Download Film Soekarno Indonesia Merdeka Sub Indo

0 views
Skip to first unread message

Lirim Collard

unread,
Aug 4, 2024, 7:30:28 PM8/4/24
to tazudetmai
Presidenadalah sebuah jabatan prestisius di seluruh dunia. Sebab itu, siapapun aktor ataupun aktris yang diberi kesempatan melakoni sosok nyata presiden asli dalam sebuah film, mesti riset secara mendalam.

Bukan perkara mudah memerankan tokoh nasional. Apalagi, jika tokoh tersebut masih hidup meski kedudukannya sudah lengser jadi mantan presiden. Nah, di Indonesia ada sejumlah aktor dan aktris film Indonesia yang pernah memerankan karakter dari enam Presiden RI yang telah menjabat. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya.


Nama Ario Bayu-lah yang dipilih untuk memerankan Bapak Ir. Soekarno dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013). Bukan perkara mudah baginya dalam menjalani karakter tokoh paling penting dalam sejarah republik ini.


Terlebih, penunjukan Ario Bayu juga sempat dapat penolakan dari salah satu anaknya Bapak Soekarno, yaitu Rachmawati Soekarnoputri. Meski begitu, Ario Bayu berhasil meyakinkan penonton, dia tampil dengan begitu baik ketika memerankan presiden pertama Indonesia tersebut.


Sebetulnya, ada aktor lain sebelum Ario Bayu yang memerankan karakter Bapak Soekarno. Aktor kawakan Soultan Saladin lebih dulu memerankan karakter Bapak Proklamator tersebut dalam film Gie (2005).


Dalam film garapan Riri Riza ini, Soultan Saladin tak banyak muncul, hanya beberapa adegan saja. Namun, tentu peran Bapak Soekarno jadi salah satu peran yang paling ditunggu penonton, dan Soultan cukup baik mengeksekusinya.


Baim Wong juga salah satu aktor berbakat yang udah lama banget berkiprah di Indonesia, sejak awal 2000-an ketika dia membintangi sejumlah sinetron lokal. Aktor film Indonesia yang kini lebih dikenal di YouTube ini ternyata pernah dapat peran sebagai Bung Karno di film Jenderal Soedirman (2015).


Amoroso Katamsi, aktor senior film Indonesia yang dipilih oleh Arifin C. Noer untuk memerankan karakter Mayjen Soeharto di film Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Keluwesan aktingnya bahkan dipuji Ibu Tien. Tak heran, aktor yang wafat pada 2018 tersebut riset mendalam dengan bertemu langsung Bapak Presiden Soeharto yang kala itu masih menjabat.


Bukan cuma Amoroso Katamsi yang dapat peran sebagai Bapak Soeharto dalam sebuah film. Pada 1979, film Janur Kuning rilis di bioskop. Film kisah nyata tentang peperangan Indonesia melawan sekutu itu menonjolkan dua sosok penting: Jenderal Soedirman dan Jenderal Soeharto.


Nah, Kaharuddin Syah ketika itu yang mendapatkan peran sebagai Bapak Soeharto. Tentu, banyak yang membandingkan akting Kaharudin Syah dengan Amoroso Katamsi. Film Janur Kuning pun sempat jadi tontonan wajib pada zamannya.


Selain Bapak Ir. Soekarno, Bapak Presiden Soeharto juga jadi kepala negara yang diperankan oleh banyak aktor. Selain Kaharuddin Syah dan Amoroso Katamsi, ada Marcell Siahaan yang juga pernah memerankan presiden terlama di Indonesia itu.


Aktor film Indonesia serbabisa ini banyak memerankan karakter berbeda pada tiap film yang dibintanginya. Reza Rahadian, banyak yang menyebutnya bahwa Reza piawai memerankan apa saja. Pujian itu makin bergema setelah dia secara apik memerankan karakter Bapak B. J. Habibie dalam film Habibie & Ainun (2012).


Selain Reza Rahadian, ternyata ada nama lain yang juga pernah memerankan karakter Bapak B. J. Habibie, yakni Agus Kuncoro di film Di Balik 98 (2015). Rupanya, Agus enggak kalah total dengan Reza. Gaya bicara dan gerak-gerik Bapak Habibie berhasil dilakoni oleh Agus Kuncoro.


Taufiq: Lelaki yang Menantang Badai (2019) jadi salah satu film biopik tokoh politik di Indonesia. Kali ini giliran Taufiq Kiemas yang kisah hidupnya difilmkan. Taufiq Kiemas adalah mantan Ketua MPR Republik indonesia, sekaligus suami dari Ibu Megawati Soekarnoputri.


Sosok Ibu Megawati diperankan oleh Aghniny Haque. Aktris film Indonesia pendatang baru tersebut beruntung mendapatkan peran menjadi perempuan pertama yang pernah memimpin Indonesia. Gaya bertutur Ibu Megawati berhasil diperagakan dengan apik oleh Aghniny.


Film Di Balik 98 menampung banyak nama-nama terkenal untuk memerankan karakter yang juga prestisius. Seperti Pandji Pragiwaksono yang jadi cameo dalam film ini. Namun, meski jadi cameo, perannya enggak tanggung-tanggung.


Teuku Rifnu Wikana memang bukan aktor baru. Sama seperti Reza Rahadian, Teuku seakan bisa memerankan karakter apa saja. Sudah puluhan film dia bintangi. Di antara puluhan film itu, ada satu film biopik tentang Bapak Presiden Joko Widodo berjudul Jokowi (2013).


Ketika pamor Bapak Presiden Jokowi tengah naik daun saat menjabat sebagai Gubernur DKI, film ini pun dirilis. Meski mulus memerankan Presiden Indonesia ke-7 tersebut, Teuku Rifnu mengaku harus riset lebih dalam. Bahkan, dia sampai ikut rombongan wartawan meliput Bapak Presiden Jokowi ketika blusukan.


Namun sayang, belum banyak penonton bisa menilai akting Ben Joshua sebagai Bapak Jokowi, filmnya sudah ditarik oleh rumah produksinya, K2K production. Padahal film itu baru rilis satu hari. Alasannya, momen penayangan enggak tepat.


Hari senin kemarin akhirnya saya bisa menonton film Soekarno. Awalnya saya mengira film ini berkisah tentang perjalanan hidup lengkap Soekarno, sejak lahir hingga wafat. Namun ternyata perkiraan saya salah. Film ini berhenti pada proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno. Walaupun demikian, saya merasa cukup puas. Menurut saya film ini cukup bagus, terlepas dari beberapa keanehan di dalamnya. Selama beberapa hari kemudian, saya terus merenungkan, apa yang bisa kita pelajari dari film ini dan kita terapkan dalam kehidupan bernegara kita saat ini.


Sesuai dengan judul di atas, saya akan menguraikan berbagai pelajaran berharga, keunikan, dan keanehan di dalam film ini. Setelah menonton film ini, saya jadi makin tergerak untuk mencintai bangsa ini, berjuang bagi bangsa. Orang-orang zaman dulu mati-matian berjuang mati-matian bagi bangsa ini, akibatnya mereka selalu terancam bahaya nyaris setiap saat. Saat mengadakan pertemuan-pertemuan pejuang, mereka harus selalu berhati-hati terhadap mata-mata penjajah. Setiap hari mereka dijajah, bekerja keras. Orang seperti Soekarno bisa terbentuk menjadi pejuang tangguh karena adanya semua kesulitan itu. Wajar beliau sama sekali tidak takut penderitaan ataupun kematian, karena sepanjang hidup dirinya sudah terus-menerus mengalami itu. Dipenjara, dibuang, diancam, dan sebagainya. Bahkan beliau seringkali mendapat tekanan dan kecaman dari pihak rakyat Indonesia sendiri. Ia beberapa kali dituduh sebagai antek-antek Jepang. Ibarat seorang anak yang sudah terbiasa hidup susah, dirinya pasti akan memiliki militansi dan daya juang yang jauh lebih tinggi daripada anak orang kaya yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kenyamanan. Seperti itulah Soekarno dibentuk menjadi seorang pemimpin. Pada suatu adegan, ada seorang tentara yang memaksa Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tentara tersebut mengancam dengan membawa celurit. Soekarno justru tidak takut dan mengarahkan celurit tersebut ke lehernya, sembari berkata, "ini leherku, tebas saja".


Saya merasa ingin bisa menjadi pemimpin yang hebat seperti Soekarno. Masih adakah pemimpin seperti Soekarno di zaman sekarang ini? Di zaman sekarang, di mana Indonesia sudah terlepas dari penjajahan, banyak pemimpin yang begitu manja dan tidak memiliki daya juang. Hanya karena mengalami sedikit tuduhan langsung marah dan merasa nama baiknya dicemarkan, ada juga pemimpin yang mengeluh karena gajinya tidak pernah naik. Banyak juga para politisi yang berteriak-teriak melawan KPK atau polisi saat merasa dipenjarakan secara tidak adil. Bagi Soekarno dan para pejuang kemerdekaan lainnya, dipenjara secara tidak adil adalah makanan sehari-hari.


Saya banyak mendengar tentang kharisma luar biasa seorang Soekarno; yang dalam film ini tidak begitu ditonjolkan. Banyak guru yang menceritakan pada saya bahwa Soekarno bisa berpidato hingga berjam-jam sekalipun dengan lancar, namun para pendengarnya tidak pernah bosan mendengarnya. Bahkan mereka seakan-akan terhipnotis; seakan-akan Soekarno memiliki magic untuk membuat mereka terpaku pada pidatonya selama berjam-jam. Hal tersebut ternyata tidak muncul begitu saja; dalam film ini, diceritakan bahwa Soekarno ternyata sudah terbiasa berlatih pidato sejak dirinya masih kecil.


Ada 1 adegan yang menarik perhatian saya dalam film ini. Pada saat Jepang mengusulkan pada Soekarno dan Hatta untuk memilih bentuk "kerajaan/monarki" bagi Indonesia setelah merdeka nanti, Soekarno dan Hatta berbeda pendapat. Soekarno menginginkan bentuk negara kesatuan/republik, sedangkan hatta menginginkan bentuk negara federasi/serikat. Hatta berpendapat, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak pulau, banyak sekali perbedaan. Perbedaan suku, agama, budaya, tradisi, bahasa, dan sebagainya. Bahkan secara geografis, tiap daerah juga berbeda. Bisa dibilang, Indonesia tidak memiliki dasar apa-apa untuk bersatu menjadi sebuah republik. Jadi lebih baik mendirikan negara federasi, di mana setiap pulau/daerah menjadi negara-negara bagian yang memiliki otonomi tersendiri, namun secara keseluruhan tetap merupakan 1 negara Indonesia. Soekarno menjawabnya bahwa seluruh Indonesia bisa bersatu atas dasar 1 hal: yaitu bahwa seluruh Indonesia memiliki kesamaan nasib, sama-sama merasakan penderitaan dijajah selama ratusan tahun.


Adegan ini merefleksikan persis apa yang menjadi pemikiran saya selama ini: bahwa sebenarnya Indonesia tidak memiliki dasar apa-apa untuk bersatu, kecuali kesenasiban. Berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki alasan kuat untuk bersatu; misalnya saja, Arab Saudi dan Israel, di mana mereka bersatu menjadi sebuah negara karena mereka 1 ras, yaitu sama-sama keturunan Ismael dan Ishak. Atau negara Belanda, Spanyol dsb di mana mereka bersatu karena memiliki kesamaan geografis. Nah, pemikiran Soekarno bahwa Indonesia harus bersatu menjadi sebuah republik itu mungkin saja memang berhasil mempersatukan rakyat Indonesia di masa tersebut, karena mereka memang memiliki kesenasiban, tapi bagaimana dengan zaman sekarang? Generasi Indonesia saat ini tidak pernah merasakan penjajahan, sedangkan sejarah kesenasiban itu juga sudah cenderung dilupakan. Tak heran persatuan di bangsa ini semakin luntur, malah terjadi banyak konflik/perpecahan antar suku, antar agama, antar daerah, dsb. Banyak daerah ingin merdeka dari Indonesia. Banyak daerah merasa iri pada pulau jawa yang selalu diprioritaskan dalam agenda pembangunan, banyak daerah yang marah karena hasil tambang daerahnya justru digunakan untuk membangun daerah lain. Apakah Soekarno sudah memperhitungkan itu? Anda bisa membaca selengkapnya pemikiran saya mengenai ini di artikel saya ini -hari-sumpah-pemuda-masihkah-indonesia-bersatu-605581.html . Bagi saya secara pribadi, seharusnya bentuk negara yang tepat bagi Indonesia adalah federasi/serikat, seperti yang diusulkan Hatta.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages