Saya sudah agak lama sih nonton film Akeela and The Bee tapi ya gpp
deh, cerita aja. Saya jadi kepikiran. Walau tidak terkait langsung
dengan teknologi, saya pikir seru juga topik ini.
Saya jadi pengen tanya mengapa di Amerika ada lomba mengeja dan di
Indonesia tidak ada? Lalu apakah di negara lain ada juga lomba
mengeja? Bagaimana dengan Jerman, Jepang, Perancis? Terakhir apakah
ada hubungan antara kecerdasan dengan bahasa?
Terimakasih
--
Zaki Akhmad
Saya jadi pengen tanya mengapa di Amerika ada lomba mengeja dan di
Indonesia tidak ada? Lalu apakah di negara lain ada juga lomba
mengeja? Bagaimana dengan Jerman, Jepang, Perancis? Terakhir apakah
ada hubungan antara kecerdasan dengan bahasa?
Hmm... tapi bukan dalam bentuk lomba kan Mas Adjie? Lagipula
kata-katanya juga gampang kok. Coba deh nonton film Akeela and The
Bee. Kata-kata-nya ribet banget, saya sendiri juga gak tahu. Dan,
Akeela sepertinya berumur 5/6 SD.
> Di Perancis sini saya kurang tahu apakah ini di ajarkan, nanti saya coba
> tanyakan.
Ok, ditunggu.
> salam
>
> Adjie
--
Zaki Akhmad
> Saya jadi pengen tanya mengapa di Amerika ada lomba mengeja dan di
> Indonesia tidak ada? Lalu apakah di negara lain ada juga lomba
> mengeja? Bagaimana dengan Jerman, Jepang, Perancis? Terakhir apakah
> ada hubungan antara kecerdasan dengan bahasa?
Mungkin salah satu alasannya adalah karena bahasa Indonesia itu bahasa
fonetik (phonetik) dimana yang tertulis adalah yang dibaca - mirip
bahasa Jerman. Jadi nilai 'mengeja'nya kurang mantap apabila
diperlombakan. Bahkan menurut wikipedia:
"It is more phonetically consistent than many languages—the
correspondence between sounds and their written forms is generally
regular." - http://en.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia#Spoken_and_informal_Indonesian
Lain halnya dengan bahasa Inggris atau Perancis yang kadang amat jauh
berbeda penulisan dan pengucapan sehingga nilai 'ejaan'nya dapat
diperlombakan. Ingat Dan Quayle, mantan wapres US yang sering
dipertanyaan intelegensianya, pernah ditertawakan satu dunia karena
meng'koreksi' ejaan POTATO menjadi POTATOE?
Sementara untuk bahasa Jepang (dan bahasa tulis berbasis simbol
lainnya - seperti Cina, Korea) rasanya sih lomba mengeja tidak akan
banyak manfaatnya. Bagaimana mengeja simbol?
Kecerdasaan dan bahasa... sepertinya sih ada, tapi belum pernah baca
risetnya yang mendalam. Yang jelas penggunaan simbol sebagai bahasa
tulis menjadikan kedua bagian otak bekerja pada saat yang bersamaan.
--
<avianto /> - http://avianto.com/
Bahasa Indonesia unik juga: dia disebut dalam kaitan dengan fonetik,
namun teknik penulisan kita tidak mendukung. Kita tidak tahu dengan
jelas "e" dibaca sebagai ê, e, atau é (ini juga agak susah disebutkan
contoh katanya, karena "pelangi" diucapkan oleh orang Jawa dan Batak
berbeda, bah!). Hal yang sama berlaku untuk "o" dan varian "s" hasil
transliterasi dari Arab, misalnya.
Alhasil, menurut saya: sebagian cara pengucapan dalam Bahasa Indonesia
bersifat "hafalan" juga, misalnya karena saya dengar "ledeng"
diucapkan "lédêng".
--
amal