk'
beberapa milis walaupun saya belum mempelajari itu. Misalnya milis
postfix, supaya nanti saya bisa query di hdd saya sendiri. Thx to gmail.

>>2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
>>Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
>>kernel?
>
> Memang harapannya demikian, tapi gak semua orang tau milis linux,
> apabila tau, gak semua orang tau tata-cara ngimil ke milis. Dan gak
> tau juga mau tanya apa, karena memang dasarnya semua bisa dipelajari
> sendiri dengan GUI yang familiar.
>
>
Buat saya, jangankan yang 'under-the-hood', waktu pindah nyoba dari
kde-nya simply mempis ke gnome-nya ubuntu saya sempet 'anget'. Buat saya
bahkan GUI pun 'kadang' bisa jadi masalah buat pemula.
BTW ada yang sudah pernah membandingkan penyajian help-nya ubuntu dengan
help-nya simply mepis (kde) ?

Om Bill tau betul itu...

p.s. Film "Pirates of Silicon Valley" lumayan bagus.


Ikhlasul Amal

unread,
May 26, 2005, 7:24:56 AM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/26/05, sn00born <sn00...@telkom.net> wrote:
>
> > Banyak pertanyaan
> > yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
> >
>
> Lain padang, lain belalang. Hm..gak nyambung ya...
> Maksudnya ada dua nih;
> Pertama memang ada (mungkin) orang yang mau enaknya aja. Gak mau query
> dulu di google, langsung nanya. No matter how fast his/her i-connection was.
> Kedua ada orang yang koneksinya 'broadband' tapi ada juga yang
> koneksinya 'blueband' (tm?), Ada yang gratis ada yang ngemis, akhirnya
> terpaksa nyoba^2 nanya dengan resiko 'di-ban' :-) .

Nah ini termasuk lifehack untuk Indonesia: menyiasati ongkos koneksi
Internet. ;)

Termasuk di dalamnya:
- bagaimana menyediakan kata kunci yang cespleng untuk Google;
- forum yang cocok dengan level kita.

> Saya gak ngerti teknologi 'dial-on-demand' tapi dari namanya sepertinya
> itulah yang secara manual saya lakukan (curhat nih). Ikut relatif banyak
> milis tetap aja pop3 nya relatif gak terlalu lama. Apakah saya termasuk
> golongan yang mau enaknya saja ?

Tidak selalu karena teknologi atau pertanyaan itu sendiri, melainkan
sikap penanya juga penting. Seperti yang ditulis di "How to Ask
Question The Smart Way", mencoba terlebih dulu, mengajukan pertanyaan
dengan jelas, menjelaskan bagian yang sudah dilakukan, itu semua
contoh sikap penting.

> Tapi apapun saya setuju namanya tamu harus menghormati dan ikut aturan
> admin-nya. Saya jangan di kick ya... PEACE dahh

Menurut saya pertanyaan anda belum menyebabkan ditendang dari sini,
karena anda mengajukan usul dan mendiskusikan beberapa metode. Ada
baiknya kan kita semua mendengarkan?

--
amal

Anthony Fajri Maswan

unread,
May 26, 2005, 12:46:07 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com

sorry top posting karena ingin menanggapi amal & aris

sebenarnya, berapa persen sih dari pengguna internet di Indonesia
yang mao bersusah payah belajar sistem operasi baru ? barangkali
kalo samplingnya subscriber milis ini, hasilnya bisa mendekati
50:50. tetapi lihat di luar sana, banyak pengguna komputer dan
internet yang tidak mao pusing2 masalah OS.

ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.

saya pernah ada kasus gini, di sebuah jurusan di ITB sistem
operasi-nya dual boot, windows dan linux. Dari awal sudah ditekankan
bahwa apabila windows-nya bermasalah, silakan gunakan linux.
drive D (isinya data) sudah dimount di linux.
suatu ketika beberapa komputer terkena virus dan worm. saya bilang,
pakai aja linux. file doc dan xls bisa dibaca di openoffice.
tetapi mereka memilih minta diinstallulangin.
itu di kalangan pengguna..

RTFM ? Maaf saya cerita di ITB.
Rasanya generasi-nya husni yang terkenal dengan RTFM.
kalau nanya pertanyaan ke generasi mereka, pasti jawabannya :
man, apropos, doc, dll. (kalo jaman sekarang google).
saya pernah ngerasain di-'os' ama generasi mereka. jadi pernah
ngerasa bete ama jawaban mereka.
Generasi di bawahnya Husni sedikit melunak. Generasinya Affan.
mereka terkadang mao memberi langkah2 walaupun tidak spesifik.
kalo generasi sekarang sih, mereka lebih suka nanya daripada
googling. Itu pun jawabannya mesti spesifik. tapi ini di ITB
lho, di kalangan orang yang ngurusin jaringan dalam kampus.

Pada Thu, 26 May 2005 jam 16:25 +0700, risiyanto budi menulis email : .....

^_^
^_^ On Thu, 26 May 2005 11:11:26 +0200
^_^ Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:
^_^
^_^ >
^_^ >
^_^ > 1) jawaban RTFM jangan menjadikan patah semangat. Banyak pertanyaan
^_^ > yang sebenarnya sudah tersedia jawabannya di Internet.
^_^ >
^_^ > 2) pindah ke lingkungan yang lebih cocok dengan pertanyaan tersebut.
^_^ > Tidak pantas kan bertanya cara menghapus satu direktori penuh di milis
^_^ > kernel?
^_^ >
^_^ > 3) bagaimana jika para penanya tersebut setelah tahu siap menjadi
^_^ > penjawab berikutnya? Dengan bekal yang kelihatannya sedikit tersebut
^_^ > tulislah menjadi informasi baru, sehingga siap menjadi jawaban untuk
^_^ > penanya berikutnya.
^_^ >
^_^
^_^ Hehe,
^_^ seringkali suatu saat ketemu murid, bukan pas sesi mengajar,
^_^ dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab:
^_^
^_^ 1. bagaimana cara menginstall aplikasi di linux?
^_^ 2. saya sudah nulis sekrip persis contoh, tapi kok tidak jalan?
^_^ 3. saya install linux, tapi komputernya jadi hang?
^_^ (ada banyak lagi)
^_^
^_^ ini salah saya, mustinya saya menulis panduan bertanya:
^_^ 1. lihat situasi.
^_^ 2. siapkan data yang cukup.
^_^ 3. buat pertanyaan yang sesempit mungkin lingkupnya.
^_^
^_^ Salam
^_^ Risiyanto
^_^
^_^ oh ya,
^_^ jawaban saya kalau ada pertanyaan sulit seperti diatas:
^_^ "coba lagi, nanti pesan errornya sampaikan pada waktu pertemuan"
^_^

-=f=-
BSD051248
read my *new* 'katarsis' at http://fajri.freebsd.or.id

Ikhlasul Amal

unread,
May 26, 2005, 1:03:35 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/26/05, Anthony Fajri Maswan <fa...@freebsd.or.id> wrote:
>
> sorry top posting karena ingin menanggapi amal & aris

Hiks, tidak relevan: masak karena menanggapi tulisanku dan beliau
harus "top posting". :p

> sebenarnya, berapa persen sih dari pengguna internet di Indonesia
> yang mao bersusah payah belajar sistem operasi baru ? barangkali
> kalo samplingnya subscriber milis ini, hasilnya bisa mendekati
> 50:50. tetapi lihat di luar sana, banyak pengguna komputer dan
> internet yang tidak mao pusing2 masalah OS.

Ini gaya artikel Kompas, menggunakan ungkapan "di Indonesia". ;)
Memang kenapa dengan pemakai Internet di Indonesia?

Di negara lain pun menurut saya masih banyak pemakai Internet yang mau
bersusah payah belajar sistem operasi. Kalau memang tidak relevan
dengan misi mereka menggunakan komputer, menurut saya belajar sistem
operasi tidak usah saja. Termasuk dulu usulan di "mailing list" ini
(CMIIW) tentang berkas yang tidak perlu diberi nama oleh pemakai,
melainkan otomatis diatur oleh sistem. Kalau terwujud, alangkah
bagusnya. Biarlah anggota sekte TI (maaf, oom Donny...) yang peduli
sampai teknis.


> ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
> sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
> pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.


Yoi, ingat juga Linux bukanlah kesulitan, melainkan kebiasaan. ;-)

> RTFM ? Maaf saya cerita di ITB.
> Rasanya generasi-nya husni yang terkenal dengan RTFM.
> kalau nanya pertanyaan ke generasi mereka, pasti jawabannya :
> man, apropos, doc, dll. (kalo jaman sekarang google).

Hmmm... saya pribadi berusaha menghindari hal tersebut sebagai
"atribut yang melekat pada generasi". Tidak nyaman mendengar senior
datang ke kampus terus "nyelekit": kok mahasiswa sekarang begini ya,
tidak seperti jaman kami dulu. (Waktu saya masih mahasiswa sering
mendengar seperti itu) "Begini" itu umumnya ke arah penurunan
(degradasi, dekadensi?).

Saya tidak tahu penyebab persinya, jika memang terjadi perubahan
tersebut. Kita sendiri saja (jika merasa "tua"?) menularkan semangat
RTFM tersebut.

--
amal

baskara

unread,
May 26, 2005, 8:21:23 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:
>
> Saya tidak tahu penyebab persinya, jika memang terjadi perubahan
> tersebut. Kita sendiri saja (jika merasa "tua"?) menularkan semangat
> RTFM tersebut.

Kalau yang menyuruh RTFM itu memang benar2 mengerti dan tahu bahwa
dengan membaca manual dengan baik dan teliti bisa menjawab pertanyaan,
saya setuju dengan semangat itu. Dengan "trial and error", orang bisa
belajar.
Akan tetapi, kalau karena malas kemudian asal ngomong RTFM saja?
Padahal manualnya belum tentu gamblang menjelaskan. Contoh, beberapa
hari lalu saya mencoba membangun (build) kernel mac os x 10.4.1
(xnu-792.1.5) saya dengan mengikuti manual di apple's website. Sudah 2
hari dicoba tidak berhasil. Ternyata, di manualnya kurang satu
kalimat: "use gcc3.3" !!!

Coba ini itu kemudian merusak sistem bisa juga bisa. Jadi ingat saat
baru mengenal Windows. Windows95 saat itu sudah beberapa bulan dirilis
(saya bahkan belum mengenal Windows3.11, hanya familiar dengan DOS).
Saya diminta mengcopy semua mp3 ke HD lain di mesin Windows. Caranya?
"Cari tahu sendiri!". Saya hanya tahu tool paling praktis adalah
Norton Commander. Jalankan itu, select File, langsung Copy. Hasilnya?
Bubar jalan..hehehe... Semua file rusak karena NC hanya mengenal
penamaan file dengan format 8.3.
Jaman sekarang, kalau mp3 file rusak/hilang, bisa gampang dicari lagi.
Jaman itu? CD pun masih barang mahal. CD-RW belum ada. Copy-mengcopy
memakai beberapa disket. Atau, harus download lagi.

So, lihat-lihat situasi sebelum minta RTFM. ;-)

adi

unread,
May 26, 2005, 8:39:33 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, May 27, 2005 at 09:21:23AM +0900, baskara wrote:
> Kalau yang menyuruh RTFM itu memang benar2 mengerti dan tahu bahwa
> dengan membaca manual dengan baik dan teliti bisa menjawab pertanyaan,
> saya setuju dengan semangat itu. Dengan "trial and error", orang bisa
> belajar.

rule of thumb (buat saya): kalau milis spesifik, misalnya
di milis qmail orang tanya qmail dijawab rtfm (walaupun officially
ndak ada!) masih sah, mana lebih mudah menulis RTFM dibanding
menunjukkan link terkait? (silakan gunakan nurani anda).

di milis 'general', misal di milis tanya-jawab, atau id-freebsd,
karena toh sebenarnya di milis itu orang malah tidak ngomong soal
linux/freebsd (milis tanya-jawab adalah milis tanya jawab seputar
linux, red), menjawab dengan menulis: RTFM, tidak begitu jauh
dari idiot. setidaknya, bayangkan orang membaca di arsip milis,
tidak mengikuti thread ybs, cuman baca RTFM (RTFM yang mana?
what the h*ck?).

ibarat orang terdampar di tengah laut, banyak air tapi malah
bisa mati kehausan :-) jadi bukan soal kasih jawaban: kalau haus
ya minum, gitu aja kok repot. tapi mau ndak anda kasih air minum?

Salam,

P.Y. Adi Prasaja


boy avianto

unread,
May 26, 2005, 8:55:46 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 27/05/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> On Fri, May 27, 2005 at 09:21:23AM +0900, baskara wrote:
> > Kalau yang menyuruh RTFM itu memang benar2 mengerti dan tahu bahwa
> > dengan membaca manual dengan baik dan teliti bisa menjawab pertanyaan,
> > saya setuju dengan semangat itu. Dengan "trial and error", orang bisa
> > belajar.
>
> rule of thumb (buat saya): kalau milis spesifik, misalnya
> di milis qmail orang tanya qmail dijawab rtfm (walaupun officially
> ndak ada!) masih sah, mana lebih mudah menulis RTFM dibanding
> menunjukkan link terkait? (silakan gunakan nurani anda).

Selama ini saya lebih senang "googling" sedikit dan memberikan
link-link yang sekiranya terkait. Kadang saya cuma baca sekilas dan
"oh kira2 ini jawabannya. barangkali".

CUMA...

Kadang respon baliknya "Yah, kok suruh baca sendiri, bahasa inggris
lagi, males banget bacanya"

Kalau sudah begini...

--
<avianto /> - http://avianto.com/

baskara

unread,
May 26, 2005, 9:55:40 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> di milis 'general', misal di milis tanya-jawab, atau id-freebsd,
> karena toh sebenarnya di milis itu orang malah tidak ngomong soal
> linux/freebsd (milis tanya-jawab adalah milis tanya jawab seputar
> linux, red), menjawab dengan menulis: RTFM, tidak begitu jauh
> dari idiot. setidaknya, bayangkan orang membaca di arsip milis,
> tidak mengikuti thread ybs, cuman baca RTFM (RTFM yang mana?
> what the h*ck?).

Orang biasanya tidak menjawab dengan cara: RTFM (ini terlalu kasar
mungkin). Biasanya kata "RTFM" diganti menjadi: man <something>.
Makanya "trend" sekarang yang saya lihat, orang biasanya diam saja
kalau ada pertanyaan. Mungkin tidak sempat mencarikan jawabannya,
malas meladeni atau benar-benar tidak tahu. Yang bertanya juga sampai
posting 2-3 kali, dan tidak ada respon.
Di milis id-freebsd banyak contohnya. he3x. :-)

Achmad Husni Thamrin

unread,
May 26, 2005, 9:55:44 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:

> > ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
> > sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
> > pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.
>
>
> Yoi, ingat juga Linux bukanlah kesulitan, melainkan kebiasaan. ;-)

Pindah dari satu OS ke OS lain memang terkait dengan kebiasaan, tetapi
kita tidak bisa reduksi menjadi hanya soal kebiasaan.
Linux sampai saat ini sudah sukses menggantikan Solaris dan UNIX
berbayar lainnya sebagai server OS. Tapi bagaimana dengan Windows?
Microsoft sepertinya memanfaatkan keunggulan di pasar desktop sambil
mengusung hasil survei tentang TCO dan ROI jika perusahaan pindah ke
non-Windows.

> > RTFM ? Maaf saya cerita di ITB.
> > Rasanya generasi-nya husni yang terkenal dengan RTFM.
> > kalau nanya pertanyaan ke generasi mereka, pasti jawabannya :
> > man, apropos, doc, dll. (kalo jaman sekarang google).
>
> Hmmm... saya pribadi berusaha menghindari hal tersebut sebagai
> "atribut yang melekat pada generasi".

Ya nih, Fajri berusaha melakukan pembunuhan karakter. hahaha!
Sepertinya kalimat yang benar buat Fajri adalah
"Saya mengenal generasi dahulu dengan RTFM-nya." :)

Saya memandang RTFM adalah cara belajar dengan "trial dan error", dan
itu berguna untuk mempertajam pertanyaan kita ke orang lain. Makanya
Fajri, RTFM dulu! hehehe.

*hahaha != hehehe*

--

<husni>

risiyanto budi

unread,
May 26, 2005, 10:10:34 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
Achmad Husni Thamrin wrote:

>On 5/27/05, Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:
>
>
>
>>> ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
>>> sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
>>> pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.
>>>
>>>
>>Yoi, ingat juga Linux bukanlah kesulitan, melainkan kebiasaan. ;-)
>>
>>
>
>Pindah dari satu OS ke OS lain memang terkait dengan kebiasaan, tetapi
>kita tidak bisa reduksi menjadi hanya soal kebiasaan.
>Linux sampai saat ini sudah sukses menggantikan Solaris dan UNIX
>berbayar lainnya sebagai server OS. Tapi bagaimana dengan Windows?
>Microsoft sepertinya memanfaatkan keunggulan di pasar desktop sambil
>mengusung hasil survei tentang TCO dan ROI jika perusahaan pindah ke
>non-Windows.
>
>
Bagi saya mengerti OS itu seperti mengerti ilmu beladiri.
Kalau sudah menguasai satu cabang _dengan benar_,
tidak sulit untuk belajar yang lain.

Aris

p.s.
saya tidak menguasai satupun ilmu beladiri.

Yulian Firdaus H.

unread,
May 26, 2005, 10:12:37 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, Achmad Husni Thamrin <ahth...@gmail.com> wrote:
>
> Saya memandang RTFM adalah cara belajar dengan "trial dan error", dan
> itu berguna untuk mempertajam pertanyaan kita ke orang lain. Makanya
> Fajri, RTFM dulu! hehehe.

umumnya secara implisit penanya punya kecenderungan berharap jawaban
instan atau disuapi, jadi ketika dilemparkan kail dan umpan masih
bertanya "ikannya mana?"


--
Jay adalah Yulian -- http://yulian.firdaus.or.id

fade2blac

unread,
May 26, 2005, 9:27:00 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
waktu itu, Thu, May 26, 2005 at 04:42:42PM +0700, Arie Reynaldi Z menulis:
> Tapi ini dilema, di windows, harus diakui semuanya lebih
> self-explaintory. Semangat RTFM masih susah diterapin ke pengguna
> windows.
>

Mungkin maksudnya self-explanatory.
Btw RTFM radio mana ya? Kayaknya familiar :)

> Memang harapannya demikian, tapi gak semua orang tau milis linux,
> apabila tau, gak semua orang tau tata-cara ngimil ke milis. Dan gak
> tau juga mau tanya apa, karena memang dasarnya semua bisa dipelajari
> sendiri dengan GUI yang familiar.

Agak menyimpang, mumpung yang ngurus milis linux ada disini,
1. Pengikut milis linux (*@linux.or.id) dari tahun ke tahun nambah nggak sih? Atau berkurang?
2. Apakah dari penambahan itu, trendnya keluar masuk, atau kebanyakan baru-baru?
3. Setelah digabung di 'supermarket' tanya-jawab, gimana kecenderungan postingnya? Tambah atau kurang?

Thanks jika dijawab :)

--
fade2bl.ac

adi

unread,
May 26, 2005, 10:25:10 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, May 27, 2005 at 02:55:46AM +0200, boy avianto wrote:
> CUMA...
>
> Kadang respon baliknya "Yah, kok suruh baca sendiri, bahasa inggris
> lagi, males banget bacanya"
>
> Kalau sudah begini...

maaf, apakah jawaban 'RTFM' menjadi konsekuensi logis dari
kasus di atas? (tanya lho).

komunikasi bahasa itu terkait konteks (halo Pak IMW :-)
saya tidak berkeberatan kalau ini dilakukan japri. kalau
japri, mengumpat pun ok. tapi dalam milis publik, rasanya
kok jadi merugikan anggota milis lain karena jadi kehilangan
konteks dan membuang energi bagi pemulung arsip, begitu
mengikuti pertanyaan, klik next thread cuman dapat RTFM
(dua-duanya membuang-buang waktu dan resources).

bagi diri kita sendiri, saya juga tidak melihat ada untungnya
menjawab RTFM dibanding diam. apakah maksudnya untuk edukasi?
he..he.. sayang ... barangkali audisi u/ ketoprak humor sudah
tidak ada lagi (?).

minimal, orang bertanya di milis itu kan 'spesifik', kalau
ybs merasa butuh mendapat edukasi mengenai cara bertanya yang
baik (di milis), tentu akan diajukan secara eksplisit. jadi,
dengan kata lain, buanglah sampah pada tempatnya.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

sn00bborn

unread,
May 26, 2005, 4:24:02 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
ikut ah..

Achmad Husni Thamrin wrote:
> On 5/27/05, Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:
>
>
>>> ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
>>> sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
>>> pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.
>>
>>
>>Yoi, ingat juga Linux bukanlah kesulitan, melainkan kebiasaan. ;-)
>
>
> Pindah dari satu OS ke OS lain memang terkait dengan kebiasaan, tetapi
> kita tidak bisa reduksi menjadi hanya soal kebiasaan.
> Linux sampai saat ini sudah sukses menggantikan Solaris dan UNIX
> berbayar lainnya sebagai server OS. Tapi bagaimana dengan Windows?
> Microsoft sepertinya memanfaatkan keunggulan di pasar desktop sambil
> mengusung hasil survei tentang TCO dan ROI jika perusahaan pindah ke
> non-Windows.
>
>
Yah sepertinya latar belakang sejarah gak bisa terhapus. Yang satu dari
latar bisnis yang satu dari latar 'from-hacker-to-hacker' (atau
setidaknya kaum pe-riset).

Seandainya mungkin tidak dianggap melecehkan konsumen, mungkin pameo
untuk MS Windows bukan 'Where ...' tetapi adalah 'We Do It For You'.
Seperti konsep installernya 'Just sit back and relax'.

Yang tidak boleh dilupakan juga adalah ECO (Emotional Cost of
Ownership). Beberapa perusahaan 'tertentu' sering dikeluhkan mempunyai
customer service yang payah, banyak yang mengeluh patch-nya relatif
lama. Tapi setidaknya belum saya dengar 'perusahaan^2 itu' menjawab
dengan RTFM atau 'Figure it out yourself !'. Maklum mereka perlu uang
kita, sedangkan yang lain gratisan. Kembali, latar belakangnya berbeda.
Red Hat mungkin pake konsep sederhana, 'mau tanya ? bayar !'



>>> RTFM ? Maaf saya cerita di ITB.
>>> Rasanya generasi-nya husni yang terkenal dengan RTFM.
>>> kalau nanya pertanyaan ke generasi mereka, pasti jawabannya :
>>> man, apropos, doc, dll. (kalo jaman sekarang google).
>>
>>Hmmm... saya pribadi berusaha menghindari hal tersebut sebagai
>>"atribut yang melekat pada generasi".
>
>
> Ya nih, Fajri berusaha melakukan pembunuhan karakter. hahaha!
> Sepertinya kalimat yang benar buat Fajri adalah
> "Saya mengenal generasi dahulu dengan RTFM-nya." :)
>
> Saya memandang RTFM adalah cara belajar dengan "trial dan error", dan
> itu berguna untuk mempertajam pertanyaan kita ke orang lain. Makanya
> Fajri, RTFM dulu! hehehe.
>

Maafkan kebodohan saya, tetapi sepertinya market share Linux (dan
bukannya BSDs) menjadi besar bukan karena power user-nya (!= power
maker). Tetapi justru dari meningkatnya jumlah pengguna biasa-nya.
Membesarnya market share ini menarik 'pemain besar' untuk masuk, yang
kembali akhirnya menarik lebih banyak pengguna. Seandainya para calon
pengguna ini merasa 'terusir di pintu masuk' mungkin sejarah akan
berbeda. Berapa besar dari mereka adalah periset (setidaknya pe-ngoprek)
? Sebagian besar saya kira maunya (klo boleh pinjem istilah) Get Things
Done. Maaf for jump in.

> *hahaha != hehehe*
>


Ronny Haryanto

unread,
May 26, 2005, 10:52:45 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, May 27, 2005 at 08:27:00AM +0700, fade2blac wrote:
> Agak menyimpang, mumpung yang ngurus milis linux ada disini,
> 1. Pengikut milis linux (*@linux.or.id) dari tahun ke tahun nambah nggak sih? Atau berkurang?
> 2. Apakah dari penambahan itu, trendnya keluar masuk, atau kebanyakan baru-baru?
> 3. Setelah digabung di 'supermarket' tanya-jawab, gimana kecenderungan postingnya? Tambah atau kurang?

Statistik milis linux.or.id saya posting tiap awal bulan di milis
linux-aktivis (bisa lihat arsip dg keywords "statistik milis"). Ini
bisa menjawab nomer 1 dengan lebih detil.

Dari pengamatan saya aja sih banyak yg keluar masuk, kalo perlu baru
subscribe dan nanya, kayaknya begitu dapet jawaban atau udah
bosen/males/etc dia unsub (ini spekulasi saya). Org lama ada, org baru
juga ada bbrp yg awet. Saya gak pernah merhatiin traffic sub/unsub
sih, cuma liat nongolnya di milis aja.

Jumlah posting saya nggak ngitung secara pasti. Dr perasaan saya aja,
kayaknya ya segitu2 aja, kadang rame kadang2 sepi.

Saya nggak tau apa yg diimplikasikan atau bisa ditarik kesimpulan apa
dr pertanyaan dan jawaban di atas.

Ronny

A m e n

unread,
May 27, 2005, 12:22:05 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, baskara <bas...@gmail.com> wrote:


Coba ini itu kemudian merusak sistem bisa juga bisa. Jadi ingat saat
baru mengenal Windows. Windows95 saat itu sudah beberapa bulan dirilis
(saya bahkan belum mengenal Windows3.11, hanya familiar dengan DOS).
Saya diminta mengcopy semua mp3 ke HD lain di mesin Windows. Caranya?

loh kayaknya mp3 baru ngetop jauh setelah tahun 95 deh, kalau gak salah malahan sesudah windows 98 keluar.
 

"Cari tahu sendiri!". Saya hanya tahu tool paling praktis adalah
Norton Commander. Jalankan itu, select File, langsung Copy. Hasilnya?
Bubar jalan..hehehe... Semua file rusak karena NC hanya mengenal
penamaan file dengan format 8.3.
Jaman sekarang, kalau mp3 file rusak/hilang, bisa gampang dicari lagi.
Jaman itu? CD pun masih barang mahal. CD-RW belum ada. Copy-mengcopy
memakai beberapa disket. Atau, harus download lagi.

jaman dulu gak ada google sih :P

Ronny Haryanto

unread,
May 27, 2005, 12:52:40 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, May 27, 2005 at 11:22:05AM +0700, A m e n wrote:
> On 5/27/05, baskara <bas...@gmail.com> wrote:
> loh kayaknya mp3 baru ngetop jauh setelah tahun 95 deh, kalau gak salah
> malahan sesudah windows 98 keluar.

Gak lah, dr taon 97 sebelum Win98 keluar dah ngetop (mungkin belum di
Indo), jaman masih pake dialup dulu. Win98 keluarnya kapan sih? 2001
ya?

> jaman dulu gak ada google sih :P

Wah gua dulu andalannya Altavista (not to be confused with
astalavista) sebelum ada Google, hehe.

Ronny

sn00bborn

unread,
May 26, 2005, 7:29:54 PM5/26/05
to tekno...@googlegroups.com
adi wrote:
> On Fri, May 27, 2005 at 02:55:46AM +0200, boy avianto wrote:
>
>>CUMA...
>>
>>Kadang respon baliknya "Yah, kok suruh baca sendiri, bahasa inggris
>>lagi, males banget bacanya"
>>
>>Kalau sudah begini...
>
>
> maaf, apakah jawaban 'RTFM' menjadi konsekuensi logis dari
> kasus di atas? (tanya lho).
>
> komunikasi bahasa itu terkait konteks (halo Pak IMW :-)
> saya tidak berkeberatan kalau ini dilakukan japri. kalau
> japri, mengumpat pun ok. tapi dalam milis publik, rasanya
> kok jadi merugikan anggota milis lain karena jadi kehilangan
> konteks dan membuang energi bagi pemulung arsip, begitu
> mengikuti pertanyaan, klik next thread cuman dapat RTFM
> (dua-duanya membuang-buang waktu dan resources).
>
> bagi diri kita sendiri, saya juga tidak melihat ada untungnya
> menjawab RTFM dibanding diam. apakah maksudnya untuk edukasi?
> he..he.. sayang ... barangkali audisi u/ ketoprak humor sudah
> tidak ada lagi (?).
>

hihihi rame nih. Sebagai perbandingan saya coba mengemukakan beberapa
'penemuan' sederhana saya tentang apa kata orang lain-lainnya tentang
RTFM,tentu dari google. Exact link, I love exact link.

http://c2.com/cgi/wiki?IsYourRudenessNecessary
http://c2.com/cgi/wiki?RtFm
http://www.linuxforums.org/forum/topic-35543.html
http://www.mail-archive.com/dia-...@gnome.org/msg06790.html

yg ini (jika benar) agak ironis:
http://slugarchives.nks.net/List/slug.archive.0305/0337.html

di sisi lain
http://slugarchives.nks.net/List/slug.archive.0305/0347.html

Saya juga nyoba cari di google dengan keyword berikut:

RTFM reply "from: ("Linus Torvalds"|"richard stallman"|"alan cox"|"eric
raymond"|"eric s raymond")"

Tapi gak ketemu yang pas hasilnya, entah saya yang salah nulis
keywordnya, atau mereka memang gak pernah nulis begitu, entahlah. Saya
rasa saya senang juga kalo bisa jawab post orang dengan rtfm, hick (my
dark side voices).
OP, maaf ya.

fade2blac

unread,
May 27, 2005, 1:08:13 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
waktu itu, Fri, May 27, 2005 at 12:52:45PM +1000, Ronny Haryanto menulis:
>
> Statistik milis linux.or.id saya posting tiap awal bulan di milis
> linux-aktivis (bisa lihat arsip dg keywords "statistik milis"). Ini
> bisa menjawab nomer 1 dengan lebih detil.
>

OK Thx

>
> Saya nggak tau apa yg diimplikasikan atau bisa ditarik kesimpulan apa
> dr pertanyaan dan jawaban di atas.
>

Maaf, ini OOT karena milis teknologia.

1. Untuk memperjelas sebutan 'komunitas linux'.
2. Dari komunitas tersebut, ingin tahu saja perilaku dan ekspektasi dari 'komunitas linux' itu seperti apa?
3. Pengen tau aja :-)

Dari nomor 1, saat orang bicara atas nama komunitas Linux, sebetulnya yang diklaim itu siapa saja? Pengikut milis
*@linux.or.id? Pembaca InfoLinux? Anggota KPLI dan KSL? Pembeli CD di gudang Linux? Berapa jika dijumlah? Apakah
mereka pengguna setia? Bagaiman ekspektasi mereka? Ini terlintas di kepala saya, sebab baru sadar, selama ini
nggak pernah tahu peta komunitas linux. Itu hanya floating mass, jadi kalau ada yang bilang mewakili komunitas
Linux saya yakin itu hanya manipulasi saja.

Dari nomor 2, kita akan tahu jawaban RTFM itu relevan atau nggak. Sebab meskipun milis tanya-jawab misalnya, jika
anggotanya come and go, masih make sense jika ada yang tanya lalu dijawab RTFM atau RTFF (F for FAQ).

--
fade2bl.ac

Ikhlasul Amal

unread,
May 27, 2005, 2:35:34 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, sn00bborn <sn00...@telkom.net> wrote:

[...]

> Saya juga nyoba cari di google dengan keyword berikut:
>
> RTFM reply "from: ("Linus Torvalds"|"richard stallman"|"alan cox"|"eric
> raymond"|"eric s raymond")"
>
> Tapi gak ketemu yang pas hasilnya, entah saya yang salah nulis
> keywordnya, atau mereka memang gak pernah nulis begitu, entahlah. Saya
> rasa saya senang juga kalo bisa jawab post orang dengan rtfm, hick (my
> dark side voices).

Eric Raymond secara eksplisit menyebut "How to Ask Question The Smart
Way" dan di dalamnya disebut dengan jelas juga RTFM.


--
amal

Ikhlasul Amal

unread,
May 27, 2005, 2:39:44 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> komunikasi bahasa itu terkait konteks (halo Pak IMW :-)
> saya tidak berkeberatan kalau ini dilakukan japri. kalau
> japri, mengumpat pun ok. tapi dalam milis publik, rasanya
> kok jadi merugikan anggota milis lain karena jadi kehilangan
> konteks dan membuang energi bagi pemulung arsip, begitu
> mengikuti pertanyaan, klik next thread cuman dapat RTFM
> (dua-duanya membuang-buang waktu dan resources).
>

[...]

> minimal, orang bertanya di milis itu kan 'spesifik', kalau
> ybs merasa butuh mendapat edukasi mengenai cara bertanya yang
> baik (di milis), tentu akan diajukan secara eksplisit. jadi,
> dengan kata lain, buanglah sampah pada tempatnya.
>

Ekstrimnya, jika penanya dan penjawan sama-sama "malas" (dalam konteks
negatif), tentu "mailing list" menjadi tidak berarti. Saya juga setuju
dengan pendapat Baskara bahwa jangan hanya menyebut empat huruf
tersebut, melainkan ada usaha juga menunjukkan taut. Jadi terlihat si
penanya dan penjawab bukan menumpahkan kemalasan mereka ke "mailing
list".

Pada saat Usenet berulang tahun (entah keberapa, saya lupa, dan tidak
terlalu penting pada konteks ini) dan masuk di entri Slashdot, salah
satu komentator menulis: jika orang sekarang datang ke Usenet berharap
akan jawaban (apalagi ditunjang pencarian di Google Groups yang lebih
bagus dari kondisi Usenet zaman dulu), siapa yang akan mengisi materi
di sana?

--
amal

Yulian Firdaus H.

unread,
May 27, 2005, 5:03:51 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/27/05, Ronny Haryanto <ronn...@haryan.to> wrote:
> > jaman dulu gak ada google sih :P
>
> Wah gua dulu andalannya Altavista (not to be confused with
> astalavista) sebelum ada Google, hehe.

pasti ngetik url-nya altavista.digital.com

Ronny Haryanto

unread,
May 27, 2005, 6:25:30 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, May 27, 2005 at 04:03:51PM +0700, Yulian Firdaus H. wrote:
>
> On 5/27/05, Ronny Haryanto <ronn...@haryan.to> wrote:
> > > jaman dulu gak ada google sih :P
> >
> > Wah gua dulu andalannya Altavista (not to be confused with
> > astalavista) sebelum ada Google, hehe.
>
> pasti ngetik url-nya altavista.digital.com

Nggak, ketik "altavista" di google trus "I'm Feeling Lucky".

Ronny

Affan Basalamah

unread,
May 27, 2005, 6:39:51 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
Jadi inget sebuah kisah (circa 1996) :

A : *duduk di depan console, memanggil si B*
A: "Eh sini, kamu saya ajarin bagaimana mengurus mailing list server"
B : *duduk di sebelah A*
A : *mengetik selama satu-dua menit di depan console dengan kecepatan
tinggi, mata tidak melihat keyboard, tetapi menatap layar monitor,
sementara console penuh dengan tulisan*
A : "Nah, gitu caranya, sekarang kamu urus mailing list server ini !"
B : ???!!!

:)

Ya dengan cerita-cerita seperti inilah kami mengerti dunia IT, jadi
mohon maaf kalau perilaku kami sampai saat ini masih terbawa-bawa
seperti itu.

-affan

boy avianto

unread,
May 27, 2005, 7:32:11 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 27/05/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
> On Fri, May 27, 2005 at 02:55:46AM +0200, boy avianto wrote:
> > CUMA...
> >
> > Kadang respon baliknya "Yah, kok suruh baca sendiri, bahasa inggris
> > lagi, males banget bacanya"
> >
> > Kalau sudah begini...
>
> maaf, apakah jawaban 'RTFM' menjadi konsekuensi logis dari
> kasus di atas? (tanya lho).

Sebelumnya saya memberi contoh bahwa saya lebih senang memberikan link
yang kira-kira mengandung jawaban dari pertanyaan. Kadang malah
sedikit mengutip dari linked article tersebut.

Saya tahu kalau sekedar jawaban RTFM itu tidak menolong karena TFM itu
luas sekali, tapi link ke artikel atau jawaban "Ada di manual, coba
cari dibagian "Instalasi", nanti kalau sudah baca dan kurang jelas
bisa ditanya lagi disini dimana tidak jelasnya".

Kenapa seperti itu? Karena sering kejadian pertanyaannya jadi berentet:
A: Ini gimana ya?
B: Oh itu dibegitukan
A: dibegitukan dimana?
B: disitu.
A: disitunya dimana?
B: disitunya situ
A: oh, yang ini bukan?
B: bukan, disitu

Tapi kalau si penanya, paling tidak sudah baca mengenai artikel
terkait dia bisa bertanya dengan:
A: ini gimana ya? saya sudah baca X dan sudah coba metoda Y dan Z tapi
masih belum bisa juga.

Enak kan jawabnya?

> bagi diri kita sendiri, saya juga tidak melihat ada untungnya
> menjawab RTFM dibanding diam. apakah maksudnya untuk edukasi?
> he..he.. sayang ... barangkali audisi u/ ketoprak humor sudah
> tidak ada lagi (?).

Nah itu. RTFM saja memang tidak memecahkan masalah. Tapi sekarang
jarang sih yang refer to RTFM, rata2 refernya ke "Google" alias
"googling"

Mungkin tidak semua orang punya resource yang cukup untuk "googling" -
makanya dibantu dgn memberikan link ke artikel shg bisa dibaca offline
- misalnya.

> minimal, orang bertanya di milis itu kan 'spesifik', kalau
> ybs merasa butuh mendapat edukasi mengenai cara bertanya yang
> baik (di milis), tentu akan diajukan secara eksplisit. jadi,
> dengan kata lain, buanglah sampah pada tempatnya.

bagaimana mengedukasikannya kalau belum apa2 reaksinya sudah minta disuapin?

CronOS

unread,
May 27, 2005, 8:25:38 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/26/05, sn00bborn <sn00...@telkom.net> wrote:
>
> Saya rasa saya senang juga kalo bisa jawab post orang dengan rtfm,
> hick (my dark side voices).
> OP, maaf ya.

ini kok setiap nulis e-mail minta maaf melulu. nggak perlu ah.

yang membuat saya menjawab pertanyaan dengan 'silahkan di google dulu'
atau sebangsanya adalah karena biasanya saat membaca pertanyaan dan
siap menjawab, untuk memastikan jawabannya saya sendiri otomatis cek
dengan melakukan search di google. nah, lama2 saat melakukan search
ini jadi sadar, lho.. kalau saya aja musti cek dulu ke google tentunya
penanya juga bisa melakukan hal yang sama kan?

makanya biasanya saya kasih jawaban semacam 'coba search di google
dengan keyword anu dan anu'. demikian juga seandainya saya yang nanya,
seringkali yang saya tanya bukannya langsung solusi dari masalah, tapi
lebih ke arah "saya bingung tentang anu, kira2 keyword google-nya apa
ya? sudah dicoba dengan x, y dan z tapi kok tidak ketemu".

--
CronOS™
The OS of The Future
http://cronos.id-gmail.info

sn00bborn

unread,
May 27, 2005, 3:55:36 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
CronOS wrote:
> On 5/26/05, sn00bborn <sn00...@telkom.net> wrote:
>
>>Saya rasa saya senang juga kalo bisa jawab post orang dengan rtfm,
>>hick (my dark side voices).
>>OP, maaf ya.
>
>
> ini kok setiap nulis e-mail minta maaf melulu. nggak perlu ah.
>

Yap saran yang bagus, saya terima dan akan saya coba terapkan, *let's
see the effect* .
Maklum habis 'trauma' dan bekas didikan feodal, mesti nunduk^2.
Masing-masing milis (baca:orang) punya gaya sendiri^2 itu yang masih
harus banyak saya pelajari, kalau pake gaya para poster
comp.os.linux.advocacy wah bahaya saya.

> yang membuat saya menjawab pertanyaan dengan 'silahkan di google dulu'
> atau sebangsanya adalah karena biasanya saat membaca pertanyaan dan
> siap menjawab, untuk memastikan jawabannya saya sendiri otomatis cek
> dengan melakukan search di google. nah, lama2 saat melakukan search
> ini jadi sadar, lho.. kalau saya aja musti cek dulu ke google tentunya
> penanya juga bisa melakukan hal yang sama kan?
>
> makanya biasanya saya kasih jawaban semacam 'coba search di google
> dengan keyword anu dan anu'. demikian juga seandainya saya yang nanya,
> seringkali yang saya tanya bukannya langsung solusi dari masalah, tapi
> lebih ke arah "saya bingung tentang anu, kira2 keyword google-nya apa
> ya? sudah dicoba dengan x, y dan z tapi kok tidak ketemu".
>

setuju sekali, ESR juga nulisnya khan gitu. link^2 pada post saya isinya
juga begicuu.


sn00bborn

unread,
May 27, 2005, 4:10:12 AM5/27/05
to tekno...@googlegroups.com
Benar sekali pak Amal, justru karena itulah saya jadi amat penasaran,
apakah ESR dan yang lainnya itu *pernah me-reply* suatu post di thread
dengan rtfm. Dari *link* seperti yang sudah saya cantumkan yaitu:
http://c2.com/cgi/wiki?IsYourRudenessNecessary
membuat saya tambah penasaran.

Ini sebagian kutipannya:
"I think that ESR's intentions with this essay are being misunderstood.
It is my impression that the essay is meant to be as much cautionary as
instructive. He never advocates or justifies such rudeness; he simply
explains that it happens (as anyone who frequented several technical
fora for any length of time could attest), gives some of the reasons why
it happens, and offers some advice on how to avoid being on the dirty
end of the stick. His own recommendations for answering questions, at
the end of the essay, stands in contrast to the sort of behavior he is
talking about.

Mind you, ESR is often notably rude himself, but I think that this just
a part of his general penchant for hypocrisy. The faults of the
messenger do not necessarily reflect upon the validity of the message. -
JayOsako"

Saya coba lagi dengan keyword berikut ini, siapa tau ada yg ketangkep robot:
RTFM ("Eric S. Raymond"|"e...@thyrsus.com"|"e...@locke.ccil.org") ("in
reply to:"|"Reply:"|"Previous message:") -"hallowed tradition"

Eh belum ketemu juga. Tapi memang gak penting kok, cuma penasaran saja.

Saya udah cukup banyak dapet masukan berharga di thread yg ini, jadi
saya undur diri, I'll lay low. Terimakasih banyak.


Dicky Wahyu Purnomo

unread,
May 28, 2005, 10:28:04 AM5/28/05
to tekno...@googlegroups.com
Yulian Firdaus H. wrote:
> On 5/27/05, Achmad Husni Thamrin <ahth...@gmail.com> wrote:
>
>>Saya memandang RTFM adalah cara belajar dengan "trial dan error", dan
>>itu berguna untuk mempertajam pertanyaan kita ke orang lain. Makanya
>>Fajri, RTFM dulu! hehehe.
>
>
> umumnya secara implisit penanya punya kecenderungan berharap jawaban
> instan atau disuapi, jadi ketika dilemparkan kail dan umpan masih
> bertanya "ikannya mana?"

ya sama aja ibaratkan : ada orang datang ke tempat kursus belajar
mengemudi mobil, dia keluarkan duit dan lsg ngomong: "Saya minta
langsung jadi SIM ya!"

*di tempat belajar, musti nya belajar dulu, caranya? nurut ama sang
guru... gak suka? cari tempat/guru laen*

Dicky Wahyu Purnomo

unread,
May 28, 2005, 10:39:32 AM5/28/05
to tekno...@googlegroups.com
Affan Basalamah wrote:

> Ya dengan cerita-cerita seperti inilah kami mengerti dunia IT, jadi
> mohon maaf kalau perilaku kami sampai saat ini masih terbawa-bawa
> seperti itu.

Justru hal2 itu yg bikin gw tertarik ngoprek IT hingga saat ini. Cukup
tau bahwa hal tsb bisa dilakukan tanpa tau caranya. *sebuah harapan*

Seni nya terletak di bagian bagaimana kita mencoba mencari tau caranya,
dan mengimplementasikannya hingga berhasil.

Bahkan jika gagal pun, itu sudah merupakan kepuasan tersendiri bisa
belajar :D

*ada yg merasakan hal yg serupa?*

rakhmat blank

unread,
May 28, 2005, 12:12:11 PM5/28/05
to tekno...@googlegroups.com
[quote]

ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.
[/quote]

ada wacana dari teman2 juga soal masalah ini, pada saat saya
melontarkan usul untuk mengajar linux untuk anak2, dengan kutipan
langsung,

"gw bukannya bilang klo belajar LINUX itu ga berguna, Tp mostly org2
kita pake nya WIN, Nanti apa ga kurang bermanfaat buat mereka, klo
mereka hanya mengerti LINUX?, Kasian mereka aja, klo ngertinya hanya
LINUX..., dan begitu mereka di suruh pake komp lain yg kebanyakan pake
WIN, mereka ga bisa make dong?"

cuman bisa bengong :o

boy avianto

unread,
May 29, 2005, 6:52:16 AM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On 28/05/05, rakhmat blank <rakhma...@gmail.com> wrote:
>
> "gw bukannya bilang klo belajar LINUX itu ga berguna, Tp mostly org2
> kita pake nya WIN, Nanti apa ga kurang bermanfaat buat mereka, klo
> mereka hanya mengerti LINUX?, Kasian mereka aja, klo ngertinya hanya
> LINUX..., dan begitu mereka di suruh pake komp lain yg kebanyakan pake
> WIN, mereka ga bisa make dong?"
>
> cuman bisa bengong :o
>

Wah, jangan bengong dong =)

Itu namanya berpikir jangka pendek. Yakin nanti setelah mereka besar
kebanyakan komputer masih memakai Windows?

Yang diajarkan jangan level "pengguna" tapi lebih ke level
"menyelesaikan pekerjaan" sehingga tidak sulit bagi mereka untuk
berpindah-pindah aplikasi selama aplikasi tersebut menyelesaikan
pekerjaan mereka.

Contoh paling sederhana: Dalam bidang desain web, terlihat sekali
tingkat adaptasi yang tinggi di kalangan desainer yang paham HTML dan
yang hanya tahu penggunaan alat bantu seperti Dreamweaver atau GoLive.
Desainer yang paham HTML dapat dengan mudah menggunakan alat bantu apa
saja (Bahkan Notepad di Windows atau vi di UNIX) sedangkan yang tidak
mengenal dasarnya akan susah payah beradaptasi setiap pergantian alat
bantu.

baskara

unread,
May 29, 2005, 8:05:41 AM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/29/05, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>
> Contoh paling sederhana: Dalam bidang desain web, terlihat sekali
> tingkat adaptasi yang tinggi di kalangan desainer yang paham HTML dan
> yang hanya tahu penggunaan alat bantu seperti Dreamweaver atau GoLive.
> Desainer yang paham HTML dapat dengan mudah menggunakan alat bantu apa
> saja (Bahkan Notepad di Windows atau vi di UNIX) sedangkan yang tidak
> mengenal dasarnya akan susah payah beradaptasi setiap pergantian alat
> bantu.

Seperti contoh kasus mengedit template Blogspot?

*lirik pak Andika* :D

Ikhlasul Amal

unread,
May 29, 2005, 10:33:52 AM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/29/05, baskara <bas...@gmail.com> wrote:
>
> On 5/29/05, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
> >

[...]

> > Desainer yang paham HTML dapat dengan mudah menggunakan alat bantu apa
> > saja (Bahkan Notepad di Windows atau vi di UNIX) sedangkan yang tidak
> > mengenal dasarnya akan susah payah beradaptasi setiap pergantian alat
> > bantu.
>
> Seperti contoh kasus mengedit template Blogspot?
>
> *lirik pak Andika* :D

Ups, Pak Andika bukan desainer, jadi permisalannya perlu diganti:
administrator yang paham konsep jaringan dapat dengan mudah
menggunakan Control Panel di Windows atau editor vi untuk mengganti
konfigurasi.

The moral of the story: vi (moreover Vim) is rock!
*maaf, promosi klan editor tertentu.

--
amal

Trias Adijaya

unread,
May 29, 2005, 9:58:29 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
Kenapa IGOS engga berusaha SBY biar ketemu sama Linus Torvards pas ke
US ? kenapa cuman sama BG ? bukannya lebih susah ketemu BG dibanding
LT ? sptnya inner circle SBY yg engga pernah tau kalo ada alternatif
lain selain Microsoft, jelas disini emang engga ada yg promosiin FOSS
di depan mrk, kalo mo terus terang ya ini emang kelemahan komunitas.
Untuk sekarang di Indonesia belajar pake linux di perusahaan engga
bisa pake sistem demokrasi, kalo setiap karyawan boleh pilih pake
win/linux dengan dual boot bakal engga pernah terjadi tuh linuxnya
digunakan dijamin, karena emang engga gampang merubah kebiasaan.
Buat CEO nya yakin kalo solusi Open Source bisa digunakan di
lingkungan mereka dan merupakan alternatif terbaik, setelah itu ajukan
konsep dengan dukungan komunitas yg solid, selanjutnya biar mrk
membuat kebijakan dengan standarisasi yang didukung FOSS. Otoriter
adalah jalan paling cepat untuk migrasi.
Jadi kapan RMS dateng ke Indonesia lagi ? bisa engga kira2x dia kita
bikin ketemu sama SBY ? :-)

baskara

unread,
May 29, 2005, 10:19:23 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Trias Adijaya <adi...@gmail.com> wrote:
>
> Kenapa IGOS engga berusaha SBY biar ketemu sama Linus Torvards pas ke
> US ? kenapa cuman sama BG ? bukannya lebih susah ketemu BG dibanding
> LT ?

Mungkin itu adalah undangan dari BG, bukan inisiatif SBY. Yang saya
tangkap dari berita kunjungannya ke sana, kebanyakan adalah urusan
dagang, mulai dari rencana pembelian suku cadang pesawat hercules,
pembelian pesawat komersial, penjajakan ekspor, hingga urusan
software.

Priyadi Iman Nurcahyo

unread,
May 29, 2005, 10:23:21 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On Monday 30 May 2005 08:58, Trias Adijaya wrote:

> Jadi kapan RMS dateng ke Indonesia lagi ? bisa engga kira2x dia kita
> bikin ketemu sama SBY ? :-)

wah repot kalau RMS 'diadu' sama SBY. bisa2 si RMS marah2in SBY :) kalau untuk
ketemu presiden mungkin yang lebih cocok: andrew tridgell, miguel de icaza,
bruce perens, dsb

--
http://priyadi.net

Arie Reynaldi Z

unread,
May 29, 2005, 10:33:14 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
> > Jadi kapan RMS dateng ke Indonesia lagi ? bisa engga kira2x dia kita
> > bikin ketemu sama SBY ? :-)
>
> wah repot kalau RMS 'diadu' sama SBY. bisa2 si RMS marah2in SBY :) kalau untuk
> ketemu presiden mungkin yang lebih cocok: andrew tridgell, miguel de icaza,
> bruce perens, dsb
>
Harusnya SBY ketemu sama CEO nya google, CEO redhat, CEO novell, IBM,
dan yang lain yang sudah mensupport Linux, selain minta mereka
investasi di indo, juga minta saran pengembangan linux di Indo.
Akhirnya kasih bantuan ke BlankOn untuk dijadikan OS utama di kalangan
pemerintah. :)

--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id

Trias Adijaya

unread,
May 29, 2005, 10:45:01 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
Bener juga Bas, kalo SBY boleh pilih pasti engga mau ketemu BG soalnya
bakal tambah report kan susah ngatur org Indonesia biar engga
ngebajak, tapi hebatnya Microsoft, tadi pagi di TVRI ada berita SBY
sedang beramah tamah dengan karyawan Microsoft yang berwarga negara
Indonesia lumayan rame tuh yang dateng (spt terlihat di layar)
sepertinya mo nunjukin kalo pelanggaran lisensi masih terjadi di
Indonesia, paling engga ada hasil karya warganya sendiri yang dibajak,
apa SBY mau membiarkan itu terus terjadi ? sebagai pemimpin yang baik
memang dia harus menghapuskan "penghisapan" antar sesama warganya
meskipun ada di US maupun di Indonesia.

Trias Adijaya

unread,
May 29, 2005, 11:14:19 PM5/29/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Arie Reynaldi Z <rey...@gmail.com> wrote:
>
> > > Jadi kapan RMS dateng ke Indonesia lagi ? bisa engga kira2x dia kita
> > > bikin ketemu sama SBY ? :-)
> >
> > wah repot kalau RMS 'diadu' sama SBY. bisa2 si RMS marah2in SBY :) kalau untuk
> > ketemu presiden mungkin yang lebih cocok: andrew tridgell, miguel de icaza,
> > bruce perens, dsb
> >
> Harusnya SBY ketemu sama CEO nya google, CEO redhat, CEO novell, IBM,
> dan yang lain yang sudah mensupport Linux, selain minta mereka
> investasi di indo, juga minta saran pengembangan linux di Indo.
> Akhirnya kasih bantuan ke BlankOn untuk dijadikan OS utama di kalangan
> pemerintah. :)


Lain kali kalo SBY 'main' ke negri org ada baiknya sih berkunjung ke
Jerman, tepatnya Munich yang sudah menetapkan migrasi 14,000
desktopnya ke Linux dengan distro Debian
http://news.zdnet.co.uk/0,39020330,39195204,00.htm
jgn lupa bawa juga Sutiyoso dan gubernur lain biar sekalian studi
banding ato paling engga ikutan migrasi linux barengan dgn mrk, gimana
pasukan FOSS ? ada yg punya link ke SBY ? ato barangkali si Boy yg
berada di sekitar Munich ada laporan pandangan mata ttg proses ini ?

Mohammad DAMT

unread,
May 30, 2005, 1:28:10 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On Sen, 2005-05-30 at 09:33 +0700, Arie Reynaldi Z wrote:
> Harusnya SBY ketemu sama CEO nya google, CEO redhat, CEO novell, IBM,
> dan yang lain yang sudah mensupport Linux, selain minta mereka

asal jgn ketemu Nat Friedman, belom mandi soalnya *-P
http://lists.quaker.eu.org/pipermail/kdedevelopers-feed/2005-May/000064.html

siapa yg belom mandi juga?

> investasi di indo, juga minta saran pengembangan linux di Indo.
> Akhirnya kasih bantuan ke BlankOn untuk dijadikan OS utama di kalangan
> pemerintah. :)

BlankOn itu apa ya?
*kok saya sekarang pesimis ya dgn proyek2 open source di sini?*



adi

unread,
May 30, 2005, 3:50:14 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, May 30, 2005 at 08:58:29AM +0700, Trias Adijaya wrote:
> Kenapa IGOS engga berusaha SBY biar ketemu sama Linus Torvards

weh .. ngapain? minta SBY jadi kernel hacker biar lebih
merakyat? :-))

kayaknya kok teriritasi banget kalau SBY ketemu BG.
IGOS itu mestinya jangan pernah meminta SBY ketemu sama siapa-siapa,
kalau IGOS ok, malah tidak perlu ketemu siapa-siapa.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Ikhlasul Amal

unread,
May 30, 2005, 4:39:42 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Trias Adijaya <adi...@gmail.com> wrote:
>
> Lain kali kalo SBY 'main' ke negri org ada baiknya sih berkunjung ke
> Jerman, tepatnya Munich yang sudah menetapkan migrasi 14,000
> desktopnya ke Linux dengan distro Debian
> http://news.zdnet.co.uk/0,39020330,39195204,00.htm
> jgn lupa bawa juga Sutiyoso dan gubernur lain biar sekalian studi
> banding ato paling engga ikutan migrasi linux barengan dgn mrk, gimana


Hahahaha... studi banding mengajak gubernur?
Serius atau menyindir nih?
Apalagi sampai di level pemakaian perangkat lunak di kantor gubernur?
Jauhhhh... Untuk kunjungan bilateral yang membahas persoalan lebih
tinggi dan lebih penting saja masih tersendat-sendat, boro-boro
membicarakan perangkat lunak yang dipilih Munich.

Seperti kata Pak Adi, tidak perlu terlalu heboh: lebih baik duitnya
(kalau ada duit) diputar agar komunitas yang menjadi sendi utama Open
Source bergerak.

*maaf, saya tidak bermaksud ofensif terhadap anda lho. Kenyataan di
sekitar kita memang pahit, tapi tetap lucu. :-)

--
amal

Made Wiryana

unread,
May 30, 2005, 5:44:06 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
Masalah IGOS ternyata lebih besar dari "Microsoft vs Linux", ada
lainnya lagi. Daripada SBY ketemu BG, mending SBY ngasih ticket saya
aja ah ahaha biar bisa liburan lagi ke Indonesia dan bisa makan-makan
di Dapur Sunda

IMW

Heru Tjatur

unread,
May 30, 2005, 7:55:27 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
Yup, setuju..!

Tapi ngomong-ngomong, dari pada sibuk mempertentangkan dua "MS vs
Linux", kenapa IGOS atau komunitas Open Source Indonesia tidak
memunculkan rencana-rencana atau projek-projek GPL untuk
aplikasi-aplikasi yang "sangat dibutuhkan" di negara ini. Misalnya,
sistem informasi kependudukan atau yang lain.

Lho kok itu? Sederhana, kalau nonton TV dan mendengar para Pejabat,
Pakar atau yang mengaku Pakar, Wakil Rakyat atau yang mengaku mewakili
rakyat, atau selebritis politik, sedih bercampur geli. Mereka
berbicara program sampai berbusa, ketika ditanya dasarnya apa? Data 5
- 10 tahun yang lalu. Lha, kalau badan negara semacam BPS saja tidak
mempunyai data yang uptodate, jadi selama ini rencana pembangunan itu
dasarnya apa, yaaa?

Kayaknya, Komunitas Open Source dapat memberikan kontribusi melalui
sisi ini. Memang tidak harus seperti contoh sistem kependudukan di
atas. Tidak sedikit kok, misalnya bikin modul-modul pengajaran
operasional komputer, sehingga bikin TOT operator komputer, di tingkat
kecamatan misalnya, dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
terjangkau.

Mudah-mudahan ini tidak cuma sekedar mimpi. Ini hanya sekedar ide
lho... Soalnya kalau ngomong teknis, jadi malu saya.. hehehehee..

--tjatur

Hasta Purnama

unread,
May 30, 2005, 8:05:11 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
30/05/2005 18:55 Heru Tjatur heru....@gmail.com:

> kenapa IGOS atau komunitas Open Source Indonesia tidak
> memunculkan rencana-rencana atau projek-projek GPL untuk
> aplikasi-aplikasi yang "sangat dibutuhkan" di negara ini. Misalnya,
> sistem informasi kependudukan atau yang lain.

atau yg sangat dibutuhkan komunitas warnet yg bermigrasi ke linux,
software billing yg instalasi dan pengoperasiannya semudah program
serupa di m$ windows.

> para Pejabat,
> Pakar atau yang mengaku Pakar, Wakil Rakyat atau yang mengaku mewakili
> rakyat, atau selebritis politik, sedih bercampur geli. Mereka
> berbicara program sampai berbusa, ketika ditanya dasarnya apa? Data 5
> - 10 tahun yang lalu. Lha, kalau badan negara semacam BPS saja tidak
> mempunyai data yang uptodate, jadi selama ini rencana pembangunan itu
> dasarnya apa, yaaa?

data pemilih pada pemilu 2004 dan pilkada* cukup memadai
dijadikan acuan perencanaan pembangunan.


--
Terima Kasih

Ikhlasul Amal

unread,
May 30, 2005, 10:31:36 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Heru Tjatur <heru....@gmail.com> wrote:
>
> Tapi ngomong-ngomong, dari pada sibuk mempertentangkan dua "MS vs
> Linux", kenapa IGOS atau komunitas Open Source Indonesia tidak
> memunculkan rencana-rencana atau projek-projek GPL untuk
> aplikasi-aplikasi yang "sangat dibutuhkan" di negara ini. Misalnya,
> sistem informasi kependudukan atau yang lain.

Oleh karena itu sekarang pemerintah "digugat": apakah IGOS sudah
dilupakan, karena hal itu sebagai salah satu bentuk komitmen.

Menurut saya, secara teknis mungkin saja membangun sistem besar
seperti yang anda harapkan di atas, namun kendalanya pada kebijakan
agar sistem tersebut punya legitimasi untuk dijalankan. Karena jika
tidak, siapa yang merasa berkepentingan?

Untuk komunitas, masih banyak pekerjaan rumah lain yang lebih ringan
dikerjakan (sumber daya komunitas tentu lebih terbatas dibanding
pemerintah) dan lebih mereka perlukan.

Jangan kuatir kalau tentang pekerjaan [1], banyak kok yang dapat
dilakukan di Indonesia. ;)

[1] benar-benar pekerjaan lho, bukan pekerjaan dalam rangka ada hasil profitnya.

> Data 5
> - 10 tahun yang lalu. Lha, kalau badan negara semacam BPS saja tidak
> mempunyai data yang uptodate, jadi selama ini rencana pembangunan itu
> dasarnya apa, yaaa?

Masih ada kemungkinan lain:
1) informasi tersebut sulit diakses oleh publik,
2) si penyampai di atas belum tahu cara mendapatkan informasi yang lebih akhir.

Agak riskan menurut saya menyimpulkan hal ini semata-mata karena BPS
tidak memiliki data yang mutakhir.

> Kayaknya, Komunitas Open Source dapat memberikan kontribusi melalui
> sisi ini. Memang tidak harus seperti contoh sistem kependudukan di
> atas. Tidak sedikit kok, misalnya bikin modul-modul pengajaran
> operasional komputer, sehingga bikin TOT operator komputer, di tingkat
> kecamatan misalnya, dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
> terjangkau.

Benar, lebih baik mengerjakan yang seperti ini: kecil, praktis, dan
"GTD-style". ;)

Yang menantang agar tersedia tulisan Linux untuk keperluan praktis
("sederhana" dalam bahasa mereka yang memerlukan) juga bertambah.
Soalnya konon Linux itu masih seperti identik dengan kerumitan di
sekitar server dan hal-hal yang dianggap "njlimet" oleh kalangan awam.


--
amal

baskara

unread,
May 30, 2005, 10:40:12 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Ikhlasul Amal <ikhlas...@gmail.com> wrote:
>
> Yang menantang agar tersedia tulisan Linux untuk keperluan praktis
> ("sederhana" dalam bahasa mereka yang memerlukan) juga bertambah.
> Soalnya konon Linux itu masih seperti identik dengan kerumitan di
> sekitar server dan hal-hal yang dianggap "njlimet" oleh kalangan awam.

Bicara tentang Open Source, mengapa hanya Linux?
Matlab juga open source. :-D
Distro BSD juga open source.
Mac OS X semi open source (setengah-setengah).

Kalau Open Source software tapi berharga mahal bagaimana? Digalakkan juga?

* hanya iseng * ;-)

Ikhlasul Amal

unread,
May 30, 2005, 11:04:06 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, baskara <bas...@gmail.com> wrote:
>
> Bicara tentang Open Source, mengapa hanya Linux?
> Matlab juga open source. :-D
> Distro BSD juga open source.
> Mac OS X semi open source (setengah-setengah).
>
> Kalau Open Source software tapi berharga mahal bagaimana? Digalakkan juga?
>
> * hanya iseng * ;-)
>

*subjek diganti karena bagian "SBY..." sudah tidak relevan lagi.

Ampun Bas, ampun! ;-)
Itu hanya penyederhanaan, malas aku menulis daftarnya panjang di sini.

Kalau harganya mahal?
- cari produk open source lain yang lebih murah.
- cari solusi yang lebih menguntungkan (misalnya lebih mahal karena
bayar ongkos pelatihan, duitnya berputar di mana? tenaga kerja dalam
negeri atau lisensi terus ke Amerika?)
- mana yang lebih menguntungkan secara keseluruhan, misalnya lebih
banyak orang yang lebih mengerti pilihan (freedom?) dibanding
monokultur?

Itu untuk organisasi, tentu lebih banyak pertimbangan. Ya maklumlah.

Kalau untuk pribadi, setidaknya saya bisa berhemat ongkos dengan
menggunakan Debian. Duitnya bisa dialokasikan untuk keperluan lain.
Selain itu, memang lebih enak dioprek (yang ini skornya tinggi buat
saya).

--
amal

Ariya Hidayat

unread,
May 30, 2005, 11:33:43 AM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
> Matlab juga open source. :-D

Matlab *sudah* open-source? Hmm, ini saya baru tahu...Memang
toolbox-nya sih ada yang sifatnya open-source, tapi Matlabnya sendiri?

Kalau "tiruan"-nya seperti Octave, Freemat, atau Scilab memang produk
open-source.

baskara

unread,
May 30, 2005, 7:34:15 PM5/30/05
to tekno...@googlegroups.com
Ariya Hidayat <ariya....@gmail.com> to teknologia
>> Matlab juga open source. :-D

> Matlab *sudah* open-source? Hmm, ini saya baru tahu...Memang
> toolbox-nya sih ada yang sifatnya open-source, tapi Matlabnya sendiri?

> Kalau "tiruan"-nya seperti Octave, Freemat, atau Scilab memang produk
> open-source.

*threadnya saya paksa pindah ke sini ya?* :-)

Maksud saya memang toolboxnya. Matlab-nya sendiri hanyalah sebuah GUI
dan "otak" untuk manajemen memori, dll.
Kalau kita membeli Matlab (tanpa toolbox lainnya), kita akan
mendapatkan toolbox yang bernama Matlab, yang berisi operasi-operasi
matrix secara umum.
Memang tidak totally open source seperti Octave.

*sudah lama tidak pakai octave, masih hidup ternyata? he3x*

Heru Tjatur

unread,
May 31, 2005, 2:32:24 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
Akan tetapi faktanya, untuk membuat acuan alokasi dana subsidi BBM di
saja datanya simpang siur. Nggak ada yang akur.

Tapi ya sudahlah. Mudah-mudahan memang hasil Pendataan Pemilu 2004
yang lalu menghasilkan informasi yang lebih akurat untuk acuan di
atas.

*kening berkerut* ;-)

terima kasih
-tjatur
>
> --
> Terima Kasih
>
>

Affan Basalamah

unread,
May 31, 2005, 3:11:16 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
Ikhlasul Amal wrote:
>
> Yang menantang agar tersedia tulisan Linux untuk keperluan praktis
> ("sederhana" dalam bahasa mereka yang memerlukan) juga bertambah.
> Soalnya konon Linux itu masih seperti identik dengan kerumitan di
> sekitar server dan hal-hal yang dianggap "njlimet" oleh kalangan awam.
>

Assalamu 'alaikum wr.wb.

Saya sedikit sekali tahu Linux, tapi kalau untuk FreeBSD, beberapa
kerumitan ini (setidaknya dalam menginstall, mengupgrade/downgrade dan
menghapus aplikasi server) sudah dapat dikurangi dengan menggunakan
Ports Collection serta aplikasi Portupgrade, dan dibantu dengan sebuah
server CVSup dan Mirror FreeBSD (ini kayaknya yang susah dicari di
Indonesia, apalagi berkaitan dengan bandwidth).

Kebetulan saya di kampus cukup beruntung punya binatang ini, sehingga
saat ini hampir semua instalasi FreeBSD saya (apalagi versi 5.4) sudah
nggak ada pusing-pusingnya sama sekali, apalagi yg berurusan dengan
Apache, MySQL, PHP dan segala macem. Tahunya beres! Jadi kepala saya
masih bisa dipakai utk hal-hal yang lain :)

Dokumentasi lebih kurangnya sempat saya tulis di
http://blog.monitoring.itb.ac.id/index.php?cat=7

Mudah-mudahan membantu,

wass.wr.wb.

-affan

Pradika Yudha

unread,
May 31, 2005, 4:12:23 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com

>BlankOn itu apa ya?
>*kok saya sekarang pesimis ya dgn proyek2 open source di sini?*
>
>
>
>
>
>
Dikutip dari http://www.blankonlinux.or.id

BlankOn Linux adalah distro Linux berbasis Fedora Core yang dikembangkan
oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI).

Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) adalah organisasi non-profit
yang bergerak dalam bidang pengembangan software dan sumber daya manusia
di bidang Linux, Free dan Open Source Software (FOSS) di Indonesia.
Dokumen ini menjelaskan FOSS dalam bentuk distro Linux yang telah
dibangun YPLI. YPLI mengembangkan distro BlankOn Linux secara terbuka,
yang dikerjakan oleh banyak personal atau siapa saja yang ingin
menghasilkan distro Linux khas Indonesia, khususnya untuk dunia
pendidikan, perkantoran dan pemerintahan, berbasis Fedora Core. BlankOn
Linux versi 1.0 ini disponsori oleh UNESCO (United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization) dan beberapa lembaga lainnya.

Tujuan pengembangan BlankOn Linux adalah menghasilkan distro Linux yang
sesuai dengan kebutuhan pengguna komputer umum di Indonesia. Yayasan
Penggerak Linux Indonesia (YPLI) bekerja sama dengan UNESCO dan
komunitas Linux lainnya telah mengembangkan BlankOn Linux 1.0 ini
menjadi sistem operasi yang lengkap berbasis Fedora Core 3 yang
memanfaatkan software open source. Pengembangan akan terus dilakukan
secara terbuka dalam forum publik. Kegiatan ini akan menghasilkan
release BlankOn Linux satu hingga dua kali setahun.

BTW ada yang tahu daftar distro linux karya bangsa indonesia?

--
Pradika Yudha
pradika at gmail dot com


Ronny Haryanto

unread,
May 31, 2005, 4:31:32 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, May 31, 2005 at 03:12:23PM +0700, Pradika Yudha wrote:
>
>
> >BlankOn itu apa ya?
> >*kok saya sekarang pesimis ya dgn proyek2 open source di sini?*
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> Dikutip dari http://www.blankonlinux.or.id
>
> BlankOn Linux adalah distro Linux berbasis Fedora Core yang dikembangkan
> oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI).

http://www.blankonlinux.or.id/rilis-notes.html

"
Daftar nama pengembang BlankOn Linux 1.0:

* Koordinator: Mohammad DAMT
"

Coba kalo mengutip email, attribution/namanya jangan dihapus, supaya
tahu mengutip siapa.

Ronny

Pradika Yudha

unread,
May 31, 2005, 4:38:37 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
Maap soalnya saya belum biasa, maklum baru berkenalan dengan thunderbird :-)

Ronny Haryanto

unread,
May 31, 2005, 6:11:40 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, May 31, 2005 at 03:38:37PM +0700, Pradika Yudha wrote:
> Maap soalnya saya belum biasa, maklum baru berkenalan dengan thunderbird
> :-)

Hehe, nggak papa lah, nggak perlu minta maaf, hehe. Sorry kalo tulisan
saya kedengarannya kasar, hehe.

Ronny

Aldi

unread,
May 31, 2005, 7:10:47 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/30/05, Mohammad DAMT <md...@gnome.org> wrote:
>
> BlankOn itu apa ya?

jeruk nanya jeruk :P

> *kok saya sekarang pesimis ya dgn proyek2 open source di sini?*

apakah ini penanda proyek BlankOn akan terhambat perkembangannya?

--
aldi, kriwil.com

baskara

unread,
May 31, 2005, 8:31:16 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/31/05, Affan Basalamah <affanzb...@gmail.com> wrote:
> Saya sedikit sekali tahu Linux, tapi kalau untuk FreeBSD, beberapa
> kerumitan ini (setidaknya dalam menginstall, mengupgrade/downgrade dan
> menghapus aplikasi server) sudah dapat dikurangi dengan menggunakan
> Ports Collection serta aplikasi Portupgrade, dan dibantu dengan sebuah
> server CVSup dan Mirror FreeBSD (ini kayaknya yang susah dicari di
> Indonesia, apalagi berkaitan dengan bandwidth).

Sistem port dan cvsup memang sangat nyaman (bahkan di Mac OS X saya
masih memakainya melalui DarwinPorts), tetapi membutuhkan koneksi
Internet. Untuk yang mempunyai koneksi permanen atau leased line tentu
tidak banyak masalah. Yang pakai dial-up, gak tega bayar pulsa
teleponnya. :-)

> Dokumentasi lebih kurangnya sempat saya tulis di
> http://blog.monitoring.itb.ac.id/index.php?cat=7

(111) Connection refused

*hanya untuk 167.205.* ya? *

Ronny Haryanto

unread,
May 31, 2005, 8:48:37 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, May 31, 2005 at 09:31:16PM +0900, baskara wrote:
> On 5/31/05, Affan Basalamah <affanzb...@gmail.com> wrote:
> > Saya sedikit sekali tahu Linux, tapi kalau untuk FreeBSD, beberapa
> > kerumitan ini (setidaknya dalam menginstall, mengupgrade/downgrade dan
> > menghapus aplikasi server) sudah dapat dikurangi dengan menggunakan
> > Ports Collection serta aplikasi Portupgrade, dan dibantu dengan sebuah
> > server CVSup dan Mirror FreeBSD (ini kayaknya yang susah dicari di
> > Indonesia, apalagi berkaitan dengan bandwidth).
>
> Sistem port dan cvsup memang sangat nyaman (bahkan di Mac OS X saya
> masih memakainya melalui DarwinPorts), tetapi membutuhkan koneksi
> Internet. Untuk yang mempunyai koneksi permanen atau leased line tentu
> tidak banyak masalah. Yang pakai dial-up, gak tega bayar pulsa
> teleponnya. :-)

Amin. Di Linux, ada portage yg dipake di Gentoo Linux. Konsepnya mirip
kayaknya (saya sendiri belum pernah pake freebsd maupun ports, jadi dr
denger2/baca2 aja). Untuk saya pribadi, buat desktop saya memilih
Gentoo karena portagenya ini, enak kalo udah biasa. Kalo gak
memungkinkan untuk pake Gentoo, pilihan kedua baru Ubuntu/Debian.

Mirror Gentoo sources dan portage-tree di Indonesia ada di
komo.vlsm.org dan (nantinya) kambing.vlsm.org. (Tapi rsync access
masih terbatas kayaknya.) Terima kasih kepada Pak Rahmat M.
Samik-Ibrahim dan Pak Poltak Lumbanbulus.

Ronny

Bi[G] ™

unread,
May 31, 2005, 8:58:19 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On 5/31/05, Ronny Haryanto <ronn...@haryan.to> wrote:
>
> Mirror Gentoo sources dan portage-tree di Indonesia ada di
> komo.vlsm.org dan (nantinya) kambing.vlsm.org. (Tapi rsync access
> masih terbatas kayaknya.) Terima kasih kepada Pak Rahmat M.
> Samik-Ibrahim dan Pak Poltak Lumbanbulus.
>

kenapa nggak ada yang pake SuSE yah?
jadi minder nih pake SuSE sendirian..

--
Bi[G]
http://www.adypermadi.com
Y!:br4ind4m4ge
Gmail:bravo.in...@gmail.com
http://blog.adypermadi.com
----------------------------------------

Ronny Haryanto

unread,
May 31, 2005, 9:24:22 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, May 31, 2005 at 07:58:19PM +0700, Bi[G] ™ wrote:
> On 5/31/05, Ronny Haryanto <ronn...@haryan.to> wrote:
> > Mirror Gentoo sources dan portage-tree di Indonesia ada di
> > komo.vlsm.org dan (nantinya) kambing.vlsm.org. (Tapi rsync access
> > masih terbatas kayaknya.) Terima kasih kepada Pak Rahmat M.
> > Samik-Ibrahim dan Pak Poltak Lumbanbulus.
>
> kenapa nggak ada yang pake SuSE yah?
> jadi minder nih pake SuSE sendirian..

Saya juga ada mesin yg pake SuSE. It's a good distro sih. Cuma saya
udah trauma pake distro yg commercial sejak kasus Red Hat tempo hari
yg tiba2 jadi gak free (binarynya). Dan package managementnya saya
kurang suka kalo pake RPM setelah kenal apt-get dan portage. I know,
bisa dipasangin apt-get atau yum, tapi tetep aja repositorynya susah
nyarinya. Other than that, it's very solid sih.

Tapi kalo butuh vendor support (misalnya buat Oracle) dan ada dananya
sih saya gak tau mau pilih mana antara SuSE ama Red Hat, mungkin
seimbang kali kalo diitung2 jangka panjangnya, hihi. Tapi mending
menghemat dana dan pake White Box aja, hihi.

Ronny

Affan Basalamah

unread,
May 31, 2005, 10:52:03 AM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com

baskara wrote:

>
> Sistem port dan cvsup memang sangat nyaman (bahkan di Mac OS X saya
> masih memakainya melalui DarwinPorts), tetapi membutuhkan koneksi
> Internet. Untuk yang mempunyai koneksi permanen atau leased line tentu
> tidak banyak masalah. Yang pakai dial-up, gak tega bayar pulsa
> teleponnya. :-)
>

Ya mungkin ini jadi salah satu faktor kenapa FreeBSD gak terlalu ngetop
di Indonesia, sebab penggunanya musti sering konek ke Internet :)

> > Dokumentasi lebih kurangnya sempat saya tulis di
> > http://blog.monitoring.itb.ac.id/index.php?cat=7
>
> (111) Connection refused
>
> *hanya untuk 167.205.* ya? *

Wah, mohon maaf,
tadi httpd nya mati :(
sila dicoba lagi *jadi malu*

-affan

Dicky Wahyu Purnomo

unread,
May 31, 2005, 6:47:58 PM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
Pradika Yudha wrote:
>
>
>> BlankOn itu apa ya?
>> *kok saya sekarang pesimis ya dgn proyek2 open source di sini?*

>>
> Dikutip dari http://www.blankonlinux.or.id
>
> BlankOn Linux adalah distro Linux berbasis Fedora Core yang dikembangkan
> oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI).

kekekekeeke ... yg nanya itu pdhl termasuk pendirinya :))
*sorry gak tahan mo komentar*

btw mdamt pesimis krn hal apa nih ?

Mohammad DAMT

unread,
May 31, 2005, 8:29:33 PM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Rab, 2005-06-01 at 00:47 +0200, Dicky Wahyu Purnomo wrote:
> btw mdamt pesimis krn hal apa nih ?

0 - bergeraknya lambat, kompornya sudah keburu kehabisan minyak airnya belom mendidih juga
1 - jumlah aktivis (biasanya 4L) tidak sebanding dengan jumlah
penggembira
2 - minimnya dukungan dana, sangat sedikit proyek yang dibiayai dunia
bisnis, akibatnya sangat wajar pelaku akan konsentrasi untuk cari makan
terlebih dahulu (plus untuk beli susu, kridit motor, bayar kontrakan,
iuran hansip dsb)
3 - lebih banyak godaan karena solusi non-opensource lebih mudah
dijangkau (untung sekarang ada pak polisi yang siap membantu)

nomor 2 sepertinya penting karena mungkin bisa mendongkrak yang nomor 1
dan 0.


adi

unread,
May 31, 2005, 10:31:04 PM5/31/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, May 30, 2005 at 11:40:12PM +0900, baskara wrote:
> Bicara tentang Open Source, mengapa hanya Linux?

IGGPL mestinya. Tidak harus linux, asal GPL.
Jargon opensource cuma cocok buat luser, jadi, ndak heran
kalau nantinya IGOS ndak kemana-mana.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

baskara

unread,
Jun 1, 2005, 10:25:25 AM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/1/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> IGGPL mestinya. Tidak harus linux, asal GPL.
> Jargon opensource cuma cocok buat luser, jadi, ndak heran
> kalau nantinya IGOS ndak kemana-mana.

Warnet saya rasa memang tidak membutuhkan open source software. Yang
dibutuhkan adalah software berlisensi ekonomis. Ada warnet yang
menghasilkan keuntungan banyak kalau memakai produk Ms, ada yang
tidak, dsb.

IGOS itu tujuannya lebih luas lagi
(http://www.igos.web.id/tujuan.htm), yaitu menuju kemandirian di
industri software.

Ikhlasul Amal

unread,
Jun 1, 2005, 10:53:06 AM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/1/05, baskara <bas...@gmail.com> wrote:
>
> Warnet saya rasa memang tidak membutuhkan open source software. Yang
> dibutuhkan adalah software berlisensi ekonomis. Ada warnet yang
> menghasilkan keuntungan banyak kalau memakai produk Ms, ada yang
> tidak, dsb.

Sebagian dari mereka memerlukan perangkat lunak gratisan saat ini
untuk solusi praktis, karena menunggu harga yang memadai dari
Microsoft kurang jelas. Yang menarik adalah "idealisme" mereka untuk
berusaha bermain "fair" dan mengikuti aturan. Kalau misalnya suatu
saat harga perangkat lunak dari MS terjangkau oleh mereka dan kembali
ke sana, tidak masalah toh. Demikian juga apabila sebagian dari mereka
merasa menggunakan Open Source/Free Software lebih menguntungkan, juga
sangat mungkin untuk jangka panjang.

--
amal

adi

unread,
Jun 1, 2005, 11:48:11 AM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
On Wed, Jun 01, 2005 at 11:25:25PM +0900, baskara wrote:
> IGOS itu tujuannya lebih luas lagi
> (http://www.igos.web.id/tujuan.htm), yaitu menuju kemandirian di
> industri software.

frasa 'lebih luas lagi' itu bisa jadi jalan keluar cari selamat
lho :-)) ndak ada yang namanya 'lebih luas lagi', yang ada itu
harus definitif, kalau tidak definitif berarti going nowhere.

istilah opensource itu sudah menjadi semacam kesepakatan untuk
salah kaprah. bahkan pakar/selebritis menggunakan istilah
opensource untuk free software dan sebaliknya. keadaan ini,
menyebabkan istilah opensource menjadi rentan terhadap usaha
kooptasi (ingat reformasi, karena tidak ada yang merumuskan
secara definitif, akhirnya going nowhere kan?).

jadi, kesimpulannya (saya): jargon opensource untuk luser,
gunakan free software atau GPL.

ESR itu yang ngebikin fetchmail, dugaan saya 'istilah' opensource
akan menjadi chaos seperti fetchmail hi..hi.. (j/k). setidaknya
seperti fetchmail, menarik di tataran ide, tapi amat sangat
problematik sekali ... sampai ada yang bilang sebaiknya pembuat
fetchmail digantung saja. nenek bilang itu berbahaya.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja



Ikhlasul Amal

unread,
Jun 1, 2005, 12:03:54 PM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/1/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> ESR itu yang ngebikin fetchmail, dugaan saya 'istilah' opensource
> akan menjadi chaos seperti fetchmail hi..hi.. (j/k). setidaknya
> seperti fetchmail, menarik di tataran ide, tapi amat sangat
> problematik sekali ... sampai ada yang bilang sebaiknya pembuat
> fetchmail digantung saja. nenek bilang itu berbahaya.

*glek...
ESR memang "aneh", bersenjata (dia pro senjata api untuk publik), dan
meninggalkan Perl menuju Python (kemungkinan selera humornya ikut
menurun). Tapi tentang fetchmail, duh... produk ini saya pakai
semenjak saya kenal Linux sampai hari ini. Walaupun klien email yang
saya pakai mendukung POP, fetchmail tetap lebih enak.

--
amal

baskara

unread,
Jun 1, 2005, 12:09:56 PM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/2/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> jadi, kesimpulannya (saya): jargon opensource untuk luser,
> gunakan free software atau GPL.
>
> ESR itu yang ngebikin fetchmail, dugaan saya 'istilah' opensource
> akan menjadi chaos seperti fetchmail hi..hi.. (j/k). setidaknya
> seperti fetchmail, menarik di tataran ide, tapi amat sangat
> problematik sekali ... sampai ada yang bilang sebaiknya pembuat
> fetchmail digantung saja. nenek bilang itu berbahaya.

hehehe... saya juga termasuk yang aneh tentang penggunaan istilah
"open source" di IGOS itu.

GPL saya rasa cocok, tapi mencari istilah yang lebih "indonesia" susah juga.

Free software? I don't like this term. Ini bisa macam-macam
penafsiran. Free = bebas bisa berarti bebas bermacam-macam.

Ananda Putra

unread,
Jun 1, 2005, 1:20:38 PM6/1/05
to tekno...@googlegroups.com
Sudah aku duga sebagian jawabannya.. :D
Soalnya aku ngalami sendiri sih hal2 tsb.. Di otak ini banyak ide yg
ingin dituangkan utk komunitas.. tapi aku gak mau mati dulu gara-gara
kecapean nyari minyak, aku juga ingin bisa menyalakan apinya dan
memasak airnya hingga matang, jadi kudu nyari energi tambahan dulu..
:D


--
-Ananda Putra-

fade2blac

unread,
Jun 2, 2005, 3:49:08 AM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
waktu itu, Thu, Jun 02, 2005 at 01:09:56AM +0900, baskara menulis:
>
> hehehe... saya juga termasuk yang aneh tentang penggunaan istilah
> "open source" di IGOS itu.
>
> GPL saya rasa cocok, tapi mencari istilah yang lebih "indonesia" susah juga.
>
> Free software? I don't like this term. Ini bisa macam-macam
> penafsiran. Free = bebas bisa berarti bebas bermacam-macam.

Dulu kayaknya pernah di bahas. Perangkat Lunak Bebas? Tentang definisi bebasnya kan sudah ditentukan. Lagipula jika menerangkan GPL, itu sangat jelas. Yaitu GPL-nya GNU. Tidak ada perangkap, tidak absurd. Dan GPL adalah yang paling cocok untuk Indonesia.

Jadi, kita kembali ke khittah :) kita masyarakatkan istilah GPL daripada open source :) hehehe..


--
fade2bl.ac

baskara

unread,
Jun 2, 2005, 5:01:21 AM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/2/05, fade2blac <sp...@postpi.com> wrote:
>
> Dulu kayaknya pernah di bahas. Perangkat Lunak Bebas? Tentang definisi bebasnya kan sudah ditentukan.

Ditentukan siapa?
Dulu sampai ada yang sibuk menerangkan, "free itu bukan gratis!" :D

> Lagipula jika menerangkan GPL, itu sangat jelas. Yaitu GPL-nya GNU. Tidak ada
> perangkap, tidak absurd. Dan GPL adalah yang paling cocok untuk Indonesia.
>
> Jadi, kita kembali ke khittah :) kita masyarakatkan istilah GPL daripada open source :) hehehe..

Saya setuju dengan itu. GPL itu sudah jelas tertulis. Open source dan
free software bisa ditafsirkan macam-macam, tapi GPL tidak.

fade2blac

unread,
Jun 2, 2005, 6:05:47 AM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
waktu itu, Thu, Jun 02, 2005 at 06:01:21PM +0900, baskara menulis:
>
> Ditentukan siapa?
> Dulu sampai ada yang sibuk menerangkan, "free itu bukan gratis!" :D
>

http://www.gnu.org/philosophy/free-sw.id.html

>
> Saya setuju dengan itu. GPL itu sudah jelas tertulis. Open source dan
> free software bisa ditafsirkan macam-macam, tapi GPL tidak.

Secara pragmatis dapat disimpulkan free software adalah software yang berlisensi GPL.
Ada perbedaan besar dalam filosofi antara Free Software dengan Open Source sebagai movement.
Misal, menurut Open Source, propietary software adalah solusi suboptimal*. Sedangkan menurut Free Software, propietary software adalah masalah, dan solusinya adalah Free Software.

http://slashdot.org/interviews/00/05/01/1052216.shtml

* less than optimal <a suboptimal diet> <a suboptimal dose of a drug>

--
fade2bl.ac

baskara

unread,
Jun 2, 2005, 7:11:55 AM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/2/05, fade2blac <sp...@postpi.com> wrote:
>
> waktu itu, Thu, Jun 02, 2005 at 06:01:21PM +0900, baskara menulis:
> >
> > Ditentukan siapa?
> > Dulu sampai ada yang sibuk menerangkan, "free itu bukan gratis!" :D
> >
>
> http://www.gnu.org/philosophy/free-sw.id.html

Kalau berbicara dalam konteks GNU, free software tentu saja seperti
yang tertulis di URL di atas. Namun demikian, orang bisa saja
menyebut-nyebut free software, tetapi di dalam kepalanya sebenarnya
bukan dalam konteks GNU. Istilah "free software" adalah istilah umum
dalam bahasa Inggris yang bisa diartikan "perangkat lunak gratis"
juga. Saya bisa juga mempunyai definisi sendiri tentang free software
karena istilah "free software" itu bukan milik/trademark dari GNU.

GPL is free software, but free software is not GPL.

adi

unread,
Jun 2, 2005, 10:18:23 PM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
On Wed, Jun 01, 2005 at 06:03:54PM +0200, Ikhlasul Amal wrote:
> Tapi tentang fetchmail, duh... produk ini saya pakai
> semenjak saya kenal Linux sampai hari ini. Walaupun klien email yang
> saya pakai mendukung POP, fetchmail tetap lebih enak.

Percis seperti yang terjadi dengan 'opensource' di Indonesia.
Banyak yang demen kok. Jadi, tenang saja anda tidak sendirian :-)

He..he.. j/k lho ya. Sering kali memang definisi/teori/wacana/idealisme
jauh sekali dengan praktek. Prakteknya biasanya sangat jauh lebih
problematik. Tapi kalau masih dalam tataran
definisi/teori/wacana/idealisme saja sudah problematik, lah mau
bikin implementasinya gimana?

Ganti IGOS dengan IGFS. Atau sebaiknya pakai Bahasa Indonesia saja
lah .. seperti 'IMELPERANGLUNAS' (Indonesia Melangkah ke Perangkat
Lunak Bebas).

Kenapa FS lebih cocok di Indonesia dibanding OSS nah .. ini topik
lain yang cukup menarik untuk dibahas.

Salam ganyang opensource(tm).

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

PS. mau bikin petisi via SMS? hi..hi...


adi

unread,
Jun 2, 2005, 10:08:14 PM6/2/05
to tekno...@googlegroups.com
On Thu, Jun 02, 2005 at 08:11:55PM +0900, baskara wrote:
> Kalau berbicara dalam konteks GNU, free software tentu saja seperti
> yang tertulis di URL di atas. Namun demikian, orang bisa saja
> menyebut-nyebut free software, tetapi di dalam kepalanya sebenarnya
> bukan dalam konteks GNU.

untuk itu perlu dikampanyekan. di luar sana sudah banyak orang
yang menangkap 'free software' dalam 1 pengertian yang sama
(mengacu pada definisi GNU). tinggal kita nih, terlalu sibuk
cari terjemahan free software, sampai keseleo sering menukar
free software(tm) dengan opensource(tm). teriak-teriak opensource
tetapi di dalam kepalanya yang ada sebenarnya free software(tm)
dan sebaliknya.

strictly speaking .. kalau kita bilang free software (GPL),
deduksi/induksinya jelas, mengacu pada 1 pengertian yang sama.
sebaliknya, kalau kita bilang opensource(tm) ketemunya pasar.
bukan soal code dibuka atau tidak, tapi lebih dari itu, apakah
source code tersedia secara bebas(tm) atau tidak.

jangan dukung opensource(tm), dukung free software(tm).
jadi ... bubarkan IGOS hi..hi.. jangan dukung *bsd, tapi
dukung linux, due to license. ( ha..ha.. j/k), gunakan
exim sebagai mta dst...dst...

Salam,

P.Y. Adi Prasaja


Ikhlasul Amal

unread,
Jun 3, 2005, 7:20:32 AM6/3/05
to tekno...@googlegroups.com
On 6/3/05, adi <adi.p...@gmail.com> wrote:
>
> He..he.. j/k lho ya. Sering kali memang definisi/teori/wacana/idealisme
> jauh sekali dengan praktek. Prakteknya biasanya sangat jauh lebih
> problematik. Tapi kalau masih dalam tataran
> definisi/teori/wacana/idealisme saja sudah problematik, lah mau
> bikin implementasinya gimana?

Saya kira kalau diberi tempat dan kesempatan tersendiri, tidak menjadi
masalah untuk didebatkan, Pak. Bagus juga kok, misalnya benar-benar
dipertemukan kelompok teknis dengan staf paralegal (?). Yang kasihan
kalau diskusi seperti definisi/teori/wacana itu dibawa mentah-mentah
ke "mailing list" Warnet misalnya. Bagi mereka sekarang yang penting
kan usaha jalan terus dengan cara-cara yang dianggap konstruktif.
Karena kebetulan Linux adalah solusi (bukan BSD atau OSX), ya sikat
saja bleh! :-)

> Ganti IGOS dengan IGFS. Atau sebaiknya pakai Bahasa Indonesia saja
> lah .. seperti 'IMELPERANGLUNAS' (Indonesia Melangkah ke Perangkat
> Lunak Bebas).

Hiks, hampir saya kira Pak Adi mau mengajak "e-ganyang" lagi. Perang
melawan siapa ya? ;)

> Kenapa FS lebih cocok di Indonesia dibanding OSS nah .. ini topik
> lain yang cukup menarik untuk dibahas.

Bagus, ini kan termasuk topik "meta", cocoklah dibawa ke sini.

> PS. mau bikin petisi via SMS? hi..hi...

Kalau ada layanan email2sms, saya mau ikutan kirim petisi. Supaya gratis... :p

--
amal

adi

unread,
Jun 3, 2005, 5:21:42 PM6/3/05
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, Jun 03, 2005 at 01:20:32PM +0200, Ikhlasul Amal wrote:
> > Kenapa FS lebih cocok di Indonesia dibanding OSS nah .. ini topik
> > lain yang cukup menarik untuk dibahas.
>
> Bagus, ini kan termasuk topik "meta", cocoklah dibawa ke sini.

Lebih menarik lagi kalau disepakati dulu bahwa:

"OSS merupakan 'payung', jadi FS masuk OSS tidak sebaliknya"
"OSS bersifat lebih general dibanding FS"

adalah kesimpulan yang absurd, yang benar OSS >< FS, ada
intersection, tetapi yang satu tidak menjadi bagian yang
lain. Dengan anggapan yang salah di atas (OSS menaungi FS),
tidak heran kalau para tetua dan petinggi kita lebih menyukai
OSS dibanding FS (tipikal orang kita lebih menyukai penggabungan,
misalnya menyatukan tenaga yin dan yang, lebih memilih aliran
yang menjadi 'akar' dari banyak aliran dst..dst..).
Konsekuensi logisnya sudah jelas: yang didirikan adalah IGOS, GNOS,
whateverOS.

Karena tekanan FS lebih pada source yang bebas, bukan telanjang.
Kemampuan FS melindungi kemerdekaan hasil karya seseorang,
membuatnya lebih cocok (dalam lingkup yang sempit) di Indonesia
dibandingkan dengan OSS.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages