Kebijakan Internet di kantor

942 views
Skip to first unread message

boy avianto

unread,
Oct 3, 2007, 5:21:49 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
dibandingan perusahaan lokal.

Maksud kebijakan itu misalnya:
1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya
biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms).
2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll

Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas,
menghemat bandwidth serta lain-lain.

Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing?
Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?

Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business
practice' vs. 'efective business practice'.

Terimakasih sebelumnya!

--
<avianto /> - http://avianto.com/

Andriansah™

unread,
Oct 3, 2007, 5:32:05 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
dibandingan perusahaan lokal.

Maksud kebijakan itu misalnya:
1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya
biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms).
2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll

Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas,
menghemat bandwidth serta lain-lain.

Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing?
Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?

Ada,
Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit, sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.

Sebenarnya ada tawaran yang murah untuk solusi internet ini , tapi karena kalau langganan isp sekarang bisa ngutang jadinya gak pindah isp :|

Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan internetnya :|

Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business
practice' vs. 'efective business practice'.

Terimakasih sebelumnya!

--
<avianto /> - http://avianto.com/

Budi Rahardjo

unread,
Oct 3, 2007, 5:41:39 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri.
Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada
di kantor.

Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
dan itu merupakan masalah security.

-- budi

boy avianto

unread,
Oct 3, 2007, 5:45:55 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, Andriansah™ <andri...@gmail.com> wrote:

> Ada,
> Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit,
> sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di
> blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.

Alasannya keterbatasan kecepatan ya? Masuk akal sih seandainya memang
sangat lambat.

> Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan
> internetnya :|

Masih banyak loh yang lebih lucu, seperti perusahaan web developer dan
e-learning tapi programmer dan desainernya tidak dapat akses internet.
Seru kan ;).

boy avianto

unread,
Oct 3, 2007, 5:51:08 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
>
> Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri.
> Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada
> di kantor.

Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh
kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak
cara menuju Roma.

> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> dan itu merupakan masalah security.

Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
pemborosan bandwidth?

Ayo, yang lain bisa ikutan diskusi?

Andriansah™

unread,
Oct 3, 2007, 6:05:24 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

On 10/3/07, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
>
> Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri.
> Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada
> di kantor.

Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh
kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak
cara menuju Roma.

tapi kalau untuk keperluan kantor masa harus karyawan yang modalin? mending 3G itu untuk proyek sampingan buat bayarin biaya 3Gnya


> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> dan itu merupakan masalah security.

Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
pemborosan bandwidth?

Kalau buat saya sih kecepatanya sewajarnya deh, masak harus bukan gmail harus bersabar 5 menit dulu, mau search digoogle.com harus bersabar juga menunggu buka hasil search dari google.
Saya lebih baik ada pembatasan ke situs tertentu, tapi akses internet cukup kencang, tidak secepat dial up :|


Ayo, yang lain bisa ikutan diskusi?

Ditempat saya kerja (klien), ketiadaan internet seperti membuat kita sendiri sengsara, padahal hubungan dengan klien, walaupun hanya selemparan kertas, sering dilakukan dengan internet. Akhirnya terpaksa kita mencuri user internet yang ada, bagaimana mencurinya? wah nanti yg audit bakal kasih saran untuk makin memperketat :)

btw, sebenarnya kita sudah minta dengan tertulis agar diberikan akses internet ditempat kita kerja (client site), tapi dengan alasan keamanan hal ini tidak bisa dilakukan karena berarti kita bisa mengakses intranet jaringan.

Mau pake 3G / 3,5G? selama untuk keperluan pribadi sih gpp, tapi kalo untuk keperluan kantor jadinya sayang, mending dibayarin kantor.
Akhirnya solusinya adalah dengan mencari passwd, kalau perlu tanya langsung ama user yang bersangkutan agar kita bisa akses internet

--
Andriansah


http://andri.andriani.web.id/sharing-hosting/

Arie Reynaldi Z

unread,
Oct 3, 2007, 6:18:36 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
> > Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri.
> > Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada
> > di kantor.

Gak semua karyawan punya HP yang ada 3G nya (termasuk saya). Dan
kalaupun ada, rugi lah mau pake.. wong ada yang gratis (punya kantor).
Disini kita kasih pembatasan, karena:
1. Koneksi lambat. Terutama kita batasi saat orang finance mau akses bank.
2. Banyak yang buka FS, MP, dan sejenisnya. Ini tuntunan management,
gak terlalu suka lihat orang pake fasilitas kantor untuk
ber-haha-hehe.

> > Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua
> > dan itu merupakan masalah security.
>
> Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih
> pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi
> karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko
> keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko
> pemborosan bandwidth?

Banyak yang prefer pake blackberry, karena mereka lebih butuh imel dan
chating, dimana BB sangat efisien dan sangat mobile. Untuk internet
(yang dicolokin ke laptop / pc), tetap dibatasin.

--
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id

Akhmad Fathonih

unread,
Oct 3, 2007, 6:21:23 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

Kalau saya pernhanya bertemu dengan alasan tidak produktif. Misalnya alih-alih mengerjakan tugas yang sudah diassign malah mainan frenster, dll. Project manager bilang tdak produktif, sedang bawahannya bilang mereka ngenet untuk mencari atau mempertahankan mood, dan atau belajar.

Sampai pada titik tersebut, saya bingung. Mana yang hendak dibenarkan. Diambil jalan tengah dengan jawaban "semua harus direncanakan" atau mengusut dulu kenapa karyawan suka ngenet di (jam) kantor? Dari sisi karyawan, tentunya masih banyak yang bilang bawah internet mahal. Adanya fasilitas internet di kantor, selain sebagai sarana komunikasi dan sarana mencari informasi, juga bisa dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan "kemewahan" bagi sebagian karyawan -- dalam rangka menuju titik puas.

Solusi yang bisa dipakai untuk memecahkan masalah karyawan dan project manager mempunyai dua alternatif. Didekati dari sisi karyawan, dengan jalan menfasilitasi supaya moodnya bagus, karyawan seang dan kemudian energinya diorganisasi sedemikian rupa oleh project manager untuk menyelesaikan target proyek. Atau, didekati dari sisi project manager dengan memaksakan policy ketat, seperti melarang akses internet pada jam-jam tertentu dan berimbas pada resistensi atau penurunan semangat kerja akibat belenggu aturan?

Tentu saja, secara klise, kita bisa menjawab bahwa masalah seperti itu perlu dipandang lebih holistik dengan mempertimbangkan kondisi yang ada dan tujuan yang hendak dicapai. Solusi tidak harus terlalu mudah atau terlalu dipersulit.

Waduh, mudah2an saya tidak salah fokus :D.Masih "cupu", mohon pencerahannya dari yang sudah teman-teman sekalian :D.

PS:
alasan pembatasan akses:
- tidak produktif
- konsumsi akses internet mengganggu kelancaran komunikasi kantor dengan klien
- konsumsi akses tidak bermanfaat karena dipakai untuk kepentingan yang tidak bermanfaat (secara langsung) bagi kantor
- bandwidth mahal

--
http://toukakouka.com | http://blog.neofreko.com | http://jogja.linux.or.id
Talk is cheap. Show me the code (Linus, 2000) / This is my way of Ninja (Naruto, Konoha Village)
Compile aja kok repot? | http://blog.neofreko.com/index.php/2007/09/20/social-compiling-cloud/

Enda Nasution

unread,
Oct 3, 2007, 6:29:32 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com



Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti ini.

Kantor saya yang sekarang di bidang kreatif cukup bebas soal akses Internet, selama kerjaan beres ga ada batasan soal akses internet.


--
Enda Nasution.
Ask "Why not?" a lot and often
• Visit the blog .. http://enda.goblogmedia.com »
• or more: [ ym][tw][fs][mp][fb][ mob][flickr][linkedin] »

baskara

unread,
Oct 3, 2007, 6:46:52 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>
> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
> internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
> perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
> dibandingan perusahaan lokal.

Di tempat saya, pembatasan akses hanya untuk keperluan security,
misalnya port 25 diblokir (membatasi kemungkinan open relay yang
dimanfaatkan para spammer). Komunikasi email harus melalui MX kampus
yang telah ditentukan.

Peraturan penggunaan komputer/Internet ada, tapi tidak
diimplementasikan dengan menggunakan tools di network. Hanya berupa
aturan/himbauan tertulis mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak
boleh dilakukan.

Misalnya, ada aturan yang melarang penggunaan aplikasi file sharing
semacam bittorrent. Di jaringan, tidak ada port2 aplikasi P2P yang
diblokir. Akan tetapi, kalau ketahuan menggunakan aplikasi file
sharing (melalui log di proxy server atau cara lain), sangsinya berat,
misalnya tidak diperbolehkan menggunakan Internet di kampus sampai
lulus atau paling berat DO. Aturannya halus, tapi mematikan.

Andry S Huzain

unread,
Oct 3, 2007, 7:42:00 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, Enda Nasution <enda...@gmail.com> wrote:

> Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya
> administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti
> ini.

Betul, tidak bisa digeneralisir.
Kebijakan manajemen juga pengaruh.

Bulan lalu saya dipanggil --lagi-- karena sudah menghabiskan benwit
sekitar 2GB :d
Kantor saya pake ISA proxy dan windows domain. Semua pemakaian
internet selalu tercatat.

Kenapa dipantau sampe hal kecil?

Karena kebijakan mikromanajemen.

Awalnya dari Teori X: "semua karyawan malas, jadi perlu dicambuk".
Saya amati 'penyakit' ini muncul di organisasi yg banyak manajernya,
tapi minim leader. Inkapabilitas manajer untuk memotivasi karyawan
lalu diwujudkan dalam hal kontrol yg ketat, sampai ke hal2 paling
sepele/mikro. Thus, micromanagement.

Saya pernah baca buku, lupa judulnya, tapi inget satu quote-nya:
"monitoring employees' downtime (i.e web surfing) will consume
employees' trust, and eventually will risk healthy corporate culturel
in long run".

Bukan berarti saya menentang ide "controlling". Total anarki cuma bisa
jalan di wadah yg sifatnya liquid/organik seperti blogsphere, tapi ga
bisa diterapin di organisasi struktural. Kontrol tetap perlu, hanya
saja harus untuk alasan yg tepat.

Misal: situs porno diblock karena itu sarang virus dan worm. FS
diblock karena memang nggak ada relevansinya ke urusan kerja, dst dst.

Itu cuma 'my 2 cents'.
Saya cuma karyawan sekelas jongos/kacung. Ndak ada urusan sama pembuat
kebijakan.

Bisanya cuma ngedumel kalo ndoro majikan mulai aneh2. Atau paling
banter, ya pindah kerja cari leader yg lebih realistis. Dan memang itu
yg saya lakukan --dan beberapa team member saya-- bulan2 terakhir ini
:d


--
http://andryshuzain.com

Gempur SR

unread,
Oct 3, 2007, 9:39:30 AM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
Salam,

On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>

> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan
> internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan
> perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel
> dibandingan perusahaan lokal.
>

Saya di bisnis Rumah Sakit dengan karyawan >300,
pertama kali menerapkan 'internet untuk semua',
semua bebas, tanpa batasan kecuali batasan-batasan security,
chating boleh, fs boleh, Y!M boleh dll.

1 - 2 bulan pertama dibuka untuk melihat/ mendapatkan pola akses pengguna,
ternyata pola akses nya aman-aman saja, dan terus evaluasi tiap bulan.

kontrol bersama dengan cara mempublikasikan log di intranet
siapa akses apa, siapa menghabiskan berapa, dan kapan waktu aksesnya.
tidak ada hukuman atau sanksi, normalnya rasa malu saja sudah cukup

tetapi masih saja manajemen dan badan pengawas
maunya internet hanya untuk > Kepala Bagian
tak berguna!


--
Gempur SR,
Y!M : gempur_sr

boy avianto

unread,
Oct 3, 2007, 12:10:15 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, Andry S Huzain <andrys...@gmail.com> wrote:
>
> > Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya
> > administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti
> > ini.
>
> Betul, tidak bisa digeneralisir.
> Kebijakan manajemen juga pengaruh.

Menarik. Saya ikutan melempar bahan baru sehubungan dengan 'manajemen'.

Banyak manajemen di Indonesia (dan tentunya di belahan dunia lain,
tetapi kita spesifik bicara Indonesia saja ya) masih menganut paham
'jaman revolusi industri'. Jam kerja menurut pandangan saya adalah
'sisa-sisa' dari revolusi industri dimana seorang karyawan dinilai
kerjanya berdasarkan berapa banyak linting rokok yang dapat diproduksi
dalam satuan waktu tertentu...

Coba kita terapkan pola pikir revolusi industri dengan jaman sekarang,
jaman 'knowledge worker'. Misalkan di industri design: kerja sehari 8
jam harus menghasilkan 5 ide atau sketsa. Atau di industri software:
kerja sehari 8 jam harus menghasilkan 100 baris kode. Atau di industri
hukum: kerja sehari 8 jam harus menyelesaikan 2 kasus. Pertanyaannya:
lebih penting jam kerjanya atau hasilnya?

Padahal kita tahu, ada saja desainer yang bisa menghasilkan 5
ide/sketsa dalam waktu 5 jam, programmer yang menulis 100 baris kode
dalam waktu 2 jam atau seorang ahli hukum menyelesaikan 2 kasus dalam
waktu 4 jam. Kalau kita menilai lebih penting hasilnya tentunya kita
akan minta para karyawan untuk menyelesaikan jam kerjanya dengan tetap
bekerja sehingga hasilnya lebih banyak. Bisa jadi dalam 8 jam sudah
jadi 8 ide/sketsa, 400 baris kode atau 4 kasus hukum selesai. Efeknya
pekerja yang brilian harusnya mendapatkan kompensasi lebih karena
mereka menghasilkan 'produk' yang lebih banyak. Tapi apakah ada kantor
di Indonesia yang menerapkan konsep ini? Kalau ada tolong saya diberi
tahu, nanti bisa saya rekomendasikan untuk rekan-rekan saya yang
brilian ;).

Tetapi pada umumnya hal tersebut tidak terjadi, yang ada adalah begitu
sebuah pekerjaan telah selesai, karyawan memiliki waktu luang yang
kadang cukup banyak dan mereka bingung hendak melakukan apa lagi. Then
come the Internet...

Dari pengamatan saya, yang tentunya tidak ilmiah, karyawan yang baik
biasanya tahu akan tanggungjawabnya dan apabila mereka sedang sibuk
mengerjakan pekerjaannya biasa mereka juga tidak akan sempat
menggunakan internet untuk kebutuhan pribadi seperti mengakses
friendster atau chatting. Banyak rekan saya yang koneksi internetnya
dibebaskan sebebas-bebasnya tetapi mereka tidak sempat menggunakannnya
karena memang pekerjaan mereka membutuhkan konsentrasi penuh tanpa
gangguan.Tetapi karyawan yang buruk tentunya akan banyak menghabiskan
waktu menggunakan internet untuk kebutuhan pribadi dan pertanyaannya,
apakah kita membutuhkan karyawan yang buruk?

Kembali ke manajemen, sebenarnya apabila seorang karyawan memiliki
waktu luang dikantornya berarti ada masalah pada pemberian tugas yang
harus diselesaikan. Tugasnya terlalu sedikit, atau terlalu gampang
atau memang sekedar ada.Berarti efektivitas manajemen sebagai pemberi
tugas patut dipertanyakan juga. Tapi tentunya manajeman tidak bisa
salah kan? Yang salah adalah karyawan! Harusnya mereka punya
inisiatif! Benar juga sih, tapi apakah semudah itu meletakkan
permasalahan ini?

Saya terus terang masih tidak 'sreg' dengan konsep 'jam kerja',
menurut saya selaku pelaku 'knowledge worker' yang harusnya dijadikan
acuan adalah 'hasil kerja'. Saya sekarang sedang mempelajari Best Buy
dengan sistem ROWE (Result Oriented Work Environment). Menarik sekali.
Ditambah artikel ini jadi seru pembahasannya:
http://www.wiredatom.com/blog/2005/07/19/results-oriented-work-environment/

Seru nih pembahasannya, jadi ada beberapa ide baru untuk tulisan juga. Thanks!

baskara

unread,
Oct 3, 2007, 12:44:50 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/4/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>
> Kembali ke manajemen, sebenarnya apabila seorang karyawan memiliki
> waktu luang dikantornya berarti ada masalah pada pemberian tugas yang
> harus diselesaikan. Tugasnya terlalu sedikit, atau terlalu gampang
> atau memang sekedar ada.Berarti efektivitas manajemen sebagai pemberi
> tugas patut dipertanyakan juga. Tapi tentunya manajeman tidak bisa
> salah kan? Yang salah adalah karyawan! Harusnya mereka punya
> inisiatif! Benar juga sih, tapi apakah semudah itu meletakkan
> permasalahan ini?

Belum tentu.
Orang pergi chating, baca isi mailing list dan forum, dsb
kadang-kadang bukan karena waktu luang (dalam artian pekerjaan sudah
beres atau sedang menunggu pekerjaan berikutnya). Bisa karena ada
kejenuhan sementara, sedang tidak bisa berpikir, sedang tidak ada ide,
mencari pengalih perhatian untuk mengurangi stress, dll. Kalau di
tempat kost saya dulu, anak2 kost saat sedang jenuh belajar, lari ke
game. Main game 1-2 jam, lalu lanjut belajar lagi atau tidur dulu.
Orang2 di kantor banyak yang keluar ke warung, atau merokok dulu. Jadi
sekedar selingan (yang bisa menjadi alasan masalah produktivitas itu).

Mohamad Adriyanto

unread,
Oct 3, 2007, 2:28:27 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
Yg jadi masalah, sebagian besar organisasi (terutama yg sdh
established) dipimpin oleh orang2 senior yg punya pengertian sangat
cetek mengenai pentingnya Internet dan tidak sadar sama sekali bhw
bagi knowledge worker (yg diatas kertas adalah pekerja muda), Internet
adalah way of life (bukan sekedar alat bantu kerja semata).

Jadi... yah mungkin kita musti menunggu 1 generasi agar generasi
oldies yg sekarang bercokol membuat kebijakan pensiun dulu... (mode:
pesimis).

Tapi ini hanya pemikiran secara umum, karena saya tahu persis bhw ada
banyak organisasi disini (regardless pimpinannya ortu or ormud),
Internetnya dibebasin tuh...


--
Mohamad Adriyanto
http://www.adriyanto.or.id

Wibisono Sastrodiwiryo

unread,
Oct 3, 2007, 2:50:35 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:
>
>
> Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing?
> Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
>

Saya punya tim kecil yang gak pernah saya batasi aksesnya.
Kapan saja dan apa saja boleh, bahkan site porno juga boleh.
Saya hanya akan monitor pekerjaan programmer yang gak delivery atau
reportnya gak sesuai target.
Karena organisasi masih kecil gak ada kesulitan melakuakannya
Gak tahu deh kalo perusahaan besar.. belum kepikiran.
Dulu pernah saya batasi tapi mereka cemberut dan cari cari masalah.
Akhirnya saya buka dan suasana ceria lagi.
Tapi yah itu, ongkos produksi jadi naik, rupanya perlu anggaran
tambahan untuk suatu kecerian dalam bekerja.

--
Wibisono Sastrodiwiryo
dendemang.wordpress.com
www.cybergl.co.id

Andry S Huzain

unread,
Oct 3, 2007, 8:13:43 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

Point 1.
Ada beda antara kerja kreatif dengan kerja klerikal. Manajemen keduanya jelas beda.

Point 2.
Bukan semata-mata karena "pola pikir jaman lampau". Ini dikarenakan pola pikir orang Accounting yang lalu lintas sektor ke HRD. Saya kutip dari buku Pragmatic Programmer Practices of Agile Developer p.108


"My sister in law once worked for a large, international consultancy. They had to account for their time in six-minute increments throughout the day, every day.

They even had a code to track the time spent filing in the form to track your time. But instead of being 0, 9999, or something easy to remember code, it was the very convenient(sic) 948247401299-44b.

This is why you don't want the accounting department's rules and constraints to leak out and spill over into the project"

Saya nggak nyalahin orang akunting. In fact, memang seharusnya mereka punya paradigma seperti itu. Kalau nggak ada account-code, semua transaksi itu kan jadi nggak bisa dipertanggungjawabkan.
Problemnya terjadi saat pola pikir "post-accountcode" itu dibawa untuk manage time dan proses berpikir kreatif. Disitu terjadinya konflik.

Idealnya, jika memang ini perusahaan konsultan "kreatif" seperti IT atau graphic design, maka enaknya yang di outsource itu backoffice: accounting, finance, hrd.
Disini --Jakarta-- yang terjadi sebaliknya. Backoffice jadi permanent employee, dan engineer-nya yang
justru outsource.

Akibatnya di kebanyakan consulting company terjadi tingkat turnover tinggi, suksesi leadership ga jelas, dan kalaupun ada visionary leader biasanya melempem terkena aturan-aturan backoffice.

Salah satu indikatornya ya yang sedang kita bahas ini: pembatasan hak akses internet.



--
http://andryshuzain.com

julius sirait

unread,
Oct 3, 2007, 9:07:06 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/4/07, Andry S Huzain <andrys...@gmail.com> wrote:
> Point 1.
> Ada beda antara kerja kreatif dengan kerja klerikal. Manajemen keduanya
> jelas beda.


Gue kerjaannya develope software. Harusnya kerjaan kreatif. Tapi ada
kalanya kita itu ngerjakan project yang males banget ngerjakannya.
Projectnya gak menarik buat developernya.

Buat project2 semacem ini, internet itu jadi distraction. Mending
chatting, baca2 blog, nonton youtube, daripada ngerjakan project itu.

Tapi ada juga project yang emang kita suka ngerjakannya. Yang kadang
sampai mengganggu jam chatting kita :) Unread items di rss reader bisa
sampai menumpuk kadang.

Point yang saya mau sampaikan:
Tidak bisa di generalisir bahwa misalnya bikin software yang harusnya
kerjaan kreatif, pemakaian internet harusnya dibebaskan. Itu
tergantung mana yang menjadi distraction. Kalau projectnya gak asyik,
berarti internet yang jadi distraction. Kalau projectnya asyik,
menantang, ya kerjaan itu yang jadi distraction, bisa lupa yang lain2.
Ini masalah management lagi. Jadi jangan sembarangan milih project.

-
Julius Sirait
http://julius.sirait.net

baskara

unread,
Oct 3, 2007, 9:25:19 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/4/07, julius sirait <sirait...@gmail.com> wrote:
>
> Tapi ada juga project yang emang kita suka ngerjakannya. Yang kadang
> sampai mengganggu jam chatting kita :) Unread items di rss reader bisa
> sampai menumpuk kadang.

He he he. Ini juga selalu terjadi di saya. Kalau sedang exciting mode,
saya bisa tidak membaca mailing list dan membuka YM beberapa hari.
Kalau sedang tidak mood (padahal sebenarnya ada kerjaan), gmail window
dan YM tidak pernah saya tutup seharian.

Dedhi Sujatmiko

unread,
Oct 3, 2007, 11:21:01 PM10/3/07
to tekno...@googlegroups.com
julius sirait wrote:
> Buat project2 semacem ini, internet itu jadi distraction. Mending
> chatting, baca2 blog, nonton youtube, daripada ngerjakan project itu.

Betul.
Di Singapore yang lingkungan kerjanya steril :
a. tidak bisa merokok
b. tidak bisa godain receptionist, dikit dikit kena sue exual harrashment
c. tidak bisa puter musik keras keras
d. tidak ada office boy buat beli kriuk kriuk dan tidak ada warung kriuk
kriuk

ya distraction utamanya : Internet

Wibisono Sastrodiwiryo

unread,
Oct 4, 2007, 5:47:51 AM10/4/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/4/07, Andry S Huzain <andrys...@gmail.com> wrote:
>
>
> Point 1.
> Ada beda antara kerja kreatif dengan kerja klerikal. Manajemen keduanya
> jelas beda.
>
>
> Idealnya, jika memang ini perusahaan konsultan "kreatif" seperti IT atau
> graphic design, maka enaknya yang di outsource itu backoffice: accounting,
> finance, hrd.
> Disini --Jakarta-- yang terjadi sebaliknya. Backoffice jadi permanent
> employee, dan engineer-nya yang
> justru outsource.
>

Tidak bisa lebih setuju daripada diatas.
Saya terus terang males banget melakukan tugas tugas backoffice.
Mau outsource kayaknya gak banyak orang yang menerima outsource
backoffice, yang banyak bertebaran outsource kerjaan kreatif.
Salah satu contohnya ajah, outsource service akunting mislanya,
biasanya perusahaan penyedia oursource akan tanya dulu berapa asetnya.
Mereka hanya melayani outsource akunting dengan aset perusahaan
mininmal sekian M. Mereka gak terima oursource perusahaan kecil yang
asetnya cuma puluhan/ratusan juta saja. Padahal perusahaan kecil yang
bergerak di bidang IT itu banyak sekali. Mereka mau fokus di kreatif
dan gak mau pusing dengan backofice.

Ada yang tahu perusahaan perusahaan yang menerima outsource backoffice?

gin...@gmail.com

unread,
Oct 5, 2007, 12:52:48 AM10/5/07
to teknologia
Pak Boy,

Mungkin sebagai akademisi, Pak Boy bisa bikin penelitian untuk ini:

1. Survey para manajemen/pemilik bisnis, apa sih yang mereka harapkan
dari pemanfaatan Internet di kantor, dan apa yang menurut mereka tidak
sepantasnya dilakukan oleh pengguna Internet di kantor.

2. Survey para pekerja/pengguna Internet di kantor, apa sih yang
mereka sering lakukan, apa yang menurut mereka ok/tidak ok untuk
dilakukan, dsb.

Dari situ, keliatan gapnya di mana, dan bisa di-desain "policy" yang
cocok, atau paling tidak parameter untuk medisain policy: mungkin ada
aspek policy yang sebenarnya tidak perlu, mungkin ada poin di mana
terjadi tarik ulur antara pengguna dengan manajemen, dsb.

Seperti telpon, misalnya, pada umumnya pekerja menerima bahwa telpon
kantor tidak boleh dipakai untuk nelpon ke 1-900-PORNO atau nelpon
long distance untuk kepentingan pribadi. Seharusnya mereka juga
menerima bahwa mengunjungi www.PORNO dengan fasilitas Internet kantor
tidak boleh. Apakah demikian?

Di satu sisi, saya merasa mental pekerja kita masih sangat membutuhkan
supervisi. Banyak yang jadi alasan - bekas jajahan lah, emang
budayanya lah, pendidikannya, dsb. Praktisnya, untuk menangani ini,
diciptakanlah segala macam peraturan yang kadang malah overshooting/
tidak bisa diimplementasi. Sebagai contoh, di indo.com pada tahun
2000, selagi kita banyak melakukan in-house software development, kita
coba ciptakan environment seperti di Microsoft - jam kerja bebas,
kantor buka 24 jam, ada game room, ada tempat tidur, shower air panas
disediakan, dsb - semuanya perlu biaya ekstra, untuk menciptakan
environment yang kreatif dan menyenangkan. Yang terjadi, ada saja
programmer yang seminggu kerjanya di game room terus menerus (gak
pulang ke rumah juga). Bukan pada saat kerjaan tidak ada, malah pada
saat investor lagi berkunjung tiga hari (dan langsung mengundang
komentar: "do you really need that guy?") Akhirnya terpaksa diubah...

Kalo generasi senior kita banyak yang opininya jauh lebih drastis.
Saya pernah ngobrol dengan seorang pebisnis senior, yang namanya ada
di mana-mana, punya dan bekas manajemen puncak bank di Indonesia. Dia
bilang, pekerja di Indonesia harus diperlakukan seperti robot: give
him/her clear instructions on what need to be done, dan jangan biarkan
keluar dari rel. That's the only way to get productivity. Per cabang,
hanya 2 orang yang boleh dan bisa berpikir - kacab dan wakilnya; yang
lainnya hanya boleh mengikuti perintah/prosedur. 180 derajat
bertentangan dengan apa yang kita baca di teksbook bisnis tentang
managing knowledge workers. Tapi terbukti banknya dia menjadi bank
terbesar/paling untung di Indonesia...

my 2 cents...

--Eka Ginting
indo.com

adi

unread,
Oct 5, 2007, 1:17:42 AM10/5/07
to tekno...@googlegroups.com
On Fri, Oct 05, 2007 at 04:52:48AM -0000, gin...@gmail.com wrote:
> Tapi terbukti banknya dia menjadi bank terbesar/paling untung di
> Indonesia...

semua karyawan bank terkekang lah. jadi untung atau tidaknya
bank tidak bisa dilihat dari situ :-)

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

boy avianto

unread,
Oct 5, 2007, 2:51:18 AM10/5/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/5/07, gin...@gmail.com <gin...@gmail.com> wrote:

> Dari situ, keliatan gapnya di mana, dan bisa di-desain "policy" yang
> cocok, atau paling tidak parameter untuk medisain policy: mungkin ada
> aspek policy yang sebenarnya tidak perlu, mungkin ada poin di mana
> terjadi tarik ulur antara pengguna dengan manajemen, dsb.

Yup, tujuan dari diskusi ini sebenarnya untuk mendapatkan informasi
situasi di lapangan dulu. Paling tidak 'playing field'nya sudah
terbaca. Berawal dari curiosity dulu sih =)

Langkah ke depan tentunya harus diadakan survei ilmiah untuk
pengumpulan data. Mudah-mudahan tujuan akhir: ingin membuat semacam
guidelines 'effective business policy for internet usage' bisa
tercapai.

Btw, pelanggan teknologia jarang yang manager ya? Atau para manager
tidak melihat teknologi sebagai milis yang cukup berharga untuk
dilanggani? Soalnya input dari manager dari kemarin sedikit sekali.

> Sebagai contoh, di indo.com pada tahun
> 2000, selagi kita banyak melakukan in-house software development, kita
> coba ciptakan environment seperti di Microsoft - jam kerja bebas,
> kantor buka 24 jam, ada game room, ada tempat tidur, shower air panas
> disediakan, dsb

Fasilitasnya OK, target pekerjaannya bagaimana? Programmer yang
seminggu di game room mengerjakan tugasnya dengan baik atau tidak?
Kenapa tidak dipecat saja kalau dalam seminggu tidak memenuhi target?
Lumayan buat pelajaran bagi yang lain kan?


> Dia
> bilang, pekerja di Indonesia harus diperlakukan seperti robot: give
> him/her clear instructions on what need to be done, dan jangan biarkan
> keluar dari rel. That's the only way to get productivity. Per cabang,
> hanya 2 orang yang boleh dan bisa berpikir - kacab dan wakilnya; yang
> lainnya hanya boleh mengikuti perintah/prosedur. 180 derajat
> bertentangan dengan apa yang kita baca di teksbook bisnis tentang
> managing knowledge workers. Tapi terbukti banknya dia menjadi bank
> terbesar/paling untung di Indonesia...

Bank. Tidak heran. Menurut saya bidang seperti finance memang harus
berada di dalam rel. Justru mereka itu harus militeristik dalam
berpikir. Dan maaf kalau saya bilang pekerja bank itu tidak masuk
kategori 'knowledge worker', karena mereka pada umumnya punya prosedur
ketat yang harus diikuti - lebih masuk 'clerical worker'.

"Creative Accounting" tidak terdengar nyaman kan... Tapi di Indonesia
memang kadang akuntan harus 'kreatif' dalam menyusun laporan =D.

gin...@gmail.com

unread,
Oct 5, 2007, 3:46:37 AM10/5/07
to teknologia
Ah masa sih terkekang? Kenapa gak keluar, cari kerja di industri lain
yang lebih bebas?
Atau malah senang dikekang?
Contohnya liat aja lulusan ITB - kebanyakan kerja di bank... :)

--Eka Ginting

On Oct 5, 12:17 pm, adi <a...@postpi.com> wrote:

boy avianto

unread,
Oct 5, 2007, 4:09:46 AM10/5/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/5/07, gin...@gmail.com <gin...@gmail.com> wrote:
>
> Ah masa sih terkekang? Kenapa gak keluar, cari kerja di industri lain
> yang lebih bebas?
> Atau malah senang dikekang?
> Contohnya liat aja lulusan ITB - kebanyakan kerja di bank... :)

Ouch, repot nih balasnya - top posting terus pak Eka nih =(.

Kembali ke topik, masalahnya ada tidak kerja di industri lain yang
lebih bebas tapi gajinya sekelas bank =P?

Ini sih masalah 'pengorbanan' saja, korbankan kebebasan dalam bekerja
demi 'kebebasan finansial' di hari tua. Banyak loh penganut paham ini.

Kadang susah masuk di logika orang-orang penganut kebebasan dan
bertanggungjawab dalam bekerja seperti mayoritas pelanggan teknologia
- tapi begitulah yang terjadi diantara rekan-rekan saya yang memilih
tidak perlu berpikir tapi gajinya 3 kali lipat dari rekan-rekan
lainnya yang sehari-hari berkerut jidatnya memikirkan inovasi baru ;).

gin...@gmail.com

unread,
Oct 5, 2007, 4:40:08 AM10/5/07
to teknologia

Wah, Pak Boy bankingnya masih yang model T, pake rule of three: pay
interest on deposit at 3%, lend to business at a spread of 3%, go home
at 3pm.

Kalo liat dari mana bank-bank internasional sekarang make money, pada
umumnya "knowledge work"-nya yang harus intensif. Lihat penawaran
segala macam "structured notes" dari bank-bank internasional - isinya
hitungan derivatif semua. Mortgage banking di US itu salah satu
pembeli utama parallel computers - dipakai untuk memecah-mecah produk
mortgage jadi segala macam struktur dan turunannya. (seperti yang
terakhir rame hampir bikin krismon II di Indonesia: subprime dan CDO -
collateralized debt obligations - Indonesia aman karena gak ada bank
di sini yang beli... gak ngarti...)

Yang clerical itu seharusnya hanya sebagian kecil ...

--Eka

Veriy

unread,
Oct 5, 2007, 5:24:18 AM10/5/07
to tekno...@googlegroups.com
On 05/10/2007, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

On 10/5/07, gin...@gmail.com <gin...@gmail.com> wrote:
>
> Ah masa sih terkekang? Kenapa gak keluar, cari kerja di industri lain
> yang lebih bebas?
> Atau malah senang dikekang?
> Contohnya liat aja lulusan ITB - kebanyakan kerja di bank... :)

Ouch, repot nih balasnya - top posting terus pak Eka nih =(.

Kembali ke topik, masalahnya ada tidak kerja di industri lain yang
lebih bebas tapi gajinya sekelas bank =P?

Saya mau ngasih sudut pandang lain nih. Kebetulan sudah 2 tahun ini di dunia sosial worker, 1,5 tahun kemarin di salah satu lembaga UN dan sekarang di salah satu Komisi pemerintah (bukan pegawai negeri).

Kalau waktu di salah satu lembaga UN, mungkin karena pekerjaan-nya lebih banyak urusan komunikasi, jadinya koneksi internet tidak dibatasi. Meskipun karena sistem ERPnya online via web, jadi ada alokasi bandwith khusus untuk itu. Tapi memang ada aturan tertulis yang menjelaskan apa saja yang tidak dianjurkan. Tapi kalau tetap dilakukan paling ditegur sama pengelola IT nya.
 
Kalau sekarang sih karena saya yang jadi IT coordinator, jadi ya saya bebaskan saja. :-)
Paling kalau ada yang melakukan aktivitas mencurigakan baru di-inspeksi dan ditegur. Kebetulan jumlah user yang dihandle baru sekitar 50an, dan selama ini belum pernah ada masalah.

Ini sih masalah 'pengorbanan' saja, korbankan kebebasan dalam bekerja
demi 'kebebasan finansial' di hari tua. Banyak loh penganut paham ini.

Ouch.. apa saya termasuk di dalam penganut paham ini ya?

Kadang susah masuk di logika orang-orang penganut kebebasan dan
bertanggungjawab dalam bekerja seperti mayoritas pelanggan teknologia
- tapi begitulah yang terjadi diantara rekan-rekan saya yang memilih
tidak perlu berpikir tapi gajinya 3 kali lipat dari rekan-rekan
lainnya yang sehari-hari berkerut jidatnya memikirkan inovasi baru ;).

Tapi mungkin gaji pegawai juga ikut menentukan kebiasaan mengakses internet juga. Maksudnya kalau gaji pegawai itu tinggi berarti dia dipekerjakan karena kompeten untuk pekerjaan itu kan. Nah, karena dia merasa dibayar sesuai dengan kompetensinya, makanya dia akan bekerja dengan baik, dan internet hanyalah seperti fasilitas kantor lainnya yang dipakai untuk menunjang kerjanya.

Anyway, pernah ngerasain di organisasi yang internetnya dibatasi, yang ada malah rasa penasaran untuk mencari hole disitu, jadi malah gak kerja-kerja. hehehe...

--
Veriyanta K
http://veriy.net/
*I'm Javanese, I speak Javanese, I Live in Java, but I don't write my programs in Java*

Agung Apriantara

unread,
Oct 5, 2007, 7:32:36 PM10/5/07
to tekno...@googlegroups.com

2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses
ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll.
3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan
siang atau jam pulang kantor.
4. dll


Di kantor saya banyak situs yang di blok. Kalo situs porno atau situs sejenis FS diblok saya sih maklum2 aja. Tapi yg di blok itu mulai dari detik.com, jawapos.co.id bahkan sampe situs sourceforge.net juga di blok. Ceting selain pake msn jg diblok. Email2 gratisan diblok semua (yahoo, gmail, hotmail). Dan bahkan url yg mengandung kata firefox jg diblok. Entah pertimbangannya apa, yg jelas tidak ada komunikasi dari penjaga gerbang kenapa situs-situs itu diblok dan itu sudah terjadi ketika saya masuk kantor ini.

Waktu awal-awal diblok malah jadi sibuk nyari cara gmana nerobos. Jadi kucing-kucingan sama yg  jaga gerbang. Lama-lama males juga soalnya jadi gak bisa kerja dan lagi saya buka situs-situs diluar pekerjaan cuma buat "narik-nafas" sesaat.

Akses internet dibatasi hanya 50 mega dalam sehari, lebih dari itu ya internet diputus. Semua aktivitas di monitoring, kalo ada yg mencurigakan langsung diblok tanpa ada pemberitahuan.

Eh ya, kantor saya di bidang IT, web development dan saya adalah web developer. Jadi kalo dah suntuk coding, mending keluar dan tidur di pos hansip dipojokan jalan. Kalo internet diputus karena lebih dari 50 mega ya pulang aja...

*jadi curhat colongan*



--
Aprian

love is another way to heaven
w: http://www.aprian.net
e: apr...@aprian.net

boy avianto

unread,
Oct 6, 2007, 1:57:11 AM10/6/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/6/07, Agung Apriantara <apr...@gmail.com> wrote:

> Di kantor saya banyak situs yang di blok. Kalo situs porno atau situs
> sejenis FS diblok saya sih maklum2 aja. Tapi yg di blok itu mulai dari
> detik.com, jawapos.co.id bahkan sampe situs sourceforge.net juga di blok.
> Ceting selain pake msn jg diblok. Email2 gratisan diblok semua (yahoo,
> gmail, hotmail). Dan bahkan url yg mengandung kata firefox jg diblok. Entah
> pertimbangannya apa, yg jelas tidak ada komunikasi dari penjaga gerbang
> kenapa situs-situs itu diblok dan itu sudah terjadi ketika saya masuk kantor
> ini.

Kantor anda bergerak di web development? Boleh liat portfolionya?
(kantornya gak usah disebut deh, gak enak)... mau lihat apakah
hasilnya "IE only" soalnya. Ini menarik karena kalau kata 'firefox'
diblok maka bisa dibilang hasil kerja kantor webdev ini tidak 'all
browser compatible'.

>
> Eh ya, kantor saya di bidang IT, web development dan saya adalah web
> developer. Jadi kalo dah suntuk coding, mending keluar dan tidur di pos
> hansip dipojokan jalan. Kalo internet diputus karena lebih dari 50 mega ya
> pulang aja...

Jadi bagaimana para web developer ini 'keep up with the latest
information and technology news'? Belajar web standards, SEO, web
branding, agile development cycle, web 2.0, social networking
phenomena gimana ya? (Agak mengerikan melihat kemungkinan ini). Apakah
ada training di kantor?

Jujur, kondisi ini mengkhawatirkan karena kalau sebuah perusahaan web
development membatasi akses karyawannya ke internet, bagaimana mereka
bisa tahu trend, teknologi dan perkembangan di luar sana ya?

Arief Bayu Purwanto

unread,
Oct 6, 2007, 2:45:07 AM10/6/07
to tekno...@googlegroups.com
Kalau kantor saya, perusahaan content provider.
Tidak ada situs yang di blok, semua transparan, bisa diakses.
Hanya per MAC address di beri batasan  download speed sekitar 10 KB/s max.

--
Daiguren Hyōrinmaru

Eris Ristemena

unread,
Oct 6, 2007, 12:40:25 PM10/6/07
to tekno...@googlegroups.com
> Jujur, kondisi ini mengkhawatirkan karena kalau sebuah perusahaan web
> development membatasi akses karyawannya ke internet, bagaimana mereka
> bisa tahu trend, teknologi dan perkembangan di luar sana ya?
 
Awalnya saya juga heran, mas. Tapi nyatanya memang ada lho yg begitu dan cukup banyak. Programmer-programmer di perusahaan seperti ini biasanya dikenal dengan web programmer localhost, hehe .. punteun kalo ada yg tersinggung.
 
Tapi yang terakhir ini menarik. Bagaimana internet bisa meningkatkan pengetahuan dan skill karyawan. Karena dikasih akses internet 24 jam aja ternyata gak semua bisa menggunakannya dengan efektif untuk meningkatkan skill dan pengetahuannya. Ada aja yg tetep menggunakannya untuk chatting atau akses ke situs-situs "gak jelas" yg gak ada hubungan dengan kerjaan.
 
Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan dimana tiap karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau ilmu-ilmu baru yg dia peroleh dari internet yg dinilai berguna utk membantu pekerjaan, tapi toh gak jadi dan disambut dingin oleh teman-teman yg lain. Alasannya load kerjaan gak memungkinkan mereka untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
 
Any idea?
 
-ers

Agung Apriantara

unread,
Oct 7, 2007, 12:50:04 AM10/7/07
to tekno...@googlegroups.com

Kantor anda bergerak di web development? Boleh liat portfolionya?
(kantornya gak usah disebut deh, gak enak)... mau lihat apakah
hasilnya "IE only" soalnya. Ini menarik karena kalau kata 'firefox'
diblok maka bisa dibilang hasil kerja kantor webdev ini tidak 'all
browser compatible'.


Yups web development make coldfusion utk web programmingnya. Portfolionya, salah duanya ais.wa.edu.au, nusaduahotel.com. Awal-awal mang IE only hasilnya. Lagian bukan big company kok mas, programmer cuma dua dan satu web designer. Tahun lalu pas saya masuk aja programmer cuma satu biji.  Emang bener, awal2 sebelum masuk sangat IE only, kalo web udah ok di IE, gak masalah amburadul di browser yg lain. Secara bos-nya fanatic sama microsoft, ya jadi agak-agak gimana selain ma non IE. Susahnya kalo dah kerja bareng, temenku yg IE minded dan saya yg pengen cross browser. Yang ada karena ngecheck di beberapa browser, "kecepatan" saya ngerjain kerjaan jadi berkesan lambat, tapi kalo saya cuma ngetest view-nya di IE aja, saya jg gak sreg..heheheehh. Tapi sekarang udah mendingan, setidaknya aku dah berhasil ngeracunin temenku utk make firefox utk main browsernya hehehehe dan utk selalu ngecheck di browser-browser yang lain. Tapi masih butuh waktu utk bicara soal web standards, accesibility dan segala macam itu.

Mungkin ada temen2 web developer lain yg ngalamin hal yg sama disini?  bisa share jg kali?


Jadi bagaimana para web developer ini 'keep up with the latest
information and technology news'? Belajar web standards, SEO, web
branding, agile development cycle, web 2.0, social networking
phenomena gimana ya? (Agak mengerikan melihat kemungkinan ini). Apakah
ada training di kantor?

Jujur, kondisi ini mengkhawatirkan karena kalau sebuah perusahaan web
development membatasi akses karyawannya ke internet, bagaimana mereka
bisa tahu trend, teknologi dan perkembangan di luar sana ya?


Itu kesadaran sendiri jadinya mas, di kantor ya gak ada baca-baca tentang teknologi baru gitu. Kerjain kerjaan sesuai keinginan bos dan client as fast as u can itu jadi motto. Utk belajar, ya aku ya terpaksa "overtime" belajar dirumah, sewa speedy sendiri juga...ehheeh.

Karena kantor jg "membebaskan" utk kerja dari rumah jadi pas di rumah  aja bisa sambil buka2 yg lain. Tapi sangat jarang sekali kerja di rumah atau diluar kantor. Ya begitulah, diatur2 sendiri aja.

Saya gak tahu ini ada hubungannya gak dengan project managernya yang non programmer sehingga sudut pandangnya yg penting aplikasi jalan di IE dan si client bisa makai. Don't care dengan accesibility, web standard, web branding dan yg lain2nya.

boy avianto

unread,
Oct 7, 2007, 2:59:35 PM10/7/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/6/07, Eris Ristemena <erist...@ngoprekweb.com> wrote:
>
> Tapi yang terakhir ini menarik. Bagaimana internet bisa meningkatkan
> pengetahuan dan skill karyawan. Karena dikasih akses internet 24 jam aja
> ternyata gak semua bisa menggunakannya dengan efektif untuk meningkatkan
> skill dan pengetahuannya. Ada aja yg tetep menggunakannya untuk chatting
> atau akses ke situs-situs "gak jelas" yg gak ada hubungan dengan kerjaan.

Apakah mereka ini tetap dibutuhkan di kantor? Iya, saya tahu ini
adalah mimpi buruk bagi departemen SDM tetapi apabila ada karyawan
yang tidak bertambah 'pintar' setelah diberikan fasilitas/pelayanan
bagus dari kantornya, apa gunanya dia dipertahankan disana?

> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan dimana tiap
> karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau ilmu-ilmu baru yg dia
> peroleh dari internet yg dinilai berguna utk membantu pekerjaan, tapi toh
> gak jadi dan disambut dingin oleh teman-teman yg lain. Alasannya load
> kerjaan gak memungkinkan mereka untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
>
> Any idea?

Jadikan kegiatan ini WAJIB dan mempengaruhi kondite kerja - mengacu
pada poin pertama tadi, yang tidak pernah aktif dipersilakan angkat
kaki. Tidak perlu presentasi resmi dengan PowerPoint atau semacamnya,
cukup duduk-duduk di ruang rapat sambil ngopi dan diskusi mengenai
teknologi atau ilmu baru dan bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan.
Waktu untuk meeting ada, kenapa waktu untuk ngobrol-ngobrol santai
tapi bermanfaat tidak ada? Justru kurangi jumlah meeting dan
investasikan waktunya di kegiatan seperti ini.

boy avianto

unread,
Oct 7, 2007, 3:06:03 PM10/7/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/7/07, Agung Apriantara <apr...@gmail.com> wrote:

> Yups web development make coldfusion utk web programmingnya. Portfolionya,
> salah duanya ais.wa.edu.au, nusaduahotel.com. Awal-awal mang IE only
> hasilnya. Lagian bukan big company kok mas, programmer cuma dua dan satu web
> designer. Tahun lalu pas saya masuk aja programmer cuma satu biji.

Sebenarnya ini 'main core' usahanya atau sekedar tambahan dari
perusahaan besar induknya? Karena aneh juga kalau 'main core'nya
disini tapi kok tidak 'aware' dengan perkembangan teknologi di luar.
Bagaimana caranya berada di garda depan kompetisi?


> Itu kesadaran sendiri jadinya mas, di kantor ya gak ada baca-baca tentang
> teknologi baru gitu. Kerjain kerjaan sesuai keinginan bos dan client as fast
> as u can itu jadi motto. Utk belajar, ya aku ya terpaksa "overtime" belajar
> dirumah, sewa speedy sendiri juga...ehheeh.

Jadi kalau ada kantor yang memberikan akses bebas internet untuk anda,
minat pindah? Tapi janjinya ya harus tetap 'keep up with the latest
knowledge' dong ;).

> Saya gak tahu ini ada hubungannya gak dengan project managernya yang non
> programmer sehingga sudut pandangnya yg penting aplikasi jalan di IE dan si
> client bisa makai. Don't care dengan accesibility, web standard, web
> branding dan yg lain2nya.

Dulu saya strict soal accessibility, web standards, web branding dan
issue2 seperti ini, tapi sekarang sudah lumayan fleksibel lah. Kalau
seandainya pemakai aplikasi tersebut hanya client sih tidak masalah
lah, not a big deal - masalahnya kalau pemakainya adalah user atau
pelanggan dari client tersebut dan ternyata jadi tidak bisa dipakai.
Contoh paling nyata adalah, ada yang pernah akses situs Bank Niaga -
http://www.bankniaga.com dengan browser selain IE? Ada yang bisa
memakainya? Ini parah sekali dan sepertinya pihak Bank Niaga tidak
terlalu peduli dengan hal ini - hasilnya website mereka menyumbangkan
sampah baru di WWW yang sudah penuh dengan sampah lainnya =(.

Akhmad Fathonih

unread,
Oct 7, 2007, 4:40:09 PM10/7/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/8/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

On 10/6/07, Eris Ristemena <erist...@ngoprekweb.com> wrote:
>
> Tapi yang terakhir ini menarik. Bagaimana internet bisa meningkatkan
> pengetahuan dan skill karyawan. Karena dikasih akses internet 24 jam aja
> ternyata gak semua bisa menggunakannya dengan efektif untuk meningkatkan
> skill dan pengetahuannya. Ada aja yg tetep menggunakannya untuk chatting
> atau akses ke situs-situs "gak jelas" yg gak ada hubungan dengan kerjaan.

Apakah mereka ini tetap dibutuhkan di kantor? Iya, saya tahu ini
adalah mimpi buruk bagi departemen SDM tetapi apabila ada karyawan
yang tidak bertambah 'pintar' setelah diberikan fasilitas/pelayanan
bagus dari kantornya, apa gunanya dia dipertahankan disana?

Saya bukan ahli SDM ataupun manajer :D, tapi untuk menyatakan "apakah mereka dibutuhkan di kantor dan patut dipertahankan" tidak mungkin semudah membalik telapak tangan. Saya kira kita perlu me-review dulu. Pertama, kenapa karyawan tersebut bisa ada di perusahaan kita. Proses rekruitmen seperti apa yang telah berhasil meloloskannya. Jika, proses rekruitmennya telah benar, berarti karyawan tersebut punya nilai potensial. Kenapa dia bisa berubah nilainya dibandingkan dengan sewaktu rekruitmen. What have we done, atau what had happen? Apakah memeng karyawan sendiri telah mengalami penurunan nilai, atau karena employer sendiri yang tidak bisa merawatnya. Lebih jauh lagi, tanpa network yang bagus, mencari karyawan baru yang potensial juga tidak mudah.

Tanggapan saya di atas tidak berlaku pada employer tak bermasalah dengan mengeluarkan biaya ekstra untuk memecat dan mencari karyawan baru.

> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan dimana tiap
> karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau ilmu-ilmu baru yg dia
> peroleh dari internet yg dinilai berguna utk membantu pekerjaan, tapi toh
> gak jadi dan disambut dingin oleh teman-teman yg lain. Alasannya load
> kerjaan gak memungkinkan mereka untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.
>
> Any idea?

Jadikan kegiatan ini WAJIB dan mempengaruhi kondite kerja - mengacu
pada poin pertama tadi, yang tidak pernah aktif dipersilakan angkat
kaki. Tidak perlu presentasi resmi dengan PowerPoint atau semacamnya,
cukup duduk-duduk di ruang rapat sambil ngopi dan diskusi mengenai
teknologi atau ilmu baru dan bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan.
Waktu untuk meeting ada, kenapa waktu untuk ngobrol-ngobrol santai
tapi bermanfaat tidak ada? Justru kurangi jumlah meeting dan
investasikan waktunya di kegiatan seperti ini.

Load pekerjaan dan minat yang tidak sama seringkali menjadi hambatan  besar dalam usaha peningkatan kapasitas via sharing atau ngobrol-ngobrol internal.  Kecuali anda adalah founder atau karyawan nomer 1, 2 atau 3 dalam perusahaan, maka saya kira anda relatif tidak akan banyak berbagai kesamaan minat dalam beberapa atau banyak hal.

Sejauh saya tahu, ada dua tipe employee. Yang pertama adalah employee yang lurus-lurus saja, mengerjakan apapun yang diperintahkan dan tidak banyak bertanya atau mencari tahu. Tipe seperti ini yang mungkin cocok dengan metode di-WAJIB-kan seperti saran mas avianto. Tipe kedua adalah tipe employee tidak jelas, merasa sudah geeky dan seringkali merasa sok penting dan banyak maunya (mirip saya :p). Yang tampaknya susah untuk diWAJIBkan karena menuntut fleksibilitas dan biasanya tidak suka diperintah. Dua tipe karyawan ini perlu pendekatan yang berbeda. Pendekatan WAJIB untuk tipe pertama, dan pendekatan tipu-tipu untuk karyawan tipe kedua (carikan alat atau bentuk kodisi kondusif yang memungkinkan terjadinya "masturbasi" teknologi, baik secara individu atau kelompok :D)

Begitu kira-kira 200 rupiah saya.

--
http://toukakouka.com | http://blog.neofreko.com | http://jogja.linux.or.id
Talk is cheap. Show me the code (Linus, 2000) / This is my way of Ninja (Naruto, Konoha Village)
Compile aja kok repot? | http://blog.neofreko.com/index.php/2007/09/20/social-compiling-cloud/
If I were Linus Torvalds or I can make your desktop running like hell, would you start listening to me?

Jaimy Azle

unread,
Oct 8, 2007, 3:27:35 AM10/8/07
to tekno...@googlegroups.com
Saturday, October 6, 2007, 11:40:25 PM, Eris Ristemena wrote:

> Di kantor saya, sempat ada ide untuk mengadakan diskusi mingguan
> dimana tiap karyawan digilir untuk mempresentasikan teknologi atau
> ilmu-ilmu baru yg dia peroleh dari internet yg dinilai berguna utk
> membantu pekerjaan, tapi toh gak jadi dan disambut dingin oleh
> teman-teman yg lain. Alasannya load kerjaan gak memungkinkan mereka
> untuk mempersiapkan presentasi semacam itu.

Barangkali untuk hal seperti ini time-framenya yang perlu lebih
diperlonggar, misalnya setiap awal bulan. Kan sebenarnya tidak mesti
selama satu bulan penuh karyawan terlalu sibuk hingga tidak sempat
bahkan untuk belajar sesuatu yang baru.

--
Salam,

-Jaimy Azle


Affan Basalamah

unread,
Oct 8, 2007, 5:02:27 AM10/8/07
to tekno...@googlegroups.com

Maaf cuma menyela aja,
tapi ada gak ya kantor yang sudah coba aplikasi ini ?

http://www.beawarecorporate.com/

BeAware Corporate Edition Highlights:

* Real-time employee monitoring. Managers can view web surfing,
emails, chats, program usage, and much more.
* Remarkably simple to install. Even easier for managers to use.
* Detailed reports that help managers find problems quickly and easily.
* Designed for any size workgroup (1 to 10,000 employees).
* Managers can see employee activity anytime, from anywhere.
* Optional "private time" feature that allows employees' to take
care of personal business during approved time (great for lunch
breaks).
* Track employees' who work at other company sites or on the road.
* Works with - and goes far beyond - the protection of your
firewall to provide a complete solution to your organization's
monitoring needs.


Iya sih, ini aplikasi Big Brother banget, tapi yang lucu itu ada fitur
"private time", karyawan dikasih waktu 1-2 jam dimana Internet mereka
tidak dimonitor.


Hal lain lagi, kalau di kampus saya sih, concern nya pembatasan akses
Internet itu adalah untuk menghemat bandwidth yang gak terlalu gede.
Tapi sekarang pun penggunaan bandwidth Internet yang produktif itu
mungkin hanya 5-10 persennya aja dari keseluruhan bandwidth terpakai.
Sisanya mah standar : GFY (google friendster yahoo), ama donlod2 gak
jelas :D

Kalau utk meningkatkan moral karyawan, karyawan dibuat ceria itu kan
memang mahal anggarannya, musti dikasih internet, musti diajak jalan2
sekali-sekali, tapi ya memang itulah biaya yang harus dikeluarkan
untuk memelihara MANUSIA. Kalau memelihara mesin mah enak, asal
dikasih listrik stabil ama AC dingin aja dia nggak protes, kalau
manusia lebih repot :D

-affan

Christiono Hendrawan

unread,
Oct 10, 2007, 8:11:51 AM10/10/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/8/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

Maaf pak,

saya baru buka www.bankniaga.com dengan firefox,

ada masalah apa yah pak sehingga bapak bilang alamat ini sampah baru di www?

:)

--
<avianto /> - http://avianto.com/






--
regards,

Christiono Hendrawan

http://www.spreadfirefox.com/?q=user/register&r=99464

didik achmadi

unread,
Oct 10, 2007, 8:21:25 AM10/10/07
to tekno...@googlegroups.com

Mungkin mas Christiono bisa coba navigasinya? Setahu saya www.bankniaga.com didesain hanya bisa digunakan via IE. Baru saja saya coba pakai firefox, hasilnya kayak cuman ngeliat gambar. Drop down menu ataupun link tidak berfungsi. Satu-satunya link yang bisa saya temukan berjalan dengan normal hanya untuk iklan lebaran saja.

Tapi untungnya niaga e-banking didesain dengan mempertimbangkan unsur cross browser, jadi gak masalah pakai IE ato firefox ( saya belum pernah coba pakai browser selain itu ).

Salam

--
- D e e -

http://achmadi.net

Christiono Hendrawan

unread,
Oct 10, 2007, 9:08:09 AM10/10/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/10/07, didik achmadi <ach...@gmail.com> wrote:
On 10/10/07, Christiono Hendrawan < chris...@gmail.com> wrote:

[hapus]


Dulu saya strict soal accessibility, web standards, web branding dan
issue2 seperti ini, tapi sekarang sudah lumayan fleksibel lah. Kalau
seandainya pemakai aplikasi tersebut hanya client sih tidak masalah
lah, not a big deal - masalahnya kalau pemakainya adalah user atau
pelanggan dari client tersebut dan ternyata jadi tidak bisa dipakai.
Contoh paling nyata adalah, ada yang pernah akses situs Bank Niaga -
http://www.bankniaga.com dengan browser selain IE? Ada yang bisa
memakainya? Ini parah sekali dan sepertinya pihak Bank Niaga tidak
terlalu peduli dengan hal ini - hasilnya website mereka menyumbangkan
sampah baru di WWW yang sudah penuh dengan sampah lainnya =(.

Maaf pak,

saya baru buka www.bankniaga.com dengan firefox,

ada masalah apa yah pak sehingga bapak bilang alamat ini sampah baru di www?

:)

Mungkin mas Christiono bisa coba navigasinya? Setahu saya www.bankniaga.com didesain hanya bisa digunakan via IE. Baru saja saya coba pakai firefox, hasilnya kayak cuman ngeliat gambar. Drop down menu ataupun link tidak berfungsi. Satu-satunya link yang bisa saya temukan berjalan dengan normal hanya untuk iklan lebaran saja.

Tapi untungnya niaga e-banking didesain dengan mempertimbangkan unsur cross browser, jadi gak masalah pakai IE ato firefox ( saya belum pernah coba pakai browser selain itu ).

Salam

--
- D e e -

http://achmadi.net

Terima kasih pak :), saya baru sadar juga.

Jim Geovedi

unread,
Oct 11, 2007, 6:30:25 AM10/11/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/10/07, didik achmadi <ach...@gmail.com> wrote:

Hampir sebagian besar aplikasi banking basis web yang ada di Indonesia terkadang bermasalah kalau diakses dengan non-IE browsers. Sempat menjadi pertanyaan saya apakah para programmernya cuma belajar dan tahu Windows-based technology ataukah memang cuma Windows dan IE yang bisa memberikan fitur yang diminta. :-/


--
I love watching people from a safe distance.

baskara

unread,
Oct 11, 2007, 6:44:30 AM10/11/07
to tekno...@googlegroups.com
On 10/11/07, Jim Geovedi <jim.g...@gmail.com> wrote:
>
> Hampir sebagian besar aplikasi banking basis web yang ada di Indonesia
> terkadang bermasalah kalau diakses dengan non-IE browsers. Sempat menjadi
> pertanyaan saya apakah para programmernya cuma belajar dan tahu
> Windows-based technology ataukah memang cuma Windows dan IE yang bisa
> memberikan fitur yang diminta. :-/

Ya tolong dibantu saja itu bank-bank yang webpage-nya masih bermasalah
(berikut proposal biayanya tentu saja). Kesempatan bisnis kalau hanya
dikeluhkan ya gak bakal berubah itu webpage. :-)

Mohammad DAMT

unread,
Oct 11, 2007, 6:46:59 AM10/11/07
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Kamis, tanggal 11/10/2007 pukul 17:30 +0700, Jim Geovedi
menulis:

> terkadang bermasalah kalau diakses dengan non-IE browsers. Sempat
> menjadi pertanyaan saya apakah para programmernya cuma belajar dan
> tahu Windows-based technology ataukah memang cuma Windows dan IE yang
> bisa memberikan fitur yang diminta. :-/

Sekedar perbandingan di sini:
http://www1.nordea.fi/solo/3/faq/VAL-1index.asp?

Bahkan Nordea juga menyediakan halaman dengan teks saja tanpa gambar
untuk Bank di Internet-nya.

Loginnya pakai dua sandi. Sandi pertama berupa nomor yang berfungsi
sebagai nama login (tapi disembunyikan juga seperti sandi biasa di
halaman login). Sandi kedua berupa angka 4 digit yang berganti2 terus.

Tiap nasabah dikasih selembar kartu berisi 80 buah nomor yang dipakai
berurutan. Bila sudah mau habis (misalnya udah sampe ke nomor 60) si
Bank akan kirim lagi via pos. Lebih simpel dari (misalnya) keyBCA.

Tiap transaksi (transfer/bayar2) juga pakai kode lain yang juga ada di
kertas tsb. Jadi begitu mau transfer, ada kotak untuk mengisi kode angka
yang tertera di kertas tsb.

pico seno

unread,
Oct 12, 2007, 1:15:51 AM10/12/07
to tekno...@googlegroups.com


On 10/3/07, boy avianto <avi...@gmail.com> wrote:

On 10/3/07, Andriansah(tm) <andri...@gmail.com> wrote:

> Ada,
> Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit,
> sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di
> blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.

Alasannya keterbatasan kecepatan ya? Masuk akal sih seandainya memang
sangat lambat.

> Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan
> internetnya :|

Masih banyak loh yang lebih lucu, seperti perusahaan web developer dan
e-learning tapi programmer dan desainernya tidak dapat akses internet.
Seru kan ;).


Lucu memang Boy...
Alasannya adalah pemotongan budget, sehingga hanya level direksi saja yang punya akses tidak terbatas. Itu saja masih kurang sehingga ada direksi yang memasang koneksi wireless khusus untuk notebook nya. Kami pun memutuskan untuk migrasi ke workshop (rumahan) yang menggunakan koneksi dari provider kabel yang relatif murah dan lebih baik daripada di kantor.

boy avianto

unread,
Oct 12, 2007, 9:50:41 AM10/12/07
to tekno...@googlegroups.com

Malam takbiran balas email... I need a life =P

Hahaha, tau kan kantor yang mana? ;). Tapi logikanya tidak masuk akal
juga loh, level direksi punya akses tidak terbatas = tujuannya apa?
Browsing Friendster?

Bukankah yang lebih perlu Internet itu karyawannya yang memang
membutuhakan informasi serta berita terbaru dari Internet untuk tetap
'keep up with the current issues?' - Direksi harusnya ngalah dong, kan
bisa pake koneksi wireless khusus?

Anyway, jadi kesannya malah terlalu mengada-ada dan power play. Isunya
akhirnya menjadi "Manajemennya sebenarnya tahu tidak sih pekerjaan
karyawannya?"

Takbiran lagi ah, met lebaran semua ;).

Anthony Fajri

unread,
Oct 26, 2007, 10:00:50 PM10/26/07
to tekno...@googlegroups.com
sorry top posting, maklum tret-nya udah basi, jadi bingung mo reply yg mana :)

berikut ini adalah kebijakan internet (web browsing dan email) yang saya tahu (di kantor2 client saya - perusahaan manufacture):

kebijakan akses web:
- tidak boleh ada akses ke web mail
- akses2 hanya ke situs yang berhubungan dengan kerjaan (misalnya, kalo HRD boleh akses ke situs pencari kepala)
- permintaan akses ke sebuah situs harus melalui prosedur yang berlaku
- beberapa aplikasi tidak boleh diakses di komputer yang mana komputer tersebut bisa mengakses internet dan email

kebijakan email:
-attachment yang diperbolehkan hanya microsoft office (yang diperiksa adalah header dari attachment, bukan ekstensi, jadi kalo file test.exe (executable file) direname jadi test.doc ya tidak lolos)
- outgoing email yang ada attachment harus di-cc ke bos
- apabila outgoing email yang ada attachment-nya tidak di-cc ke bos, maka sistem akan otomatis nge-cc email itu ke bos
- email yang berhubungan dengan bisnis harus ada karakter khusus di subject, misal: [bisnis] ato ***
- tidak boleh email2an ke yahoogroups ato googlegroups
- ada beberapa kata kunci yang bersifat rahasia perusahaan. apabila ada email yang mengandung kata kunci tersebut, harus di-cc ke bos, kalo tidak di-cc, akan otomatis di-cc ke bos.
- zip attachment dilarang, tapi file berekstensi .zi_ diperbolehkan. jadi kalo mao attach file zil, mesti direname ke .zi_
--
Anthony Fajri
http://fajri.freebsd.or.id
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages