Menerjemahkan ke bahasa Indonesia

185 views
Skip to first unread message

JamesA

unread,
Jan 9, 2005, 10:56:43 AM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
Rekan2, kebetulan salah seorang teman akan ikut membantu menerjemahkan
GNOME 2.8 desktop ke bahasa Indonesia.

Apakah kira2 ada "acuan" atau "pedoman" bahasa yang bisa kita
perhatikan? Misalnya saja, istilah2 teknologi informasi yang baku dan
umum untuk pengguna awam.

Saya juga sekilas mengintip beberapa hasil terjemahan GNOME 2.8 ke
bahasa Indonesia dan mendapatkan cuplikan sbb :

msgid "Save Backtrace"
msgstr "Simpan Napaktilas"

Yang ingin saya tanyakan di sini, apakah hal seperti ini termasuk baku?
Karena memang sulit mencari padanan kata "Backtrace". Tapi "Napaktilas"
apa ndak lebih sulit dimengerti lagi?

Salam

ryl

unread,
Jan 9, 2005, 11:28:11 AM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
kalau boleh komentar, saya nggak suka itu istilah 'kandar', wisaya,
'tetikus' dan semacamnya di windows xp bhs indo... katanya supaya org
awam bisa lebih melek komputer? lha emangnya orang awam paham
'kandar', wisaya dan 'tetikus'? =D

kenapa harus dipaksakan? menurut saya sebaiknya tulis aja bhs
inggrisnya, tapi dg dukungan help file bahasa indonesia yg bagus &
benar... bukan help hasil terjemahan dg transtool :D

karena 'kebanggaan berbahasa'? jepang nggak mengganti e-mail menjadi
"surel" atau "pos-el" (ntah mana yg benar), tapi mereka malah bisa
bikin iklan bahasa jepang yg menyebar ke seluruh dunia (ericsson)...

:)
--

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 9, 2005, 12:48:44 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 09 Jan 2005, 23:28:11 +0700, ryl menulis (diringkas):
>
> kalau boleh komentar, saya nggak suka itu istilah 'kandar', wisaya,
> 'tetikus' dan semacamnya di windows xp bhs indo... katanya supaya org
> awam bisa lebih melek komputer? lha emangnya orang awam paham
> 'kandar', wisaya dan 'tetikus'? =D

Siapa saja boleh tidak suka atau suka, namun dalam hal dipakai
oleh orang awam, kita sebaiknya menghindari terlalu rendah
berestimasi. Di Belanda, yang penduduknya lebih banyak yang
mengerti Bahasa Inggris dibanding penduduk Indonesia, edisi
Bahasa Belanda masih lebih disukai. Apakah karena proses
penerjemahan mulus? Saya tidak bisa membandingkan secara
linguistik, yang jelas di lingkungan "orang-orang seperti kita"
(yakni yang sudah terlanjur belepotan dengan istilah asli
perkomputeran dalam Bahasa Inggris) mereka juga sering mencibir.

Saya tidak tahu dengan "kandar" dan "wisaya", yang pernah saya
dengar "tayangan" lebih mudah dimengerti daripada "display".

Jadi biarkanlah pemakai akhir (yang kita sebut "awam" itu) yang
protes. Kalau mereka tetap menerima dan dapat beradaptasi, apa
salahnya istilah baru tersebut dipakai?

> kenapa harus dipaksakan? menurut saya sebaiknya tulis aja bhs
> inggrisnya, tapi dg dukungan help file bahasa indonesia yg bagus &
> benar... bukan help hasil terjemahan dg transtool :D

Sebenarnya yang tidak enak pada perubahan di menu. Misalnya:
apabila sebelumnya terbiasa Alt-F untuk "File" boleh jadi
berubah ke Alt-A untuk "Arsip" (seandainya "file" diterjemahkan
menjadi "arsip"). Itu yang menyulitkan pada saat awal-awal saya
menggunakan Windows XP edisi NL.

> karena 'kebanggaan berbahasa'? jepang nggak mengganti e-mail menjadi
> "surel" atau "pos-el" (ntah mana yg benar), tapi mereka malah bisa
> bikin iklan bahasa jepang yg menyebar ke seluruh dunia (ericsson)...

Mau dicarikan contoh bangsa yang bersikukuh dengan bahasa
nasional dan menghabiskan usaha besar untuk menerjemahkan semua
materi asing menjadi bahasa mereka atau contoh bangsa lain yang
kompromi dengan bahasa asing, dua-duanya punya kans untuk maju
atau tidak. Yang lebih penting adalah sungguh-sungguh untuk
belajar.


Otherwise, ujungnya kita akan mix seenaknya orang punya
languages zonder aturan... *%^%$#! Don't begitulahh....

:-)


---akhir kutipan---

--
amal

Insufficient facts always invite danger.
-- Spock, "Space Seed", stardate 3141.9

ryl

unread,
Jan 9, 2005, 5:09:23 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
untuk 'display' menjadi 'tampilan' kalau menurut saya itu masih bisa
diterima, soalnya langsung mengena :D yg menurut saya jgn dipaksakan
itu adalah istilah2 yg memang nggak ada istilah umumnya dalam bahasa
indonesia, yang kalau dipaksakan jadi seperti kandar (drive)... ini
asalnya bahasa melayu kalau nggak salah? ada di kbbi katanya...

atau "email" yg merupakan singkatan dari _sesuatu yg baru_ (surat
elektronik), kalau dipaksakan jadi surel/pos-el kok nggak kena,
karena rasanya istilah e-mail ini sudah umum sekali (mendunia)... saya
kurang tau juga, tapi apa ada negara yg menerjemahkan e-mail (bukan
electronic mail) kedalam bahasanya?

jadi, saya kalau menulis 'drive', 'mouse', e-mail' , 'wizard', itu
nggak pernah diubah2... paling-paling saya tambah catatan yg
menerangkan arti istilah2 tsb. kalau memang dirasa perlu...

kalau "monitor" bisa diterima, kenapa yg lainnya tidak? rasanya wajar
memasukkan bahasa lain kedalam kamus kita kalau memang tidak ada
padanannya, atau ada tetapi tidak umum (seperti kandar & wisaya)...

utk 'awam' yg mencibir orang yg berlepotan dg istilah english, ini
saya mengerti... saya sendiri lebih suka menulis modem kabel daripada
cablemodem (walaupun tidak mencibir yg berlepotan english) :D ,
soalnya langsung mengena karena lagi2, tidak seperti "kandar" &
"wisaya"

* "modem" bisa diterima? atau ada 'terjemahannya' ?

ttg negara yg bersikukuh utk tidak terlalu menerima bahasa inggris
(perancis?), apa boleh dibandingkan dg negara kita? :D mungkin
perbendaharaan kata mereka memang sudah kaya dari dulu, berkembang
berbarengan dg bahasa inggris... saat ada teknologi baru atau fenomena
baru yg diberi nama dalam bahasa inggris, barangkali di perancis juga
ada yg sedang mengembangkan/menemukan... jadi saat mereka "memberi
nama" dalam bahasanya, masyarakatnya bisa cepat beradaptasi :)
--

baskara

unread,
Jan 9, 2005, 8:19:02 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
On Sun, 09 Jan 2005 07:56:43 -0800, JamesA <meer...@yahoo.com> wrote:
>
> Apakah kira2 ada "acuan" atau "pedoman" bahasa yang bisa kita
> perhatikan? Misalnya saja, istilah2 teknologi informasi yang baku dan
> umum untuk pengguna awam.

Terlalu banyak istilah2 di komputer yang kalau diterjemahkan ke bhs
Indonesia menjadi terlalu panjang untuk ditulis. Lebih baik biarkan
saja tertulis dalam bahasa inggris, dengan ditambahkan penjelasan di
dalam "Help/Bantuan".

Dalam kasus bhs Jepang, untuk istilah2 yang tidak ada dlm bhs jepang,
mereka tulis apa adanya dalam katakana, misalnya:
- file = fairu
- toolbar = tsuurubaru
- computer = konpyuuta
- page = peiji

Saya pribadi lebih suka dibiarkan saja dalam bhs inggris, karena
terlalu banyak istilah yang spesifik hanya untuk teknologi komputer.
Yang belajar komputer jadi belajar bhs inggris juga. Saya juga begitu
saat pertama kali mengenal komputer melalui "wordstar", "symphony",
"lotus123" dan "dbaseIII+". Kalau dlm bhs inggris nanti orang sulit
belajar ? Menurutku itu tergantung motivasi yang belajar. Untuk
pemula, yang penting hapalan dulu, nanti lama2 juga terbiasa karena
istilah2 di program/aplikasi yang berbeda juga begitu-begitu saja.

Priyadi Iman Nurcahyo

unread,
Jan 9, 2005, 9:28:31 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
ada beberapa informasi mengenai ini di halamannya pak IMW
http://wiryana.pandu.org/Next-WINBI/

menurut pengalaman, saya melihat belum ada pembakuan istilah. penerjemah punya
preferensi masing-masing, mulai dari penerjemah yang tidak melakukan
translasi istilah sama sekali, sampai ke penerjemah yang selalu berusaha
melakukan translasi semua istilah (misalnya mas amal :))

menurut saya keduanya gak masalah, namanya juga proses, lama-lama akan ada
juga pembakuan yang bisa diterima semua pihak, baik itu dengan cara melakukan
penyerapan istilah bahasa asing, atau dengan menggunakan istilah 'asli'
bahasa indonesia

sekadar informasi, bulan ini insya allah akan dirilis blankonlinux, distribusi
linux yang salah satu fiturnya adalah berbahasa indonesia (artinya cuma ada
l10n bahasa indonesia walaupun masih banyak frasa yang belum terlokalisasi),
mungkin nanti kalau sudah rilis, rekan2 yang tertarik dengan penerjemahan
dapat mencoba distro ini. kalau dalam satu distro, nanti bisa kelihatan
perbedaan preferensi antar penerjemah, langkah selanjutnya adalah
penyeragaman istilah, bukan cuma dalam satu aplikasi, tapi untuk keseluruhan
distro, kalau bisa juga untuk sistem operasi lain (misalnya windows)

Erwien Samantha Y

unread,
Jan 9, 2005, 9:58:16 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
> menurut saya keduanya gak masalah, namanya juga proses, lama-lama akan ada
> juga pembakuan yang bisa diterima semua pihak, baik itu dengan cara melakukan
> penyerapan istilah bahasa asing, atau dengan menggunakan istilah 'asli'
> bahasa indonesia
>

Saya setuju dengan pri, disini ada yang namanya "proses".

Kita tahu sebenarnya Bahasa Indonesia sendiri itu kaya akan kosakata,
terlebih terhadap Bahasa keseharian. Tapi untuk yang menyangkut dalam
kosakata TEKNIS (terhadap berbagai bidang bukan hanya komputer) masih
belum terdokumentasi dengan baik. Artinya masih banyak orang awam
belum mengenalnya.

Nah, kalau ditanya mengapa demikian, yah kita harus merujuk pada
sistem pendidikan kita.
Mari kita sempitkan lagi pada kosakata-kosakata yang berhubungan
dengan komputer. Seorang Dosen/Pengajar waktu mengenalkan komputer
masih condong menggunakan bahasa aslinya (Inggris). Coba kalau untuk
istilah-istilah atau kosakata-kosakata teknis yang sudah mempunyai
kata bakunya dalam Bahasa Indonesia mulai diperkenalkan di banku2
sekolah sejak dini, pastilah anggapan bahwa terjemahan menjadi asing
atau susah dimengerti akan hilang dengan sendirinya (karena mereka
sudah terbisa mendengarnya).

Jadi mari kita jalani 'prosesnya' dan kita tunggu hasilnya beberapa
tahun kedepan. Apakah
para penterjemah akan menyerah karena apa yang diartikanya membuat
banyak orang tambah bingung, ataukah orang akan semakin terbiasa
dengan istilah2 tersebut dan merasa lebih enjoy menggunakanya dari
pada bahasa aslinya (inggris).

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 12:44:48 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 10 Jan 2005, 09:28:31 +0700, Priyadi Iman Nurcahyo menulis (diringkas):
>
> menurut pengalaman, saya melihat belum ada pembakuan istilah.
> penerjemah punya preferensi masing-masing, mulai dari penerjemah yang
> tidak melakukan translasi istilah sama sekali, sampai ke penerjemah
> yang selalu berusaha melakukan translasi semua istilah (misalnya mas
> amal :))
>

---akhir kutipan---

Ampun, jangan dijewer ya... :-)

Aturan saya sederhana:

- berusaha cari dulu padanan istilah di Senarai Padanan Istilah.
Ini resmi ditetapkan oleh Inpres No. 2, Tahun 2001;

- dicarikan istilah dalam Bahasa Indonesia yang dianggap
mendekati;

- pakai huruf miring (italic) -- tidak usah diterjemahkan.


Memang yang menjadi masalah sekarang kemajuan istilah yang
diberikan oleh lembaga berwenang (Pusat Bahasa) ketinggalan
terus dibanding perbendaharaan kata baru yang datang. Sehingga
yang tidak mengenakkan banyak pihak menyatakan setuju atau tidak
setuju terhadap sebuah padanan istilah *hanya* mengandalkan
referensi pribadi.

Saya pernah menerima email yang mengusulkan penyusunan sebuah
situs yang menyediakan sodoran padanan istilah dalam Bahasa
Indonesia yang bersifat terbuka. Pengunjung dapat mengusulkan
dan memilih padanan yang lebih cocok disertai alasan-alasannya;
dan pilihan ini dapat dijadikan pegangan kolektif.

Seharusnya menarik juga, dibanding centang-perentang pendapat
sehingga muncul variasi penerjemahan istilah dalam jumlah
berlebih.

--
amal

"All God's children are not beautiful. Most of God's children are, in fact,
barely presentable."
-- Fran Lebowitz

N e o

unread,
Jan 9, 2005, 11:12:12 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
At 18:48 +0100 1/9/05, Ikhlasul Amal wrote:
>Pada 09 Jan 2005, 23:28:11 +0700, ryl menulis (diringkas):
>>
>> kalau boleh komentar, saya nggak suka itu istilah 'kandar', wisaya,
>> 'tetikus' dan semacamnya di windows xp bhs indo... katanya supaya org
>> awam bisa lebih melek komputer? lha emangnya orang awam paham
>> 'kandar', wisaya dan 'tetikus'? =D
>
> Siapa saja boleh tidak suka atau suka, namun dalam hal dipakai
> oleh orang awam, kita sebaiknya menghindari terlalu rendah
> berestimasi. Di Belanda, yang penduduknya lebih banyak yang

rendah berestimasi = menduga terlalu rendah (underestimating)?

>
> Saya tidak tahu dengan "kandar" dan "wisaya", yang pernah saya
> dengar "tayangan" lebih mudah dimengerti daripada "display".

kalau yang terbayang di kepala saya itu tayangan = siaran / program
yang sedang berjalan di tv.

>
> Otherwise, ujungnya kita akan mix seenaknya orang punya
> languages zonder aturan... *%^%$#! Don't begitulahh....
>
> :-)

setuj, saya masih sering campur aduk begitu

>
>Insufficient facts always invite danger.

but late response indicates weakness (kira-kira itu yang akan
dikatakan worf :P)

--
I solemnly swear that I'm up to no good
http://data.startrek.or.id
http://kiozk.com

N e o

unread,
Jan 9, 2005, 11:16:58 PM1/9/05
to tekno...@googlegroups.com
At 05:09 +0700 1/10/05, ryl wrote:
>
>atau "email" yg merupakan singkatan dari _sesuatu yg baru_ (surat
>elektronik), kalau dipaksakan jadi surel/pos-el kok nggak kena,
>karena rasanya istilah e-mail ini sudah umum sekali (mendunia)... saya
>kurang tau juga, tapi apa ada negara yg menerjemahkan e-mail (bukan
>electronic mail) kedalam bahasanya?

mari budayakan email, not e-mail, seperti yang dikatakan knuth:
http://www-cs-faculty.stanford.edu/~knuth/email.html

ron4ld

unread,
Jan 10, 2005, 2:02:53 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
baskara wrote:
> Dalam kasus bhs Jepang, untuk istilah2 yang tidak ada dlm bhs jepang,
> mereka tulis apa adanya dalam katakana, misalnya:
> - file = fairu
> - toolbar = tsuurubaru
> - computer = konpyuuta
> - page = peiji

Heheheh paling demen saya sama yg gini2 :)
Jadi inget dulu pernah baca artikel di Intisari
ttg "Makudonarudo" LOL :-D

Imho sih ya tergantung umumnya aja dehh misalnya
email ya email masa mau diterjemahkan jadi "esurat"?
hehehe misalnya lagi World Wide Web pas jaman awal2
web ada yg nerjemahin jadi "Jaringan Jagat Jembar"
yaa boleh2 aja sih, gpp cuman rada aneh aja kedengerannya.
Gimana dengan "mouse"? ;-)

Imo bahasa itu kan untuk convey meaning jadi asal orangnya
ngerti artinya ya gpp :) Cuman tentu harus bedain occassionnya
formal apa enggak, kalo nggak formal ya pake "nggak" ya gpp
kan. Sinetron indo bhsnya sering kedengeran 'aneh' abis mrk
pake bhs formal, bukan bhs sehari2.

Tapi biarpun begitu saya kasi jempol deh org2 seperti mas
Amal yg berusaha sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia
yg baik dan benar di blognya :) - (btw apa pernah ikut kursus menulis
khusus? - aye jg pengen)

Dian Nugraha

unread,
Jan 10, 2005, 2:27:32 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
baskara wrote:

>On Sun, 09 Jan 2005 07:56:43 -0800, JamesA <meer...@yahoo.com> wrote:
>
>
>>Apakah kira2 ada "acuan" atau "pedoman" bahasa yang bisa kita
>>perhatikan? Misalnya saja, istilah2 teknologi informasi yang baku dan
>>umum untuk pengguna awam.
>>
>>
>
>Terlalu banyak istilah2 di komputer yang kalau diterjemahkan ke bhs
>Indonesia menjadi terlalu panjang untuk ditulis. Lebih baik biarkan
>saja tertulis dalam bahasa inggris, dengan ditambahkan penjelasan di
>dalam "Help/Bantuan".
>
>Dalam kasus bhs Jepang, untuk istilah2 yang tidak ada dlm bhs jepang,
>mereka tulis apa adanya dalam katakana, misalnya:
>- file = fairu
>- toolbar = tsuurubaru
>- computer = konpyuuta
>- page = peiji
>
>
Jika mencoba menggunakan aturan serapan bhs. Indonesia, hasilnya mungkin
malah lebih pendek, lebih hemat, dan *rasanya sih* lebih 'techie',
misalnya:
- email --> imel,
- keyboard --> kibor,
- mouse --> maus,
- toolbar --> tulbar

Bukankah kita telah menyerap: komputer, kalkulator, teknologi ...?

Salam,
-DiaN-

Ben

unread,
Jan 10, 2005, 2:30:34 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 11:16:58 +0700, N e o <nusa...@diva-valen.com> wrote:
>
> At 05:09 +0700 1/10/05, ryl wrote:
> >
> >atau "email" yg merupakan singkatan dari _sesuatu yg baru_ (surat
> >elektronik), kalau dipaksakan jadi surel/pos-el kok nggak kena,
> >karena rasanya istilah e-mail ini sudah umum sekali (mendunia)... saya
> >kurang tau juga, tapi apa ada negara yg menerjemahkan e-mail (bukan
> >electronic mail) kedalam bahasanya?
>
> mari budayakan email, not e-mail, seperti yang dikatakan knuth:
> http://www-cs-faculty.stanford.edu/~knuth/email.html
>

saya sih tetap milih pakai e-mail ketimbang email...
email kan udah ada dalam bahasa Indonesia => email gigi
CMIIW


--
Ben
http://bennychandra.com/2005/01/06/trackback-spam/

ron4ld

unread,
Jan 10, 2005, 3:17:57 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Jadi inget kan ada Google bhs indo :
http://www.google.com/intl/id

and bhs Jawa
http://www.google.com/intl/jw

walaupun saya nggak yakin yg bhs Jawa itu ever
pernah kepake :-D
eg. "Cached" jadi "data sing pernah dibukak" ROFL
ps: gimana kalo rame2 bikin yg 'ngoko'? :)

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 3:20:17 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 09 Jan 2005, 23:02:53 -0800, ron4ld menulis (diringkas):
>
> Imo bahasa itu kan untuk convey meaning jadi asal orangnya
> ngerti artinya ya gpp :) Cuman tentu harus bedain occassionnya
> formal apa enggak, kalo nggak formal ya pake "nggak" ya gpp
> kan. Sinetron indo bhsnya sering kedengeran 'aneh' abis mrk
> pake bhs formal, bukan bhs sehari2.

Menurut pendapat saya, baik dalam suasana formal atau informal,
berbahasa dengan baik dan benar tetap perlu dijaga, terutama
untuk media publik. Kalau kita lihat di kamus-kamus Inggris pun,
perbedaan formal atau tidak kan ditunjukkan dari kata yang
dipilih; jadi skenario sinetron tersebut seharusnya memilih
ungkapan yang lebih luwes untuk ungkapan sehari-hari. Sedangkan
ungkapan yang memang bukan Bahasa Indonesia, sekalipun terlihat
lebih luwes, dapat diganti.

> Tapi biarpun begitu saya kasi jempol deh org2 seperti mas
> Amal yg berusaha sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia
> yg baik dan benar di blognya :) - (btw apa pernah ikut kursus menulis
> khusus? - aye jg pengen)

Masih banyak kesalahan. Justru salah satu "dendam" saya kalau
pulang ke Indonesia nanti adalah membaca lebih banyak lagi
buku-buku tata bahasa Bahasa Indonesia. Saya ingin lebih mantap
terhadap perbedaan halus semacam,

a. Bagaikan punguk merindukan bulan
b. Bagaikan punguk merindui bulan
c. Bagaikan punguk merindu

(a) paling umum dipakai, namun tidak tepat, dan (b) gantinya.

---akhir kutipan---

--
amal

"What did you do when the ship sank?"
"I grabbed a cake of soap and washed myself ashore."

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 3:25:29 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 10 Jan 2005, 14:30:34 +0700, Ben menulis (diringkas):
>
> saya sih tetap milih pakai e-mail ketimbang email...
> email kan udah ada dalam bahasa Indonesia => email gigi
> CMIIW
>

---akhir kutipan---

Memang lapisan terluar gigi disebut juga dengan email, namun
tidak menjadi persoalan sebuah kata memiliki dua arti (homonim).

* Saya _bisa_ mengerjakan pekerjaan tersebut.
* _Bisa_ ular berbahaya bagi manusia.

--
amal

Where does NASA report a missing satellite? In the orbituary column.
-- Stan Kegel, Humor-L

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 3:31:10 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 10 Jan 2005, 00:17:57 -0800, ron4ld menulis (diringkas):
>
> Jadi inget kan ada Google bhs indo :
> http://www.google.com/intl/id
>
> and bhs Jawa
> http://www.google.com/intl/jw
>
> walaupun saya nggak yakin yg bhs Jawa itu ever
> pernah kepake :-D

Siapa tahu, ada lho... di Suriname sana misalnya.
;-)

Kemungkinan masih lebih dipakai dibanding versi Bahasa Klingon.

> eg. "Cached" jadi "data sing pernah dibukak" ROFL
> ps: gimana kalo rame2 bikin yg 'ngoko'? :)

Bukannya itu sudah versi Jawa Ngoko?
Use -> Nganggo, itu Ngoko kan? Bukan "Ndhamel".

---akhir kutipan---

--
amal

* JHM wonders what Joey did to earn "I'd just like to say, for the record,
that Joey rules."
-- Seen on #Debian

baskara

unread,
Jan 10, 2005, 3:56:23 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 09:25:29 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Memang lapisan terluar gigi disebut juga dengan email, namun
> tidak menjadi persoalan sebuah kata memiliki dua arti (homonim).
>
> * Saya _bisa_ mengerjakan pekerjaan tersebut.
> * _Bisa_ ular berbahaya bagi manusia.

Bahasa Indonesia umumnya mengadopsi bhs asing dengan melihat apa yang
tertulis, bukan bunyi/lafal-nya, misalnya computer menjadi komputer,
bukan kompyuter, dan masih banyak lagi.

Untuk kata "email" [atau e-mail], mana yang lebih baik: mengadopsi
tulisan/huruf atau bunyi? Kalau mengadopsi tulisan, kita akan
mempunyai kata email yang bisa punya 2 arti: salah satu lapisan gigi
dan "e-mail". Kalau kita adopsi bunyinya, mungkin email (english) akan
menjadi "imel".
Karena bhs inggris dan indonesia sama2 menggunakan karakter romawi,
kemungkinan besar kata "email" yang akan menjadi kosakata bhs
indonesia (yang sama artinya dengan e-mail), bukan "imel".

Veriy

unread,
Jan 10, 2005, 4:34:54 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Waktu berdiskusi sama seorang teman mengenai penggunaan bahasa
indonesia ini didapatkan kesimpulan sementara yang menurut saya ada
benarnya juga.
"Bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang dapat mengungkapkan istilah
teknis dengan baik. Bahasa Indonesia itu bahasa sastra, bukan bahasa
teknis."

btw, anak-anak muda sekarang sudah biasanya menulis email dengan imel.
-->imel lu apa sih?
--
Veriyanta K
http://veriy.net/
*I'm Javanese, I speak Java, but I don't write my programs in Java*

DiaN

unread,
Jan 10, 2005, 5:36:50 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com

Dalam inpres 2/2001 yang ada di http://vlsm.org/baku-01.txt, istilah
yang diusulkan untuk "backtrace, backtracking" adalah "lacak balik" ,
bukan "napak tilas".

49 background latar belakang
*50 backtracking lacak balik*
51 backward chaining perantaian balik

Mungkin masih belum lazim, tetapi IMHO cukup bisa dimengerti.
Salam,
-DiaN-

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 10, 2005, 6:29:05 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 16:34 +0700, Veriy menulis:

> Waktu berdiskusi sama seorang teman mengenai penggunaan bahasa
> indonesia ini didapatkan kesimpulan sementara yang menurut saya ada
> benarnya juga.
> "Bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang dapat mengungkapkan istilah
> teknis dengan baik. Bahasa Indonesia itu bahasa sastra, bukan bahasa
> teknis."

Butuh proses dan waktu (orde dekade) untuk menyerap kosakata asing atau
menemukan kosakata baru. Yang sangat disayangkan adalah jika itu menjadi
satu alasan tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.

Dan saya pikir kurikulum pengajaran bahasa Indonesia cenderung gagal,
indikasinya yang saya lihat dari milis ke milis antara lain:
* Struktur yang berantakan. Yang paling sederhana yaitu SPO saja sering
membuat pembaca berpikir dua kali menangkap kalimat.
* Typo yang bukan saalh keitk tak disengaja. Kecenderungannya karena
tidak aware, seperti tanda tanya/seru tidak nempel di kata (bagaimana?
bukan bagaimana ?), penulisan unit (1000m bukan 1000 m misalnya), dll.
* Penulisan imbuhan di dengan kata kerja dan kata benda yang
terbolak-balik
* Rasa malu menulis bahasa Indonesia yang benar.

Padahal bahasa Indonesia diajarkan dari sejak "Ini Budi" hingga
penulisan teknis karya ilmiah di tingkat satu jenjang sarjana.

Sering sekali.. saya menemukan...orang yang menulis... seperti ini di
milis-milis... bertanya misalnya dengan kalimat tanya diakhiri... dengan
tanda tanya yang banyak??????.. atau dicampur tanda seru???!!!??!!

> btw, anak-anak muda sekarang sudah biasanya menulis email dengan imel.
> -->imel lu apa sih?

Tidak masalah jika itu bisa diterima, toh sepertinya kata imel belum ada
dalam kamus, juga milis dari mailing list.

Saya berharap bahasa Indonesia tetap tidak seperti bahasa Malaysia yang
punya kecenderungan naif dalam menyerap kosakata asing, dan kosakata
asing memang tak bisa dibendung, mau tak mau harus diserap, diadaptasi
atau diasimilasi jika memang tidak menemukan kosakata sendiri.


--
Jay adalah Yulian
http://yulian.firdaus.or.id/2004/11/26/apa-definisi-sastra/

Made Wiryana

unread,
Jan 10, 2005, 8:58:38 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 09:25:29 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Pada 10 Jan 2005, 14:30:34 +0700, Ben menulis (diringkas):
> >
> > saya sih tetap milih pakai e-mail ketimbang email...
> > email kan udah ada dalam bahasa Indonesia => email gigi
> > CMIIW
> >
>
> ---akhir kutipan---
>
> Memang lapisan terluar gigi disebut juga dengan email, namun
> tidak menjadi persoalan sebuah kata memiliki dua arti (homonim).
>
> * Saya _bisa_ mengerjakan pekerjaan tersebut.
> * _Bisa_ ular berbahaya bagi manusia.
>

Atau mau lebih runyam lagi

Tahu-tahu dia jualan tahu dengan gaya sok tahu

IMw

Made Wiryana

unread,
Jan 10, 2005, 9:04:20 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 06:44:48 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Pada 10 Jan 2005, 09:28:31 +0700, Priyadi Iman Nurcahyo menulis (diringkas):
> >
> > menurut pengalaman, saya melihat belum ada pembakuan istilah.
> > penerjemah punya preferensi masing-masing, mulai dari penerjemah yang
> > tidak melakukan translasi istilah sama sekali, sampai ke penerjemah
>
> Ampun, jangan dijewer ya... :-)
>
> Aturan saya sederhana:
>
> - berusaha cari dulu padanan istilah di Senarai Padanan Istilah.
> Ini resmi ditetapkan oleh Inpres No. 2, Tahun 2001;
>
> - dicarikan istilah dalam Bahasa Indonesia yang dianggap
> mendekati;
>
> - pakai huruf miring (italic) -- tidak usah diterjemahkan.
>
> Memang yang menjadi masalah sekarang kemajuan istilah yang
> diberikan oleh lembaga berwenang (Pusat Bahasa) ketinggalan
> terus dibanding perbendaharaan kata baru yang datang. Sehingga
> yang tidak mengenakkan banyak pihak menyatakan setuju atau tidak
> setuju terhadap sebuah padanan istilah *hanya* mengandalkan
> referensi pribadi.

Mungkkn kita harus membedakan penerjemahan _kata_ untuk
- teks
- GUI

Kedua penerjemahan ini memiliki batasan dan pendekatan yang berbeda.

Pada penerjemahan GUI salah satu kunci yang penting adalah konsistensi
dan tepat melambangkan obyek yang ingin diacu (oleh karena itu
pendekatan semiotik lebih pas ketimbang sekedar semantik/sintaks).

Berbeda dengan penerjemahan teks yang tidak bertumpu pada pengacuan obyek.

Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang
dapat digunakan (Help , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata),
bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan
sebagainya

Justru itu kadang saya lebih suka menguji ulang panduan kata yang
diberikan oleh pusat bahasa, karena relatif pendekatan yang digunakan
adalah untuk pembuatan teks terjemahan.

Faktor lain adalah pembaca. Menurut thesis IB Arka, tentang bahasa
Indonesia, bahasa Indonesia memiliki 4 pengaruh besar yang menyebabkan
perbedaan antara kelompok di Indonesia dalam memahami sintaks dan
semantik dalam bahasa Indonesia).

Silahkan di Google thesis dari IB Arka (ANU Canberra), atau Simon (Tazmania)

IMW

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 9:04:58 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 10 Jan 2005, 18:29:05 +0700, Yulian F. Hendriyana menulis (diringkas):
>
> Dan saya pikir kurikulum pengajaran bahasa Indonesia cenderung gagal,
> indikasinya yang saya lihat dari milis ke milis antara lain:
> * Struktur yang berantakan. Yang paling sederhana yaitu SPO saja sering
> membuat pembaca berpikir dua kali menangkap kalimat.
> * Typo yang bukan saalh keitk tak disengaja. Kecenderungannya karena
> tidak aware, seperti tanda tanya/seru tidak nempel di kata (bagaimana?
> bukan bagaimana ?), penulisan unit (1000m bukan 1000 m misalnya), dll.
> * Penulisan imbuhan di dengan kata kerja dan kata benda yang
> terbolak-balik
> * Rasa malu menulis bahasa Indonesia yang benar.
>
> Padahal bahasa Indonesia diajarkan dari sejak "Ini Budi" hingga
> penulisan teknis karya ilmiah di tingkat satu jenjang sarjana.
>

---akhir kutipan---

Bravo untuk Jay yang dengan lantang menyebut sekian item di
atas. Saya belum seberani itu dalam hal menularkan pemakaian
Bahasa Indonesia.

:-)

cat.: bukan "tidak nempel", melainkan "tidak menempel"; "tidak
aware" sebaiknya diganti menjadi "tidak peduli".

"Di" yang lengket dengan kata kerja adalah imbuhan (lebih
persisnya awalan), sedangkan "di" yang berdiri sendiri sebelum
kata benda adalah kata sambung.

--
amal

You are going to have a new love affair.

Made Wiryana

unread,
Jan 10, 2005, 9:22:59 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 15:04:58 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Pada 10 Jan 2005, 18:29:05 +0700, Yulian F. Hendriyana menulis (diringkas):

> > * Rasa malu menulis bahasa Indonesia yang benar.
> >
> > Padahal bahasa Indonesia diajarkan dari sejak "Ini Budi" hingga
> > penulisan teknis karya ilmiah di tingkat satu jenjang sarjana.
> >
>
> Bravo untuk Jay yang dengan lantang menyebut sekian item di
> atas. Saya belum seberani itu dalam hal menularkan pemakaian
> Bahasa Indonesia.
>

Kalau saya mencoba utk tidak mencampur adukkan ketika bicara dengan
bahasa Indonesia mencoba bergaya mengambil frase-frase bahasa Inggris
seperti trend sekarang "You know" apa yang saya maksud,.. dia lagi "on
the way".

Berbahasa Indonesia, ya berbahasa Indonesia kecuali memang istilahnya
tidak ada dalam bahasa Indonesianya.

IMW

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 10, 2005, 9:36:42 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 15:04 +0100, Ikhlasul Amal
menulis:

> cat.: bukan "tidak nempel", melainkan "tidak menempel"; "tidak
> aware" sebaiknya diganti menjadi "tidak peduli".

Oh, itu karena merasa kurang sreg saja, dalam English ada 'care' dan
'aware', dalam bahasa Indonesia belum kepikir kata lain selain peduli.

Mungkin 'acuh' dan 'peduli' cocok sebagai pasangan 'aware' dan 'care'.
*baru nyadar*

> "Di" yang lengket dengan kata kerja adalah imbuhan (lebih
> persisnya awalan), sedangkan "di" yang berdiri sendiri sebelum
> kata benda adalah kata sambung.

Ah iya, itu kalimat yang lebih tepat.


--
"comedy is simply a funny way of being serious" -- Quake II Gladiator

ryl

unread,
Jan 10, 2005, 9:44:13 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
> Oh, itu karena merasa kurang sreg saja, dalam English ada 'care' dan
> 'aware', dalam bahasa Indonesia belum kepikir kata lain selain peduli.
>
> Mungkin 'acuh' dan 'peduli' cocok sebagai pasangan 'aware' dan 'care'.
> *baru nyadar*

nggak care = nggak perduli
nggak aware = nggak nyadar

:D

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 10, 2005, 9:50:53 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 10 Jan 2005, 15:04:20 +0100, Made Wiryana menulis (diringkas):
>
> Kedua penerjemahan ini memiliki batasan dan pendekatan yang berbeda.
>
> Pada penerjemahan GUI salah satu kunci yang penting adalah konsistensi
> dan tepat melambangkan obyek yang ingin diacu (oleh karena itu
> pendekatan semiotik lebih pas ketimbang sekedar semantik/sintaks).

Memang dalam hal ini mau tidak mau kita (termasuk pemakai bahasa
non-Inggris lainnya) harus mengakui bahwa di Internet, Bahasa
Inggris sudah menjadi "lingua franca". Misal saja seperti contoh
yang pernah diberikan di sini tentang "page" yang sulit juga
diterjemahkan di Jepang. Padahal dalam pengertian aslinya, masak
orang Jepang tidak punya istilah untuk halaman rumah mereka?

Karena bertambah banyak istilah umum dan baru yang diasosiasikan
terhadap konsep baru, penerjemahan "page" semata-mata menjadi
sekedar "halaman" misalnya, menjadi janggal.

Saya pikir hal ini berlaku di setiap periode dengan "lingua
franca" yang diakui pada masa tsb.

> Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang
> dapat digunakan (Help , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata),
> bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan
> sebagainya

Tampaknya yang dimaksud "kata" di atas "huruf", ya? ;-)
Kalau menggunakan Bahasa Indonesia, pakai juga kata dasarnya,
jadi "bantu", bukan "bantuan" atau "membantu". Saya kira tidak
terlalu panjang juga: tulis, baca, sunting/edit, pilih, alat,...


> Justru itu kadang saya lebih suka menguji ulang panduan kata yang
> diberikan oleh pusat bahasa, karena relatif pendekatan yang digunakan
> adalah untuk pembuatan teks terjemahan.

Bantu orang-orang Pusat Bahasa.
Ini pekerjaan kita di Indonesia, banyak sekali yang harus
didukung dengan informasi yang memadai -- dari pihak redaksi
hingga sekian belas departemen dan anak-anaknya.

;-)

---akhir kutipan---

--
amal

Alas, I am dying beyond my means.
-- Oscar Wilde [as he sipped champagne on his deathbed]

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 10, 2005, 10:16:39 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 15:22 +0100, Made Wiryana
menulis:

> Kalau saya mencoba utk tidak mencampur adukkan ketika bicara dengan
> bahasa Indonesia mencoba bergaya mengambil frase-frase bahasa Inggris
> seperti trend sekarang "You know" apa yang saya maksud,.. dia lagi "on
> the way".

Hal itu tidak menjadi masalah selama hal mendasar seperti struktur
kalimatnya benar dan mudah dicerna. Contoh nyata ada, yang suka menulis
satu paragraf hanya dengan satu/dua kalimat, yang kalimatnya saja sulit
dimengerti, hingga menimbulkan persepsi lain-lain. Akhirnya di-ban dari
milis.

*ngegosip*


--
2330 -- The Krenn depart for 30453 FAS with their completed Sixth Fleet
of war- ships for their long-awaited assault on the Lethanta -- [TNG
#37]

Made Wiryana

unread,
Jan 10, 2005, 11:41:53 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 15:50:53 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Pada 10 Jan 2005, 15:04:20 +0100, Made Wiryana menulis (diringkas):
> >
> Memang dalam hal ini mau tidak mau kita (termasuk pemakai bahasa
> non-Inggris lainnya) harus mengakui bahwa di Internet, Bahasa
> Inggris sudah menjadi "lingua franca". Misal saja seperti contoh
> yang pernah diberikan di sini tentang "page" yang sulit juga
> diterjemahkan di Jepang. Padahal dalam pengertian aslinya, masak
> orang Jepang tidak punya istilah untuk halaman rumah mereka?

Di Jerman ada beberapa istilah yg tetap bertahan digunakan kata
Jermannya, alih-alih bahasa Inggrisnya (karena istilah bahasa Jerman
sudah dulu ada ketimbang bahasa Jermannya). Sedangkan beberapa
terminologi yang memang lahir di belahan dunia berbahasa Inggris
biasanya diserap menjadi bahasa Jerman (Homepage, email, dsb). Tapi
untuk Drucker (printer), tetap digunakan istilah aslinya.

Mungkin mirip dg istilah "gestalt" yang sulit dicari padanannya dalam
bahasa Inggris.

> > Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang
> > dapat digunakan (Help , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata),
> > bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan
> > sebagainya
>
> Tampaknya yang dimaksud "kata" di atas "huruf", ya? ;-)

ukuran kata : jumlah huruf (bukan ukuran huruf). Itu yg saya maksud
dengan parafraf di atas.

> Kalau menggunakan Bahasa Indonesia, pakai juga kata dasarnya,
> jadi "bantu", bukan "bantuan" atau "membantu". Saya kira tidak
> terlalu panjang juga: tulis, baca, sunting/edit, pilih, alat,...

Dalam bahasa Indonesia penggunaan kata dasar saja menjadi kalimat
perintah 8-) dan sedikit lari dari tata bahasa (ini kendala lainnya
dalam penerjemahan GUI). Terutama kalau berdiri sendiri tanpa
obyek/subyek.

> Bantu orang-orang Pusat Bahasa.
> Ini pekerjaan kita di Indonesia, banyak sekali yang harus
> didukung dengan informasi yang memadai -- dari pihak redaksi
> hingga sekian belas departemen dan anak-anaknya.

Sayangnya tidak semua seidea 8-) banyak pihak yg merasa "Otoritas"
dalam ilmu bahasa, pihak yang tak berlatar belakang bahasa (misal
orang komputer) dianggap tidak berhak untuk menentukan tepat/tidaknya
suatu terminologi tersebut.

Faktor lain (seperti pengalaman INPRES 02) tidak semua pihak yg
bekerja untuk membuat terjemahan terminologi bersedia/rela, hasil
kerjanya diberikan ke publik sehingga orang bisa mendownload dengan
bebas.

Di awal INPRES 02 ini sempat jadi perbedabatan. Saya sendiri
berprinsip kalau memang ingin memasyarakatkan terminologi terjemahan
yang benar, ya permudah masyarakat memperoleh daftar tersebut.

IMW

Firman Pribadi

unread,
Jan 10, 2005, 11:57:20 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 17:41:53 +0100, Made Wiryana <mwir...@gmail.com> wrote:
>
> Faktor lain (seperti pengalaman INPRES 02) tidak semua pihak yg
> bekerja untuk membuat terjemahan terminologi bersedia/rela, hasil
> kerjanya diberikan ke publik sehingga orang bisa mendownload dengan
> bebas.
>
> Di awal INPRES 02 ini sempat jadi perbedabatan. Saya sendiri
> berprinsip kalau memang ingin memasyarakatkan terminologi terjemahan
> yang benar, ya permudah masyarakat memperoleh daftar tersebut.
>
apakah ini juga menjadi salah satu penyebab KBBI tidak pernah ada
versi digitalnya?

--
I am what I am today because of the choices I made yesterday.

Made Wiryana

unread,
Jan 10, 2005, 12:09:53 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 23:57:20 +0700, Firman Pribadi <fir...@gmail.com> wrote:
>
> On Mon, 10 Jan 2005 17:41:53 +0100, Made Wiryana <mwir...@gmail.com> wrote:
> >
> > Faktor lain (seperti pengalaman INPRES 02) tidak semua pihak yg
> > bekerja untuk membuat terjemahan terminologi bersedia/rela, hasil
> > kerjanya diberikan ke publik sehingga orang bisa mendownload dengan
> > bebas.
> >
> > Di awal INPRES 02 ini sempat jadi perbedabatan. Saya sendiri
> > berprinsip kalau memang ingin memasyarakatkan terminologi terjemahan
> > yang benar, ya permudah masyarakat memperoleh daftar tersebut.
> >
> apakah ini juga menjadi salah satu penyebab KBBI tidak pernah ada
> versi digitalnya?

Sepertinya begitu. Suka tidak suka ini malah menghambat penerimaan
bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa Indonesia secara lebih luas.

IMW

N e o

unread,
Jan 10, 2005, 1:43:18 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
At 18:29 +0700 1/10/05, Yulian F. Hendriyana wrote:

>
>* Typo yang bukan saalh keitk tak disengaja. Kecenderungannya karena
>tidak aware, seperti tanda tanya/seru tidak nempel di kata (bagaimana?
>bukan bagaimana ?), penulisan unit (1000m bukan 1000 m misalnya), dll.

ada tuh yang sudah saya tegur (hasta purnama), tapi dia bilang bahwa
dia memang "terpaksa" begitu tanpa memberikan alasan yang jelas.
daripada sakit mata mending rapid del tiap ada mail from dia.

N e o

unread,
Jan 10, 2005, 7:15:43 AM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
At 02:36 -0800 1/10/05, DiaN wrote:

>lam inpres 2/2001 yang ada di http://vlsm.org/baku-01.txt, istilah
>yang diusulkan untuk "backtrace, backtracking" adalah "lacak balik" ,
>bukan "napak tilas".
>
>49 background latar belakang
>*50 backtracking lacak balik*
>51 backward chaining perantaian balik
>
>Mungkin masih belum lazim, tetapi IMHO cukup bisa dimengerti.

buat saya, makin pusing :)

dalam blogging, ada istilah track back. itu bukan back track / back
trace, imho. dan sebagian blogger indonesia sudah menerjemahkan track
back itu... lacak balik, hehehe.

N e o

unread,
Jan 10, 2005, 1:48:03 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
At 15:22 +0100 1/10/05, Made Wiryana wrote:
>
>Kalau saya mencoba utk tidak mencampur adukkan ketika bicara dengan
>bahasa Indonesia mencoba bergaya mengambil frase-frase bahasa Inggris
>seperti trend sekarang "You know" apa yang saya maksud,.. dia lagi "on
>the way".
>
>Berbahasa Indonesia, ya berbahasa Indonesia kecuali memang istilahnya
>tidak ada dalam bahasa Indonesianya.

trend = matra?

Reno S. Anwari

unread,
Jan 10, 2005, 4:27:39 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
DiaN bilang (tanggal 01/10/2005 05:36 PM):
> Dalam inpres 2/2001 yang ada di http://vlsm.org/baku-01.txt, istilah

uri-nya sudah berpindah ke:
http://vlsm.org/etc/baku-0.txt

:: r e n o ::
signature.asc

ron4ld

unread,
Jan 10, 2005, 8:21:16 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Reno S. Anwari wrote:
> uri-nya sudah berpindah ke:
> http://vlsm.org/etc/baku-0.txt

Wah thanks banget :) Saya sekarang jadi tahu apa padanan
kata dari "mouse" --> "tetikus"

from http://ms.wikipedia.org/wiki/Tetikus
Tetikus ini amat diperlukan terutamanya sekali apabila menggunakan
sistem pengoperasi tetingkap. Setiap tetikus, pada kebiasaannya
mempunyai 1 hingga 3 bebutang dan setiap bebutang mempunyai fungsi yang
berlainan.

Kebaikan Tetikus:
Tetikus memerlukan liang sambungan yang piawai.

Keburukan Tetikus:
Tetikus berbola perlu dibersihkan secara berkala untuk memastikan
pergerakan yang lancar dan tidak tersekat-sekat.

Latihan kalimat menggunakan kosakata baru....
1) Tetikusku bermerek Logitech dan mempunyai tiga bebutang.
2) Pasar swalayan sekarang banyak yang menggunakan pembaca kode batang.

3) Di mana kunci gulungku?
4) "Sayangggg....., di mana JasSuper-kuuu??"
ROFL :-D

ps: what is "mouse" in German/Japanese?

Budi Rahardjo

unread,
Jan 10, 2005, 8:40:49 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 17:21:16 -0800, ron4ld <ron...@gmail.com> wrote:
...
> from http://ms.wikipedia.org/wiki/Tetikus
> Tetikus ini amat diperlukan terutamanya sekali apabila menggunakan
> sistem pengoperasi tetingkap. Setiap tetikus, pada kebiasaannya
> mempunyai 1 hingga 3 bebutang dan setiap bebutang mempunyai fungsi yang
> berlainan.


WTF?!@#!

Seriously, this kind of thing that makes me stick with English.

-- budi

Firman Pribadi

unread,
Jan 10, 2005, 9:05:14 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
hehehe, btw kalo saya asik asik aja tuh nerima 'tetikus' ini, lha dari
umur 8 tahun sampai menjelang akhir sma udah biasa nerima pelajaran2
dan sebagian budaya melayu & malaysia. kenapa tidak, hidup di
lingkungan yang memang berbudaya asli melayu (riau), suguhan tivi
pendidikan juga mayoritas yang ada saat itu adalah channel2 malaysia,
tv1, tv2, tv3, saingan indonya cuma 1, tvri yang menjalin persatuan
dan kesatun :)
trus belakangan saat smp *lupa pastinya* baru ada itu tipi pendidikan
indonesia yang isinya pendidikan dunia bollywood :D

dan kalau boleh menilai, pada saat itu, tv1 yang merupakan salah satu
dari 2 channel nasionalnya malay, sudah lebih berperan aktif dalam
menambah pengetahuan saya dalam hal tata bahasa, salah satunya ya ini,
imbuhan (awalan) 'te' yang artinya bila digunakan dalam sebuah kata
dasar akan merubahnya menjadi kata ulang. tetikus = tikus-tikus dalam
bahasa indonesia. ada lagi contoh, pepohon = pohon-pohon (imbuhan pe),
bebutang = butang-butang / tombol-tombol (imbuhan be) hehehehe

dan hal ini punya dampak besar saat saya mulai menulis karya ilmiah
dalam studi, beberapa kali saya ditegur oleh dosen pembimbing hanya
karena ada kata yang ternyata itu bukan baku indonesia?. dan dua
contoh yang masih membuat saya penasaran, adalah kata/kalimat ini
"se-dapat-nya" apakah itu termasuk baku indonesia atau bukan? "dalam
pada itu" atau kalo boleh di benarkan jadi baku indonesia kira-kira
menjadi, "pada saat/waktu bersamaan" fyi, di media2 cetak lokal
setempat, kata ini adalah kata populer loo :)

so apakah tikus-tikusan menjadi lebih cocok sebagai pengganti mouse
kenapa tidak maus/mos (lisan) saja atau tetap mouse (tulisan)?

untuk lanjut soal ini mungkin bisa gunakan keyword "imbuhan" dengan
filter "site:my" di google.

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 10, 2005, 9:08:59 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 19:15 +0700, N e o menulis:

> dalam blogging, ada istilah track back. itu bukan back track / back
> trace, imho. dan sebagian blogger indonesia sudah menerjemahkan track
> back itu... lacak balik, hehehe.

harusnya baliklacak
mungkin pingback cocok diterjemahkan baliksahut, baliksapa atau
balikseru


--
"ambiguity: telling the truth when you don't mean to" -- Quake II
Gladiator

Erwien Samantha Y

unread,
Jan 10, 2005, 9:09:57 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, 11 Jan 2005 08:40:49 +0700, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
>
Tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu secara luas terhadap kata2 baku
yang sudah ada ketetapanya. Yahh hasilnya seperti pak Budi ini :).

tetingkap?
bebutang?
kode batang?

joystick = batang kenikmatan, betul nggak nih joystick diartikan
seperti itu bakunya?

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 10, 2005, 9:26:18 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 11/01/2005 pada 09:05 +0700, Firman Pribadi
menulis:

> dan kalau boleh menilai, pada saat itu, tv1 yang merupakan salah satu
> dari 2 channel nasionalnya malay, sudah lebih berperan aktif dalam
> menambah pengetahuan saya dalam hal tata bahasa, salah satunya ya ini,
> imbuhan (awalan) 'te' yang artinya bila digunakan dalam sebuah kata
> dasar akan merubahnya menjadi kata ulang. tetikus = tikus-tikus dalam
> bahasa indonesia. ada lagi contoh, pepohon = pohon-pohon (imbuhan pe),
> bebutang = butang-butang / tombol-tombol (imbuhan be) hehehehe

Bahasa Indonesia lebih konsisten yang jamak dengan diulang (pohon-pohon)
dan awalan-akhiran (pepohonan).

Variasi lain yang kadang menjadikan kata baru atau arti baru dengan
sisipan, kerja kinerja (performance), sambung sinambung (continuous),
getar gemetar, gerlap gemerlap, cerlang cemerlang, dll.

> so apakah tikus-tikusan menjadi lebih cocok sebagai pengganti mouse
> kenapa tidak maus/mos (lisan) saja atau tetap mouse (tulisan)?

Jika tidak ditemukan kata baru lebih baik diasimilasi sesuai kaidah
menjadi "mous", sebab tidak konsisten jika diserap tetap "mouse"
(berarti harus dibaca mou-se, bukan mous)


--
"we are all politicians. some of us are just honest enough to admit it"
-- Quake II Gladiator

baskara

unread,
Jan 10, 2005, 9:41:19 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 17:21:16 -0800, ron4ld <ron...@gmail.com> wrote:
>
> ps: what is "mouse" in German/Japanese?

Dalam bahasa Jepang, "mouse" diadopsi menjadi "maus" (ditulis dengan katakana).

nb. katakana = huruf Jepang untuk menuliskan istilah-istilah serapan
dari bahasa asing yang masuk setelah restorasi Meiji. Selain itu, juga
untuk menuliskan kata-kata ekspresi yang tidak ada di dalam kamus.

Veriy

unread,
Jan 10, 2005, 11:12:02 PM1/10/05
to tekno...@googlegroups.com
dari http://vlsm.org/etc/baku-0.txt

315 IP (identification personal) alamat PI (personal
address identifikasi)

emang ada ya istilah ini?
bukannya Internet Protocol Address?
atau emang mengarah ke IP yang identification personal

Dian Nugraha

unread,
Jan 11, 2005, 1:28:14 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
Wah, dari ms! Pantesan... :)
Saya sebetulnya suka istilah 'tetikus' dan masih bisa menerima 'kode
batang'. Akan tetapi 'tetingkap' dan 'bebutang'?

Apa kita tidak punya 'jendela' dan 'tombol'? Sepertinya sebelum
menggunakan kata-kata yang belum lazim, kita gunakan dulu kata-kata Bhs.
Indonesia yg sudah lazim.

Salam,
-DiaN-

PS: di Jerman 'maus', juga untuk menyebut tikus (binatang).

Ikhlasul Amal

unread,
Jan 11, 2005, 2:56:43 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada 11 Jan 2005, 09:09:57 +0700, Erwien Samantha Y menulis (diringkas):
>
> On Tue, 11 Jan 2005 08:40:49 +0700, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
> >
> > Seriously, this kind of thing that makes me stick with English.
> >
> > -- budi
> >
>
>
> Tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu secara luas terhadap kata2 baku
> yang sudah ada ketetapanya. Yahh hasilnya seperti pak Budi ini :).
>
> tetingkap?
> bebutang?
> kode batang?
>

---akhir kutipan---

Serius juga: santai sedikitlah...

Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik jangan terburu-buru
dengan urusan rumit seperti peristilahan di atas. Itu yang
sering menyebabkan orang sudah apriori terlebih dulu sebelum
menikmati keelokan berbahasa.

Mulai dengan hal-hal yang gampang, misalnya
* memperbaiki penulisan "di" sebagai awalan atau kata sambung,
* aturan pemakaian "me" ("mengubah", bukan "merubah")
* penggunaan kata sambung (di, ke, dari, kepada, pada, ke),
* pemakaian kata ganti ("kami" dan "kita" sering salah
pemakaiannya)

Teladan di atas lebih mudah dipraktikkan dibanding urusan
tetikus atau bebutang, dan yang lebih penting lagi menimbulkan
sikap keacuhan (menindaklanjuti usulan Jay tentang terjemahan
"awareness") kita terhadap bahasa.

Tentang aturan pembentukan istilah, Pusat Bahasa sudah
menerbitkan panduannya, bisa dilihat di sana. Penerbit ITB
termasuk yang aktif menulis seri kebahasaan untuk tulisan teknik
pada buku-buku mereka terbitan 1990-an.

--
amal

Don't try to outweird me, three-eyes. I get stranger things than you free
with my breakfast cereal.
-- Zaphod Beeblebrox

Made Wiryana

unread,
Jan 11, 2005, 4:30:55 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 17:21:16 -0800, ron4ld <ron...@gmail.com> wrote:
>
>
> ps: what is "mouse" in German/Japanese?
>

Maus (untuk penggunaan komputer)

Tapi perlu diketahui _tikus_ di jerman dianggap binatang yg lucu dan
ngegemesin (nggak pernah ngeliat _tikus_got_ ). Jadi orang Jerman
sering memanggil orang yang disayangi dengan sebutan "Maus" (alias
tikus) he he he

Bahkan teman saya orang Jerman yang istrinya orang Indonesia manggil
anak-anaknya "tikus-tikus kecilku" he he he kalo di Indoensia...
ihhhhh seyeeeeem

IMW

Made Wiryana

unread,
Jan 11, 2005, 4:33:51 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, 11 Jan 2005 09:26:18 +0700, Yulian F. Hendriyana
<yul...@firdaus.or.id> wrote:
>
> Pada hari Selasa, tanggal 11/01/2005 pada 09:05 +0700, Firman Pribadi

> Variasi lain yang kadang menjadikan kata baru atau arti baru dengan
> sisipan, kerja kinerja (performance), sambung sinambung (continuous),
> getar gemetar, gerlap gemerlap, cerlang cemerlang, dll.

Dalam aturan bahasa Indoensia sisipan ada hanya "em, el, er" (seingat
saya). Penambahan sisipan lain (sambung-sinambung) adalah pengaruh
bahasa daerah. Jadi sudah termasuk kata serapan juga. Kata serapan
dari pengaruh bahasa daerah, bukan dari bahasa asing.

IMW

Made Wiryana

unread,
Jan 11, 2005, 4:37:04 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, 11 Jan 2005 08:56:43 +0100, Ikhlasul Amal <i...@coretmoret.web.id> wrote:
>
> Mulai dengan hal-hal yang gampang, misalnya
> * memperbaiki penulisan "di" sebagai awalan atau kata sambung,
> * aturan pemakaian "me" ("mengubah", bukan "merubah")
> * penggunaan kata sambung (di, ke, dari, kepada, pada, ke),
> * pemakaian kata ganti ("kami" dan "kita" sering salah
> pemakaiannya)

Ketika saya masih mengajar di Jakarta, setiap awal semester ketiika
menjelaskan perkuliahan, dan aturan tugas. Selalu saya tulis hal di
atas sebagai "aturan" tentang kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan
oleh mahasiswa.

> Tentang aturan pembentukan istilah, Pusat Bahasa sudah
> menerbitkan panduannya, bisa dilihat di sana. Penerbit ITB
> termasuk yang aktif menulis seri kebahasaan untuk tulisan teknik
> pada buku-buku mereka terbitan 1990-an.
>

Sayangnya panduan dari Pusat Bahasa belum merrangkum bidang komputer
(IT), yang banyak adalah semacam penjelasan istilah, bukan daftar
penerjemahan

IMW

Made Wiryana

unread,
Jan 11, 2005, 4:39:09 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
On Mon, 10 Jan 2005 22:16:39 +0700, Yulian F. Hendriyana
<yul...@firdaus.or.id> wrote:

> > Kalau saya mencoba utk tidak mencampur adukkan ketika bicara dengan
> > bahasa Indonesia mencoba bergaya mengambil frase-frase bahasa Inggris
> > seperti trend sekarang "You know" apa yang saya maksud,.. dia lagi "on
> > the way".
>
> Hal itu tidak menjadi masalah selama hal mendasar seperti struktur
> kalimatnya benar dan mudah dicerna. Contoh nyata ada, yang suka menulis

Masalahnya belum tentu semua pendengar memahami bahasa asing tersebut
(apalagi paham yang benar dan salah), contohnya di TV, di pertemuan
publik. Mungkin yg penting gaya ya he he he

> satu paragraf hanya dengan satu/dua kalimat, yang kalimatnya saja sulit
> dimengerti, hingga menimbulkan persepsi lain-lain. Akhirnya di-ban dari
> milis.
>
> *ngegosip*

Hush... pagi-pagi udah ngegosip (paginya Jerman he he he he)

IMW

Yulian F. Hendriyana

unread,
Jan 11, 2005, 4:28:57 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 14:58 +0100, Made Wiryana
menulis:

> Atau mau lebih runyam lagi
>
> Tahu-tahu dia jualan tahu dengan gaya sok tahu

justru ini kekuatan bahasa, estetis secara teknis, artistik menurut
persepsi


--
Betapa indahnya budaya saling mengoreksi, menasehati, dan mengingatkan
dalam kebaikan karena dari sanalah rasa percaya diri akan tumbuh. --MQ

Made Wiryana

unread,
Jan 11, 2005, 6:00:30 AM1/11/05
to tekno...@googlegroups.com
On Tue, 11 Jan 2005 16:28:57 +0700, Yulian F. Hendriyana
<yul...@firdaus.or.id> wrote:
>
> Pada hari Senin, tanggal 10/01/2005 pada 14:58 +0100, Made Wiryana
> menulis:
>
> > Atau mau lebih runyam lagi
> >
> > Tahu-tahu dia jualan tahu dengan gaya sok tahu
>
> justru ini kekuatan bahasa, estetis secara teknis, artistik menurut
> persepsi

Kekuatan sekaligus kelemahan. It is not a bug, it is a feature 8-)

IMW
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages