Maksud kebijakan itu misalnya:
1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya
biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms).
2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll
Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas,
menghemat bandwidth serta lain-lain.
Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing?
Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business
practice' vs. 'efective business practice'.
Terimakasih sebelumnya!
--
<avianto /> - http://avianto.com/
Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
dibandingan perusahaan lokal.
Maksud kebijakan itu misalnya:
1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya
biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms).
2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll
Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas,
menghemat bandwidth serta lain-lain.
Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing?
Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business
practice' vs. 'efective business practice'.
Terimakasih sebelumnya!
--
<avianto /> - http://avianto.com/
Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
dan itu merupakan masalah security.
-- budi
> Ada,
> Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit,
> sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di
> blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.
Alasannya keterbatasan kecepatan ya? Masuk akal sih seandainya memang
sangat lambat.
> Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan
> internetnya :|
Masih banyak loh yang lebih lucu, seperti perusahaan web developer dan
e-learning tapi programmer dan desainernya tidak dapat akses internet.
Seru kan ;).
Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh
kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak
cara menuju Roma.
> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> dan itu merupakan masalah security.
Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
pemborosan bandwidth?
Ayo, yang lain bisa ikutan diskusi?
On 10/3/07, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
>
> Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri.
> Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada
> di kantor.
Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh
kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak
cara menuju Roma.
> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> dan itu merupakan masalah security.
Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
pemborosan bandwidth?
Ayo, yang lain bisa ikutan diskusi?
Gak semua karyawan punya HP yang ada 3G nya (termasuk saya). Dan
kalaupun ada, rugi lah mau pake.. wong ada yang gratis (punya kantor).
Disini kita kasih pembatasan, karena:
1. Koneksi lambat. Terutama kita batasi saat orang finance mau akses bank.
2. Banyak yang buka FS, MP, dan sejenisnya. Ini tuntunan management,
gak terlalu suka lihat orang pake fasilitas kantor untuk
ber-haha-hehe.
> > Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> > dan itu merupakan masalah security.
>
> Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
> pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
> karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
> keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
> pemborosan bandwidth?
Banyak yang prefer pake blackberry, karena mereka lebih butuh imel dan
chating, dimana BB sangat efisien dan sangat mobile. Untuk internet
(yang dicolokin ke laptop / pc), tetap dibatasin.
--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id
Di tempat saya, pembatasan akses hanya untuk keperluan security,
misalnya port 25 diblokir (membatasi kemungkinan open relay yang
dimanfaatkan para spammer). Komunikasi email harus melalui MX kampus
yang telah ditentukan.
Peraturan penggunaan komputer/Internet ada, tapi tidak
diimplementasikan dengan menggunakan tools di network. Hanya berupa
aturan/himbauan tertulis mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak
boleh dilakukan.
Misalnya, ada aturan yang melarang penggunaan aplikasi file sharing
semacam bittorrent. Di jaringan, tidak ada port2 aplikasi P2P yang
diblokir. Akan tetapi, kalau ketahuan menggunakan aplikasi file
sharing (melalui log di proxy server atau cara lain), sangsinya berat,
misalnya tidak diperbolehkan menggunakan Internet di kampus sampai
lulus atau paling berat DO. Aturannya halus, tapi mematikan.
> Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya
> administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti
> ini.
Betul, tidak bisa digeneralisir.
Kebijakan manajemen juga pengaruh.
Bulan lalu saya dipanggil --lagi-- karena sudah menghabiskan benwit
sekitar 2GB :d
Kantor saya pake ISA proxy dan windows domain. Semua pemakaian
internet selalu tercatat.
Kenapa dipantau sampe hal kecil?
Karena kebijakan mikromanajemen.
Awalnya dari Teori X: "semua karyawan malas, jadi perlu dicambuk".
Saya amati 'penyakit' ini muncul di organisasi yg banyak manajernya,
tapi minim leader. Inkapabilitas manajer untuk memotivasi karyawan
lalu diwujudkan dalam hal kontrol yg ketat, sampai ke hal2 paling
sepele/mikro. Thus, micromanagement.
Saya pernah baca buku, lupa judulnya, tapi inget satu quote-nya:
"monitoring employees' downtime (i.e web surfing) will consume
employees' trust, and eventually will risk healthy corporate culturel
in long run".
Bukan berarti saya menentang ide "controlling". Total anarki cuma bisa
jalan di wadah yg sifatnya liquid/organik seperti blogsphere, tapi ga
bisa diterapin di organisasi struktural. Kontrol tetap perlu, hanya
saja harus untuk alasan yg tepat.
Misal: situs porno diblock karena itu sarang virus dan worm. FS
diblock karena memang nggak ada relevansinya ke urusan kerja, dst dst.
Itu cuma 'my 2 cents'.
Saya cuma karyawan sekelas jongos/kacung. Ndak ada urusan sama pembuat
kebijakan.
Bisanya cuma ngedumel kalo ndoro majikan mulai aneh2. Atau paling
banter, ya pindah kerja cari leader yg lebih realistis. Dan memang itu
yg saya lakukan --dan beberapa team member saya-- bulan2 terakhir ini
:d
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>
> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
> internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
> perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
> dibandingan perusahaan lokal.
>
Saya di bisnis Rumah Sakit dengan karyawan >300,
pertama kali menerapkan 'internet untuk semua',
semua bebas, tanpa batasan kecuali batasan-batasan security,
chating boleh, fs boleh, Y!M boleh dll.
1 - 2 bulan pertama dibuka untuk melihat/ mendapatkan pola akses pengguna,
ternyata pola akses nya aman-aman saja, dan terus evaluasi tiap bulan.
kontrol bersama dengan cara mempublikasikan log di intranet
siapa akses apa, siapa menghabiskan berapa, dan kapan waktu aksesnya.
tidak ada hukuman atau sanksi, normalnya rasa malu saja sudah cukup
tetapi masih saja manajemen dan badan pengawas
maunya internet hanya untuk > Kepala Bagian
tak berguna!
--
Gempur SR,
Y!M : gempur_sr
Menarik. Saya ikutan melempar bahan baru sehubungan dengan 'manajemen'.
Banyak manajemen di Indonesia (dan tentunya di belahan dunia lain,
tetapi kita spesifik bicara Indonesia saja ya) masih menganut paham
'jaman revolusi industri'. Jam kerja menurut pandangan saya adalah
'sisa-sisa' dari revolusi industri dimana seorang karyawan dinilai
kerjanya berdasarkan berapa banyak linting rokok yang dapat diproduksi
dalam satuan waktu tertentu...
Coba kita terapkan pola pikir revolusi industri dengan jaman sekarang,
jaman 'knowledge worker'. Misalkan di industri design: kerja sehari 8
jam harus menghasilkan 5 ide atau sketsa. Atau di industri software:
kerja sehari 8 jam harus menghasilkan 100 baris kode. Atau di industri
hukum: kerja sehari 8 jam harus menyelesaikan 2 kasus. Pertanyaannya:
lebih penting jam kerjanya atau hasilnya?
Padahal kita tahu, ada saja desainer yang bisa menghasilkan 5
ide/sketsa dalam waktu 5 jam, programmer yang menulis 100 baris kode
dalam waktu 2 jam atau seorang ahli hukum menyelesaikan 2 kasus dalam
waktu 4 jam. Kalau kita menilai lebih penting hasilnya tentunya kita
akan minta para karyawan untuk menyelesaikan jam kerjanya dengan tetap
bekerja sehingga hasilnya lebih banyak. Bisa jadi dalam 8 jam sudah
jadi 8 ide/sketsa, 400 baris kode atau 4 kasus hukum selesai. Efeknya
pekerja yang brilian harusnya mendapatkan kompensasi lebih karena
mereka menghasilkan 'produk' yang lebih banyak. Tapi apakah ada kantor
di Indonesia yang menerapkan konsep ini? Kalau ada tolong saya diberi
tahu, nanti bisa saya rekomendasikan untuk rekan-rekan saya yang
brilian ;).
Tetapi pada umumnya hal tersebut tidak terjadi, yang ada adalah begitu
sebuah pekerjaan telah selesai, karyawan memiliki waktu luang yang
kadang cukup banyak dan mereka bingung hendak melakukan apa lagi. Then
come the Internet...
Dari pengamatan saya, yang tentunya tidak ilmiah, karyawan yang baik
biasanya tahu akan tanggungjawabnya dan apabila mereka sedang sibuk
mengerjakan pekerjaannya biasa mereka juga tidak akan sempat
menggunakan internet untuk kebutuhan pribadi seperti mengakses
friendster atau chatting. Banyak rekan saya yang koneksi internetnya
dibebaskan sebebas-bebasnya tetapi mereka tidak sempat menggunakannnya
karena memang pekerjaan mereka membutuhkan konsentrasi penuh tanpa
gangguan.Tetapi karyawan yang buruk tentunya akan banyak menghabiskan
waktu menggunakan internet untuk kebutuhan pribadi dan pertanyaannya,
apakah kita membutuhkan karyawan yang buruk?
Kembali ke manajemen, sebenarnya apabila seorang karyawan memiliki
waktu luang dikantornya berarti ada masalah pada pemberian tugas yang
harus diselesaikan. Tugasnya terlalu sedikit, atau terlalu gampang
atau memang sekedar ada.Berarti efektivitas manajemen sebagai pemberi
tugas patut dipertanyakan juga. Tapi tentunya manajeman tidak bisa
salah kan? Yang salah adalah karyawan! Harusnya mereka punya
inisiatif! Benar juga sih, tapi apakah semudah itu meletakkan
permasalahan ini?
Saya terus terang masih tidak 'sreg' dengan konsep 'jam kerja',
menurut saya selaku pelaku 'knowledge worker' yang harusnya dijadikan
acuan adalah 'hasil kerja'. Saya sekarang sedang mempelajari Best Buy
dengan sistem ROWE (Result Oriented Work Environment). Menarik sekali.
Ditambah artikel ini jadi seru pembahasannya:
http://www.wiredatom.com/blog/2005/07/19/results-oriented-work-environment/
Seru nih pembahasannya, jadi ada beberapa ide baru untuk tulisan juga. Thanks!
Belum tentu.
Orang pergi chating, baca isi mailing list dan forum, dsb
kadang-kadang bukan karena waktu luang (dalam artian pekerjaan sudah
beres atau sedang menunggu pekerjaan berikutnya). Bisa karena ada
kejenuhan sementara, sedang tidak bisa berpikir, sedang tidak ada ide,
mencari pengalih perhatian untuk mengurangi stress, dll. Kalau di
tempat kost saya dulu, anak2 kost saat sedang jenuh belajar, lari ke
game. Main game 1-2 jam, lalu lanjut belajar lagi atau tidur dulu.
Orang2 di kantor banyak yang keluar ke warung, atau merokok dulu. Jadi
sekedar selingan (yang bisa menjadi alasan masalah produktivitas itu).
Jadi... yah mungkin kita musti menunggu 1 generasi agar generasi
oldies yg sekarang bercokol membuat kebijakan pensiun dulu... (mode:
pesimis).
Tapi ini hanya pemikiran secara umum, karena saya tahu persis bhw ada
banyak organisasi disini (regardless pimpinannya ortu or ormud),
Internetnya dibebasin tuh...
--
Mohamad Adriyanto
http://www.adriyanto.or.id
Saya punya tim kecil yang gak pernah saya batasi aksesnya.
Kapan saja dan apa saja boleh, bahkan site porno juga boleh.
Saya hanya akan monitor pekerjaan programmer yang gak delivery atau
reportnya gak sesuai target.
Karena organisasi masih kecil gak ada kesulitan melakuakannya
Gak tahu deh kalo perusahaan besar.. belum kepikiran.
Dulu pernah saya batasi tapi mereka cemberut dan cari cari masalah.
Akhirnya saya buka dan suasana ceria lagi.
Tapi yah itu, ongkos produksi jadi naik, rupanya perlu anggaran
tambahan untuk suatu kecerian dalam bekerja.
--
Wibisono Sastrodiwiryo
dendemang.wordpress.com
www.cybergl.co.id
Gue kerjaannya develope software. Harusnya kerjaan kreatif. Tapi ada
kalanya kita itu ngerjakan project yang males banget ngerjakannya.
Projectnya gak menarik buat developernya.
Buat project2 semacem ini, internet itu jadi distraction. Mending
chatting, baca2 blog, nonton youtube, daripada ngerjakan project itu.
Tapi ada juga project yang emang kita suka ngerjakannya. Yang kadang
sampai mengganggu jam chatting kita :) Unread items di rss reader bisa
sampai menumpuk kadang.
Point yang saya mau sampaikan:
Tidak bisa di generalisir bahwa misalnya bikin software yang harusnya
kerjaan kreatif, pemakaian internet harusnya dibebaskan. Itu
tergantung mana yang menjadi distraction. Kalau projectnya gak asyik,
berarti internet yang jadi distraction. Kalau projectnya asyik,
menantang, ya kerjaan itu yang jadi distraction, bisa lupa yang lain2.
Ini masalah management lagi. Jadi jangan sembarangan milih project.
-
Julius Sirait
http://julius.sirait.net
He he he. Ini juga selalu terjadi di saya. Kalau sedang exciting mode,
saya bisa tidak membaca mailing list dan membuka YM beberapa hari.
Kalau sedang tidak mood (padahal sebenarnya ada kerjaan), gmail window
dan YM tidak pernah saya tutup seharian.
Betul.
Di Singapore yang lingkungan kerjanya steril :
a. tidak bisa merokok
b. tidak bisa godain receptionist, dikit dikit kena sue exual harrashment
c. tidak bisa puter musik keras keras
d. tidak ada office boy buat beli kriuk kriuk dan tidak ada warung kriuk
kriuk
ya distraction utamanya : Internet
Tidak bisa lebih setuju daripada diatas.
Saya terus terang males banget melakukan tugas tugas backoffice.
Mau outsource kayaknya gak banyak orang yang menerima outsource
backoffice, yang banyak bertebaran outsource kerjaan kreatif.
Salah satu contohnya ajah, outsource service akunting mislanya,
biasanya perusahaan penyedia oursource akan tanya dulu berapa asetnya.
Mereka hanya melayani outsource akunting dengan aset perusahaan
mininmal sekian M. Mereka gak terima oursource perusahaan kecil yang
asetnya cuma puluhan/ratusan juta saja. Padahal perusahaan kecil yang
bergerak di bidang IT itu banyak sekali. Mereka mau fokus di kreatif
dan gak mau pusing dengan backofice.
Ada yang tahu perusahaan perusahaan yang menerima outsource backoffice?
Mungkin sebagai akademisi, Pak Boy bisa bikin penelitian untuk ini:
1. Survey para manajemen/pemilik bisnis, apa sih yang mereka harapkan
dari pemanfaatan Internet di kantor, dan apa yang menurut mereka tidak
sepantasnya dilakukan oleh pengguna Internet di kantor.
2. Survey para pekerja/pengguna Internet di kantor, apa sih yang
mereka sering lakukan, apa yang menurut mereka ok/tidak ok untuk
dilakukan, dsb.
Dari situ, keliatan gapnya di mana, dan bisa di-desain "policy" yang
cocok, atau paling tidak parameter untuk medisain policy: mungkin ada
aspek policy yang sebenarnya tidak perlu, mungkin ada poin di mana
terjadi tarik ulur antara pengguna dengan manajemen, dsb.
Seperti telpon, misalnya, pada umumnya pekerja menerima bahwa telpon
kantor tidak boleh dipakai untuk nelpon ke 1-900-PORNO atau nelpon
long distance untuk kepentingan pribadi. Seharusnya mereka juga
menerima bahwa mengunjungi www.PORNO dengan fasilitas Internet kantor
tidak boleh. Apakah demikian?
Di satu sisi, saya merasa mental pekerja kita masih sangat membutuhkan
supervisi. Banyak yang jadi alasan - bekas jajahan lah, emang
budayanya lah, pendidikannya, dsb. Praktisnya, untuk menangani ini,
diciptakanlah segala macam peraturan yang kadang malah overshooting/
tidak bisa diimplementasi. Sebagai contoh, di indo.com pada tahun
2000, selagi kita banyak melakukan in-house software development, kita
coba ciptakan environment seperti di Microsoft - jam kerja bebas,
kantor buka 24 jam, ada game room, ada tempat tidur, shower air panas
disediakan, dsb - semuanya perlu biaya ekstra, untuk menciptakan
environment yang kreatif dan menyenangkan. Yang terjadi, ada saja
programmer yang seminggu kerjanya di game room terus menerus (gak
pulang ke rumah juga). Bukan pada saat kerjaan tidak ada, malah pada
saat investor lagi berkunjung tiga hari (dan langsung mengundang
komentar: "do you really need that guy?") Akhirnya terpaksa diubah...
Kalo generasi senior kita banyak yang opininya jauh lebih drastis.
Saya pernah ngobrol dengan seorang pebisnis senior, yang namanya ada
di mana-mana, punya dan bekas manajemen puncak bank di Indonesia. Dia
bilang, pekerja di Indonesia harus diperlakukan seperti robot: give
him/her clear instructions on what need to be done, dan jangan biarkan
keluar dari rel. That's the only way to get productivity. Per cabang,
hanya 2 orang yang boleh dan bisa berpikir - kacab dan wakilnya; yang
lainnya hanya boleh mengikuti perintah/prosedur. 180 derajat
bertentangan dengan apa yang kita baca di teksbook bisnis tentang
managing knowledge workers. Tapi terbukti banknya dia menjadi bank
terbesar/paling untung di Indonesia...
my 2 cents...
--Eka Ginting
indo.com
semua karyawan bank terkekang lah. jadi untung atau tidaknya
bank tidak bisa dilihat dari situ :-)
Salam,
P.Y. Adi Prasaja
> Dari situ, keliatan gapnya di mana, dan bisa di-desain "policy" yang
> cocok, atau paling tidak parameter untuk medisain policy: mungkin ada
> aspek policy yang sebenarnya tidak perlu, mungkin ada poin di mana
> terjadi tarik ulur antara pengguna dengan manajemen, dsb.
Yup, tujuan dari diskusi ini sebenarnya untuk mendapatkan informasi
situasi di lapangan dulu. Paling tidak 'playing field'nya sudah
terbaca. Berawal dari curiosity dulu sih =)
Langkah ke depan tentunya harus diadakan survei ilmiah untuk
pengumpulan data. Mudah-mudahan tujuan akhir: ingin membuat semacam
guidelines 'effective business policy for internet usage' bisa
tercapai.
Btw, pelanggan teknologia jarang yang manager ya? Atau para manager
tidak melihat teknologi sebagai milis yang cukup berharga untuk
dilanggani? Soalnya input dari manager dari kemarin sedikit sekali.
> Sebagai contoh, di indo.com pada tahun
> 2000, selagi kita banyak melakukan in-house software development, kita
> coba ciptakan environment seperti di Microsoft - jam kerja bebas,
> kantor buka 24 jam, ada game room, ada tempat tidur, shower air panas
> disediakan, dsb
Fasilitasnya OK, target pekerjaannya bagaimana? Programmer yang
seminggu di game room mengerjakan tugasnya dengan baik atau tidak?
Kenapa tidak dipecat saja kalau dalam seminggu tidak memenuhi target?
Lumayan buat pelajaran bagi yang lain kan?
> Dia
> bilang, pekerja di Indonesia harus diperlakukan seperti robot: give
> him/her clear instructions on what need to be done, dan jangan biarkan
> keluar dari rel. That's the only way to get productivity. Per cabang,
> hanya 2 orang yang boleh dan bisa berpikir - kacab dan wakilnya; yang
> lainnya hanya boleh mengikuti perintah/prosedur. 180 derajat
> bertentangan dengan apa yang kita baca di teksbook bisnis tentang
> managing knowledge workers. Tapi terbukti banknya dia menjadi bank
> terbesar/paling untung di Indonesia...
Bank. Tidak heran. Menurut saya bidang seperti finance memang harus
berada di dalam rel. Justru mereka itu harus militeristik dalam
berpikir. Dan maaf kalau saya bilang pekerja bank itu tidak masuk
kategori 'knowledge worker', karena mereka pada umumnya punya prosedur
ketat yang harus diikuti - lebih masuk 'clerical worker'.
"Creative Accounting" tidak terdengar nyaman kan... Tapi di Indonesia
memang kadang akuntan harus 'kreatif' dalam menyusun laporan =D.
--Eka Ginting
On Oct 5, 12:17 pm, adi <a...@postpi.com> wrote:
Ouch, repot nih balasnya - top posting terus pak Eka nih =(.
Kembali ke topik, masalahnya ada tidak kerja di industri lain yang
lebih bebas tapi gajinya sekelas bank =P?
Ini sih masalah 'pengorbanan' saja, korbankan kebebasan dalam bekerja
demi 'kebebasan finansial' di hari tua. Banyak loh penganut paham ini.
Kadang susah masuk di logika orang-orang penganut kebebasan dan
bertanggungjawab dalam bekerja seperti mayoritas pelanggan teknologia
- tapi begitulah yang terjadi diantara rekan-rekan saya yang memilih
tidak perlu berpikir tapi gajinya 3 kali lipat dari rekan-rekan
lainnya yang sehari-hari berkerut jidatnya memikirkan inovasi baru ;).
Kalo liat dari mana bank-bank internasional sekarang make money, pada
umumnya "knowledge work"-nya yang harus intensif. Lihat penawaran
segala macam "structured notes" dari bank-bank internasional - isinya
hitungan derivatif semua. Mortgage banking di US itu salah satu
pembeli utama parallel computers - dipakai untuk memecah-mecah produk
mortgage jadi segala macam struktur dan turunannya. (seperti yang
terakhir rame hampir bikin krismon II di Indonesia: subprime dan CDO -
collateralized debt obligations - Indonesia aman karena gak ada bank
di sini yang beli... gak ngarti...)
Yang clerical itu seharusnya hanya sebagian kecil ...
--Eka
On 10/5/07, gin...@gmail.com <gin...@gmail.com> wrote:
>
> Ah masa sih terkekang? Kenapa gak keluar, cari kerja di industri lain
> yang lebih bebas?
> Atau malah senang dikekang?
> Contohnya liat aja lulusan ITB - kebanyakan kerja di bank... :)
Ouch, repot nih balasnya - top posting terus pak Eka nih =(.
Kembali ke topik, masalahnya ada tidak kerja di industri lain yang
lebih bebas tapi gajinya sekelas bank =P?
Ini sih masalah 'pengorbanan' saja, korbankan kebebasan dalam bekerja
demi 'kebebasan finansial' di hari tua. Banyak loh penganut paham ini.
Kadang susah masuk di logika orang-orang penganut kebebasan dan
bertanggungjawab dalam bekerja seperti mayoritas pelanggan teknologia
- tapi begitulah yang terjadi diantara rekan-rekan saya yang memilih
tidak perlu berpikir tapi gajinya 3 kali lipat dari rekan-rekan
lainnya yang sehari-hari berkerut jidatnya memikirkan inovasi baru ;).
2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll
> Di kantor saya banyak situs yang di blok. Kalo situs porno atau situs
> sejenis FS diblok saya sih maklum2 aja. Tapi yg di blok itu mulai dari
> detik.com, jawapos.co.id bahkan sampe situs sourceforge.net juga di blok.
> Ceting selain pake msn jg diblok. Email2 gratisan diblok semua (yahoo,
> gmail, hotmail). Dan bahkan url yg mengandung kata firefox jg diblok. Entah
> pertimbangannya apa, yg jelas tidak ada komunikasi dari penjaga gerbang
> kenapa situs-situs itu diblok dan itu sudah terjadi ketika saya masuk kantor
> ini.
Kantor anda bergerak di web development? Boleh liat portfolionya?
(kantornya gak usah disebut deh, gak enak)... mau lihat apakah
hasilnya "IE only" soalnya. Ini menarik karena kalau kata 'firefox'
diblok maka bisa dibilang hasil kerja kantor webdev ini tidak 'all
browser compatible'.
>
> Eh ya, kantor saya di bidang IT, web development dan saya adalah web
> developer. Jadi kalo dah suntuk coding, mending keluar dan tidur di pos
> hansip dipojokan jalan. Kalo internet diputus karena lebih dari 50 mega ya
> pulang aja...
Jadi bagaimana para web developer ini 'keep up with the latest
information and technology news'? Belajar web standards, SEO, web
branding, agile development cycle, web 2.0, social networking
phenomena gimana ya? (Agak mengerikan melihat kemungkinan ini). Apakah
ada training di kantor?
Jujur, kondisi ini mengkhawatirkan karena kalau sebuah perusahaan web
development membatasi akses karyawannya ke internet, bagaimana mereka
bisa tahu trend, teknologi dan perkembangan di luar sana ya?
Kantor anda bergerak di web development? Boleh liat portfolionya?
(kantornya gak usah disebut deh, gak enak)... mau lihat apakah
hasilnya "IE only" soalnya. Ini menarik karena kalau kata 'firefox'
diblok maka bisa dibilang hasil kerja kantor webdev ini tidak 'all
browser compatible'.
Jadi bagaimana para web developer ini 'keep up with the latest
information and technology news'? Belajar web standards, SEO, web
branding, agile development cycle, web 2.0, social networking
phenomena gimana ya? (Agak mengerikan melihat kemungkinan ini). Apakah
ada training di kantor?
Jujur, kondisi ini mengkhawatirkan karena kalau sebuah perusahaan web
development membatasi akses karyawannya ke internet, bagaimana mereka
bisa tahu trend, teknologi dan perkembangan di luar sana ya?
Apakah mereka ini tetap dibutuhkan di kantor? Iya, saya tahu ini
adalah mimpi buruk bagi departemen SDM tetapi apabila ada karyawan
yang tidak bertambah 'pintar' setelah diberikan fasilitas/pelayanan
bagus dari kantornya, apa gunanya dia dipertahankan disana?
> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan dimana tiap
> karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau ilmu-ilmu baru yg dia
> peroleh dari internet yg dinilai berguna utk membantu pekerjaan, tapi toh
> gak jadi dan disambut dingin oleh teman-teman yg lain. Alasannya load
> kerjaan gak memungkinkan mereka untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
>
> Any idea?
Jadikan kegiatan ini WAJIB dan mempengaruhi kondite kerja - mengacu
pada poin pertama tadi, yang tidak pernah aktif dipersilakan angkat
kaki. Tidak perlu presentasi resmi dengan PowerPoint atau semacamnya,
cukup duduk-duduk di ruang rapat sambil ngopi dan diskusi mengenai
teknologi atau ilmu baru dan bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan.
Waktu untuk meeting ada, kenapa waktu untuk ngobrol-ngobrol santai
tapi bermanfaat tidak ada? Justru kurangi jumlah meeting dan
investasikan waktunya di kegiatan seperti ini.
> Yups web development make coldfusion utk web programmingnya. Portfolionya,
> salah duanya ais.wa.edu.au, nusaduahotel.com. Awal-awal mang IE only
> hasilnya. Lagian bukan big company kok mas, programmer cuma dua dan satu web
> designer. Tahun lalu pas saya masuk aja programmer cuma satu biji.
Sebenarnya ini 'main core' usahanya atau sekedar tambahan dari
perusahaan besar induknya? Karena aneh juga kalau 'main core'nya
disini tapi kok tidak 'aware' dengan perkembangan teknologi di luar.
Bagaimana caranya berada di garda depan kompetisi?
> Itu kesadaran sendiri jadinya mas, di kantor ya gak ada baca-baca tentang
> teknologi baru gitu. Kerjain kerjaan sesuai keinginan bos dan client as fast
> as u can itu jadi motto. Utk belajar, ya aku ya terpaksa "overtime" belajar
> dirumah, sewa speedy sendiri juga...ehheeh.
Jadi kalau ada kantor yang memberikan akses bebas internet untuk anda,
minat pindah? Tapi janjinya ya harus tetap 'keep up with the latest
knowledge' dong ;).
> Saya gak tahu ini ada hubungannya gak dengan project managernya yang non
> programmer sehingga sudut pandangnya yg penting aplikasi jalan di IE dan si
> client bisa makai. Don't care dengan accesibility, web standard, web
> branding dan yg lain2nya.
Dulu saya strict soal accessibility, web standards, web branding dan
issue2 seperti ini, tapi sekarang sudah lumayan fleksibel lah. Kalau
seandainya pemakai aplikasi tersebut hanya client sih tidak masalah
lah, not a big deal - masalahnya kalau pemakainya adalah user atau
pelanggan dari client tersebut dan ternyata jadi tidak bisa dipakai.
Contoh paling nyata adalah, ada yang pernah akses situs Bank Niaga -
http://www.bankniaga.com dengan browser selain IE? Ada yang bisa
memakainya? Ini parah sekali dan sepertinya pihak Bank Niaga tidak
terlalu peduli dengan hal ini - hasilnya website mereka menyumbangkan
sampah baru di WWW yang sudah penuh dengan sampah lainnya =(.
On 10/6/07, Eris Ristemena <erist...@ngoprekweb.com> wrote:
>
> Tapi yang terakhir ini menarik. Bagaimana internet bisa meningkatkan
> pengetahuan dan skill karyawan. Karena dikasih akses internet 24 jam aja
> ternyata gak semua bisa menggunakannya dengan efektif untuk meningkatkan
> skill dan pengetahuannya. Ada aja yg tetep menggunakannya untuk chatting
> atau akses ke situs-situs "gak jelas" yg gak ada hubungan dengan kerjaan.
Apakah mereka ini tetap dibutuhkan di kantor? Iya, saya tahu ini
adalah mimpi buruk bagi departemen SDM tetapi apabila ada karyawan
yang tidak bertambah 'pintar' setelah diberikan fasilitas/pelayanan
bagus dari kantornya, apa gunanya dia dipertahankan disana?
> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan dimana tiap
> karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau ilmu-ilmu baru yg dia
> peroleh dari internet yg dinilai berguna utk membantu pekerjaan, tapi toh
> gak jadi dan disambut dingin oleh teman-teman yg lain. Alasannya load
> kerjaan gak memungkinkan mereka untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
>
> Any idea?
Jadikan kegiatan ini WAJIB dan mempengaruhi kondite kerja - mengacu
pada poin pertama tadi, yang tidak pernah aktif dipersilakan angkat
kaki. Tidak perlu presentasi resmi dengan PowerPoint atau semacamnya,
cukup duduk-duduk di ruang rapat sambil ngopi dan diskusi mengenai
teknologi atau ilmu baru dan bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan.
Waktu untuk meeting ada, kenapa waktu untuk ngobrol-ngobrol santai
tapi bermanfaat tidak ada? Justru kurangi jumlah meeting dan
investasikan waktunya di kegiatan seperti ini.
> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan
> dimana tiap karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau
> ilmu-ilmu baru yg dia peroleh dari internet yg dinilai berguna utk
> membantu pekerjaan, tapi toh gak jadi dan disambut dingin oleh
> teman-teman yg lain. Alasannya load kerjaan gak memungkinkan mereka
> untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
Barangkali untuk hal seperti ini time-framenya yang perlu lebih
diperlonggar, misalnya setiap awal bulan. Kan sebenarnya tidak mesti
selama satu bulan penuh karyawan terlalu sibuk hingga tidak sempat
bahkan untuk belajar sesuatu yang baru.
--
Salam,
-Jaimy Azle
Maaf cuma menyela aja,
tapi ada gak ya kantor yang sudah coba aplikasi ini ?
http://www.beawarecorporate.com/
BeAware Corporate Edition Highlights:
* Real-time employee monitoring. Managers can view web surfing,
emails, chats, program usage, and much more.
* Remarkably simple to install. Even easier for managers to use.
* Detailed reports that help managers find problems quickly and easily.
* Designed for any size workgroup (1 to 10,000 employees).
* Managers can see employee activity anytime, from anywhere.
* Optional "private time" feature that allows employees' to take
care of personal business during approved time (great for lunch
breaks).
* Track employees' who work at other company sites or on the road.
* Works with - and goes far beyond - the protection of your
firewall to provide a complete solution to your organization's
monitoring needs.
Iya sih, ini aplikasi Big Brother banget, tapi yang lucu itu ada fitur
"private time", karyawan dikasih waktu 1-2 jam dimana Internet mereka
tidak dimonitor.
Hal lain lagi, kalau di kampus saya sih, concern nya pembatasan akses
Internet itu adalah untuk menghemat bandwidth yang gak terlalu gede.
Tapi sekarang pun penggunaan bandwidth Internet yang produktif itu
mungkin hanya 5-10 persennya aja dari keseluruhan bandwidth terpakai.
Sisanya mah standar : GFY (google friendster yahoo), ama donlod2 gak
jelas :D
Kalau utk meningkatkan moral karyawan, karyawan dibuat ceria itu kan
memang mahal anggarannya, musti dikasih internet, musti diajak jalan2
sekali-sekali, tapi ya memang itulah biaya yang harus dikeluarkan
untuk memelihara MANUSIA. Kalau memelihara mesin mah enak, asal
dikasih listrik stabil ama AC dingin aja dia nggak protes, kalau
manusia lebih repot :D
-affan
--
<avianto /> - http://avianto.com/
On 10/10/07, Christiono Hendrawan < chris...@gmail.com> wrote:
[hapus]
Dulu saya strict soal accessibility, web standards, web branding dan
issue2 seperti ini, tapi sekarang sudah lumayan fleksibel lah. Kalau
seandainya pemakai aplikasi tersebut hanya client sih tidak masalah
lah, not a big deal - masalahnya kalau pemakainya adalah user atau
pelanggan dari client tersebut dan ternyata jadi tidak bisa dipakai.
Contoh paling nyata adalah, ada yang pernah akses situs Bank Niaga -
http://www.bankniaga.com dengan browser selain IE? Ada yang bisa
memakainya? Ini parah sekali dan sepertinya pihak Bank Niaga tidak
terlalu peduli dengan hal ini - hasilnya website mereka menyumbangkan
sampah baru di WWW yang sudah penuh dengan sampah lainnya =(.
Maaf pak,
saya baru buka www.bankniaga.com dengan firefox,
ada masalah apa yah pak sehingga bapak bilang alamat ini sampah baru di www?
:)
Mungkin mas Christiono bisa coba navigasinya? Setahu saya www.bankniaga.com didesain hanya bisa digunakan via IE. Baru saja saya coba pakai firefox, hasilnya kayak cuman ngeliat gambar. Drop down menu ataupun link tidak berfungsi. Satu-satunya link yang bisa saya temukan berjalan dengan normal hanya untuk iklan lebaran saja.
Tapi untungnya niaga e-banking didesain dengan mempertimbangkan unsur cross browser, jadi gak masalah pakai IE ato firefox ( saya belum pernah coba pakai browser selain itu ).
Salam
--
- D e e -
http://achmadi.net
Ya tolong dibantu saja itu bank-bank yang webpage-nya masih bermasalah
(berikut proposal biayanya tentu saja). Kesempatan bisnis kalau hanya
dikeluhkan ya gak bakal berubah itu webpage. :-)
> terkadang bermasalah kalau diakses dengan non-IE browsers. Sempat
> menjadi pertanyaan saya apakah para programmernya cuma belajar dan
> tahu Windows-based technology ataukah memang cuma Windows dan IE yang
> bisa memberikan fitur yang diminta. :-/
Sekedar perbandingan di sini:
http://www1.nordea.fi/solo/3/faq/VAL-1index.asp?
Bahkan Nordea juga menyediakan halaman dengan teks saja tanpa gambar
untuk Bank di Internet-nya.
Loginnya pakai dua sandi. Sandi pertama berupa nomor yang berfungsi
sebagai nama login (tapi disembunyikan juga seperti sandi biasa di
halaman login). Sandi kedua berupa angka 4 digit yang berganti2 terus.
Tiap nasabah dikasih selembar kartu berisi 80 buah nomor yang dipakai
berurutan. Bila sudah mau habis (misalnya udah sampe ke nomor 60) si
Bank akan kirim lagi via pos. Lebih simpel dari (misalnya) keyBCA.
Tiap transaksi (transfer/bayar2) juga pakai kode lain yang juga ada di
kertas tsb. Jadi begitu mau transfer, ada kotak untuk mengisi kode angka
yang tertera di kertas tsb.
On 10/3/07, Andriansah(tm) <andri...@gmail.com> wrote:
> Ada,
> Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit,
> sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di
> blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.
Alasannya keterbatasan kecepatan ya? Masuk akal sih seandainya memang
sangat lambat.
> Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan
> internetnya :|
Masih banyak loh yang lebih lucu, seperti perusahaan web developer dan
e-learning tapi programmer dan desainernya tidak dapat akses internet.
Seru kan ;).
Malam takbiran balas email... I need a life =P
Hahaha, tau kan kantor yang mana? ;). Tapi logikanya tidak masuk akal
juga loh, level direksi punya akses tidak terbatas = tujuannya apa?
Browsing Friendster?
Bukankah yang lebih perlu Internet itu karyawannya yang memang
membutuhakan informasi serta berita terbaru dari Internet untuk tetap
'keep up with the current issues?' - Direksi harusnya ngalah dong, kan
bisa pake koneksi wireless khusus?
Anyway, jadi kesannya malah terlalu mengada-ada dan power play. Isunya
akhirnya menjadi "Manajemennya sebenarnya tahu tidak sih pekerjaan
karyawannya?"
Takbiran lagi ah, met lebaran semua ;).